facebooklogocolour

Pesimisme kaum borjuasi

big heads hamburgPeringatan seratus tahun Revolusi Oktober memberi kesempatan pada ahli strategi Kapital untuk merenungkan sejarah dan khawatir akan masa depan mereka. Pada 15 Agustus, 2017, Martin Sandbu menulis di koran Financial Times:

“Kita memperingati dua hal tahun ini – 100 tahun Revolusi Rusia dan 10 tahun sejak krisis finansial global – dan kedua peringatan ini memiliki lebih banyak kesamaan daripada yang terlihat sekilas.”

“Krisis finansial global ... mengguncang sampai ke fondasinya model yang telah tampil menang dari Perang Dingin.”

“Komunisme yang mencekik yang dikembangkan oleh blok Soviet runtuh pada 1980an karena beban kontradiksi ekonomi dan politiknya sendiri. Kekacauan politik tahun lalu mendemonstrasikan bahwa kita sekarang sedang menyaksikan apakah ekonomi pasar bebas akan menderita nasib yang sama.” (Penekanan kami)

Dia melanjutkan:

“Pandangan Friedrich von Hayek kalau harga pasar yang fleksibel mengandung lebih banyak informasi dibandingkan dengan apa yang bisa dikumpulkan secara terpusat oleh mekanisme perencanaan apapun; dan bahwa pengambilan keputusan yang tersebar akan lebih efisien dibandingkan dengan otoritas negara [...]

“Namun gagasan ini terguncang keras oleh krisis finansial global, yang melemahkan klaim kalau kapitalisme finansial Barat adalah cara terbaik untuk mengorganisasi ekonomi.”

Dan dia menyimpulkan:

“Apa yang terjadi 10 tahun yang lalu pada bulan ini adalah realisasi mengerikan bahwa klaim-klaim finansial yang telah menggunung selama tahun-tahun boom sebelumnya ternyata keliru, bahwa produksi ekonomi masa depan yang mereka klaim ternyata tidak memadai untuk dihargai sepenuhnya.”

“ ... liberalisme pasar, pada gilirannya, mengkhianati mimpi yang telah ia janjikan. Perekonomian Barat hari ini jauh lebih miskin dibandingkan dengan tren yang diprediksi sebelum krisisi. Krisis dan konsekuensinya telah membuat kaum muda, khususnya, sangsi pada harapan kalau mereka akan punya peluang yang sama untuk hidup makmur seperti orang tua dan kakek-nenek mereka.”

“ ... sebuah sistem sosial dapat mengatasi kekecewaan untuk waktu yang lama. ... Tetapi ketika rakyat sudah tidak dapat lagi hidup makmur, dukungan ini akan runtuh.”

Sejumlah ahli kapitalis yang lebih serius mulai memahami bahwa resep-resep mereka selama 30 tahun terakhir sudah tidak lagi bekerja. Dalam sebuah artikel di koran Jerman Die Zeit di bawah tajuk “Neoliberalisme sudah mati” (Juni, 2016), kita diberitahu bahwa bahkan IMF telah mengakui kalau kebijakan-kebijakan mereka tidak menelurkan hasil yang mereka harapkan. Tetapi tentu saja, mereka tidak pernah menarik kesimpulan yang diperlukan.

Wolfgang Streek dari Institut Max Planck mendaftar semua masalah yang ada di bawah kapitalisme dalam sebuah artikel panjang di New Left Review yang berjudul “Bagaimana kapitalisme akan berakhir?” (Mei/Juni 2014), yang pada 2016 dia kembangkan menjadi sebuah buku. Dia mengatakan ada krisis legitimasi dalam sistem kapitalisme karena kapitalisme sudah tidak lagi menyediakan taraf hidup baik seperti dulu kala, dan rakyat oleh karenanya mulai mempertanyakan sistem ini. Ini menjelaskan ketidakstabilan elektoral yang dapat disaksikan di banyak negeri. Dia juga mengajukan pertanyaan apakah “sistem demokrasi” dapat menyediakan kebijakan yang dibutuhkan kapitalisme. Yang dia maksud adalah apakah kelas penguasa bisa memaksakan pada kelas buruh apa yang dibutuhkan oleh kelas borjuasi.

Dalam artikelnya Streek menyatakan bahwa kapitalisme “akan menggantung di udara untuk waktu yang cukup lama, mati atau hampir mati karena overdosis dirinya sendiri, tetapi tetap akan ada, karena tidak ada seorangpun yang punya kekuatan untuk menyingkirkan mayat busuk ini.” Ini deskripsi yang tidak buruk mengenai kondisi kapitalisme hari ini.

Martin Wolf, komentator ekonomi utama koran Financial Times, membalas Streek dalam sebuah artikel dengan judul yang menarik “The case against the collapse of capitalism” (2 November 2016), dan kenyataan bahwa Martin Wolf merasa harus merespons Streek adalah signifikan. Sungguh ahli strategi kapitalis memahami penyakit yang menjangkiti sistem mereka!

