Dokumen Perspektif Dunia IMT 2020 DraftSelama satu bulan terakhir, bursa-bursa saham seperti Dow Jones dan FTSE telah kehilangan lebih dari 25 persen nilai mereka. Sementara, roda ekonomi dunia berhenti. Pengangguran meningkat di semua negeri. Kapitalisme sedang dalam krisis di seluruh dunia. Kelas penguasa menyalahkan virus Corona baru sebagai biang kerok krisis ekonomi. Tetapi sesungguhnya virus ini hanya memunculkan ke permukaan kontradiksi-kontradiksi yang telah terkumpul selama puluhan tahun di dalam sistem kapitalisme.

Ini akan membuka periode sejarah baru yang penuh dengan pergolakan dan perjuangan kelas yang intens. Draf dokumen perspektif dunia di bawah ini disusun pada musim gugur 2019 dan disetujui oleh Komite Eksekutif Internasional IMT (International Marxist Tendency) pada Januari 2020. Walau disusun sebelum meledaknya krisis Covid-19, dokumen ini memaparkan semua kontradiksi yang kini meledak dalam krisis sekarang. Kami anjurkan kepada para pembaca kami untuk membaca dokumen ini agar lebih memahami situasi yang ada sekarang.

------------

“Manifesto Komunis” dibuka dengan kalimat yang terkenal ini: “Ada hantu berkeliaran di Eropa.” Ini ditulis pada 1848, tahun pergolakan revolusioner di Eropa. Tetapi sekarang ada hantu berkeliaran, tidak hanya di Eropa, tetapi seluruh dunia. Ada hantu revolusi. Revolusi dunia bukan hanya sebuah frasa hampa. Ini secara akurat menggambarkan tahapan baru yang tengah kita masuki.

Mari kita tengok peristiwa-peristiwa selama 12 bulan terakhir. Pergolakan revolusioner meledak di Prancis, Catalonia, Iran, Sudan, Algeria, Tunisia, Hong Kong, Ekuador, Chile, Haiti, Irak dan Lebanon, dimana massa turun ke jalan dan pemogokan umum melumpuhkan bangsa. Di Venezuela, kita saksikan kekalahan kudeta kontra-revolusioner yang dibeking imperialisme AS.

Di Prancis, gerakan Rompi Kuning mengejutkan semua komentator borjuis. Sebelum kebangkitan massa ini, semuanya tampak berjalan sesuai dengan rencana “politik tengah” dalam pribadi Emmanuel Macron. Reforma-reformanya (yang dalam kenyataan adalah kontra-reforma) lolos dengan mulus. Pemimpin-pemimpin serikat buruh bersikap penuh tanggung jawab (yakni menyerah). Ini secara kasar diinterupsi ketika massa turun ke jalan seturut tradisi revolusioner terbaik Prancis dan mengguncang pemerintah sampai ke sumsumnya. Gerakan jutaan rakyat ini tampak jatuh dari langit seperti petir di siang bolong.

Begitu juga di Hong Kong. Siapapun yang ragu akan potensi revolusioner yang ada hari ini harus mempelajari peristiwa-peristiwa ini secara seksama. Sebelum ini, penguasa di Beijing dan agen-agen lokal mereka di Hong Kong tampak memiliki kendali penuh. Namun di sini kita saksikan gerakan massa dengan jutaan partisipan, yang turun ke jalan menantang kediktatoran yang kokoh ini. Dan seperti gerakan di Prancis, ini tampaknya tiba-tiba muncul entah dari mana. Hal yang sama juga kita temui di setiap gerakan massa yang meledak dari satu negeri ke negeri lain.

Trotsky pernah menulis bahwa teori adalah keunggulan wawasan atas keterkejutan. Manifestasi kekecewaan massa yang tiba-tiba dan penuh kekerasan selalu mengejutkan kaum borjuasi dan “para ahli” bayaran mereka. Ini karena “para ahli” borjuis tidak punya teori (kecuali teori kalau semua teori itu tidak berguna) dan oleh karenanya selalu terkejut ketika peristiwa meledak di depan mata mereka. Kaum empiris borjuis yang dangkal hanya bisa melihat hal ihwal dari permukaannya (“fakta”). Mereka tidak peduli melihat melampaui permukaan, untuk mengungkapkan proses-proses yang lebih dalam yang tengah bekerja di mana-mana.

Bila ini hanya terjadi di satu atau dua negeri saja, bisa saja ini hanya fenomena aksidental, episode sementara, dan tidak ada kesimpulan umum yang bisa ditarik darinya. Tetapi ketika kita menyaksikan proses yang persis sama terjadi dari satu negeri ke negeri lain, kita tidak bisa lagi mengabaikannya sebagai kecelakaan semata. Sebaliknya, perkembangan-perkembangan ini adalah sebuah manifestasi dari proses umum yang sama, yang mencerminkan hukum dan tendensi yang sama.

Proses Molekular Revolusi

Di masa depan, periode yang sedang kita lalui sekarang akan dilihat sebagai momen perubahan fundamental, sebuah titik balik dalam keseluruhan situasi. Belum lama yang lalu, pernyataan ini tampaknya terbantah oleh fakta. Perekonomian dunia tampak bergerak lambat. Tetapi sekarang peristiwa bergerak dengan teramat pesat. Hanya metode dialektika Marxisme yang dapat menyediakan penjelasan rasional atas proses-proses yang tidak bisa dipahami oleh kaum empiris borjuis.

Bagaimana kita menjelaskan fenomena ini? Apa yang mereka wakili? Para pengamat superfisial dan kaum empiris dibingungkan oleh peristiwa-peristiwa yang tidak mereka antisipasi dan tidak mereka pahami akarnya. Dialektika mengajarkan kita bahwa, cepat atau lambat, hal ihwal berubah menjadi kebalikannya. Contoh yang baik adalah Inggris. Enam tahun yang lalu, Inggris dilihat sebagai negeri yang paling stabil di Eropa, bahkan dunia. Sekarang negeri ini sudah berantakan dan barang kali adalah negeri paling tidak stabil di Eropa. “Sang ibu parlemen” dulunya terkenal akan ketenangan dan kedamaiannya, tetapi tiba-tiba diguncang krisis, perpecahan dan chaos.

Untuk sungguh memahami proses-proses di bawah permukaan ini, metode analisa dialektika sungguh diperlukan. Kaum borjuasi tidak pernah bisa memahami dialektika; kaum reformis bahkan lebih parah. Kita bahkan tidak perlu berbicara mengenai kaum sektarian, karena mereka tidak memahami apapun. Mereka tidak punya perspektif sama sekali dan inilah alasan utama mengapa mereka semua ada dalam krisis.

Trotsky adalah yang pertama menulis ungkapan yang luar biasa ini: “proses molekular revolusi.” Cukup berguna untuk mengkaji ungkapan ini. Trotsky berbicara mengenai dialektika, dan tanpa pemahaman dialektika, kita tidak akan bisa memahami apapun. Proses perubahan kesadaran massa biasanya berlangsung perlahan-lahan. Kesadaran tumbuh perlahan, tak terlihat, tetapi juga niscaya, sampai akhirnya kesadaran mencapai titik balik dimana kuantitas berubah menjadi kualitas, dan segalanya berubah menjadi kebalikannya.

Selama periode yang panjang, ini terekspresikan sebagai akumulasi pelan kekecewaan, kemarahan, kegeraman, dan terutama, rasa frustrasi di bawah permukaan. Di sana dan di sini, ada gejala dan sinyal-sinyal kecil, yang hanya bisa dipahami oleh pengamat terlatih yang dapat melihat makna yang tersirat. Tetapi ini tidak bisa dipahami sama sekali oleh kaum empiris yang, walaupun selalu menuntut “fakta”, buta akan proses-proses yang lebih dalam yang berlangsung di bawah permukaan.

Sang filsuf Heraclitus menyatakan kebenciannya terhadap kaum empiris, saat dia menulis secara sarkastik: “Mata dan telinga adalah saksi yang buruk untuk orang-orang yang punya jiwa yang tidak memahami bahasanya.” Tidak peduli berapa banyak fakta dan statistik yang mereka kumpulkan, mereka selalu luput dari kesimpulan yang tersirat.

Sejak krisis 2007-2008, ada sebuah proses akumulasi kekecewaan secara perlahan. Krisis ini mewakili titik pecah fundamental dalam keseluruhan situasi secara internasional. Dan ini sungguh adalah titik pecah. Hari ini kita dapat menyaksikan proses molekular revolusi yang dibicarakan Trotsky. Ini adalah proses yang tak tampak, dan diam. Ini adalah sesuatu yang tak dapat diraba, karena ini berlangsung di bawah permukaan. Tetapi ini terus ada, terus menggali seperti tikus tanah.

Di Prancis, sejak Oktober 2018 dan awal gerakan Rompi Kuning, kita saksikan dengan jelas potensi revolusioner yang eksis. Bahkan Brexit, dengan caranya yang unik, menunjukkan proses yang sama. Di Italia, ada atmosfer yang sama, mood menentang status quo yang begitu dalam. Tetapi kita juga saksikan bagaimana apa-yang-disebut Kiri sepenuhnya gagal menjadi ekspresi terorganisir dari mood revolusioner yang ada.

Perubahan yang tajam dan tiba-tiba adalah implisit dalam situasi hari ini. Ledakan-ledakan yang tiba-tiba macam ini adalah gejala arus bawah dari kemarahan dan kekecewaan jutaan massa yang terakumulasi dan diarahkan ke tatanan hari ini. Mereka adalah tanda yang jelas bahwa sistem kapitalisme tengah memasuki krisis dalam secara internasional. Mereka adalah gempa-gempa kecil yang mendahului gempa besar.

“Ekonomi yang terkonsentrasi”

Lenin mengatakan bahwa politik adalah ekonomi yang terkonsentrasikan. Pada analisa terakhir, ekonomi adalah faktor penentu – bila ada perspektif boom ekonomi yang panjang dan berkesinambungan, ini akan mengubah situasi, kaum borjuasi akan punya ruang untuk bermanuver dan memberi konsesi pada kelas buruh. Tetapi perspektifnya bukan demikian.

Masalah ekonomi telah diulas dengan luas di dokumen-dokumen sebelumnya, jadi kami akan membatasi diri pada update singkat. Diskusi mengenai ekonomi tentu saja sangat penting, tetapi ekonomi bukanlah satu-satunya faktor.

Bagi kaum Marxis, ekonomi penting karena pengaruhnya terhadap kesadaran. Tetapi kesadaran sangatlah lentur. Umumnya, kesadaran sangatlah konservatif, yang dibentuk bukan hanya oleh kondisi-kondisi masa kini, tetapi juga dengan sangat kuat oleh masa lalu. Ambil saja kesadaran buruh di negeri-negeri kapitalis maju, seperti Eropa dan Amerika Utara. Ini dibentuk oleh puluhan tahun kenaikan ekonomi kapitalis.

Tentu saja bahkan selama periode tersebut ada masa ekspansi (boom) dan juga kemerosotan (slump). Tetapi kemerosotan ini (atau yang juga disebut resesi) dangkal dan tidak berlangsung lama, dan biasanya disusul dengan pemulihan yang serius. Kondisi-kondisi material inilah – tingkat pengangguran yang rendah, taraf hidup yang membaik dan reforma-reforma yang signifikan dalam pensiun, pelayanan kesehatan dan pendidikan – yang lalu meningkatkan secara besar ilusi terhadap kapitalisme. Inilah alasan utama terlambatnya revolusi sosialis di negeri-negeri kapitalis maju, dan keterisolasian Marxisme selama periode tersebut.

Ini terutama benar di Amerika Serikat, ketika kapitalisme tampaknya memberikan kesejahteraan. Oleh karenanya, kaum buruh melihat di sekeliling mereka dan mengatakan: “Situasi saya tidak buruk” dan ketika mereka melihat ke rejim-rejim birokratik dan totaliter di Rusia, Eropa Timur dan China, apa yang mereka lihat membuat mereka muak. Kapitalis dapat mengatakan, “Lihat! Inilah sosialisme – kau ingin ke sana?” Dan buruh menggelengkan kepala mereka dan mengatakan: “Lebih baik bersama dengan setan yang kau kenal ...”

Konsesi-konsesi yang diberikan pada saat itu juga menjelaskan kekuatan besar reformisme di Eropa Barat. Kaum reformis mengantarkan reforma-reforma penting, seperti National Health Service di Inggris (pelayanan kesehatan gratis bagi semua rakyat). Tetapi sekarang, secara dialektik, segalanya telah berubah menjadi kebalikannya. Krisis kapitalisme juga menjelma menjadi krisis reformisme.

“Pemulihan” yang pucat pasi

Jurnal-jurnal finansial memberitahu kita kalau pemulihan hari ini adalah yang paling lama dalam sejarah. Tetapi mereka lupa menambahkan kalau ini juga adalah pemulihan yang paling lemah dalam sejarah. Perekonomian dunia, menurut IMF, telah berpindah dari situasi dimana dua tahun yang lalu 75 persen ekonomi global ada dalam kondisi pertumbuhan yang sinkron ke situasi hari ini dimana 90 persen melambat secara bersamaan, dengan pertumbuhan paling lambat dalam satu dekade.

Walaupun ekonomi tampaknya bergerak maju dan semuanya tampak beres, dalam artikel dari para ahli ekonomi borjuis yang serius bisa kita temui nada kekhawatiran, yang dengan cepat berubah menjadi ketakutan. Pemulihan yang ada lemah dan rapuh, dan satu guncangan kecil saja bisa mendorong ekonomi ini ke bibir jurang. Hampir apapun bisa memprovokasi kepanikan: kenaikan suku bunga AS, Brexit, benturan dengan Rusia, memburuknya perang dagang antara AS dan China, perang di Timur Tengah yang mengakibatkan kenaikan harga minyak bumi, dan bahkan cuitan bodoh dari Gedung Putih (dan kita tidak kekurangan cuitan bodoh seperti ini).

Jerman adalah kekuatan pendorong utama perekonomian Eropa. Tetapi pada Juni 2019, produksi industri Jerman menderita penurunan terbesarnya dalam sepuluh tahun terakhir, yang merupakan indikasi jelas akan buruknya kemerosotan manufaktur di perekonomian terbesar Eropa. AS dan China juga mengalami pelambatan ekonomi. Ini pada gilirannya adalah refleksi dari kelemahan perekonomian dunia, dimana perdagangan dunia, menurut WTO, diproyeksikan tumbuh hanya 1,2 persen pada 2019, yakni hanya separuh dari proyeksi awal.

Sekarang semua ahli ekonomi yang serius menyanyikan lagu yang berbeda. Kata “resesi” bisa dibaca di semua halaman. “Perekonomian global tengah berdiri di tepi jurang,” tulis Financial Times. Bursa-bursa saham yang naik turun adalah indikasi kegelisahan kaum kapitalis. Tentu saja mustahil memprediksi tanggal berapa resesi yang selanjutnya akan datang. Tetapi ada satu hal yang pasti – resesi yang baru adalah tak terelakkan dan ini akan lebih parah dibandingkan yang sebelumnya.

Kelas penguasa memiliki beberapa instrumen yang dapat digunakannya untuk menumpulkan pengaruh resesi. Apa instrumen-instrumen ini? Pada dasarnya ada dua: 1) Turunkan biaya meminjam uang guna mendorong investasi dan permintaan, dan meningkatkan “kepercayaan”; 2) tingkatkan belanja negara.

Masalahnya mereka telah menggunakan kedua instrumen ini untuk mempertahankan pemulihan yang rapuh ini. Setelah krisis finansial 2008, pemerintah-pemerintah di dunia memangkas suku bunga dalam usaha putus asa untuk menggerakkan ekonomi, yang telah gagal. Pada 2014, US Federal Reserve sendiri saja telah menggelontorkan $3,6 triliun dalam bentuk kredit murah ke dalam perekonomian lewat program Quantitative Easing – yakni dengan mencetak uang. Korporasi-korporasi besar di Amerika Serikat dan negeri-negeri lain telah diberi suplai kredit murah terus menerus. Tetapi secara umum, suplai uang ini tidak digunakan untuk investasi produktif (produktivitas entah stagnan atau jatuh). Alih-alih, mereka gunakan suplai kredit murah ini untuk merger, pembelian saham (stock buy back), spekulasi, dsb.

Utang

Pemulihan ini dibangun di atas gunung utang. Cepat atau lambat gunung ini akan mengalami longsor. Ahli ekonomi borjuis ketakutan akan krisis yang akan datang karena mereka tidak akan bisa menghentikannya. Utang yang besar berarti instrumen kedua untuk keluar dari resesi (belanja negara) sudah bukan lagi opsi yang memungkinkan.

Usaha ragu-ragu untuk mengekang Quantitative Easing di AS mendorong naik suku bunga dan menaikkan nilai dolar, yang lalu menjadi tekanan besar atas utang-utang dengan mata uang dolar AS. Di negeri-negeri seperti Turki dan Argentina ini telah menyebabkan krisis ekonomi yang serius, tetapi krisis yang serupa sedang dipersiapkan di seluruh dunia, terutama di negeri-negeri kurang maju.

Utang global telah mencapai rekor tertinggi, dengan separuhnya di tangan Jepang, AS, dan China. Pada poin ini, kaum borjuasi dihadapkan dengan kontradiksi yang tak terselesaikan. Di satu sisi mereka kesulitan mengurangi beban utang. Tetapi di sisi lain, mereka mulai memahami konsekuensi sosial dan politik yang serius dari satu dekade pemotongan anggaran sosial dan pemangkasan taraf hidup. Kesabaran massa terus digerus dan kohesi sosial mulai melemah, dimana ini telah mengancam kestabilan sosial.

Selapisan kelas penguasa takut akan menajamnya perjuangan kelas dan mereka mendukung untuk mengendorkan kebijakan pengetatan, bahkan bila ini berarti meningkatkan utang pemerintah. Dan menghadapi menajamnya perjuangan kelas, sangat mungkin sekali mereka akan memberikan konsesi. Tetapi ini hanya akan meningkatkan kontradiksi, dan dalam jangka panjang akan membawa kita ke krisis masa depan, penurunan tajam belanja negara, dan mengeringnya kredit. Maka dari itu, apapun kebijakan ekonomi yang dicoba semua akan mengarah ke resesi baru.

Sejak krisis 2008, bank-bank sentral telah mencoba mendorong pertumbuhan dengan menekan suku bunga sampai tingkat terendah dalam sejarah. Ini sering kali berarti suku bunga nol atau bahkan di bawah nol. Ini dimaksudkan untuk menstimulasi kredit dan mendorong investasi. Tetapi usaha ini telah gagal. Kredit murah berfungsi seperti ketagihan narkoba – semakin digunakan justru semakin tidak efektif. Surat-surat utang dengan nilai total sebesar $15 triliun diperdagangkan dengan hasil negatif.

Pada 1960, menurut sebuah studi, total utang di seluruh dunia sekitar 90 persen PBD dunia. Di AS sedikit lebih tinggi, sekitar 140 persen. Hari ini (angka 2019), utang dunia telah mencapai rekor tertinggi $253 triliun, atau 322 persen PDB dunia. Di AS 355 persen PDB. Utang adalah cara kapitalis untuk keluar dari krisis 1970an dan 1980an, tetapi sekarang cara ini telah mempersiapkan jalan untuk krisis yang bahkan lebih besar. Semakin lama mereka menunda krisis dengan mengekspansi kredit (dan dengan demikian memperbesar utang), maka semakin parah ketika hari penghakiman tiba – dan ini pasti akan tiba.

Ancaman perang dagang

Lebih dari satu bom waktu tengah berdetik bersamaan: perang dagang, krisis utang, perlambatan di China, Brexit dan krisis Euro, tensi internasional dan ancaman perang di Timur Tengah. Satu dari mereka bisa menjadi percikan ledakan. Kaum borjuasi tidak akan punya cara untuk mempertahankan diri mereka, terjebak tanpa jalan keluar. Ada hal-hal tertentu yang niscaya mengalir dari fakta-fakta ini.

Pada dekade sebelum 2008, pertumbuhan ekonomi China yang kuat memberikan stimulus untuk perekonomian dunia. China adalah pasar untuk produk-produk Barat dan lahan investasi yang menguntungkan. Tetapi sekarang, secara dialektika, semuanya telah berubah menjadi kebalikannya. Pada 2018, pertumbuhan China 6,6 persen, walaupun banyak ekonom yang sangsi akan angka yang tinggi ini. Pada 2019, laju pertumbuhan China 6,1 persen, terlambat sejak 1992.

Pertumbuhan China mungkin masih terlihat tinggi ketimbang Eropa dan bahkan AS yang menyedihkan. Tetapi ini jauh lebih rendah ketimbang apa yang dicapai China selama beberapa dekade terakhir. Umumnya diterima kalau China membutuhkan pertumbuhan tahunan rata-rata 8 persen – dan menciptakan 15-20 juta pekerjaan baru setiap tahun – untuk bisa menutupi migrasi rakyat dari pedesaan ke kota-kota. Sampai belum lama ini konsumen di China dan AS terus berbelanja, karena dimotivasi oleh pembicaraan mengenai pemulihan. Tetapi tren ini sudah mendekati akhirnya. Satu tanda peringatan awal adalah kemerosotan penjualan mobil di China. Untuk China, oleh karenanya, perlambatan ini tengah mempersiapkan gejolak sosial.

Dengan diperkenalkannya ekonomi pasar, China telah mengimpor semua kontradiksi kapitalisme. Keberhasilannya dalam memproduksi komoditas dalam jumlah besar telah menciptakan basis untuk krisis overproduksi, karena komoditas ini harus menemukan pasar, dan pasar internal China terlalu sempit untuk bisa menyerap semuanya.

China tengah menderita overproduksi – dengan pabrik-pabrik besar yang memproduksi besi baja, mobil, dan banyak produk lainnya – dan satu-satunya cara adalah ekspor.

China telah mengekspor banyak sekali surplus besi baja ke Eropa, yang lalu melemahkan industri besi baja Eropa. Besi China yang murah telah menjadi faktor utama dalam menghancurkan industri besi baja di Inggris. Pabrik-pabrik raksasa yang menyediakan pekerjaan untuk seluruh komunitas, seperti Port Talbot di South Wales, yang dikenal sebagai kota besi baja, kini akan ditutup. Inilah yang melatarbelakangi tumbuhnya ketegangan yang telah menyebabkan perang dagang antara AS dan China. Oleh karenanya akan keliru kalau kita menyalahkan Donald Trump atas perang dagang ini. Walaupun dia paling berisik mengenai isu ini, rasa curiga dan tidak percaya terhadap China adalah hal yang umum di dalam Kongres, termasuk di antara anggota Kongres Demokrat.

Trump punya jawaban mudah untuk semua ini. Dia sedang menegaskan kekuatan AS. Imperialisme AS sedang meregangkan ototnya, mengancam akan meremukkan semua musuh-musuhnya, diawali dengan China. Tetapi Eropa juga jadi sasarannya. Medan perangnya adalah proteksionisme, dan senjata pilihannya adalah meningkatkan tarif. Tetapi jalan yang licin ini telah memperparah perang dagang, yang akan memiliki efek menghancurkan di seluruh perekonomian dunia.

Para ekonom yang cemas sudah menguji coba berbagai simulasi skenario perang dagang untuk memprediksi bagaimana resesi ini akan terjadi. Mereka terutama takut pada ancaman kenaikan tarif terhadap ekonomi dunia. Dalam jangka menengah, biaya langsung tarif-tarif ini mungkin saja kecil, tetapi ketidakpastian akibat dari eskalasi perang dagang dapat mempengaruhi secara negatif investasi, lapangan pekerjaan dan pada akhirnya konsumsi, yang lantas akan menekan permintaan. Sebab menjadi akibat, dan akibat menjadi sebab, yang menyebabkan spiral menurut dalam skala dunia. Seluruh proses globalisasi, yang telah menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi dunia untuk keseluruhan periode, akan berbalik, dengan konsekuensi katastropik.

Ahli ekonomi Morgan Stanley memprediksi bila AS menerapkan tarif 25 persen atas semua impor China untuk 4 sampai 6 bulan dan China membalas, maka kontraksi ekonomi dunia menjadi mungkin terjadi dalam tiga kuartal. Gelombang ini akan melampaui AS dan China, menghantam Asia, Eropa dan menyeret seluruh ekonomi dunia ke dalam resesi. Ini adalah perkembangan yang menggelisahkan bagi kaum borjuasi. Ini mengancam mencabik-cabik perdagangan dunia yang sudah rapuh ini, yang merupakan kekuatan pendorong pertumbuhan ekonomi dunia selama puluhan tahun terakhir.

Tidaklah jelas bagaimana perang dagang AS-China ini akan berakhir. Ekonomi China dan AS telah terikat satu sama lain selama bertahun-tahun. Akan ada selapisan kelas kapitalis AS, terutama mereka yang secara langsung berproduksi di China, yang akan menentang eskalasi perang dagang ini. Tetapi sulit untuk memprediksi tindakan seorang Presiden yang tidak memiliki strategi jangka panjang, tetapi tampaknya suka berayun dari satu krisis ke krisis lain. Trump sulit ditebak. Inilah satu alasan mengapa kelas borjuasi tidak menyukainya. Dia bertindak seenaknya sesuai dengan moodnya, yang memperparah ketidakstabilan dunia.

