facebooklogocolour

 

Pada tanggal 13 April lalu, ratusan ribu orang memadati jalan raya Bolivar, yang terletak di tengah kota Caracas, Venezuela. Mereka memperingati 8 tahun kudeta yang dilakukan kelompok borjuis terhadap pemerintahan demokratis di bawah kepemimpinan Chavez pada tahun 2002. Namun yang berkumpul bukan hanya massa rakyat biasa. Di tengah-tengah kerumunan terdapat barisan massa rakyat yang memakai seragam hijau dengan memegang senjata AK-47 yang terkenal tangguh dan tahan banting di medan perang.

Apa yang mereka lakukan dengan memegang senjata? Apakah Venezuela kekurangan tentara reguler? Apakah perang sipil akan berlangsung di Venezuela? Apakah akan ada pembunuhan besar-besaran disana?. Mungkin itu beberapa pertanyaan dari banyak pertanyaan lainnya yang ada di benak orang-orang. Atau bahkan pertanyaan itu menghinggapi kita juga. Namun pertanyaan terbesar dan ketakutan terbesar ketika mendengar atau bahkan melihat langsung bahwa massa rakyat telah dipersenjatai datang dari kaum borjuis dan kelompok kontra revolusioner. Mereka pasti akan bersiap, mengeluarkan dana lebih, melakukan segala cara apapun, untuk menghentikan hal ini.

Bahkan ketika Chavez mengeluarkan kebijakan untuk membeli peralatan militer dari Rusia, kaum borjuis di Venezuela, serta rekan mereka di Amerika Serikat, menuduh bahwa Chavez akan memberikan senjata-senjata itu untuk kaum pemberontak FARC di Kolombia. Dan sekarang mereka melihat dengan mata mereka sendiri kemana peralatan militer (AK-47) itu berada, di tangan siapa senjata itu digenggam.

Venezuela telah membuat langkah progresif dengan mempersenjatai rakyatnya, dimana senjata itu akan digunakan untuk melindungi aset-aset yang seharusnya dikuasai dan dikendalikan oleh massa rakyat. Sejarah membuktikan, berulang kali kaum borjuis merampas, menyabotase, mengebiri kekuasaan massa rakyat lewat kemampuan mereka dalam mengendalikan kekuatan pemaksa, yaitu angkatan bersenjata ataupun kelompok-kelompok milisi bayaran. Mereka tidak akan rela menyerahkan kekuasaannya begitu saja ke tangan massa rakyat secara sukarela, sekalipun massa rakyat memenangkan kekuasaan dengan cara-cara demokratis.

Oleh karena itu, membangun milisi-milisi rakyat akan membawa dinamika baru bagi perkembangan sosialisme di Venezuela. Seperti apa yang ditulis Trotsky terkait dengan pembentukan pasukan milisi, yaitu membentuk angkatan bersenjata yang dekat dengan kondisi kerja kelas buruh dan dikendalikan oleh organisasi rakyat pekerja. Namun pembentukan milisi harus disertai dengan tingkat budaya dan basis ekonomi yang tinggi. Itulah sebabnya saat ini Chavez, dan seluruh pendukung sosialisme di Venezuela, harus segera menguasai aset-aset ekonomi yang masih dikendalikan oleh kaum-kaum borjuis.

Selama revolusi menuju sosialisme yang terjadi di Venezuela saat ini mampu menjaga ritmenya untuk tetap konsisten dan melakukan langkah-langkah progresif untuk memperkuat basis sosialisme, maka pasukan milisi akan terbentuk dengan baik. Pasukan milisi harus mampu menciptakan kondisi-kondisi demokratik dalam tubuhnya sendiri. Kritik oto-kritik dan perekrutan komandan harus berangkat dari proses demokratis itu.

Pasukan milisi adalah massa rakyat, mereka direkrut dari kelas proletariat. Ketika kekuatan ini tidak terpisahkan, maka revolusi menuju sosialisme di Venezuela akan mampu dipertahankan. Kekuatan ini dapat melindungi revolusi Venezuela dari sabotase-sabotase kaum kontra revolusioner. Seperti yang mereka lakukan pada tahun 2002 di Venezuela ketika mengkudeta Chavez, atau seperti pemerintahan demokratis di Honduras yang dipimpin oleh Manuel Zelaya, dimana ia digulingkan oleh kaum kontra revolusioner yang memegang senjata, atau bahkan pembantaian kaum komunis di Indonesia pada era tahun 1965 yang dikomandoi oleh Angkata Bersenjata dan CIA.

Kini telah jelas, bahwa pembentukan pasukan milisi rakyat di Venezuela berfungsi untuk mempertahankan revolusi yang telah dicapai oleh kaum proletariat di Venezuela dari serangan kelompok kontra revolusioner. Seiring dengan dihancurkannya negara borjuis dan pembentukan negara buruh baru yang berdasarkan dewan-dewan komunal, maka pasukan milisi rakyat juga akan menggantikan tentara reguler.