facebooklogocolour

Sebuah Revolusi “Islam”? Revolusi dan Kontra-Revolusi, 1979 sampai 1983

Banyak “analis”, “sejarawan”, dan “pakar” merujuk pada Revolusi Iran 1979 sebagai Revolusi Islam. Tapi kenyataannya, Khomeini dan kepemimpinan klerus merepresentasikan sebuah kontra-revolusi yang berdarah-darah. Dalam analisa terakhir mereka merepresentasikan kepentingan-kepentingan klas-klas lama yang berprivilese dan kapitalisme dunia. Ini digambarkan dalam satu fakta tunggal, bahwa kendati segala seruan menggelegar tentang “kematian bagi Amerika” mereka tidak pernah melakukan apapun untuk merugikan atau bahkan melemahkan posisi imperialisme Amerika. Sebaliknya, belakangan tersingkap bahwa mereka telah meminjam uang dan membeli senjata dari banyak negeri Barat, termasuk Amerika.

Khomeini, yang adalah seorang mullah yang tak dikenal yang diasingkan di Najaf, Irak, hanya tampil ke depan manakala kaum imperialis Inggris, Prancis, dan Amerika membawanya ke Paris, menaruhnya di bawah lampu sorot dengan tampil secara reguler di media seperti BBC dan akhirnya pada Konferensi Guadeloupe mereka memutuskan untuk mendukung upayanya meraih kekuasaan. Ini sejalan dengan dukungan yang diberikan AS kepada kaum Islamis reaksioner, yang sampai saat itu masih merupakan kekuatan-kekuatan yang sangat marjinal, di negeri-negeri kawasan seperti Pakistan dan Afghanistan, dengan tujuan membangun sebuah “Sabuk Hijau” (Green Belt) Islamisme di sekitar Uni Soviet. Mereka telah memahami bahwa Revolusi Iran mungkin bercorak Kiri dan berpotensi sosialis. Mereka mendukung Kontra-revolusi Khomeini karena potensinya yang anti-Kiri, anti-sosialis.

Para pemimpin sejati dari Revolusi Iran adalah para pemimpin kaum buruh yang memimpin pemogokan umum. Tanpa klas buruh yang bergerak melancarkan pemogokan, barangkali Shah tak akan terguling dan sejarah gerakan revolusioner ini bakal sekian kali lebih berdarah, barangkali berakhir dengan suatu kekalahan yang massif atau paling banter sebuah perang sipil yang berdarah-darah. Basis utama pemogokan ada pada industri minyak, sebuah industri dengan tradisi-tradisi komunis yang kuat.

Para pemimpin ini, lepas dari apakah mereka secara resmi anggota atau bukan, mengikuti politik, kepemimpinan, dan tradisi-tradisi Partai Tudeh atau partai-partai yang dalam analisa terakhir mengikuti kepemimpinan dari Partai Tudeh. (Adalah suatu fakta bahwa 35% dari para pemimpin kaum pekerja dalam pemogokan menyebut diri mereka Marxis). Organisasi Gerilya Rakyat yang Berkorban (Organization of People Fadayi [Sacrificing] Guerrillas), sebuah kelompok borjuis-kecil dengan kecenderungan-kecenderungan Narodnik, mula-mula dibentuk, di antara kelompok-kelompok lain, dalam perlawanan terhadap apa yang digambarkannya sebagai “Pengkhianatan” Tudeh dan sikap-tunduknya kepada birokrasi Soviet dalam setiap hal. Pada waktu kejatuhan Shah, kaum Fadayi adalah kelompok kecil kaum militan Kiri. Tapi dalam periode yang relatif bebas menyusul kejatuhan Shah, mereka dengan cepat tumbuh setidak-tidaknya sampai setengah juta pendukung yang dapat diandalkan. Kita juga melihat sebuah pertumbuhan yang eksplosif dari semua organisasi Kiri yang dengan cepat memperluas basis mereka. Ini membuktikan bahwa kontradiksi-kontradiksi klas sedang tampil ke depan dan terdapat minat-minat yang sangat besar terhadap idea-idea Sosialis. Namun, herannya, pada saat yang menentukan, mayoritas besar dari organisasi ini terpecah untuk membentuk Mayoritas Fadayian yang memberikan dukungan penuh kepada partai yang didikte Moskow, Tudeh, dengan menyebutnya Partai Baru Klas Buruh Iran. (Kita akan secara singkat berurusan dengan nasib faksi-faksi Fadayi lainnya yang tidak mendukung Tudeh atau rezim).

