facebooklogocolour

tanmalaka2Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang rencananya akan diberlakukan pada 1 Januari 2016 nanti akan mengintegrasikan pasar dan ekonomi negeri-negeri Asia Tenggara. Ini adalah bagian dari proses globalisasi yang tak terelakkan, sebuah proses dimana kapital harus terus beranak pinak dan menyeruak ke empat penjuru dunia dalam usahanya untuk mencari laba.

Globalisasi dalam dirinya sendiri bukanlah sesuatu yang buruk. Dunia kita dipenuhi dengan berbagai keindahan dan kekayaan yang menakjubkan yang perlu dinikmati bersama-sama oleh seluruh penghuninya. Globalisasi yang akan menghubungkan satu manusia dengan manusia lainnya di lain negeri dapat membawa semangat persaudaraan dan gotong royong ke seluruh muka bumi. Akan tetapi, ketika globalisasi dilakukan untuk kepentingan modal dalam kerangka sistem ekonomi kapitalisme, maka yang kita saksikan bukanlah persaudaraan dan gotong royong dari seluruh umat manusia, tetapi intensifikasi dan perluasan dari eksploitasi oleh kapital terhadap rakyat pekerja seluruh dunia.

Di bawah kuasa modal yang mendominasi hari ini, maka tidak bisa tidak kalau globalisasi yang ada adalah globalisasi untuk kepentingan modal. Dalam konteks ini maka kita harus melawan globalisasi. Akan tetapi program kita bukan lantas anti-globalisasi semata, karena seperti yang telah kita sebut di atas bahwa masalahnya bukan datang dari globalisasi itu sendiri tetapi dari sistem ekonomi yang mendasari globalisasi: yakni kapitalisme. Di sinilah menjadi penting untuk mempertentangkan globalisasi kapitalis dengan program globalisasi sosialis, yakni globalisasi yang berdasarkan sistem ekonomi sosialisme.

70 tahun yang lalu, Tan Malaka pernah menggagaskan konsep globalisasi sosialis ini melalui program ASLIAnya.  Akan menjadi relevan untuk mengunjungi gagasan ASLIA Tan Malaka ini, dengan tetap mempertahankan semangat yang terkandungnya sementara menyesuaikannya dengan realitas hari ini.

Tan Malaka dan ASLIA

Apa itu ASLIA? ASLIA adalah singkatan dari “ASIA dan AUSTRALIA.”

Maksudnya? ASLIA adalah sebuah gagasan atau visi Tan Malaka, seorang revolusioner Indonesia, tentang federasi atau perserikatan sosialis dari semua negara yang terletak di antara Asia dan Australia. Gagasan ini bisa kita simak dalam karya-karya Tan Malaka: Madilog (1942) dan Manifesto Jakarta (1945).

Apa dasarnya? Tan Malaka mengemukakan tiga pertimbangan: geografi (ilmu bumi), etnologi (ilmu bangsa-bangsa), dan kepentingan bersama.

Pertama, secara geografis, wilayah yang dinamakan ASLIA meliputi Birma, Thai, Annam [Vietnam], Filipina, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Sunda Kecil [Nusa Tenggara], Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan Australia Panas [Australia Utara yang merupakan sepertiga dari Benua Australia]. Pada mulanya wilayah itu menjadi satu, bagian dari Asia Selatan. “Di jaman gelap gulita (Primitive), lama sebelum sejarah tertulis dimulai,” kata Tan Malaka, “menurut penyelidikan Ilmu Pasti Asia, Indonesia dan Australia memang bersatu.” Di samping itu, ASLIA memiliki iklim dan musim yang sama.

Kedua, terkait dengan itu, secara etnologis bangsa-bangsa yang menghuni ASLIA berasal dari rumpun yang sama. Tan Malaka mengutip para ahli, yang menyebut bangsa-bangsa itu sebagai “Indonesians” (CR Logan dan Bastian) dan “Oceania Mongols” atau “Tartaria Samudra” (Hadion dan Smith). Kata Tan Malaka, “darahnya bangsa Australia asli, yang beberapa puluh ribu itu masih mengembara di sana-sini, banyak masih mengalir ke dalam badan Indonesia kita.” Bangsa-bangsa itu memiliki kepercayaan asli yang sama: dinamisme (kepercayaan pada kekuatan gaib), animisme (kepercayaan pada roh), dan kepercayaan pada hantu-hantu. Mereka juga mengenal budaya gotong-royong, bekerja sama seorang dengan yang lain. Mereka memiliki alat/perkakas, kehidupan ekonomi, sosial, dan politik, serta jiwa, hasrat, dan impian yang sama.

