jombangmogokPuluhan ribu buruh Jombang turun dan mogok, melakukan sweeping dan melumpuhkan jalan-jalan utama serta roda produksi. Aksi yang demikian besar yang tidak pernah terlihat sebelumnya, yang mengejutkan tidak hanya aparat polisi dan penguasa tetapi juga bahkan para pesertanya.

Aksi selalu menghasilkan reaksi. Situasi kondisi ekonomi-politik dunia, yang tentunya berpengaruh bagi negara-negara yang ekonominya terpasung di bawah kuasa kapitalisme dan imperialisme termasuk Indonesia, telah membuat gerakan buruh yang semula diam atau berjumlah kecil, berangsur bangkit dan bahkan mengalami lompatan kuantitatif dan kualitatif. Kesadaran kelas tidak selalu bergerak lurus. Ia dapat mengalami lompatan-lompatan. Tidak terkecuali untuk gerakan buruh di kota Jombang-Jawa Timur. Jombang adalah sebuah kota berpenduduk 1,5 juta jiwa yang lebih dikenal sebagai kota santri karena tradisi religius dan banyaknya pondok pesantren yang menjamur di banyak tempat. Tetapi dalam waktu beberapa minggu terakhir Jombang telah diguncang oleh ledakan gerakan buruh.

Saya merasa cukup beruntung menyaksikan gerakan buruh di Jombang berkembang jauh daripada yang saya saksikan sebelumnya. Ini merupakan bukti bahwa kesadaran buruh itu hidup, tidak stagnan. Ada banyak kemajuan, dan ada juga kekurangan yang perlu dikemukakan untuk menjadi kritik dan pelajaran ke depan dalam gerakan buruh dan perjuangan pembebasan rakyat.

Sebagaimana di Bekasi, Karawang, dan daerah-daerah industri di kawasan Jabodetabek, euforia mogok nasional dan mogok daerah rupanya menyebar sampai ke Jawa Timur, terutama Jombang. Banyak pabrik-pabrik yang berorientasi ekspor dan buruhnya berjumlah ribuan. Sebut saja PT. Sejahtera Usaha Bersama (PT. SUB), PT. Pie Hei, Pabrik Karya Mekar, PT Mentari Internasional, Pabrik Seng Fong, PT. CJ Fied dan lain-lain. Banyak di antara pabrik-pabrik ini yang buruhnya mencapai ribuan. Belum lagi pabrik-pabrik lainnya yang berjumlah ratusan.

Mendekati akhir tahun, proses penentuan upah selalu menemui jalan yang alot. Wajar, karena buruh maupun pengusaha membawa kepentingannya sendiri-sendiri. Dalam logika kapitalisme,  pengusaha berkepentingan untuk menghasilkan profit sebanyak-banyaknya dan mengeluarkan biaya produksi serendah-rendahnya. Upah adalah komponen biaya produksi yang terutama. Untuk itu, upaya apapun akan dilakukan agar upah tidak tinggi dan hanya cukup untuk bertahan hidup, tok!

Meskipun ada Dewan Pengupahan Kabupaten/Kota, namun seperti kebanyakan DPK-DPK lainnya institusi ini tidak mampu membawa aspirasi buruh karena memang institusi ini tidak dibuat untuk mewakili buruh. Ketika jelas tidak lagi bisa menggunakan jalur negosiasi, maka buruh pun menggunakan satu-satunya kekuatan mereka yang riil, yakni aksi mogok. Dalam kurun waktu yang pendek buruh melakukan sebanyak 7 kali aksi, dan 2 di antaranya berupa seruan untuk mogok daerah dan berhasil hingga mencapai 30.000 orang buruh turun ke jalan dan praktis melumpuhkan jalan-jalan utama, jalan provinsi dan roda ekonomi tentunya. Ini adalah capaian politik dalam gerakan buruh Jombang yang belum pernah saya saksikan sebelumnya.  Pelajaran mogok nasional dan mogok daerah rupanya sampai ke telinga buruh Jombang. Mereka belajar bahwa hanya dengan mogok maka perjuangan mereka bisa berbuah hasil.

