facebooklogocolour

Musim sepak bola sudah selesai di Italia. Tahun ini ditutup dengan piala ke-28 bagi Juventus, yang tampil tanpa mengalami satupun kekalahan, dan tentunya juga dengan kalahnya tim Italia di tangan Spanyol. Yang belakangan ini tampaknya seperti “sudah jatuh ketimpa tangga pula” bagi rakyat pekerja Italia, yang mengharapkan sedikit hiburan dan kebanggaan di tengah krisis ekonomi yang menimpa mereka. Dengan tingkat pengangguran resmi 10% dan ramalan penyusutan ekonomi sebesar 1,9% tahun ini, rakyat Italia sungguh membutuhkan sebuah kemenangan untuk dirayakan, walau hanya sesaat dan tidak akan menyelesaikan masalah-masalah pelik yang mereka hadapi. Namun melihat lebih parahnya situasi yang dihadapi oleh rakyat pekerja Spanyol, dengan tingkat pengangguran lebih dari 20%, mungkin tim Spanyol lebih layak menang.

Namun satu hal yang ditunjukkan oleh kaum muda dan buruh Spanyol baru-baru ini: tak ada satupun hiburan remeh-temeh – bahkan kemenangan bersejarah tim Spanyol awal bulan ini – yang bisa membuat rakyat lupa akan kondisi menggenaskan yang mereka hadapi hari ini. Tidak lama setelah tumpah ruah di jalan-jalan Spanyol merayakan kemenangan tim Matador sebagai juara Euro 2012, ribuan rakyat pekerja Spanyol turun ke jalan memprotes program penghematan yang dipaksakan oleh pemerintahan Spanyol. Salah satu reforma penghematan ini akan menghapus bonus Natal atau THR Natal para pekerja sektor publik, yang mendorong bahkan sejumlah polisi untuk berbaris bersama para demonstran. Protes ini masih terus berlanjut sampai sekarang.

Di tengah-tengah keresahan rakyat pekerja Italia, di tengah-tengah kebangkrutan politik dari kaum borjuis dan kaum reformis – Kiri maupun Kanan, yang sudah mencampakkan perspektif sosialisme – ada secercah harapan yang sedang diperjuangkan oleh kaum muda dan buruh yang tergabung dalam Falce Martello (Palu Arit). Ideologi mereka sudah tidak perlu lagi kita sebut. Perspektif mereka jelas: hanya sosialismelah jalan keluar bagi krisis ekonomi Italia, Eropa, dan dunia. 

Kamerad-kamerad Falce Martello adalah sebuah faksi di dalam Partai Komunis Italia (Rifondazione Communista), dan faksi yang paling terorganisir di dalamnya. Walau jumlah anggota mereka tidak banyak, yakni 300-an anggota, mereka memiliki pengaruh yang besar di dalam Rifondazione karena gagasan mereka yang revolusioner. Selain gagasan, mereka juga memiliki aparatus organisasi yang kuat. Sekretariat mereka di Milan seluas 400 meter persegi, yang sudah mereka beli dan di dalamnya ada mesin cetak, mesin potong, dll. untuk mencetak koran mereka. Koran bulanan mereka oplahnya lebih dari 1200 eksemplar per bulan. Di gudang mereka, ribuan buku dan brosur pendidikan -- hasil cetakan mereka sendiri -- tersimpan dan siap disebarkan untuk mendidik kaum muda dan buruh. Semua aparatus organisasi ini hanya bisa dicapai dengan pendekatan revolusioner terhadap finans. Anggotalah yang harus menghidupi organisasi, bukan sponsor-sponsor luar (NGO, dll.) yang tidak jelas politiknya. Finans harus dijelaskan secara politik, sehingga anggota pun tidak akan ragu lagi membuat pengorbanan finans terbesar untuk organisasi dan perjuangan.

