facebooklogocolour

Kedamaian dan Ketentraman - Mahkota dari setiap kelas penguasa di setiap epos. Pada 9 Juli, demonstrasi 50 ribu orang di tengah kota Kuala Lumpur merampok kelas penguasa Malaysia dari kedamaian dan ketentraman ini. Diorganisir oleh sebuah koalisi NGO-NGO dan kelompok-kelompok sipil, yang disebut koalisi Bersih 2.0, demonstrasi ini mengguncang Malaysia sampai ke dasarnya.

Belajar dari kelas penguasa di negara-negara Arab, bahwa mereka tidak boleh menunjukkan tanda-tanda kelemahan, pemerintahan UMNO dengan segera menyerang demonstrasi ini bahkan beberapa minggu sebelum ini dimulai. Bagian pertama dari gerakan ini yang mereka serang adalah kaum sosialis dari Partai Sosialis Malaysia (PSM), karena mereka paham betul bahwa PSM adalah elemen paling berbahaya di dalam gerakan ini: sebuah partai politik dengan sebuah program. Kelas penguasa mengerti bahwa NGO, kelompok-kelompok sipil, dan segala macam elemen-elemen liberal demokratik semacam itu, karena watak dasar mereka -- goyah di momen-momen penentuan, ragu ketika bergerak maju -- tidak akan pernah bisa memberikan sebuah kepemimpinan politik untuk menentangnya dengan serius. Sebuah partai politik dibutuhkan, sebuah partai dengan program sosialis yang dapat memberikan sebuah ekspresi politik yang terorganisir untuk gerakan ini. PSM memiliki potensial untuk menjadi partai politik ini. Dalam beberapa tahun belakangan ini, PSM telah tumbuh kuat dan suaranya mendapat gaung di antara kaum tertindas. Ia memenangkan anggota parlemennya yang pertama dua tahun yang lalu. Ini sungguh mengkhawatirkan kelas penguasa.

Dua minggu sebelum demonstrasi, 30 anggota PSM, diantaranya anggota  parlemen PSM, Dr. Michael Jeyakumar Devaraj, ditangkap ketika sedang menyebarluaskan rencana demonstrasi Bersih 2.0. Tuduhannya: melaksanakan peperangan melawan Raja dan berniat menghidupkan kembali Partai Komunis. Sebenarnya, setiap kaum revolusioner yang serius ingin membawa demokrasi sejati ke Malaysia harus berjuang melawan sang Raja, barang peninggalan feodal yang harusnya sudah masuk ke museum barang antik. Setiap kaum revolusioner yang tulus ingin mengakhiri kemiskinan di Malaysia harus menghidupkan kembali ide-ide komunisme, satu-satunya gagasan yang memberikan solusi-solusi sejati kepada masalah-masalah kapitalisme.

Kelas penguasa Malaysia membuang semua topeng demokrasi mereka di hadapan oposisi yang tumbuh dari massa. Lebih dari 1600 orang ditangkap pada demonstrasi 9 Juli, yang mungkin merupakan rekor penangkapan terbesar dalam satu hari di Malaysia. Menteri Komunikasi dan Kebudayaan, Dr. Rais Yatim mengatakan bahwa polisi tidak boleh “sentiasa senyum dan gosok belakang orang ... Kalau polis sudah begitu, orang awam tidak gentar. Kita tidak mahu polis terlalu senyum atau terlalu lembut sampai orang kata bagaimana akan mempertahankan negara." Kebudayaan rasa takut adalah apa yang ingin disebarkan oleh Menteri Kebudayaan ini.

Benar kalau tuntutan-tuntutan Bersih 2.0 sangatlah moderat dalam standar apapun. Mereka menuntut reforma-reforma dalam proses pemilu dan diakhirinya korupsi dan politik kotor. Namun, tuntutan-tuntutan ini mengambil konotasi yang cukup revolusioner di dalam dunia yang penuh gejolak sekarang ini. Oleh karenanya, pemerintah tidak dapat mentolerir bahkan reforma-reforma ringat, terutama tidak setelah apa yang terjadi di dunia Arab dimana rejim-rejim di sana satu per satu digoyang oleh gerakan-gerakan massa. Peristiwa di Arab jelas mengkhawatirkan mereka. Pemimpin perempuan muda UMNO mengatakan bahwa apa yang terjadi di negara-negara Arab tidak boleh diambil sebagai contoh oleh rakyat. Sementara, pemerintahan UMNO dengan gesit belajar dari para pemimpin Arab mengenai apa yang perlu dilakukan. Kesimpulan yang mereka ambil adalah bila kau ragu maka kau akan berakhir seperti Ben Ali dan Hosni Mubarak, dan bila kau menunjukkan kekuatan maka kau akan selamat seperti di Bahrain, Libia, dan Siria. Menteri Perempuan dan Keluarga bahkan mengancam dia akan menangkap anak-anak para pendemo, jelas-jelas belajar dari otoritas Siria yang telah melakukan itu -- dan lebih lagi -- pada Hamza al-Khatib dan banyak anak-anak sebayanya yang lain.