Tudeh dan Teori Tahapan Menshevik

Di sepanjang sejarah abad yang silam, banyak revolusi, yang dipimpin oleh apa-yang-disebut Partai-partai Komunis, gagal dan berakhir dengan kekalahan yang pahit. Ini juga terjadi di Iran. Ini membuat banyak orang berpikir bahwa kapitalisme terlalu kuat, bahwa Islam mempunyai pengaruh magis terhadap rakyat Iran, bahwa klas buruh terlalu lemah, atau bahwa konsep-konsep tentang sosialisme, revolusi, dan kekuasaan kaum buruh adalah gagasan-gagasan utopis, sehingga niscaya akan menggiring ke dalam kekalahan. Ini tidak bisa lebih jauh dari kebenaran.

Dalam semua revolusi pada abad yang silam, dan khususnya dalam Revolusi Iran 1979, ada banyak kesempatan bagi partai-partai pekerja untuk mengambilalih kekuasaan dan mendirikan sebuan negara buruh yang demokratis. Kunci dari masalah ini harus ditemukan dalam teori tahapan Menshevik yang diadopsi oleh partai-partai Stalinis di seluruh dunia, dan yang pada akhirnya menjerumuskan revolusi demi revolusi ke dalam kekalahan yang berdarah-darah.

Logika dari teori “Dua Tahap” ini adalah sebagai berikut: Karena kita hidup di sebuah negeri yang terbelakang secara ekonomi atau di bawah suatu kediktaturan, tugas pertama revolusi adalah tugas yang berwatak burjuis – yakni untuk mengimplementasikan demokrasi-borjuis. Ini harus berarti bahwa borjuasi atau borjuasi-progresif yang harus memimpin revolusi dan karena itu, pertama-tama kita harus mendukung kekuatan-kekuatan ini.

Masalah dengan teori ini, yang telah digunakan dalam banyak bentuk yang berbeda di sepanjang seratus tahun terakhir, adalah bahwa teori ini sama sekali menafikan fakta bahwa kapitalisme dalam skala dunia telah kehilangan semua ciri progresifnya dan tidak pernah dapat memainkan sebuah peran yang progresif. Dalam kasus borjuasi di negeri-negeri kapitalis yang terbelakang, kenyataannya lebih parah. Tanpa pecah sepenuhnya dengan kapitalisme, tidak ada progres yang riil yang dapat dicapai. Kepentingan-kepentingan material borjuasi, entah bagian-bagian manapun dari klas tersebut, sama sekali berlawanan dengan kepentingan-kepentingan massa-rakyat dan revolusi.

Lenin menjelaskan pada tahun 1905:

"Kaum borjuasi tidak bisa tidak akan beralih-menyeberang kepada kontra-revolusi, dan melawan rakyat segera setelah kepentingan-kepentingannya yang sempit dan serakah terpenuhi, segera setelah ia ‘mundur’ dari demokrasi yang konsisten (dan nyatanya ia sedang bergerak-mundur daripadanya!)." (Lenin, Collected Works, vol. 9, hal. 98)

Trotsky menjelaskan lebih jauh dengan Teori Revolusi Permanen:

"Berkaitan dengan negeri-negeri yang perkembangan borjuisnya terlambat, terutama sekali di negeri-negeri kolonial dan semi kolonial, teori Revolusi Permanen menunjukkan bahwa solusi utuh dan sejati dari tugas-tugas mereka untuk mencapai demokrasi dan emansipasi nasional hanya dapat dicapai melalui kediktatoran proletariat sebagai pemimpin bangsa yang tertindas, terutama sebagai pemimpin semua massa kaum tani bangsa tersebut.

