facebooklogocolour

Kaum Klerus

Di Iran ada tradisi Islam Shia. Tradisi ini dapat ditemukan dari lapisan atas hingga lapisn bawah masyarakat. Namun, bagi Shah, Pemimpin Agung, ataupun kaum kapitalis, Islam tidaklah sama seperti bagi kaum petani ataupun pemilik toko kecil. Bagi Pemimpin Agung dan kaum kapitalis Islam adalah sebuah alat penindas untuk mengkhotbahi massa untuk tidak berjuang untuk kehidupan yang lebih baik di dunia ini, sedangkan bagi kaum miskin Islam adalah sebuah pedoman untuk hidup dengan baik disini dan sekarang. Tendensi-tendensi ini dapat ditemukan di dalam tubuh klerus. Sebenarnya, kaum mullah telah memainkan peran yang besar dalam gerakan-gerakan revolusioner dan konter-revolusioner di dalam sejarah Iran.

Akan tetapi, sering kali, seperti di tempat-tempat lain di dalam sejarah, kaum klerus telah memainkan peran menghambat gerakan massa. Selama tahun 1960an, mereka terdorong keluar dari lingkaran kekuasan oleh Shah. Ini mendorong beberapa lapisan kaum klerus ke dalam oposisi menentang rejim Shah. Sebelumnya, lapisan atas klerus adalah pembela kuat dari rejim Shah.

Kaum klerus tidaklah hidup di dalam vakuum yang terpisah dari masyarakat. Seorang mullah terikat oleh sekelilingnya dengan berbagai cara. Kadang-kadang bahkan eksistensi dia tergantung pada sumbangan yang diberikan oleh komunitasnya. Ini berarti bahwa semua mullah tidak selalu bisa memisahkan diri mereka dari komunitas di sekeliling mereka dimana mereka hidup. Klerus Shia di Iran mewakillkan satu bagian dari kelas menengah. Mereka bukanlah sebuah entitas homogen yang bertindak dalam satu kesatuan. Dalam ribuan cara mereka terhubung pada berbagai bagian dari kelas mereka.

Alasan-alasan utama mengapa mereka dapat menarik sebagian besar massa pada tahun 1979 adalah:

1. Ketiadaan kepemimpinan kelas buruh yang sejati dan karena Revolusi Putih [serangkaian reforma yang dicanangkan oleh Shah pada tahun 1963] telah menyingkirkan mereka [mullah] dari kekuasaan. Oleh karenanya massa tidak menghubungkan mereka dengan Shah. Namun, sampai tahun 1960an, kebanyakan organisasi mullah telah membela Shah dengan kukuh.

2. Terutama kaum bazaari – yang memiliki hubungan erat dengan mesjid-mesjid – tetapi juga massa pedesaan dan kaum miskin kota, menemukan tempat-tempat pertemuan yang paling aman dan legal di dalam mesjid, yang tidak dianggap sebagai bahaya politik oleh rejim Shah. Dalam konteks ini, kaum klerus adalah satu-satunya lapisan yang dapat memberikan massa borjuis kecil sebuah organisasi nasional.

3. Pada awalnya kebanyakan mullah berusaha sekuat tenaga untuk menghambat gerakan massa, tetapi gerakan ini tidak berhenti dan kaum klerus terdorong semakin jauh. Terutama pelajar muda Islam dan mullah pedesaan yang miskin terradikalisasi dengan cepat. Pada titik ini, faksi Khomeini yang adalah satu-satunya bagian dari klerus yang menyerukan penumbangan rejim Shah (dan yang mungkin tidak lebih daru dari 200 mullah) mulai menumbuhkan basis yang lebih besar.

Kaum mullah di Iran bukahlan sebuah entitas yang tertutup dan homogen; mereka tidak lain adalah bagian dari kelas borjuis kecil dan kelas penguasa Iran, dan terhubung dengannya dalam beribu-ribu cara dari atas hingga bawah. Oleh karenanya, ada analisa terakhir, mereka merefleksikan kepentingan kelas yang sama.

Lapisan klerus yang di bawah selalu mengikuti lapisan terbawah dari massa, dan menjadi terradikalisasi dengan mereka dalam setiap konflik dan gerakan besar. Ada banyak cerita dari Revolusi 1979 mengenai mullah yang malam harinya mempelajari koran-koran komunis dan siang harinya beragitasi dengan slogan-slogan mereka. Sebagaimana mistik dan cacat slogan-slogan ini diserukan oleh mereka, kaum mullah miskin tetap adalah bagian dari kelas borjuis kecil dan kaum rural miskin. Oleh karenanya pada banyak kesempatan mereka juga mengekspresikan suara mereka.

