narkobaBaru-baru ini media sosial maupun sumber berita lainnya diramaikan berita tentang eksekusi mati terpidana mati pengedar narkoba. Hal ini membuat banyak reaksi dari berbagai masyarakat. Banyak dukungan dari berbagai pihak untuk mendukung Jokowi agar tetap melaksanakan eksekusi mati, meskipun beberapa kali mendapat tekanan dari Australia untuk mengurungkan niat mengeksekusi mati warga negaranya.

Reaksi hari demi hari membawa situasi yang berbeda, termasuk keinginan Australia yang ingin mengajukan barter warga negara Indonesia yang ditahan oleh pemerintahan Australia, dan yang paling aneh menurut kita adalah  mengkait-kaitkan bantuan Australia terhadap bencana Tsunami Aceh, sehingga timbul reaksi  dari beberapa kalangan untuk mengumpulkan koin yang akan diserahkan kepada Kedubes Australia di Jakarta.

Itu adalah sebagian sekelumit reaksi atas keputusan negara terhadap terpidana mati kasus pengedaran narkoba. Sekarang  kita menengok reaksi putusan ini pada pelaku terpidana mati. Kita ambil salah satu contoh dari terpidana mati itu, yaitu terpidana mati kasus narkoba asal Nigeria, Sylvester Obiekwe Nwolise. Sylvester merupakan satu dari 10 terpidana yang akan menjalani eksekusi hukuman mati gelombang kedua. Ia ditangkap pada 21 Desember 2002 di Bandara Soekarno Hatta setelah menyelundupkan 1,2 kilogram heroin.

Bagi kaum moralis, pengedar narkoba merupakan seseorang yang merusak generasi muda bangsa.  Kaum humanis berpendapat berbeda, bahwa eksekusi mati merupakan perampasan hak manusia untuk hidup. Baru-baru ini ketika Sylvester diwawancarai secara khusus, dia mengatakan kalau dia hanya bagian kecil dari  kurir narkoba itu sendiri. Jika diizinkan bebas oleh pemerintahan Indonesia, Sylvester ingin tinggal bersama anak perempuan dan istrinya. Raut muka sedih nampak dari ekspresi wajahnya. Dan kembali lagi dia mengatakan, karena sulitnya mencari uang di dunia ini maka untuk mencukupi keluarganya dia rela untuk menjadi kurir narkoba. Tidak ada pilihan, begitu ungkapnya. Berdiam diri anak dan istrinya akan mati kelaparan. Saya saja yang mati, yang terpenting anak dan istri saya bisa hidup dan tidak mati kelaparan, begitu ungkapnya.

Tidak ada kompromi di dalam hukum borjuis ini demi menegakkan “kebenaran” menurut undang-undang yang mereka buat. Sedangkan bagi para koruptor, isu ini merupakan  pengalihan isu yang baik. Dengan ramainya berita eksekusi mati ini, mereka masih bebas untuk menggerogoti uang rakyat. Meskipun tertangkap, undang-undang  borjuis masih bisa dikompromikan, “spesial buat para koruptor”, tidak ada hukuman mati, tidak ada penganiayaan. Meskipun dihujat oleh rakyat mereka masih bisa bangga dan tersenyum lewat media televisi yang ada.

Hukuman mati terhadap terpidana narkoba tentunya tidak akan bisa berbuat banyak dalam menyelesaikan sindikat pengedaran narkoba itu sendiri, karena permasalahan mengenai pengedaran narkoba tidak bisa dihapuskan selama sistem yang ada masih mengalami ketimpangan. Seperti yang diungkapkan Sylvester, tidak ada pilihan selain menjadi kurir narkoba karena himpitan hidup yang semakin sulit. Transaksi narkoba secara internasional akan tetap jalan selama ketimpangan sosial itu masih ada.

Jika kita melihat dari pandangan di atas, kembali lagi ini adalah masalah kelas. Jurang pemisah antara si kaya dan si miskin semakin menimbulkan kontradiksi di dalam kehidupan sosial. Seperti kata Marx, bahwa sumber dari segala permasalahan sosial adalah terbaginya masyarakat menjadi kelas-kelas. Tidak akan ada kedamaian selama sistem kapitalisme ini tetap ada. Logikanya selama ada kemiskinan dan kelaparan di dunia ini maka penyalahgunaan narkoba [dan miras] akan tetap ada. Pengguna narkoba dan miras mayoritas bukan datang dari orang-orang kaya, para selebriti atau kriminal, seperti yang sering ditayangkan di TV dan media. Pada kenyataannya lapisan terutama yang menjadi korban narkoba adalah rakyat pekerja, yang tergelincir dan terdorong ke lembah narkoba dan miras karena ingin lari dari realitas ketertindasan yang mereka alami di bawah kapitalisme.

Menyelesaikan permasalahan narkoba tidak bisa dilakukan hanya sebatas moralitas semata. Narkoba bukanlah masalah moralitas, tetapi adalah bentuk cerminan dari kebuntuan sistem kapitalisme  yang sudah tidak bisa lagi membawa maju masyarakat. Hal ini dapat dilihat ketika Rusia kembali memeluk kapitalisme dimana penyakit-penyakit sosial mulai bermunculan  seperti narkoba, prostitusi, tawuran, dll. Oleh karenanya narkoba tidak bisa diselesaikan dengan eksekusi mati saja, melainkan diselesaikan dengan menghapuskan akar dari masalah sosial tersebut, yakni dengan perjuangan kelas menggulingkan sistem kapitalisme yang sudah usang ini. Untuk mencapai hal tersebut maka dibutuhkan sebuah partai revolusioner yang mampu menggiring sistem yang sudah usang ini ke dalam tong sampah sejarah dan membawa sosialisme ke muka bumi.