“Kediktaktoran proletariat yang telah naik ke tampuk kekuasaan sebagai pemimpin revolusi demokratik secara tak terelakkan dan dengan segera dihadapkan pada tugas-tugas, yang pemenuhannya terikat sangat dalam dengan hak kepemilikan pribadi borjuis. Revolusi demokratik berkembang secara langsung menjadi revolusi sosialis dan oleh karena itu menjadi sebuah revolusi permanen." (Leon Trotsky, Revolusi Permanen, 10. Apakah Revolusi Permanen? Postulat-postulat Dasar, 1928)

Partai Tudeh pada tahun 1979 mengikuti teori Dua-Tahap. Karakterisasi mereka tentang tahapan revolusi diformulasikan dalam program Partai dan diadopsi pada sidang pleno XVI:

"Revolusi ini, dalam tahapan-historis dari perkembangan masyarakat kita sekarang ini tidak bisa lain kecuali sebuah revolusi popular dan demokratik dalam karakternya. Isi revolusi ini adalah untuk mengeliminir dominasi monopoli-monopoli imperialisme dari sumber-sumber daya ekonomi dan alam negeri kita, untuk memastikan kemerdekaan ekonomi dan politik yang total, untuk menyingkirkan semua sisa sistem sosial pra-kapitalis dan mengadopsi orientasi sosialis tentang pembangunan, untuk mendemokratiskan kehidupan politik dan kebudayaan di negeri ini. Pada tahap ini, kondisi niscaya bagi perkembangan revolusioner di Iran adalah penggulingan rezim monarkis lama,  untuk menghentikan mesin pemerintahan yang reaksioner, untuk mengakhiri kekuasaan para kapitalis-dan-pemilik-tanah-besar dan memindahkan kekuasaan dari klas-klas ini kepada klas-klas dan strata nasional dan demokratis, kepada para pekerja, kaum tani, borjuasi-kecil, kaum intelektual-patriotik dan juga strata borjuasi nasional, dengan kata lain berdirinya republik nasional dan demokratis … Jalan satu-satunya untuk mencapai revolusi popular dan demokratis adalah dengan partisipasi massa-rakyat dalam perjuangan dan bukan dengan aksi-aksi heroik entah orang-perorangan atau kelompok dan partai politik tunggal." (Documents and viewpoints, hlm. 690)

Tidak pada satu titik pun partai mempedulikan kebutuhan untuk pecah dari kapitalisme dan tidak pada satu titik pun mereka mempersiapkan klas pekerja untuk menghadapi pengkhianatan Khomeini. Sebaliknya mereka memasok Khomeini dengan dukungan yang luar biasa dan bahkan memberikannya sebuah basis di dalam gerakan pekerja dan secara parsial massa-rakyat yang lebih luas. Bahkan pada Agustus 1979 di mana sudah jelas bagi banyak orang bahwa Khomeini sedang bergerak melawan kaum buruh dan organisasi-organisasi Komunis, Tudeh masih berpaut pada idea tentang aliansi dengan para mullah:

"Dengan penyesalan yang paling dalam, kita sedang menyaksikan bahwa suatu peralihan ke kanan dalam situasi politik di negeri kita telah muncul beberapa pekan terakhir. Perubahan ini telah melayangkan pukulan yang menyakitkan dan menakutkan pada basis persatuan kekuatan-kekuatan nasional dan demokratis … Meski demikian, kita sedang menghadapi suatu realitas sekarang ini pada satu pihak suatu serangan besar telah dimulai untuk menindas kebebasan dan pada tempat pertama kebebasan kekuatan-kekuatan revolusioner Kiri sejati yang berjuang di bawah panji Islam ..." (Documents and statements of TPI)"

Kesalahan dari apa-yang-disebut karakter “demokratis dan nasional” Khomeini dengan jelas diperlihatkan ketika, setelah menggunakan dukungan Tudeh untuk membingungkan kaum buruh, kemudian ia beralih melawan mereka dan membantai ribuan militan Komunis serta melarang partai tersebut.

