Lebih dari se-abad peringatan Mayday telah menjadi agenda tahunan bagi klas pekerja. Lebih dari seabad pula perjuangan antara kaum buruh dan borjuis tidak pernah terhapuskan dalam buku agenda sejarah. Meskipun beberapa komentator dan akademisi borjuis mencoba menguburnya, seluruh peristiwa akhir-akhir ini telah membuktikan semakin tajamnya perjuangan ini. Sistem kapitalisme semenjak kelahirannya telah melahirkan klas yang nantinya akan mengantarkan ke liang kuburnya sendiri. Klas ini adalah klas buruh yang hidup dari penjualan tenaga kerja dan kondisi dan nasib hidupnya tergantung dari pergerakan modal.

Ia adalah kelas yang karena terkonsentrasi di dalam produksi dan karena kekompakannya menjadi satu-satunya kelas revolusioner yang mampu mengakhiri sistem kapitalisme yang selama ini menjadi belenggu. Perang antar kelas inilah yang menjadikan peringatan bagi buruh sedunia bahwa setiap usaha untuk meraih setiap capaian kesejahteraan berakhir dengan korban yang tak sedikit jumlahnya.

Peringatan Mayday telah melalui berbagai periode sejarah yang keras – perang, revolusi,  konter revolusi, boom kapitalisme dan krisis – yang menyisakan berbagai pelajaran, yang kalau dipelajari bisa dijadikan pelajaran untuk pertempuran di masa mendatang. Di dalam periode sekarang ketika konsentrasi kapital ada di tangan kartel-kartel, sindikat-sindikat bisnis atau dalam kata lain Imperialisme, pendulum sejarah telah bergeser ke kiri menyapu semua ilusi-ilusi reformisme. Krisis Eropa adalah peristiwa yang bisa kita lihat hari ini. Krisis yang tajam membuat lapisan pekerja yang paling terbelakang bangkit melawan otoritas sistem lama. Mereka cukup memahami dengan baik bahwa seluruh kekayaan hanya mengalir kepada kaum kaya dan ketika krisis seluruh beban diletakkan ke punggung klas pekerja. Krisis ini telah memotong standar hidup mereka, yang tidak semata-mata mereka terima begitu saja tanpa perjuangan.

Negara yang mereka pahami dahulu sebagai organ yang melindung seluruh masyarakat telah berganti menjadi negara sebagai alat represi klas yang berkuasa. Mereka memahami dengan baik apa yang di maksud Lenin di dalam bukunya “Negara dan Revolusi”. Sekarang di negara-negara terbelakang klas pekerja yang dahulunya masih minoritas sekarang menjadi semakin berkembang dan terkonsentrasi. Karena kekuatan sosialnya di dalam produksi, kelas ini menjadi kelas yang mampu membawa semua tugas menyelesaikan problem seluruh masyarakat. Di Indonesia bukan sebuah pengecualian. Kelas buruh kita dihadapkan pada tugas yang sama. Justru karena posisi sosial dan ekonominya, mereka harus mengemban seluruh problem masyarakat ini. Mayday tahun lalu kita menyaksikan demonstrasi terbesar semenjak jatuhnya rezim Soeharto. Buruh juga memimpin lapisan sosial lain menentang kenaikan BBM. Ini bukan sebuah kebetulan. Ini menunjukkan kapasitas dan potensi buruh sebagai kelas yang memimpin perjuangan rakyat pekerja luas.

Gerakan buruh di Indonesia telah mengalami periode opresi di bawah rezim Soeharto dimana seluruh tradisi gerakan buruh dihancurkan. Dengan berbagai cara, mulai dari cara represif sampai mengisi seluruh jajaran serikat buruh dengan lapisan birokrat sehingga rezim mampu untuk mengontrol gerakan buruh. Semua cara ini menunjukkan bahwa rezim masih menyimpan ketakutan yang sangat besar terhadap kelas buruh. Rezim saat itu mungkin mampu menghapus semua tradisi dari gerakan buruh tapi mereka lupa bahwa klas buruh adalah kelas yang niscaya akan meremukkan mereka.

