facebooklogocolour

Pemogokan Nasional 3 Oktober, Sebuah Perjuangan Kelas Terbuka Antara Kaum Buruh VS Pemodal yang Tidak Bisa Diredam

Berikut ini adalah pernyataan yang ditulis oleh kawan Kent Yusriansyah, selaku Sekjen Komite Pusat Persatuan Perjuangan Indonesia; yang adalah pernyataan politik PPI dalam menilai pengalaman mogok nasional 1 hari kaum buruh pada 3 Oktober 2012. Militan Indonesia menghadirkan tulisan ini di website kami karena ini mengandung pengamatan politik yang kami rasa dapat membantu kita semua untuk menganalisa signifikansi politik dari Getok Monas bagi perjuangan kaum buruh Indonesia.

Reportase Awal Mogok Nasional 3 Oktober

Berikut adalah reportase awal aksi-aksi buruh pada Getok Monas, yang dikumpulkan dari berbagai sumber media massa, jejaring sosial, dan beberapa pengamatan dari lapangan oleh sejumlah kamerad Militan. Luar Biasa! Tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan suasana kemarin. Buruh turun ke jalan dan mogok se-Indonesia. Mogok umum nasional yang pertama dalam setengah abad sungguh tidak mengundang kekecewaan apapun dalam pengharapannya sebagai satu titik balik historis dalam gerakan buruh Indonesia.

Tantangan May Day

May Day sudah berlalu, tetapi ia membawa satu tantangan yang terus kita hadapi, yakni tidak ada ruang bagi reforma atau perbaikan-perbaikan hidup apapun di bawah kapitalisme yang sekarang sedang memasuki krisis. Kapitalisme harus digulingkan demi keselamatan umat manusia. Berikut adalah editorial yang kami sadur dari In Defence of Marxism yang menantang tiap-tiap kaum revolusioner untuk menggulingkan kapitalisme. (Redaksii Militan)

Editorial: Selamat Hari Buruh

Kami, dari segenap organisasi Militan Indonesia, mengucapkan Selamat Hari Buruh kepada kaum buruh Indonesia. Ini adalah hari yang menggembirakan bagi kita semua karena pada saat yang bersamaan jutaan kaum buruh sedunia turun ke jalan bersolidaritas dan menunjukkan ke seluruh dunia: kami masih ada di sini, dan kami masih terus berjuang. Yah, setiap hari profesor-profesor dan pakar-pakar bayaran kaum kapitalis terus berteori bahwa sudah tidak ada lagi kelas buruh. Namun tiap tahunnya kita buruh terus turun ke jalan pada tanggal 1 Mei untuk merayakan Hari Buruh. Dengan kehadiran kita yang nyata, teori-teori para tuan-nyonya cerdas ini terhempas ke tong sampah sejarah.

Gelombang Massa Menghadang Naiknya BBM

Demonstrasi yang terjadi hari ini adalah gejala umum dari krisis kapitalisme. Krisis ini akan menjadi lebih dalam. Dan kaum borjuis tidak memiliki jalan keluar. Setiap usaha untuk mengembalikan keseimbangan ekonomi hanya untuk merusak keseimbangan sosial dan politik. Gejolak baru sedang disiapkan. Besok atau lusa akan ada gejolak baru.

Mesuji-Sape dan Watak Negara Kelas

Sementara kaum moralis dan liberal mengeluh akan gagalnya negara dalam melindungi rakyatnya, kita kaum Sosialis justru beranggapan bahwa negara - dalam hal ini negara borjuis - sudah berhasil memenuhi tugasnya: membela kaum borjuis. Hanya negara buruh yang akan bisa berpihak pada rakyat pekerja, tani, dan kaum miskin kota.

Membangun Kembali Militansi Watak Politik Gerakan Buruh Indonesia

Tak banyak yang berbeda pada peringatan May Day di Indonesia tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Ribuan buruh turun ke jalan menggelar aksi menyampaikan tuntutannya dengan berunjuk rasa di jantung kota. Semangat yang digelar dari hari-hari sebelum 1 Mei itu terasa debar hentakannya. Namun menjelang sore semangat ini semakin melemah dan kemudian hilang seperti tak berbekas.

May Day di Surabaya: Buruh Blokade Bandara

Hari Minggu kemarin, tepatnya tanggal 1 Mei, kami berada di antara lautan massa buruh yang hampir sepanjang jalan berulangkali meneriakkan slogan “Buruh Berkuasa Rakyat Sejahtera.” Kaki-kaki kokoh kaum buruh dengan penuh semangat bergerak dari Bunderan Waru menuju Bandara Juanda. “Kita akan memblokade jalan utama Bandara Juanda,” teriak lantang seorang orator aksi. “Bandara adalah tempat lalu-lalangnya para pemilik modal. Kita akan mendudukinya sebagai ungkapan protes terhadap pemerintah SBY-Boediono yang tidak berpihak kepada kaum buruh!”

Imperialisme Bersiap Menyerang Revolusi Venezuela

Revolusi Venezuela sedang memasuki tahap kritis lagi tahun ini. Dengan pemilu Majelis Nasional yang akan berlangsung pada tanggal 26 September, pihak konter-revolusi telah melancarkan serangan dari berbagai arah: ekonomi, politik, dan militer. Berikut ini kami terbitkan statemen solidaritas dari berbagai organisasi di Indonesia dan sekitarnya untuk menentang intervensi asing terhadap Revolusi Venezuela.

May Day – Antara Perjuangan dan Perayaan

"Ide utama yang brilian dari perayaan May Day adalah aksi independen dari massa proletar, aksi massa politik dari jutaan buruh ... Proposal brilian dari Lavigne di Kongres Internasionale Kedua di Paris menggabungkan taktik parlementer – yang merupakan sebuah manifestasi tidak langsung dari kehendak kaum proletar – dengan sebuah protes massa internasional: mogok kerja sebagai sebuah demonstrasi dan alat perjuangan untuk meraih delapan-jam-kerja, perdamaian dunia, dan sosialisme." (Rosa Luxembourg)