facebooklogocolour

Hari ini, tanggal 1 Mei (May Day), hampir di seluruh kota-kota di Indonesia, kaum buruh, diikuti juga oleh elemen-elemen grassroot lain –kaum tani, nelayan, miskin kota, dll. – turun ke jalan untuk memperingati hari solidaritas buruh internasional. Di Jakarta, ribuan buruh dari berbagai serikat memadati jalan-jalan utama ibukota. Di bawah terik matahari yang menyengat, dengan kaki-kaki yang tampak lelah dan lusuh, mereka terus berjalan menuju pusat kekuasaan, menuju tepat di depan istana negara. Dengan suara lantang mereka menyuarakan slogan-slogan perjuangan. Mereka menuntut perubahan kehidupan ke arah yang lebih baik bagi kaum buruh.

Dari catatan beberapa media, May Day tahun ini diikuti oleh berbagai organisasi pekerja dan serikat buruh. Setidaknya ada 12 serikat buruh yang terlibat dalam perayaan May Day kali ini, seperti Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia, Federasi Serikat Pekerja Logam dan Mesin, Forum Perjuangan Rakyat, Front Kebudayaan Indonesia, Himpunan Mantan dan Karyawan Hotel Indonesia, Gabungan Serikat Buruh Indonesia, Gabungan Serikat Pekerja Manufaktur Independen, Serikat Buruh Sejahtera Indonesia, Serikat Buruh Indonesia, Serikat Pekerja Forum Komunikasi Karyawan, dan Gabungan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia.

Tidak hanya di Jakarta, ribuan buruh di berbagai kota seperti Semarang, Bandung, Jogja, Solo, Surabaya, Malang, Makassar, Medan, dll. juga turun ke jalan untuk merayakan May Day. Bahkan di beberapa kota May Day dimeriahkan dengan berbagai cara, yakni dengan pawai motor, pagelaran musik, hingga pertunjukan teatrikal.

Setelah tumbangnya Orde Baru, May Day merupakan ajang bagi buruh untuk mengekspresikan seluruh kegelisahannya. Buruh kini memiliki hari khusus yang di dalamnya bisa mengajukan tuntutan-tuntutan kepada pemerintah terkait dengan persoalan sistem kerja, upah dan jaminan sosial. Semasa Soeharto berkuasa, aksi buruh pada tanggal 1 Mei dikategorikan sebagai aktivitas subversif. Peringatan May Day dianggap bisa menggangggu stabilitas nasional. May day dan gerakan buruh di jaman pemerintahan Soeharto selalu dihubungkan dengan paham “komunis” yang sejak peristiwa G30S dianggap sebagai aktifitas berbahaya.

May Day menjadi hari buruh internasional, meskipun dimulai oleh sekelompok buruh di Amerika Serikat, diperkenalkan dan ditekankan pertama kali oleh Engels dalam kongres Internasional Kedua tahun 1889. Engels menyerukan kepada kaum buruh di seluruh dunia untuk bergabung dalam pemogokan tahunan yang jatuh pada setiap tanggal 1 Mei –sebagai upaya kelas buruh untuk menumbangkan kapitalisme, bukan hanya sekedar penghormatan pada perjuangan masa lalu.

Dalam pengantarnya untuk Manifesto Komunis edisi Jerman, yang ditulis pada tanggal 1 Mei 1890, Engels begitu memusatkan perhatian terhadap pentingnya May Day sebagai wadah penyatuan perjuangan buruh secara Internasional:

“Sebab pada saat ini, selagi saya menulis baris-baris kalimat ini, proletariat Eropa dan Amerika sedang memeriksa barisan kekuatan-kekuatan perjuangannya, yang dimobilisasi untuk pertama kalinya, dimobilisasi sebagai satu tentara, di bawah satu bendera, untuk satu tujuan yang terdekat: hari kerja delapan jam sebagai patokan umum, supaya ditetapkan secara sah menurut undang-undang, seperti yang telah diumumkan oleh Kongres Internasionale, di Jenewa dalam tahun 1866, dan diulangi oleh Kongres Buruh Paris dalam tahun 1889. Dan pemandangan hari ini akan membukakan mata kaum kapitalis dan tuan-tuan tanah di semua negeri akan kenyataan bahwa pada saat ini kaum buruh sedunia benar-benar telah bersatu. Betapa sayangnya bahwa Marx tidak ada lagi di samping saya untuk melihat ini dengan mata sendiri!”

