May Day, selalu menjadi momentum yang sangat berharga bagi semua buruh di dunia karena tidak peduli di negeri mana sang buruh berada, penindasan selalu mengikutinya. Tak terkecuali juga bagi buruh migran di Hong Kong. 3000 kilometer terpisah dari ratusan ribu saudara-saudari kelasnya yang hari itu juga tumpah ruah di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, sekitar 1000 orang buruh migran Indonesia (BMI) di Hong Kong berkumpul di Lapangan Sepakbola Victoria Park, Causeway Bay, Hong Kong untuk merayakan May Day. Sejak pagi hari mereka telah berkumpul.

Aksi May Day mereka dibuka dengan istighosah akbar bertema “Menggugah Nurani Pejabat Negeri Untuk Segera Memenuhi Tuntutan Buruh Migran Indonesia”. Namun jangan dikira kalau buruh migran hanya berdoa saja untuk mengubah nasib mereka. Mereka telah membangun organisasi serikat dan melakukan aksi massa, yakni dua senjata perjuangan dasar kaum buruh. Program dilanjutkan dengan Speak Out yang menghadirkan beberapa korban dari penipuan KTKLN, pelarangan pindah agen (sistem online) dan perbudakan hutang akibat potongan biaya agen yang berkali-kali. Di antara kisah-kisah penindasan buruh migran tersebut juga diselingi pentas seni yang turut meramaikan jalannya acara.

Buruh migran juga melakukan pengumpulan petisi untuk pemerintah Hong Kong yang menuntut dihapuskannya peraturan wajib stay-in bagi pekerja rumah tangga asing. Dengan program wajib stay-in, dimana buruh migran wajib tinggal bersama majikan, mereka tidak bebas keluar rumah sesuai kehendak mereka. Selain itu, wajib stay-in secara efektif membuat buruh migran mempunyai batas waktu dalam jam kerja. Mereka secara efektif bekerja 24 jam sehari. Terlebih lagi wajib stay-in ini memungkinkan banyak sekali pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh majikan, yang meliputi eksploitasi kerja dan pelecehan, baik itu pelecehan verbal hingga pelecehan seksual. Dengan dihapuskannya wajib stay-in, ini juga akan memberikan buruh migran lebih banyak kebebasan untuk berorganisasi, untuk berkumpul dengan kawan-kawan buruh lainnya, baik sesama orang Indonesia maupun buruh lokal. Ini akan memperkuat kekuatan buruh migran.

Siang harinya buruh migran ini lalu bergerak ke KRJI dan melakukan aksi demo dengan membawa tuntutan-tuntutan mendesak BMI dan juga petisi yang ditanda tangani lebih dari 55 lebih organisasi dan individu yang langsung ditujukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sejumlah tuntutan mereka adalah menghapus KTKLN, mencabut peraturan tentang kewajiban asuransi TKI, menghapus pelarangan pindah agen dan sistem online, memberlakukan kontrak mandiri, segera membuka konter pelayanan kasus bagi BMI di Macau, serta menciptakan undang-undang perlindungan buruh migran yang layak.

Meski dalam guyuran hujan – yang juga mengguyur dua ratus ribu buruh di Jakarta – sekitar 1300 buruh migran berkumpul di depan Gedung KJRI Hong Kong. Antusiasme mereka sangat terlihat jelas, yang bercampur kegeraman karena mereka sudah sangat menderita dengan adanya berbagai peraturan yang menindas mereka. Di sela-sela orasi dari perwakilan Jaringan BMI dan pendukung dari grup lokal Hong Kong, para demonstran juga melakukan aksi menutup mulut dengan masker yang diiringi sholawatan yang dipimpin oleh aliansi organisasi muslim di Hong Kong (GAMMI- HK). Dalam pesan solidaritasnya, salah satu pimpinan organisasi lokal menyampaikan bahwa mereka sangat salut dengan buruh migran Indonesia yang sudah memberi kontribusi sangat besar kepada pertumbuhan ekonomi masyarakat Hong Kong, sehingga penting juga bagi buruh lokal untuk mendukung perjuangan buruh migran.

Setelah aksi di depan KJRI, massa kembali ke Victoria Park untuk bergabung dengan buruh lokal yang diorganisir oleh HK Confederation of Trade Union (HKCTU)  dan Asian Migrants Coordinating Body (AMCB). Massa buruh ini – tidak peduli kewarganegaraan mereka – mulai marching bersama menuju gedung Central Government Office di Admiralty. Sebanyak 5000 buruh lokal dan buruh migran bercampur ruah sambil meneriakkan tuntutan-tuntutan kesejahteraan kepada pemerintah Hong Kong. Dalam aksi tersebut juga tidak ketinggalan buruh pelabuhan Hong Kong International Terminal (HIT) yang selama ini melakukan aksi mogok untuk menuntut perbaikan kondisi kerja, dihapuskannya outsourcing, dan kenaikan upah. Aksi mogok buruh pelabuhan ini – yang merupakan peristiwa mogok terpenting tahun ini, bahkan dalam beberapa tahun terakhir di Hong Kong – juga telah menerima dukungan solidaritas dari para buruh migran Indonesia, yang ikut aksi solidaritas dan juga menyumbang keperluan sehari-hari kepada buruh pelabuhan yang mogok ini. Sungguh sebuah bentuk kesadaran kelas dan internasionalisme yang harus terus dipupuk. Sore harinya, semua buruh menyanyikan lagu Solidarity Forever untuk menutup aksi May Day mereka.

May Day hari ini telah berakhir, begitu juga di seluruh dunia. Tetapi perjuangan kelas terus berlanjut, dan akan terus berlanjut kalau buruh tidak bergerak menumbangkan masyarakat kelas ini, yakni sistem kapitalisme ini. Buruh migran Hong Kong telah menunjukkan bahwa bahkan dalam situasi yang teramat sulit, kita mampu berorganisasi dan melawan. Tidak ada halangan apapun yang tidak dapat diatasi oleh buruh. Jatuh berkali-kali, ia lalu bangun berkali-kali juga, setiap saat dengan lebih teguh dan berani, sampai hari tiba dimana penindasan manusia atas manusia tidak ada lagi di muka bumi ini.

Selamat Hari Buruh Sedunia!