Dengan kendali penuh terhadap media, pemerintah mencoba menggambarkan gerakan ini sebagai gerakan "haram", tidak Islam. Mereka menggunakan ancaman dan penangkapan berminggu-minggu sebelum demonstrasi terjadi, namun tetap puluhan ribu orang turun ke jalan-jalan Kuala Lumpur dan jutaan memberikan dukungan mereka -- walaupun pasif -- kepada gerakan ini. Ini sebagian karena pada esensinya gerakan ini melebihi reforma-reforma demokratik yang ia tuntut. Reforma-reforma elektoral ini hanyalah satu cara bagi rakyat untuk mengatakan bahwa mereka menginginkan sebuah pemilu yang demokratis yang akan menendang UMNO keluar dan membawa perubahan rejim. Hasrat ini belumlah mengkristal menjadi sebuah ekspresi politik yang terorganisir, dan dalam bentuknya yang masih kebingungan ia menemukan dirinya di dalam campur-aduk NGO-NGO dan kelompok-kelompok sipil.

Di belakang tuntutan-tuntutan demokratis ini, ada masalah roti. Kesenjangan pendapatan sangatlah akut di Malaysia. Walaupun pemerintah Malaysia sering menyombongkan diri lebih makmur daripada sepupunya di sebelah selatan, Malaysia memiliki koefisien Gini (koefisien Gini adalah takaran kesenjangan sosial) yang lebih tinggi daripada Indonesia: 49.2 dibandingkan 34.2 di Indonesia menurut laporan UN tahun 2007. Laporan yang sama juga menunjukkan bahwa 10% terkaya di Malaysia memiliki pendapatan 22 kali daripada 10% termiskin. Inilah basis dukungan material dari gerakan Bersih 2.0. Hasrat rakyat untuk perubahan demokratis nyaris tidak pernah berdiri sendirian. Ia selalu terhubungkan dengan masalah-masalah ekonomi.

Demonstrasi 9 Juli, dan kekerasan dan reaksi yang menyusulnya, adalah sebuah peristiwa yang mempercepat perkembangan kesadaran politik banyak rakyat Malaysia. Melihat forum-forum internet dan komentar-komentar di berita-berita jelas menunjukkan banyak kaum muda yang terpengaruh oleh peristiwa ini. Mereka tidak percaya dusta-dusta yang disebarkan oleh UMNO dan pemerintah.

Apa langkah selanjutnya? Inilah pertanyaan yang ada di banyak pikiran orang-orang. Sebuah gerakan massa yang dipimpin oleh NGO tidak dapat -- dan tidak pernah dapat -- membawa perubahan sistematik di dalam masyarakat. Maka tanggung jawab jatuh ke pundak kelas buruh, lapisan masyarakat yang paling terorganisir. Kelas buruh punya tanggung jawab untuk memimpin gerakan ini ke tingkat yang lebih tinggi dan memberikannya sebuah karakter kelas. Melalui serikat-serikat buruh mereka, kaum buruh harus menyerukan pemogokan umum. Demo-demo massa yang disertai dengan pemogokan-pemogokan akan menjadi sebuah senjata yang lebih kuat. Bila kaum penguasa Malaysia dapat mengambil pelajaran dari metode-metode pemimpin Arab, maka kaum buruh Malaysia harus belajar dari kaum buruh Tunisia dan Mesir. Tanpa keterlibatan aktif dari kaum buruh sebagai kelas untuk dirinya sendiri, Ben Ali dan Hosni Mubarak tidak akan dapat didorong keluar. Ini harus menjadi -- hanya dapat menjadi -- langkah selanjutnya bagi gerakan Bersih bila ia ingin berhasil.