KPKPBI 24 Okt 2015Hari ini, 24 Oktober 2015, Komite Persiapan-Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KP-KPBI) melakukan aksi gruduk ke Istana Negara untuk menolak RPP pengupahan sebagaimana yang dirumuskan pemerintah. Dalam aksi itu, 4000 massa dari berbagai federasi yang tergabung di dalam organisasi tersebut menyuarakan aspirasinya.  

Bukan hanya massa dari Jabodetabek yang mengikuti aksi tersebut. Massa dari Karawang juga antusias menyuarakan tuntutannya bersama kawan-kawannya di depan istana. Selain diikuti oleh massa buruh, elemen petani dan muda juga ikut serta dalam aksi ini. Saya dan beberapa kawan muda dari Militan termasuk dalam bagian yang belakangan ini, ikut turun aksi untuk bersolidaritas dengan buruh dalam melawan RPP pengupahan.

Selain menolak RPP pengupahan yang dinilai tidak berpihak kepada kaum buruh, perwakilan buruh juga menyerukan persatuan seluruh elemen buruh untuk melawan tirani penguasa yang memang tidak bisa dilawan kecuali kalau buruh bersatu. Dalam orasinya, salah seorang perwakilan buruh menjelaskan, bukan hanya pemerintahan Jokowi-JK saja yang memiliki kebijakan pro pengusaha dan merugikan buruh. Menurutnya, pemerintahan sebelum-sebelumnya pun memiliki kebijakan yang tak jauh berbeda. Semuanya mementingkan investor dan mengobral buruh dengan upah murah. Oleh karena itu, menurutnya kaum buruh harus memiliki kendaraan politik sendiri yang benar-benar menyuarakan kepentingannya, kepentingan petani, kaum miskin, dan rakyat luas, dan tidak lagi mempercayakan aspirasi kepada partai-partai borjuis.

Dari informasi terakhir, akan ada serangkaian aksi yang direncanakan dalam hari-hari ke depan (25 Oktober konferensi pers di LBH Jakarta; 26 Oktober aksi di seluruh kawasan industri di Indonesia, konvoi menyebar selebaran; 27 Oktober aksi SPN di Istana Negara; 28 Oktober aksi KSBSI di Istana Negara dan kantor Gubernur DKI; 28 Oktober aksi ASPEK Indonesia di gedung DPR RI; 29 Oktober Mimbar Rakyat di LBH Jakarta; 29 Oktober aksi SPSI LEM di Istana Negara). Jika aksi-aksi ini tidak digubris oleh pemerintah, maka pada tanggal 30 Oktober 2015 gabungan dari berbagai konfederasi pekerja akan menduduki istana dan bertahan di sana hingga tuntutan dipenuhi. Seorang perwakilan buruh, dalam orasinya menegaskan, bila masih buruh akan melakukan pemogokan Nasional pada November nanti jika tuntutan tetap tidak dipenuhi.

Refleksi kaum muda revolusioner

Sebagai seorang Marxis muda, saya mendukung sepenuhnya aksi buruh ini dan bersolidaritas mendorong gerakan buruh untuk menang, tidak hanya menang dalam perjuangan kali ini tetapi dalam perjuangan final melawan kapitalisme. Namun, selama aksi hari itu, sejenak terlintas sejumlah pertanyaan di benak saya, pertanyaan-pertanyaan yang mungkin juga terlintas di benak kawan-kawan seperjuangan:

“Apakah aksi geruduk istana berpengaruh bagi arus modal? Apakah aksi geruduk istana bisa membuat kedudukan pengusaha terancam? Bagaimana jika di samping yang mengikuti aksi ini, ada juga buruh yang tetap bekerja dan karenanya tetap menciptakan laba bagi pengusaha? Bagaimana kalau setelah gelombang aksi ini masih belum juga dipenuhi tuntutan buruh? Jangan-jangan nanti mogoknya juga tidak jadi?”

