1mei 1958Kamerad! Sudah lebih dari dua abad kita telah terlahir sebagai kelas. Kala itu, ketika pertuantanahan tengah melapuk dan mulai digantikan oleh kekuatan mesin. Kelas-kelas yang semula berproduksi dengan pintal sederhana mulai digantikan. Sejak saat itu pula seluruh penduduk diseret ke dalam ruang-ruang penat nan lembab, berdinding tembok tebal untuk menghasilkan barang kebutuhan. yang bukan untuk pemenuhan diri kita tapi untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Kita tahu bahwa kelas buruh sendiri berasal dari latar belakang berbeda-beda. Di antaranya ada yang berasal dari pengrajin tangan, hamba, pedagang, petani, dan budak yang semula adalah kelas yang ada di bawah kekuasaan tuan tanah feodal. Mereka telah dipaksa dan harus berubah di bawah kondisi-kondisi umum masyarakat yang menempatkan borjuasi menjadi kelas penguasa atas diri kita. Seiring perkembangan masyarakat, generasi awal kita yang semula adalah sisa-sisa dari masyarakat sebelumnya telah luruh menjernih menjadi kelas proletariat modern yang sama sekali lepas dari prasangka-prasangka generasi awal kita.

Borjuasi telah memusatkan kekuasaan ke tangan mereka sendiri dan memperluas mesin-mesin ke dalam masyarakat, sehingga kita saat itu beranggapan bahwa mesin-mesin itulah yang menjadi akar dari pengangguran, kemiskinan, karena mesin menggantikan kerja tangan kita menjadi tidak lagi dibutuhkan. Dahulu, metode perjuangan kita untuk menghalau perkembangan mesin-mesin ini—yang mulai menggantikan kerja tangan kita—adalah dengan memusuhi perkembangan teknologi ini. Kita merusak segala atribut kemajuan masyarakat. Bahkan gerakan kita sangatlah populer kala itu, yang kita kenal sebagai gerakan sabotase. Kata sabotase itu susunan katanya berasal dari kata sabot,yang berarti sandal kayu, yang saat itu dilemparkan ke dalam roda-roda gerigi mesin-mesin sebagai bentuk kebencian kita terhadap sistem baru ini.

Semakin sistem kapitalisme ini meluas dan perkembangan permesinan semakin tidak bisa lagi dihindari, maka semakin tidak mungkin lagi bagi kita menggunakan metode tersebut. Bahkan kita semakin menyadari bahwa watak celaka yang ditimbulkan dari sistem ini bukan terletak pada perluasan permesinan melainkan kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi.

Perkenalan mesin membuat kerja satu jam kita bisa menghasilkan beribu-ribu banyaknya barang kebutuhan yang semula tidak bisa dihasilkan oleh kerja tangan biasa. Dengan demikian, bertambah pula keinginan dari kapitalisme untuk mengeruk laba sebanyak mungkin dari yang bisa kita hasilkan. Namun, kehendak kapitalisme untuk memproduksi barang kebutuhan dan mengeruk keuntungan sebanyak mungkin darinya tidak sebebas keinginannya sendiri, yang dari itu dibatasi oleh kapasitas konsumsi masyarakat atau pasar yang bisa menyerapnya. Inilah yang kita sebut sebagai anarki dalam produksi kapitalisme.

Selanjutnya, watak anarki ini menemui ekspresi terakhirnya di dalam krisis ekonomi yang kerap terjadi di sepanjang sejarah. Krisis ini menghantam fondasi kapitalisme sampai ke akar-akarnya. Sepanjang sejarah itu pulalah sering kali kita jatuh, kalah, mundur, bangun, menghimpun kekuatan lagi dan maju berjuang. Proses ini memberi kita pelajaran-pelajaran yang sangat berharga bagi kemenangan kita ke depan. 

Aksi-aksi pemogokan, misalkan, sebagai senjata ampuh kita untuk meraih kemenangan, walaupun memberi kemenangan-kemenangan berarti, ternyata kemenangan kita masih dihantui kondisi pasar yang tidak menentu. Seperti tuntutan kenaikan upah kita tiap tahun, yang walaupun tiap tahun terpenuhi namun kemenangan kita masih terancam tergerus inflasi. Bahkan baru-baru ini di Yunani, pemogokan umum yang menentang kebijakan penghematan anggaran yang diserukan oleh serikat-serikat buruh setempat ternyata tidak mampu menghentikan langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk melanjutkan langkah-langkah penghematan anggaran.

Lantas tindakan apa yang harus kita ambil untuk mengakhiri kesengsaraan di bawah kapitalisme ini?

Sejarah perjuangan kita sendiri memberikan banyak pelajaran bahwa kelas kita membutuhkan sebuah instrumen perjuangan yang bertujuan menghapuskan kapitalisme dan mendirikan sosialisme. Instrumen ini adalah partai revolusioner kelas kita sendiri. Partai ini juga merupakan perangkat memori perjuangan kelas kita yang tersatukan lewat aksi revolusioner. Hanya dengan itulah maka kita bisa mengakhiri belenggu yang merantai kita selama ini. Tidak ada pilihan lain bagi kita di bawah kapitalisme, selain mati di bawah syarat-syarat hidup yang mengerikan atau berjuang sebagai martir  untuk kemerdekaan kelas kita. Yang terakhir itulah yang kita tempuh dan kita tidak menoleh lagi ke belakang.

Untuk internasionalisme kelas kita: Kaum Buruh Sedunia Bersatulah!