facebooklogocolour

Situs Militan Indonesia akan ditutup pada akhir Oktober. Kunjungi situs Perhimpunan Sosialis Revolusioner (revolusioner.org)!

demo bawasluPilpres telah usai. Hasilnya sudah bisa ditebak sejak dirilisnya hasil quick count. Jokowi menang lagi dengan selisih perolehan suara mencapai 11%. Meski begitu tampaknya drama seputar pilpres ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Asap hitam membumbung tinggi di seputar kantor Bawaslu dan sejumlah titik lainnya. Ribuan massa pendukung Prabowo membabi buta. Enam orang tewas dan ratusan lainnya terluka, menurut laporan terakhir.

Prabowo dan politisi di sekitarnya tahu betul bagaimana hasil pilpres ini akan keluar. Khas watak elit politik yang tidak siap dengan kekalahan, sejak awal mereka menggunakan berbagai cara untuk mendelegitimasi hasil pemilu, mulai dari isu kecurangan pemilu yang terus disuguhkan ke massa pendukungnya sampai seruan people power. Prabowo, Amien Rais cs oleh karenanya adalah pihak yang bertanggung jawab atas jatuhnya korban selama kekacauan dua hari terakhir.

Hingga Rabu malam, Prabowo dan politisi seperti Amin Rais yang semula menyerukan demo ini tidak juga nampak batang hidungnya di antara kerumunan massa. Politisi macam Prabowo cs sungguh pengecut. Ia menyerukan massa untuk turun ke jalan tapi dia sendiri tidak terlibat. Ia sempat berkunjung ke salah satu demonstran yang terluka dan selebihnya hanya berbicara melalui video yang diunggahnya di twitter. “Saya kira, walaupun ini aksi damai, bisa berakhir, untuk istirahat, untuk menghadapi besok dan melanjutkan ibadah kita”. 

Prabowo menyerukan massa untuk pulang, dan ini setelah selama hampir satu bulan terakhir mengompori massa pendukungnya untuk demo “people power” kalau tidak menang. Jelas kalau sekarang ia ingin menjauhkan diri dari kerusuhan yang ada, karena ternyata “people power” yang dikiranya dapat ia mobilisasi hanya seperti tong kosong yang nyaring bunyinya.

Pihak kepolisian mengumumkan telah menangkap ratusan orang yang menjadi provokator kerusuhan.  Sejumlah elemen-elemen lumpen jelas telah dibayar oleh kamp Prabowo untuk mengorganisir demo-demo massa, yang diharapkan akan jadi “people power”. Borjuasi macam Prabowo cs menggunakan mereka untuk kepentingannya sendiri dengan memberikan remah-remah. Selama massa reaksioner ini memberikan keuntungan bagi borjuasi, selama itu pula Prabowo dan borjuasi lainnya akan terus menyokong mereka.

Polisi juga menyatakan kalau mereka sedang mencari pihak-pihak yang bertanggung jawab atas amplop-amplop uang yang ditemui di antara para pelaku kerusuhan. Kalau kepolisian serius ingin menangkapi dalang kerusuhan ini, orang-orang ini bukanlah preman-preman bertato yang diperagakan kemarin hari di jumpa pers, tetapi politisi-politisi terhormat yang sering masuk TV.

Pada akhirnya people power ini kebablasan. Tanpa keterlibatan massa luas seperti yang dibayangkan oleh Prabowo cs maka dengan cepat ini berubah jadi kerusuhan oleh elemen-elemen lumpen.

Di sini kita lihat kesiapan dari politisi-politisi kamp Prabowo untuk mengorbankan jiwa rakyat kecil untuk kepentingan sempit mereka. Setelah korban berjatuhan dan tujuan “people power”nya tidak tercapai, dengan cepat Prabowo cuci tangan. Demikianlah memang rakyat di mata politisi kelas penguasa, hanya pion-pion untuk kepentingan mereka.

Dalam situasi yang terus memanas, pemerintah memblokir sejumlah media sosial seperti Facebook, Whatsapp dan Instagram selama tiga hari ke depan. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya tidak ada kebebasan berpendapat. Dengan jentikan jari, rejim bisa segera mengontrol jaringan komunikasi yang ada. Kemampuan memblokir media sosial dan internet secara luas akan digunakan kembali di hari depan terhadap gerakan rakyat pekerja.

“Pesta demokrasi” kali ini, lagi dan lagi, digunakan para elit untuk membenturkan rakyat pekerja. Ini telah dimulai bahkan jauh sebelum lemparan batu pertama di depan kantor bawaslu. Sejak awal kampanye pilpres dan pileg rakyat pekerja digiring ke kubu politik kelas penguasa ini atau itu, dibenturkan satu sama lain lewat berbagai prasangka terbelakang yang terus disuburkan. Ketika kekerasan di seputar pemilu terjadi – dan ini bukan yang pertama kalinya – bibit-bibitnya memang telah disemaikan sejak awal. Rakyat pekerja miskin yang jadi korban. Setelah sampah-sampah yang berserakan di Petamburan dibersihkan, rakyat pekerja hanya bisa kembali ke rutinitas sehari-hari mereka: terperangkap dalam kemiskinan, kesengsaraan, pembodohan, dan degradasi mental tanpa akhir; sementara yang berkuasa – pemilik modal dan perwakilan-perwakilan politik mereka yang bisa kita temui di kedua kubu 01 dan 02 – akan tetap tambun dan sejahtera wal’afiat.