Klerus-klerus elit di kota-kota dan para pemimpin sembahyang Jumat besar, sebaliknya, selalu berpihak pada kelas penguasa semenjak jamannya Qajars, Reza Shah, Mohammad Reza Shah, dan tentu sekarang. Di setiap gerakan dan di dalam setiap revolusi, mereka telah berpihak pada perwakilan kaum berada dan menggunakan seluruh kekuatan dan pengaruh mereka untuk menghentikan gerakan. Bila mereka menentang elit penguasa, seperti halnya Khomeini pada awal 1960an, ini hanyalah bagian dari konflik internal dengan kelas penguasa. Ini tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan mengubah pilar-pilar fundamental masyarakat.

Bila kita tidak mempertimbangkan kepentingan-kepentingan yang berkonflik di dalam kaum klerus dan kelas menengah, akan sangat sulit untuk memahami revolusi 1979. Aspirasi rakyat miskin tidak sama dengan keserakahan lapisan klerus atas.

Pada tahun 1979, kelas menengah tidaklah memiliki organisasi politik ataupun sumber ekspresi. Tudeh dan organisasi-organisasi buruh lainnya, yang kebanyakan adalah partai-partai bagi buruh industrial dan intelektual urban, memiliki hubungan yang sangat lemah dengan pedesaan dan daerah-daerah miskin di Tehram. Sehingga ketika massa yang tertindas mulai bergerak, tempat pertemuan yang paling alami adalah di mesjid-mesjid. Mesjid adalah tempat pertama dimana massa pedesaan berorganisasi dan berkumpul.

Tetapi ini adalah langkah pertama revolusi dimana perbedaan kelas belumlah menampakkan dirinya. Alih-alih mempromosikan gerakan buruh yang independen dan mempersiapkan buruh dan kaum miskin untuk menghadapi pengkhianatan Khomeini, Tudeh memberikan dukungan penuh kepada Khomeini. Dengan begitu mereka menuai ilusi dan secara praktis melucuti bukan hanya kaum buruh, tetapi juga kaum miskin dan rakyat tertindas di hadapan konter-revolusi yang sedang bangkit.

Khomeini kemudian menggunakan otoritas yang didapatinya untuk perlahan-lahan melemahkan gerakan buruh, dan mengalahkan revolusi. Menggantikan Shora (komite buruh), Khomeini menyelinapkan orde lama melalui pintu belakang dengan “Shora Islam” dan memperkenalkan manejemen satu orang di bawah kedok Islam yang dikenal dengan Maktabi. Kemudian setelah posisinya menjadi lebih kuat, dia memperkenalkan militerisasi pabrik-pabrik dan menyerang gaji dan kondisi kerja buruh.

Objektif segera dari Khomeini adalah menyelamatkan kapitalisme, dan oleh karenanya dia harus mengambil alih banyak perusahaan-perusahaan swasta, bukan karena dia ingin melakukan ini, tetapi karena dia tidak punya pilihan lain. Para pemilik perusahaan ini telah kabur dan kaum buruh mendorong dengan keras. Kenyataannya, bahwa sebelum akhir 1980an, rencana privatisasi telah dibuat (dan bila privatisasi ini belum terjadi ini bukan karena tidak ada kehendak dari rejim ini untuk melakukan privatisasi).

Dengan menyebut diri mereka revolusioner, kaum mullah tidak akan mengubah apapun. Kenyataannya, bukanlah sesuatu yang baru bagi kaum konter-revolusioner untuk berkedok sebagai kaum revolusioner. Tetapi dengan ketiadaan oposisi yang terorganisir, mereka segera dapat mengkonsolidasikan kekuatan mereka dan menunjukkan wajah mereka yang sesungguhnya. Revolusi ini kemudian ditenggelamkan ke dalam sungai berdarah. Organisasi buruh dilarang dan oposisi tidak ditolerir.