Satu hari, Trump mengejek Kim Jong Un sebagai “Little Rocket Man” dan mengancam akan menghapus Korea Utara dari muka bumi. Esok harinya dia memeluk Kim Jong Un dan memujinya sebagai pewarta kedamaian dan sahabat baik. Satu hari dia mencoba meraih kesepakatan dengan China, esoknya dia mengumumkan tarif baru untuk semua produk China. Masalahnya dengan perang dagang adalah mudah untuk memulainya tetapi tidak begitu mudah untuk menyelesaikannya. Perang dagang cenderung memburuk, seperti yang kita lihat dengan pembalasan China.

Bila globalisasi dihentikan oleh menyebarnya nasionalisme ekonomi dan perang dagang, tren kenaikan bisa dengan mudah berubah menjadi spiral menurun yang tajam, dengan konsekuensi katastropik untuk seluruh dunia. Kita telah tunjukkan bagaimana Keruntuhan Wall Street 1929 berubah menjadi Depresi Hebat 1930an karena kebijakan-kebijakan proteksionis, serupa dengan pendekatan “beggar thy neighbour” Donald Trump dan devaluasi kompetitif. (Kebijakan "beggar thy neighbour” adalah kebijakan ekonomi yang diterapkan satu negeri untuk menyelesaikan masalah ekonominya dengan cara yang memperburuk masalah ekonomi negeri-negeri lain.)

Amerika Serikat

Ekonomi AS adalah satu-satunya pilar terakhir yang menopang ekonomi dunia. Di permukaan, tampaknya ekonomi AS cukup baik. Dow Jones ada di rekor tertinggi. S&P 500 menggelembung 334 persen dan NASDAQ hampir 500 persen. Tetapi penampakan dapat mengelabui. Pada kenyataannya, ekonomi AS ada dalam kondisi amat lemah. Tidak ada satupun hal yang terselesaikan sejak 2008 dan kaum kapitalis tengah mempersiapkan krisis yang bahkan lebih menghancurkan.

Ekonomi AS mulai goyah. Pada Desember 2007, puncak ekonomi sebelum keruntuhan 2008, penggunaan kapasitas industri mencapai 81 persen. Sampai pada Juni 2009, pada titik terendah siklus boom-slump terakhir, hanya 66 persen kapasitas yang digunakan. Hari ini, sepuluh tahun kemudian, penggunaan kapasitas industri 78 persen. Dalam kata lain, setelah “pemulihan terlama” dalam sejarah mereka bahkan belum mencapai tingkat penggunaan kapasitas pra-krisis. Sementara itu, sentimen konsumen jatuh ke tingkat terendahnya dalam 8 tahun. Manufaktur AS menurun. Order ekspor mencapai titik terendah sejak April 2009. Bahkan bila Federal Reserve memangkas suku bunga sebesar 50 poin, ini akan terlalu terlambat untuk mencegah resesi.

Pertumbuhan PDB AS hanya 2,9 persen, yang didorong oleh belanja defisit. Setahun sebelumnya hanya 2,2 persen, yang didorong oleh pemotongan pajak kaum kaya oleh Trump. Utang negara sekarang $22 triliun, lebih dari dua kali lipat ketimbang 2008. Ini berarti setiap penduduk AS berutang $68.000, atau $182.000 setiap pembayar pajak. Ini lebih dari 4 kali lipat upah median, dan utang ini terus meningkat $1 triliun per tahun.

Pemotongan pajak dan suku bunga rendah telah digunakan untuk merangsang ekonomi guna mencegah kemerosotan selanjutnya. Tetapi dengan menggunakan instrumen-instrumen ini untuk secara artifisial memperpanjang boom, mereka sekarang tidak bisa menggunakan instrumen-instrumen ini untuk resesi yang akan datang, dan kita bisa yakin keinginan publik akan kebijakan bailout untuk korporasi akan jauh berkurang. 

Sekarang semua indikator ekonomi menunjuk ke arah kemerosotan baru, yang tak terelakkan. Tentu saja mustahil memprediksi kapan tepatnya ini akan terjadi – ekonomi bukanlah ilmu sains rinci. Tetapi kenyataannya sebuah kemerosotan baru bukanlah syarat mutlak untuk intensifikasi perjuangan kelas. Dari sudut pandang kita, akan lebih baik kalau situasi hari ini berlanjut. Mereka berbicara mengenai pemulihan, tetapi situasi hari ini tidak terasa seperti pemulihan. Tidak ada yang percaya.

Berapa banyak buruh Amerika yang mengatakan betapa baiknya kondisi hari ini? Upah naik bagi sejumlah orang, itu benar, tetapi begitu juga jumlah jam kerja yang diperlukan untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Dan kenaikan upah hari ini tidak menutupi penurunan upah selama periode sebelumnya. Mayoritas buruh Amerika tidak bisa memenuhi kebutuhan diri mereka dan keluarga mereka hanya dengan satu pekerjaan. Mereka harus lembur, dan mereka harus mengambil 2 atau 3 pekerjaan untuk bisa bertahan. Dan kemarahan serta rasa pahit buruh terus meningkat.

Banyak buruh Amerika yang tidak merasakan “pemulihan” ini sama sekali. Apa yang dapat mereka lihat adalah ketidaksetaraan yang mencolok, jurang besar yang memisahkan segelintir kaum super-kaya dari mayoritas rakyat yang membanting tulang untuk bisa bertahan hidup. Selama 30 tahun terakhir, kekayaan kaum 1 persen terkaya meningkat $21 triliun, sementara total kekayaan 50 persen termiskin merosot $900 miliar. (Menurut data Federal Reserve.)

78 persen orang Amerika hidup dari satu slip gaji ke slip gaji selanjutnya. Upah minimum federal $7.25 per jam. Seorang ibu tunggal dengan dua anak dan upah minimum harus bekerja 24 jam per hari, 6 hari per minggu, atau 144 jam per minggu, untuk bisa hidup layak. Ini gila dan tidak bisa terus berlanjut – dan ini situasi buruh di “masa-masa baik”.

Fenomena Trump

Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa rakyat mendapatkan pemerintah yang patut mereka terima. Dalam artikel briliannya “Class, Party and Leadership”, Trotsky menunjukkan kekeliruan pernyataan tersebut. Rakyat yang sama sering kali bisa mendapatkan pemerintahan-pemerintahan yang sangatlah berbeda, yang semata mencerminkan tahapan berbeda dalam perkembangan kesadaran. Akan tetapi, kita bisa mengatakan dengan pasti bahwa pada saat ini kaum borjuasi telah mendapatkan pemimpin yang patut mereka terima.

Ketika borjuasi Amerika berkaca, mereka akan melihat wajah Donald Trump dan berpaling dengan ngeri. Mereka tidak suka apa yang mereka lihat, tetapi ini adalah cerminan sesungguhnya dari kebangkrutan mereka sendiri dan sistem mereka. Borjuasi hari ini tidak punya gagasan hebat dan tidak punya perspektif jangka panjang. Mereka tidak bisa melihat lebih jauh dari pembukuan dan margin profit mereka.

Gambaran yang memuakkan ini meringkas tidak hanya Donald Trump, tetapi juga kelasnya yang dia wakili. Satu-satunya hal yang membedakan Trump adalah dia mengekspresikan karakter kelasnya secara terbuka, blak-blakan, tanpa rasa malu, sementara borjuasi lainnya yang punya cara pandang yang sama dan membela kepentingan kelas yang sama, mereka lebih berhati-hati, lebih diplomatik, dalam kata lain, lebih pengecut, munafik, dan menipu.

Terpilihnya Trump tentu saja adalah fenomena yang reaksioner. Tidak ada gunanya menekankan poin ini. Tetapi terpilihnya Trump juga memiliki sisi lain. Trump bukanlah kandidat kelas penguasa. Dia tidak dipercaya oleh mereka, namun dia tetap terpilih kendati ditentang oleh kelas borjuasi.

Di masa lalu, kaum borjuasi terbiasa mengendalikan permainan politik. Tetapi tidak hari ini. Yang kita saksikan adalah situasi tanpa preseden, dimana kaum borjuasi secara efektif telah kehilangan kendali atas sistem mereka sendiri. Kapan pernah terjadi dalam sejarah Amerika Serikat dimana sebagian CIA dan FBI secara publik menentang Presiden terpilih dan terus bermanuver untuk mengenyahkannya?

Ini bukan hanya krisis politik. Ini adalah krisis dalam rejim itu sendiri. Ini menandai perpecahan terbuka dalam tubuh kelas penguasa. Dan syarat pertama revolusi yang dikemukakan Lenin persis adalah itu. Kekecewaan massa dapat terekspresikan dalam cara yang unik dan kontradiktif. Dalam cara yang sangat unik dan terdistorsi, bahkan pemilihan Trump adalah bagian dari ekspresi kekecewaan besar selapisan besar kelas buruh kulit putih yang paling miskin dan tertindas. Trump menarik dukungan buruh tambang dan buruh metal yang menganggur, dengan menggunakan demagogi menyerang elite berprivilese di Washington dan menjanjikan perubahan. Pesan ini mendapat gaung hebat. Tetapi popularitas Trump ada di bawah tekanan hebat.

Sosialisme dan Amerika Serikat

Tidaklah jelas kalau Trump akan terpilih kembali. Walaupun dia masih memiliki basis dukungan signifikan, dia juga telah mengasingkan banyak orang dengan retorikanya yang terlalu rasis, misoginis, dan xenofobia. Pernyataan “kirim mereka kembali” yang dia buat menyebabkan kehebohan nasional. Dan popularitasnya terpukul lebih lanjut karena responsnya terhadap penembakan masal di El Paso dan Dayton, Ohio.

Sebuah laporan dari Democracy Fund Voter Study Group menemukan bahwa bahkan pemilih yang cenderung anti-imigran tidak mutlak akan memilih Trump. Mereka terpecah antara satu kubu yang menginginkan intervensi pemerintah yang lebih kecil dalam ekonomi, dan kubu lain yang lebih kiri dan menginginkan intervensi ekonomi. Menurut survei, perbedaan ini menajam sejak terpilihnya Trump. Ekonomi masih merupakan isu kunci. Trump mengklaim sukses dalam kebijakan ekonomi. Pada kenyataannya, kebijakan ekonominya adalah satu-satunya ranah dimana dia mendapat lebih dari 50 persen dukungan (55 persen). Namun, dia juga akan disalahkan bila ekonomi memburuk.

Efek sementara dari pemotongan pajak orang kaya yang dia canangkan sudah mulai habis. Sekarang yang dilihat rakyat adalah perlambatan ekonomi, dan tanda-tanda yang semakin jelas kalau perang dagangnya dengan China akan gagal menghasilkan kesepakatan historis yang dia janjikan pada kampanye pilpres 2016. Resesi ekonomi akan meledakkan gelembung. Tetapi kapan ini akan terjadi, tidaklah pasti. Terutama, kaum Demokrat tidak mampu menyediakan alternatif yang efektif terhadap Trump.

Selama tiga dekade terakhir jumlah pemogokan di AS telah menurun secara signifikan. Begitu juga jumlah anggota serikat buruh. Tetapi proses ini sekarang telah mencapai limitnya. Ada sejumlah pemogokan dan walk-out politik, memprotes kekerasan seksual, upah tidak setara antar gender, kolaborasi dengan badan imigrasi, dan RUU privatisasi pendidikan. Dan ini hanya permulaan saja, walaupun prosesnya tidak akan linear.

Pada akhir 2018, jumlah buruh AS yang terlibat dalam penghentian pekerjaan, yang termasuk pemogokan dan lockout, adalah tertinggi sejak 1986. Ada 20 penghentian pekerjaan yang melibatkan lebih dari 1000 buruh, dibandingkan hanya 7 pada 2017. Lebih dari 90 persen dari sekitar setengah juta buruh yang terlibat ada di sektor pendidikan, pelayanan kesehatan dan kerja sosial. Ribuan lainnya terlibat dalam pemogokan-pemogokan yang lebih kecil, dan tidak termasuk dalam statistik ini. Ada serangkaian pemogokan guru yang menyebar dari West Virginia ke Oklahoma, Arizona, California, dll., dimana perjuangan dan kemenangan pemogokan menginspirasi aksi serupa di seluruh negeri. Ini disusul oleh pemogokan buruh otomotif yang sangat signifikan.

Di arena politik, kita saksikan kebangkitan Sanders dan semakin populernya sosialisme di AS, terutama di antara kaum muda. Sanders, walaupun tetap berada dalam Partai Demokratik, dan walaupun menyerah pada Clinton setelah dia dihambat untuk jadi calon pada pilpres 2016, masih memiliki dukungan besar dengan serangan-serangannya terhadap “kelas milyader”. Sanders masih menarik puluhan ribu orang ke pertemuan-pertemuannya. Tetapi dia, dan politisi lain seperti Alexandria Ocasio-Cortez, berilusi dapat memajukan perjuangan sosialisme lewat Partai Demokratik. Mereka adalah reformis. Akan tetapi, popularitas mereka mencerminkan, secara terdistorsi, massa yang mencari alternatif kiri.

Bila ekonomi memburuk, akan ada reaksi besar terhadap Trump, dan apa yang akan ditemukan massa? Mereka akan melihat sosialisme sebagai bagian dari jawaban yang mereka cari. Bukanlah kebetulan kalau Trump sekarang menyerang sosialisme dan komunisme. Menurut survei baru-baru ini (Cato Institute 2019 Welfare, Work, and Wealth National Survey): a) 50 persen kaum muda Amerika (di bawah 30) mendukung sosialisme; b) 70 persen milenial (23 sampai 38 tahun) akan memberikan suara mereka untuk kandidat sosialis; c) 36 persen milenial punya opini positif terhadap Komunisme (meningkat dari 28 persen pada 2018); d) 35 persen milenial punya opini positif terhadap Marxisme.

Sekitar 1 dari 5 percaya kalau masyarakat akan lebih baik bila semua kepemilikan pribadi dihapus. (US Attitudes Toward Socialism, Communism, and Collectivism October 2019). Dan hampir seperlima (17 persen) rakyat Amerika setuju kalau “warga mengambil tindakan kekerasan terhadap kaum kaya” kadang-kadang bisa dibenarkan – ini meningkat menjadi 35 persen untuk orang berumur di bawah 30. Statistik-statistik macam ini hanya puncak gunung es. Mereka menunjukkan dengan sangat jelas bahwa ada gejolak mendalam dalam masyarakat Amerika.

Bila Trump terpilih kembali – sesuatu yang tidak bisa dinafikan – ini akan membuka satu periode baru yang bahkan lebih bergejolak. Kami tidak meragukan kalau kemenangan Trump akan disambut dengan rasa pesimis oleh kaum sektarian bodoh yang setiap harinya mengeluh mengenai bahaya “fasisme”. Tetapi kaum kapitalis yang lebih pintar memiliki pemahaman lebih baik mengenai situasi yang sesungguhnya. Mereka sadar sistem mereka tidak bisa lagi dipertahankan, tetapi mereka tidak bisa melakukan apapun karena mereka tidak bisa menerima satu-satunya cara untuk menyelesaikan kontradiksi kapitalisme adalah mengakhiri kapitalisme itu sendiri.

Bahkan sebelum krisis selanjutnya, orang-orang terkaya di dunia sangatlah cemas akan potensi kerusuhan sosial. Misalnya, Ray Dalio, orang terkaya ke-79 di dunia mengatakan: “Saya adalah seorang kapitalis dan bahkan saya percaya kapitalisme rusak.” Dia menambahkan: “Kapitalisme tidak berfungsi untuk mayoritas orang. ... Kita ada dalam persimpangan. Kita dapat mereforma kapitalisme bersama-sama, atau kita akan mengubahnya dalam konflik, kalau akan ada konflik antara yang kaya dengan yang miskin.” Kalimat ini mencerminkan situasi yang ada dengan sangat baik.

Sudah ada perubahan signifikan dalam psikologi orang Amerika. Orang-orang sekarang menganggap diri mereka sebagai kelas buruh. Padahal selama puluhan tahun mereka hanya berbicara mengenai “kelas menengah”. Inilah yang Trotsky maksud dengan proses molekular revolusi.

Krisis kapitalisme Eropa

Pada 1997, kami menulis dokumen perspektif mengenai Uni Eropa dimana kami memprediksi Euro akan bisa bertahan untuk cukup lama, tetapi bila ada kemerosotan besar, semua kontradiksi nasional akan muncul. Inilah yang tengah terjadi hari ini.

Kendati bertahun-tahun kebijakan penghematan, tidak ada satupun hal yang terselesaikan selama satu dekade terakhir. Zona Euro mengalami stagnasi dan kini menghadapi prospek kontraksi ekonomi yang serius, yang akan mengakibatkan konsekuensi sosial dan politik yang paling serius, dan Uni Eropa tidak akan bisa menghentikannya. Bank-bank sentralnya sudah tidak lagi memiliki instrumen untuk melawannya. Ini berarti resesi dunia mendatang tidak akan sama seperti sebelum-sebelumnya, tetapi akan jauh lebih buruk ketimbang krisis 2008-9.

UE di satu sisi menghadapi syok dari Brexit, tetapi juga syok-syok lain yang memukul industri-industri mereka. Kontraksi perdagangan dunia memukul Eropa lebih kuat ketimbang negeri-negeri lain karena ketergantungan kronik UE pada permintaan dunia. Ini terutama berlaku di Jerman, yang nyaris tersungkur ke dalam krisis pada 2018.

Eropa telah terpukul keras oleh perang dagang Donald Trump. Produk-produk Tiongkok yang telah dikenakan tarif oleh AS kini membanjiri Eropa. Dan situasi ini diperburuk oleh devaluasi Yuan oleh Beijing, yang membuat ekspor China ke Eropa bahkan lebih murah, yang melemahkan industri Eropa, sebuah invasi yang tidak bisa ditangkal oleh Eropa. Bank Sentral Eropa tidak mampu menahan pengaruh perlambatan ekonomi China dan jatuhnya permintaan atas produk-produk Eropa.

Kita lihat bagaimana Macron dipaksa oleh demonstrasi Rompi Kuning untuk memberi konsesi – tetapi siapa yang akan membayarnya? Prancis memiliki defisit anggaran besar. Macron punya sebuah rencana untuk Eropa, yang dia sebut “anggaran terencana”. Rencananya sederhana: Jerman akan membayar utang semua orang – termasuk utangnya Prancis tentu saja. Sayangnya, Bank Sentral Jerman (Bundesbank) punya rencana lain. Dan mereka tidak sendirian. Krisis Brexit juga telah menjadi katalis, yang memperparah prospek keretakan Uni Eropa.

Garis keretakan baru

Krisis UE dimulai di pinggiran, di negeri-negeri dengan ekonomi yang lebih lemah. Tetapi krisis ini sekarang mempengaruhi negeri-negeri yang lebih kuat, seperti Jerman. Ini pada gilirannya membuka garis keretakan baru. Hungaria dan Polandia misalnya menentang UE dalam hal menerima masuk pengungsi dan hal-hal lain.

Pada awal 2018 dibentuk sebuah “Liga Hanseatic” yang baru, yang beranggotakan negeri-negeri Eropa Utara yang lebih makmur: Denmark, Finlandia, Belanda dan Swedia; dan satelit-satelit Baltik mereka: Estonia, Latvia dan Lituania. Jerman berdiri di belakang Liga ini, menentang pembayaran besar ke negeri-negeri Eropa Selatan yang lebih miskin. Beberapa negeri Eropa Selatan ini (terutama Italia) mencoba menandingi kekuatan kapital Jerman dengan membuat kesepakatan dagang dengan China. Garis-garis keretakan ini, walaupun sekarang kecil, mengancam meruntuhkan keseluruhan fondasi Euro yang rapuh, dan bahkan Uni Eropa itu sendiri.

Tetapi borjuasi Jerman, yang mendominasi UE, harus mempertahankan persatuan ekonomi ini dengan cara apapun. Di arena pasar dunia, Jerman kalau sendiri saja tampak kerdil – dibandingkan dengan blok-blok ekonomi besar. Penduduknya sekitar 80 juta, yakni seperempat AS dan 1/17 China. PDB Jerman kurang dari sepertiga China dan kurang dari 1/5 AS. Jerman tidak punya kekuatan militer yang ampuh. Untuk memainkan peran dalam panggung dunia, Jerman oleh karenanya memerlukan tuas Uni Eropa.

Selama periode ekspansi perdagangan bebas dan ketika UE – setidaknya di permukaan – kurang lebih bersatu, Jerman mampu “memukul di atas bobot kelasnya” di pasar dunia, terutama di industri-industri padat-modal seperti industri permesinan, mobil, pesawat terbang dan pesawat luar angkasa – yang memungkinkan Jerman menjadi eksportir utama dunia. Tetapi dalam situasi perlambatan ekonomi, perang dagang yang terus membesar, dan anggota-anggota UE yang terus saling cekcok dalam ekonomi maupun politik, situasinya telah menjadi kebalikannya.

Jerman, yang sebelumnya merupakan mesin kapitalisme Eropa dan ekonomi terbesar di Eropa, kini dalam krisis. Ketidaksetaraan dan menurunnya taraf hidup rakyat sudah menjadi hal yang lumrah. Hanya konsumsi domestik yang kini menopang ekonomi Jerman, sementara order luar negeri mengering dengan pesat.

Ini menjelaskan mengapa borjuasi Jerman begitu keras kepala ingin menyatukan UE di bawah kepemimpinan politiknya dengan lebih langsung, bahkan bila harus memberi sejumlah konsesi ekonomi, walaupun kecil dan temporer, kepada negeri-negeri Eropa yang lebih lemah, terutama lewat kebijakan moneter, agar mereka menerima subordinasi politik di bawahnya. Satu indikasinya adalah bagaimana direktur Bank Sentral Eropa (ECB) ditunjuk. Awalnya ada banyak spekulasi bahwa mantan direktur Bundesbank akan dijadikan direktur baru ECB, tetapi pada akhirnya Lagarde dari Prancis yang mendapatkan posisi tersebut. Jerman memilih posisi politik ketua Komisi Eropa dan berhasil membuat Ursula von der Leyen terpilih. Dan, setidaknya sebelum Pemilu Eropa, borjuasi Jerman telah mengorkestra kampanye besar untuk menyerang apa-yang-disebut “populisme” – terutama menyerang partai-partai nasionalis yang berkuasa, yang memiliki posisi anti-UE, memusatkan serangan mereka ke Salvini di Italia dan FPP di Austria, yang belum lama ini masih ada dalam pemerintah.

Tujuan dari semua ini jelas. Jerman menghadapi bayang-bayang kekalahannya dan oleh karenanya terdorong untuk mengubah UE menjadi blok ekonomi kuat untuk melawan kompetitor-kompetitor eksternalnya. Di tengah konflik dagang yang semakin meluas, borjuasi Jerman menginginkan perbatasan yang lebih ketat di seputar Eropa, tidak hanya untuk menangkal kaum pengungsi tetapi juga menangkal modal dan komoditas asing. Misalnya, sekarang Komisi Eropa di bawah Von der Leyen dengan keras mendorong kebijakan “pajak perbatasan karbon UE” – terutama untuk melindungi industri Jerman, dan juga untuk mempertahankan kendali atas Eropa dengan mempersulit perjanjian dagang antara negeri-negeri anggota UE dengan China atau AS.

Namun pada akhirnya ini hanya menunda apa yang tak terelakkan. Bila ada krisis mendalam, Jerman tidak bisa dan tidak akan membantu seluruh Eropa untuk keluar dari krisis tersebut. Ini berarti akan mustahil mencoba menghentikan meledaknya kontradiksi dalam ekonomi dan politik, yang bahkan sekarang sudah mulai muncul. Ini menggarisbawahi kenyataan bahwa UE adalah mata rantai terlemah dalam keseluruhan rantai blok ekonomi imperialis kapitalisme dunia.

Kecenderungan ini diperkuat oleh semakin tidak stabilnya situasi politik di Jerman. Merkel mengundurkan diri dari posisi ketua Partai Kristen Demokratik (CDU), walaupun dia masih menjabat sebagai kepala negara. Partai Sosial Demokratik (SPD) telah berada dalam pemerintah 17 tahun dari 20 tahun terakhir, dan hasilnya adalah anjloknya dukungan untuknya di pemilu barusan. Tetapi Partai Kiri (Die Linke) belum meraih keuntungan dari situasi ini. Ini karena para pemimpin Die Linke mencoba menunjukkan kalau mereka adalah politisi beradab yang cocok untuk memerintah. Mereka telah menerima kebijakan pengurangan utang, yang dalam praktik berarti memotong anggaran pengeluaran pemerintah. Ini adalah resep untuk krisis dalam partai.

Dan sekarang krisis legitimasi demokrasi borjuis juga telah mencapai Jerman. Di masa pasca Perang Dunia II, CDU dan SPD bersama biasanya menerima 70-90 persen suara untuk Bundestag. Hari ini mereka hanya menerima sekitar 40 persen, dengan SPD meraup jumlah suara terendah dalam sejarah mereka, 13-15 persen. Sementara itu, partai ekstrem kanan AfD terus tumbuh. Untuk sementara, Partai Hijau juga meraih keuntungan, walaupun kemungkinan besar keuntungan ini tidak akan bertahan lama.