Secara historis, May Day lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas buruh untuk membebaskan diri dari penindasan kapitalisme. Perkembangan kapitalisme di awal abad ke-19 merubah secara drastis situasi ekonomi-politik terutama di negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja mendorong lahirnya perlawanan dari kalangan kelas buruh. Kaum buruh mengeluh terhadap jam kerja yang sangat panjang. Mereka bekerja selama hampir delapan belas jam dalam sehari. Mereka bekerja dari mulai “matahari terbit hingga terbenam”.

Dijadikannya 1 Mei sebagai peringatan terhadap perjuangan buruh berawal dari peristiwa 1 Mei 1886. Pada saat itu ratusan ribu buruh di Amerika Serikat melakukan pemogokan besar-besaran. Di Chicago, aksi massa mendatangi pabrik mesin pertanian dimana buruhnya telah dilock-out oleh pemilik pabrik. Pada tanggal 3 Mei, polisi menembak dua demonstran. Pada aksi berikutnya di Haymarket Square, sebuah bom dilempar ke tengah-tengah pasukan polisi dan polisi kemudian menembaki massa dengan membabi buta. Delapan pemimpin buruh yang dituduh telah melakukan kegiatan anarkis ini ditangkap, diadili, dan dihukum mati.

May Day, selanjutnya, dijunjung sebagai titik api bagi perjuangan proletariat revolusioner internasional. Selain mengumandangkan slogan 8 jam kerja, sebagai tuntutan originalnya, slogan penting lainnya juga diajukan, seperti: International Working Class Solidarity (Solidaritas Kelas Pekerja Internasional); Universal Suffrage (Hak-Hak Universal); War Against War (Perang Melawan Perang); Against Colonial Oppression (Melawan Penindasan Kolonial); Hak Turun ke Jalan; Pembebasan Tahanan Politik; dan Hak bagi Organisasi Politik dan Ekonomi Kelas Pekerja.

Melihat dari faktor kesejarahannya, May Day memiliki arti yang dalam bagi perjuangan kaum buruh. Jika peringatan May Day hanya berisikan penghormatan atas peristiwa-peristiwa berdarah di masa lalu, ini tentu belumlah cukup. May Day harus menjadi alat untuk memobilisasi massa guna menumbangkan kapitalisme dan merebut kekuasaan.

Pada awal aktivitasnya di dalam gerakan revolusioner di Rusia, Lenin memperkenalkan May Day kepada kaum buruh Rusia sebagai hari demonstrasi dan perjuangan. Pada tahun 1896, saat berada di penjara, Lenin menulis sebuah leaflet May Day yang kemudian dikirimkan kepada suatu kelompok politik Marxis pertama di Rusia, yakni St.Petersburg Union of Struggle for the Liberation of the Working Class.

Sejak menjadi aktivis revolusioner, Lenin menganggap bahwa May Day merupakan momentum yang tepat untuk memobilisasi massa buruh dengan agenda merebut kekuasaan politik. Bukan hanya sekedar tuntutan-tuntutan normatif dan parsial yang tidak akan menghasilkan apa-apa.

Dalam peristiwa pembantaian terhadap para buruh tambang emas di Lena, Siberia, tahun 1912, Lenin menyebutnya sebagai periode kebangkitan kembali kaum buruh, dan Lenin yakin sekali kaum buruh akan segera merebut kekuasaan di Rusia. Menurut Lenin, pemogokan Mei berdarah di Siberia ini, demonstrasi-demonstrasi jalanan yang masih terkait dengan peristiwa tersebut, juga pernyataan-pernyataan dan pidato-pidato revolusioner kepada massa buruh, menunjukkan dengan jelas bahwa kaum buruh tengah memasuki periode yang memungkinkan untuk segera merebut kekuasaan.

Masih dengan peristiwa pembantaian kaum buruh di Siberia, tahun 1913, dalam sebuah artikel yang ditulis untuk May Day, Rosa Luxemburg menekankan pentingnya karakter revolusioner dalam aksi May Day:

"Ide utama yang brilian dari perayaan May Day adalah aksi independen dari massa proletar, aksi massa politik dari jutaan buruh ... Proposal brilian dari Lavigne di Kongres Internasionale Kedua di Paris menggabungkan taktik parlementer – yang merupakan sebuah manifestasi tidak langsung dari kehendak kaum proletar – dengan sebuah protes massa internasional: mogok kerja sebagai sebuah demonstrasi dan alat perjuangan untuk meraih delapan-jam-kerja, perdamaian dunia, dan sosialisme."

