facebooklogocolour

hari permepuan

Berikut adalah pernyataan IMT yang akan diluncurkan dalam mobilisasi-mobilisasi di seluruh dunia pada Hari Perempuan Internasional (IWD, 8 Maret). Kita menjelaskan mengapa perjuangan demi pembebasan perempuan harus juga merupakan perjuangan untuk Sosialisme!

Di seluruh dunia penindasan atas perempuan sedang mendapat sorotan. Hari ini – Hari Perempuan Internasional –  pemogokan telah diserukan di sejumlah negeri. Di lebih banyak negeri lainnya, demonstrasi-demonstrasi, mars-mars, dan rapat-rapat sedang berlangsung. Pada beberapa tahun terakhir kita telah melihat gerakan-gerakan besar demi hak-hak perempuan, seperti ketika Trump dilantik sebagai presiden AS; di Polandia gerakan melawan undang-undang aborsi yang lebih ketat; gerakan melawan kekerasan terhadap perempuan di Argentina dan Meksiko; untuk menyebutkan beberapa di antaranya. Kita juga telah menyaksikan kekalahan-kekalahan dari idea-idea reaksioner Gereja Katolik di Irlandia perihal pernikahan sejenis. Ini semua merupakan tanda-tanda dari sebuah radikalisasi umum dalam masyarakat. Kaum buruh, dan secara khusus kaum muda, sedang mulai bergerak untuk mengubah kehidupan mereka dan bertindak melawan setiap bentuk penindasan atau diskriminasi.

Krisis kapitalisme telah berdampak serius terhadap kondisi-kondisi kehidupan perempuan. Di semua negeri pemerintah-pemerintah telah melakukan pemotongan yang sistematis terhadap pelayanan-pelayanan sosial, seperti pemeliharaan anak, rumah-rumah perawatan, dsb., yang memperberat beban perempuan yang secara tradisional memikul tanggung jawab merawat anak-anak, lansia, dan yang lemah. Upah, yang bagi perempuan sudah lebih rendah daripada laki-laki, sedang dipangkasi. Juga, pemberhentian sementara, pekerjaan yang tidak aman, dst., berarti kondisi-kondisi kehidupan yang memburuk dan ketidakpastian yang semakin besar bagi kaum buruh, yang memiliki dampak tak terperikan terhadap kaum buruh perempuan. Pada gilirannya, hal ini semakin menyulitkan perempuan untuk mencapai kemandirian finansial, dan dengan demikian mempersulit perempuan untuk meninggalkan hubungan-hubungan yang kejam kepada mereka.

Persoalan yang dihadapi perempuan bukan “sekadar” bersifat material. Penindasan telah tertanam di dalam sistem peradilan, di mana perempuan menghadapi undang-undang yang diskriminatif terhadap aborsi dan di mana pada umumnya perempuan dan kelompok-kelompok tertindas lainnya tidak diperlakukan sebagai yang setara.

Penindasan atas perempuan ditegakkan oleh kelas penguasa melalui ideologi, melalui media massa, sistem pendidikan, dst.

Ada juga persoalan tentang kekerasan terhadap perempuan dan penyiksaan seksual. Di Pakistan, para gadis diperkosa dan para perempuan dibunuh dalam “honor killing” (pembunuhan demi kehormatan).[1] Di Amerika Serikat satu dari enam perempuan harus bertahan menghadapi pemerkosaan atau upaya pemerkosaan dalam hidup mereka, sementara 99% pelaku pemerkosaan melenggang bebas.

Ini adalah isu-isu yang sedang dihadapi dan dilawan oleh perempuan. Di seluruh dunia, perempuan – dan laki-laki – telah turun ke jalan-jalan untuk bertarung melawan penindasan, pikiran dan mentalitas yang sempit, dan seksisme. Hal ini sangat positif dan mencerminkan sebuah kebangunan kesadaran dan radikalisasi. Akan tetapi hal ini juga memunculkan pertanyaan: Apa cara terbaik untuk berjuang melawan ketidaksetaraan?

IMT mendukung semua tuntutan atas kesetaraan. Kita berjuang melawan penindasan terhadap perempuan dan kelompok-kelompok teraniaya lainnya. Dalam pada itu, bagi kita, perjuangan demi pembebasan perempuan tidak bisa dipisahkan dari perjuangan melawan kapitalisme. Sebab penindasan adalah bagian yang melekat dalam masyarakat kelas, dan oleh karena itu hanya bisa diperangi sebagai bagian dari perjuangan kelas secara keseluruhan.