Yunani: tidak ada satupun hal yang terselesaikan

Selama sepuluh tahun terakhir, mata rantai terlemah dalam rantai kapitalisme Eropa adalah Yunani, negeri dimana krisis kapitalisme menyebabkan bencana terbesar. Selama 10 tahun, rakyat bangsa ini telah menderita serangan-serangan buas, pemotongan terus menerus, dan anjloknya taraf hidup mereka, yang kolaps total. Sekarang pemerintah Yunani membual kalau krisis telah berakhir. Tetapi ini jauh dari kebenaran. Pada 2009, rasio utang-terhadap-PDB 126,7 persen, dan hari ini 181,1 persen. Seperti yang kita lihat, tidak ada satupun hal yang telah diselesaikan di Yunani.

Kaum buruh dan muda Yunani telah mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk melawan kebijakan penghematan kapitalis yang dipaksakan secara keji oleh UE. Demo demi demo, pemogokan umum demi pemogokan umum, diluncurkan. Pada referendum 2015, Tsipras punya peluang untuk menolak syarat-syarat bailout yang dipaksakan oleh Troika dan melawan UE dan kaum borjuasi. Kelas buruh – dan bahkan selapisan luas borjuis kecil – siap bertempur. Tetapi pada momen penentuan, Tsipras menyerah.

Pengkhianatan ini menyebabkan demoralisasi hebat dan berakhir dengan kalahnya SYRIZA pada pemilu terakhir, dan kemenangan partai New Democracy. Walaupun demikian SYRIZA masih meraih 31 persen dan dapat pulih. Mitsotakis (Perdana Menteri Yunani hari ini dari New Democracy) telah berikrar akan meluncurkan serangan-serangan baru terhadap kelas buruh. Popularitasnya menguap dengan cepat. Kaum buruh Yunani tidak punya pilihan lain selain berjuang. Ini masalah hidup atau mati. Pada titik tertentu, sebuah periode baru perjuangan kelas akan dibuka kembali di Yunani.

Italia: mata rantai terlemah

Italia kini telah menggantikan Yunani sebagai mata rantai terlemah dalam rantai kapitalisme Eropa. Ekonominya telah tertinggal di belakang, dan Italia tidak mampu bersaing dengan Jerman atau bahkan Prancis. Utang publik Italia sekarang berkisar 132 persen PDB. Kapitalisme Italia ada dalam masalah serius. Dari sudut pandang revolusioner, Italia adalah negeri kunci di Eropa. Yunani adalah negeri kecil di pinggiran Eropa, tetapi Italia adalah ekonomi ketiga terbesar dalam zona Euro dan ada dalam jantung Uni Eropa.

Satu-satunya solusi bagi kelas penguasa Italia adalah terus memotong dan memotong taraf hidup rakyat. Mereka telah mendeklarasikan perang terhadap kelas buruh Italia, dan ini adalah resep untuk ledakan sosial. Saat defisit anggaran negara Italia melampaui batas yang ditetapkan oleh UE, Komisi Eropa ingin menghukumnya tetapi lalu tidak jadi. Mereka telah membuat pengecualian untuk Prancis, tetapi ini bukan satu-satunya alasan. Runtuhnya perbankan Italia akan memercikkan krisis perbankan Eropa. Namun yang terutama, inheren dalam situasi ini adalah potensi ledakan sosial di Italia.

Di masa lalu, kaum borjuasi Italia punya basis dukungan kuat dalam masyarakat. Partai kaum borjuasi, Partai Kristen Demokrat, memiliki basis massa dan dukungan Gereja Katolik. Tetapi ini telah runtuh. Garis pertahanan kedua mereka adalah partai-partai Komunis dan Sosialis. Tetapi partai-partai ini pun telah masuk ke tong sampah sejarah. Dari sudut pandang kaum borjuasi, ketiadaan partai massa reformis bukanlah sesuatu yang positif, tetapi justru berbahaya. Perbedaannya adalah antara mobil yang meluncur ke bawah jalan yang terjal dengan rem yang kurang pakem atau tanpa rem sama sekali.

Di Italia, tidak ada partai buruh massa reformis, dan para pemimpin serikat buruh yang ada busuk semua. Partai Demokratik, partainya kaum borjuasi, telah terdiskreditkan di mata buruh. Semua pemimpinnya telah terlibat dalam kebijakan penghematan selama bertahun-tahun. Gerakan Lima Bintang adalah satu lagi contoh formasi borjuis-kecil yang tiba-tiba muncul. Gerakan ini penuh dengan kebingungan, dan sekarang dukungan mereka jatuh dengan cepat setelah mereka terekspos, pertama dalam pemerintah koalisi dengan Liga Utara, sebuah partai sayap-kanan, dan kemudian dengan memasuki koalisi dengan Partai Demokratik. Ada vakum besar di Kiri, dan vakum ini cepat atau lambat harus diisi dengan sesuatu.

Pemimpin Liga Utara, Salvini, adalah seorang demagog borjuis sayap-kanan, yang gayanya seperti Donald Trump. Dalam pidato-pidatonya dia berusaha berbicara seperti “rakyat jelata”, atau lebih tepatnya, seorang lumpen Italia. Pencitraan ini adalah usaha sengaja untuk menciptakan kesan kalau dia berdiri untuk sesuatu yang baru dan radikal. Dia meraih telinga jutaan rakyat yang kecewa dan benci dengan status quo politik, dengan partai-partai dan para pemimpin lama mereka. Dia mengatakan: “Lihat! Saya tidak seperti mereka. Saya adalah salah satu dari kalian. Bila kalian memilih saya, akan ada perubahan di Italia. Saya dapat menyelesaikan masalah yang ada!” Ini mendapat gaung.

Walaupun Salvini adalah Menteri Dalam Negeri dalam pemerintahan koalisi dengan Lima Bintang, dia terus bertingkah seperti oposisi. Dia menggunakan posisinya untuk membuat pidato-pidato kontroversial yang menyerang “musuh-musuh asing” (Uni Eropa dan kaum imigran), yang dia kambing-hitamkan sebagai penyebab semua kemalangan Italia. Oleh karenanya dia tampak menerobos batas-batas yang ditetapkan oleh tatanan yang ada. Popularitasnya naik seiring dengan tenggelamnya popularitas Lima Bintang. Dia memilih momen yang tepat dan lalu mencampakkan sekutu-sekutu temporernya dan pecah dari koalisi, dengan harapan dia dapat memenangkan pemilu selanjutnya.

Tetapi kaum borjuasi takut akan konsekuensi buruk pemerintahan Salvini terhadap ekonomi Italia dan Zona Euro. Mereka memutuskan untuk menghadang Salvini, dengan membentuk koalisi baru yang tidak stabil antara Lima Bintang dan Partai Demokratik. Tetapi Gerakan Lima Bintang sudah kandas karena memasuki koalisi dengan Liga Utara. Memasuki koalisi dengan Partai Demokratik yang bahkan lebih dibenci rakyat akan menjadi kematian bagi Lima Bintang.

Kemunduran yang dialami oleh Salvini tidak akan berlangsung lama. Pada kenyataannya, dengan menyingkirkan dia dari pemerintahan dengan manuver yang begitu transparan, ini menguntungkan Salvini. Kaum demagog cenderung tambah populer ketika dalam kubu oposisi. Salvini mencoba mengalihkan perhatian massa dengan mengutuk imigrasi, tetapi ketika dia nantinya jadi kepala pemerintah, dia akan segera menemukan bahwa ini adalah kebijakan dengan keuntungan yang akan semakin menipis. Dia tidak punya solusi nyata untuk masalah-masalah kapitalisme Italia, dan segera Salvini diuji dia akan terekspos sebagai politisi borjuis reaksioner. Ini akan membuka jalan ke ayunan besar ke kiri.

Satu-satunya jalan ke depan bagi borjuasi adalah pemotongan dan serangan terhadap taraf hidup rakyat. Untuk bisa menjalankan kebijakan-kebijakan ekonomi yang diperlukan, kaum borjuasi Italia memerlukan sebuah pemerintahan yang kuat. Tetapi tidak ada pemerintahan semacam ini sekarang, ataupun nanti di hari depan. Kita hanya akan menyaksikan serangkaian pemerintahan koalisi yang tidak stabil selama periode ke depan, dan tiap pemerintahan koalisi ini akan berakhir dalam krisis dan runtuh. Massa akan menguji beragam pemimpin dan program, dan akan ada ayunan tajam ke kiri dan ke kanan. Satu per satu pemimpin akan terekspos.

Mengingat begitu lemahnya Kiri Italia, gerakan niscaya pada satu titik akan mengekspresikan dirinya dalam bentuk aksi massa langsung, serupa dengan gerakan Rompi Kuning di Prancis. Ini akan menjadi edisi 1969 yang baru, tetapi di tingkatan lebih tinggi. (Pada 1969, meledak gerakan “Hot Autumn” atau “Musim Gugur Panas” di Italia, dengan gelombang pemogokan besar). Bila gerakan massa di Italia telah dimulai, akan sulit sekali untuk menghentikannya. Ini dapat mengarah ke okupasi pabrik, seperti yang terjadi pada 1919-1920. Ini akan membuka jalan ke perkembangan revolusioner. Jalan akan terbuka untuk pertumbuhan pesat seksi Italia kita. Tetapi semua akan tergantung pada kemampuan kita untuk membangun organisasi yang kuat sebelum gerakan ini bergulir.

Prancis: Pemberontakan Massa

Macron membual kalau dia tidak akan pernah menyerah pada “Demo Jalanan”. Tetapi dihadapkan pada pemberontakan besar Rompi Kuning, dia harus menelan kembali bualannya. Dia terpaksa memberi konsesi yang memalukannya. Namun demo-demo massa terus berlanjut, bertambah berani dan semakin radikal setiap harinya. Mereka kini menuntut turunnya Macron. Massa telah menunjukkan kegigihan dan keteguhan mereka. Tanpa organisasi atau kepemimpinan yang serius, sungguh luar biasa gerakan ini terus berlanjut selama ini.

Tetapi demonstrasi massa, tidak peduli seenergetik dan sekuat apapun mereka ini, punya batas tertentu. Lenin sejak dulu telah menjelaskan batas dari gerakan spontan. Elemen spontanitas adalah sumber kekuatan gerakan dan juga sumber kelemahannya. Gerakan Rompi Kuning adalah gerakan yang heterogen, yang mengandung elemen revolusioner dan juga reaksioner. Tidak ada rencana aksi yang jelas, dan juga tidak ada perspektif mengambil kekuasaan – yang merupakan satu-satunya perspektif yang memungkinkan.

Kelemahan utama gerakan Rompi Kuning adalah kegagalannya untuk membangun hubungan dengan kelas buruh terorganisir dan mengarahkan perjuangan ke pemogokan umum tanpa-batas. Tetapi alasan utama mengapa ini tidak terjadi adalah karena tingkah laku para pemimpin serikat buruh yang takut pada gerakan ini. Pada akhirnya, inilah yang menyelamatkan Macron. Alasan utama munculnya gerakan Rompi Kuning adalah persis kebangkrutan dari para pemimpin buruh Prancis dan “Kiri-kiri” yang berkolaborasi dengan Macron dan menerima semua pemangkasan.

Karena rakyat tidak dapat menemukan ekspresi politiknya lewat kelas buruh yang terorganisir, maka mereka menemukannya di luar gerakan serikat buruh. Kemudian, karena merasakan tekanan dari bahwa dan takut akan meledaknya gerakan baru yang dapat berada di luar kendali mereka, para pemimpin serikat buruh menyerukan pemogokan umum pada Desember 2019. Ini menjadi gerakan protes yang sangat kuat, dengan 1,5 juta rakyat turun ke jalan, yang menandai masuknya kelas buruh terorganisir ke dalam arena perjuangan.

Apa yang mencolok di momen gerakan Rompi Kuning adalah bagaimana kelas borjuasi Prancis menarik persamaan yang meresahkan dengan Revolusi Prancis. Ini menunjukkan bagaimana kaum borjuasi mulai memahami implikasi revolusioner dari kondisi hari ini. Dalam hal ini, mereka jauh lebih serius dan tajam ketimbang kaum reformis kiri dan kaum sektarian yang bodoh.

Dalam politik revolusioner tidak ada ruang untuk impresionisme dan romantisme. Kita harus memiliki sikap yang klinis yang jelas dalam menyikapi gerakan semacam ini. Ya, kita harus melihat peluang revolusioner yang implisit dalam gerakan-gerakan ini. Ya, kita harus menyambutnya dengan semua antusiasme dan mengerahkan seluruh kekuatan yang ada untuk membantu keberhasilan mereka. Di atas segalanya, kita dapat membantu mereka untuk meraih kejelasan politik yang diperlukan, yang tanpanya bahkan gerakan yang paling besarpun akan menemui kegagalan.

Akan tetapi, pada akhirnya gerakan ini mereda. Macron mampu mempertahankan kekuasaannya dan mengambil kembali inisiatif. Tetapi dia menderita luka besar dari pertempuran ini. Konsesi-konsesi yang dia berikan telah meningkatkan defisit anggaran dan oleh karenanya pemangkasan dan serangan baru akan dibutuhkan. Pemerintah telah melemah dengan serius. Dan pemogokan umum besar pada 5 Desember adalah indikasi jelas bahwa benturan-benturan baru telah menjadi tak terelakkan, yang pada akhirnya akan menjatuhkan pemerintahan ini dan membuka jalan untuk perkembangan revolusioner baru di Prancis.

Masalah yang kita hadapi bukanlah kuatnya Macron, tetapi lemahnya Kiri. Semua partai Kiri tengah dalam krisis. France Insoumise telah blunder berkali-kali. Selama gerakan Rompi Kuning berlangsung, mereka ketinggalan di belakang. Salah satu tuntutan utama yang diajukan gerakan Rompi Kuning adalah pemilu baru. France Insoumise telat sekali mendukung tuntutan ini.

Melenchon, yang sebelumnya muncul sebagai oposisi kuat dari Kiri, telah gagal mengambil peluang dari situasi ini. Setelah pemogokan umum Desember, dia berdiri di belakang para pemimpin serikat buruh yang mengabaikan slogan “Turunkan Macron” yang dimajukan oleh buruh akar rumput dan ingin menyalurkan protes ini ke jalur negosiasi dengan pemerintah, dan membatasi gerakan ini hanya ke masalah reforma pensiun.

Melenchon sudah tidak lagi berbicara mengenai perlunya merebut tuas ekonomi. Alih-alih, dia berbicara mengenai perlunya menggunakan bahasa yang moderat. Apa yang sebenarnya dia katakan adalah kita harus menumpulkan propaganda partai supaya tidak menakut-nakuti kaum borjuasi. Dia menolak mengimplementasikan struktur yang lebih demokratik dalam gerakan France Insoumise (FI), karena ini akan menyediakan struktur yang memungkinkan kritik terhadap kepemimpinan FI. Bila dia dengan serius membangun struktur untuk gerakan FI, maka FI bisa menjadi besar. Tetapi dia tidak ingin mengorganisir sebuah partai politik. Melenchon memilih mempertahankan FI sebagai “gerakan” tanpa bentuk.

Karena Melenchon gagal menggunakan potensi penuh situasi ini, Marine Le Pen popularitasnya meningkat. Kendati demikian, walaupun FI telah menjadi lemah, FI masih merupakan satu-satunya poin referensi Kiri yang ada hari ini, dan dapat pulih kembali seiring dengan mendalamnya krisis kapitalisme. Dan kendati semua usaha Macron untuk memulihkan fondasinya, program penghematannya yang reaksioner akan memercikkan kembali gerakan oposisi, seperti yang kita saksikan dalam pemogokan umum Desember melawan “reforma” pensiun.

Krisis di Spanyol

Kondisi sosial dan ekonomi di Spanyol sangatlah tidak stabil. Pertumbuhan ekonomi didorong oleh sektor-sektor non-produktif: turisme dan spekulasi. Sementara produksi industri menderita penurunan tertajam dalam enam tahun, terutama dalam industri mobil. Ada krisis perumahan yang serius, dengan biaya sewa rumah yang terus menanjak, listrik yang terus naik, dst. Gerakan massa kaum pensiunan pada 2019 merupakan indikasi tumbuhnya mood radikalisasi dalam masyarakat Spanyol.

Kontradiksi-kontradiksi terus bermunculan di setiap tingkatan masyarakat. Semua institusi rejim borjuis terdiskreditkan. Masalah kebangsaan Catalan belum terselesaikan. Dipenjaranya para tapol Catalan memicu gelombang protes massa yang baru, yang hampir berubah menjadi insureksi. Tetapi, yang jelas terpampang setelah referendum kemerdekaan 2017 adalah kepengecutan kepemimpinan nasionalis borjuis-kecil dalam gerakan ini. Gerakan republiken Catalan tidak akan bisa maju dengan kepemimpinan semacam ini. Hanya dengan orientasi internasionalis dan kelas-buruh yang jelas maka gerakan kemerdekaan Catalan akan dapat menghimpun kekuatan yang dibutuhkan untuk melawan rejim Spanyol.

Pemilu April 2019 menunjukkan adanya potensi untuk Kiri. Ini sudah disiapkan oleh gerakan pemogokan perempuan 8 Maret dan gerakan massa kaum pensiunan. Munculnya partai kanan-ekstrem, Vox – pecahan dari Partai Popular – yang menggunakan semua retorika lama Franco-isme meningkatkan jumlah suara kiri. Partai Popular kalah, bahkan di kota-kota yang telah didominasinya selama lebih dari 25 tahun. Radikalisasi ini terwujud dalam partisipasi pemilu tertinggi selama 30 tahun terakhir.

Tetapi potensi ini disia-siakan oleh Podemos dan United Left, yang menunjukkan bahwa mereka bahkan tidak bisa menjadi oportunis yang baik. Alih-alih menawarkan untuk membantu PSOE untuk membentuk pemerintah (dan dengan demikian memblokir sayap kanan) dengan memberikan PSOE dukungan kritis dari luar pemerintah, mereka hanya tertarik menuntut posisi-posisi menteri dalam pemerintah. Negosiasi antara PSOE, Podemos dan United Left akhirnya runtuh. Pada akhirnya, Sanchez (PSOE) memutuskan untuk mengulang pemilu, dengan harapan dapat menaikkan suara mereka dan dapat membentuk pemerintahan yang lebih stabil, yang dibutuhkan oleh kelas penguasa untuk bisa menghadapi resesi ekonomi yang akan datang.

Pemilu baru pada November 2019 tidak menyelesaikan satu hal pun. Alih-alih bertambah kuat, PSOE justru kehilangan beberapa anggota parlemen. Sementara partai Ciudadanos, yang berpotensi jadi partner koalisinya, kalah telak. Ini memaksa PSOE untuk berkoalisi dengan Unidas Podemos (yang menerima disiplin pemerintah dan batas anggaran UE) dengan dukungan dari luar dari kaum nasionalis Catalan dan Basque. Pemerintahan ini harus menghadapi resesi ekonomi yang akan datang, dan juga perjuangan hak kebangsaan Catalonia. Pemerintahan ini penuh dengan kontradiksi dan pada akhirnya para pemimpin Podemos dan United Left akan terdiskreditkan.

Inggris

Empat tahun yang lalu, referendum keanggotaan UE memberikan hasil yang mengguncang rejim sampai ke sumsumnya. Sejak itu, Inggris ada dalam gejolak sosial dan politik tanpa preseden. Elemen baru dalam persamaan politik hari ini adalah kenyataan bahwa kelas penguasa telah kehilangan kendali atas situasi, dan sejak itu kesulitan mengembalikan kendali.

Di masa lalu, tidaklah sulit bagi kelas penguasa untuk menjalankan sistem ini. Partai Konservatif, partai utama kelas borjuasi, ada di bawah kendali mereka, sementara Partai Buruh dipimpin oleh tuan nyonya kelas menengah yang terhormat, yang dapat diandalkan. Dan ketika rakyat letih dengan Partai Buruh, mereka dapat membawa kembali Partai Konservatif.

Dalam beberapa tahun terakhir, hancurnya keseimbangan politik dan sosial yang mengalir dari keruntuhan ekonomi 2008 telah tercerminkan dalam polarisasi tajam ke kanan dan ke kiri. Secara efektif, kelas penguasa Inggris telah kehilangan kendali Partai Konservatif dan Partai Buruh.

Kaum borjuasi Inggris cemas dengan perkembangan dalam Partai Konservatif. Tetapi mereka bahkan lebih khawatir dengan perkembangan dalam Partai Buruh. Terpilihnya Jeremy Corbyn, kendati karakter reformis kiri dalam programnya yang terbatas, mewakili pergeseran tajam ke kiri. Ini telah membangkitkan ratusan ribu orang, terutama kaum muda, ke dalam kehidupan politik.

Rekrut-rekrut baru membanjiri Partai Buruh, yang menyebabkan transformasi mendalam dalam partai. Sayap kanan Blairite mengalami demoralisasi. Mayoritas besar ranting-ranting partai telah bergerak dengan tajam ke kiri, terutama setelah usaha kudeta pada 2016. Perubahan ini menyebar ke hampir seluruh aparatus partai, setelah McNicol yang dari sayap-kanan digantikan dengan Fornby. Pemburuan terhadap kaum kiri dihentikan dan banyak mantan anggota sayap-kiri yang kembali.

Konferensi Partai kini didominasi oleh sayap-kiri, dan hanya birokrasi serikat buruh yang menjadi penghalang. Pengaruh sayap kanan sudah tergerus, dan benteng terakhirnya adalah para anggota parlemen, kantor-kantor dan dewan-dewan daerah, dimana mereka terus mencoba menyabotase Corbyn.

Perkembangan ini menciptakan kepanikan di antara kelas penguasa. Dengan dalamnya krisis yang ada, sebuah pemerintahan Partai Buruh akan ada di bawah tekanan besar dari bawah untuk mencanangkan programnya dan mengambil kebijakan melawan kaum bankir dan kapitalis. Ini akan menjadi ancaman serius terhadap borjuasi.

Kaum borjuasi, bersama dengan sayap kanan Partai Buruh, telah melakukan segalanya untuk mencegah kemenangan Partai Buruh. Kaum Blairite sudah siap pecah dari Partai bila Corbyn menang pemilu. Mereka secara aktif menyabot Partai Buruh. Sekarang mereka telah mendapatkan hasil yang mereka dambakan.

Kelas penguasa memobilisasi semua sumber daya mereka untuk meremukkan Jeremy Corbyn dan mencegah kemenangan Partai Buruh. Pemilu 2019 adalah pemilu paling kotor dalam sejarah modern. Semua sumber daya yang ada di tangan kelas penguasa – dari media massa sampai Kepala Rabbi – dikerahkan untuk mencoreng nama Jeremy Corbyn.

Akan tetapi, elemen utama yang menentukan hasil pemilu 2019 adalah Brexit. Sejak 2016, isu Brexit telah meracuni kehidupan politik Inggris. Ada perpecahan dalam kelas penguasa menjadi dua faksi, tetapi ini akhirnya memecah belah masyarakat, bukan dalam garis kelas, tetapi secara reaksioner.

Sayap kanan Partai Buruh menyalahkan Corbyn atas kekalahan pemilu, tetapi mereka mengabaikan satu detail kecil, bahwa dengan mendorong Partai Buruh ke kamp Remain (untuk tetap jadi bagian Uni Eropa) mereka-lah yang menjerumuskan Partai Buruh ke kekalahan. Dan “tidak populer”nya Jeremy Corbyn adalah karena serangan dan fitnah mereka yang bertubi-tubi terhadap Jeremy Corbyn, serta usaha mereka untuk mendongkelnya dari posisi Ketua Partai Buruh.

Tidak heran sehari setelah pemilu kampanye keji untuk menyingkirkan Corbyn membesar 1000 kali lipat, dan secara parsial berhasil ketika Corbyn dan McDonnell mengumumkan akan mundur.

Jatuhnya Jeremy Corbyn, akan tetapi, juga mengekspos kelemahan dan keterbatasan reformisme kiri. Kaum reformis sayap-kanan telah menunjukkan kalau mereka jauh lebih teguh ketimbang kaum Kiri. Mereka siap melakukan apapun untuk memenangkan pertempuran dalam Partai Buruh. Kaum Kiri, sebaliknya, cenderung goyah, selalu ingin menghindari konflik dan berkompromi. Ini adalah kesalahan yang sangat serius, dan yang memaksa kaum Kiri untuk mengambil langkah mundur setapak demi setapak. Dan untuk setiap langkah mundur yang diambil Kiri, kaum Kanan menuntut sepuluh langkah.

Kompromi politik yang dilakukan Corbyn menjadi kunci dalam kekalahan pemilu Partai Buruh. Mengenai isu Brexit, Corbyn mendukung diselenggarakannya referendum baru. Ini dilihat oleh rakyat yang telah memilih meninggalkan Uni Eropa pada referendum 2016 sebagai usaha untuk membalikkan keputusan yang sudah diambil oleh mayoritas populasi, sebuah keputusan yang terlebih lagi bertentangan dengan kepentingan status quo.