Lenin menjelaskan kalau kapitalisme tidak ditumbangkan maka ia akan selalu pulih dari krisis yang bahkan paling dalam. Bahkan pada 1930an ada periode pemulihan. Pers borjuis telah berbicara mengenai pemulihan setidaknya selama 7 tahun terakhir. Pada kenyataannya ini adalah pemulihan terlemah dalam sejarah dan sejumlah hal mengalir dari fakta ini.

Tentu saja sistem kapitalis masih punya cadangan yang besar. Bila kaum kapitalis merasa diri mereka terancam dengan kehilangan segalanya, mereka akan memperkenalkan kebijakan Keynesian. Tetapi cadangan ini bukannya tidak terbatas, dan cadangan ini telah digunakan dengan sangat cepat selama 10 tahun terakhir. Sebagai akibatnya, bila krisis selanjutnya tiba, dan ini niscaya akan tiba, kaum kapitalis akan ada dalam posisi yang jauh lebih lemah untuk bisa mengatasinya dibandingkan sebelumnya.

Mereka terus mengulang bahwa mereka telah mempelajari pelajaran 2008. Tetapi mereka juga mengatakan mereka telah belajar dari 1929. Dan seperti yang Hegel katakan, siapapun yang belajar sejarah harus menyimpulkan bahwa tidak ada seorangpun yang pernah belajar apapun dari sejarah.

Pada analisa terakhir, tidak peduli apapun yang dilakukan oleh kaum borjuasi, entah mereka mengadopsi kebijakan Keynesian, monetaris, proteksionis atau yang lainnya, mereka akan keliru. Di Zaman Pertengahan para pendeta biasa berkata: semua jalan menuju Roma. Sekarang kita bisa mengatakan, di bawah kapitalisme semua jalan menuju kehancuran.

Kesimpulan

Tidak lama yang lalu tampaknya tidak banyak terjadi di dunia. Diskusi perspektif dunia biasanya berkonsentrasi pada satu dua negeri saja. Tetapi sekarang proses revolusioner yang serupa sedang berlangsung di setiap negeri di dunia tanpa pengecualian, dengan intensitas yang berbeda-beda tentunya. Apa yang sedang kita diskusikan oleh karenanya adalah proses umum revolusi sedunia.

Bagi kaum Marxis diskusi perspektif ekonomi bukanlah sebuah pekerjaan akademik atau intelektual yang abstrak. Yang penting adalah pengaruh ekonomi terhadap perjuangan kelas dan kesadaran kelas. Tetapi karena kesadaran selalu terlambat di belakang peristiwa, akan selalu ada keterlambatan antara permulaan krisis ekonomi dan intensifikasi perjuangan kelas.

Kaum borjuasi, yang selalu berpikir secara empiris, tidak mampu melihat akumulasi kegeraman di bawah permukaan yang sedang meluap dengan diam-diam dan siap meledak. Mereka menepuk punggung masing-masing bahwa belum ada revolusi yang meledak. Setelah pulih dari syok awal krisis finansial, para bankir dan kapitalis kembali ke bisnis seperti biasa. Seperti pemabuk yang menari di tepi tebing, mereka melanjutkan karnaval sukaria mereka dalam meraup profit, yang bahkan semakin intens sementara taraf hidup rakyat semakin memburuk.

Trotsky menjelaskan apa yang dia sebut sebagai proses molekular revolusi. Dalam “Sejarah Revolusi Rusia” dia menunjukkan bahwa yang menentukan kesadaran massa bukan hanya krisis ekonomi, tetapi akumulasi kekecewaan yang telah menggunung selama periode sebelumnya. Kekecewaan massa menggunung dan tidak ada yang menyadari ini sampai akumulasi kekecewaan ini mencapai titik kritis dimana kuantitas berubah menjadi kualitas.

Sekarang tiba-tiba perasaan lega kelas penguasa digantikan dengan pesimisme dan kemurungan. Ada gejolak sosial dan politik di mana-mana, disertai dengan ketidakstabilan ekstrem dalam skala dunia dan perubahan mendadak dalam relasi dunia.

Bahkan bila ekonomi membaik, ini tidak akan segera mengubah kesadaran massa, yang telah terbentuk oleh memori berpuluh-puluh tahun stagnasi atau kemunduran taraf hidup. Pemulihan yang sangat lemah di AS menandai perbaikan yang sangat relatif, yang terbatas pada beberapa sektor saja. Ini tidak mempengaruhi kaum pengangguran di daerah “rustbelt” [kawasan industri di Midwest]. Dan di tempat lain, ini tidak seperti pemulihan yang sesungguhnya, dan ini tidak memulihkan kepercayaan pada sistem atau optimisme pada masa depan, tetapi justru sebaliknya.