Kawan-kawan lama yang saya kenal dulu menjadi perangkat serikat buruh plywood Jombang (SBPJ-serikat buruh di PT.SUB) menjadi motor penggerak dalam aksi ini. Meski hampir semua yang saya kenal sudah di-PHK sejak lama, namun ini tidak menyurutkan sedikit pun langkah dan semangat mereka. Plywood, sebutan untuk PT.SUB, memproduksi kayu lapis dan ber-orientasi ekspor. Pabrik ini mempunyai lebih dari 6000 orang buruh, bahkan mencapai 10.000 buruh.  Ikatan solidaritas mereka tinggi, selain karena hampir 90% buruhnya berasal dari desa-desa sekitar pabrik.

Pada demo buruh tanggal 5 November (aksi ke-5), massa hanya berjumlah seribuan orang. Sebagian kecil di antaranya berasal dari buruh Pie Hei dan Karya Mekar, dan lainnya dari Plywood. Aksi dibagi menjadi 2 sesi: pagi-siang di kantor pemkab dan sore-malam di depan pendopo kabupaten. Hal ini untuk mensiasati pergantian shift, dimana sesi pagi diikuti oleh buruh-buruh yang kerjanya malam, dan sesi sore diikuti oleh buruh yang telah bekerja pagi hari.

Aksi kali itu adalah aksi yang kelima, namun sampai detik itu tidak ada respons dari Bupati Jombang untuk merevisi usulan upah. Menurut hasil survey KHL (Kebutuhan Hidup Layak) versi dewan pengupahan, usulan upah untuk tahun 2015 adalah 1.546.000,naik hanya 46 ribu dari UMK 2014. Lain lagi dengan versi buruh, di bawah aliansi Front Perjuangan Rakyat, buruh punya hitungannya sendiri.  Dihasilkan dari prosedur yang sama dalam mensurvey kebutuhan hidup, buruh mendapati bahwa upah harus sebesar 2.180.000. Itupun hitungan inflasi belum masuk di dalamnya. Merasa bahwa lima kali melakukan aksi dan tidak ada respons, tiba-tiba seruan untuk menutup kawasan-kawasan vital terutama jalan provinsi digaungkan. Dan ini direspons balik oleh massa dengan persetujuan.

Mogok Buruh Jombang, pertama!

Di luar dugaan. Aksi ke-enam tanggal 12 November, buruh-buruh membludak memenuhi jalan-jalan, melumpuhkan akses jalur transportasi dan menghentikan proses produksi di pabrik-pabrik. Praktis, jalan utama yang menghubungkan kota Nganjuk-Surabaya dan Mojokerto ke arah barat lumpuh tak bergerak.  Spontanitas untuk melakukan sweeping ke pabrik-pabrik pun terjadi, dan ini direspons balik oleh buruh-buruh yang sebelumnya tidak pernah terlibat aksi, dan lalu keluar untuk bergabung ke barisan buruh-buruh yang sudah ada di Pemkab. Polisi-polisi kelimpungan, selain karena jumlah mereka yang kecil dan juga tidak ada pengalaman menghadapi aksi sweeping.

Aparat kepolisian pun tidak menduga bahwa seruan untuk mogok daerah dan tutup jalan provinsi ini bisa berlangsung. Hanya ada sekitar 500 personil polisi dikerahkan. Mereka kewalahan, tidak percaya bahwa ada gerakan rakyat yang bisa diorganisir hingga mencapai puluhan ribu dan berhasil melumpuhkan ekonomi! Bahkan, kabarnya Kapolda Jatim harus tergopoh-gopoh datang ke Jombang untuk memastikan ini.

Mogok buruh Jombang yang pertama ini terjadi begitu saja. Tidak ada seorang pun yang menduga bahwa massa akan membludak dan mencapai puluhan ribu orang. Tidak juga oleh kawan-kawan SBPJ sebagai motor penggerak aksi ini. Rasanya, seperti sebuah kebahagiaan tersendiri menyaksikan puluhan ribu orang berbaris mengendarai sepeda motor dan dengan sukarela di bawah panas matahari yang begitu terik, memarkir sepeda motornya di dua arus jalan provinsi untuk melumpuhkan jalan sebagai bentuk protes dan tekanan terhadap Bupati.

