facebooklogocolour

Situs Militan Indonesia akan ditutup pada akhir Oktober. Kunjungi situs Perhimpunan Sosialis Revolusioner (revolusioner.org)!

Kemarin lusa, tepatnya tanggal 17 Oktober, saya ikut hadir dalam persidangan Cak Hakam dan Cak Agus di Pengadilan Negeri Gresik dengan agenda mendengarkan kesaksian dari para saksi, dimana kedua pimpinan buruh ini dituduh telah melakukan provokasi terhadap buruh Petrokimia dalam aksi tanggal 3 Januari 2012 lalu. Dan pasal pidana yang ditimpakan, kemungkinan besar, adalah Pasal 160 KUHP tentang penghasutan dengan lisan.

Sidang tersebut rencananya akan digelar pada jam 9 pagi, tapi nyatanya molor hingga jam 10 lebih. Padahal Cak Hakam dan yang lain, termasuk aku, sudah menunggu dari jam setengah sembilan; sudah lelah mondar-mandir; ‘ngopi’ berkali-kali, duduk-duduk di trotoar, dan memelototi mobil-mobil baru yang keluar-masuk gedung Pengadilan. “Sudah biasa,” ucap seorang pegawai Pengadilan, “Pak Hakim dan Jaksa pasti terlambat.” Ya, pikirku, kita harus menunggu mereka; tanpa Hakim dan Jaksa pengadilan tak mungkin digelar.

Tak lama berselang setelah celetuk-celetuk kekesalan muncul bersahutan, kami mendengar dari kejauhan bahwa sidang akan segera dimulai. Lalu satu per satu masuk ruangan. Dan aku duduk di kursi sebelah kiri—terinspirasi oleh peristiwa historis dalam sidang legislatif pada masa Revolusi Perancis, ketika kaum yang melawan rejim duduk di sebelah kiri.

Setelah kami duduk rapi dan tenang, seperti anak sekolah, Pak Hakim dan Jaksa muncul. Pak Hakim yang berkumis tebal didampingi dua hakim anggota—yang selama dalam proses persidangan, dua hakim anggota itu, tampak mengantuk dan malas. Kemudian sidang dimulai. Para saksi dan terdakwa dipanggil. Pengunjung sidang dihimbau untuk diam dan tenang.

Saksi pertama, sebut saja Kateno, menjawab seluruh pertanyaan persidangan dengan pelan dan tegas, perihal aksi penghasutan yang dituduhkan kepada Cak Hakam dan Cak Agus; saksi memberikan kesaksian yang meringankan, bahkan menyangkal kesaksian-kesaksian sebelumnya yang dihadirkan oleh pihak Petrokimia.

Saksi kedua, sebut saja Mukidun, memberi kesaksian serupa—dengan suara pelan nyaris tak terdengar, hingga aku berpindah tempat ke bangku paling depan. Maklum, saksi ini adalah seorang buruh, proletar, yang tidak terbiasa bersilat kata di ruang pengadilan.

Dalam proses mendengarkan keterangan para saksi, tepatnya pada saat Pak Hakim menanyakan hal-hal tertentu kepada para saksi, aku melihat ada keberpihakan Pak Hakim terhadap Petrokimia sebagai pihak yang “dirugikan” dan mengadukan. Pertama, Pak Hakim—dan juga Jaksa—menggunakan kata “kamu” ketika memanggil para saksi yang dihadirkan oleh pihak terdakwa (Cak Hakam dan Cak Agus); sementara penasehat hukum terdakwa memanggil para saksi dengan panggilan “saudara saksi”—sebagai panggilan penghormatan. Kedua, sebagaimana pertanyaan-pertanyaan Jaksa, pertanyaan-pertanyaan Pak Hakim terlihat tendensius, padahal posisi Pak Hakim di sini harus menjadi pengadil di dalam proses pengadilan: Pak Hakim sering memotong maksud yang diinginkan oleh para saksi dan mengarahkannya pada maksud lain. Ketiga, pertanyaan-pertanyaan Pak Hakim terlihat sekali ingin mengarahkan kesaksian dari para saksi ke suatu maksud yang dinginkan oleh pihak Petrokimia, yakni membenarkan seluruh delik aduan dari pihak Petrokimia.

Yah, begitulah proses hukum di negara borjuis, semua upaya akan dikerahkan untuk menghancurkan elemen-elemen yang menghalangi proses akumulasi modal. Dan tidak hanya sampai di situ, pemilik modal juga telah membayar para buruhnya yang sedang ketakutan untuk membuat aksi tandingan, yaitu dengan menggelar aksi dengan membawa poster-poster yang bertuliskan, misalnya, “Lembaga outsourcing adalah tumpuan hidup kami!”; “Kami tidak bisa hidup tanpa pengusaha!”; “Penjarakan Abdul Hakam karena telah menipu kami dan mengajak melawan pengusaha!”; dll.

Akhirnya, usai sidang, aku tertawa sendiri menyaksikan permainan pengadilan ini—sambil menyeruput kopi di warung samping bank BRI. Siapapun juga tahu, pikirku, pihak Cak Hakam dan buruhlah yang benar. Jika pengadilan ini dimenangkan oleh pihak Petrokimia, lanjut ucapan yang ada di pikiranku, berarti Pengadilan dengan terang-terangan telah mempermalukan dirinya sendiri di depan rakyat pekerja.