Kita saksikan cerita yang sama tercerminkan dalam referendum Brexit. Ada banyak alasan mengapa rakyat Inggris memilih keluar dari UE. Tetapi satu alasan yang sangat penting terungkap dalam perbedaan regional yang sangat tajam antara utara dan selatan. Para bankir dan spekulator di London sangat diuntungkan oleh keanggotaan Inggris di UE, yang memberi mereka akses menguntungkan ke pasar finans Eropa. Tetapi keanggotaan UE ini tidak memberi keuntungan apapun bagi wilayah-wilayah miskin di Utara-Timur atau Wales, yang telah menderita proses deindustrialisasi selama puluhan tahun, penutupan tambang-tambang batu bara, pabrik baja dan galangan kapal.

Pertumbuhan kesenjangan

Di mana-mana ada kegeraman yang membara terhadap tingkat kesenjangan yang menjijikkan, dengan kekayaan yang menumpuk di selapisan kecil minoritas yang duduk di atas dan kemiskinan dan kesengsaraan bagi mayoritas di bawah. Kaum borjuasi yang serius mulai khawatir akan kecenderungan ini karena ini membahayakan kestabilan seluruh sistem. Di mana-mana ada kebencian mendalam terhadap kaum kaya. Banyak orang bertanya: bila ekonomi membaik, mengapa taraf hidup kami tidak membaik? Mengapa mereka masih memangkas tunjangan sosial, layanan kesehatan dan pendidikan? Mengapa yang kaya tidak membayar pajak? Dan mereka tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini.

Kaum borjuasi mulai cemas akan konsekuensi politik dari krisis ekonomi. Alih-alih menikmati pemulihan, kebanyakan kaum buruh hidupnya lebih buruk dibandingkan sebelum krisis. McKinsey Global Institute menemukan bahwa 65-70% “segmen pendapatan” di ekonomi-ekonomi maju mengalami stagnasi atau jatuh selama periode 2005-2014. Negeri-negeri seperti Italia semua segmen pendapatannya terpengaruh.   (Poorer Than Their Parents, McKinsey Global Institute)

Di negeri kapitalis paling kaya dan paling kuat, tidak ada peningkatan taraf kehidupan selama 40 tahun terakhir. Mayoritas rakyat Amerika taraf hidupnya telah menurut. Dan ini bukan pengecualian. Di semua negeri, generasi muda sekarang adalah generasi pertama sejak 1945 yang tidak akan memiliki taraf hidup yang lebih baik daripada orang tua mereka.

Polarisasi kekayaan di AS terus menjadi semakin parah. Dari 2000-2010 profit meningkat 80% dan upah 8%, sementara pendapatan rata-rata keluarga menurun 5%. Angka-angka ini menunjukkan bagaimana peningkatan profit dicapai dengan mengorbankan kelas buruh. (The Economist, What about the workers? May 25th 2011)

Statistik upah sebelum-pajak dan yang siap digunakan tidak memberikan gambaran yang sepenuhnya. Statistik ini tidak mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti jam kerja yang meningkat dan kasualisasi kerja (kerja kontrak atau kerja lepas), entah karena kontrak nol-jam (kerja lepas) atau pekerjaan temporer, dan pemangkasan tunjangan sosial. Semua ini menambah beban yang dirasakan oleh keluarga buruh.

Krisis ini memiliki efek yang paling menyakitkan dan langsung pada kaum muda. Untuk pertama kalinya generasi mendatang tidak akan memiliki taraf hidup yang sama seperti orang tua mereka. Ini memiliki konsekuensi politik yang serius. Di semua negeri, tekanan tak tertanggungkan yang dirasakan oleh kaum muda menemukan ekspresinya dalam radikalisasi politik yang tajam. Dalam semua masalah, kaum muda berdiri jauh lebih kiri dibandingkan keseluruhan masyarakat. Mereka jauh lebih terbuka pada gagasan-gagasan revolusioner dibandingkan lapisan-lapisan lain dan oleh karenanya adalah konstituen alami kita.

Pelajaran dari keruntuhan Stalinisme

Pada 1991 keruntuhan Uni Soviet mengubah alur sejarah. Pada saat itu, kaum borjuasi dan kaum reformis dalam gerakan buruh bersukacita. Mereka berbicara tanpa henti mengenai akhir sosialisme, akhir komunisme, dan bahkan akhir sejarah.

Apa yang Francis Fukuyama maksud dengan ujaran “sejarah telah berakhir” adalah akhir dari sosialisme dengan runtuhnya Uni Soviet. Oleh karenanya secara logis ini berarti satu-satunya sistem yang mungkin eksis adalah kapitalisme (ekonomi pasar bebas) dan dalam artian ini maka sejarah telah berakhir.