Namun perjuangan kawan-kawan Falce Martello tidaklah selalu mulus. Semua pencapaian hari ini, yang masihlah kecil dibandingkan dengan tugas historis yang harus diembannya, diraih dengan melalui berbagai rintangan, demoralisasi, dan bahkan perpecahan. Falce Martello lahir pada tahun 1980-an, dan ia diawali oleh kaum muda yang terbebas dari demoralisasi yang menghantui generasi tahun 1960-an. Kamerad Pepe, salah seorang pemimpin Falce Martello, menceritakan bagaimana ia bergabung dengan Falce Martello pada tahun 1986 saat dia menginjak usia 15. “Kita membutuhkan generasi muda yang baru, yang bebas dari demoralisasi dan kekeliruan-kekeliruan periode sebelumnya,” ujar Pepe. Pada tahun 1960-an sebuah gelombang revolusi menyebar di benua Eropa dan seluruh dunia, dengan gerakan May 1968 di Prancis sebagai puncaknya. Namun gerakan 1960-an ini menemui kebuntuan. Walhasil para aktivis 1960an mengalami degenerasi secara moral dan politik. Diperlukan generasi baru yang bebas dari kegagalan ini untuk bisa membangun gerakan komunis lagi. Namun generasi muda 1980-an inipun ternyata menghadapi reaksi yang bahkan lebih besar lagi, yakni runtuhnya Uni Soviet. Partai Komunis Italia (PCI), dengan jumlah anggota lebih dari 1 juta, yang merupakan partai komunis terbesar di Eropa saat itu, hancur seketika dengan runtuhnya Uni Soviet. Kaum Stalinis Italia menglikuidasi diri mereka pada tahun 1991 dan akhirnya mengubah diri mereka menjadi Partai Demokrat, sebuah partai borjuis hari ini di Italia. Sementara sekelompok kecil kaum komunis sejati dari PCI membentuk Rifondazione.

Sungguh suatu lelucon yang ironis ketika justru kaum Trotskis Falce Martello adalah faksi yang paling serius dalam mempertahankan Partai Komunis Italia, sementara kaum Stalinis beramai-ramai ingin menglikuidasinya. Tuduhan likuidator terhadap kaum Trotskis menjadi tampak menggelitik di hadapan fakta ini.

Bertahun-tahun kamerad-kamerad Falce Martello berjuang keras untuk memenangkan basis di dalam Rifondazione, terutama karena stigmatisasi Trotskis yang kental di antara para anggota partai komunis. Tidak mengambil jalan pintas, menjelaskan dengan sabar, dan berpegang teguh pada Marxisme, inilah resep keberhasilan Falce Martello. Hari ini Falce Martello adalah faksi yang disegani di dalam Rifondazione, dengan basis kaum muda dan buruh yang kuat. Di Milan bagian Selatan di daerah tempat tinggal kaum buruh, misalnya, kamerad Falce Martello mengontrol ranting Partai Komunis Italia yang paling tua, yakni ranting Dimitrov yang sudah ada sejak tahun 1945 (Georgi Dimitrov adalah pengikut setia Stalin dan ketua Komintern 1934-1943).

“Saya ingat masa kecil saya sebagai keluarga kelas buruh sangatlah makmur,” cerita Pepe, yang sekarang berumur kepala empat. “Tetapi hari ini, hidup kelas buruh sangatlah sulit.” Biaya sewa tempat tinggal dan harga rumah sangat tinggi, sehingga tanpa bantuan dari orang tua hampir mustahil bagi seorang pekerja untuk bisa membeli rumah. Generasi muda hari ini masih tertolong sedikit oleh simpanan orang tua mereka yang hidup di zaman keemasan kapitalisme Eropa paska Perang Dunia II. Pepe, istrinya, dan dua anak kembarnya yang berumur 2 tahun, dapat menyicil sebuah rumah hanya dengan bantuan dari orang tua mereka. Mencari pekerjaan begitu sulit sehingga memaksa istri Pepe harus pindah ke kota lain -- terpisah dari suaminya -- untuk mendapatkan pekerjaan, yang bahkan bersifat sementara. “Apapun, yang penting ada pekerjaan untuk mendapatkan uang,” ujar Kamerad Pepe.

Sementara Kamerad Allesio, seorang mahasiswa tingkat akhir, menceritakan bagaimana biaya pendidikan semakin tinggi dengan diimplementasikannya program penghematan. Universitas-universitas harus mencari uang dengan memaksa para mahasiswa membayar biaya-biaya tambahan. “Misal, baru-baru ini ada universitas yang mengimplementasikan biaya tambahan komputer. Kalau sang mahasiswa tidak bisa membayarnya, maka dia tidak boleh menggunakan kelas-kelas yang ada komputernya,” cerita Allesio.