Usaha Corbyn dan MacDonnell untuk memuaskan kaum Kanan guna mempertahankan “persatuan” justru menunjukkan karakter lemah, dan kelemahan selalu mengundang agresi lebih lanjut. Kompromi Corbyn terhadap masalah seleksi ulang anggota parlemen, masalah referendum Brexit dan masalah anti-Semitisme memperkuat sayap kanan dan membuka jalan ke kekalahan hari ini. Tetapi kontra-revolusi Blairite dalam Partai Buruh tidak dapat dimenangkan tanpa meledaknya perang saudara dalam Partai. Dan Partai sudah ada dalam kondisi perang saudara terbuka.

Turunnya Corbyn jelas merupakan pukulan bagi kaum Kiri, dan memang itu tujuannya. Perubahan yang telah terjadi dalam Partai Buruh sangatlah luas, terutama di tingkatan akar-rumput, tetapi juga dalam aparatus partai, sehingga fenomena yang dikenal sebagai Revolusi Corbyn tidak akan mudah dipadamkan begitu saja, seperti yang dipahami oleh analis borjuis yang lebih tajam. Pada 13 Desember, majalah The Economist menerbitkan artikel berjudul “Kekalahan besar Jeremy Corbyn”, yang menyimpulkan dengan murung bahwa “Blairisme akan tetap berada di dalam kubur.”

Media massa mencoba menggambarkan kemunduran ini sebagai akhir dari Partai Buruh. Tetapi ini hanyalah perkembangan episodik, yang akan berubah menjadi kebalikannya. Ketika realitas Brexit akhirnya terungkap di mata rakyat, akan ada reaksi keras terhadap Boris Johnson dan semua kebijakannya. Pemerintahannya akan menjadi pemerintah yang paling tidak populer dalam sejarah.

Hasil pemilu kemarin juga tidak sekokoh yang digambarkan media. Pada kenyataannya, jumlah kenaikan suara Partai Konservatif tidaklah besar – hanya 300 ribu suara lebih banyak dibandingkan pemilu 2017. Begitu juga hasil pemilu di wilayah-wilayah kelas buruh di Timur-laut Inggris, tidaklah sebaik yang mereka pikir. Kebanyakan yang memilih Boris Johnson mengatakan bahwa mereka hanya “meminjamkan” suara mereka. Mereka mengharapkan Boris Johnson untuk memenuhi janji-janjinya, dan bila tidak maka dukungan tersebut akan ditarik kembali.

Tetapi Johnson tidak akan mampu memenuhi janji-janjinya. Seperti di negeri-negeri lain, periode hari ini ditandai dengan perubahan opini publik yang drastis, ke kiri dan ke kanan. Pemilu 2019 di Inggris adalah salah satu contohnya. Ini akan membuka periode konflik sosial, perjuangan kelas dan gejolak politik yang baru dan lebih besar daripada sebelum-sebelumnya, dengan konsekuensi politik yang dalam.

Keluarnya Inggris dari UE tidak akan membawa Inggris ke era kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya ini akan membawa konsekuensi yang sangat negatif untuk perekonomian Inggris. Bila Inggris meninggalkan UE tanpa kesepakatan, ini akan menjadi bencana besar. Tetapi bahkan dengan skenario terbaik, Brexit akan menyebabkan kontraksi ekonomi, hilangnya pekerjaan dan menurunnya taraf hidup.

Jauh dari menyediakan masa depan kemajuan, kemakmuran dan kestabilan, Inggris ditakdirkan memasuki masa yang paling labil dan bergejolak dalam sejarah modern. Serangan terhadap taraf hidup dan layanan sosial akan menjadi tak terelakkan, dan ini akan menghasilkan ledakan pemogokan, protes, dan demo-demo massa dalam skala yang tidak pernah kita saksikan di Inggris sejak 1970an.

Situasi ini akan diperparah oleh masalah kebangsaan Skotlandia. Walaupun Partai Konservatif meraih mayoritas menentukan di Inggris, Partai Nasionalis Skotlandia (SNP) meraih bahkan mayoritas lebih besar di wilayah Skotlandia. Kemenangan Boris Johnson adalah provokasi bagi rakyat Skotlandia. Slogan pemilunya “Tuntaskan Brexit” terdengar seperti provokasi di telinga rakyat Skotlandia yang secara mayoritas memilih untuk tetap berada dalam UE.

Pemimpin nasionalis Nicola Sturgeon segera menuntut referendum baru untuk kemerdekaan Skotlandia. Boris Johnson menolak bahkan untuk mendengar tuntutan ini. Ini akan mengarah ke benturan serius antara Skotlandia dan Westminster. Apa hasil dari konflik ini akan sulit diprediksi. Tetapi satu hal yang jelas. IMT berdiri teguh mendukung hak penentuan nasib sendiri rakyat Skotlandia, sampai ke pemisahan dari Inggris Raya. Akan tetapi, kita harus menjelaskan kepada kaum buruh Skotlandia bahwa di dalam ataupun di luar Inggris Raya, tidak ada solusi bagi kelas buruh Skotlandia selama mereka berada di bawah kapitalisme. Bertentangan dengan kaum nasionalis borjuis SNP yang menginginkan kemerdekaan Skotlandia Kapitalis, kita berjuang demi terbentuknya Republik Buruh Skotlandia, yang akan menjadi fondasi kuat untuk tercapainya Federasi Sosialis Skotlandia, Inggris, Irlandia dan Wales. Dalam perjuangan antara Skotlandia dan pemerintahan Konservatif yang reaksioner, kita akan berdiri bersama rakyat Skotlandia.

Bencana Brexit juga akan memiliki konsekuensi serius di Irlandia, dimana pengenalan perbatasan dan tarif – bahkan dalam bentuk yang diusulkan Boris Johnson – akan membangunkan semua setan lama yang mereka pikir telah mereka kubur dalam kesepakatan Jumat Agung. Adalah ironi sejarah kalau partai yang secara resmi dikenal sebagai Partai Konservatif dan Partai Persatuan kemungkinan besar akan memecah belah Inggris Raya, dengan konsekuensi yang tak terbayangkan untuk seluruh rakyat.

Panggung tengah dipersiapkan untuk konflik dan perjuangan dalam skala masif. Ini akan mempersiapkan ayunan tajam ke kiri di hari depan. Bila Kiri berdiri tegas dan tidak goyah, mereka akan tumbuh. Wilayah-wilayah yang memilih Partai Konservatif pada pemilu sebelumnya akan berayun dengan cepat ke arah sebaliknya, dan Partai Buruh akan ada dalam kondisi bergejolak. Dalam waktu dekat, kaum Kanan Blairite akan meluncurkan pertempuran terakhir untuk merebut kembali kendali partai. Mereka didukung oleh kelas penguasa, yang ingin menghancurkan radikalisasi Kiri dalam Partai Buruh.

Perjuangan dalam Partai Buruh akan menjadi lebih tajam dan pahit. Proses debat dan refleksi internal mengenai hasil pemilu kemarin telah dimulai. Provokasi kaum Blairite akan mendorong gelombang kemarahan dan kemuakan di antara anggota akar-rumput. Akan tetapi, ini adalah perjuangan antara kekuatan-kekuatan yang hidup, yang hasilnya akan sulit ditebak.

Mayoritas besar anggota akar rumput Partai Buruh adalah pendukung Corbyn. Mereka siap berjuang melawan sayap kanan. Tetapi dalam perjuangan manapun, kualitas dan semangat perjuangan yang dimiliki kepemimpinan adalah elemen penting. Corbyn dan McDonnell membuat berbagai konsesi ke sayap kanan. Bila mereka digantikan oleh pemimpin reformis kiri yang lebih lembek, mereka bahkan akan lebih cenderung berkompromi pada tuntutan “persatuan”, dan akan jatuh ke perangkap yang telah disiapkan oleh geng Blairite.

Perjuangan dalam Partai Buruh adalah perjuangan kelas: satu sayap mencoba mewakili kelas buruh, kaum miskin dan tersingkirkan; sayap yang lain terdiri dari para pengejar karier, yang secara sadar atau tidak sadar, mewakili kepentingan kapitalis. Dua tendensi yang antagonistik ini tidak dapat berada dalam partai yang sama untuk selama-lamanya. Bila anggota akar rumput berhasil menegakkan dominasinya, pada titik tertentu sayap kanan akan terdorong untuk pecah. Tetapi ini bukan sesuatu yang pasti.

Ketika Corbyn dan McDonnell mengumumkan niat mereka untuk turun, sayap kanan memperoleh keberanian untuk melakukan ofensif. Moral mereka yang terpuruk pada 2018 kini telah pulih, dan mereka merasa tidak perlu pecah dari Partai Buruh karena mereka kini punya harapan untuk merebut kembali partai ini. Sebaliknya, kaum Kiri kini mengalami demoralisasi dan kebingungan. Kandidat Kiri untuk kepemimpinan partai, Rebecca Long-Bailey, tidak memiliki otoritas seperti Corbyn. Semua akan tergantung pada akar rumput. Tetapi juga banyak kebingungan di antara mereka.

Bagaimanapun juga, tendensi Marxis akan ada di garis depan perjuangan melawan sayap kanan. Kaum Marxis akan memenangkan otoritas dan respek dari buruh dan kaum muda, yang dalam praktik akan menemukan keunggulan Marxisme, tidak hanya sebagai satu gagasan, tetapi sebagai sebuah tendensi politik yang tidak kompromis dan tidak pernah menyerah, yang berjuang sampai garis akhir.

Imperialisme AS dan Relasi Dunia

Setelah runtuhnya Uni Soviet, hanya ada satu kekuatan adidaya yang tersisa. Dan dengan kekuatan besar, datang juga arogansi besar. Setelah akhir Perang Dunia II, seluruh dunia terbagi ke dalam dua blok: imperialisme AS dan Rusia Stalinis. Ini menghasilkan semacam kestabilan dalam relasi internasional yang berlangsung selama puluhan tahun, dengan meledaknya krisis sesekali seperti krisis misil Kuba. Tetapi umumnya, kedua kekuatan adidaya ini berhati-hati untuk tidak mengintervensi terlalu banyak wilayah pengaruh masing-masing.

Semua ini berubah setelah runtuhnya Uni Soviet. Keruntuhan ini meninggalkan vakum yang dieksploitasi oleh imperialis AS dengan meluaskan intervensinya, pertama di wilayah Balkan dan lalu di perang Irak dan Afghanistan. Rusia ada dalam posisi lemah dan untuk sementara tidak bisa merespons. Tetapi periode ini telah berakhir. Akhirnya Rusia mulai pulih dan mulai menegaskan dirinya, dimulai dengan Georgia, lalu Ukraina, lalu Suriah. Di Irak dan Afghanistan juga, AS mengalami kekalahan di tangan Taliban yang sekarang mulai bangkit di Afghanistan, sementara Iran mulai menang di Irak.

Di semua kasus ini, imperialisme AS terpaksa menerima kekalahan yang memalukan. Hasil dari kekalahan-kekalahan ini adalah utang negara yang besar dan populasi yang letih dengan petualangan perang. Disertai krisis umum kapitalisme, menajamnya perjuangan kelas dan perpecahan di antara kelas penguasa, skala intervensi militer AS telah menjadi sangat sempit. Barack Obama bahkan tidak mampu mendapatkan persetujuan Kongres untuk meluncurkan kampanye pemboman di Suriah. Ini menunjukkan limit dari kekuatan imperialisme AS. AS telah menderita kemunduran, secara relatif dengan kekuatan-kekuatan kapitalis lainnya. Ini menjelaskan ketidakstabilan global yang meningkat dan krisis orde dunia pasca-Perang-Dunia, yang dibangun di sekeliling imperialisme AS.

Namun, kita harus berhati-hati tidak melebih-lebihkan kemunduran imperialisme AS. Ini adalah kemunduran secara relatif. Amerika masih merupakan negeri terkaya di dunia, dan kekuatan militer terbesar di dunia. Kebijakan AS masih menentukan arah perekonomian dunia, karena ia masih merupakan pasar terbesar. Perlambatan ekonomi AS akan menyebabkan perlambatan global, yang akan berakhir dengan resesi dunia.

Walaupun Trump adalah seorang isolasionis dari sudut pandang militer, dia tengah melakukan segalanya (walaupun ada hal yang mustahil) untuk menegaskan kekuatan isolasionis ini dalam ranah ekonomi. Ini terangkum dalam slogannya: “Make America Great Again”, tetapi dia lupa menambahkan bagian keduanya: dengan merugikan seluruh dunia. Seperti yang telah kita jelaskan, ini menimbulkan konflik yang dapat menyebabkan konsekuensi serius bagi ekonomi dunia.

China, Naga yang tengah tidur

China adalah salah satu ekonomi terpenting di dunia, berkat perkembangan industrinya di periode sebelumnya. Kontradiksi-kontradiksi besar tengah menumpuk di sana. Pertumbuhan industri juga berarti tumbuhnya kelas buruh dalam jumlah besar. Napoleon pernah berkata: “China adalah naga yang tengah tidur. Bila naga ini bangun, seluruh dunia akan bergetar.” Kita dapat mengulang kalimat profetik ini dengan perubahan kecil: “Bila proletariat China bangun, seluruh dunia akan bergetar.” Potensi revolusioner besar China secara dramatis terungkap oleh peristiwa-peristiwa di Hong Kong.

Ini sangatlah positif dari sudut pandang kita, tetapi ini adalah problem serius bagi kelas penguasa China. Sekarang, semua kontradiksi tengah mencuat. Dari informasi statistik yang terbatas, jumlah pemogokan dan demonstrasi meningkat. Dan Xi Jinping sedang mencoba memusatkan segala hal dan meredam segala bentuk oposisi sebelum jatuh di luar kendalinya.

China sekarang menghabiskan anggaran yang lebih besar untuk keamanan internal ketimbang pertahanan militer. Karena China adalah negara totaliter, semua informasi disensor dan difilter. Kesan yang tercipta adalah masyarakat yang tenang, dimana tidak banyak hal yang terjadi. Tetapi ini adalah ilusi optikal. China adalah seperti panci presto besar, dimana tekanan yang terkumpul tidak memiliki saluran ekspresi yang legal, dan ini harus akhirnya akan terekspresikan dalam ledakan besar. Ini akan terjadi saat tidak ada orang menyangkanya, dan persis ini yang terjadi di Hong Kong.

Pada tahap-tahap awal, gerakan ini memiliki elemen kesadaran kelas dan gagasan sayap kiri. Salah satu pemimpin gerakan ini menyatakan dalam programnya kalau dia menentang hegemoni kapitalis. Mood di jalan-jalan jelas revolusioner, dan kaum muda menunjukkan heroisme yang luar biasa. Gerakan di Hong Kong punya potensi untuk menyebar ke China. Dengan kepemimpinan yang tepat, potensi ini sangatlah besar.

Akan tetapi, dengan kepemimpinan borjuis-kecil, ini mustahil. Tanpa kepemimpinan Kiri yang serius, elemen-elemen pro-Barat menguat, dan usaha mereka untuk memohon bantuan dari AS dan Barat digunakan oleh media China sebagai bagian dari propaganda mereka untuk mencoreng citra para demonstran di mata jutaan rakyat jelata China. Heroisme kaum muda ini akan jadi sia-sia selama para pemimpin gerakan memiliki ilusi pada kapitalisme. Ini adalah resep pasti kekalahan.

Kebingungan para pemimpin ini diperparah oleh usaha terus-menerus mereka untuk bernegosiasi dengan para pemimpin di Beijing. Xi tidak punya niat untuk bernegoisasi dengan mereka atau siapapun. Dia ingin membungkam mereka. Alasannya jelas: massa rakyat Hong Kong telah menyediakan sebuah teladan yang dapat dengan cepat menyebar ke China daratan, dimana ada kekecewaan besar yang bergolak di bawah permukaan. Dan kelas penguasa di Beijing gemetar ketakutan.

Apapun hasil dari situasi sekarang, ini bukanlah bab akhir drama tetapi hanyalah pembukaan untuk peristiwa di hari depan yang bahkan akan lebih besar. Kemunduran gerakan di Hong Kong akan menunda perkembangan revolusioner di China, tetapi ini tidak akan menghentikannya. Di periode mendatang, mobilisasi massa yang telah kita saksikan di Hong Kong akan terulang di Beijing dan Shanghai dan di seluruh China, di tingkatan yang bahkan jauh lebih tinggi. Ini adalah perspektif yang riil. Untuk membangun sebuah seksi di China adalah salah satu tugas paling penting bagi IMT.

Rusia

Rejim Putin telah berkuasa selama dua dekade. Di atas panggung internasional, kesan yang ada adalah seorang pemimpin kuat yang punya kendali total di Rusia. Tetapi cara pandang seperti ini berat sebelah. “Sang pemimpin kuat” ini adalah raksasa dengan kaki lempung. Di periode pertama, Putin meraih keuntungan dari kebangkitan ekonomi, yang sebagian besar didorong oleh harga migas yang tinggi, ekspor utama Rusia dan sumber utama kekayaannya.

Selain itu, dia juga memainkan kartu nasionalisme sehubungan dengan krisis Ukraina, yang mengarah ke aneksasi Crimea dan intervensi militer di wilayah Donbass. Tetapi sekarang euforia nasionalis ini sudah mulai pupus. Ekonomi mandek. Dan dukungan terhadap Putin di survei-survei terus jatuh. Kelas buruh dan borjuasi tengah menekan Putin, yang berusaha menciptakan kesan kalau dia sedang mengatasi korupsi dengan serius, walaupun klik Kremlin sendiri adalah sumber korupsi besar. Pada 2018, sejumlah agen polisi rahasia ditangkap dengan tuduhan korupsi. Tetapi kebijakan-kebijakan anti-korupsi ini tidak memperbaiki ekonomi sama sekali.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi telah memaksa Kremlin untuk memangkas anggaran belanja negara. Ini pada gilirannya berarti “kontrak sosial” mulai retak. Pengangguran meningkat, begitu juga pekerja kontrak dan rentan. Serangan-serangan ini telah meningkat pada periode terakhir. Salah satunya adalah reforma pensiun, yang memukul keras jutaan buruh di Rusia dan direspons dengan protes-protes massa.

Karena Putin tidak mampu menghentikan kemunduran ekonomi, dia mencoba memperkuat cengkeraman politiknya. Dia ingin memaksakan kontrol penuh atas sistem yuridis dan politik, komunikasi dan media. Partainya, Persatuan Rusia, mempertahankan cengkeraman yang kuat di semua tuas politik, tetapi tengah menghadapi kemarahan rakyat yang terus tumbuh, yang telah terekspresikan dalam serangkaian protes massa menentang pemerintah, terutama di Moskow.

Akan tetapi, kampanye yang dipimpin oleh Alexei Novalny memiliki karakter yang sungguh kelas menengah, kendati usahanya untuk menarik kelas buruh. Pada saat yang sama, Partai Komunis Federasi Rusia (CPRF) di bawah kepemimpinan Zyuganov tidak berusaha memberikan kepemimpinan pada gerakan protes ini, dan secara efektif, telah membuat kesepakatan dengan Kremlin untuk menghindari oposisi serius apapun terhadap Vladimir Putin.

Sepuluh tahun yang lalu, CPRF adalah sebuah kekuatan serius di Rusia. Hari ini, walaupun CPRF masih merupakan faktor penting, partai ini tidak tumbuh sama sekali dari situasi politik yang ada dan tengah dalam krisis. Kepemimpinan partai ini sangatlah bangkrut. Mereka telah sepenuhnya menerima sistem kapitalisme. Banyak kandidatnya adalah pengusaha. Partai ini dipimpin oleh sebuah klik yang autokratik, yang ada dalam konflik permanen dengan klik-klik birokratik lainnya.

Dalam kebanyakan kasus, benturan-benturan antar klik ini tidak memiliki konten politik sama sekali. Walaupun menarik untuk dicatat kalau kaum oposisi dalam partai biasanya dituduh “neo-Trotskis”. Telah terjadi gelombang pemecatan berkali-kali, termasuk pemecatan seluruh organisasi partai daerah. Untuk alasan ini, kerja dalam CPRF bukanlah opsi yang memungkinkan pada tahapan ini. Akan tetapi, akan menjadi kekeliruan besar kalau kita menafikan CPRF sepenuhnya. Partai ini masih menyandang nama Partai Komunis, dan lambang-lambang Komunisme – bendera merah, palu dan arit, dsb. Karena adanya vakum besar dalam gerakan Kiri, kendati semua kekurangan mereka, CPRF dapat meraih dukungan besar di masa depan, terutama dengan meledaknya krisis sosial dan politik.

Walaupun saat in Putin berhasil mempertahankan kekuasaannya, situasi ini tidak akan bertahan untuk selama-lamanya. Ekonomi Rusia secara fundamental tergantung pada harga migas, yang niscaya akan terpukul oleh resesi ekonomi dunia yang akan datang. Gerakan protes sudah menyebar dalam skala yang lebih besar dan akan melemahkan fondasi kekuasaan Putin. Dia tidak akan bisa terus memainkan kartu nasionalisme, karena massa sudah lelah dengan petualangan luar negeri Putin dan sudah mulai menentangnya.

Kelas buruh Rusia belumlah mulai bergerak. Bila mereka bergerak, seluruh situasi akan dengan cepat berubah, seperti yang kita saksikan pada Januari 1905. Kaum buruh Rusia punya tradisi revolusioner dan kesadaran mereka akan melompat segera setelah situasi berubah.

Kita kini telah mendirikan sebuah seksi yang kuat dengan basis di banyak wilayah Rusia. Tertundanya proses revolusi di Rusia menguntungkan kita, karena kita butuh waktu untuk mengonsolidasikan kekuatan kita, yang dapat berkembang dengan pesat seiring dengan bergulirnya peristiwa-peristiwa. Lahirnya sebuah partai buruh yang sejati ada dalam agenda dan kita harus berada di tengah proses ini. Ini dapat terjadi melalui perubahan fundamental dalam rejim CPRF. Atau bila krisis internal dalam CPRF menyebabkan kehancuran partai ini, ini berarti adanya kebutuhan untuk membentuk sebuah partai yang baru. Kita berdiri di atas basis Bolshevisme-Leninisme yang sejati (Trotskisme). Ini memberi kita kekuatan, otoritas dan rasa percaya diri yang besar. Dengan kerja yang sabar di antara lapisan buruh dan muda yang paling maju, kita dapat meletakkan fondasi untuk pembangunan sebuah kekuatan revolusioner massa di masa depan di Rusia, tanah Revolusi Oktober.

Afrika

Populasi Afrika 1,3 miliar, dengan mayoritas besar hidup dalam kemiskinan parah, di benua yang dianugerahi kekayaan mineral besar dan potensi pertanian. Salah satu indeks kemiskinan Afrika adalah PDB-nya, yang sebesar $2,2 triliun pada 2017. Kontraskan ini dengan PBD Amerika Serikat yang sebesar $19,4 triliun, sepuluh kali lipat dibandingkan seluruh Afrika, sementara jumlah penduduk AS 327 juta. Ini menggarisbawahi dengan jelas peran imperialisme, di masa lalu dan hari ini, dalam menjarah benua Afrika dan menghambat perkembangannya.

Oleh karena itu tidaklah heran kalau samudera kesengsaraan manusia ini menghasilkan gelombang pengungsi, yang nekat mencari cara untuk keluar dari mimpi buruk mereka. Kondisi kesengsaraan adalah hasil dari penjarahan terhadap negeri-negeri mereka oleh perusahaan multinasional yang rakus dan imperialisme, yang terus mendominasi mereka lewat mekanisme perdagangan dunia yang tidak adil, pembayaran utang yang mengeringkan kekayaan benua ini, dan “bantuan” palsu yang biasanya menjadi kedok munafik untuk mengeksploitasi mereka lebih lanjut.

Selain keterbelakangan historis ini, sekarang mereka dihadapkan dengan krisis kapitalisme dunia. Seluruh Afrika bergejolak, dengan krisis sosial dan politik yang menjangkiti banyak negeri. Kita telah saksikan gelombang gerakan massa belakangan ini, semua dengan elemen-elemen serupa. Diktator yang telah lama berkuasa, atau presiden yang berulang kali menjabat, mereka semua menolak turun saat waktu mereka sudah habis. Di tiap kasus, massa melihat presiden yang berkuasa sebagai pengejawantahan kebijakan pemangkasan yang telah dipaksakan pada mereka, dan ini melepaskan gerakan massa dengan dimensi revolusioner di seluruh penjuru Afrika beberapa tahun belakangan ini.

Di Burkina Faso pada 2014, ada protes menentang usaha Presiden Campaore untuk mengubah undang-undang supaya dia bisa terus menjabat sebagai presiden. Menghadapi oposisi massa, dia terpaksa turun setelah berkuasa selama 27 tahun. Di Burundi pada 2015, massa turun berjuang selama berminggu-minggu untuk menentang rencana Presiden Nkurunzia untuk mencalonkan diri di pilpres lagi, dan perjuangan ini mengguncang seluruh rezim sampai ke akar-akarnya. Massa rakyat membanjiri jalan-jalan setiap harinya, menuntut perubahan. Seluruh bangsa bangkit menentang rezim Nkurunzia.