Apa yang mengejutkan mengenai runtuhnya Stalinisme adalah begitu cepatnya rejim yang tampaknya kokoh dan monolitik ini runtuh setelah mereka dihadapkan dengan gerakan massa di Eropa Timur. Ini adalah refleksi dari kebangkrutan internal dan kebusukan rejim Stalinis yang ada. Tetapi kebangkrutan dari kapitalisme yang uzur ini semakin jelas bagi jutaan rakyat.

Ketika Tembok Berlin runtuh Ted Grant memprediksikan bahwa bila kita lihat secara retrospektif keruntuhan Stalinisme adalah babak pertama dalam drama dunia yang akan diikuti oleh bahkan babak kedua yang lebih dramatik, yakni krisis global kapitalisme. Hari ini kita menyaksikan kebenaran dari pernyataan tersebut. Alih-alih kemakmuran universal, kita dapati kemiskinan, pengangguran, kelaparan dan penderitaan. Alih-alih perdamaian kita dapati perang yang susul menyusul.

Proses yang sama yang tiba-tiba merobohkan Stalinisme dapat terjadi di kapitalisme. Dari satu negeri ke negeri lain kita sedang saksikan guncangan-guncangan mendadak yang menguji ketahanan sistem kapitalisme dan mengekspos kelemahannya.

Institusi demokrasi borjuis, yang sebelumnya telah dipercaya dengan buta, kini mulai terdiskreditkan. Rakyat sudah tidak lagi percaya pada politisi, pemerintah, hakim, polisi, aparatus keamanan, dan bahkan Gereja. Seluruh sistem ini sudah dipertanyakan dan dikritik tajam.

Perwakilan WikiLeaks ditanya oleh TV Inggris: “Kamu serius percaya kalau badan intelijen AS berbohong?” Dia menjawab, “Mengapa tidak? Mereka selalu berbohong!” Inilah yang mulai dipercaya oleh banyak orang.

Organisasi massa: krisis reformisme

Krisis kapitalisme adalah juga krisis reformisme. Di mana-mana partai-partai politik tradisional – di Kiri maupun Kanan – sedang dalam krisis. Organisasi-organisasi yang tampaknya kokoh dan abadi sekarang memasuki krisis, mengalami kemunduran dan bahkan runtuh sepenuhnya. Partai-partai reformis yang telah berkolaborasi dengan pemerintah untuk meluncurkan pemotongan anggaran telah ditolak oleh basis pendukung tradisional mereka.

Dalam satu tingkatan atau lainnya, dan dengan kecepatan yang berbeda-beda, proses yang sama kita saksikan di seluruh Eropa. Seperti di Prancis, begitu juga di Belanda, dimana partai sayap-kanan Geert Wilders dikalahkan di pemilu. Kaum borjuasi bernapas lega. Tetapi yang lebih signifikan daripada kekalahan Wilders adalah kekalahan telak Partai Buruh Belanda, yang secara praktis tersapu habis. Partai ini kehilangan 75% pendukungnya.

Kebangkitan Partai Buruh Belgia juga merupakan perkembangan signifikan. Sekte eks-Maois ini sekarang adalah partai reformis kiri, walaupun ia mengklaim sebagai Marxis atau Komunis. Di Wallonia, wilayah yang berbahasa Prancis, Partai Buruh Belgia hanya ada di belakang Partai Sosialis. Begitu juga di Brussel. Di wilayah-wilayah merah, mereka dapat meraih sekitar 25% suara. Tetapi mereka juga mulai tumbuh di Flanders.

Massa sedang mencari dan menuntut perubahan. Mereka harus mencari ekspresi politik yang terorganisir untuk kemarahan mereka. Selama periode terakhir, massa Yunani telah melakukan segalanya dalam kekuatan mereka untuk berjuang mengubah masyarakat. Sudah ada banyak pemogokan massa, pemogokan umum dan demo-demo massa. Tetapi di sini kita terbentur pada satu masalah yang paling penting: faktor subjektif.

Dalam usaha mereka untuk mencari jalan keluar dari krisis, massa akan menguji satu opsi politik, dan membuangnya kalau tidak cocok, dan mencari opsi politik lainnya. Ini menjelaskan ayunan keras opini publik dari kiri ke kanan. Tetapi mereka tidak menemukan apa yang mereka cari. Orang-orang yang seharusnya memimpin – para politisi buruh, kaum sosial demokrat, para mantan-komunis, dan terutama para pemimpin serikat buruh – tidak ingin berjuang melawan pengetatan dan perubahan fundamental dalam masyarakat.

