facebooklogocolour

Situs Militan Indonesia akan ditutup pada akhir Oktober. Kunjungi situs Perhimpunan Sosialis Revolusioner (revolusioner.org)!

Masa Depan Revolusi Venezuela Setelah Chavez

Pada hari kematiannya, kata-kata ini bergema di pikiranku. Sekarang Hugo Chavez sudah tiada. Masa depan Revolusi Bolivarian dan gerak majunya menuju sosialisme akan bergantung pada kaum buruh, kaum miskin, kaum tani, dan pemuda revolusioner – orang-orang yang telah menjadi daya kemudi revolusi dan telah membelanya dalam semua momen kunci. Segalanya bergantung pada mereka.

Kemenangan Tipis Bagi Revolusi Venezuela – Apa Langkah Selanjutnya?

Kenyataan yang pahit adalah bahwa ini adalah sebuah kemenangan yang sangat tipis, dan harus menjadi peringatan serius untuk revolusi. Sejak 7 Oktober, Revolusi Bolivarian telah kehilangan 680 ribu suara, sementara Capriles meraih jumlah yang sama. Mood di antara massa revolusioner adalah mood sukacita setelah berhasil meraih satu kemenangan lagi, tetapi pada saat yang sama ada mood oto-kritik yang militan.

Selamat jalan, Presiden!

Wakil Presiden Nicolas Maduro, kemarin, mengumumkan berita meninggalnya Presiden Chavez di televisi publik, tak lama setelah kematian Presiden. Wakil Presiden mengumumkan peristiwa sedih ini dari Rumah Sakit Militer di Caracas, tempat Presiden Chavez dirawat.

Kudeta Istana di Paraguay dan Masalah Negara

 Sebuah kudeta baru saja terjadi di Paraguay, yang kembali lagi mengedepankan masalah mendesak mengenai Negara dan Kekuasaan Kelas, bahwa Negara Borjuis tidak bisa digunakan untuk kemenangan rakyat pekerja seperti yang ditekankan oleh Lenin.

Presiden Venezuela Menandatangani UU Buruh yang Baru dalam Aksi “Keadilan Sosial” Bagi Kaum Buruh

Penandatanganan UU Buruh yang berpihak pada buruh adalah satu lagi catatan kemenangan dari proses Revolusi Venezuela. Di sini kami sadur artikel reportase dari Venezuelanalysis mengenai UU Buruh yang ditandatangani pada May Day baru-baru ini di Venezuela. Namun Militan Indonesia berpendapat bahwa kemenangan sosialisme di Venezuela hanya akan tercapai bila kaum buruh menasionalisasi tuas-tuas ekonomi besar dan perbankan di Venezuela, satu hal yang belum dilakukan oleh revolusi ini. Tanpa kepemilikan atas alat-alat produksi, maka implementasi UU Buruh yang baru ini akan menemui perlawanan besar dari pemilik modal dengan berbagai trik-trik mereka, dari manuver-manuver hukum sampai mogok kapital. (Redaksi Militan)

Pemilu 26 September di Venezuela: Revolusi di Persimpangan

Pada tanggal 26 September, Venezuela akan mengadakan pemilu Majelis Nasional yang akan menentukan arah revolusi. Tidak mustahil kalau kaum oposisi oligarki bisa memenangkan ini. Rakyat pekerja sedunia, sampaikan dukungan anda, sebar luaskan berita ini. Revolusi Venezuela sedang dalam bahaya. [Untuk menyampaikan dukungan solidaritas, bubuhi tandatangan anda melalui kampanye Hands Off Venezuela]

Venezuela: Gerak Menuju Sosialisme (Bagian Satu)

Dua belas tahun sudah Revolusi Bolivarian berlangsung dengan gerak dialektikanya. Berbagai proses telah berlangsung dengan langkah maju dan langkah mundur. Namun Revolusi ini belumlah selesai. Berikut ini adalah bagian satu dari sejarah Revolusi Bolivarian dari El Caracazo sampai ke kudeta April 2002.

Ketika debu telah sirna, Piala Dunia dan Kediktaturan

Piala Dunia sudah berakhir. Ketika debu perayaan telah hilang, ketika botol-botol anggur telah kering dan orang-orang bangun dari mabuk mereka, wajah buruk krisis kapitalis akan kembali menatap rakyat. Ini cerita mengenai dilema rakyat Argentina dan kecintaannya pada sepakbola, ketika mereka memenangkan Piala Dunia 1978 di bawah junta militer, dimana sorak sorai rakyat bercampur dengan jeritan puluhan ribu tahanan politik yang disiksa dan dibunuh. (Foto ini diambil pada saat Piala Dunia 1986, tetapi disensor oleh media mainstream dan FIFA. Spanduk di foto ini menyatakan bahwa tim sepakbola Argentina mendukung "Mothers of Plaza de Mayo" untuk dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian. "Mothers of Plaza de Mayo" adalah ibu-ibu dari 30 ribu kaum muda yang "menghilang" selama kediktaturan junta militer 1976-1983. Ibu-ibu ini menuntut diungkapkannya kebenaran mengenai nasib anak-anak mereka)