facebooklogocolour

 

pilpres2014mediaSelama kampanye Pilpres, dengan terang-terangan, TVOne dan Metro TV telah memperlihatkan wajah aslinya; memperlihatkan bahwa mereka adalah alat produksi mental milik dua kelompok borjuis yang sedang melakukan kontestasi politik menuju kekuasaan. TVOne—bersama RCTI, MNC TV, dan Global TV—menjadi pabrik ilusi bagi kelompok Prabowo, dan Metro TV menjadi pabrik ilusi bagi barisan Jokowi.

Keterlibatan dua stasiun TV besar ini dalam kampanye Pilpres, tentu, tidak atas nama ibadah atau sebagai kerja sukarela. Selain untuk kepentingan jangka panjang dalam proses akumulasi kapital, juga untuk kepentingan memperoleh kekuasaan politik, yakni untuk  membawa dua bos stasiun TV dan kroninya ini masuk ke dalam arena kekuasaan.

Kita semua telah mengetahui sebelumnya, bagaimana Aburizal Bakrie, bos TV One, jauh-jauh hari getol mengkampanyekan dirinya sendiri sebagai calon presiden; hal yang sama juga dilakukan oleh Surya Paloh, bos Metro TV, yang jauh-jauh hari telah mengkonsolidasikan kekuatan politiknya melalui Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Namun, setelah mereka mengukur dirinya masing-masing, ketika melihat peluang untuk menjadi presiden sangat tipis, dengan tetap ingin berada di lini kekuasaan, mereka menjadikan TV-nya sebagai pabrik pengolah ilusi—untuk kepentingan mereka dan kroni-kroninya. Dan ilusi hasil olahan dua stasiun TV ini mampu membuat pikiran masyarakat dan kalangan “progresif” menjadi tumpul, dan meyakini bahwa TV One dan Metro TV sebagai pemberita kebenaran.

Media massa di dalam masyarakat kapitalis adalah ‘alat produksi’ ilusi bagi kelas yang berkuasa. Media massa adalah pabrik pengolah ide-ide milik kelas yang berkuasa. Perspektif ini sejalan dengan apa yang pernah ditulis oleh Marx di dalam Ideologi Jerman, bahwa kelas yang memiliki alat produksi material, pada saat yang sama, memiliki kontrol atas alat-alat produksi mental.

TVOne dan Metro TV, sebagai alat produksi mental yang dikendalikan oleh dua kelompok borjuis besar Indonesia ini, pada Pilpres kali ini berfungsi sebagai pabrik pengolah ‘kesadaran palsu’—atau ilusi-ilusi. ‘Kesadaran palsu’ yang diproduksinya mampu membentuk histeria politik dan cara pandang yang sangat ekstrem. Prabowo, misalnya, oleh pendukungnya telah dianggap sebagai  seorang “nabi” yang akan menyelamatkan segala macam persoalan bangsa. Hal yang sama juga terjadi pada Jokowi, yang telah dianggap sebagai calon penyelamat rakyat kecil dari keterpurukan.

Fakta ini saya sebut sebagai “keterblingeran” massal. Istilah ini saya gunakan tidak hanya untuk menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat sedang berada di dalam penglihatan yang kabur, tetapi lebih dari sekedar itu, bahwa masyarakat telah ditipu dengan terang-terangan oleh kontestasi antara Prabowo dan Jokowi. Dua perwakilan dari kelas borjuis ini tidak hanya telah berhasil menyuntikkan ‘kesadaran palsu’ ke dalam pikiran masyarakat luas, tetapi juga ke dalam pikiran sebagian besar rakyat pekerja dan “kaum kiri”.  

Histeria masyarakat terhadap “kehebatan” dua calon presiden, Prabowo dan Jokowi, bukan hasil dari pengamatan mereka secara alamiah. Karena, pada faktanya, kedua sosok calon presiden ini adalah representasi dari kelas borjuasi yang sama. Di belakang mereka berdiri kaum kapitalis besar dan elit-elit politik busuk yang sama. Di belakang mereka berdiri kepentingan-kepentingan yang sama.