Pada akhirnya kebijakan-kebijakan Tudeh yang memberikan dukungan kepada para mullah, yang mereka identifikasi sebagai bagian dari kekuatan-kekuatan “nasional demokratis”, secara efektif melucuti dan membingungkan kaum buruh. Apa yang seharusnya mereka lakukan adalah memiliki sebuah garis klas yang independen yang membuatnya jelas bahwa kepentingan-kepentingan kaum buruh, tani, dan massa-rakyat miskin sama sekali bertentangan dengan kepentingan-kepentingan borjuasi. Tanpa melakukan hal ini, mereka membuka sebuah jalan raya bagi demoralisasi dan disintegrasi kekuatan-kekuatan Kiri, dan dengan demikian meninggalkan klas pekerja dan kekuatan-kekuatan revolusioner lainnya tanpa dipersenjatai melawan serangan-serangan fasis dari kaum klerus dan gerombolan-gerombolan mereka.

Tentu para anggota Komunis dalam pengertian yang luas hanya mengadopsi kebijakan ini di atas dasar ketiadaan alternatif yang jelas dan memadai, tapi bagi para pemimpin Tudeh yang mengikuti garis Moskow dengan teori Dua Tahap ini hanya merupakan suatu sarana menggelincirkan revolusi sebagaimana telah mereka lakukan pada masa lalu.

Kepemimpinan Tudeh (dan partai-partai massa lainnya, seperti Mayoritas Fadayian yang mengekornya) karena loyalitasnya kepada rezim Stalinis Uni Soviet tidak mempunyai minat dalam penggulingan Shah, yang dengannya birokrasi Soviet berhubungan baik. Lagipula, bila negara buruh yang demokratis berdiri di tapal batas Uni Soviet, ia bisa jadi bakal mengilhami para pekerja Soviet untuk bangkit melawan birokrasi.

Jadi meski para pemimpin di lapangan adalah kaum Tudeh dan Komunis, organ-organ dan institusi-institusi yang memegang peran kepemimpinan tidak memberikan kepimpinan terhadap gerakan pada level nasional. Sebaliknya, mereka mempertahankan suatu posisi yang enggan dan bahkan damai terhadap klerus, yang mereka anggap sebagai borjuasi “progresif”.

Terlepas dari hal itu, para buruh berinisiatif bergerak lebih jauh, dengan memperluas komite-komite pemogokan mereka menjadi komite-komite yang secara praktis mengontrol pengoperasian pabrik-pabrik sehari-hari dan dalam beberapa kasus menghubungkan mereka pada level kota. Meski perkembangan ini hampir semuanya mengalami percepatan setelah Shah hengkang, pembentukan mereka telah dimulai semasa pemogokan umum.

Komite-komite ini merepresentasikan embrio kekuasaan buruh. Perkembangan lebih jauh yang mereka buat seharusnya bisa membawa mereka untuk menjadi organ-organ utama dari negara buruh demokratis. Tapi lagi, para pemimpin Tudeh gagal pada saat yang menentukan.  Alih-alih mempromosikan sebuah kampanye yang massif dari komite-komite dan dewan-dewan pekerja (Shoras) di semua pabrik dan lingkungan sekitarnya, yang terhubung pada level kota dan nasional,  kampanye-kampanye utama mereka justru untuk mengembalikan komite-komite ini menjadi serikat-serikat buruh.  Dalam situasi yang berlangsung saat itu, jelas ini merupakan sebuah tuntutan yang nyata-nyata reaksioner! Adalah benar bahwa kaum Marxis selalu mendukung tuntutan-tuntutan demokratis seperti hak untuk membentuk serikat buruh, hak untuk melancarkan pemogokan, dsb. Tapi, dalam situasi ketika para pekerja seharusnya dapat memimpin gerakan untuk menggulingkan rezim dan mengambilalih kekuasaan, menghapuskan hubungan-hubungan kapitalis, sekedar mengedepankan tuntutan-tuntutan itu semata adalah bermi-mil di belakang situasi obyektif dan mood gerakan, dan itu hanya berfungsi untuk menaburkan kebingungan di kalangan klas pekerja, yang mengekang mereka dari pelaksanaan tugas-tugas mereka yang sangat mendesak.