Trotsky menjelaskan kalau pengkhianatan adalah implisit dalam reformisme. Dengan ini dia tidak bermaksud mengatakan kalau semua kaum reformis mengkhianati kelas buruh dengan sengaja. Akan ada kaum reformis yang jujur, dan juga para pengejar karier dan birokrat yang busuk yang adalah agennya kaum borjuasi dalam gerakan buruh. Akan tetapi, bahkan kaum reformis kiri yang jujur tidak punya perspektif untuk transformasi sosialis. Mereka percaya kalau reforma yang dibutuhkan oleh buruh dapat dicapai dalam batasan kapitalisme. Mereka menganggap diri mereka realistis, tetapi di bawah kondisi krisis kapitalisme “realisme” mereka ini terekspos sebagai utopianisme yang paling buruk.

PASOK, yang selama puluhan tahun adalah partai massanya kelas buruh Yunani, runtuh karena pengkhianatannya dan partisipasinya dalam pemerintah yang melakukan pemotongan anggaran. Buruh lalu berpaling ke SYRIZA, yang sebelumnya adalah sebuah partai yang sangatlah kecil. Alexis Tsipras menjadi pemimpin politik paling populer di Yunani. Dia menggelar referendum, yang menanyakan “Apakah kita harus menerima pengetatan dari Frau Merkel?” dan ada respons yang masif.

Rakyat Yunani menolak sepenuhnya pengetatan dan menjawab tidak pada referendum ini (Gerakan Oxi). Tidak hanya buruh tetapi juga kelas menengah, sopir taksi dan bisnis-bisnis kecil. Pada saat itu Tsipras bisa saja mengatakan: “Kita tidak akan membayar sepeserpun pada gangster-gangster ini! Cukup! Kita akan mengambil kekuasaan ke tangan kita sendiri dan menyerukan kepada kaum buruh Spanyol, Italia, Jerman dan Inggris untuk mengikuti contoh kita. Kita harus berjuang melawan kediktatoran para bankir dan kapitalis, dan berjuang untuk Eropa yang sepenuhnya sosialis demokratik.”

Bila saja dia mengatakan ini, dia pasti akan menerima dukungan besar. Rakyat akan bersorak-sorai di jalan-jalan. Dan rakyat Yunani akan siap berkorban untuk mendukung pemimpin mereka – dengan satu syarat: bahwa mereka percaya kalau mereka sedang berjuang untuk keadilan dan pengorbanan mereka akan sama untuk semua orang. Tsipras dapat mengangkat jarinya dan kapitalisme akan berakhir di Yunani. Dia bisa menyita para bankir dan kapitalis.

Tetapi Tsipras bukanlah seorang Marxis. Dia adalah seorang reformis dan oleh karenanya tidak pernah terbayangkan olehnya untuk mendasarkan dirinya pada kekuatan massa. Dia menyerah pada Berlin dan Brussel, dan menandatangani perjanjian yang bahkan lebih buruk daripada yang pertama kali ditawarkan, yang lalu menyebabkan demoralisasi besar dan runtuhnya dukungan terhadap SYRIZA. Tetapi dia masih bisa bertahan karena tidak ada alternatif lain.

Proses ini juga mempengaruhi Spanyol, yang sedang melalui krisis politik yang dalam. Seperti bangkitnya SYRIZA di Yunani, kebangkitan pesat PODEMOS juga merupakan refleksi jelas dari kekecewaan massa terhadap partai-partai lama dan kehendak massa akan perubahan. Tetapi kebijakan kepemimpinan PODEMOS yang membingungkan dan bimbang menyebabkan kekecewaan di antara massa bahkan sebelum mereka berkuasa. Pablo Iglesias bermain-main dengan Sosial Demokrasi, dan ini menyebabkan jatuhnya dukungan untuk Podemos dan perpecahan tajam di antara pemimpinnya.

Sekarang para pemimpin PODEMOS menoleh ke kanan, ke arah PSOE [Partai Buruh Sosialis Spanyol, sebuah partai sosial demokrat], dengan harapan mencapai semacam kesepakatan untuk menyingkirkan rejim Rajoy. Ini telah mendorong mereka untuk memoderasi bahasa mereka, dan mereka ada di bawah tekanan besar untuk tampil sebagai “negarawan yang terhormat”. Ini akan semakin membingungkan para pendukung mereka.

Pemimpin baru PSOE, Pedro Sanchez, adalah cerminan paling pucat dari Jeremy Corbyn dan Melenchon. Akan tetapi, karena dia mengajukan rencana untuk membentuk pemerintahan koalisi dengan Podemos dan kaum nasionalis Catalan, kelas penguasa Spanyol berusaha menyingkirkannya. Ini ditolak oleh anggota PSOE dalam pemilihan internal partai, yang mengembalikan Pedro Sanchez sebagai sekretaris jendral partai.