Ketiga, bangsa-bangsa yang menghuni ASLIA perlu bergabung dan bekerja sama. Hampir semua dari bangsa-bangsa itu (kecuali Thai) pernah atau sedang dijajah, dikuasai oleh Kekuatan-kekuatan Kolonialisme. Indonesia sendiri, yang pernah disebut Tan Malaka sebagai “Indonesia Selatan” atau “Indonesia Sempit”, dijajah Belanda, kemudian Jepang. Filipina, yang pernah disebutnya “Indonesia Utara”, dijajah Spanyol, kemudian Amerika Serikat. Semenanjung Malaya dan Kalimantan Utara, juga Birma, dijajah Inggris. Vietnam dijajah Prancis. Bangsa Australia Utara tergusur di negerinya sendiri oleh bangsa kulit putih yang datang dari Inggris. 

Perang Dunia II secara mendasar mengubah peta kekuatan politik dunia. Sekutu keluar sebagai pemenang, Poros mengalami kekalahan. Tetapi kecuali Amerika Serikat (AS), baik negara-negara yang menang maupun kalah dalam peperangan tersebut, mendapati diri dalam keadaan porak-poranda. Inggris tidak lagi menjadi kekuatan imperialis nomor satu. Kedudukannya digantikan oleh AS. Tapi keberadaan Uni Soviet yang “sosialis”, yang dalam PD II berdiri di pihak Sekutu, menjadi ancaman serius bagi AS yang kapitalis. Eropa Barat harus dibangun kembali dengan dana dan arahan AS agar tidak jatuh ke dalam pengaruh Uni Soviet. Negeri-negeri di ASLIA, yang berlimpah dengan sumber-sumber alam dan tenaga kerja murah serta sangat potensial sebagai pasar dan lahan investasi, juga harus diamankan.

Perubahan peta kekuatan politik ini memperhadapkan bangsa-bangsa di ASLIA pada dua sisi dari satu keping mata uang. Di satu. sisi bangsa-bangsa di ASLIA berpeluang untuk merebut kemerdekaan; namun, di sisi lain harus siap berhadapan dengan kekuatan-kekuatan imperialis yang dipimpin oleh AS. Karena itu, tidak cukup bagi bangsa-bangsa di ASLIA untuk merebut kemerdekaan masing-masing. Mereka perlu bergabung dan bekerja sama, baik untuk membangun kesejahteraan bersama maupun untuk menghadapi kekuatan-kekuatan imperialis.

Berdasarkan faktor-faktor geografis, etnologis, dan kepentingan bersama bangsa-bangsa yang menghuni ASLIA, Tan Malaka menggagas dan mencita-citakan berdirinya Federasi ASLIA. 

Federasi ASLIA

Federasi ASLIA adalah sebuah federasi sosialis. Itu artinya, kedaulatan politik dan ekonomi ada pada kaum buruh atau proletariat. Dalam Manifesto Jakarta, Tan Malaka menyebut kaum buruh atau proletariat sebagai “Rakyat Pekerja” atau “Murba Kerja.” Melalui Dewan Perwakilan, kaum buruh akan mengatur hak milik, produksi, upah, dan hidup sosial. Semuanya didasarkan pada tolong-menolong dan sama-rata.

Dalam rangka merealisasikan federasi sosialis inilah PARI didirikan. Sebermula, PARI adalah singkatan dari Partai Republik Indonesia. Didirikan setelah kekalahan PKI dalam Perlawanan November 1926-Januari 1927, PARI adalah partai ilegal/bawah tanah yang mencita-citakan “Federasi Republik Indonesia.”

