facebooklogocolour

Perbuatan Tidak Menyenangkan Buruh (Solidaritas untuk Kawan Sultoni yang ‘Tidak Menyenangkan’)

Kasus kriminalisasi kawan Sultoni – pejuang buruh dari Serikat Progresif dan Sekber buruh – baru-baru ini, yang dijegal pasal “Perbuatan Tidak Menyenangkan” oleh pemilik modal, mendorong sebuah pertanyaan yang awalnya tampak sepele tetapi kalau kita telaah lebih jauh ternyata cukup fundamental di dalam perjuangan buruh. Ini menyangkut masalah “senang” dan “tidak senang”.

Pengusaha yang tak kunjung kabur

 

Kisah perjuangan buruh itu layaknya sinetron dengan narasi yang mudah ditebak. Para pemirsa sudah tahu kira-kira apa peran dari tiap-tiap aktor, apa yang akan mereka lakukan dan katakan. Dan mungkin pengulangan ini yang membuat sinetron begitu memukau, karena memang hidup kita terkukung dalam pengulangan-pengulangan.

Kenaikan Upah Buruh dan “Lonceng Kematian” UKM

Dengan kenaikan upah yang dimenangkan oleh perjuangan buruh, Apindo segera meluncurkan serangan balik dengan teori-teori ekonomi mereka. Logika mereka sederhana, upah naik maka PHK akan terjadi. Sungguh sebuah ancaman yang sudah sering didengar oleh buruh dalam perjuangan mereka.

Menulislah Buruh, Bangun Mediamu Sendiri

Sejatinya, kita tidak kekurangan sumber daya sama sekali. Dengan semangat yang sama ketika buruh melakukan aksi, ketika buruh menggeruduk pabrik-pabrik, ketika buruh merobohkan pagar pabrik dalam “sweeping” mereka, media buruh bisa dibangun. Tidak ada kata “tidak mungkin” bagi buruh.

Pukul Balik Lockout Dengan Mogok Nasional

Buruh harus menjawab balik: untuk setiap pabrik yang dilockout, buruh akan membalas dengan mogok seratus pabrik. Pukul balik mogok kapital dengan mogok buruh. Kalau kapitalis lututnya sudah gemetar menyaksikan mogok nasional pertama, mereka sekarang harus dibuat bertekuk lutut dengan mogok nasional yang kedua.

Bagaimana Korporasi Mengontrol Opini Publik di Dunia Maya

Tidak puas dengan mengerahkan massa bayaran untuk mengobrak-abrik posko-posko buruh, para pemilik modal juga mengerahkan pengguna-web bayaran untuk menyerang website serikat buruh. Bukan sebuah kebetulan kalau serangan website ini berbarengan dengan serangan massa preman bayaran.

Pengusaha Bekasi Terancam, Minta Bantuan Tentara

Penggunaan aparat kepolisian dan tentara untuk menghadapi aksi buruh dan rakyat miskin adalah hal yang sudah biasa kita saksikan. Tetapi kali ini tampak para pengusaha sudah putus asa dan kehilangan akal, sehingga mereka secara publik meminta bantuan tentara untuk menghadapi buruh. Tentunya tidak setiap saat represi fisik bisa digunakan, karena ini akan berakibat negatif pada reputasi demokrasi elit-elit penguasa. Mereka berdiri memerintah dengan legitimasi bahwa mereka demokratis, sehingga penampilan publik ini setidaknya harus dijaga. Selain itu mereka juga hati-hati tidak ingin memprovokasi aksi massa buruh, karena sering kali kekerasan tentara bukannya memadamkan tetapi justru semakin mengobarkan api perjuangan. Maka dari itu setiap usaha pengusaha dan pemerintah untuk menggunakan kekerasan -- entah lewat polisi, tentara, ataupun preman-preman bayaran -- harus terus dilawan dengan berani dan diekspos seluas mungkin.

Pemogokan Nasional 3 Oktober, Sebuah Perjuangan Kelas Terbuka Antara Kaum Buruh VS Pemodal yang Tidak Bisa Diredam

Berikut ini adalah pernyataan yang ditulis oleh kawan Kent Yusriansyah, selaku Sekjen Komite Pusat Persatuan Perjuangan Indonesia; yang adalah pernyataan politik PPI dalam menilai pengalaman mogok nasional 1 hari kaum buruh pada 3 Oktober 2012. Militan Indonesia menghadirkan tulisan ini di website kami karena ini mengandung pengamatan politik yang kami rasa dapat membantu kita semua untuk menganalisa signifikansi politik dari Getok Monas bagi perjuangan kaum buruh Indonesia.

Reportase Awal Mogok Nasional 3 Oktober

Berikut adalah reportase awal aksi-aksi buruh pada Getok Monas, yang dikumpulkan dari berbagai sumber media massa, jejaring sosial, dan beberapa pengamatan dari lapangan oleh sejumlah kamerad Militan. Luar Biasa! Tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan suasana kemarin. Buruh turun ke jalan dan mogok se-Indonesia. Mogok umum nasional yang pertama dalam setengah abad sungguh tidak mengundang kekecewaan apapun dalam pengharapannya sebagai satu titik balik historis dalam gerakan buruh Indonesia.