Di Kongo pada 2015, gerakan besar meledak di seluruh penjuru bangsa. Para demonstran menuntut turunnya Presiden Joseph Kabila. Dia mencoba memperpanjang masa jabatannya melampaui batas 2016. Akhirnya, Kabila lengser dan seorang presiden baru terpilih pada 2018, tetapi ada kecurangan pemilu yang luas, yang diorkestrakan oleh petinggi-petinggi negara. Sementara itu, Kongo masih dalam kondisi kacau balau secara ekonomi dan sosial, dan tengah menghadapi perang saudara yang dapat berakhir menjadi barbarisme, dengan pembantaian dalam skala tak terbayangkan.

Gambia pada 2016 menemukan dirinya dalam krisis serius, yang dipicu oleh keputusan Presiden diktator Yahya Jammeh yang menolak turun, kendati telah kalah pilpres pada Desember 2016. Setahun kemudian, di Zimbabwe, Robert Mugabe turun setelah 37 tahun berkuasa, dan ini mengguncang seluruh Afrika bagian selatan. Lengsernya Mugabe disambut dengan kemeriahan di seluruh Afrika. Ini adalah tanda bahwa rakyat sudah muak dan letih dengan rezim-rezim busuk. Akan tetapi, tidak ada satupun hal yang fundamental yang berubah setelah turunnya Mugabe dan ini terungkap pada awal 2019, ketika protes massa menentang kebijakan-kebijakan pemotongan baru secara spontan tumbuh menjadi pemogokan umum melawan pemerintah.

Liberia juga bergolak, dengan gerakan massa mahasiswa dan buruh yang meledak pada 2019. Rezim telah meredam gerakan, tetapi tidak mampu mencegah kemarahan rakyat berubah menjadi gerakan yang lebih besar. Presiden Weah, 2 tahun setelah menang pilpres, telah memicu gerakan rakyat dan dapat jatuh di kemudian hari. Kita dapat mengharapkan lebih banyak gerakan-gerakan rakyat Afrika semacam ini, sebagai bagian dari kebangkitan pergolakan revolusioner yang menyapu dunia.

Nigeria

Nigeria adalah salah satu negeri kunci di Afrika, bersama dengan Mesir dan Afrika Selatan. Ini adalah negeri terbesar di Afrika, dengan populasi lebih dari 200 juta, dan PDB 375,8 miliar USD, yakni 1/6 dari PBD seluruh Afrika. Pada saat yang sama, usia harapan hidup Nigeria adalah yang terendah di seluruh Afrika Barat.

Sejak berakhirnya kekuasaan militer pada 1999, kelas penguasa Nigeria telah memerintah lewat dua partai borjuis, pertama PDP dan sekarang APC, tetapi massa rakyat sudah di ambang batas kesabaran mereka. Ini terungkap pada pemilu 2019, ketika lebih dari 43 juta pemilih terdaftar tidak menggunakan hak pilih mereka, sehingga yang abstain adalah blok pemilih terbesar! Hanya 35 persen yang mencoblos; tetapi Lagos, negara bagian yang paling maju, hanya mencatat 18% partisipasi pemilu. Ini secara jelas mengungkapkan vakum besar dalam kepemimpinan kelas buruh yang masih belum terisi.

Kelas penguasa Nigeria tidak mampu bahkan menyediakan kebutuhan dasar mayoritas populasi, dan terus menekan taraf hidup rakyat yang sudah parah ini. Kelas penguasa sadar bahwa kondisi hari ini dapat menimbulkan ledakan-ledakan sosial.

Afrika Selatan

Dua puluh tahun setelah runtuhnya Apartheid, tidak ada satupun problem fundamental yang dihadapi oleh rakyat Afrika Selatan yang telah diselesaikan. Kemiskinan dan pengangguran merajalela dan ketidaksetaraan bahkan lebih tinggi dibandingkan jaman Apartheid. Satu-satunya lapisan yang telah meraup keuntungan adalah selapisan tipis kaum kulit hitam Afrika Selatan, seperti presiden miliarder Cyril Ramaphosa, yang telah bergabung ke barisan kelas kapitalis.

Rezim ANC menahan gerakan rakyat sembari meluncurkan kebijakan pro-kapitalis. Hari ini ada ketidakpercayaan yang luas terhadap sistem. Lebih dari 51% pemilih terdaftar tidak mencoblos pada pemilu terakhir, dan tingkat abstensi terutama tinggi di antara kaum muda. Ini menciptakan kekhawatiran serius di antara kelas penguasa. Pemerintah ANC ada dalam krisis serius, yang tercerminkan dalam perpecahan terbuka di antara para pemimpinya. Partai oposisi, Democratic Alliance (DA) resmi juga ada dalam krisis.

Sementara itu, kebuntuan kapitalisme telah menyebabkan pergeseran tajam ke kiri dalam masyarakat. Selama 20 tahun terakhir ada mobilisasi massa bertubi-tubi. Buruh, kaum muda, dan kaum miskin di seluruh penjuru Afrika Selatah telah meluncurkan banyak pemogokan dan protes. Dari situasi ini lahir sebuah federasi serikat buruh yang baru, SAFTU, yang dibentuk oleh serikat buruh metal, NUMSA, dengan 364.000 anggota. Ini adalah federasi serikat yang paling kuat di Afrika Selatan, yang memiliki program, setidaknya di atas kertas, yang menyerukan penumbangan kapitalisme.

Para pemimpin NUMSA juga punya peluang historis untuk membangun sebuah partai buruh, tetapi kelambanan birokratik mereka menyia-nyiakan peluang tersebut. Untuk sekarang, Partai Buruh Revolusioner yang dibentuk oleh NUMSA tidaklah lebih dari cangkang sebuah partai. Oleh karena itu vakum politik ini secara parsial diisi oleh EFF (Economic Freedom Fighter), yang telah menjadi titik referensi bagi selapisan besar kaum muda dan bahkan selapisan kelas buruh. Keberhasilan EFF terutama karena tuntutan-tuntutan radikal mereka, yang mengecam praktik korupsi pemerintah, memobilisasi kaum muda di jalan-jalan dan menyerukan penyitaan tanah tanpa ganti rugi, nasionalisasi bank, tambang dan sektor strategis lainnya, menuntut pendidikan gratis, sanitasi dan perumahan, dll.

Tuntutan-tuntutan ini jelas menyentuh telinga selapisan kelas buruh di sentra-sentra urban dan juga banyak lapisan daerah pedesaan. Akan tetapi, semakin partai ini tenggelam dalam politik sehari-hari, semakin partai ini bergeser ke kanan, terutama setelah Cyril Ramaphosa menjadi presiden. Dalam masalah agraria, partai ini memberikan banyak konsesi ke ANC. Namun selama partai ini bukanlah partai yang berkuasa, rakyat tidak akan melihat ini. Yang mereka lihat adalah sebuah partai yang melawan kaum kaya. Dengan krisis yang melanda kapitalisme dan ANC, EFF akan terus tumbuh.

Timur Tengah

Nasib Musim Semi Arab menunjukkan bagaimana revolusi dan kontra-revolusi saling bertautan. Revolusi tidak mungkin hanya jalan setengah-setengah saja. Kelas buruh harus memimpin gerakan dan merebut kekuasaan, atau seluruh proses ini dapat balik arah dan membuka jalan ke kontra-revolusi. Inilah persis yang terjadi di Mesir.

Ini menggarisbawahi pentingnya faktor subjektif. Massa Mesir mampu memenangkan tidak hanya satu revolusi, tetapi juga sepuluh. Tetapi pada akhirnya, seluruh usaha mereka terhambat karena tidak adanya kepemimpinan. Vakum ini diisi oleh kontra-revolusi, dengan militer yang mengambil tampuk kekuasaan pemerintah.

Akan tetapi, Revolusi Arab belumlah selesai. Semua kontradiksi yang mengarah ke revolusi 2011 justru semakin parah. Di bawah pukulan gempa ekonomi dunia, taraf hidup kelas menengah menukik, sementara kaum buruh dan kaum miskin semakin terdorong ke kondisi kemiskinan dan pengangguran kronik, atau paling banter kerja tak menentu. Sementara, kelas penguasa telah kehilangan semua legitimasi mereka.

Untuk sementara, kredit murah dari Barat memungkinkan pemerintah-pemerintah Timur Tengah membeli perdamaian sosial. Tetapi kredit murah ini sudah mengering dan krisis baru tengah menyebar di wilayah ini. Krisis kapitalisme global telah terasa di sana dan mengekspresikan dirinya dalam ledakan-ledakan revolusioner di satu demi satu negeri: Lebanon, Aljazair dan Sudan. Dan Turki, Yordania dan Mesir tidak jauh di belakang.

Dengan mengeringnya kredit murah, setiap negeri harus melakukan pemotongan drastis terhadap taraf hidup rakyat, yang pada gilirannya akan memicu pergolakan sosial baru. Setelah beberapa tahun mandeg dan disorientasi, gerakan mulai menemukan pijakannya kembali. Setiap rejim di Timur Tengah ada dalam krisis serius. Ini juga benar di Israel, dimana kelas penguasa sangatlah terpecah belah, yang merupakan cerminan dari menajamnya perpecahan dalam masyarakat Israel secara keseluruhan. Akhirnya, krisis ini mulai mengguncang fondasi rezim-rezim reaksioner Arab Saudi dan Negara-negara Teluk.

Pada 2018, pemogokan umum dan protes massa yang luas di Yordania menyebabkan jatuhnya Perdana Menteri Hani Mulki. Di Tunisia, gelombang demi gelombang protes massa telah mengguncang negeri ini. Di Aljazair, sebuah gerakan revolusioner yang kuat telah menumbangkan Bouteflika dan mengguncang rezim dari atas hingga bawah. Di Turki, Erdogan terpukul secara serius dalam pilkada, dimana ia kehilangan kontrol di Istanbul, Ankara dan tiga kota besar lainnya. Dia mencoba mengalihkan perhatian massa dengan meluncurkan petualangan militer terhadap kaum Kurdi di Suriah. Tetapi situasi ekonomi yang terus memburuk tengah menciptakan kondisi untuk kebangkitan baru gerakan protes, seperti mobilisasi Gezi Park pada 2013, tetapi di tingkatan yang lebih tinggi.

Iran dan Irak

Di Iran, protes-protes yang berkelanjutan, yang menarik lapisan baru kaum buruh dan kaum miskin, telah mengguncang rezim selama 2018. Protes-protes ini meredup karena ancaman perang dengan AS, Israel dan Negara-negara Teluk, tetapi kemudian berlanjut pada November 2019, setelah rezim mengumumkan pemotongan subsidi BBM. Ledakan sosial baru dan lebih luas tengah dipersiapkan.

Di Lebanon, rakyat turun ke jalan setelah pemerintah mencanangkan apa yang disebut “Pajak WhatsApp”, yang merupakan bagian dari paket penghematan yang lebih luas. Pada puncaknya, gerakan ini melibatkan lebih dari dua juta rakyat, dari total populasi 4,5 juta (enam juta kalau kita hitung pengungsi Suriah). Ini adalah respons pada korupsi dan penyelewengan kekuasaan yang dilakukan selama puluhan tahun oleh para penguasa militer selama perang sipil 1980an yang kini telah menjadi politisi.

Selama bertahun-tahun, elemen-elemen ini telah menghasut sektarianisme untuk memecah belah populasi, tetapi ini sudah tidak lagi efektif. Menghadapi gelombang revolusioner dari bawah, kelas penguasa bersatu untuk mempertahankan rezim. Mereka akan mencoba menggelincirkan gerakan dengan mengobarkan api sektarianisme. Satu-satunya jalan ke depan bagi gerakan adalah memobilisasi kelas buruh dalam pemogokan umum untuk menumbangkan rezim dan mencegah kontra-revolusi dari mengambil inisiatif kembali.

Di Irak, sebuah gerakan revolusioner yang kuat, yang bermula dari wilayah-wilayah Syiah, dan diarahkan ke elite, menyapu bangsa ini. Gerakan ini juga melawan semua pemimpin dan partai politik, termasuk Muqtada al-Sadr, pemimpin Syiah radikal. Pada tahun-tahun sebelumnya, dia menyerukan protes, tetapi baru-baru ini dia bergabung ke dalam pemerintah. Rezim merespons dengan represi brutal. Tetapi protes berlanjut, dan menjadi semakin radikal, menyebar ke kaum mahasiswa dan kelas buruh, dengan beberapa gelombang pemogokan besar.

Gerakan di Irak telah menyebabkan perpecahan dalam kelas penguasa. Faksi pro-Iran menuntut represi yang lebih kejam, sementara lapisan penguasa di seputar klerus Syiah Ali Al-Sistani menganjurkan konsesi kecil untuk menenangkan gerakan. Faksi pro-Iran tampaknya di atas angin. Tetapi ratusan yang terbunuh dan ribuan lainnya yang terluka hanya akan menghancurkan ilusi demokrasi yang ada di dalam kesadaran massa.

Sebelumnya, kelompok-kelompok Syiah yang dibeking Iran di Irak dan Lebanon dapat menyembunyikan watak reaksioner mereka dengan kedok memerangi ISIS, imperialisme AS dan Arab Saudi. Mereka mengklaim sebagai pembela demokrasi, kaum miskin dan tertindas. Tetapi sekarang mereka telah terekspos. Di Lebanon, Hezbollah, yang telah memimpin pemerintah persatuan nasional sejak pemilu 2018, telah meluncurkan kebijakan penghematan dan merepresi gerakan. Di Irak, kelompok-kelompok yang dikendalikan Iran telah memperkuat cengkeraman mereka pada aparatus-aparatus negara dan mengenyahkan elemen-elemen lain yang dibeking AS. Peran Iran di Irak semakin dilihat oleh rakyat sebagai kekuatan penjajah yang brutal dan menindas. Qassem Soleimani, pemimpin Revolutionary Guard Quds, adalah figur kunci yang mengkoordinasi represi terhadap revolusi.

Ini akan memiliki konsekuensi penting di Iran, dimana rezim ini telah menopang dirinya sebagian lewat kebijakan luar negeri yang mencitrakan dirinya sebagai kekuatan yang progresif, non-sektarian dan demokratik, yang berjuang melawan imperialisme dan fundamentalisme agama. Demonstran menyerbu kedutaan besar Iran di Irak, dan ini mengingatkan banyak orang akan pendudukan kedutaan besar AS setelah Revolusi Iran 1979. Gambaran ini jelas akan menghancurkan lebih lanjut pencitraan anti-imperialis yang telah lama digunakan oleh rezim Iran.

Sudan

Dari semua gerakan di Timur Tengah selama beberapa tahun belakangan, revolusi Sudan adalah yang paling maju, yang memberi pelajaran penting bagi rakyat luas di wilayah ini. Keberanian dan keteguhan kaum muda, dan terutama kaum perempuan muda Sudan, sungguh menginspirasi. Pada puncak gerakan, mayoritas pegawai negeri di kementerian-kementerian negara mengikuti komando komite pemogokan untuk meluncurkan pemogokan umum, yang mengedepankan masalah kekuasaan.

Tetapi karena kebingungan dan kebimbangan kepemimpinan gerakan, peluang ini disia-siakan. Dalam situasi seperti ini, gagasan bahwa kita dapat berunding dengan para perwira militer reaksioner adalah gagasan yang teramat bodoh. Dalam situasi seperti ini, negosiasi tidak akan menyelesaikan apapun, dan hanya akan mengelabui massa dan melucuti mereka di hadapan kekerasan kontra-revolusioner.

Kaum reaksioner, yang didukung oleh imperialisme Mesir dan Saudi, bersenjata lengkap, tetapi massa memiliki keunggulan dalam hal jumlah dan kesediaan untuk berjuang dan mengorbankan jiwanya, bila diperlukan. Mereka menerima simpati dari tentara bawahan. Tetapi simpati ini akan tepat menjadi simpati pasif, kecuali kalau rakyat menunjukkan kalau mereka siap berjuang sampai akhir. Hanya dengan demikian maka mayoritas tentara bawahan dapat membalikkan moncong senjata mereka ke atasan-atasan mereka dan meremukkan kekuatan kontra-revolusioner.

Inilah satu-satunya cara untuk meremukkan kontra-revolusi dan memastikan kemenangan. Tetapi kaum reaksioner diberi ruang untuk berhimpun kembali dan meluncurkan serangan balik demi serangan balik. Hasil di Sudan tragis. Para pemimpin SPA (Sudanese Professional Association) masuk ke dalam pemerintah reaksioner, dimana peran utama mereka adalah meredam aksi revolusioner massa dan memastikan kekuasaan kontra-revolusi.

Amerika Serikat dan Iran: Membom atau tidak membom?

Keterbatasan kekuatan AS telah terungkap dengan begitu jelas di Timur Tengah. Amerika telah mengalami kekalahan demi kekalahan di Irak, Suriah, dan juga di Afghanistan. Dan konflik-konflik di wilayah ini telah mengekspos dan memperparah krisis dalam rezim Saudi, yang hanya mampu selamat sampai sekarang karena sokongan imperialisme AS dan Inggris. Hari ini, rezim Saudi penuh dengan perpecahan internal, dengan keluarga Al-Sauds, gerakan Wahhabi, keluarga kerajaan, dan jaringan suku-suku mereka, semua dengan agenda mereka masing-masing, sementara ketidakpuasan seperti api dalam sekam di antara kaum Syiah yang tertindas, kaum muda dan kaum buruh.

Selama perekonomian kokoh dan imperialisme AS menyokongnya, Kerajaan Saud dapat mempertahankan rezim yang rapuh ini. Tetapi dengan harga minyak yang anjlok, jaringan patronase yang memainkan peran penting dalam menjaga keutuhan Kerajaan Arab Saudi kini retak oleh perpecahan internal. Muhammad bin Salman mencoba mengonsolidasi posisinya dengan mengobarkan perang barbar di Yemen.

Trump terikat erat dengan Sayap Kanan Republiken, pangeran Saudi dan klik penguasa Israel. Sebagai niat baik untuk kekuatan-kekuatan ini, dia merobek perjanjian nuklir dengan Iran dan meluncurkan kampanye “tekanan maksimum” terhadap Iran. Ofensif ekonomi terhadap Iran yang diluncurkan Trump memberi lampu hijau kepada Israel dan Saudi untuk menyerang Iran dan proksi-proksinya di Timur Tengah. Sebagai akibatnya, Iran dan Arab Saudi kini berbenturan langsung untuk mempertahankan hegemoni mereka di wilayah tersebut.

Perang proksi di Yaman telah berlangsung selama 4 tahun. Tetapi kendati semua kekayaan dan persenjataan Saudi, serangan mereka gagal menduduki pelabuhan strategis Hadieida, dan kaum Houthi menyerang pipa-pipa minyak di Arab Saudi. Kekuatan United Arab Emirates memainkan perang kunci dalam perang di daratan (didukung oleh serangan udara Saudi yang tidak efektif). Tetapi sekarang, setelah merasa akan kalah, mereka memutuskan untuk mundur. Ini adalah pukulan fatal bagi ambisi Saudi di Yaman.

Tensi di daerah Teluk memiliki implikasi serius terhadap perekonomian dunia. 30 persen semua transportasi minyak bumi melewati daerah Teluk. Setiap hambatan akan menjadi bencana bagi ekonomi dunia. Ketika pada 2019 dua tanker minyak diserang, Washington segera menyalahkan Iran. Trump memberi perintah ke pasukannya untuk menyerang, tetapi 10 menit kemudian, membatalkan perintah ini. Ini membuktikan adanya perpecahan serius dalam administrasi AS, yang kemudian terkonfirmasi oleh pemecatan John Bolton (penasihat keamanan nasional AS).

Pada September 2019, instalasi minyak Saudi diserang, yang merupakan pukulan besar bagi Saudi, yang mengharapkan bantuan AS. Ini adalah kesalahan besar.

Trump paham betul kalau menyerang Iran akan merugikannya, tidak hanya dalam ranah militer, tetapi juga ekonomi dan politik. AS hanya memutuskan untuk menyerang Irak setelah kekuatan militer Irak telah melemah dengan serius sebagai akibat dari embargo ekonomi selama bertahun-tahun. Tetapi angkatan bersenjata Iran masih utuh dan kokoh. Tentara Iran memiliki pengalaman perang bertahun-tahun di Suriah, dimana mereka menang. Dalam perang defensif melawan kekuatan asing, angkatan bersenjata Iran bukanlah kekuatan yang dapat diremehkan.

Invasi darat ke Iran tidaklah mungkin. Tetapi kampanye pemboman dari udara tidak akan efektif dalam menghentikan program nuklir Iran. Ini dapat menundanya, tetapi tidak akan menghentikannya. Namun, konsekuensi politik dalam skala dunia akan sangatlah besar. Oposisi melawan AS akan tumbuh, terutama di dunia Muslim, dimana aliansi imperialisme Arab Saudi, Israel dan AS akan memprovokasi kegeraman. Kebijakan ini juga akan sangat tidak populer di AS, dimana rakyat AS telah letih dengan petualangan militer di Irak dan Afghanistan.

Akan ada demo-demo massa di setiap ibu kota negeri Barat. Ini juga akan memperdalam perpecahan yang sudah terjadi dalam aliansi Barat, yang jelas terpampang ketika Trump secara sepihak merobek perjanjian Iran, kendati diprotes oleh sekutu-sekutu Eropanya.

Terakhir, tetapi juga tidak kalah pentingnya, sebuah perang di Timur Tengah – bahkan bila perang ini singkat – dapat meruntuhkan pemulihan ekonomi dunia yang rapuh ini. Ini akan memicu krisis di setiap bursa saham di dunia. Harga minyak dapat menanjak dan investor akan kabur. Sistem kapitalisme akan dihadapkan dengan resesi baru, yang akan lebih dalam dibandingkan krisis 2008.

Untuk semua alasan ini, perang tidaklah menguntungkan bagi kelas penguasa, atau setidaknya bagi Donald Trump yang lebih peduli mengenai pemenangan pilpres daripada membom Tehran untuk menyenangkan Arab Saudi dan Israel. Akhirnya, kendati semua ancaman dan bualan, tidak ada tanda-tanda serangan balik militer, entah dari AS ataupun dari Saudi. Fakta ini, lebih dari yang lainnya, mengekspos kelemahan kronik rezim Saudi dan juga batas dari kekuatan AS.

Bukanlah mustahil, setelah gertakannya dipatahkan, Trump akan mengubah haluan 180 derajat dan mencoba meraih semacam kesepakatan dengan Iran. Tidak ada yang mustahil bagi Gedung Putih di bawah kepemimpinan Donald J. Trump.

Pakistan

Krisis di Pakistan telah mencapai tingkatan baru, yang ditandai dengan disintegrasi ekonomi, sosial dan politik tanpa-preseden. Perpecahan terjadi di semua struktur negara Pakistan, dengan satu sayap mengharapkan dukungan imperialisme AS, dan sayap lainnya mengharapkan China. AS bernegosiasi dengan Taliban dengan tujuan untuk bisa mundur dari Afghanistan. Mereka ingin negara Pakistan membantu mereka mencapai kesepakatan dengan Taliban. Tetapi selama bertahun-tahun, ketika mereka tidak membantu kekuatan Islam Fundamentalis, negara Pakistan telah kehilangan kendali. Sebagai konsekuensinya, Trump memangkas bantuan AS ke Pakistan, meluncurkan blokade ekonomi dan memaksa IMF untuk menahan bantuan mereka ke Pakistan.

Situasi ini semakin melemahkan negara Pakistan dan memperparah perpecahan internalnya. Wilayah Pashtun di Pakistan utara telah menjadi basis Taliban selama puluhan tahun. Rakyat jelata Pashtun membayar mahal. Rumah-rumah mereka dibom dan mereka tersingkirkan dari kampung halaman mereka. Banyak orang yang terbunuh atau “menghilang”. Kondisi yang mengerikan ini melahirkan Pashtun Tahafuz Movement (PTM), yang berkembang menjadi sebuah gerakan massa selama beberapa tahun terakhir.

Sistem politik Pakistan ada dalam krisis mendalam, dengan partai baru terbentuk dan percekcokan terjadi dalam negara. Banyak skandal yang melibatkan hampir seluruh politisi dan pejabat-pejabat tinggi, dan banyak dari mereka yang dipenjara. Setiap hari ada skandal baru. Ekonomi terus memburuk. Inflasi tidak terkendali dan semua hal diprivatisasi. Pemogokan dan protes oleh mahasiswa, dokter, suster dan sektor-sektor lain tengah meningkat.

Semua partai politik dari berbagai spektrum telah kehilangan dukungan pemilih mereka dan tidak dapat lagi menawarkan jalan ke depan bagi massa. Kelas buruh tidak punya alternatif. Mereka tidak siap bersandar pada kepemimpinan politik lama mereka, sementara kepemimpinan serikat buruh telah kolaps. Pakistan, oleh karenanya, tengah menghadapi situasi seperti Sudan dalam masa mendatang. Ini akan membuka banyak peluang bagi organisasi IMT di Pakistan.