Kasus-kasus di atas adalah beragam varian dari proses yang sama. Di mana-mana partai-partai reformis dan eks-Stalinis ada dalam krisis. Beberapa dari mereka telah mengalami perpecahan, sementara yang lainnya menghilang sepenuhnya (Italia adalah kasus ekstrem dari semua ini, dimana partai-partai sosialis dan komunis telah menghilang). Kita juga saksikan munculnya formasi-formasi politik baru, seperti SYRIZA dan PODEMOS.

Seperti busa ombak lautan, formasi-formasi ini adalah refleksi dari arus bawah yang dalam dan kuat. Akan tetapi formasi-formasi ini tidak memiliki basis kelas buruh dan serikat buruh yang stabil. Sebagai akibatnya, dan juga karena komposisi mereka yang terutama borjuis-kecil, formasi-formasi ini secara inheren tidak stabil dan dapat runtuh secepat mereka bangkit.

Contoh Corbyn di Inggris sampai sekarang adalah pengecualian. Seperti yang telah kita jelaskan, perkembangan ini bersifat aksidental, dan seperti yang dijelaskan oleh Hegel, sebuah aksiden atau kebetulan yang merefleksikan keniscayaan. Sisi kuat dari gerakan Corbyn adalah ia telah menjadi titik rujukan untuk akumulasi kegeraman rakyat, terutama kaum muda. Sisi lemahnya akan terungkap ketika batas-batas program reformis kiri teruji dalam pemerintahan Buruh.

Ini berarti taktik kita harus fleksibel setiap saat, yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi konkret dan tingkat kesadaran kelas buruh, dan terutama lapisannya yang paling aktif dan maju. Di semua kasus ini pendekatan kita harus selalu sama: dukungan kritis.

Kita akan mendukung kaum reformis kiri dalam perjuangannya melawan sayap kanan, dan selalu mendorong mereka untuk bergerak lebih jauh. Tetapi pada saat yang sama kita harus menjelaskan dengan sabar kepada buruh dan kaum muda yang maju bahwa program reformis ada limitasinya, selama program ini tidak bertujuan menumbangkan kapitalisme dan hanya mengubahnya dari dalam. Ini adalah sebuah kebijakan utopis yang, terlepas dari niat baik para pendukungnya, di bawah kondisi krisis kapitalisme hanya akan mengarah ke kekalahan dan menyiapkan jalan bagi kebangkitan sayap kanan.

Radikalisasi kaum muda

Calif demo 2012 4RESIZEKetidakstabilan politik dan sosial menyapu seperti api dari satu negeri Eropa ke negeri lainnya. Perubahan kesadaran ini terefleksikan dalam survei opini yang diterbitkan oleh Quartz pada 28 April 2017. Ini adalah bagian dari survei yang disponsor oleh Uni Eropa, yang berjudul “Generasi apa?” Sekitar 580.000 responden dari 35 negeri ditanya: “Apakah kamu akan berpartisipasi secara aktif dalam pemberontakan skala besar melawan generasi yang berkuasa bila ini berjadi dalam beberapa hari atau bulan ke depan?” Lebih dari setengah responden berumur 18-34 tahun menjawab iya. Artikel ini menyimpulkan: “Kaum muda Eropa muak dengan status quo di Eropa. Dan mereka siap turun ke jalan untuk mengubahnya.”

Laporan ini lalu fokus pada responden dari 13 negeri untuk lebih memahami apa yang membuat kaum muda Eropa optimis dan frustrasi. Di antara negeri-negeri ini, kaum muda Yunani  “paling tertarik bergabung dalam pemberontakan skala-besar melawan pemerintah mereka, dengan 67% menjawab iya.” Responden Yunani juga lebih banyak yang percaya kalau politisi adalah orang-orang korup dan punya persepsi negatif terhadap sektor finans.”

Kaum muda di Italia dan Spanyol menyusul, dengan 65% dan 63% siap bergabung dengan pemberontakan skala-besar. Di Prancis, sebuah negeri dimana revolusi terpatri dalam DNAnya, 61% kaum muda menjawab iya. Tetapi bahkan di Belanda, yang sampai saat ini luput dari krisis, sepertiga kaum muda setuju dengan pernyataan ini. Jerman 37% dan Austria hampir 40%.

Selama kampanye pemilu, kaum muda Prancis mengorganisir rally di Rennes dan kota-kota lain untuk memprotes kedua capres (Macron dan Le Pen). Sejumlah demonstran memblokade sekolah-sekolah, sementara yang lainnya turun ke jalan menuju pusat kota dengan poster bertuliskan “Tendang keluar Le Pen, bukan imigran: dan “Kami tidak ingin Macron atau Le Pen.” Laporan ini mencatat bahwa responden dari Prancis mengeluh mengenai perkembangan negatif di Prancis, seperti terlalu banyak korupsi, terlalu banyak pajak, terlalu banyak orang kaya, dibandingkan dengan seluruh UE.

