facebooklogocolour

Situs Militan Indonesia akan ditutup pada akhir Oktober. Kunjungi situs Perhimpunan Sosialis Revolusioner (revolusioner.org)!

problem ekonomi chinaSekitar bulan Agustus 2015 yang lalu, kita dikejutkan dengan keputusan pemerintahan China yang melakukan devaluasi Yuan sebesar 3% yang efeknya sangat terasa pada bursa saham dunia. Bahkan IHSG sempat jatuh mencapai level 4455. Hal ini tentunya memberikan tekanan pada ekonomi secara keseluruhan, terutama bagi AS. Meskipun China menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang besar, tapi di sisi lain sedang menyembunyikan sebuah kecenderungan besar dalam krisis. Hal ini dapat kita simpulkan saat terguncangnya perekonomian mereka setelah tingkat ekspor China mengalami penurunan.

Keputusan Pemerintah China mendevaluasi yuan adalah bentuk reaksi atas ketidakberdayaan mereka melawan krisis. Mereka berharap setelah keputusan mendevaluasi mata uangnya, mereka mampu  meningkatkan ekspor dan meningkatkan daya saing produk domestik.  Namun nyatanya, setelah berputar-putar, sampai hari ini mereka masih belum bisa menyelesaikan problem internal mereka.

Awal tahun 2016 dikejutkan dengan 3 kali kejatuhan harga saham. Pemerintah Cina mencoba mendamaikan situasi. Tajuk utama koran Tiongkok People’s Daily menyangkal pendapat ini dengan mengatakan bahwa apa yang terjadi di Tiongkok hanyalah demam sementara yang bisa diatasi. Berbeda dengan beberapa media barat yang menggambarkan bahwa apa yang terjadi adalah signal yang mengakhiri model Cina. Meskipun pembicaraan mengenai fenomena China telah banyak diulang-ulang, namun pembicaraan ini tidak menyentuh pokok persoalan utamanya.

Persoalannya adalah terlalu banyak barang di pasar, dengan kata lain, terjadi over-produksi di sektor–sektor yang selama ini menjadi basis tumpuan utama perekonomian China seperti: batubara, bijih besi, baja, kapas, pakaian, alat berat, kapal, panel surya, dan properti. Penurunan permintaan global telah banyak memukul banyak peserta industri ini. Kebangkrutan mereka merupakan simbol dari masalah ekonomi yang akan terus dihadapi oleh China. Fakta-fakta ini pulalah yang telah banyak disembunyikan oleh para pakar ekonomi dan strategis mereka.

Meskipun beberapa tahun terakhir menikmati pertumbuhan ekonomi, ini lebih didasarkan pada stimulus pemerintah melalui ekspansi moneter. Kebijakan ini membuat PDB naik seketika, dan bahkan melebihi pertumbuhan yang dicapai di seluruh dunia. Namun, dalam sistem kapitalisme, pertumbuhan ini tidak datang dengan sendirinya. Ada harga yang harus dibayar yakni, yang memicu ketidakstabilan di pasar, yang senantiasa meningkat seiring pertumbuhan itu sendiri.

Dengan menurunkan suku bunga deposito mencapai 1,8 persen kegiatan ekonomi diarahkan melalui investasi di bursa saham. Oleh karena itu, suku bunga di sini membantu untuk mengkoordinasikan keinginan konsumen dengan rencana produksi melalui kegiatan investasi. Menurunkan suku bunga secara artifisial sama saja mengirim sinyal palsu ke produsen bahwa konsumen tertarik kegiatan investasi, yang nyata-nyata tidak seperti yang diharapkan. Kegiatan ekonomi berjalan, seolah-olah semua berjalan dengan baik-baik saja.  Semua kegiatan bisnis bergeliat dengan mudahnya pembiayaan dari pemerintah. Semua ini tampak hebat di atas kertas, karena segala pembangunan, kegiatan konstruksi, industri, dan properti dibangkitkan darinya, dan produksi besar-besaran dimulai. Namun, kehendak kapitalisme untuk memproduksi barang kebutuhan dan mengeruk keuntungan sebanyak mungkin darinya tidak sebebas keinginannya sendiri, yang dari itu dibatasi oleh kapasitas konsumsi masyarakat, atau pasar yang bisa menyerapnya.

Karena anarki dalam produksi ini, tiba saat-saat di mana tidak ada permintaan yang cukup atas barang-barang yang telah diproduksinya. Situasi kelebihan barang dimulai. Untuk memecahkan persoalan ini, pasar memaksa untuk menurunkan harga, dalam rangka untuk menyesuaikan permintaan dengan pasokan yang ada. Situasi ini memaksa dumping harga bahkan bila ini berlanjut, maka pilihan devaluasi mata uang adalah hal yang nyata diambil oleh pemerintahan China. Tapi, semua kegiatan ekonomi menuntut sebuah kestabilan, karena kelas kapitalis menginginkan tingkat tertentu dari laba yang diharapkannya. Bila kestabilan ini tidak bisa terjamin, maka penurunan harga akan berimbas pada berkurangnya keuntungan kelas kapitalis itu sendiri. Oleh karenanya kebijakan ini banyak memukul industri-industri di China.

Jelas, bahwa masalah ini tidak bisa diselesaikan di dalam batasan kapitalisme. Masalah ini menuntut transformasi masyarakat dari atas hingga bawah. Di bawah kapitalisme upaya untuk menstabilkan ekonomi hanya akan memicu ketidakstabilan sosial. Hal inilah yang paling ditakuti oleh kelas penguasa China, yang mereka mencoba hindari. Dengan mengambil kontrol terhadap perekonomian dan direncanakan secara sadar oleh seluruh rakyat pekerja, situasi kekacauan ekonomi bisa diselesaikan. Dan akhirnya situasi ini menempatkan agenda sosialisme bagi rakyat pekerja China dan dunia.