facebooklogocolour

korban phk 20150821 145428Pada pertengahan 2018, di salah satu kota padat industri, tepatnya kota Gresik, sedang berlangsung PHK besar-besaran. Sejak April 2018 hingga artikel ini ditulis, perusahaan padat karya PT Karunia Alam Segar (KAS), anak perusahaan dari Wings Grup, melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap kurang lebih 400 buruhnya. Berdasarkan informasi yang berkembang di antara buruh, PT KAS menargetkan akan merumahkan 600 orang dalam jangka waktu setahun ini.

Tidak jauh dari PT  KAS  ada perusahaan lain yang juga sedang memPHK banyak pekerjanya, yakni PT Central Asia Building (CAB), sebuah perusahaan skala menengah dan berorientasi ekspor yang bergerak dalam sektor produksi pipa. Sebanyak 90 buruh harus kembali ke rumah dengan membawa surat PHK dari perusahaan. Setelah 3 bulan lamanya melakukan pemogokan, dengan tuntutan peralihan status kerja kontrak menjadi karyawan tetap, pihak perusahaan memutuskan mem-PHK para buruh ini. Para pengusaha berdalih kedua kejadian di atas adalah imbas dari tindakan indisipliner pekerja atau proses mogok kerja yang dianggap tidak sah. Namun di balik itu semua adalah murni kepentingan pengusaha untuk melakukan program efisiensi perusahaan.

PHK adalah momok yang menakutkan bagi buruh pabrik. Setelah ter-PHK mereka menatap kehidupan ke depan dengan wajah suram. Ekonomi keluarga menurun drastis karena hilangnya penghasilan. Sedangkan untuk mencari pekerjaan lagi harus bersaing ketat dengan ratusan calon pekerja lain. Jumlah pengangguran terlalu banyak sedangkan lapangan kerja tidak mampu menampung keseluruhannya. Inilah fenomena sistem kapitalisme hari ini, yang terus-menerus melahirkan pengangguran.

Ketika persoalan PHK massal sudah memakan korban, pihak pemerintah melalui dinas ketenagakerjaan lamban dalam merespons persoalan ini. Salah satu buruh PT KAS memaparkan fakta ini: “Para pegawai dinas ketenagakerjaan lamban melakukan kunjungan ke perusahaan di saat proses PHK buruh/pekerja sudah terjadi untuk kesekian kalinya.”

Hal serupa juga terjadi dalam proses penyelesaian permasalahan di PT CAB. Pengurus serikat buruh yang mengawal proses pemogokan kerja buruh/pekerja mengatakan: “Pihak dinas ketenagakerjaan (pemerintah) tidak mempunyai kompetensi dalam menyelesaikan kasus perburuhan. Sudah dua bulan lamanya sejak bergulirnya permasalahan ini, mereka tidak mampu menghadirkan pemilik perusahaan untuk berunding membicarakan tuntutan kami. Meski upaya pemanggilan telah mereka lakukan, tapi tetap saja para pengusaha nakal ini tidak kunjung datang dalam perundingan yang difasilitasi oleh dinas. Semestinya ada tindakan lebih tegas dari dinas dalam kasus ini.”

Sering kali kejadian-kejadian serupa kita temukan dalam proses penyelesaian kasus perburuhan. Ketika pihak dinas ketenagakerjaan ditanya terkait keterlambatan yang ada, mereka beralasan karena tidak adanya laporan, kurangnya personel pegawai pengawas ataupun minimnya alokasi dana untuk mengakomodir kasus perburuhan yang ada. Kita saksikan hal seperti ini di mana-mana. Pemerintah setempat yang berwenang untuk menyelesaikan persoalan perburuhan hanya setengah hati dalam bekerja. Tentu saja semua ini berkaitan erat dengan karakter langsung dari pemerintahan kapitalis yang sejatinya bekerja bukan untuk kepentingan rakyat, tapi kapitalisme.

Di samping persoalan ketidakmampuan pemerintahan kapitalis dalam mengatasi  PHK massal, ada faktor lain yang menjadi alasan utama bagi para pengusaha melakukan PHK, yaitu kondisi ekonomi dunia yang lesu dan tidak mampu keluar dari krisis sejak 2008. Setiap pemilik modal sekarang harus lebih ganas dalam memangkas biaya produksi untuk mempertahankan atau meningkatkan profitnya di tengah perekonomian yang sulit. Dengan melakukan PHK massal pemilik perusahaan PT KAS  dapat mengurangi biaya produksinya dan dengan demikian meningkatkan profit mereka. Untuk mempertahankan tingkat produktivitas perusahaan, pihak perusahaan juga telah mendatangkan 42 mesin untuk menggantikan buruh yang di-PHK.

Tidak berhenti sampai di sini saja usaha pengusaha untuk meraup profit. Berdasarkan penuturan dari pekerja di dalam, satu lagi upaya manajemen untuk menggenjot produksi adalah dengan memaksimalkan kemampuan kerja yang dimiliki oleh para buruh. Hal ini terlihat dari penambahan beban kerja bagi para buruh. Semisal seorang operator diberikan tanggung jawab baru untuk menjalankan satu unit mesin lagi, di samping tiga unit mesin yang sudah menjadi tanggung jawab sebelumnya. Di sini kita bisa saksikan eksploitasi besar-besaran dalam proses produksi berbasis kapitalistik.

Dengan membayar upah yang sama, para pengusaha mendapatkan nilai lebih yang dilahirkan oleh kemampuan kerja buruh dalam proses produksi. Kemampuan kerja buruh adalah sebuah karunia besar bagi pundi-pundi kekayaan para pengusaha. Sedangkan bagi kelas buruh, mereka hanya mendapatkan pekerjaan tambahan dengan nominal upah yang sama, atau di-PHK bila dianggap sudah tidak produktif. Lagi-lagi kelas buruh menjadi tumbal dari krisis ekonomi yang terjadi karena keserakahan kelas kapitalis dalam meraup kekayaan. Dalam sistem kapitalisme proses produksi diorientasikan untuk kepentingan profit/laba. Oleh karenanya, para kapitalis tak akan mampu menyejahterakan rakyat pekerja. Sebaliknya kapitalisme terus menerus memperkaya kaum modal dan melempar jutaan buruh ke dalam jurang eksploitasi, kemiskinan, kemelaratan dan pengangguran.  

Selama kekuasaan negara masih dipegang oleh para kapitalis maka selama itulah kesejahteraan tak akan mampu terwujud bagi rakyat pekerja. Perundang-undangan dan aparatus birokrasi pemerintahan kapitalis menjadi legalitas untuk mempermudah tindakan eksploitasi yang dilakukan oleh para kapitalis. Tidak ada demokrasi sejati dalam pemerintahan borjuasi. Apa yang disebut demokrasi adalah wujud dari birokrasi kelas penguasa untuk mengatur masyarakat agar tunduk pada sistem kapitalisme. Demokrasi dan kebebasan macam apa ketika segelintir pemilik modal-lah yang menentukan nasib jutaan buruh, menentukan apakah ia akan dipekerjakan atau di-PHK, apakah ia akan makan atau lapar dan mati? Buruh menjadi saksi bisu atas ketamakan dan tindakan kesewenang-wenangan para pengusaha. Iya hari ini mereka membisu, tetapi tidak untuk selamanya. Kehidupan dunia terus mengalir dan tidak sedikit pun pernah diam. Selama kekejaman para pengusaha terus ada, maka yang akan lahir adalah sebuah pergolakan sosial dari kelas buruh untuk mengubah tatanan yang ada – Revolusi!