Seperti yang saya bilang, aksi selalu melahirkan reaksi. Dalam konteks ini, di mogok berikutnya pada 20 November, Polres Jombang mengerahkan setidaknya hampir 1000 personil, belum termasuk bala bantuan dari Brimob-Polda Jatim berjumlah lebih dari 10 mobil besar, dan puluhan intel. Termasuk juga dari korps loreng, sudah dikerahkan sejak pagi hari di pendopo kabupaten. Water canon, kawat berduri, tembakan gas air mata juga jadi pemandangan baru. Melihat begitu banyak personil dikerahkan, saya rasa bahwa kekuatan buruh di Jombang akan diperhitungkan ke depannya, sebagai sebuah kekuatan rakyat yang mengorganisir dirinya sendiri.

Mogok kedua, tanggal 20 november, Bupati Nyono Suherli akhirnya bersedia menemui para buruh. Dengan pengawalan yang teramat ketat, dia mengatakan bahwa dirinya menghadapi pilihan begitu sulit. Bila upah dinaikkan terlalu tinggi, investor akan mengancam hengkang dari Jombang dan menurutnya akan terjadi pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran. Nyono juga mengatakan bahwa bila terus menuntut upah tinggi-tinggi akan terjadi mesinisasi, yakni mengganti buruh-buruh dengan mesin-mesin canggih. Ini adalah ancaman basi yang sering didengar oleh buruh-buruh di Jabodetabek. Ancaman serupa pernah diungkapkan oleh Apindo, Sofyan Wanandi, dua tahun lalu.

Gertakan ini, dalam cara pandang ekonomi, adalah tidak logis. Logika sederhana untuk menangkis gertakan ini adalah bahwa dalam proses kapital (modal) agar menjadi komoditas dan meraup laba, dibutuhkan konsumen. Bila tenaga kerja diganti dengan mesin tanpa adanya pengurangan jam kerja atau kenaikan upah, akan menghasilkan tumpukan komoditas tak terjual dan akumulasi pengangguran, menimbulkan instabilitas ekonomi dan dan sosial. Jutaan tenaga kerja buruh menjadi pengangguran, dan secara otomatis tidak akan punya daya beli. Dan meskipun dengan digantinya tenaga buruh menjadi tenaga mesin, tingkat produktivitas akan tinggi, tapi konsumen berkurang drastis. Dalam jangka panjang ini akan mematikan aktivitas produksi itu sendiri dan menyebabkan penumpukan barang di gudang, karena tak akan terjual. Tuntutan kenaikan upah adalah tuntutan yang realistis dari sudut pandang buruh. Buruh akan terus menuntut supaya upahnya naik, karena harga-harga kebutuhan pokok tidak bersifat stagnan, tapi selalu berubah tiap waktu, fluktuatif.   

Kebangkitan bagi buruh perempuan! Kebangkitan bagi buruh Jombang!

Saya mencatat bahwa di dua aksi terakhir kesadaran buruh mengalami lompatan. Bila di aksi-aksi sebelumnya, buruh-buruh perempuan terhitung sekitar 20-70 orang. Namun seruan mogok dan sweeping-sweeping membuat buruh perempuan berani keluar pabrik dan bergabung dengan massa aksi lainnya hingga berjumlah ribuan. Semuanya stop produksi. Sebut saja PT. Pie Hei yang didominasi perempuan, yang memproduksi sepatu-sepatu dengan merk-merk terkenal yang memenuhi pasar-pasar Eropa seperti Dolce & Gabbana, Nike, Adidas, keluar sebanyak lebih dari 5000 orang! PT Volma sendiri menyumbang 8500 buruhnya ke dalam aksi ini, belum termasuk Seng Fong, Mentari Toys Internasional, Venesia, dan lain-lain.

Bagi buruh-buruh Pie Hei generasi lama yang sudah bekerja di sana selama minimal 10 tahun, pasti ingat betul bahwa pabriknya sudah lama tidak ikut aksi, tidak ikut berjuang untuk hak ekonominya.  Tahun 2006, adalah tahun terakhir mereka melakukan aksi besar-besaran menuntut kenaikan upah dari usulan 530 ribu ke 630 ribu.  Seorang buruh perempuan yang saya temui di aksi tersebut, mengatakan bahwa ini adalah kebangkitan bagi buruh Pie Hei. Sudah 8 tahun, buruh Pie Hei tidak terlibat aksi, katanya. Sejak dari sekarang, ke depan buruh-buruh Pie Hei akan lebih mudah lagi diorganisir untuk terlibat dalam perjuangan-perjuangan selanjutnya.