‘Kesadaran palsu’ yang diproduksi oleh media massa telah membayang-bayangi pengamatan obyektif dan sikap kritis masyarakat terhadap sosok Prabowo dan Jokowi—tak terkecuali kelas pekerja dan “kaum kiri”.  Media massa telah berhasil mengkomunikasikan pesan dan simbol-simbol kepada masyarakat luas; menginformasikan nilai-nilai, keyakinan, cara pandang, persepsi, perilaku, dsb.

Melihat situasi faktual yang sedang terjadi, berkaitan dengan hiruk-pikuk kampanye Pilpres, media massa telah menjadi alat produksi mental yang sangat vital. Media massa akan menjadi jembatan vital di dalam proses integrasi antara kekuasaan ekonomik dan kekuasaan politik. Dan pada kenyataannya, para kapitalis besar sudah mulai melirik industri mental ini, atau setidaknya, mereka sudah mulai menanamkan modalnya di industri pengolah ‘kesadaran palsu’ ini.

Fungsi media massa, bagi kapitalis, pada analisis terakhir, tidak hanya berfungsi sebagai pabrikasi ‘kesadaran palsu’ yang akan mengikat para konsumen untuk setia mengkonsumsi produk-produk tertentu, tetapi juga pabrikasi ‘kesadaran palsu’ untuk mengikat masyarakat pada ide-ide dan opini-opini tertentu. Pada hal yang terakhir inilah kapitalis menggunakan media massa untuk mempertahankan kekuasaan politik mereka.

Namun, realitas akan segera mengoyak kesadaran palsu ini. Realitas kemiskinan, pengangguran, dan upah rendah yang dihadapi langsung oleh rakyat pekerja dalam kesehari-harian mereka terus berbenturan dengan berbagai ilusi yang ditebarkan oleh kelas penguasa lewat media mereka. Abraham Lincoln pernah mengatakan: “Kau dapat menipu semua orang untuk beberapa waktu, dan kau dapat menipu beberapa orang untuk selamanya, tetapi kau tidak akan dapat menipu semua orang selamanya.” Tidak selamanya sirkus yang rakyat tonton lewat layar kaca mereka akan bisa meninabobokan mereka, karena perut yang kosong tetap akan kosong dan menarik mereka – tidak jarang dengan paksa – kembali ke realitas.

Kontrol media oleh kapitalis bukanlah sesuatu yang omnipoten, yang mahakuasa dan tak akan bisa terkalahkan. Bila demikian adanya, maka perjuangan kita akan sia-sia. Pada kenyataannya, dari masa ke masa kita telah melihat bagaimana rakyat pekerja membebaskan dirinya dari ilusi kelas penguasa dan bergerak ke arena politik secara masif. Inilah revolusi. Rakyat pekerja yang telah melihat kemunafikan media borjuasi – yakni media yang dimiliki segelintir orang – akan berusaha merebutnya dari tangan borjuasi, dan membangun untuk pertama kalinya media yang benar-benar milik rakyat pekerja. Nasionalisasi alat-alat produksi media – yang berarti pembredelan media-media borjuasi -- oleh karenanya menjadi bagian program revolusi yang penting. Alat media, seperti halnya alat-alat produksi lainnya, harus berada di tangan rakyat pekerja dan dijalankan secara demokratis, dan dengan demikian dapat digunakan untuk mendidik rakyat dan bukan untuk membodohkannya.

Pemilu hari ini telah menunjukkan betapa kuatnya pengaruh media yang berfungsi sebagai salah satu alat kekuasaan kapitalis. Dari kenyataan ini pula maka kita tiba ke kesimpulan bahwa perebutan kekuasaan oleh kelas buruh niscaya mensyaratkan perebutan media.