Dalam Aksi Massa (1926),  yang dimaksud dengan “Indonesia” meliputi Indonesia Selatan, Indonesia Utara, dan Indonesia Semenanjung. Indonesia Selatan adalah Indonesia sebagaimana yang kita kenal. Indonesia Utara adalah Filipina. Indonesia Semenanjung adalah Semenanjung Malaya. Sebelum kedatangan kekuatan-kekuatan kolonialisme Barat, ketiganya merupakan suatu kesatuan dengan bahasa Melayu sebagai lingua franca atau bahasa pengantarnya. Kolonialisme memecah belah dan membagi-bagi “Indonesia”: Belanda menjajah Indonesia Selatan, Inggris menjajah Indonesia Semenanjung, dan Spanyol menjajah Indonesia Utara.

Nah, PARI mencita-citakan dan memperjuangkan kemerdekaan “Indonesia” dalam wujud sebuah federasi sosialis yang bernama Federasi Republik Indonesia.

Dalam Manifesto Jakarta, yang ditulis setelah Proklamasi Kemerdekaan, kepanjangan PARI menjadi Proletaris ASLIA Republik Internasional. Federasi sosialis diperluas: Federasi Republik Indonesia menjadi Federasi ASLIA berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang telah disebutkan di atas. PARI menjadi partai legal yang berjuang untuk mewujudkan Federasi ASLIA.

Menurut Tan Malaka, baik Federasi Republik Indonesia maupun Federasi ASLIA berwatak internasionalis. Tan Malaka tidak menjelaskan lebih lanjut, tapi kita mengerti bahwa internasionalisme dalam Federasi Republik Indonesia maupun Federasi ASLIA berarti orientasi ekonomi-politik yang melampaui batas-batas keindonesiaan yang telah ditetapkan oleh kolonialisme Belanda (Indonesia = Hindia Belanda).

ASLIA Hari Ini

Federasi ASLIA adalah sebuah gagasan besar. Tapi dasar-dasar pertimbangan awalnya perlu ditinjau kembali kesahihannya. Pertimbangan geografis mungkin kuat, karena sebuah federasi regional mengisyaratkan bangsa-bangsa yang tinggal di suatu wilayah tertentu. Namun argumen bahwa pada zaman purbakala Asia, Indonesia, dan Australia pernah menjadi satu (Asia Selatan, begitu Tan Malaka menyebutnya) adalah suatu kekeliruan. Bagian barat kepulauan Indonesia pernah menyatu dengan Asia, bagian timurnya pernah menyatu dengan Australia.

Pertimbangan kedua terkait dengan pertimbangan pertama. Tan Malaka “pukul rata”, seolah-olah bangsa-bangsa yang menghuni Asia, Indonesia, dan Australia merupakan bangsa-bangsa serumpun. Padahal tidak. Orang-orang yang menghuni bagian barat kepulauan Indonesia tergolong dalam rumpun Melayu, sedangkan yang menghuni bagian timur kepulauan Indonesia dan Australia Utara tergolong dalam rumpun Melanesia.

Kekeliruan Tan Malaka dalam dua pertimbangan yang disebut di atas – geografis dan etnologis – bisa dimaklumi karena tentunya ilmu bumi dan antropologi pada jaman Tan Malaka tidaklah semaju sekarang. Teori super benua Pangea dan pergeseran lempeng benua baru diterima secara luas pada awal 1960an, dan dari teori tersebut didapati bahwa daratan Asia, Indonesia, dan Australia tidak pernah menjadi satu seperti yang dibayangkan oleh Tan Malaka. Sementara, belum lama ini, lewat ilmu genetika modern, telah dipastikan bahwa nenek moyang suku Aborigin dan nenek moyang orang-orang yang menghuni Asia dan Indonesia Barat sudah berpisah sejak di Afrika. Sekitar 75 ribu tahun yang lalu nenek moyang suku Aborigin Australia meninggalkan Afrika dan melalui benua Asia tiba di Australia sekitar 50 ribu tahun yang lalu. Sementara nenek moyang orang Asia baru meninggalkan Afrika sekitar 38 ribu tahun yang lalu.