Pada bulan Oktober 1917 buruh mampu merebut kekuasaan, memberi angin harapan bagi kaum buruh di seluruh dunia untuk meraih kemenangan dan segera merebut kekuasaan dari kelas penindas di negaranya masing-masing. Keberhasilan besar kaum buruh Rusia pada tahun 1917 bukanlah tanpa proses perjuangan yang kualitatif. May Day tahun 1917 di Rusia fokus mengangkat isu revolusi proletar. Dengan mengambil inspirasi besar dari Komune Paris tahun 1871 dan Minggu Berdarah tahun 1905 kaum buruh Rusia mampu mengalahkan kaum borjuis reformis dan kelompok-kelompok kontra-revolusioner yang sedang memerintah dalam Pemerintahan Sementara.

Namun, setelah wafatnya Lenin pada tahun 1924, bangkrutnya Uni Soviet di bawah pimpinan Stalin, dan gagalnya Komunis Internasional (Komintern) sebagai wadah politik buruh secara internasional, peringatan May Day mengalami banyak kemundurun, baik menyangkut isu dan gairahnya. Tuntutan-tuntutan yang diajukan dalam peringatan May Day sangat normatif dan parsial. Kekuasaan buruh, nasionalisasi, dan kontrol buruh mulai dianggap tidak relevan dan dan utopis. Bahkan berbagai kalangan “Marxian” sendiri menganggap isu ini sebagai romantisme sejarah. Ini artinya bahwa May Day bukan lagi sebagai alat untuk memobilisasi massa proletariat dengan agenda perjuangan besar untuk pembebasan kaum proletar dari penindasan. May Day sudah menjadi sekedar perayaan tahunan kaum buruh yang mirip hari raya.

Pasca runtuhnya Uni Soviet dan bubarnya Komintern, kapitalisme Amerika Serikat dan Eropa dengan leluasa menjadi kekuatan yang tak terbantahkan di muka bumi ini. Selain memapankan modalnya di banyak negara, terutama negara-negara yang sedang berkembang, kapitalisme AS dan Eropa juga terus “merevolusionerkan” dirinya dan membuat berbagai cara untuk melemahkan perjuangan kelas buruh. Perjuangan untuk cita-cita revolusi proletar mulai dianggap tidak menarik untuk diperbincangkan dalam gerakan buruh. Kaum buruh di seluruh dunia mulai disorientasi dan lebih percaya pada ramuan politik dari lembaga-lembaga “pro buruh” yang didanai oleh kapitalisme Amerika Serikat dan Eropa.

Hal yang memprihatinkan juga mulai terlihat dalam peringatan May Day tahun ini. Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh sebuah media swasta dengan seorang pimpinan sebuah gerakan buruh di Jakarta pada May Day, tuntutan-tuntutan yang diajukan hanya sampai pada persoalan upah dan jaminan sosial tenaga kerja. Dalam periode krisis yang sedang mulai dimasuki oleh kapitalisme, bila gerakan buruh hanya membatasi dirinya dengan tuntutan sehari-hari, maka ia akan menghadapi jalan buntu. Tuntutan sehari-hari harus dihubungkan dengan tugas historis kaum buruh, yakni menumbangkan kapitalisme dan membangun sosialisme dengan merebut kekuasaan politik dan ekonomi; terutama sekarang dimana kapitalisme sudah mulai goyah dan negeri-negeri kapitalis maju satu per satu mengalami kebangkrutan ekonomi dan tergoncang secara sosial dan politik. Seperti yang dikatakan Trotsky dalam Program Transisional:

“Tugas strategis untuk periode selanjutnya – periode pra-revolusioner agitasi, propaganda, dan organisasi – adalah menyelesaikan kontradiksi antara kondisi objektif revolusioner yang sudah matang dan ketidakmatangan kelas proletar dan kaum pelopornya (kebingungan dan kekecewaan dari generasi yang lebih tua, dan generasi muda yang kurang berpengalaman). Di dalam proses perjuangan sehari-hari, kita harus membantu massa untuk menemukan sebuah jembatan penghubung antara tuntutan-tuntutan hari ini dengan program revolusi sosialis. Jembatan penghubung ini harus memasukkan sebuah sistem tuntutan transisional, yang berasal dari kondisi saat ini dan dari kesadaran umum kelas buruh sekarang ini dan menuju ke satu kesimpulan akhir: perebutan kekuasaan oleh kelas proletar.”

Hidup Buruh!

Hidup Sosialisme!