India

Di India, krisis politik dan ekonomi semakin akut setiap harinya. Dalam pemilu Mei 2019, Perdana Menteri Narendra Modi terpilih kembali dengan mayoritas besar. Modi mendasarkan dirinya pada sauvinisme Hindu yang paling reaksioner. Kemenangan pertamanya pada pemilu 2014 didasarkan pada slogan “Vikas” (pembangunan) dan lapangan pekerjaan untuk semua orang, dan dia menghindari slogan-slogan Hindu Fundamentalis sayap-kanan. Tetapi tahun ini, Modi melepaskan semua kedoknya. Dia menyebar sentimen anti-Pakistan, histeria mengenai isu Kashmir, mencopot status istimewa wilayah Kashmir dan menjadikannya wilayah yang langsung diperintah oleh pemerintah pusat.

Selain untuk memenuhi agenda sektarian Modi yang reaksioner, tindakan agresi ini juga menunjukkan ambisi regional India, dengan ekonominya yang tumbuh dan hubungannya yang dekat dengan imperialisme AS sebagai tandingan China. Namun, usaha merampas hak rakyat Kashmir tidak berjalan sesuai rencana.

Kendati represi brutal dan keberadaan sekitar 600 ribu personel militer di lembah Kashmir, pemerintah India masih belum berhasil mengendalikan gerakan massa di Kashmir, yang telah berjuang melawan dominasi India selama bertahun-tahun. Sebaliknya, kebijakan-kebijakan drakonian ini menghubungkan gerakan nasional Kashmir, yang sebelumnya terisolasi, dengan perjuangan kelas di India. Untuk pertama kalinya, protes dan demonstrasi digelar di seluruh India untuk mendukung rakyat tertindas Kashmir.

Rejim Modi juga menyerang hak-hak dasar bangsa-bangsa tertindas dan umat agama minoritas. Modi secara sadar menggunakan kebencian agama, perbedaan bahasa dan bangsa, untuk melemahkan perjuangan kelas. Di negara bagian Assam di utara, pemerintah telah mencopot kewarganegaraan dua juta penduduk dan bersiap-siap untuk memindahkan orang-orang ini ke penjara-penjara khusus.

Sauvinisme Hindu Modi yang gila hanyalah satu sisi saja. Sisi lainnya adalah kebijakannya yang sangat anti-buruh dan anti-serikat. Dalam usaha untuk memenangkan dukungan dari kapitalis dalam dan luar negeri, dia mencitrakan dirinya sebagai “pemimpin tangan besi” yang dapat mematahkan gerakan buruh. Tetapi ini tidak akan semudah yang dia bayangkan. Ekonomi ada dalam kondisi yang sangat buruk. Antara 2016 dan 2018, lima juta rakyat India kena PHK.

Dengan semakin dalamnya krisis, lebih banyak pekerja yang akan kena PHK. Untuk mendorong pertumbuhan, rezim Modi meningkatkan serangan terhadap rakyat pekerja dan secara agresif mendorong agenda privatisasi dan liberalisasi. Semua ini membuka jalan untuk meledaknya perjuangan kelas. Satu tanda dari ini adalah seruan pemogokan nasional pada 20 Januari 2020, dengan estimasi lebih dari 300 juta buruh yang akan terlibat.

Problem utamanya bukanlah kekuatan Modi. Seperti Putin, “pemimpin tangan besi” ini juga memiliki kaki dari lempung. Problemnya adalah ketiadaan alternatif politik yang serius yang dapat melawan retorika kanan-ekstrem ini. Satu-satunya alasan mengapa dia dapat memenangkan pemilu adalah kebangkrutan dari kubu oposisi. Setelah puluhan tahun berkuasa, Partai Kongres sudah terdiskreditkan dan bangkrut.

Banyak kaum liberal yang menggantungkan harapan mereka pada Partai Kongres. Tetapi partai ini hancur berkeping-keping dihantam “gelombang” Modi pada pemilu kemarin. Partai Kongres bahkan bergeser ke kanan dalam usaha sia-sia mereka untuk memenangkan pemilih Hindu Fundamentalis. Usaha ini sepenuhnya kontra-produktif, karena pemilih yang cenderung ke sauvinisme Hindu sudah punya pemimpin sejati mereka dalam diri Modi. Tidak ada alasan bagi mereka untuk memilih imitasi kelas-dua. Kongres, oleh karenanya, menderita kekalahan besar, yang pantas bagi mereka. Sewajarnya, mereka tidak belajar apapun dari kekalahan mereka dan telah melanjutkan kebijakan mereka. Di negara bagian Maharashtra, mereka membangun sebuah aliansi dengan partai quasi-fasis Shiv Sena.

Situasi bahkan lebih buruk dengan para eks Stalinis yang mendominasi Gerakan Kiri India selama bergenerasi dan sekarang sudah sepenuhnya bangkrut. Partai-partai Komunis telah dihukum oleh para pendukung mereka karena pengkhianatan mereka. Mereka menderita hasil pemilu terburuk dalam sejarah mereka dan tersapu di West Bengal dan Tripura, dimana mereka telah berkuasa selama tiga dekade. Ini adalah hasil langsung dari metode bangkrut yang mereka gunakan, dimana mereka menjalankan kebijakan neo-liberal anti-buruh saat berkuasa.

Walaupun mereka masih punya pengaruh di gerakan buruh, tani dan mahasiswa, otoritas mereka hari ini sudah tidak seperti dulu. Mereka telah berkapitulasi pada borjuasi India yang busuk dan korup, dan telah mencampakkan gagasan transformasi sosialis, yang merupakan satu-satunya jalan keluar bagi kebuntuan masyarakat India. Ini membuka jalan bagi gagasan Marxisme revolusioner yang sejati untuk meraih gaung di lapisan luas mahasiswa dan buruh.

Indonesia

Ekonomi Indonesia dulu dielu-elukan sebagai keajaiban Asia, tetapi kini sudah melambat sesuai dengan tren umum dunia. Dihadapkan dengan pelambatan ini, dan defisit fiskal yang menyertainya, pemerintah terdorong untuk melanjutkan kebijakan-kebijakan penghematan. Lebih dari 20 tahun setelah jatuhnya Soeharto, sistem ekonomi dan politik opresif yang menjadi fondasi rejim lama masihlah utuh, dan oleh karenanya penindasan yang sama masih berlanjut.

Harapan rakyat akan perubahan radikal telah secara sistematis dikecewakan oleh kelas penguasa. Terpilihnya Jokowi lima tahun yang lalu adalah satu indikasi harapan rakyat akan perubahan, tetapi tidak ada perubahan fundamental dalam kehidupan rakyat selama dia berkuasa. Dengan terpilihnya kembali Jokowi, rejim sekarang meluncurkan ofensif dengan serangkaian hukum dan kebijakan reaksioner yang menyerang kelas buruh dan menguntungkan lapisan pemerintah yang paling korup.

Telah bergulir serangkaian gerakan demonstrasi mahasiswa dan pelajar, yang turun ke jalan dalam jumlah puluhan ribu untuk memprotes rencana undang-undang yang dilihat sebagai kembalinya “Orde Baru” (dalam ranah korupsi, intervensi negara dalam kehidupan pribadi, dan represi politik) dan menentang penindasan terhadap rakyat Papua. Ini adalah demonstrasi mahasiswa terbesar sejak gerakan reformasi 20 tahun yang lalu yang menggulingkan diktator Soeharto, dan demo-demo ini dengan cepat menyebar ke kota-kota utama.

Demo-demo ini disambut dengan represi negara yang brutal dan beberapa pelajar/mahasiswa yang terbunuh oleh polisi. Gerakan mahasiswa ini menyebar ke kelas buruh, dengan serikat-serikat buruh menyerukan aksi protes. Belum lama, pada 2012, Indonesia diguncang oleh pemogokan nasional pertama sejak 1965. Tetapi kisah “sukses” ekonomi Indonesia telah memperkuat kelas buruh, dan krisis kapitalisme dunia tengah mendorong kelas buruh ini ke jalan perjuangan kelas.

“Horor tanpa akhir”

Menyusul berakhirnya Perang Dunia Kedua, gelombang besar revolusi kolonial memaksa negara-negara imperialis untuk mencampakkan kebijakan kontrol militer langsung di koloni-koloni. Tetapi penjarahan atas bekas-bekas koloni ini terus berlanjut, walaupun kini dikedoki dengan mekanisme perdagangan dunia. Kapitalisme telah merancang metode eksploitasi baru yang telah menguras kering sumber-sumber daya negara-negara Dunia Ketiga, yang membuatnya lebih miskin dan lebih terjerat dalam perbudakan ketimbang sebelumnya.

Para propagandis borjuis mengklaim kalau mereka sedang membantu negeri-negeri miskin lewat bantuan mereka. Tetapi sebuah studi menunjukkan justru kebalikannya. Global Financial Integrity (GFI), Centre for Applied Research di Norwegian School of Economics dan sebuah tim ahli dunia menerbitkan sebuah studi yang menunjukkan $16,3 triliun telah mengalir dari negeri-negeri miskin ke negeri-negeri kaya sejak 1980an. Ini pengurasan besar, yang ongkos-ongkos sosialnya telah diemban oleh rakyat miskin di negeri-negeri “berkembang” ini.

Studi ini menunjukkan bahwa negeri-negeri miskin telah secara efektif menjadi kreditor netto untuk seluruh dunia. Negeri-negeri kaya tidak sedang mengembangkan negeri-negeri miskin, justru sebaliknya. Apa saja bentuk aliran ke luar ini? Salah satunya adalah pembayaran hutang dan bunganya. Pembayaran bunga hutang saja telah menguras negeri-negeri penghutang sebesar lebih dari $4,2 triliun sejak 1980. Transfer uang tunai yang besar ini ke bank-bank raksasa di New York dan London membuat kerdil “bantuan” yang diterima selama periode yang sama.

Satu lagi sumber penjarahan yang penting adalah laba dari investasi-investasi di negeri-negeri berkembang, yang kemudian “direpatriasi” oleh negeri-negeri imperialis. Kita cukup menyebut profit besar yang diraup perusahaan minyak BP dari cadangan minyak bumi Nigeria misalnya, atau kekayaan yang dijarah oleh perusahaan Anglo American Inc dari tambang-tambang emas Afrika Selatan.

Tetapi jarahan terbesar tidak tercatat, karena kebanyakan ilegal, dan di bawah nama “pelarian kapital”. Menurut estimasi GFI, “negeri-negeri berkembang” kehilangan total $13,4 triliun lewat pelarian kapital yang tidak tercatat sejak 1980.

Aliran ke luar kekayaan ini merampok bangsa-bangsa berkembang ini dari sumber pemasukan dan finans yang penting untuk pembangunannya. Semakin besar aliran ke luar kekayaan ini, semakin terpuruk taraf hidup rakyat. Ini juga menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi di negeri-negeri ini, walaupun ini bukan penyebab utamanya. Penyebab utamanya adalah krisis umum kapitalisme dunia.

Kesengsaraan dan penderitaan yang disebabkan oleh penjarahan yang biadab ini telah menghancurkan seluruh bangsa, menenggelamkan mereka ke dalam kelaparan, dislokasi sosial dan perang. Jutaan rakyat yang putus asa mengungsi dari kampung halaman mereka, dengan nekat mencoba mencari jalan keluar dari neraka ini. Tetapi yang mereka temui adalah tembok-tembok dan kawat berduri yang merintangi jalan mereka ke Eropa dan AS. Puluhan ribu rakyat – laki-laki, perempuan dan anak-anak – telah mati tenggelam di Laut Mediterania.

Eksodus massal ini tidak ada paralelnya dalam sejarah, kecuali eksodus massal menyusul kolapsnya Kekaisaran Romawi. Ini semakin memperparah krisis yang ada, membuatnya lebih bergejolak. Dan tidak ada solusi untuk mimpi buruk yang keji ini, selama sistem busuk yang menciptakannya terus eksis. Lenin mengatakan bahwa kapitalisme adalah “horor tanpa akhir.” Awal abad ke-21 menunjukkan betapa benarnya dia.

Argentina: Jatuhnya Macri

Ketika Macri menang pemilu Argentina pada 2015, ini dielu-elukan oleh media sebagai satu lagi bukti “gelombang konservatisme” yang menyapu Amerika Latin dan “matinya Kiri”. Tetapi pemerintahan Macri ternyata tidak kokoh dan stabil. Setiap usahanya untuk meluncurkan serangan telah disambut dengan resistensi keras dari buruh. Reforma pensiun Macri dijawab dengan demo-demo massa dan bentrokan dengan polisi. Setelah itu, dia menanggalkan rencananya untuk memperkenalkan kontra-reforma UU perburuhan.

Ketidakstabilan pasar mata uang internasional telah mengakibatkan jatuhnya mata uang Argentina, dan ini mengacaukan kebijakan ekonomi Macri. Hutang darurat dari IMF tidak cukup untuk menstabilkan situasi. Krisis ekonomi yang semakin mendalam menyebabkan kekalahan Macri di pemilu Agustus 2019, yang hanya memperparah krisis.

Bila saja ada kepemimpinan jelas dari gerakan buruh, pemerintahan Macri dapat ditumbangkan oleh gerakan revolusioner dari bawah. Namun, ini adalah hal terakhir yang diinginkan oleh para pemimpin serikat dan pendukung Kirchner. Perspektif mereka adalah transfer kekuasaan yang tertib setelah pemilu.

Pada akhirnya, pemerintahan Macri yang awalnya dikira kokoh mengalami kekalahan dalam pemilu. Tetapi pemerintahan Kirchnerista akan dihadapkan dengan krisis mendalam kapitalisme Argentina. Ini akan menjadi pemerintahan krisis sejak awal. Kondisi ini subur bagi pertumbuhan gerakan Kiri. Sayangnya, Kiri Argentina didominasi oleh kelompok-kelompok sektarian yang berayun dari reformisme ke sektarianisme, dan tidak mampu membangun basis kuat di antara massa.

Brasil

Terpilihnya Bolsonaro menandai tahapan baru yang bergejolak dalam krisis Brasil. Bolsonaro bukanlah kandidat yang diinginkan oleh mayoritas borjuasi Brasil, dan pemilihannya hanya akan memperparah semua kontradiksi dalam masyarakat Brasil, tanpa mampu menyelesaikan satupun problem fundamental. Seperti biasa, banyak kaum Kiri yang mengeluh secara berisik mengenai “fasisme” dan ini sungguh adalah “fasisme” yang sangat unik. Tetapi ini jauh dari pemerintahan fasis. Pemerintahan Bolsonaro adalah usaha untuk mendirikan pemerintahan Bonapartis di tengah krisis ekonomi dan situasi sosial dan politik yang bergejolak, yang tidak bisa dia kendalikan.

Sebagai seorang individu, Bolsonaro, mantan perwira militer, mungkin saja cenderung ke fasisme (dia telah secara terbuka memuji kediktatoran Brasil). Tetapi basisnya sempit. Kabinetnya terpecah belah. Dia bahkan tidak punya kontrol penuh atas parlemen. Proposalnya untuk mereforma sistem pensiun dan memotong anggaran pendidikan memicu gelombang demonstrasi massa dan pemogokan umum. Popularitasnya telah menurut drastis.

Seksi IMT di Brasil adalah satu-satunya yang mengedepankan slogan “Tendang Keluar Bolsonaro”. Slogan ini awalnya disambut dengan skeptis oleh “gerakan Kiri” dan sekte-sekte yang terobsesi bahwa fasisme telah tiba di Brasil. Tetapi setelah dua demonstrasi besar menentang pemotongan anggaran pendidikan, slogan ini menyebar seperti api liar.

Bila dia terus mencoba mencanangkan program pemotongan dan kontra-reforma, gerakan demi gerakan akan meresponsnya. Hanya kebangkrutan kepemimpinan serikat buruh yang memberinya ruang bernapas. Pada titik tertentu, kelas penguasa mungkin akan memutuskan untuk menyingkirkan dia dan menggantikannya dengan seorang yang lebih aman. Untuk sementara, Bolsonaro akan memimpin sebuah pemerintah krisis yang akan dimusuhi oleh buruh dan kaum muda, dan mendorong mereka ke jalan perjuangan.

Pemogokan umum 40 juta buruh pada Juni 2019 – walaupun para pemimpin serikat buruh tidak tahu apa yang harus mereka lakukan – memberi kita gambaran gerakan seperti apa yang dapat kita harapkan pada periode mendatang. Perspektif untuk Brasil di periode mendatang bukanlah “Fasisme”, tetapi intensifikasi besar perjuangan kelas.

Venezuela

Di Venezuela, kita telah tunjukkan secara konsisten kalau revolusi tidaklah mungkin berjalan setengah-setengah. Pada analisa terakhir, entah revolusi akan mengekspropriasi bankir dan kapitalis, atau borjuasi kontra-revolusioner akan menghancurkan revolusi. Ini masih berlaku hari ini. Tidak mungkin menggabungkan elemen-elemen nasionalisasi sosialis dengan ekonomi pasar. Hasilnya sampai hari ini adalah kekacauan, seperti yang telah kita prediksi dulu sekali, dan anjloknya taraf hidup buruh.

Untuk membungkam protes-protes yang tak terelakkan, Maduro menggunakan metode-metode Bonapartis dan kecenderungan ini semakin menguat. Pemerintah menggunakan aparatus negara untuk membungkam semua oposisi – termasuk kaum Chavista dan aktivis kiri. Dengan melemahkan revolusi, dan menghancurkan elemen-elemen kontrol buruh yang tersisa dan menyerang kaum Kiri, kaum birokrasi tengah menyabot revolusi jauh lebih efektif ketimbang kubu oposisi kontra-revolusioner. Mereka seperti tengah memotong ranting dimana mereka berdiri.

Di bawah kondisi ini, sungguh luar biasa kesetiaan massa pada revolusi, yang masih bertahan selama ini. Dua puluh dua tahun setelah dimulainya Revolusi Venezuela, kendati kebingungan dan kebimbangan Maduro dan kebangkrutan birokrasi, Revolusi Bolivarian belum ditumbangkan. Ini adalah bukti kuat akan lemahnya imperialisme AS dan kegigihan luar biasa massa rakyat. Kendati usaha keras dari kubu kontra-revolusi, para perwakilan kapitalisme di Venezuela telah gagal. Usaha kudeta 2019 menjadi kekalahan yang memalukan.

Di permukaan, semua faktor tampaknya mendukung kemenangan kudeta: ekonomi ada dalam krisis mendalam dan taraf hidup anjlok. Ini telah menggerus dukungan terhadap pemerintah. Pemerintahan sayap-kanan baru saja terpilih di Chile, Argentina dan Brasil. Kelas penguasa di Venezuela dan AS menyimpulkan bahwa kini saatnya meluncurkan ofensif penuh untuk menumbangkan Maduro. Dan ini bukan kesimpulan yang tidak masuk akal.

Namun usaha mengubah rejim di Venezuela gagal dan kita harus memahami mengapa. Ada sejumlah alasan. Pertama, para perencana kudeta dan tuan-tuan mereka di Washington meremehkan sentimen anti-imperialis yang kuat di antara massa Venezuela. Mereka juga salah perhitungan dalam menaksir loyalitas para petinggi militer, yang loyalitasnya telah dibeli oleh pemerintah dengan memberi mereka berbagai macam prestise.

Satu faktor lain adalah kebodohan kubu oposisi. Guaido mengumbar banyak janji yang tidak bisa dia penuhi. Kelas menengah, yang adalah basis sosial utama Guaido dkk., adalah kekuatan yang secara inheren tidak stabil. Mereka perlu melihat sebuah gerakan yang terus menang. Ketika mereka melihat gerakan kudeta mereka mengalami kemandegan, mereka patah semangat dan seluruh kudeta ini luluh lantak dengan sangat cepat.

Kendati semua gertakan Trump, Pentagon tidak berniat meluncurkan intervensi militer ke Venezuela. Begitu juga angkatan bersenjata Brasil dan Kolombia. Gertakan mereka diabaikan dan Trump terlihat konyol. Setelah ancaman intervensi militer asing ini tidak lagi menjadi faktor, tidak ada alasan bagi para petinggi militer di Caracas untuk menyebrang ke kubu oposisi. Melihat ini, Rusia dan China, yang awalnya mengambil pendekatan menunggu, segera mengintervensi di sisi Maduro dan Trump tiba-tiba kehilangan nafsunya untuk terlibat.

Akan tetapi, bahaya kontra-revolusi belumlah menghilang. Sekarang Venezuela telah dikenai embargo-embargo ekonomi baru. Ini memaksa pemerintah untuk bernegosiasi, dimana mereka akan ditekan untuk memberi konsesi. China menginginkan uangnya kembali. Ini berarti Maduro harus mengubah kebijakannya, dari kebijakan ekspansi moneter yang gila ke kebijakan moneter penyeimbangan anggaran dan pemotongan, yang berarti membuat buruh membayar ini.

Usaha kudeta baru-baru ini luluh lantak bukan karena kekuatan pemerintah tetapi terutama karena kebodohan dari para pelakunya. Selapisan massa merespons kudeta ini, tetapi jauh lebih besar yang diam saja dan apati. Inilah bahaya utama yang dihadapi oleh revolusi. Lain kali, Maduro tidak akan seberuntung ini. Bagaimanapun juga, situasi yang tidak stabil ini tidak bisa berlangsung selamanya, dan waktu tidak ada di sisi Maduro.

Bolivia

Di Bolivia, peristiwa berakhir dengan sangat berbeda. Evo Morales ditumbangkan oleh kudeta reaksioner pada November 2019. MAS naik ke tampuk pemerintah setelah pemberontakan revolusioner 2003 dan 2005, ketika buruh bisa saja merebut kekuasaan kalau saja bukan karena kepemimpinan mereka. Seluruh gerakan lalu mengekspresikan dirinya lewat jalur elektoral dengan memilih Evo Morales, yang menggunakan otoritasnya untuk mengembalikan legitimasi negara borjuis.

Wakil presidennya Garcia Linera membuat teori mengenai perlunya mengembangkan “kapitalisme ala Andean-Amazonian” sebelum kita bisa berbicara mengenai sosialisme. Walaupun pemerintah Evo Morales dapat membiayai program-program sosial di atas basis harga bahan-bahan mentah yang tinggi, dan juga melakukan sejumlah nasionalisasi, kebijakan utamanya adalah mencari perdamaian dengan kapitalis, tuan tanah dan perusahaan multi-nasional.

Ini menyebabkan kekecewaan di antara banyak pendukung MAS, sehingga jumlah suaranya anjlok, dari 60-64 persen pada puncaknya, ke kekalahan referendum 2016 dan lalu 47% pada pemilu 2019. Ini adalah momen yang telah ditunggu-tunggu oleh oligarki untuk meluncurkan kudeta reaksioner, dengan kombinasi mobilisasi massa, pemberontakan polisi dan intervensi tentara.

Contoh Bolivia ini adalah peringatan jelas apa yang akan terjadi ketika sebuah pemerintah berceloteh mengenai revolusi dan perubahan sosial tetapi tetap berada dalam batas-batas kapitalisme.

Ekuador, Chile, Kolombia

Akan tetapi, gagasan bahwa ada pergeseran ke kanan atau “gelombang konservatisme” di Amerika Latin, yang disebar oleh eks aktivis Kiri, kaum akademisi yang demor, dan kaum sektarian, adalah sepenuhnya keliru. Setelah satu masa yang kurang lebih stabil, yang disokong oleh harga komoditas yang tinggi, sekarang kita saksikan penajaman perjuangan kelas.

Ada banyak indikasi, termasuk: gerakan besar di Puerto Rico pada Juli-Agustus 2019; pemberontakan berkepanjangan di Haiti; kebangkitan massa di Ekuador pada 2019; dan di atas segalanya, kebangkitan besar di Chile, sebuah negeri yang lama dianggap oleh para komentator borjuis sebagai teladan dan oasis konservatisme di benua Amerika Latin.

Di Ekuador dan Chile, kita saksikan fitur-fitur klasik yang biasanya dalam situasi insureksi: mobilisasi massa, pembentukan embrio soviet (cabildos, majelis rakyat dan daerah), pemerintah tergantung di udara, dan bahkan tanda-tanda perpecahan dalam aparatus negara. Bahkan di negeri seperti Kolombia, yang dikenal sebagai benteng reaksi, pemogokan umum pada 21 November, 2019, jelas diinspirasi oleh peristiwa-peristiwa di Ekuador dan Chile. Pemogokan besar ini terus berlanjut, dan ini adalah indikasi paling jelas bahwa buruh sedang berjuang untuk kekuasaan. Bagaimanapun kita ingin gambarkan situasi di Amerika Latin, yang pasti ini bukan “gelombang konservatisme”.

Di Chile, masalah Majelis Konstituante telah dikedepankan oleh gerakan. Benar kalau Konstitusi 1980 mengandung banyak elemen tidak demokratik, bahkan dari sudut pandang demokrasi borjuis. Masalahnya, slogan Majelis Konstituante dapat dan akan digunakan oleh berbagai kelas dengan berbagai makna.

Ketika rakyat berbicara mengenai Majelis Konstituante, yang mereka maksud adalah perubahan rezim secara fundamental. Tetapi ketika kelas penguasa dihadapkan dengan revolusi, mereka akan mendukung gagasan Majelis Konstituante justru untuk alasan sebaliknya: untuk mencegah perubahan fundamental dengan mengalihkan gerakan massa ke jalur konstitusional borjuis.