Pertimbangan ketiga, yakni kepentingan bersama, adalah pertimbangan yang paling sahih. Bangsa-bangsa ASLIA perlu bersatu padu dan bekerja sama, baik untuk membangun kesejahteraan bersama maupun untuk menghadapi kekuatan-kekuatan imperialis. Persatuan ini datang dari nasib bersama bangsa-bangsa ASLIA yang merupakan korban dari imperialisme (kapitalisme pada tahap tertingginya). Kapitalisme-lah yang merupakan faktor utama, dan bukan geografi atau kesamaan rumpun atau suku semata, yang menyatukan seluruh rakyat ASLIA. Ini dikarenakan kapitalisme meletakkan semua bangsa ASLIA ke dalam bingkai penindasan yang sama dan oleh karenanya mendorongnya ke jalan revolusioner yang sama pula. Walaupun ada sejumlah formulasi yang kurang tepat di dalam gagasan ASLIAnya Tan Malaka, sesuatu yang akan menarik untuk dikaji di lain kesempatan dan di lain artikel, namun semangat dasar yang terkandung di dalamnya adalah yang paling relevan bagi kita hari ini, yakni semangat internasionalisme.

Semangat internasionalisme yang terkandung di dalam gagasan ASLIA bahkan menjadi jauh lebih relevan hari ini dibandingkan pada jaman Tan Malaka, karena lain dulu lain sekarang. Di awal Abad XXI ini, globalisasi (yang tak lain dari kendaraan imperialisme) telah membuat negeri-negeri di Asia Tenggara terintegrasi sepenuhnya ke dalam ekonomi dunia – sebagai satelit-satelit yang mengorbit di sekeliling kekuatan-kekuatan imperialis. Investasi asing di negeri-negeri tersebut telah meningkatkan kekuatan-kekuatan produktif dalam hubungan produksi kapitalis dan sebagai konsekuensinya menciptakan lebih banyak buruh. Dengan kata lain, kapitalisme – dalam tahapan tertingginya, yakni imperialisme – sedang mempersiapkan penggali-penggali kuburnya sendiri. Kekuatan proletariat hari ini – dalam jumlah maupun kualitas – jauh lebih besar.

Sementara itu, krisis ekonomi yang berkecamuk di Barat semenjak 2008 mulai terasa dampaknya di Asia Tenggara dan Australia. Mata rantai terlemah dari kapitalisme Asia Tenggara akan menjadi arena pertama revolusi sosial – saat para penggali kubur bergerak untuk menguburkan kapitalisme. Bila menang, revolusi tersebut akan memantik revolusi-revolusi sosial berikutnya di seluruh Asia Tenggara dan Australia.

Sudah barang tentu kekuatan-kekuatan imperialis – dan kaki-tangannya di negeri-negeri tersebut – tidak akan tinggal diam. Ada revolusi, ada konter-revolusi. Kelas buruh – dalam  persekutuannya dengan tani, nelayan, dan kaum miskin kota – di negeri-negeri tersebut akan terdorong membentuk kekuatan bersama secara regional. Selain itu, pengalaman perjuangan proletariat 100 tahun terakhir telah menunjukkan bahwa sosialisme tidak bisa dibangun di satu negeri dan usaha untuk melakukan ini hanya akan melahirkan distorsi birokratik. Globalisasi yang didorong oleh kapitalisme dan imperialisme telah menyediakan dasar dan keniscayaan kalau sosialisme harus bersifat internasionalis. Revolusi sosialis dapat dimenangkan di satu bangsa tetapi harus menyebar ke negeri-negeri lain kalau tidak ia akan melayu dan mati. Dalam konteks inilah, Federasi ASLIA Tan Malaka akan menjadi lebih dekat dengan kenyataan. Gagasan Tan Malaka tentang Federasi ASLIA lebih relevan sekarang ketimbang pada waktu pertama dilontarkan!

Bila kapitalis saja memiliki perspektif internasionalis dalam penindasan mereka, maka begitu juga kaum buruh harus memiliki perspektif internasionalis dalam perlawanan mereka. Bila kapitalis memiliki gagasan Masyarakat Ekonomi “kapitalis” ASEAN, maka kaum buruh harus memiliki gagasan besar Federasi Sosialis Asia Tenggara. Perjuangan membebaskan kaum buruh Indonesia dari cengkeraman kapitalisme oleh karenanya harus disandingkan erat dengan perspektif pembangunan Federasi Sosialis Asia Tenggara, untuk menuju ke Federasi Sosialis Dunia. Untuk mencapai ini kaum revolusioner Indonesia harus membangun sebuah organisasi revolusioner yang lintas bangsa, sebuah partai revolusioner yang sungguh internasionalis tidak hanya dalam sudut pandangnya tetapi juga dalam bentuk organisasionalnya.