facebooklogocolour

Tantangan May Day

May Day sudah berlalu, tetapi ia membawa satu tantangan yang terus kita hadapi, yakni tidak ada ruang bagi reforma atau perbaikan-perbaikan hidup apapun di bawah kapitalisme yang sekarang sedang memasuki krisis. Kapitalisme harus digulingkan demi keselamatan umat manusia. Berikut adalah editorial yang kami sadur dari In Defence of Marxism yang menantang tiap-tiap kaum revolusioner untuk menggulingkan kapitalisme. (Redaksii Militan)

Editorial: Selamat Hari Buruh

Kami, dari segenap organisasi Militan Indonesia, mengucapkan Selamat Hari Buruh kepada kaum buruh Indonesia. Ini adalah hari yang menggembirakan bagi kita semua karena pada saat yang bersamaan jutaan kaum buruh sedunia turun ke jalan bersolidaritas dan menunjukkan ke seluruh dunia: kami masih ada di sini, dan kami masih terus berjuang. Yah, setiap hari profesor-profesor dan pakar-pakar bayaran kaum kapitalis terus berteori bahwa sudah tidak ada lagi kelas buruh. Namun tiap tahunnya kita buruh terus turun ke jalan pada tanggal 1 Mei untuk merayakan Hari Buruh. Dengan kehadiran kita yang nyata, teori-teori para tuan-nyonya cerdas ini terhempas ke tong sampah sejarah.

Gelombang Massa Menghadang Naiknya BBM

Demonstrasi yang terjadi hari ini adalah gejala umum dari krisis kapitalisme. Krisis ini akan menjadi lebih dalam. Dan kaum borjuis tidak memiliki jalan keluar. Setiap usaha untuk mengembalikan keseimbangan ekonomi hanya untuk merusak keseimbangan sosial dan politik. Gejolak baru sedang disiapkan. Besok atau lusa akan ada gejolak baru.

Mesuji-Sape dan Watak Negara Kelas

Sementara kaum moralis dan liberal mengeluh akan gagalnya negara dalam melindungi rakyatnya, kita kaum Sosialis justru beranggapan bahwa negara - dalam hal ini negara borjuis - sudah berhasil memenuhi tugasnya: membela kaum borjuis. Hanya negara buruh yang akan bisa berpihak pada rakyat pekerja, tani, dan kaum miskin kota.

Membangun Kembali Militansi Watak Politik Gerakan Buruh Indonesia

Tak banyak yang berbeda pada peringatan May Day di Indonesia tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Ribuan buruh turun ke jalan menggelar aksi menyampaikan tuntutannya dengan berunjuk rasa di jantung kota. Semangat yang digelar dari hari-hari sebelum 1 Mei itu terasa debar hentakannya. Namun menjelang sore semangat ini semakin melemah dan kemudian hilang seperti tak berbekas.

May Day di Surabaya: Buruh Blokade Bandara

Hari Minggu kemarin, tepatnya tanggal 1 Mei, kami berada di antara lautan massa buruh yang hampir sepanjang jalan berulangkali meneriakkan slogan “Buruh Berkuasa Rakyat Sejahtera.” Kaki-kaki kokoh kaum buruh dengan penuh semangat bergerak dari Bunderan Waru menuju Bandara Juanda. “Kita akan memblokade jalan utama Bandara Juanda,” teriak lantang seorang orator aksi. “Bandara adalah tempat lalu-lalangnya para pemilik modal. Kita akan mendudukinya sebagai ungkapan protes terhadap pemerintah SBY-Boediono yang tidak berpihak kepada kaum buruh!”

Imperialisme Bersiap Menyerang Revolusi Venezuela

Revolusi Venezuela sedang memasuki tahap kritis lagi tahun ini. Dengan pemilu Majelis Nasional yang akan berlangsung pada tanggal 26 September, pihak konter-revolusi telah melancarkan serangan dari berbagai arah: ekonomi, politik, dan militer. Berikut ini kami terbitkan statemen solidaritas dari berbagai organisasi di Indonesia dan sekitarnya untuk menentang intervensi asing terhadap Revolusi Venezuela.

May Day – Antara Perjuangan dan Perayaan

"Ide utama yang brilian dari perayaan May Day adalah aksi independen dari massa proletar, aksi massa politik dari jutaan buruh ... Proposal brilian dari Lavigne di Kongres Internasionale Kedua di Paris menggabungkan taktik parlementer – yang merupakan sebuah manifestasi tidak langsung dari kehendak kaum proletar – dengan sebuah protes massa internasional: mogok kerja sebagai sebuah demonstrasi dan alat perjuangan untuk meraih delapan-jam-kerja, perdamaian dunia, dan sosialisme." (Rosa Luxembourg)

Hari Perempuan Sedunia - Harinya Perempuan Buruh

Hari Perempuan Sedunia (International Women's Day) adalah harinya perempuan buruh sedunia, hari munculnya solidaritas internasional kaum buruh perempuan dalam rangka membangun kekuatan politik perempuan sebagai bagian integral dari cita-cita revolusi proletar. Hari Perempuan Sedunia tidaklah mengandung makna emansipasi sempit, atau kategori dangkal yang sering digembar-gemborkan oleh para aktifis feminis liberal. Hari Perempuan Sedunia memiliki arti yang dalam dan revolusioner, yakni bergeraknya kaum buruh perempuan untuk menumbangkan kapitalisme yang menindas mereka.

Mega Proyek di Pulau Madura, untuk Siapa?

Sebentar lagi seluruh eksotisme itu lenyap. Tak ada lagi suara riang anak-anak berlarian, mengejar matahari, mengejar mimpi. Tak ada lagi senyum liar menebar, menikmati hari, menikmati pagi. Semua hilang, hanyut, tenggelam, digerus oleh arus modal. Madura Industrial Seaport City, begitulah nama mega-proyek yang tengah menjadi “kebanggaan” warga Surabaya dan Madura. Proyek ini menelan biaya total 4,5 triliun rupiah. Pembangunan jembatan dengan total biaya yang begitu besar ini tujuan utamanya, tentu, bukan untuk memudahkan arus hilir mudik masyarakat dari Surabaya ke Madura (atau sebaliknya). Bukan pula untuk meningkatkan mata pencaharian mereka, atau untuk menyejahterakan rakyat dalam makna yang sesungguhnya. Namun, tidak bisa dipungkiri, proyek ini bertujuan untuk kepentingan modal besar milik segelintir orang.