liberationtheologyPercakapan ini kami tangkap dan sadur dari media sosial, antara dua orang pendeta yang datang dari dua kelas yang berbeda. Yang satu datang dari elit borjuis kecil, yang satu lagi dari barisan rakyat pekerja.  Yang satu melihat masalah bangsa sebagai ekspresi dari kemanjaan dan keborosan rakyat pekerja, sementara yang satu lagi melihatnya sebagai hasil dari tatanan kapitalisme.

Sang pendeta borjuis kecil berkata:

Orang tua yang tidak baik memanjakan anaknya dengan modal hutang hanya supaya dilihat hebat. Sekarang ketahuan bahwa selama ini rakyat Indonesia dimanjakan dengan hutang yang sudah sampai 3000 triliun. Tulis berapa angka nol di belakang angka 3.

Jokowi dan Jusuf Kalla mengajak kita sadar diri dan mulai berbenah diri untuk lebih mandiri. Sebaiknya orang beriman tidak hanya ngedumel karena siapa pun presidennya kalau memang sebagai orang tua yang baik pasti akan mengajak rakyatnya berhenti bermewah-mewah dengan modal hutang yang dibebankan pada anak cucu.

Jangan jadi orang berjiwa rakus yang hanya senang dengan tampilan bungkus karena terlalu banyak berteman dengan "tikus".

Lalu pendeta yang lain, yang hidup bersama rakyat pekerja, menanggapi:

Analogi Bapak keliru.

Presiden/pemerintah bukan orang tua kita. Presiden/pemerintah adalah wakil rakyat. Dia, demikian juga para legislator dan senator (DPR & DPD), adalah wakil-wakil rakyat, bukan orang tua rakyat.

Cara berpikir paternalistik ini mengaburkan kenyataan sesungguhnya, yakni bahwa Indonesia dengan sistem ekonomi-politik kapitalisme sudah terjebak di dalam imperialisme. Siapapun presidennya, bila bingkainya masih kapitalisme dan rezimnya berwatak komprador, harga BBM akan terus naik.

Tentu saja Allah Bapa kita tidak menginginkan kita menjadi anak-anak-Nya yang manja. Tetapi kesusahan rakyat pekerja karena urusan hajat hidup orang banyak diserahkan kepada mekanisme pasar yang ndilalah takluk kepada imperialisme, bukanlah soal cengeng atau manja. Tapi soal sistem ekonomi-politik yang tidak adil dan rezim yang tunduk kepada imperialisme.

Allah Bapa menghendaki kita, anak-anak-Nya, tangguh. Betul. Salah satu implementasinya adalah melawan kapitalisme dan imperialisme, serta membangun kehidupan bersama yang lebih adil-manusiawi dan bernafaskan solidaritas.

Pendeta yang satu terhisab dalam elit borjuis kecil, yang menyediakan diri menjadi medium penciptaan realitas dan kesadaran palsu di kalangan rakyat pekerja beragama Kristen.

Pendeta yang satunya lagi terhisab dalam barisan rakyat pekerja, yang tidak mengenal pembedaan agama. Ia menolak omongan agama yang menjadi sarana penciptaan realitas dan kesadaran palsu.

Agama apapun, bila menjadi alat penciptaan realitas dan kesadaran palsu, dan dengan jalan itu melestarikan penghisapan, penindasan, dan marjinalisasi rakyat pekerja, adalah alat Si Jahat, yang menubuhkan diri dalam the unholy trinity: Mamon-Kapitalisme-Kenisah.

Pemuka agama, siapa pun dia, termasuk pendeta, bila menjadi medium penciptaan realitas dan kesadaran palsu di kalangan rakyat pekerja, bukanlah hamba Allah, melainkan hamba Si Jahat dan sekutu Dajjal.

Sebab Allah yang diwartakan Yesus dari Nazaret adalah Allah yang memilih untuk memposisikan diri-Nya di pihak kaum yang terhisap, tertindas, dan terpinggirkan.