Kebijakan dari para pemimpin Tudeh ini secara efektif melucuti para buruh, yang tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan senjata-senjata alami mereka untuk perjuangan politik dan kekuasaan. Jadi ketika Shah akhirnya melarikan diri, tidak ada aparatus yang kuat di dalam klas buruh yang dapat mengambilalih kekuasaan.

Pada setiap titik-balik utama dalam revolusi para pemimpin Tudeh bermil-mil jauh di belakang anggota-anggota mereka. Faktanya Tudeh tidak menyatakan situasinya revolusioner, sebelum pertengahan Januari. Alih-alih menjadi kepala gerakan, kepemimpinan Tudeh malah bertindak sebagai ekornya. Tapi pada Januari revolusi bukan sekadar dimulai; revolusi sedang mencapai atau malah melewati klimaksnya. Untuk menyatakan kemudian pada saat itu bahwa situasi Iran adalah revolusioner adalah terlalu terlambat. Tentu saja ada pidato-pidato, deklarasi-deklarasi, resolusi-resolusi, tetapi cukup menarik para pemimpin Tudeh tidak pernah mengambil langkah praktis apapun untuk membela suatu posisi revolusioner yang independen untuk kelas buruh yang bersatu.

Alih-alih, para pemimpin Tudeh mengambil posisi oportunis dengan mendukung borjuasi (kecil) “progresif” dalam bentuk para mullah. Sebagaimana halnya selalu dengan kaum sektarian atau oportunis, mereka menghadapi gerakan borjuis-kecil entah dengan memeluk seluruh gerakan dan menundukkan klas pekerja kepadanya, atau menolaknya sama sekali. Tentu saja bagaimanapun klas buruh kalah karena terisolasi sementara inisiatif dan kepemimpinan atas massa-rakyat yang luas ditinggalkan di tangan para “pemimpin” mereka.  Kebenarannya adalah bahwa klas-klas menengah di Iran, yang juga dipengaruhi oleh klerus Shia, merupakan sebuah massa-rakyat  yang luas dengan kepentingan-kepentingan yang bertentangan. Kebijakan revolusioner sejati tentulah akan membangun sebuah gerakan buruh yang independen dan bersatu, sementara pada saat yang sama mendekati massa-rakyat di dalam lapisan-lapisan klas-klas menengah bawah, mendorong baji di antara mereka dan kelas menengah atas yang tidak signifikan yang dalam ribuan cara saling-terkait dengan kaum elit penguasa dan di semua kasus merepresentasikan kepentingan-kepentingan yang sama.

Di Iran, kaum borjuasi sejak lama telah kehilangan atribut-atribut yang progresif. Kaum borjuasi, tak peduli betapapun besarnya penentangan mereka terhadap klik-klik penguasa, tidak dapat memainkan peran progresif apapun. Alasannya bukan ketiadaan niat, tapi karena sistem yang mereka representasikan sejak lama telah berhenti memainkan peran progresif apapun. Pada setiap langkah, pembusukan  yang semakin mendalam dari kapitalisme akan memaksanya untuk menentang kemajuan.

Proses ini dengan segera mengkristal di Iran sesudah kejatuhan Shah. Dalam bulan-bulan dan tahun-tahun yang menyusul kaburnya Shah dari negeri itu, rezim yang baru bermanuver untuk menghancurkan semua kekuatan yang telah mengantarnya ke tampuk kekuasaan, pertama dengan menyerang gerakan otonomi Turkman pada Maret 1979 (yang dipimpin oleh kaum Fadayian yang secara nominal mengaku Marxis), kemudian menyerang gerakan otonomi Arab pada bulan Juli dan Kurdish pada bulan Agustus. Dalam semua serangan ini rezim ini juga bersandar pada para tuan-tanah lama untuk menghancurkan gerakan-gerakan yang juga mempunyai tali-temali dengan kaum tani yang sekarang menuntut reforma-agraria.