Perang – “sebuah berkah dari surga”

Perang Iran-Irak adalah sebuah faktor penting dalam kekalahan revolusi. Perang ini dimulai oleh Irak yang menyerang Iran – resminya adalah karena pertikaian lahan. Ini mungkin adalah salah satu objektif perang ini, tetapi ini bukanlah asalan mengapa mereka harus melakukan perang ini. Kenyataannya, yang memaksa Iran untuk menyerang adalah ketakutan akan gelomban revolusi yang akan tumpah ke perbatasannya.Terutama kaum minoritas Kurd dan Shia mulai terpengaruh dan mulai bergerak. Ini tidak memberikan pilihan lain pada Saddam (yang juga ditekan oleh imperialisme AS) selain menyerang. Hal penting yang harus diingat adalah bahwa serangan ini bukanlah terhadap Iran sebagai sebuah bangsa, ataupun kaum klerus. Serangan ini ditujukan untuk menghentikan gerakan massa. Ini adalah sebuah serangan terhadap revolusi.

Ini pada kenyataannya menjadi bantuan untuk mullah. Rejim di Iran menggunakan perang ini untuk mengalihkan perhatian ke “musuh asing” mereka. Dengan alasan ini, mereka menekankan pentingnya meredekan situasi dan menuntut ketertiban, dan pada saat yang sama mengkonsolidasikan angkatan bersenjata mereka. Para pemimpin Tudeh sekali lagi menikam revolusi dari belakang dan memberikan dukungan penuh mereka pada rejim ini dengan mengirim kekuatan partai mereka ke garis depan tanpa pendirian kelas yang jelas dan independen.

Disini sekali lagi kita melihat bagaimana kaum klerus dan imperialisme AS berbagi kepentingan yang sama. Pertama, Amerika dan Uni Soviet menjual senjata kepada kedua pihak untuk memperpanjang peperangan ini. Kedua, rejim Iran sendiri berkontribusi besar dalam memperpanjang peperangan ini. Setelah 1982, Iran telah memenangkan semua lahan yang hilang, tetapi Iran lalu mengubah perang ini menjadi perang ofensif dan melanjutkannya hinggal tahun 1988, tanpa memenangkan satu inci lahan pun. Pada kenyataannya, kedua negara ini bukan sedang berperang satu sama lain, tetapi sedang memerangi revolusi.

Dan bahkan setelah pembantaian hingga setengah juta orang, gerakan rakyat mulai bangkit kembali setelah perang. Apa yang terjadi dengan semua janji-janji revolusi? Mengapa kita harus berperang begitu lama? Tetapi kali ini rejim ini telah membangun kekuatannya dan basis-basisnya di seluruh pelosok negeri, dan tanpa perpecahan yang signifikan di dalam lapisan atasnya, mereka mampu merespon dengan tegas dan menghancurkan sebuah gerakan yang telah letih dan kehilangan semangat karena kesalahan-kesalahan pemimpinnya. Kemudian sebuah pengadilan Islam dilaksanakan untuk mengadili semua pemimpin Kiri dan oposisi. Dalam waktu beberapa hari, pengadilan ini menjatuhi hukuman mati kepada ribuan tahanan politik dan membunuh mereka dalam beberapa menit setelah pengadilan 10-menit mereka. Pembunuhan ribuan kaum Revolusioner, Komunis, dan Marxis pada musim panas 1988 adalah satu salah pembantaian anti-komunis yang paling terkutuk di abad ke-20. Kebangkitan yang baru dihancurkan sebelum ia dapat mencapai permukaan. Pada aksi finalnya, konter revolusi secara harafiah telah memancung revolusi.

Perkembangan ekonomi dan kelas-kelas di bawah republik Islam

Tahun 1980an di Iran adalah sebuah periode yang ditandai oleh perang dan kehancuran ekonomi. Banyak kompleks industrial lama hancur atau bangkrut karena kesalahana manajemen. Pada saat yang sama, perang dengan Irak mengacaukan semua aktivitas ekonomi.

Banyak perusahaan-perusahaan besar yang diekspropriasi dan dinasionalisasi atau disentralisasi di dalam Bonyads (yayasan-yayasan Islam yang dikendalikan oleh mullah-mullah yang tidak dipilih). Aparatus birokratis yang besar di dalam negara dan Bonyads, yang tumbuh besar karena tidak adanya kontrol demokratis dan pengawasan, menyebabkan memburuknya banyak perusahaan tersebut. Mentalitas sempit dan dangkal dari kaum borjuis kecil terbelakang berarti bahwa banyak perusahaan-perusahaan di bawah Bonyads dikelola dengan tidak benar oleh saudara-saudara, sepupu-sepupu, dan teman-teman kaum klerus dan kaum bazaari lapisan atas. Menghadapi gelombang pemogokan dan resesi ekonomi, jauh lebih mudah untuk menjual mesin-mesin di pabrik dan meraih satu laba besar.

