Mogok jombang 2015Tindakan represif polisi untuk membubarkan paksa Mogok Daerah Buruh Jombang Rabu kemarin (18/11/15) menunjukkan satu hal, bahwa kita membutuhkan segera pembentukan Garda Pertahanan Buruh. Aksi-aksi yang terjadi dalam 1 bulan terakhir di jalan-jalan protokol Jombang, membuat kelas penguasa lebih siaga dan menyiapkan batalion-batalion penjaga kapital dalam jumlah yang semakin membesar.

Tidak hanya sepasukan polisi dari Polres Jombang, bantuan dari Polda Jatim, dari Polres Nganjuk dan Madiun juga dikerahkan untuk mengamankan Mogok. Sedikitnya ada 1000 personel disiapkan berjaga di depan kantor Pemerintah Kabupaten, lengkap dengan alat-alat kekerasan seperti kayu rotan, gas air mata, dan popor senapan. Bahkan Water Canon juga tidak ketinggalan.

Seperti Engels katakan, bahwa negara adalah institusi orang-orang bersenjata. Negara juga sudah berulang kali menunjukkan bahwa mereka tidak segan menggunakan alat kekerasan untuk merepresif kawan-kawan buruh kita. Sudah rahasia umum bila kekuatan bersenjata di bawah kontrol negara borjuasi adalah alat yang digunakan penguasa untuk melindungi kapital dan menghantam perlawanan-perlawanan rakyat.

Di kota lain, seperti Bekasi dan Kawarang, sudah menjadi tradisi dimana pengusaha menggunakan preman-preman bayaran, yang adalah barisan lumpenproletar, untuk memukul buruh yang tengah berjuang. Tidak sedikit fakta pula yang menunjukkan ada sebarisan pengkhianat yang datang dari kalangan buruh, yang bekerja menjadi spionase atas aktivitas-aktivitas revolusioner yang dilakukan kawan-kawannya yang tengah berjuang.

Banyaknya kekerasan yang diterima oleh gerakan buruh dalam perjuangannya semakin mendorong dan memberikan kesadaran pentingnya alat pertahanan diri, dalam hal ini, alat pertahanan serikat buruh pada saat melakukan aksi demonstrasi dan mogok. Ada massa yang harus dijaga; ada barisan yang perlu dipertahankan; ada tujuan dari setiap mogok yang perlu dicapai.

Gerakan buruh Jombang, yang dimotori oleh serikat buruh SBPJ-GSBI, dalam 7 tahun terakhir telah menunjukkan kekuatan massa yang besar. Fakta bahwa di Pabrik Plywood pada tahun-tahun awal didominasi oleh buruh-buruh yang tempat tinggalnya ada sekitaran pabrik membuat ikatan emosional di antara anggotanya menjadi begitu erat. Sudah banyak pencapaian yang dihasilkan dari aksi-aksi yang dimotori oleh SBPJ-GSBI, antara lain: pengangkatan status kerja menjadi tetap, kenaikan uang makan, dan upah buruh yang semakin meningkat. Bukan hal yang sulit memobilisasi massa untuk secara spontan melakukan aksi. Hal ini menjadi peringatan bagi kelas penguasa, bahwa gerakan buruh Jombang bisa saja menggoyang kekuasaannya.

Akan tetapi, seperti yang Trotsky katakan, bahwa semakin menajamnya perjuangan buruh berarti pula semakin masif pukulan balik yang dihantarkan oleh kelas kapitalis. Dalam Mogok Daerah Jombang kemarin, kapitalis dengan aparatus kekerasan negara miliknya memukul balik. Setidaknya dua orang buruh ditangkap, dimana salah satunya adalah koordinator mogok. Dia dipukuli, ditendang dan diseret oleh puluhan polisi yang menyerbu barisan depan, dan membawa mereka berdua untuk diamankan. Bahkan salah satunya harus menjalani perawatan di Rumah Sakit. Selain itu ada lebih dari 6 orang luka-luka karena sabetan kayu rotan yang diayunkan secara membabi-buta ke arah barisan buruh. Massa buruh yang besar, namun tidak terorganisir untuk mempertahankan diri, tidak akan bisa diandalkan untuk menghadapi serangan-serangan brutal kepolisian. Akan menjadi suatu petaka bila buruh tidak segera membentuk pertahanan diri yang kuat untuk menghadapi pukulan balik tersebut.

Peristiwa kemarin haruslah semakin kencang mendorong organisasi-organisasi buruh yang belum memiliki garda pertahanan buruh untuk segera membentuknya. Bersikap lunak terhadap serangan-serangan semacam itu tidak akan menyelesaikan masalah. Pembentukan barisan pelopor yang serampangan atau dibentuk secara spontan tidak akan memiliki daya tempur atau pertahanan diri untuk melindungi massa mereka, dan bahkan pimpinan aksi/mogok mereka yang sudah pasti menjadi incaran.

Pembentukan garda pertahanan buruh harus dimulai dari pemahaman politik yang jelas, yakni negara yang ada hari ini adalah negara kapitalis. Oleh karenanya, semua aparatus di bawah negara kapitalis ini (polisi, tentara, jaksa, hakim, dsb.) adalah milik kapitalis dan digunakan untuk menghantam buruh yang melawan. Dari pemahaman ini, dan pengalaman konkret (represi yang dialami oleh buruh di tangan kebrutalan polisi), kesimpulan yang dapat dan harus diraih hanya satu: pembentukan garda pertahanan buruh. Kita tidak bisa membiarkan barisan buruh dipukul dan diintimidasi begitu saja tanpa perlawanan oleh aparatus negara kapitalis atau preman-preman bayaran mereka.

Maka dari itu, sebuah kelompok khusus dari buruh-buruh yang paling berani dan sadar kelas harus mulai dibentuk dan dilatih. Kelompok khusus ini, yang akan menjadi barisan dari garda pertahanan buruh, harus dilatih untuk menjadi barisan pelopor yang berguna sebagai pertahanan diri dari tindakan-tindakan brutal aparat polisi dan tentara. Selain itu garda pertahanan buruh ini harus dididik secara politik, karena yang menjadi hambatan bagi buruh untuk melawan bukanlah halangan fisik tetapi halangan yang ada di pikiran mereka. Pendidikan politik (ideologi) harus jadi bagian dari pelatihan garda pertahanan buruh ini, sehingga mereka paham karakter inheren dari negara dan rejim yang mereka hadapi, dan bisa juga menjadi pemimpin untuk semua buruh lainnya.

Gagasan untuk pembentukan pasukan khusus buruh/garda pertahanan buruh untuk mengamankan aksi-aksi massa dan mogok kerja telah menjadi suatu yang krusial. Slogan ini menjadi begitu penting hari ini untuk diserukan di setiap aksi dengan semakin menajamnya perjuangan kelas.

Yohana Ilyasa, koresponden sel Militan di Jombang.