Kita harus menjelaskan bahwa, pada analisa terakhir, yang dibutuhkan Chile bukanlah konstitusi baru, tetapi perubahan rezim secara fundamental; dalam kata lain, penumbangan negara borjuis dan menggantikannya dengan rezim baru yang sungguh-sungguh demokratik, sebuah negara kekuasaan buruh. Ini berarti mengedepankan slogan “Turunkan Pinera”, menyebarkan dan mengkoordinasi cabildos (dewan-dewan) supaya mereka dapat menjadi organ kekuasaan buruh yang sejati.

Hanya Majelis Nasional Kelas Buruh dan Rakyat (penamaan badan ini adalah hal yang sekunder, selama kekuasaan ada di tangan kaum buruh dan kaum miskin) dapat dipercaya untuk merancang sebuah konstitusi yang baru yang sungguh demokratik dan mewakili kepentingan mayoritas rakyat, dan bukan demokrasi formal yang palsu, yang semata jadi kedok munafik untuk menutupi kediktatoran tuan tanah, bankir dan kapitalis.

Kuba

Krisis di Venezuela memiliki efek negatif pada Kuba. Venezuela telah terpaksa memotong kebanyakan suplai minyak murahnya ke Kuba, yang sekarang mengalami mati lampu untuk pertama kalinya sejak “periode istimewa” (1991-2000), menyusul jatuhnya Uni Soviet. Selain itu, AS telah memperketat kebijakannya terhadap Kuba, dengan membatasi remitansi dari orang Kuba di Amerika dan melarang turis AS ke Kuba, keduanya adalah sumber pendapatan penting bagi Kuba.

AS juga telah mengaktifkan satu bagian dari UU Helms-Burton, yang memperketat embargo dan blokade terhadap Kuba. Serangan keji ini adalah usaha keras kepala Trump – dan sebelumnya John Bolton, Penasihat Keamanan Nasional – untuk mencekik Revolusi Kuba, dan usaha ini disoraki oleh para migran Kuba di Miami yang reaksioner. Dari sudut pandang imperialisme, ini adalah kebijakan yang sangat rabun ayam dan bodoh, yang tipikal dari administrasi Trump.

Kebijakan sebelumnya yang dilakukan Obama jauh lebih efektif untuk melemahkan revolusi, dengan perlahan-lahan menjerat Kuba ke dalam rangkulan kapitalisme dan ekonomi pasar dengan cara melonggarkan larangan-larangan perdagangan, investasi dan turisme. Sekarang, kebijakan-kebijakan baru AS akan memaksa rezim Kuba untuk mengencangkan tali pinggang lagi.

Kepemimpinan Kuba kini berbicara mengenai penjatahan kebutuhan hidup dan bahkan kembali ke “periode istimewa” yang baru. Sebelumnya bisnis-bisnis kapitalis kecil bermunculan dengan sangat pesat, yang menciptakan untuk pertama kalinya basis sosial untuk kontra-revolusi kapitalis, yang telah meregangkan ototnya saat referendum reforma konstitusi. Sekarang, laju menuju kapitalisme akan terhenti, atau setidaknya melambat.

Kaum Marxis Kuba harus berjuang melawan restorasi kapitalis, tetapi juga harus menjelaskan bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan pencapaian-pencapaian Revolusi Kuba adalah dengan memperkenalkan demokrasi buruh sejati dan mendobrak keterisolasian Revolusi Kuba dengan meluncurkan kebijakan internasionalis yang revolusioner di seluruh Amerika Latin.

Meksiko

Terpilihnya Lopez Obrador (AMLO) mewakili sebuah perubahan penting di Meksiko. Ini telah mempercepat semua proses dan memperburuk semua kontradiksi. Elemen utama dalam situasi ini adalah cepatnya peristiwa bergulir. AMLO telah mengambil kebijakan yang menyerang privilese-privilese kaum borjuasi Meksiko yang korup dan negaranya. Dia juga telah memperkenalkan tunjangan sosial, yang membantu jutaan rakyat. Sebagai konsekuensinya, dia sekarang mendapat dukungan besar.

Dia berbicara mengenai perlunya perubahan mendalam dalam pemerintah, untuk memisahkan kekuatan politik dan kekuatan ekonomi. Dia bermimpi membangun sebuah negara yang berdiri di atas kelas-kelas. Dia telah memenjarakan sejumlah kapitalis yang terlibat korupsi, tetapi pada saat yang sama ia menjanjikan kaum kapitalis profit besar untuk proyek-proyek seperti rel kereta Maya. Dia telah mempertimbangkan kenaikan upah 16 persen, tetapi perjuangan buruh yang telah menjadi terlalu berbahaya diredam oleh aparatus negara.

AMLO mencoba melayani dua kepentingan. Dia ingin memperkuat negara, tetapi dia lupa detail kecil bahwa negara yang ingin dia perkuat adalah negara borjuis, sebuah negara yang dibangun khusus untuk mempertahankan kepentingan tuan tanah, bankir dan kapitalis. Dia akan meningkatkan intervensi negara dalam ekonomi guna menyediakan pinjaman murah untuk pengusaha, dan memperkuat badan polisi militer untuk memerangi geng narkoba. Pada kenyataannya, geng-geng narkoba ini berkait kelindan dengan kaum bankir, kapitalis, dan birokrat-birokrat pemerintah.

AMLO ingin mencapai kesepakatan dengan kelas penguasa, tetapi kelas penguasa tidak mempercayainya dan berniat menyingkirkannya dengan segala cara. Walaupun AMLO telah mengatakan bahwa dia tidak akan menyentuh properti kapitalis, media borjuis telah meluncurkan serangan keji terhadapnya. Kelas penguasa menggunakan kendalinya atas aparatus negara dan pengadilan untuk menyabot pemerintah. Dia mencoba mendamaikan kepentingan dari kelas-kelas berbeda yang tak terdamaikan. Ini mustahil.

Satu lagi indikasi yang menunjukkan kontradiksi dalam kebijakan AMLO adalah tunduknya dia pada imperialisme AS. Ketika Trump mengancam menerapkan tarif pada semua impor Meksiko, untuk memaksa otoritas Meksiko untuk mencanangkan kebijakan migrasinya, AMLO menyerah. Dia mengirim tentara ke perbatasan selatan dan utara. Ini menunjukkan bagaimana pemerintah Meksiko ada di bawah jempol imperialisme. Krisis ekonomi dunia akan menghantam Meksiko dengan keras, dan administrasi Trump masih mengancam untuk mengenakan tarif impor.

Ini akan memperdalam lebih lanjut perpecahan antara pemerintahan AMLO dan kelas penguasa, dan juga perpecahan di dalam Partai Morena (partai Kiri di Meksiko), dimana birokrasi partai tengah bergeser ke kanan, sementara anggota akar-rumput pendukung AMLO bergeser ke kiri. Karena tidak ada kekuatan politik kiri yang menjadi oposisi pemerintah, dukungan terhadap Morena telah meningkat. Gejolak di dalam barisan anggota Morena akan membuka banyak peluang bagi kaum Marxis Meksiko, yang sedang mengintervensi secara aktif dengan menyajikan alternatif revolusioner sebagai tandingan terhadap reformisme kiri yang dipenuhi dengan kebingungan, dengan menggabungkan dukungan untuk AMLO dalam melawan sayap kanan dengan kritik yang bersahabat dan konsisten.

Fasisme?

Kata fasisme sering kali digunakan dengan tidak tepat untuk merujuk pada setiap pemerintah sayap-kanan yang reaksioner, seperti Bolsonaro, atau bahkan Donald Trump. Penggunaan terminologi yang serampangan ini tidaklah tepat secara ilmiah dan menyesatkan secara politik. Ini juga berbahaya, karena ketika bahaya fasisme yang sesungguhnya tiba, kelas buruh mungkin tidak akan mengenalinya. Untuk alasan ini, makian dan tangis histeris kaum sektarian mengenai “fasisme” adalah sesuatu yang tidak bertanggung jawab.

Di masa lalu, dalam situasi yang penuh ketidakstabilan seperti yang kini kita saksikan di banyak negara, kelas penguasa akan cenderung bergerak ke arah reaksi fasis atau Bonapartis. Tetapi pada masa sekarang, ini tidak mungkin karena perubahan dalam perimbangan kekuatan kelas-kelas. Kelas buruh lebih kuat dibandingkan masa lalu, sementara lapisan kelas menengah yang biasanya membentuk basis massa sosial dari reaksi (kaum tani, pengusaha kecil, mahasiswa dan pelajar) telah tergerus atau sudah terproletarianisasi.

Trotsky menjelaskan bahwa fasisme adalah bentuk rezim reaksi yang unik, yang secara kualitatif berbeda dengan rezim-rezim reaksi lainnya. Fasisme adalah sebuah gerakan massa borjuis kecil dan lumpenproletar, dengan tujuan penghancuran total organisasi-organisasi kelas buruh. Di dalam sebuah rezim fasis, kelas penguasa cenderung kehilangan kendali atas negara, yang jatuh ke tangan para gangster fasis yang memerintah untuk kepentingan mereka sendiri, yang tidak selalu bersesuaian dengan kepentingan para bankir dan kapitalis, dan bahkan dapat berbenturan langsung dengan kepentingan mereka.

Penyerahan kekuasaan ke individu tidak-waras seperti Hitler adalah langkah yang penuh risiko, yang hanya akan dipertimbangkan oleh kelas borjuasi sebagai langkah terakhir, ketika mereka merasa terancam ditumbangkan oleh kelas buruh. Dalam kasus Nazi Jerman, ini mengarah ke bencana. Pada 1944, sudah jelas Jerman telah kalah perang. Kaum borjuasi ingin menyerah dan berunding dengan Amerika. Tetapi Hitler, yang pada masa-masa akhir hidupnya menunjukkan tanda-tanda sakit jiwa, menolak untuk menyerah, dan lebih memilih membumihanguskan negerinya, seperti di akhir salah satu opera Wagner.

Pelajaran ini ditangkap oleh kaum borjuasi, yang biasanya lebih memilih rezim demokrasi borjuasi formal. Bentuk kekuasaan ini lebih stabil, lebih dapat diandalkan, dan lebih hemat ketimbang kediktatoran fasis atau Bonapartis, yang selain memakan biaya yang sangat mahal juga mengandung banyak bahaya dan dapat berubah menjadi kebalikannya (revolusi), seperti yang kita lihat di Italia pada 1943-45 dan di Yunani setelah jatuhnya junta militer pada 1974.

Untuk memahami situasi yang sesungguhnya, kita cukup melihat Yunani hari ini. Kemustahilan fasisme sepenuhnya terpampang di Yunani. Partai Golden Dawn, sebuah partai fasis, sebelumnya tumbuh dan berkembang menjadi sebuah kekuatan politik yang serius. Beberapa tahun yang lalu, mereka bahkan berencana mengambil kekuasaan. Tetapi dimana Partai Golden Dawn hari ini?

Mungkin saja awalnya selapisan kelas penguasa Yunani bermain-main dengan gagasan pendirian sebuah Junta Militer baru untuk menertibkan kelas buruh, tetapi mereka terpaksa mundur dan mengekang kaum fasis mereka karena mereka takut ini akan memprovokasi ledakan revolusioner. Pada akhirnya, kaum borjuasi Yunani tidak dapat mengizinkan Golden Dawn untuk mengambil kekuasaan, karena ini akan berarti perang sipil, dan mereka tidak yakin bisa menang. Bisa-bisa mereka kehilangan segalanya. Jadi mereka mengambil tindakan merepresi Golden Dawn dan memenjarakan beberapa pemimpin mereka.

Kelas penguasa tidak mendasarkan dirinya pada kaum fasis, yang mewakili faktor yang tidak signifikan di banyak negeri. Kelas penguasa terdorong untuk mengandalkan dukungan dari para pemimpin organisasi-organisasi massa tradisional, partai-partai reformis dan Stalinis, dan serikat-serikat buruh. Tetapi ini telah mengakibatkan anjloknya dukungan terhadap partai-partai buruh dan borjuasi, sebuah perkembangan yang mengancam meruntuhkan fondasi sistem demokrasi borjuis. Inilah kunci untuk memahami pergolakan politik besar dalam masyarakat hari ini.

“Populisme”

Para komentator borjuis kebingungan. Mereka tidak bisa menyediakan penjelasan yang koheren mengenai apa yang tengah terjadi hari ini. Contohnya adalah penggunaan terminologi politik secara tidak ilmiah. Mereka menggunakan kata “populisme” untuk menjelaskan semua gerakan politik yang tidak mereka senangi.

Para “ahli” ini mencampuraduk ke dalam satu kategori berbagai fenomena politik yang tidak hanya berbeda tetapi juga bertentangan: Hugo Chavez dan Marine Le Pen, Jeremy Corbyn dan Matteo Salvini – semua menurut mereka adalah hal yang sama, “ populisme”. Pada kenyataannya individu-individu ini memiliki tujuan yang bertentangan, dan mendasarkan diri mereka pada kekuatan-kekuatan kelas yang berbeda. Namun semua ini dianggap tidak relevan oleh para tuan dan nyonya akademis ini.

Resesi 2007-08 memiliki dampak yang mendalam pada kesadaran massa di seluruh dunia. Setelah syok pada periode awal, datang respons dalam bentuk gerakan Indignados di Spanyol, Occupy, Musim Semi Arab, gerakan Syntagma Square di Yunani. Resesi ini membuat orang mempertanyakan sistem kapitalisme, institusi-institusinya dan partai-partainya. Di tahapan kedua, ini mengarah ke terbentuknya partai-partai dan gerakan-gerakan yang dilihat sebagai kiri radikal (Syriza, Podemos, Corbyn, Melenchon, Sanders). Beberapa gerakan ini akhirnya terungkap limitnya, sementara yang lain akan menemui limitnya di periode mendatang.

Dalam konteks ini, tidaklah heran ada banyak kemunculan partai-partai dan gerakan-gerakan baru. Bukanlah aksidental kalau gerakan-gerakan ini kebanyakan komposisinya borjuis-kecil. Walaupun mereka menarik perhatikan lapisan buruh sayap-kiri yang paling aktif, partai dan gerakan ini (Podemos contohnya) terdiri dari elemen-elemen borjuis kecil, akademik, dan aksidental lainnya. Ini terutama benar di dalam lapisan kepemimpinan mereka, yang menunjukkan semua gagasan dan prasangka borjuis kecil yang paling negatif.

Mereka membayangkan telah menemukan “gagasan-gagasan baru”, yang mereka ciptakan untuk memimpin rakyat ke Tanah Perjanjian seperti Musa memimpin bangsa Israel menyeberangi Lautan Merah. Dengan mencampakkan “gagasan-gagasan lama” (yakni, Marxisme), mereka membayangkan telah membuang pemberat yang tak berguna. Pada kenyataannya, mereka membuat jaket pelampung yang dapat menyelamatkan mereka dari tenggelam.

Mereka membayangkan telah bebas dari “dogma” (yakni prinsip dan teori), dan dengan demikian mereka lebih hebat daripada kaum Marxis yang “utopis”. Pada kenyataannya, mereka jauh lebih inferior. Mereka bahkan lebih inferior ketimbang kaum sosialis Utopis masa lalu, yang kendati kekeliruan mereka adalah pemikir hebat dibanding para medioker post-modernis hari ini. Dalam praktiknya, mereka adalah dogmatis yang paling buruk, yang secara kaku membela semua dogma-dogma baru yang “trendi” seperti politik identitas, post-modernisme dan sampah-sampah intelektual lainnya yang terus diproduksi oleh universitas untuk membingungkan kaum muda dan melawan Marxisme.

Kebingungan ideologis dari formasi-formasi politik yang baru ini membuat mereka tidak stabil. Mereka dapat muncul dan tumbuh dengan cepat, tetapi dengan segera mereka memasuki krisis, pecah dan anjlok, seperti yang kita saksikan dengan Podemos di Spanyol. Pemimpin utamanya, Pablo Iglesias, awalnya sangat populer karena dia membuat banyak pidato yang terdengar radikal. Ini membangkitkan harapan jutaan rakyat yang sedang mencari alternatif kiri. Kini Iglesias telah menjadi seorang “realis”. Dia campakkan retorika-retorika radikal lamanya dan memasuki koalisi dengan PSOE (Partai Buruh Sosialis Spanyol, sebuah partai reformis dan sosial-demokrat). Tuntutan utamanya (dan tampaknya hanya satu-satunya tuntutan) adalah Podemos harus mendapat kursi menteri dalam pemerintahan Pedro Sanchez/PSOE. Ini adalah kebodohan.

Dengan bersikeras ingin masuk ke dalam pemerintahan, para pemimpin Podemos memberi kesan kalau mereka hanyalah sekumpulan politisi oportunis, yang gila jabatan (dan kesan ini tidak jauh dari kebenaran yang ada ) dan juga kalau mereka tidaklah terlalu pintar (kesan yang juga tidak keliru). Persepsi ini niscaya mengarah ke kekecewaan dan demoralisasi, dan runtuhnya basis aktivis partai dan dukungan elektoral mereka.

Masih belum jelas apakah Podemos (yang bernama Unidas Podemos hari ini) akan selamat atau menghilang. Tidak sepenuhnya mustahil mereka akan menghilang, karena partai-partai baru ini adalah fenomena yang tidak stabil dan bersifat tidak kekal. Ada hukum umum bila di depan buruh ada dua partai reformis, tanpa perbedaan program yang jelas di antara keduanya, maka partai yang lebih besar akan mendapat dukungan lebih besar dan partai yang lebih kecil cenderung menghilang. Dukungan terhadap PSOE kini naik, sementara Podemos turun. Ini adalah pelajaran sangat baik mengenai nilai “politik praktis”.

Munculnya gerakan-gerakan baru ini adalah ekspresi awal dari kenyataan kalau massa sedang berusaha dengan susah payah mencari jalan keluar dari krisis. Mereka mengamati dengan seksama para pemimpin partai, tidak seperti dulu. Mereka menguji partai-partai dan pemimpin-pemimpin ini. Mereka memilih mereka untuk memerintah – tetapi bila mereka ingkar janji, bila mereka berkhianat, massa akan segera menendang mereka keluar. Ini berlaku untuk formasi-formasi baru ini, seperti halnya partai-partai reformis lama. Ini ditunjukkan oleh kasus Gerakan Lima Bintang di Italia, yang awalnya membangkitkan harapan dan ilusi banyak orang, tetapi pada akhirnya pupus dan ambruk. Ini bukan satu-satunya kasus.

Gerakan-gerakan baru ini sesungguhnya hanyalah antisipasi masa depan. Adalah hukum politik kalau radikalisasi lapisan tengah – terutama kaum mahasiswa dan intelektual – adalah salah satu gejala perkembangan revolusioner. Ini penting, tetapi ini hanyalah gejala. Fakta paling penting adalah, sampai hari ini, massa kelas buruh belumlah bergerak secara signifikan, sebagai sebuah kelas. Ketika ini terjadi, elemen-elemen borjuis-kecil yang limpung akan tersapu ke samping dan seluruh situasi akan dengan cepat berubah.

Organisasi-organisasi massa

Trotsky mengatakan dulu sekali bahwa pengkhianatan adalah implisit dalam reformisme. Ini tidak berarti, tentu saja, bahwa para pemimpin ini selalu dan di setiap kasus dengan sengaja mengkhianati kelas buruh. Beberapa dari mereka mungkin dengan jujur percaya bahwa mereka sedang membela kepentingan para buruh yang memilih mereka. Tetapi yang sama dari beragam reformis ini (reformis kiri maupun kanan) adalah mereka tidak percaya pada kelas buruh dan tidak percaya kalau buruh bisa menjalankan masyarakat.

Peran historis kaum reformis (dan Stalinis) adalah untuk mengalihkan kekecewaan massa ke saluran yang aman. Tetapi kebangkrutan mereka telah mengubah persamaan politik. Pengkhianatan mereka selalu ada, tetapi selama 60 tahun terakhir ini telah menjadi lebih dalam dan intens. Bila seorang menerima sistem kapitalis, maka ia juga harus mematuhi hukum kapitalisme dan pasar. Dari sudut pandang ini, kaum reformis kanan jauh lebih konsisten dibandingkan kaum “Kiri”. Mereka dengan sepenuh hati menjalankan kebijakan penghematan yang didikte oleh kaum bankir dan kapitalis, untuk menyelamatkan kapitalisme.

Dalamnya krisis yang ada telah membuat mustahil reforma berarti. Sebaliknya, borjuasi mengatakan bahwa mereka bahkan tidak dapat membiayai reforma-reforma yang telah dimenangkan oleh kelas buruh di masa lalu. Kebijakan mereka: pangkas, pangkas, dan pangkas lagi. Oleh karenanya, dengan satu cara atau lainnya, proses radikalisasi sedang berlangsung di seluruh dunia. Akan tetapi, pada tahapan ini, ini secara umum tidak terefleksikan dalam organisasi-organisasi massa. Sebagai akibatnya, para pemimpin reformis, walaupun dalam banyak kasus mereka masih punya basis massa, tidak lagi memiliki otoritas yang sama seperti dahulu.

Secara umum, para pemimpin hari ini tidaklah sama dengan para pemimpin masa lalu. Para pemimpin Sosial Demokrat masa lalu memiliki sejumlah koneksi dengan kelas buruh. Kebanyakan dari mereka datang dari latar belakang buruh, dan setidaknya mereka tahu kondisi kehidupan kelas buruh. Mereka juga setidaknya tahu mengenai sosialisme, dan memberi pidato mengenai sosialisme saat perayaan May Day. Apa situasinya sekarang? Para pemimpin hari ini hampir semuanya datang dari kelas menengah: profesor universitas, pengacara, ahli ekonomi, dan semacamnya.

Strata bawah borjuis-kecil lebih dekat dengan kelas buruh, dan strata atas lebih dekat dengan borjuasi dan mereka mendukung kepentingan borjuasi dalam semua masalah fundamental. Mereka tidak punya pemahaman ataupun kontak dengan kelas buruh. Gaya hidup, taraf hidup, lingkungan sosial dan psikologi mereka memisahkan mereka dari kelas buruh. Ini adalah faktor baru yang penting dalam situasi sekarang. Demikian juga dengan kaum Stalinis, yang telah membusuk sampai-sampai tidak bisa lagi dibedakan dari kaum Sosial Demokrat.

Eks-Stalinis hari ini secara setia mempertahankan semua metode gangster Stalinis masa lalu, tetapi mereka tidak lagi berpura-pura menjadi Komunis atau revolusioner. Mereka adalah segerombolan reformis yang paling menjijikkan. Dan mereka memainkan peran kontra-revolusioner secara terbuka, terutama di dalam serikat-serikat buruh, dimana mereka berperan sebagai “kedok kiri” untuk birokrasi sayap kanan.

Di atas basis kondisi-kondisi ini, sejumlah partai yang sebelumnya adalah partai kelas buruh telah sepenuhnya runtuh dan menghilang. Di Italia, Partai Komunis Italia (PCI) adalah partai Komunis terbesar di luar Uni Soviet (kecuali Indonesia, sebelum pembantaian 1965). Tetapi dimana PCI hari ini? Partai ini telah sepenuhnya hancur. PASOK di Yunani juga sudah hancur dan tidak jelas apakah partai ini bisa bangkit kembali. Di tempat-tempat lain dimana mereka selamat, organisasi-organisasi ini masih memiliki basis massa di antara kelas buruh. Ini terutama benar di sejumlah negeri Eropa Utara.

Akar Partai Buruh Inggris dalam kelas buruh sangatlah dalam. Di Austria begitu juga, Sosial Demokrasi punya akar yang dalam, yang tidak akan menghilang begitu saja. Tetapi kepemimpinan Partai Buruh Inggris busuk dan komposisinya sepenuhnya borjuis kecil atau borjuis. Ketika Corbyn terpilih sebagai pemimpin partai, situasi dalam Partai Buruh berubah dengan pesat. Orang-orang berbondong-bondong mengantre untuk bergabung ke Partai Buruh, terutama kaum muda.

Ini menunjukkan bahwa mood radikalisasi sudah ada sejak awal. Corbyn tidak menciptakan mood ini. Mood ini sudah eksis sebelumnya, tetapi tidak punya saluran untuk mengekspresikan dirinya. Ini membutuhkan katalis, dan inilah yang disediakan Corbyn. Bila bukan dia, mood ini pada akhirnya akan mengekspresikan dirinya, dengan satu cara atau lainnya, dan tidak pasti akan lewat Partai Buruh.

Krisis reformisme

Di mana-mana situasi bergolak dan cepat berubah. Kita harus mengikutinya dengan seksama dan harus sangat fleksibel dalam taktik kita untuk bisa meraih lapisan masyarakat yang paling revolusioner. Tidak boleh ada ruang untuk rutinisme dan formalisme.

Pada 1930an, Trotsky menganjurkan para pendukungnya di Inggris dan Prancis untuk bekerja di dalam organisasi-organisasi massa Sosial Demokrasi. Dia mengedepankan gagasan ini dalam konteks kondisi krisis sosial, polarisasi cepat dan kebangkitan tendensi kiri massa (“sentris”) di negeri-negeri seperti Inggris, Prancis dan Spanyol. Tetapi apa situasi hari ini? Di mana-mana, krisis kapitalisme berarti krisis reformisme. Dengan pengecualian Inggris, tidak ada kemunculan tendensi kiri yang serius di dalam organisasi-organisasi massa tradisional.