Menetralkan semua faktor-faktor negatif ini adalah kontrol penuh atas hukum dan aparatus negara yang menciptakan keuntungan-keuntungan besar bagi perusahaan-perusahaan yang bersaing dengan perusahaan lainnya yang tertinggal di luar rejim ini. Ini lalu mempercepat laju ketidakefisienan dan jatuhnya investasi. Secara umum, perusahaan-perusahaan manufaktur besar berkembang setelah revolusi, tetapi dalam cara yang berat sebelah dan inorganik. Jumlah buruh yang diperkerjakan di perusahaan-perusahaan manufaktur besar berlipat ganda dari 271.000 menjadi 509.000 antara tahun 1976 dan 1986. Lagi, ini tidak diikuti oleh peningkatan yang sama dalam investasi. Di pihak lain, terjadi keanjlokan dalam perkembangan perusahaan manufaktur menengah dan ledakan perusahaan-perusahaan manufaktur kecil.

Persentase kelas pekerja dari populasi aktif pada tahun 80an menurun. Dari 40,2 persen pada tahun 1976, ini jatuh hingga 24,6%. Walaupun tendensi ini kemudian berbalik, pada tahun 1996 kelas pekerja hanyalah 31.1% dari populasi. Tetapi menurunnya persentasi kelas pekerja tidaklah membuatnya lebih lemah, karena pekerja yang tersisa adalah mereka yang bekerja di perusahaan-perusahaan raksasa yang dalam kebanyakan kasush adalah monopoli dalam bidang mereka. Pada saat yang sama, barisan penganggur meningkat di seluruh negeri. Lapisan ini pindah ke kota-kota untuk mencari pekerjaan, tetapi kebanyakan dari mereka terjebak di dalam ekonomi informal Iran yang sedang tumbuh. Bila pada tahun 1950 30% dan pada tahun 1979 50% populasi hidup di perkotaan, pada tahun 2008 80% populasi hidup di kota-kota besar. Ini termasuk satu lapisan besar yang terjebak di luar ekonomi, yakni komunitas-komunitas yang termarginalisasikan.

Daerah-daerah pedesaan tidak lagi menyediakan kehidupan berkesinambungan bagi populasi. Bahkan bila seorang cukup beruntung untuk memiliki tanah di Iran, lebih dari 75% pemilik tanah memiliki kurang dari 7 hektar yang diestimasi sebagai minimum untuk menghidupi satu keluarga di desa. Oleh karenya banyak petani yang memiliki pekerjaan kedua di kota-kota atau mereka pindah ke kota dan meninggalkan tanah mereka.

Pada awal 90an ketika harga minyak mulai naik, tendensi keanjlokan industri terhentikan. Kelas buruh tumbuh dan investasi meningkat, tetapi laba mudah dari industri minyak menarik semua kekuatan ke dalam industri ini. Dengan ini, bahkan kebangkitan ekonomi ini terbukti tidak merata dan tidak berkesinambungan. Industri-industri lain yang tumbuh, contohnya perumahan, hanyalah tumbuh untuk jangka pendek seperti gelembung.

Di milenia yang baru ini, semua hal mengindikasikan bahwa pengkonsentrasian buruh dan industri telah meningkat, yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi dunia. Tetapi pada saat yang sama, tingkat pengangguran yang tinggi dan migrasi ke daerah-daerah urban juga mengungkapkan keruntuhan masyarakat dan bahkan penyusutan kelas buruh secara relatif.

Ini tidak mengindikasikan melemahnya kelas buruh. Pengkonsentrasian kelas buruh dan monopoli yang ekstrim di Iran telah menciptakan kelompok-kelompok buruh yang potensial kuat. Contohnya, jalan tol antara Tehran dan Karaj, Vyborgnya Iran [Vyborg adalah pusat industri di Rusia pada jamannya Lenin] dipenuhi oleh pabrik-pabrik industri yang memperkerjakan ratusan ribu, atau mungkin bahkan lebih dari sejuta buruh industri. Pabrik Khodro Iran pada hakikatnya adalah sebuah kota kecil dengan lebih dari 25 ribu buruh.

Konsentrasi kelas buruh ini, bila dimobilisasi, memiliki potensi yang besar. Pada saat yng sama, massa Iran yang lainnya, seperti halnya pada tahun 1979, tidaklah terlalu jauh, secara geografis maupun secara budaya. Tidak seperti pada jamannya Shah dimana 50 persen populasi hidup di perkotaan, hari ini 80 persen dari 75 juta rakyat Iran hidup di kota-kota. Bandingkan ini dengan kelas buruh Rusia pada waktu Revolusi 1917 yang hanya 3 sampai 5 persen! Kondisi Iran pada tahun 2010 jauh lebih matang untuk perebutan kekuasaan oleh kelas buruh dibandingkan Rusia pada waktu Revolusi Oktober.