Adalah Internasionale Sosialis yang mendeklarasikan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional pada 1910 – suatu hari bagi tuntutan-tunutan perempuan. Pada waktu itu, salah satu isu utamanya adalah hak perempuan untuk memberikan suara dalam pemilihan umum. Perempuan dari kelas atas dan borjuis kecil, yang memimpin gerakan perempuan waktu itu, melihat perjuangan untuk mendapatkan hak suara adalah tujuan pada dirinya sendiri. Sementara itu, gerakan buruh memandang hak suara sebagai sarana untuk memperjuangkan kesetaraan dan pembebasan yang riil bagi semua perempuan. Itulah sebabnya para pemrakarsa Hari Perempuan menekankan bahwa hari itu adalah Hari Perempuan Pekerja.

Bagi perempuan kelas-kelas atas, perjuangan untuk kesetaraan adalah perjuangan untuk ambil bagian dalam hak-hak istimewa para laki-laki dari kelas mereka sendiri: hak untuk menjadi pengacara, dokter, perdana menteri, CEO, dsb. Sudah barang tentu kita membela hak perempuan untuk menjadi semuanya ini. Akan tetapi pada saat yang sama kita tahu bahwa bagi mayoritas luas perempuan prestasi-prestasi pribadi itu tidak mengubah jalannya dunia. Thatcher di Inggris, dan Angela Merkel di Jerman tidak membuat dunia menjadi lebih baik bagi perempuan. Justru sebaliknya! Seandainya Hillary Clinton menjadi presiden di AS pun, ia tidak akan mengubah dunia menjadi lebih baik bagi perempuan di AS, apalagi bagi perempuan di negeri-ngeri yang tunduk kepada intervansi imperialis AS.

Karier para politisi perempuan, CEO perempuan, dan akademisi perempuan didasarkan pada kerja perempuan yang dibayar murah, yang bekerja membersihkan, memasak, dan merawat anak-anak bagi mereka. Perempuan dalam elit masyarakat semuanya menuntut kesetaraan sampai saat Saudara mengajukan tuntutan untuk meningkatkan upah dan untuk memperbaiki kondisi-kondisi bagi kaum buruh perempuan yang dibayar rendah yang justru telah memungkinkan mereka mencapai karier yang hebat.

Banyak kemajuan telah diraih sejak Hari Perempuan yang pertama pada 1910. Di banyak negeri perempuan telah memenangkan hak atas suara, hak atas pendidikan, dan terdapat legislasi yang melarang kekerasan terhadap perempuan. Banyak negeri juga mempunyai undang-undang yang mengharuskan kesetaraan upah. Namun kita belum memiliki kesetaraan yang sejati. Bahkan di negeri-negeri dengan kesetaraan yang penuh di hadapan hukum, kita masih menyaksikan kekerasan dan penindasan, dan perempuan masih dibayar dalam jumlah yang secara signifikan lebih rendah daripada laki-laki di semua negeri. Kesetaraan formal tidak membereskan akar persoalan. Pada dirinya sendiri keseteraan formal juga tidak akan menyelesaikan persoalan. Penindasan memiliki akar-akarnya dalam masyarakat kelas, sebagaimana halnya pelecehan, kekerasan, seksisme, serta pikiran dan mentalitas yang sempit.

Kapitalisme adalah sebuah sistem yang didasarkan pada ekspolitasi terhadap kelas buruh. Segelintir orang di puncak masyarakat menjadi kaya melalui kerja yang tidak dibayar dari para buruh. Satu-satunya cara supaya mereka dapat mempertahankan kekuasaan adalah melalui kebijakan memecahbelah dan menguasai: mereka memecahbelah kaum buruh berdasarkan ras, bangsa, agama, orientasi seksual, gender, dan apa saja yang bisa mereka temukan. Melalui media mereka melakukan apa saja untuk menaburkan kebencian dan sovinisme.[2] Satu-satunya cara untuk memeranginya adalah melalui persatuan kelas pekerja dan metode-metode perjuangan kelas pekerja, yakni demonstrasi, pemogokan, dan mobilisasi massa.

