Mogok JombangSatu hari menjelang mogok nasional, suhu politik di Indonesia semakin memanas. Di satu sisi, buruh terus mengkonsolidasikan posisinya untuk menghantarkan pukulan mereka lewat aksi-aksi mogok di seluruh Indonesia.  Di sisi lain, pemilik modal dan negara mereka mulai panik dan juga menyiapkan senjata-senjata mereka untuk menangkal aksi mogok. Mereka siapkan polisi dan tentara, dan juga perangkat-perangkat hukum lainnya untuk menjerat buruh dan pemimpin-pemimpin mereka secara legal. Pertarungan dalam beberapa hari ke depan akan menjadi salah satu yang menentukan bagi masa depan gerakan buruh secara keseluruhan.

PP Pengupahan 78/2015 tidak hanya berusaha menyerang upah buruh, tetapi terutama bermaksud mematahkan semangat dan kepercayaan diri dari kelas buruh. Bila pemilik modal menang, mereka tidak hanya akan menang secara ekonomi (upah rendah yang berarti profit yang lebih tinggi), tetapi juga menang secara politik. PP Pengupahan adalah pernyataan dari kelas kapitalis bahwa merekalah penguasa sesungguhnya dan buruh harus patuh pada kehendak modal, bahwa perjuangan buruh tidak akan bisa membuahkan hasil. Inilah yang ingin ditunjukkan oleh pemilik modal. Kelas kapitalis tidak bisa terus menolerir buruh dan serikat mereka yang terus membangkang, terutama selama 3-4 tahun terakhir. Mereka ingin menegaskan kembali siapa tuan dan siapa budak di dalam masyarakat ini. Inilah mengapa pemerintah dan pemilik modal kali ini bersikeras ingin meloloskan PP Pengupahan.

Masa depan gerakan buruh Indonesia oleh karenanya akan ditentukan oleh hasil dari perjuangan ini, dan juga bagaimana buruh melawan. Kalau buruh kalah – apalagi kalah karena menyerah sebelum melawan dengan sengit – ini akan mengakibatkan demoralisasi. Demoralisasi ini tidak hanya akan menghinggapi buruh yang terorganisir di dalam serikat buruh, tetapi juga bagi buruh tak-terorganisir lainnya yang memang kesadarannya sudah lebih rendah. Bayangkan apa yang akan dipikirkan oleh buruh-buruh tak-terorganisir lainnya kalau menyaksikan kekalahan telak dan memalukan dari gerakan buruh. Mereka akan berpikir: kalau berserikat dan berorganisasi saja kalah, buat apa melawan? Sinisme dan apati – yang merupakan senjata utama penguasa – akan terpatri lebih dalam di kepala buruh.  

Kemenangan, di lain pihak, akan menjadi satu lagi piala bagi gerakan buruh. Bila mogok nasional nanti bisa menghantarkan pukulan yang tegas pada rejim dan mematahkan PP Pengupahan, maka buruh sekali lagi menunjukkan dirinya sebagai kekuatan politik yang paling terorganisir di bumi Indonesia, satu-satunya kekuatan yang bisa memimpin seluruh lapisan rakyat pekerja miskin untuk menumbangkan rejim kapitalis yang ada. Ini bukan hanya pertempuran untuk memenangkan satu dua persen kenaikan upah, tetapi juga untuk memenangkan kepercayaan diri kelas dan kepercayaan dari seluruh kelas tertindas lainnya. Di sini akan teruji di hadapan mata seluruh rakyat Indonesia slogan “Buruh Berkuasa Rakyat Sejahtera”.