Statistik ini adalah indikasi bahwa perubahan yang signifikan sedang berlangsung. Laporan ini menyimpulkan: “Apati pemilu di antara kaum muda telah lama dianggap sebagai tren yang mengkhawatirkan. Di Inggris misalnya, tingkat partisipasi kaum muda di pemilu jatuh 28 persen, dari 66 persen pada 1992 ke 38 persen pada 2005. Tetapi menurunnya partisipasi elektoral tidak selalu berarti apati politik.”

Masalah kepemimpinan

Beberapa orang yang berpikiran dangkal bertanya: “Kalau memang situasinya buruk, mengapa tidak ada revolusi?” Kelas penguasa menyelamati diri mereka sendiri karena belum ada revolusi, karena awalnya mereka cemas akan skenario terburuk ini. Dan karena yang terburuk tidak segera terwujud, mereka merasa lega dan kembali ke pesta pora meraup profit mereka, sementara kelas buruh melihat taraf hidup dan masa depan mereka remuk. Dalam kata lain mereka bertingkah seperti orang yang menggergaji ranting di mana dia berdiri.

Pada kenyataannya tidak ada yang mengejutkan mengenai keterlambatan proses revolusi. Selama puluhan tahun kaum bankir dan kapitalis telah membangun benteng yang kokoh untuk melindungi sistem mereka. Mereka mengendalikan pers, radio dan televisi. Mereka menikmati sumber daya finans tak terbatas, yang mereka gunakan untuk membeli jasa partai-partai politik, tidak hanya partai kanan tetapi juga “Kiri”, dan juga untuk membeli banyak pemimpin serikat buruh yang “bertanggung jawab”. Mereka dapat mengandalkan dukungan dari para profesor universitas, pengacara, ekonom, pendeta dan kebanyakan lapisan intelektual yang berprivilese. Dan bila semua ini gagal, mereka selalu dapat menggunakan baton polisi, para hakim dan sistem penjara.

Tetapi ada satu lagi rintangan yang jauh lebih kuat. Kesadaran manusia, tidak seperti yang dibayangkan oleh kaum idealis, adalah sesuatu yang konservatif, dan jelas tidak revolusioner. Kesadaran manusia secara inheren dan mendalam konservatif. Kebanyakan orang takut akan perubahan. Di bawah kondisi normal mereka berpegang erat apa yang akrab dengan mereka: gagasan, partai, pemimpin, agama yang lazim bagi mereka. Ini alami dan merefleksikan insting preservasi diri. Ini datang dari masa ketika kita hidup di gua-gua dan takut akan celah-celah gelap dimana binatang buas bermukim.

Ada sesuatu yang nyaman dalam rutinitas, kebiasaan dan tradisi, dalam menjalani alur lama yang kita kenal dengan baik. Umumnya, manusia hanya akan menerima gagasan perubahan di atas basis peristiwa-peristiwa besar yang mengguncang masyarakat sampai ke fondasinya, yang mengubah kesadaran manusia dan memaksa manusia untuk melihat hal ihwal sebagaimana adanya. Ini tidak terjadi perlahan-lahan, tetapi dengan cara yang eksplosif. Dan inilah yang sedang kita saksikan hari ini di mana-mana. Kesadaran mulai mengejar ketertinggalan dengan lompatan.

Masalah yang paling penting adalah masalah kepemimpinan. Pada 1914, para petinggi militer Jerman menggambarkan tentara Inggris di Prancis dengan ungkapan demikian: “Singa yang dipimpin oleh keledai.” Dan ini adalah deskripsi yang cocok untuk kelas buruh di mana-mana. Para pemimpin reformis memainkan peran yang paling buruk, berpegang erat pada “pasar bebas” bahkan ketika kapitalisme sedang runtuh di sekeliling mereka.

Kaum reformis sayap-kanan sangatlah korup. Mereka telah menanggalkan pretensi mereka untuk berdiri demi sosialisme puluhan tahun yang lalu dan menjadi pelayan kapitalis yang paling setia. Mereka siap mengemban tanggung jawab memotong tunjangan sosial dan menyerang taraf hidup rakyat guna membela kapitalisme. Tetapi dengan melakukan ini mereka mendiskreditkan diri mereka di mata rakyat yang sebelumnya mendukung mereka.

Ada logika dalam proses ini. Selama periode kenaikan kapitalisme, konsesi dapat diberikan kepada kelas buruh, terutama di negeri-negeri kapitalis maju di Amerika Utara, Eropa dan Jepang. Tetapi dalam periode krisis kaum borjuasi mengatakan mereka sudah tidak bisa lagi memberi reforma. Sebaliknya, mereka menuntut dihapuskannya reforma-reforma yang telah sebelumnya dimenangkan sejak 1945. Bagi massa, reformisme dengan reforma adalah masuk akal. Tetapi reformisme tanpa reforma, atau bahkan reformisme dengan kontra-reforma, sama sekali tidak masuk akal.

