facebooklogocolour

Situs Militan Indonesia akan ditutup pada akhir Oktober. Kunjungi situs Perhimpunan Sosialis Revolusioner (revolusioner.org)!

 

mayday2014May Day kembali menyambut kita semua. Hari yang bersejarah ini telah merasuki sanubari dari semua kelas buruh dan kaum muda yang sadar kelas. Semangat persatuan biasanya membumbung tinggi mendekati May Day. Tidak heran, karena pada hari inilah biasanya kaum buruh bisa turun ke jalan dalam jumlah ratusan ribu tanpa memandang bendera mereka. Mereka disatukan oleh kenyataan bahwa mereka adalah budak upah yang tertindas oleh pemilik kapital. Seruan “Buruh Sedunia Bersatulah!” mengumandang tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia.

Akan tetapi persatuan buruh tampak seperti tujuan yang selalu luput dari genggaman kita. Organisasi-organisasi buruh di Indonesia terfragmentasi karena 1001 alasan, dan fakta ini kerap membuat banyak orang frustrasi dan demor. Berbagai cara dan skema telah dilakukan untuk menyatukan organisasi-organisasi buruh, tetapi hasilnya lebih sering gagal daripada berhasil.

Persatuan kaum buruh tidak boleh dilihat sebagai tujuan akhir dalam dirinya sendiri, tetapi adalah satu cara untuk mencapai sebuah tujuan. Pada akhirnya tujuan ini adalah membebaskan kaum buruh dari rantai penindasan kapitalisme, yang berarti menumbangkan kapitalisme dan meletakkan buruh pada tampuk kekuasaan ekonomi dan politik. Inilah tujuan dari persatuan buruh.

Maka dari itu, menyatukan serikat-serikat buruh saja dalam konfederasi yang lebih besar atau dalam aliansi tidak akan mencukupi untuk mencapai tujuan yang disebut di atas. Dibutuhkan sebuah partai revolusioner, yang bisa memberikan kepemimpinan politik bagi gerakan buruh dan mengarahkan persatuan buruh ini ke tujuan akhir perjuangan kelas buruh: sosialisme.

Persatuan buruh bukanlah sesuatu yang bisa dibangun secara artifisial, dengan berbagai skema dan manuver organisasional. Walaupun kita harus berjuang untuk persatuan, kita tidak boleh lantas menjadikan persatuan sebagai sebuah fetisme, sebagai sebuah berhala, yang harus dicapai dengan cara apapun, kapanpun, dan dimana pun. Kaum buruh yang paling luas akan bersatu kalau memang kondisi-kondisi objektif sudah tercapai. Justru, kalau kita melihat sejarah, kapitalisme-lah dengan segala kontradiksinya yang akan menyatukan rakyat pekerja, terlepas dari segala usaha dari kelas penguasa untuk memecah belah rakyat pekerja. Kapitalisme-lah yang akan menciptakan kondisi-kondisi pra-revolusioner atau revolusioner yang menghimpun seluruh kekuatan buruh.

Bagi kaum revolusioner, tugas utama kita adalah mempersiapkan diri untuk revolusi, ketika revolusi menyatukan lapisan buruh yang terluas. Di sinilah kita bisa memetik pelajaran penting dari Lenin dan kaum Bolshevik. Seperti di Indonesia saat ini, Rusia pada jaman Lenin memiliki banyak sekali organisasi Kiri, organisasi buruh, dsb. yang terpecah-pecah. Mereka kerap berpolemik dan berbenturan satu sama lain dengan sangat tajam, begitu tajamnya dan kerasnya sampai para aktivis di luar Rusia menggeleng-gelengkan kepala mereka seraya mengeluh: “Kaum revolusioner Rusia itu seperti orang-orang fanatik.”

Tetapi di balik “perpecahan” ini adalah ketegasan garis politik yang ditarik oleh Lenin dan rekan-rekan Bolsheviknya. Mereka memfokuskan diri menbangun partai kader yang menyatukan elemen-elemen terbaik dari kaum muda dan kaum buruh, dan membangun terlebih dahulu persatuan di atas basis ideologi yang kokoh. Pada saat yang sama mereka juga melakukan kerja-kerja politik yang sangatlah fleksibel, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip politik mereka. Mereka memasuki serikat-serikat buruh kuning dan bahkan yang reaksioner yang dibentuk oleh polisi. Keteguhan dalam prinsip, fleksibel dalam taktik.

Pada momen revolusi, yakni pada 1905 dan 1917, Partai Bolshevik berhasil berubah dari lingkaran kecil menjadi partai massa; mereka berhasil menyatukan lapisan kelas buruh yang terluas di bawah bendera revolusi mereka. Mereka bisa menjadi penyatu buruh dalam revolusi karena wadah persatuannya, yakni partai revolusioner, telah dibangun terlebih dahulu. Inilah persatuan yang revolusioner, dimana fondasinya dibangun terlebih dahulu. Fondasi ini adalah partai revolusioner, yang berisikan elemen-elemen terbaik dari kaum buruh dan kaum muda, yang terikat erat oleh pemahaman bersama akan tugas-tugas mereka, dalam kedisiplinan ideologis yang tertempa lewat pendidikan teori dan praktek. Tanpa fondasi ini, dalam kata lain tanpa organisasi revolusioner macam ini, maka persatuan buruh yang terbangun tidak akan bisa membebaskan buruh dari kapitalisme dan menghantarkannya ke sosialisme. ***