facebooklogocolour

buruh kepaltanganTidak diragukan kalau hampir semua rakyat pekerja di muka bumi memasuki tahun 2015 yang baru ini dengan sebuah pengharapan akan membaiknya taraf hidup mereka. Yang baru lulus sekolah berharap bisa mendapatkan kerja; yang baru dipecat berharap menemukan kembali pekerjaan; yang masih bekerja berharap tetap bisa bekerja. Tiap-tiap buruh, tani, dan kaum miskin kota berharap dengan cara mereka masing-masing, namun harapan mereka sama: kehidupan yang lebih baik daripada yang sebelumnya.

Tahun baru selalu memiliki arti yang khusus bagi rakyat pekerja. Mereka berharap mungkin pergantian tahun akan berarti pergantian nasib, dari yang buruk menjadi yang baik, dari yang malang menjadi yang beruntung. Setidaknya mereka berusaha mengasosiasikan kata “pergantian” ini dengan hidup mereka sendiri, entah itu pada Tahun Baru kalender Gregorian, kalender Islam, atau kalender Cina. Tanggal-tanggal ini dikeramatkan sebagai ekspresi pengharapan mereka.

Manusia tentunya tidak dapat hidup tanpa harapan, tanpa impian, tanpa cita-cita. Pengejaran harapan, pemenuhannya menjadi realitas, adalah tenaga pendorong terutama bagi umat manusia. Manusia menjadi manusia seutuh-utuhnya ketika ia dapat bekerja membangun sebuah jembatan di atas jurang antara harapan dan realitas. Akan tetapi, kapitalisme telah merenggut - dengan paksa - semua kemungkinan untuk menjembatani jurang antara harapan dan realitas bagi mayoritas rakyat pekerja.

Bukannya buruh yang tidak punya mimpi dan semangat untuk mengejar mimpi-mimpi mereka. Tetapi kapitalismelah yang tidak bisa menyediakan cara bagi mereka untuk memenuhinya. Penindasan kapitalisme tidaklah hanya berbentuk penindasan fisik. Ia juga menindas batin kaum buruh, dan pada kenyataannya inilah penindasan yang paling keji. Kapitalisme mendegradasi manusia, membodohkannya, merantai pikirannya, membuatnya menjadi binatang liar yang saling memasang satu sama lain, merampas martabatnya, meremukkan harapan-harapan terbaiknya. Ini semua dilakukannya lewat kepemilikan pribadi.

Inilah mengapa kami adalah kaum sosialis, karena tidak ada lagi harapan bagi rakyat pekerja di bawah kapitalisme. Dan sebagai kaum sosialis, kami menyatakan permusuhan kami dengan kepemilikan pribadi. Mungkin akan ada yang keberatan dengan pernyataan ini dan menuduh kami ingin mencuri kepemilikan pribadi rakyat pekerja. Tengoklah baik-baik, kepemilikan pribadi rakyat pekerja sudah dirampas setiap harinya oleh kaum kapitalis. Mereka sejak awal tidak punya kepemilikan pribadi. Ia dilahirkan miskin dan akan mati miskin juga, dan kalau beruntung tidak akan meninggalkan hutang pada anak-cucunya. Kaum buruh hanya punya tenaga kerja, yang dijualnya hanya untuk cukup hidup pada hari itu saja.

Kepemilikan pribadi yang kami musuhi adalah kepemilikan pribadi kaum kapitalis atas kapital atau modal, atas alat-alat produksi (pabrik, bank, tambang, perkebunan, dsb.). Inilah kepemilikan pribadi yang sesungguhnya, kepemilikan pribadi yang menindas kaum buruh, tani, dan miskin kota. Kepemilikan pribadi inilah yang harus dijadikan kepemilikan bersama. Pabrik, bank, tambang, perkebunan, ladang sawah, semua dimiliki bersama oleh rakyat pekerja, sehingga mereka tidak lagi jadi alat untuk menindas tetapi alat untuk pemenuhan harapan rakyat akan kehidupan yang lebih baik.

Tahun baru ini harus dijadikan tahun pengharapan yang baru bagi kaum buruh. Bukan pengharapan lama akan belas kasihan dari kapitalisme agar memberikan remah-remah yang lebih besar, tetapi pengharapan baru akan perjuangan kelas yang dapat menghapus kepemilikan pribadi kapitalis. Program utama kita haruslah bermuara pada penghapusan kepemilikan pribadi, dan setiap langkah perjuangan - bahkan yang paling kecil sekalipun - harus diarahkan ke sana, dengan cara apapun dan lewat jalan manapun, seperti halnya banyak jalan menuju ke Roma.

Selama kita tidak merangkul sosialisme sebagai program kerja kita, sebagai batu penjuru dari semua kegiatan kita, maka kata “lawan” akan kehilangan makna revolusionernya dan hanya akan jadi frase kosong yang diulang-ulang sebagai penyejuk hati belaka. Selama kepemilikan pribadi (kapitalisme) masih berdiri tegak, maka setiap tahun baru hanya akan menjadi pengulangan cerita lama penindasan kapitalisme, yang awalnya adalah tragedi dan lalu menjadi lelucon.