Sebagai seorang yang percaya bahwa buruh mampu memimpin rakyat menghancurkan tirani dan membawa perubahan lebih baik, saya memiliki harapan besar buruh melawan kebijakan upah murah ini hingga titik darah penghabisan, dengan mogok, dengan aksi yang benar-benar bisa membuat pengusaha terjepit dan kalah.  Harapan inilah yang mungkin mendorong pertanyaan-pertanyaan di atas. Tetapi, harapan yang berlebihan juga tidak baik. Alih-alih menolong, bisa-bisa ia justru menjadi bumerang bagi saya, membuat saya kecewa dan menarik kesimpulan yang sektarian yang menganggap bahwa buruh sudah tidak serevolusioner dulu lagi dan karenanya berpaling darinya.

Gerakan buruh bukanlah sesuatu yang terus bergerak naik dan naik dalam garis lurus. Karena benturan-benturan dan tarik menarik ideologis di dalamnya, yakni antara tendensi yang militan dan tendensi yang konservatif-reformis, gerakan buruh akan mengalami pasang naik dan pasang surut. Hari ini kita sedang melihat gerakan buruh mulai bergeliat kembali untuk melawan RPP pengupahan. Tetapi ia juga sedang bergerak melawan inersia (atau stagnasi) akibat tendensi konservatif-reformis yang beberapa tahun belakangan menghalangi geraknya. Ia seperti otot yang sudah cukup lama tidak digerakkan, yang menjadi lemah dan sulit diregangkan ketika sekarang perlu digerakkan untuk memukul kapitalis. Tetapi ia tetap bergerak, dengan segala kesulitan dan kontradiksi di dalamnya.

Pemahaman akan dinamika gerakan buruh ini membuat saya lebih bersabar. Sebagai seorang revolusioner, tugas saya adalah pertama-tama memenangkan lapisan termaju/pelopor dari kaum buruh untuk bersama-sama membangun fondasi ideologi revolusioner yang kuat, yakni sosialisme. Bagaimana saya bisa menarik elemen termaju buruh jika saya berpaling dari mereka? Bagaimana saya akan menyebarkan gagasan revolusioner kepada massa luas jika saya berpaling dari mereka?

Maka dari itu, saya perlu menjelaskan dengan sabar. Bersama-sama dengan buruh saya perlu menjelaskan bahwa kapitalismelah pangkal dari segala permasalahan buruh, dengan telaten dan jeli menjelaskan bahwa inheren di dalam kepemimpinan yang reformis adalah pengkhianatan, dan bahwa buruh memerlukan partai politiknya sendiri yang dibangun di atas program sosialis, yang beberapa di antaranya adalah: nasionalisasi tuas-tuas ekonomi terpenting di bawah kontrol demokratis buruh, pekerjaan untuk semua dengan upah penghidupan yang layak, pendidikan gratis, pelayanan kesehatan universitas gratis, pensiun untuk semua rakyat, tanah untuk kaum tani.    

Apa yang saya pelajari dari aksi geruduk yang dimotori KP-KPBI hari ini yaitu bahwa kaum buruh sedang bergerak. Mereka sedang resah dan mulai mempertanyakan tatanan lama. Seorang buruh menghampiri lapak koran Militan Indonesia dan tertarik membeli koran tentang G 30 S. Ia bertanya, “Apakah akan ada lagi partai semacam PKI?” Ada juga yang membeli booklet Pelajaran Revolusi Oktober. Ada yang membeli booklet filsafat Marxisme. Ketiganya tampak tidak berhubungan langsung dengan isu yang mereka perjuangkan hari ini. Ini mengindikasikan bahwa buruh mulai tertarik dengan gagasan-gagasan revolusioner, gagasan  penumbangan kekuasaan kapitalis. Kebijakan upah murah ini sudah tidak bisa ditolelir lagi oleh kaum buruh. Semakin banyak kaum buruh yang sudah menarik kesimpulan bahwa mereka akan dan harus berjuang sampai titik darah penghabisan. Ini merupakan kesempatan bagi kaum muda revolusioner untuk terus menyebarluaskan gagasan-gagasan sosialisme revolusioner dengan gigih.