Kapitalisme ada dalam sebuah lorong yang gelap. Ia tidak menawarkan jalan ke depan bagi buruh dan kaum muda. Hari ini separuh kekayaan dunia terkonsentrasi di tangan delapan orang semata. Persoalannya bukan karena semua dari delapan orang superkaya ini laki-laki. Persoalannya adalah sebuah sistem yang mengonsentrasikan kekayaan di tangan semakin dan semakin sedikit orang sementara hidup mayoritas luas semakin memburuk.

Jalan buntu dalam masyarakat ini sedang memproduksi kemarahan dan frustrasi yang meluas. Dari satu negeri ke negeri yang lain kita melihat kaum buruh dan pemuda turun ke jalan-jalan. Akan tetapi protes-protes ini telah mengenakan sebuah karakter yang berbeda dibandingkan di masa lalu. Semasa boom pasca Perang Dunia II, sistem dapat memberikan reforma. Hari ini reforma positif di dalam masyarakat kapitalis sudah dicoret dari agenda.

Hal ini adalah permulaan dari menyingsingnya fajar bagi rakyat. Memang bukan dalam cara yang dirumuskan dengan jelas, melainkan dalam suatu perasaan umum yang menolak untuk hidup lebih lama di dalam batas-batas masyarakat yang ada saat ini. Protes-protes tidak hanya mengibarkan tuntutan-tuntutan tentang isu-isu konkret, tapi juga mencuatkan hak atas martabat dan penghormatan – sebagaimana kita lihat dalam Musim Semi Arab, di mana perempuan memainkan bagian yang signifikan dalam perjuangan menggulingkan Mubarak dan dalam perjuangan itu juga mereka mengubah hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Adalah sebuah tanda yang pasti bahwa jalannya dunia sedang berubah ketika lapisan-lapisan yang paling tertindas, seperti perempuan, mulai bergerak dan maju ke garis depan perjuangan. Krisis kapitalis menggangsir stabilitas yang lama; masyarakat sedang runtuh dan dengan itu kebudayaan juga sedang mengalami kemerosotan. Kelas penguasa, karena putus asa dalam mempertahankan kekuasaannya, semakin bersandar pada seksisme, rasisme, dan bentuk-bentuk racun pemecahbelah lainnya. Akan tetapi kapitalisme tidak akan lenyap dengan sendirinya. Kapitalisme harus digulingkan melalui sebuah revolusi Sosialis.

Sebuah revolusi Sosialis akan mengintrodusir sebuah perekonomian yang terencana secara demokratis yang akan meletakkan basis material untuk mengakhiri ketidaksetaraan dan penindasan. Dalam sebuah perekonomian terencana, kekayaan yang diproduksi akan diperuntukkan bagi keuntungan mayoritas seluas-luasnya, bukan segelintir orang. Jam-jam kerja akan segera dikurangi, yang memberi kepada semua orang waktu untuk ambil bagian dalam mengelola masyarakat. Sumber-sumber daya yang dibutuhkan akan dialokasikan untuk kesejanteraan. Riset dan pendanaan akan didedikasikan untuk menyingkirkan beban pekerjaan domestik, seperti menyediakan perawatan, kesehatan, pendidikan, makanan, kebersihan, jasa-jasa komunal yang berkualitas tinggi namun murah, dan sejenisnya. 

Ini akan meletakkan basis material bagi perempuan dan laki-laki untuk dengan benar-benar bebas mengaktualiasikan potensi mereka sebagai manusia, tanpa kendala material apapun. Ketika basis material dari ketidaksetaran dan penindasan disingkirkan, basis sovinisme, seksisme, dan segala bentuk kesempitan pikiran dan mental akan mulai layu dan pada akhirnya dapat diakhiri.

Perjuangan demi hak-hak perempuan, perjuangan demi kesetaraan, adalah perjuangan untuk pembebasan umat manusia: suatu perjuangan untuk revolusi Sosialis!

 

[1] Honor Killing adalah pembunuhan atas seorang anggota keluarga, karena keyakinan para pelakunya bahwa yang bersangkutan telah mendatangkan aib kepada keluarga, atau telah melanggar prinsip-prinsip dari suatu komunitas atau agama.

[2] Sovinisme (Chauvinism): sikap atau faham yang mengunggulkan suatu bangsa, ras, atau jenis kelamin di atas bangsa, ras, atau jenis kelamin yang lain.