Inilah kenyataan yang sedang dihadapi oleh kaum muda dan buruh Italia, dan juga seluruh Eropa. Setelah semua jalan keluar sementara dan yang bersifat individualistik -- bekerja lebih lama, mengencangkan tali pinggang, dll. -- telah habis dan tidak lagi bisa digunakan, mereka akan mencari jalan keluar revolusioner. Kamerad Pepe, Allesio, dan ratusan lainnya adalah sedikit dari rakyat pekerja Italia yang telah mencapai kesadaran revolusioner dan bergabung dengan Falce Martello untuk memperjuangkan alternatif dari kapitalisme. Puluhan ribu lainnya, bahkan ratusan ribu, sedang resah, dan dengan sabar kamerad-kamerad Falce Martello menjelaskan jalan keluar revolusioner dari krisis ini dan terus berjuang untuk memenangkan mereka ke Marxisme.

Di sore hari, kamerad-kamerad Falce Martello di Milan mengadakan acara kumpul-kumpul di sebuah taman kecil, dengan sajian makanan sederhana: Bruschetta, roti bakar dengan sepotong tomat. Ditambah dengan daging, setiap kamerad harus membayar 3 euro. Bir yang dingin, yang menyejukkan dahaga di puncak musim panas Milan, 2 euro. Sambil berkumpul, mereka juga mengumpulkan sedikit uang demi organisasi. Sekitar empat puluh orang hadir, tidak semuanya dari Falce Martello. Terasa atmosfer kekerabatan yang erat, dan juga kepercayaan diri dan optimisme. Walau tidak mengerti apa yang mereka ucapkan, tampak bagi saya mereka punya selera humor yang tinggi. Canda tawa membahana sampai tengah malam. Namun sekali waktu politik pun mencuat, dan atmosfer berubah menjadi sedikit lebih serius. Seorang anggota muda Rifondazione yang bersimpati pada Stalin datang ke acara Falce Martello ini. Diskusi mengenai Suriah pun terjadi karena posisi Falce Martello yang berseberangan dengan kaum Stalinis pada umumnya. Namun tidak ada hujat menghujat, yang ada hanya diskusi yang bersahabat namun berprinsip dan tegas. Bisa kita bayangkan dulu kalau seorang Trotskis ada di antara kaum Stalinis dan berdebat. Hujatan, sumpah-serapah, dan bahkan tinju pun -- atau kapak es -- akan menghantam si Trotskis yang malang itu, si “agen fasis”, “agen imperialis”, “likuidator”, “pengkhianat”, dan lain sebagainya. Kendati berseberangan dalam sejumlah hal fundamental, kamerad Stalinis muda ini bersahabat dengan kamerad-kamerad Falce Martello karena ia melihat mereka sebagai kekuatan yang revolusioner dan serius, yang punya gagasan dan metode yang mantap. Di samping, Kamerad Pepe berkata, “Ia seorang komunis muda yang baik dan jujur, tapi punya ilusi terhadap Stalin, dan ini bisa dimengerti. Kita akan memenangkan dia dengan sabar.” Inilah metode Bolshevik, menjelaskan dengan sabar. Kita menangkan hati dan pikiran kaum muda dan buruh satu per satu, dan kita yakin akan ini karena kita punya ide, program, metode, dan tradisi Bolshevik.

Dalam beberapa hari ke depan, kami semua akan menghadiri Kongres Dunia. Falce Martello, sebagai tuan rumah, disibukkan dengan persiapan kongres ini. Di sekretariat, dokumen-dokumen kongres dicetak dan menumpuk untuk 300-an orang dari seluruh penjuru dunia yang akan menghadiri pertemuan ini. Karena pada akhirnya tujuan akhir dari kamerad-kamerad Falce Martello tidak hanya membawa sosialisme ke bumi Italia, tetapi membawanya ke seluruh dunia. Kami tidak puas dengan sosialisme di satu negeri karena kami adalah internasionalis sejati.

Milan,

16 Juli 2012