Harus dicatat bahwa atmosfir setelah kejatuhan Shah sangatlah kiri dan kontradiksi-kontradiksi klas mencuat ke permukaan. Kita telah merujuk pada pertumbuhan yang massif dan eksplosif dari organisasi-organisasi Kiri, yang di antara mereka memiliki ratusan ribu pendukung (tanpa menghitung Mojahedin, sebuah kelompok Kiri Islam, dengan kekuatan dan pengaruh setara di seluruh negeri). Tapi kita tidak boleh lupa bahwa Khomeini dan rezimnya meraih popularitas hanya dengan menggunakan cara berbicara Kiri dan demagogi “anti-imperialis”. Alih-alih berbicara tentang prinsip-prinsip Islam dan sejenisnya, yang akan Anda harapkan dari mereka, mereka justru menjanjikan amnesti dan keadilan sosial. Mereka meminjam semua terminologi sosialis dari kaum Kiri. Mereka mengadopsi slogan-slogan seperti “Islam milik kaum tertindas, bukan para penindas”, “Islam merepresentasikan para penghuni pemukiman kumuh, bukan para penghuni istana”, “kaum tertindas di seluruh dunia, bersatulah”, “Kami mendukung Islam, bukan Kapitalisme dan Feodalisme”, “Islam akan menghapuskan perbedaan-perbedaan klas”, dan sejenisnya. Puncak demagogi “anti-imperialis” ini terjadi pada 4 November 1979 tatkala sekelompok mahasiswa pendukung Khomeini menduduki Kedutaan Besar AS di Teheran. Khomeini menyebutnya “Revolusi Kedua” dan menggunakan itu untuk menghancurkan lebih banyak lawan politik di dalam rezim ini dan mengkonsolidasi klik penguasa untuk menghancurkan oposisi yang sudah kelihatan di berbagai gerakan yang berbeda.

Pada 1980 dukungan untuk Khomeini di universitas-universitas juga telah lenyap. Mereka yang menduduki Kedutaan Besar Amerika Serikat, dengan dukungan dan barangkali kepemimpinan Khomeini, memperkenalkan diri mereka sebagai Mahasiswa-mahasiswa “yang mendukung garis Imam Khomeini”. Tetapi realitasnya adalah bahwa mayoritas mahasiswa di Iran justru mendukung kelompok-kelompok Kiri dan Komunis atau Mojahedin yang Islam-Kiri. Universitas-universitas semakin menyerupai pusat oposisi terhadap rezim ketika ilusi-ilusi tentang Khomeini pupus di kalangan kaum revolusioner. Untuk alasan ini rezim memilih untuk menutup semua universitas untuk dua tahun sejak April 1980. Setelah dibuka kembali, tidak ada orang Komunis atau orang yang dicurigai bersimpati kepada Komunisme yang diizinkan untuk studi atau bekerja di universitas-universitas tersebut.

Gerakan buruh tidak dilupakan oleh rezim ini. Kejatuhan Shah tidak menghapuskan persoalan-persoalan yang dihadapi kaum buruh. Maka sejak sangat awal ketegangan-ketegangan mulai berkembang. Setelah sebuah periode singkat tanpa aktivitas mogok, banyak buruh bergerak lagi menuju suatu tingkatan militansi yang lebih tinggi. Justru setelah Revolusi dewan-dewan pekerja (Shoras) benar-benar mulai berkembang. Sebagian karena kekosongan kekuasaan, tapi juga karena adanya derajat pembedaan klas yang berakselerasi atau mengalami percepatan. Fase “nasional-demokratik” dari Revolusi tidak menghantar kapitalisme untuk berkembang sepenuhnya, tapi justru mencuatkan krisis kapitalisme yang berkembang sepenuhnya dan memperbesar kontradiksi-kontradiksinya. Para buruh dapat melihat bahwa persoalan-persoalan mereka membutuhkan solusi-solusi politik yang independen dan untuk itu mereka memerlukan alat-alat politik yang independen. Dewan-dewan pekerja adalah embrio dari alat-alat ini.