Kekuatan produksi yang terbelenggu oleh kepemilikan pribadi suatu saat memanifestasikan dirinya melalui serangkaian ledakan-ledakan perjuangan klas. Seperti halnya aktivitas molekular larva gunung berapi yang suatu saat dan dalam titik tertentu, ketika tekanan magma dari perut bumi sudah tidak tertahankan, meledak. Begitu pula kita bisa saksikan peristiwa 1998. Tanpa teramalkan sebelumnya, krisis ini telah membawa keruntuhan terhadap bangunan rezim yang sebelumnya berkuasa selama 32 tahun.

Seperti halnya krisis-krisis yang lain, krisis 1997-98 pertama-tama menyentuh lapisan kaum muda yang paling sensitif dan paling bersimpati terhadap penderitaan rakyat. Gelombang protes kaum muda ini dengan cepat disambut oleh kelas pekerja yang mereka lihat sebagai kawan seperjuangan. Seluruh lapisan rakyat tumpah ruah di jalan dan hanya kelas buruh yang mempunyai insting revolusioner. Mereka merespon ini dengan berbagai serangkaian pemogokan. Rakyat mungkin tidak tahu apa yang mereka inginkan tapi mereka cukup tahu apa yang tidak mereka inginkan, yakni kediktaktoran Soeharto. Tanpa sebuah program, tanpa adanya kepemimpinan, gelombang 1998 tidak berhasil menumbangkan kapitalisme. Kaum borjuis liberal yang disebut-sebut sebagai tokoh reformis berhasil menyelamatkan kapitalisme. Jika saat itu ada kepemimpinan yang tegas menerapkan kebikan independensi kelas dan menolak segala kolaborasi dengan borjuis liberal, mungkin peritiwa ini bisa berakhir seperti  revolusi klasik Oktober. Tapi sejarah berkata lain.

Kelas pekerja Indonesia telah belajar dari pengalaman yang pahit ini. Hari ini mereka tidak akan begitu saja percaya terhadap kaum borjuis liberal. Pada Mayday 2013 ini kelas pekerja menghadapi saat dimana para politisi dan partai-partai borjuis ingin meraup kapital politik untuk 2014. Dengan segala topeng muslihat mereka menutupi aib korupsi yang mendera partai-partai mereka. Rakyat pekerja melihat tidak ada solusi bagi problem hidup mereka yang saat ini. Mereka lihat justru korupsi yang menjangkiti seluruh jajaran pemerintahan. Namun tanpa adanya kepemimpinan revolusioner, kondisi ini justru dapat menjadi lahan subur bagi tumbuhnya ilusi hadirnya juru selamat, tokoh-tokoh populis yang berretorika kerakyatan. Tidak adanya alternatif revolusioner di saat partai-partai borjuis sedang mengalami pembusukan membuat rakyat menaruh harapan besar terhadap sosok yang mereka anggap “bersih”. Ilusi ini bisa dikubur bila kaum buruh dapat membangun kepemimpinan mereka sendiri, dapat membangun partai politik mereka sendiri, yakni partai buruh yang dapat memimpin perjuangan rakyat pekerja luas.

Kelas pekerja melalui pengalamannya telah membuktikan bahwa dengan aksi massa dan dengan organisasinya sendiri mereka mampu meraih setiap kemenangan. Kemenangan akan terjamin jika kelas pekerja percaya akan kekuatannya sendiri. Dengan merangkul seluruh lapisan sosial yang tertindas – tani, nelayan, dan kaum miskin kota – di bawah slogan populer “Buruh Berkuasa Rakyat Sejahtera”, kaum buruh dapat memegang tongkat kepemimpinan perjuangan rakyat dan membuyarkan ilusi rakyat terhadap tokoh-tokoh populis, para mesiah yang menawarkan mukjizat.