facebooklogocolour

 

Satu tahun belakangan ini, gerakan buruh sedang mengalami pasang naik. Keberanian dan militansi buruh terus berlipat. Aksi demi aksi diluncurkan dan kemenangan demi kemenangan diraih. Setiap kemenangan semakin meningkatkan kepercayaan diri buruh akan kemampuan mereka untuk berdiri melawan dan berjuang.

Media pers juga mulai dipenuhi dengan berita-berita aksi demo dan mogok buruh. Walau buruhlah yang bersusah payah melakukan aksi, bagaimana aksi tersebut diberitakan ternyata ada di luar kendali buruh. Yang punya kendali adalah media-media massa, yang notabene juga miliknya kapitalis. Sehingga tidak heran kalau kebanyakan pemberitaan aksi buruh itu parsial (setengah-setengah), bias (lebih membela pemilik modal), dan tidak mengandung pelajaran sama sekali bagi para pembaca.

Kaum kapitalis sangat sadar akan pentingnya mengendalikan media, karena siapa yang mengontrol distribusi informasi dialah yang punya monopoli atas kebenaran. Dalam sebuah peperangan, selain senapan dan meriam, informasi juga adalah senjata yang ampuh. Oleh karenanya gerakan buruh harus membangun media mereka sendiri, dalam bentuk koran, website, jejaring sosial, dan lain sebagainya.

Tidak cukup hanya mengeluarkan siaran pers dan melakukan jumpa pers dengan para jurnalis, atau menyewa tenaga-tenaga ahli untuk public relation.. Media buruh harus dibangun dengan keterlibatan buruh-buruh itu sendiri. Yang kita butuhkan adalah koresponden atau jurnalis buruh di tiap-tiap pabrik, kawasan industri, kota, dan propinsi. Kaum buruh yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia harus digiatkan untuk menjadi koresponden buruh. Kalau ini bisa dilakukan, buruh akan memiliki jaringan media yang jauh lebih luas daripada media massa manapun. Setiap aksi, setiap konflik, setiap perjuangan buruh dari Sabang sampai Merauke dapat dilaporkan secara langsung.

Buruh jangan hanya dilatih melakukan negosiasi dan turun demo. Ia juga harus dilatih menulis. Ia harus diajari bagaimana bisa menjadi seorang jurnalis, yang jeli akan keadaan di sekitarnya. Menulis juga adalah bagian dari pendidikan politik buruh. Dengan menulis, buruh menjadi lebih sadar akan situasi yang ada di sekelilingnya dan bisa menganalisanya dengan cermat.

Bersamaan dengan pelatihan buruh untuk menulis, infrastruktur media buruh juga harus dibangun dengan serius dan konsisten. Banyak sekali website-website berita buruh yang muncul lalu mati dalam beberapa bulan, atau tidak diupdate secara reguler sehingga terlantar. Seperti halnya membangun serikat buruh, pembangunan media buruh membutuhkan kesabaran dan keuletan. Pembangunan media buruh harus didasari dengan pemahaman akan pentingnya agitasi dan propaganda untuk kemenangan buruh. Tanpa pemahaman ini, maka sering kali media buruh tidak digarap secara serius dan hanya jadi kerja sampingan serikat buruh.

Selain website, koran buruh juga harus diterbitkan. Rakyat pekerja adalah mayoritas di dalam masyarakat kita, sehingga kita tidak kekurangan pembaca. Daripada buruh mengeluarkan uang membeli koran-koran media kapitalis (Pos Kota, dan lain sebagainya), bukankah lebih baik kalau mereka membeli koran buruh, yang akan mendidik mereka lebih baik daripada membaca “Nah Ini Dia” atau gosip-gosip entertainment terbaru? Koran buruh tidak serta merta harus membosankan. Ia bisa jadi hiburan buruh juga. Buruh pasti punya banyak sekali cerita-cerita lucu dan menghibur dari kehidupan nyata mereka, yang juga bersifat mendidik tentunya, yang bisa diceritakan dalam bentuk komik, cerpen, surat-surat pembaca, dll.

Sejatinya, kita tidak kekurangan sumber daya sama sekali. Dengan semangat yang sama ketika buruh melakukan aksi, ketika buruh menggeruduk pabrik-pabrik, ketika buruh merobohkan pagar pabrik dalam “sweeping” mereka, media buruh bisa dibangun. Tidak ada kata “tidak mungkin” bagi buruh.

Pertama kali terbit di www.spai-fspmi.or.id, 29 Oktober 2012