Tapi, ketika dewan-dewan dengan cepat berkembang dalam pengaruh dan kekuasaan, mereka juga menjadi faktor yang terlalu besar untuk diabaikan oleh rezim ini. Pada May Day 1979 ada demonstrasi-demonstrasi buruh yang dengan jelas berdiri sebagai oposisi terhadap rezim. Dan pada bulan Juli para pemimpin buruh pertama dari industri minyak dipenjarakan. Pada bulan Juni, mengorganisir aksi industrial bisa dihukum dengan 2-10 tahun penjara. Pada Maret 1980 diberlakukan larangan keras terhadap semua aktivitas pemogokan. Tapi pemogokan terus berlanjut.

Serangan yang besar akhirnya datang setelah dimulainya Perang Iran-Irak pada September 1980, tatkala rezim menempatkan representatif-represenatif militer di semua pabrik, dengan tujuan “rekrutmen”. Dalam kenyataannya ini digunakan untuk menghancurkan dewan-dewan dan para pemimpin mereka secara fisik.

“Kelahiran” yang riil dari rezim ini, yakni ketika rezim sepenuhnya menindas dan mengalahkan Revolusi, terjadi pada 20 Juni 1981. Ini adalah sebuah serangan kontra-revolusioner berdarah yang mengakhiri kebebasan relatif yang ada sejak kejatuhan Shah. Supaya ini terjadi setiap hari dilakukan eksekusi terhadap 300 sampai 500 orang, pelarangan atas semua koran dan pertemuan massa oposisi, dan sebuah serangan yang sangat sarat dengan kekerasan terhadap setiap gelagat perlawanan. Ini secara efektif merupakan awal dari perang sipil dengan Mojahedin, sebuah organisasi Islam kuasi-Kiri, yang berturut-turut membunuh banyak pimpinan rezim ini. Semua kelompok Kiri yang telah menentang Khomeini (termasuk Minoritas Fadayian dan pecahan-pecahan Fadayian dan Peykar yang Pro-Hoxa, yang pecah dari Mojahedin, serta sejumlah kelompok sosialis yang lebih kecil lainnya) menyingkir ke Kurdistan, yang sebagian daerahnya bebas dari kontrol rezim dan Kawasan-kawasan Terbebaskan (Liberated Areas)-nya dikuasai oleh partai-partai lokal yang anti-rezim, dan bergabung dalam perjuangan bersenjata melawan rezim selama beberapa tahun sebelum dihancurkan dan disapuh-bersih oleh Kurdistan Iran semasa tahun-tahun Perang Iran-Irak.

Dalam semua kasus yang disebutkan di atas, pemimpin-pemimpin utama Tudeh dan Mayoritas Fadayian (pecahan mayoritas dari partai massa, Fadayian, yang sebenarnya lebih besar daripada Tudeh, namun mengikuti garis yang didiktekan Moskow kepada Tudeh tentang tiap-tiap perkara) mempunyai suatu pendekatan yang sama sekali bersahabat terhadap rezim ini. Alih-alih menggunakan serangan-serangan rezim ini untuk memenangkan basis-basis dukungan yang baru, mereka mengalienasi diri mereka sendiri daripadanya dan memecah unsur-unsur sosial terbaik dari Revolusi.

