facebooklogocolour

Ulasan Singkat Buku “Nalar yang Memberontak”

coverNalar 3Menulis sebuah ulasan untuk buku ini sangatlah sulit bagi saya. Bukan karena buku ini tidak bisa dipahami, tapi buku ini sangatlah kompleks dan menjabarkan segala hal yang tidak bisa saya jabarkan dalam beberapa lembar saja dalam artikel singkat ini.

Kritik atas Tuntutan "Tolak Masuknya Tenaga Kerja Asing" Pada Aksi Buruh 1 September

Demoburuh1SeptYang dibutuhkan adalah perjuangan yang berperspektif kelas dan internasionalis. Alih-alih melihat buruh Tiongkok atau ASEAN sebagai saingan, kita harus melihat mereka sebagai rekan seperjuangan.  Kalau kapital atau modal saja tidak memiliki kebangsaan, maka perjuangan buruh juga harus keluar dari sekat-sekat nasional.

Aksi dan Reaksi Monas: Ganti Buruh Dengan Mesin

Di dalam sejarah pergerakan buruh di seluruh dunia, setiap kali buruh bergerak menuntut perbaikan kondisi kerja mereka (kenaikan upah, dll.) pemilik modal selalu mengancam akan menggantikan buruh dengan mesin. Ancaman ini adalah satu ancaman yang cukup serius yang membuat takut mayoritas buruh untuk berjuang menuntut upah lebih. Kita akan berbohong kalau kita mengatakan bahwa ancaman ini adalah gertak sambal semata. Ancaman ini nyata dan riil, tetapi bukan berarti kita lantas harus tunduk takut. Memahami ancaman ini akan membuat kita mampu “mengancam balik”, membuat kita lebih paham tugas historis perjuangan buruh.

Bukan Hidup Hemat, Tapi Hidup Layak (Masalah Motor Ninja)

Kalau ada yang pemboros, itu adalah kelas kapitalis yang telah menyia-nyiakan potensi tenaga produksi masyarakat. Kapitalisme itu sendiri yang hari ini merupakan pemborosan terbesar di dalam sejarah umat manusia. Berapa juta nyawa manusia yang telah ia “boroskan” dalam perang-perang untuk merebut sumber daya alam dan pasar? Berapa banyak pemborosan yang dilakukan oleh para koruptor? Berapa masa depan jutaan anak yang “diboroskan” karena mereka kurang gizi dan tidak bisa sekolah? Berapa banyak hutan yang “diboroskan” demi laba besar dan cepat dari usaha perkebunan sawit ? Yang boros bukanlah buruh yang ingin menyicil Kawasaki Ninja, tetapi kapitalisme.

Liputan Aksi Geber BUMN

Mulai jam satu siang hingga jam lima sore, hari ini, tanggal 22 Oktober, sekitar 18 serikat buruh BUMN yang tergabung dalam 3 konfederasi besar (KASBI, KSBSI, KSPI) melakukan demonstrasi di depan Gedung DPR RI. Massa menuntut penghapusan outsourcing dan mengawal rekomendasi akhir Panja Outsourcing.

Resensi Film Dokumenter "Jagal"

Jangan harap kita menemui dokumenter sejarah konvensional. Jangan harap kita akan menemui cerita panjang berupa kumpulan pengakuan para keluarga korban pembantaian 1965-1966 di Indonesia. "The Act of Killing" tidak akan menyajikan latar belakang yang umum seperti itu. Siap-siaplah untuk menyaksikan hal yang lebih dahsyat, lebih meyakinkan, lebih menganggu, lebih mengerikan, dan bahkan lebih memikat.

Buruh dalam Perjuangan Melawan Kenaikan BBM

Hari ini adalah momentum besar bagi kaum buruh untuk mengkonsolidasi kekuatannya, dengan memberikan kepemimpinan terhadap gerakan menentang kenaikan harga BBM. Pada tahun lalu buruh bisa memukul mundur pemerintah, maka hari ini ketika gerakan buruh telah berlipat ganda dalam jumlah dan kualitas, maka tidak ada alasan mengapa gerakan buruh tidak bisa memukul mundur pemerintah hari ini.

Preman-Preman Pabrik, Batalion Penjaga Kapital

Belum lama ini, telah terjadi penyerangan kepada para buruh SPBI-KASBI di Gresik yang sedang mogok oleh sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai anggota dari suatu serikat buruh.

Perbuatan Tidak Menyenangkan Buruh (Solidaritas untuk Kawan Sultoni yang ‘Tidak Menyenangkan’)

Kasus kriminalisasi kawan Sultoni – pejuang buruh dari Serikat Progresif dan Sekber buruh – baru-baru ini, yang dijegal pasal “Perbuatan Tidak Menyenangkan” oleh pemilik modal, mendorong sebuah pertanyaan yang awalnya tampak sepele tetapi kalau kita telaah lebih jauh ternyata cukup fundamental di dalam perjuangan buruh. Ini menyangkut masalah “senang” dan “tidak senang”.