Kita harus berhati-hati pada skema abstrak yang tidak sesuai dengan realitas. Situasi hari ini di dalam organisasi massa tidaklah sama seperti yang dijelaskan Trotsky. Bahkan di Inggris, tendensi yang diwakili oleh Corbyn – walaupun ini jelas merupakan langkah maju besar yang telah mengubah perpolitikan Inggris – hanyalah refleksi pucat dari ILP (Independent Labour Party) yang muncul sebelum Perang Dunia Kedua. Inilah mengapa fokus kita pada periode terakhir adalah kerja sistematis di antara kaum muda, yang telah memberi hasil-hasil baik.

Di Inggris, seperti halnya di negeri-negeri lain, penekanan utama kita masihlah kerja terbuka di antara kaum muda, dan kebanyakan dari mereka bersimpati dengan Corbyn tetapi tidak terlibat secara aktif dalam Partai Buruh.

Akan tetapi ini bukan berarti kita harus secara a priori menafikan kerja intervensi ke dalam organisasi-organisasi massa buruh, ketika kondisi berubah. Tidaklah mustahil akan ada perkembangan besar dalam organisasi reformis di sejumlah negara di periode mendatang. Kita harus selalu mengamati perkembangan organisasi reformis, dan mengintervensi bila ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya, seperti yang terjadi di Inggris.

Namun, tugas utama kita adalah memenangkan dan mendidik elemen-elemen muda terbaik, dan mengarahkan mereka ke gerakan buruh dan kelas buruh. Inilah satu-satunya cara untuk menghimpun kekuatan massa Marxisme yang dibutuhkan untuk memenangkan revolusi sosialis di Inggris. Sebelum kita bisa berbicara secara serius mengenai persiapan merebut kekuasaan, kita harus terlebih dahulu memenangkan massa, dan ini dimulai terutama dengan memenangkan lapisan maju mereka.

Sebuah resesi baru setelah pengalaman 10 tahun terakhir akan memiliki dampak serius terhadap kesadaran massa. Kita harus siap untuk menyaksikan bangkitnya gerakan massa, munculnya organisasi dan tendensi kiri, tetapi juga kejatuhan mereka. Periode mendatang adalah periode dengan perubahan tajam dan mendadak, yang akan menciptakan kondisi yang bahkan lebih subur bagi perkembangan tendensi Marxis. Tugas kita adalah mengobarkan perjuangan yang keras kepala dalam membela prinsip-prinsip Marxisme, sementara pada saat yang sama menunjukkan kelenturan taktik, berjuang untuk membangun organisasi revolusioner dengan mengintervensi perjuangan kelas.

Krisis kaum sektarian

Kaum sektarian yang hidup di pinggiran gerakan buruh memainkan peran yang paling buruk di mana-mana. Mereka menyebarkan kebingungan dan mendidik secara keliru orang-orang yang nasibnya malang bertemu dengan mereka dan ada di bawah pengaruh mereka. Mereka mencemari gagasan Trotskisme di mata kelas buruh. Mereka sama sekali tidak paham metode Trotsky. Mereka juga tidak paham dialektika, dan oleh karenanya mereka terombang-ambing oleh setiap perubahan situasi. Mereka adalah empiris yang paling dangkal dan pragmatis yang paling buruk.

Setiap kali ada peningkatan suara untuk partai-partai sayap kanan – sesuatu yang tak terelakkan di bawah kondisi hari ini – kaum sektarian mulai berteriak: “Fasisme! Fasisme!” Ini menunjukkan ketiadaan rasa tanggung jawab di antara kaum ultra-kiri ini, yang sudah putus asa karena mereka sudah tidak lagi percaya pada kemampuan kelas buruh untuk mengubah masyarakat. Inilah kesamaan antara kaum sektarian ultra-kiri dan kaum reformis.

Cukup menarik untuk mencatat kalau justru pada momen seperti ini organisasi-organisasi sektarian memasuki krisis, pecah dan hancur berkeping-keping di mana-mana. Setelah runtuhnya ISO (International Socialist Organization) dan hancurnya CWI (Committee for Workers International), kita saksikan perpecahan Jorge Altamira dari Partido Obrero di Argentina (Jorge Altamira adalah pendiri dan pemimpin Partido Obrero sejak 1964). Ini bukanlah kebetulan. Kaum sektarian tidak memiliki pemahaman akan proses yang tengah berlangsung. Mereka kebingungan dan pesimis. Bukanlah kebetulan kalau persis sekarang, ketika krisis kapitalisme dan reformisme membuka kondisi yang paling menguntungkan bagi kaum revolusioner, kelompok-kelompok ini ada dalam krisis, pecah dan runtuh. Akan tetapi, ini adalah perkembangan yang sangat positif, karena ini menyingkirkan satu lagi halangan dari jalan kita.

Alasan mengapa mereka runtuh adalah karena mereka bukan Marxis sama sekali. Karena mereka tidak punya teori sama sekali, mereka telah menyerah pada ideologi borjuis-kecil, seperti politik identitas. Sebagai akibatnya, mereka kehilangan keseimbangan setiap kali angin berhembus. Mereka terjangkiti penyakit pesimisme. Mereka pesimis karena mereka tidak paham bagaimana kelas buruh bergerak. Sebaliknya, keteguhan prinsip dan pemahaman teori kita yang solid telah memungkinkan kita untuk mengembangkan perspektif dan taktik yang tepat. Inilah mengapa kita tumbuh dan menemukan jalan ke lapisan terbaik buruh dan kaum muda.

Sekte Taaffeite (atau CWI) adalah hibrida buruk dari sektarianisme dan oportunisme ekstrem. Sesungguhnya CWI adalah varian dari kecenderungan yang Lenin namakan “kaum ekonomis”, yakni kecenderungan yang telah mencampakkan teori Marxis dan mencoba meraih keberhasilan jangka-pendek dengan beradaptasi pada tren terbaru dan mereduksi politik ke turunan yang paling sederhana. Lenin telah mengatakan: “Tanpa teori revolusioner tidak akan ada gerakan revolusioner.”

Lebih dari 25 tahun yang lalu, sekte CWI ini memecat Ted Grant dan mencampakkan Partai Buruh, dan secara tidak bertanggung jawab membuang pencapaian-pencapaian besar yang telah kita menangkan dari kerja 40 tahun. Mereka mencari jalan pintas ke kesuksesan. Ted memberi peringatan, bahwa ini akan menjadi “jalan pintas ke jurang”. Peristiwa telah membenarkan Ted Grant. CWI lalu memajukan kandidat-kandidat di pemilu, yang berdiri di atas program yang sepenuhnya reformis, meluncurkan kampanye isu-tunggal (misalnya kampanye menentang tarif air di Irlandia), dsb. Mereka sudah tidak lagi memiliki pemahaman teori Marxis, dan oleh karenanya mereka jatuh ke bawah pengaruh gagasan-gagasan kelas asing, terutama gagasan politik identitas yang trendi itu, yang merupakan salah satu alasan utama dari perpecahan katastropik mereka baru-baru ini.

Seperti sekte-sekte lainnya, di Inggris CWI mengubur diri mereka dalam serikat-serikat buruh. Mereka mengira ini adalah cara untuk bisa berhubungan dengan buruh. Kerja serikat buruh, tentu saja, adalah bagian dari kerja revolusioner yang penting dan diperlukan. Tetapi seperti semua kerja kita, ini harus dilakukan dengan cara yang revolusioner, dan bukan rutinis dan birokratik. Sumber utama kekeliruan mereka adalah mencoba mengambil posisi dalam serikat tanpa terlebih dahulu membangun basis yang kuat. Alih-alih secara sabar mengembangkan kader-kader revolusioner dalam serikat buruh, mereka mencoba memenangkan “pengaruh”.

Trotsky memperingatkan kita untuk tidak “menuai dimana kita belum menabur”. Kerja revolusioner dalam serikat buruh adalah kerja yang membutuhkan kesabaran, dengan perlahan membangun basis yang kokoh, yang membutuhkan waktu. Mencari jalan pintas dengan berbagai manuver dan kombinasi adalah resep ampuh untuk degenerasi oportunis dan birokratik. Pengalaman CWI di serikat PCS (Public and Commercial Service) di Inggris, yang berakhir dengan bencana, adalah bukti yang teramat jelas. Dengan metode mereka yang keliru, mereka begitu terjerat oleh aktivitas serikat sehari-hari, sehingga mereka gagal memahami proses penting yang tengah berlangsung di dalam kelas buruh dan kaum muda.

Apa yang tidak bisa dipahami oleh kaum sektarian adalah bahwa pada tahapan ini elemen paling revolusioner umumnya tidak akan ditemui di ranting-ranting serikat buruh. Serikat buruh didominasi oleh buruh-buruh yang lebih tua, kebanyakan dari mereka pesimis dan terdorong ke arah oportunisme. Sikap yang sama telah menjangkiti kaum sektarian, yang terjangkiti apa yang Trotsky sebut “skeptisisme yang busuk”, walaupun dikedoki dengan ujar-ujar revolusioner. Dengan orang-orang seperti itu, tidak ada yang bisa diharapkan. Kaum Marxis harus mengikuti nasihat Lenin: menggali lebih dalam ke dalam kelas buruh. Jangan terpaku pada apa-yang-disebut aktivis-aktivis buruh yang maju, dan carilah kontak dengan lapisan buruh yang paling tertindas dan militan!

Kapitalisme dan lingkungan hidup

Dalam pengejaran profit mereka yang tanpa belas kasihan, kaum kapitalis meracuni makanan yang kita makan, udara yang kita hirup, dan air yang kita minum. Mereka membunuhi lautan kita, menebang hutan tropis, dan memunahkan spesies-spesies dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Bila sistem kapitalis dibiarkan berlanjut, masa depan umat manusia akan terancam, dan bahkan kemungkinan seluruh kehidupan di atas bumi.

Kita harus mengakui bahwa kita sendiri tidak memberikan perhatian yang memadai pada isu-isu ini di masa lalu. Kita harus mengambil langkah segera untuk memperbaiki ini. Jelas, kita mendekati masalah lingkungan hidup dari sudut pandang kelas dan revolusioner, dan menghubungkannya dengan tuntutan mengekspropriasi kaum bankir dan kapitalis, dan membangun masyarakat yang harmonis, yang direncanakan secara demokratik, secara nasional dan internasional. Kita menjelaskan bahwa tidak ada itu yang namanya kapitalisme yang berkesinambungan (kapitalisme hijau). Kita mengutuk kaum borjuasi yang ingin mengkooptasi dan mengalihkan perjuangan untuk melindungi lingkungan hidup demi kepentingan kelas mereka.

Kita harus mendekati aktivis lingkungan hidup secara bersahabat, mendukung mereka ketika mereka mengkritik sistem hari ini yang menghancurkan lingkungan hidup. Tetapi kita harus mengkritik gagasan neo-Malthusian yang reaksioner mengenai membatasi pertumbuhan ekonomi, membatasi populasi, dsb. Gagasan-gagasan keliru ini, yang telah dijawab oleh Marx dulu sekali, akan digunakan oleh kaum borjuasi reaksioner sebagai pembenaran untuk kebijakan pemangkasan dan penghematan mereka (“Kau lihat! Kita harus memangkas konsumsi untuk menyelamatkan bumi!”)

Aktivis lingkungan hidup sering mengeluh kalau Marx dan Engels tidak memberikan perhatian pada lingkungan hidup. Ini sepenuhnya tidak benar. Dalam karya “Dialektika Alam”, Engels menulis:

“Akan tetapi, janganlah kita menyanjung diri kita terlalu banyak hanya karena penaklukan alam oleh manusia. Untuk setiap penaklukan ini, alam membalas dendam. Benar kalau setiap penaklukan ini pada tempat pertama memiliki konsekuensi yang kita harapkan. Tetapi di tempat kedua dan ketiga, ini memiliki pengaruh yang cukup berbeda dan tak terduga, yang sering kali membatalkan konsekuensi yang pertama. (...) di setiap langkah kita diingatkan kalau kita tidaklah menguasai alam seperti halnya seorang penjajah berkuasa atas orang-orang asing, seperti seorang yang berdiri di luar alam – tetapi kita, dengan darah daging dan otak, adalah bagian dari alam juga, dan eksis di tengah-tengahnya, dan setiap penguasaan kita atas alam terdiri dari fakta bahwa kita memiliki keunggulan di atas semua makhluk hidup untuk memahami dan dengan tepat menerapkan hukum-hukum alam.” (Dialektika Alam, IX: Bagian yang dimainkan kerja dalam transisi dari Kera ke Manusia, 1883)

Metode yang kita gunakan untuk meningkatkan produktivitas dapat berubah menjadi kebalikannya dan menghancurkan seluruh potensi pertumbuhan. Perkembangan ilmu pertanian modern menunjukkan ini. Penggunaan pembasmi hama dan pupuk buatan secara serampangan telah menghancurkan populasi serangga, merusak tanah dan memperkenalkan berbagai zat kimia berbahaya ke dalam rantai makanan.

Ini bukanlah argumen untuk menentang inovasi teknologi dalam pertanian (kita tidak ingin kembali ke jaman bajak kayu), tetapi adalah argumen kuat untuk sistem perencanaan sosialis, dengan penggunaan ilmu sains secara rasional dan terkendali, demi kebutuhan umat manusia, dan bukan keserakahan segelintir orang.

Potensi revolusioner kaum muda

Dalam perjuangan melawan penyimpangan Ekonomis, Lenin juga menekankan agar proletariat tidak hanya berjuang untuk tuntutan-tuntutan ekonomi (upah dan kondisi kerja) tetapi juga tuntutan-tuntutan politik yang mencerminkan problem dan aspirasi lapisan lain dalam masyarakat. Hari ini, banyak orang yang menjadi radikal karena isu-isu yang bukanlah ekonomik secara langsung. Demo para pelajar karena isu lingkungan hidup adalah salah satu contohnya.

Pemogokan iklim adalah gejala jelas radikalisasi kaum muda. Ratusan ribu pelajar turun ke jalan. Ini adalah perkembangan yang sepenuhnya baru, dengan peluang besar di masa depan. Lapisan-lapisan baru ini tidak terbebankan oleh mood pesimis dan skeptis yang telah mempengaruhi banyak generasi tua.

Di antara kaum muda, tidak ada atmosfer rutinisme yang sumpek – yang biasanya kita temui dalam partai reformis atau serikat buruh. Pemuda-pemudi ini tidak tertarik dengan reforma remeh temeh. Mereka ingin perubahan dari atas hingga bawah. Mereka ingin mengubah dunia. Dalam satu kata, mereka menginginkan revolusi. Kondisi-kondisi ini memberi peluang bagi tendensi Marxis untuk membangun lebih pesat dan lebih mudah, dibandingkan masa sebelumnya.

Kaum skeptik yang tua bangka (termasuk mereka yang mengaku “Kiri” atau bahkan “Marxis”) memandang rendah kaum muda ini. Mereka menepuk kepala kaum muda ini dan mengatakan: “Baik sekali, tetapi nanti kalau kau sudah lebih tua dan lebih bijak, kau akan sadar bahwa kau tidak akan bisa mengubah dunia. Sebaliknya, dunialah yang akan mengubah kau. Revolusi adalah mimpi dan ilusi. Kita harus membatasi diri pada apa yang mungkin.”

Kita, sebaliknya, mengatakan kepada kaum muda ini: “Orang bukan bertambah bijak saat ia semakin tua. Kebanyakan orang justru bertambah bodoh seiring bertambahnya umur. Kalian benar ketika mengatakan bahwa dunia harus diubah. Ini membutuhkan revolusi, dan bila kita gagal, kondisi untuk barbarisme akan tercipta. Bila kaum buruh gagal merebut kekuasaan ketika peluang tersebut tiba, masa depan bumi akan ada dalam bahaya besar.”

Ada mood memberontak yang luar biasa yang tengah berkembang di antara kaum muda. Situasi objektif sedang bergerak dengan cepat dan tuntutan gerakan lingkungan hidup menjadi semakin radikal. Tetapi yang kurang adalah faktor objektif. Ada vakum besar di Kiri, tetapi tidak ada yang menyediakan kaum muda ini dengan gagasan yang mereka butuhkan. Inilah mengapa figur-figur aksidental seperti Greta Thunberg untuk sementara bisa mengisi vakum ini.

Hal yang serupa juga terjadi dalam gerakan melawan penindasan kaum perempuan. Di satu negeri demi satu negeri (Spanyol, Argentina, Swiss, Irlandia, Polandia, Italia, dsb.), kita telah saksikan mobilisasi massa untuk hak aborsi, menentang kekerasan terhadap perempuan, untuk upah setara dan menentang diskriminasi. Di semua demo ini, kaum muda memainkan peran kunci. Mereka kebanyakan adalah lapisan segar yang baru memasuki arena perjuangan untuk pertama kalinya. Kita harus mengintervensi secara energetik ke dalam gerakan-gerakan ini, menyediakan alternatif revolusioner yang jelas, sementara memerangi gagasan-gagasan feminis borjuis dan borjuis-kecil yang mendominasi kepemimpinan gerakan ini.

Dari semua lapisan yang sedang memasuki perjuangan, kaum muda adalah lapisan yang paling terbuka dengan gagasan revolusioner. Prioritas urgen IMT adalah untuk mengintervensi gerakan kaum muda ini. Sikap konservatif dan rutinis tidak dapat diterima. Pendekatan yang tepat ditunjukkan oleh seorang kamerad muda di Rusia yang mengambil sebuah inisiatif yang sangat berani dalam meluncurkan Left Fraction pada Summit FFF Agustus 2019 di Swiss.

Ini segera mendapat respons di antara kaum muda yang radikal di banyak negara, yang kecewa dengan program reformis yang kecut yang diajukan oleh tendensi-tendensi kelas-menengah seperti Greenpeace. IMT harus memberi dukungan penuh pada inisiatif ini dan meluncurkannya secara energetik. Ini adalah cara baik untuk memenangkan elemen muda yang revolusioner dan ingin berjuang. Dengan mengintervensi secara berani, dengan slogan-slogan revolusioner, dengan mengambil inisiatif yang tepat waktu untuk merangsang protes-protes massa, tendensi Marxis dapat memenangkan elemen-elemen terbaik dan melatih generasi baru kader revolusioner yang akan mampu meraih posisi-posisi kepemimpinan dalam gerakan yang penting ini.

Situasi hari ini dan tugas kaum Marxis

Di masa lalu, krisis politik seperti yang kita saksikan hari ini biasanya tidak berlangsung lama. Mungkin hanya berlangsung beberapa bulan, atau beberapa tahun. Krisis ini akan berakhir dengan kemenangan fasisme atau Bonapartisme, atau dengan kemenangan kelas buruh. Tetapi dengan mengembangkan ekonomi, kaum borjuasi juga telah mengembangkan kelas buruh. Masyarakat telah terproletarianisasi jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya. Oleh karenanya, setiap usaha untuk memukul mundur kelas buruh dan merenggut pencapaian masa lalu akan memprovokasi perlawanan keras.

Di sini, kaum borjuasi dihadapkan dengan problem serius. Basis sosial fasisme telah tergerus, sementara kelas buruh menguat. Kaum tani, yang sebelum Perang Dunia Kedua merupakan lapisan yang sangat besar, kini telah menjadi minoritas kecil. Basis sosial untuk reaksi telah melemah.

Ini adalah elemen penting dalam persamaan politik. 50 tahun pertumbuhan ekonomi tanpa preseden, menyusul akhir Perang Dunia Kedua, telah menggeser perimbangan kelas ke arah kelas buruh. Ini menciptakan perkembangan yang menguntungkan, dari sudut perimbangan kekuatan kelas.

Pengkhianatan para pemimpin Stalinis dan Sosial Demokrat, yang menahan gerakan massa melawan kapitalisme pasca Perang Dunia II, adalah pra-kondisi politik untuk periode panjang kenaikan ekonomi. Ini menciptakan problem besar bagi kaum Marxis di negeri-negeri kapitalis maju. Periode boom ekonomi ini cenderung meredam perjuangan kelas untuk waktu yang lama, menciptakan ilusi pada kapitalisme dan reformisme. Tetapi sekarang ada perubahan fundamental. Secara dialektis, semua faktor yang sebelumnya menjadi basis kestabilan kini telah berubah menjadi kebalikannya. Sistem kapitalis sedang meluncur ke krisis historis, yang menjelaskan ketidakstabilan politik dan sosial hari ini.

Pada 2050, diprediksikan 66 persen populasi dunia akan bermukim di kota – meningkat dari 30 persen pada 1960. Fakta ini saja menunjukkan perubahan penting dalam perimbangan kekuatan di seluruh dunia. Di China, populasi kota telah meningkat dari 15 persen pada awal abad ke-20 menjadi 60 persen hari ini. Di Sudan, ini meningkat dari 5 persen pada 1960an menjadi 33 persen hari ini. Pertumbuhan urbanisasi ini disertai dengan tumbuhnya bobot sosial kelas buruh. Negara-negara yang sebelumnya desa dan tani telah terindustrialisasi dengan pesat.

Secara objektif, pada masa sekarang kelas buruh paling kuat dibandingkan sebelumnya. Akan tetapi, perasaan kekecewaan massa tidak menemukan refleksinya dalam organisasi-organisasi massa buruh tradisional, dan oleh karenanya menemukan ekspresinya lewat cara-cara lain. Namun, yang fundamental adalah proses radikalisasi massa di seluruh dunia, yang terekspresikan dalam ayunan tajam ke kiri dan ke kanan. Proses radikalisasi ini akan menjadi semakin intens seiring dengan semakin dalamnya krisis kapitalisme, yang akan memicu polarisasi kelas yang semakin tajam dan mempersiapkan ledakan revolusioner yang bahkan lebih besar.

Kesimpulan: optimisme revolusioner!

Kaum Marxis adalah seorang yang secara alami berwatak optimis, tetapi optimisme kita bukanlah sesuatu yang palsu atau artifisial. Optimisme ini berdasarkan analisa dan perspektif yang serius. Kita mendasarkan diri kita di atas fondasi teori Marxis yang kokoh. Organisasi kita bisa berbangga karena tetap sepenuhnya teguh dalam prinsip dan metode dialektik, yang mengizinkan kita untuk memahami proses-proses yang berlangsung di bawah permukaan.

Dalam banyak cara, situasi hari ini menyerupai mundurnya dan jatuhnya Kekaisaran Romawi. Kaum bankir dan kapitalis terus memamerkan kekayaan dan kemewahan mereka. Kaum satu persen terkaya di dunia akan mengendalikan dua pertiga kekayaan dunia pada 2030, sementara mereka duduk di atas bertriliun-triliun dolar yang tidak mereka investasikan dalam aktivitas produksi. Kelas penguasa adalah parasit dan sepenuhnya bangkrut. Ini memicu rasa marah dan benci di mana-mana.

Ada potensi besar untuk menyebarkan gagasan Marxis. Ini yang harus kita fokuskan. Kita harus mendiskusikan hal-hal yang fundamental, dan bukan insidental. Apa benang merah yang menyatukan semua situasi ini? Polarisasi politik dan sosial yang ekstrem. Perjuangan kelas sedang meningkat di mana-mana.

Kekuatan kita terus tumbuh dan berkembang, tetapi kita masih terlalu kecil untuk bisa menjadi kekuatan menentukan yang bisa mempengaruhi jalannya peristiwa di masa sekarang. Dari sudut pandang kita, bukanlah hal yang buruk jika situasi revolusioner yang menentukan tertunda untuk sementara waktu, untuk alasan sederhana kalau kita masihlah belum siap. Kita butuh waktu untuk membangun alternatif revolusioner.

Seperti yang dipaparkan dalam dokumen ini, kita akan punya waktu, tetapi kita tidak punya semua waktu di dunia. Sejarah bergerak dengan kecepatannya sendiri, dan tidak akan menunggu untuk siapapun. Dalam periode seperti hari ini, peristiwa besar bisa terjadi sebelum kita siap. Perubahan yang tajam dan mendadak adalah implisit dalam situasi hari ini. Kita harus siap menghadapi tantangan-tantangan besar.

Lapisan buruh dan muda yang terbaik sudah terbuka pada gagasan kita. Kita harus mencari jalan ke lapisan ini dan memalingkan punggung kita ke elemen-elemen lama yang sudah letih dan terdemoralisasi. Tidak boleh ada skeptisisme dan rutinisme dalam barisan sama sekali, yang harus dirasuki oleh rasa urgensi dari atas hingga bawah.

Kita tengah dikejar waktu. Peristiwa-peristiwa besar dapat menyapu kita. Kita harus siap. Oleh karenanya, kita harus membangun organisasi kita dan merekrut dan melatih kader secepat mungkin. Ini satu-satunya jalan ke keberhasilan. Kita sedang menapak jalan tersebut.

Kita harus memusatkan perhatian kita sepenuhnya pada tugas ini. Kita punya semua alasan untuk dipenuhi dengan kepercayaan pada kelas buruh, pada gagasan Marxisme, pada diri kita sendiri, dan pada IMT.

Turin, 29 Januari 2020