Sejumlah besar kelompok Kiri lainnya yang dengan berani menentang Khomeini dan bertarung melawannya memikul persoalan-persoalan lain yang tidak memungkinkan mereka untuk memimpin sebuah gerakan massa para pekerja melawan rezim Islam. Kita telah menyebutkan bahwa mayoritas Gerilya Fadayian pecah dan memberikan dukungan kepada Partai Tudeh. Tetapi, Fadayian Minoritas dan pecahan-pecahan lainnya menganut banyak ide gerilya dan Stalinis (yang secara luas berpegang pada teori Dua Tahap) yang mencegah mereka dari kepemimpinan yang efektif atas para pekerja dan massa-rakyat. Harus dicatat bahwa ide-ide yang dominan dari kelompok-kelompok ini sangatlah terbelakang dan pra-Marxis. Menggunakan analogi Revolusi Rusia, ide-ide Fadayian yang dominan bahkan bukan Menshevik, melainkan Narodnik! (“terorisme” individual, gerilyaisme, dsb.)

Kelemahan lainnya adalah para pengikut apa-yang-disebut Sekretariat Bersatu dari Internasionale IV (United Secretariat of the Fourth International) di bawah kepemimpinan politik Ernest Mandel. Ada dua kelompok Trotskyis yang dibentuk di Eropa dan Amerika Serikat yang mula-mula bersatu untuk membentuk Hezbe Kargaran Sosialist (Partai Pekerja Sosialis) dan memiliki pemahaman yang lebih-kurang tepat yang membuat mereka bertumbuh menjadi beberapa ratus anggota dan kantor-kantor terbuka di beberapa kota. Tapi garis pembelaan terhadap Khomeini sebagai seorang “anti-imperialis” dan ide tentang persatuan dengan “borjuasi progresif” datang untuk mendominasi partai ini juga, yang direpresentasikan oleh orang-orang seperti Babak Zahrayi, dan ini menyebabkan perpecahan-perpecahan di mana sayap mayoritas secara efektif menjadi penganjur dari sebuah versi Kiri dari posisi Pro-Khomeini yang sama dengan Tudeh.

Dalam proses penghancuran kelompok-kelompok Kiri ini, rezim Khomeini bersandar kokoh pada lapisan-lapisan yang berbeda. Satu lapisan ini terdiri dari seksi-seksi dari kaum bazaari yang dimasukkan ke dalam rezim dan diberikan banyak konsesi yang menguntungkan. Yang lainnya adalah sayap kaum bazaari yang sebenarnya merupakan pendukung-pendukung Front Nasional yang liberal yang memimpin pemerintahan sementara. Akhirnya mereka bersandar pada lapisan-lapisan kaum miskin kota yang berjumlah sangat besar. Para penghuni pemukiman kumuh yang sama sekali dihancurkan dan dibiarkan membusuk di dasar masyarakat sekarang dibuat merasa bahwa mereka dapat menjadi seseorang. Lapisan ini adalah yang paling loyal dan paling berguna bagi rezim ini dalam upayanya untuk menghancurkan klas-klas yang lain

Tapi bahkan bulan madu dengan para bazaari liberal tidak bertahan lama. Setelah menyingkirkan mereka dari pemerintahan, mereka diserang dengan senjata yang sama dengan yang digunakan oleh Shah. Pada tahun 1983 mereka juga dihancurkan dan pemimpin-pemimpin utama mereka dipenjarakan.

Revolusi telah dikalahkan oleh para pemimpin klerus yang bersandar pada klas-klas dan lapisan-lapisan yang berbeda untuk menghancurkan klas-klas dan lapisan-lapisan yang lain dan menjadi satu-satunya yang tegak-berdiri pada akhirnya. Para pemimpin-pemimpin Komunis dalam Partai Tudeh, Fadayian Mayoritas, dan siapapun lainnya yang mengikuti garis mereka, memainkan peran khianat dengan mendukung rezim tersebut dalam setiap serangan sebelum mereka sendiri diserang dan dipenjarakan pada 1983.

[Bersambung...]

Diterjemahkan oleh Pandu Jakasurya dari “The Historical Origins of the Iranian Revolution and The Tasks of The Revolutionary Marxists – Part Two”, Tendensi Marxis Internasional, 2 Juli 2010,