Periode panjang kenaikan kapitalisme yang menyusul akhir Perang Dunia Kedua menandai segel terakhir degenerasi Sosial Demokrasi. Degenerasi ini telah mempenetrasi dalam kaum Sosial Demokrati. Kebanyakan aktivis lama dalam partai-partai dan serikat-serikat buruh sosial demokratik telah terdemoralisasi oleh periode sebelumnya. Mereka patah semangatnya, penuh kebingungan dan teramat skeptis. Mereka sama sekali terpisah dari mood kelas buruh yang sesungguhnya dan tidak lagi mencerminkan kelas buruh.

Lapisan aktivis ini tidak pernah memahami apapun. Mereka tidak mewakili masa kini ataupun masa depan. Mereka hanyalah refleksi dari demoralisasi kekalahan-kekalahan masa lalu. Situasi ini bahkan lebih parah lagi dengan para eks-Stalinis, yang sama sekali telah mencampakkan perspektif sosialis atau insting kelas revolusioner yang mungkin pernah mereka miliki dulu. Beberapa dari mereka kembali aktif lagi ketika perjuangan kelas bangkit. Tetapi kebanyakan reformis kiri dan eks-Stalinis ini begitu dipenuhi skeptisisme sehingga mereka adalah rintangan bagi kaum buruh dan kaum muda militan yang sedang mencari jalan ke revolusi sosialis.

Posisi kita sebagai sebuah organisasi revolusioner tidak dapat ditentukan atau dipengaruhi oleh prasangka-prasangka lapisan ini. Taktik kita didasarkan pada situasi riil, yakni krisis organik kapitalisme, yang pada gilirannya melahirkan generasi pejuang baru, yang akan jauh lebih revolusioner dibandingkan generasi sebelumnya. Kita harus mendasarkan diri kita pada kaum muda: mahasiswa dan pelajar, dan terutama kaum buruh muda yang dengan kejam tereksploitasi dan sangatlah terbuka pada gagasan revolusioner.

Kita sedang memasuki sebuah periode yang dipenuhi dengan guncangan dan perubahan yang mendadak, yang mempengaruhi semua negeri tanpa pengecualian. Politik tengah sedang runtuh di mana-mana dan ini adalah refleksi polarisasi kelas yang semakin menajam. Dimana sebelumnya ada kestabilan politik, kini telah digantikan dengan ketidakstabilan. Hasil pemilu mengantar kita dari satu guncangan ke guncangan lain, dengan ayunan tajam ke kanan dan ke kiri. Hal-hal yang tidak semestinya terjadi sekarang terjadi. Oleh karenanya kita harus bersiap menghadapi perubahan-perubahan besar, yang dapat terjadi lebih cepat daripada yang kita bayangkan. Bila kaum Kiri mengecewakan aspirasi rakyat, akan ada pergeseran ke kanan, yang pada gilirannya hanya akan mempersiapkan ayunan yang lebih besar ke kiri

LTKita harus mengikuti proses ini sebagaimana ia bergulir. Kita harus mempersenjatai diri kita dengan kesabaran revolusioner, karena kita tidak mungkin bisa memaksakan jadwal kita pada peristiwa-peristiwa yang harus mengikuti alur mereka sendiri menurut kecepatan mereka sendiri. Tetapi kita harus siap sedia untuk perubahan tajam dan mendadak, yang implisit dalam keseluruhan situasi. Peristiwa-peristiwa raksasa dapat mengunjungi kita lebih cepat daripada yang kita bayangkan. Tidak ada ruang untuk berpangku tangan. Kita harus membangun kekuatan IMT secepat mungkin. Kita harus memiliki perasaan urgensi. Kita ada di jalan yang tepat. Kita harus membuktikan diri kita dalam aksi dan dalam praktik agar bisa menjadi pewaris sesungguhnya tradisi 1917, Lenin dan Trotsky, dan revolusi Bolshevik.

Kita harus memiliki keyakinan absolut terhadap kelas kita, kelas buruh, satu-satunya kelas yang kreatif, kelas yang menciptakan semua kekayaan dalam masyarakat, dan satu-satunya kelas revolusioner yang menggenggam nasib umat manusia dalam tangannya. Kita harus memiliki keyakinan total akan gagasan Marxisme, dan yang tidak kalah pentingnya, kita harus yakin pada diri kita sendiri: keyakinan absolut bahwa, dengan dipersenjatai gagasan Marxisme, kita akan membangun kekuatan yang diperlukan untuk memimpin perjuangan untuk mengubah masyarakat, untuk mengakhiri rejim yang penuh dengan kekejaman, ketidakadilan, eksploitasi dan perbudakan ini, dan mengantarkan umat manusia ke kemenangan sosialisme di seluruh dunia.

Turin, 7 Februari 2018