Untuk Venesia dan Volma yang notabene adalah pabrik yang relatif baru, ini adalah pengalaman berharga. Meski perempuan, dengan stigma bahwa mereka adalah makhluk yang lemah, mereka tidak akan merasa takut untuk berjuang kembali di masa yang akan datang. Aksi dan mogok stop produksi telah menyumbang sebuah kepercayaan dan menanamkan dalam-dalam ke benak mereka bahwa hanya dengan persatuan dan aksi maka kepentingan mereka akan dipenuhi, bahwa buruh adalah lapisan masyarakat yang mencipta kekayaan dan peradaban lewat tangan mereka!

Seng Fong dan Mentari Toys International adalah pabrik yang relatif lama sudah ada. Serikat-serikat disana telah diberangus sampai habis. Buruh-buruhnya hampir tidak ada yang berada di bawah naungan serikat buruh. Bila pun ada, barangkali serikat-serikat yang telah ‘disetujui’ oleh pabriknya. Seruan mogok bersama sampai juga di telinga buruh Seng Fong dan Mentari. Tidak sedikit dari mereka yang ikut ke dalam seruan mogok ini. Mereka mengambil motor-motor mereka yang ada di parkiran dan bergabung ke dalam massa aksi.

Semua bendera bersatu di bawah Aliansi Buruh Jombang Melawan!

Aliansi yang sebelumnya bernama FPR-Front Perjuangan Rakyat, berganti nama menjadi Aliansi Buruh Jombang Melawan. Melihat eforia perlawanan dan solidaritas untuk berjuang bersama antar pabrik, nama ini dipilih karna dirasa mengakomodir seluruh buruh Jombang yang terlibat di mogok sebelumnya (aksi ke-enam, 12 November). Berharap bahwa aliansi ini akan digunakan seterusnya untuk merespon segala isu yang berhubungan dengan kepentingan buruh.

Ada banyak bendera serikat buruh di aksi puncak tanggal 20 November. Sebut saja, selain bendera SBPJ, ada juga SBSI, SPBI, dan bila tidak salah melihat,  SPSI dan SPN bergabung di detik-detik terakhir aksi. Ini menunjukkan pada kita bahwa perjuangan buruh akan mengesampingkan bendera masing-masing serikat demi kepentingan bersama. Tidak peduli bila serikat buruh tersebut punya sejarah yang buruk, cenderung “kuning” atau “pro-pengusaha”, ketika massa buruh bergerak maka mereka akan menggunakan serikat apapun yang ada di tangannya dan mendorong serikat tersebut ke arah perjuangan. Bila kesadaran buruh tidak stagnan, maka organisasi buruh (serikat) juga tidak akan selalu stagnan dan bisa berubah. Bila buruh bisa menghancurkan tembok-tembok yang ada di dalam pikirannya, menghancurkan kesadaran semu yang ditanamkan oleh tatatan kapitalis dan menemukan kesadaran kelasnya, maka tentunya ia juga bisa menghancurkan kerak konservatisme yang ada di dalam serikat buruhnya dan menggerakkannya untuk kepentingan mereka.

Persatuan antar serikat buruh adalah sebuah kebutuhan. Memang, awalnya tiap-tiap serikat hanya akan memperjuangkan kepentingan anggotanya sendiri. Tapi cara pandang sempit seperti ini tidak akan bertahan lama. Taktik aksi dan mogok di satu pabrik sudah tidak mumpuni, dan ini dibuktikan oleh aliansi buruh jombang, mereka sudah berkembang ke aliansi antar serikat dan antar pabrik.

Akhir Kata

Perjuangan untuk kenaikan UMK, sudah dilakukan dengan gagah berani oleh buruh. Meski pada akhirnya UMK Jombang 2015 diputus oleh Gubernur Jatim sebesar 1.725.000, selisih sekitar 400 ribu dari yang diusulkan oleh Aliansi Buruh Jombang, namun pengalaman berupa sweeping pabrik dan mogok daerah akan jadi pelajaran paling berharga. Sebuah kepercayaan akan kekuatan diri dan semangat berjuang bersama telah ditanamkan lewat seruan mogok, dan akan kembali dituai di perjuangan buruh berikutnya. Ini adalah capaian penting untuk hari depan, sebagai bagian dari pemenuhan tugas sejarah buruh sebagai pemimpin pembebasan rakyat.