Bersesakan dalam jumlah jutaan, rakyat tani dan desa yang baru tiba, yang sekarang bekerja di sektor informal, terpaksa mengambil banyak tradisi dan ciri-ciri kelas buruh. Jadi bahkan bila kelas buruh Iran tidak tumbuh secepat lapisan-lapisan masyarakat lainnya, potensi kekuatan dan otoritas mereka telah tumbuh secara besar.

Tahun 1990an

Tahun 1990an adalah sebuah dekade yang dipengaruhi sangat besar oleh kekalahan revolusi dan kemudian oleh runtuhnya Uni Soviet yang pada gilirannya mengakibatkan demoralisasi global di antara kaum kiri. Tetapi di Iran, ini juga adalah dekade yang mempersiapkan ledakan-ledakan baru. Dari tahun 1993 sampai 2001, inflasi rata-rata adalah di atas 23% per tahun dan tingkat pengangguran berkisar 16% (angka resmi!). Hal-hal yang menyebabkan Revolusi 1979 masihlah valid. Di tingkat bawah, revolusi adalah masalah roti dan masalah ini belum terpecahkan. Satu-satunya perubahan yang terjadi adalah wajah-wajah kaum penguasa.

Republik Islam mewakilkan orde lama tetapi ia membawa dengannya orang-orang baru. Kebanyakan dari orang-orang Shah telah lari dan kebanyakan perusahaan telah dinasionalisasi tentunya bukan dengan cara yang demokratis di bawah kontrol buruh dan berproduksi untuk kepentingan masyarakat. Di pucuk pimpinan perusahaan-perusahaan negara ini adalah para klerus dan teman-teman mereka dari bazaar. Dan bersama dengan mereka, mereka membawan metode-metode birokratik pasar, dimana tujuannya bukanlah produksi tetapi laba cepat dan negosiasi-negosiasi yang tidak jujur. Ini membawa implikasi yang teramat buruk bagi semua industri dan produksi.

Birokrasi yang tumbuh di dalam Republik Islam ini akan membuat rejim Stalinis manapun seperti malaikat. Perkembangan ini memukul berat ekonomi, dimana milyaran dolar lenyap dari anggaran negara dan ratusan perusahaan menjadi bangkrut karena kesalahan manajemen yang sangat buruk. Sering kali seorang manejer mengambil alih sebuah pabrik hanya untuk menjual semua mesin-mesin ke perusahaan asing dengan harga yang rendah dan mendapatkan komisi di bawah meja. Dengan metode mismanajemen yang buruk ini, sebagian besar industri Iran hancur dan ribuan orang menganggur dan kondisi masyarakat memburuk. Ini berarti industri minyak menjadi industri terbesar di Iran, bukan melalui modernisasi dan investasi, tetapi melalui semakin besarnya eksploitasi terhadap buruh dan ladang-ladang minyak. Industri ini cocok dengan mentalitas bazaari kaum klerus dan teman-temannya, yakni beli-murah-jual-mahal. Pada kenyataannya, Iran tidak pernah membangun kapasitas pengilangan minyak untuk pengunaan domestik. Minyak hanya dijual mentah dan tidak diproses – ini lalu ditukar dengan bahan bakar minyak.

Sebagian besar tendensi kebangkrutan dari industri dan produksi diseimbangi oleh gelembung besar konstruksi pada akhir 90an, tetapi kata gelembung mengindikasikan bahwa ini hanyalah sementara saja. Sebagai akibatnya jutaan orang bermigrasi ke kota-kota hanya bisa bergabung dengan barisan penganggur, supir taksi, pemilik toko kecil, dan pemberi jasa yang hidup dari ekonomi informal Iran.

Selama tahun 90an, ada sebuah perkembangan juga di dalam rejim ini. Faksi-faksi yang berbeda mulai bermunculan, mewakili kepentingan-kepentingan yang berbeda di dalam rejim ini. Salah satu faksi ini telah mengumpulkan sejumlah kapital yang besar dan perlahan-lahan bergerak menuju privatisasi guna mendapatkan kontrol penuh dari perusahaan-perusahaan yang mereka pimpin, dan untuk menciptakan peluang untuk menginvestasikan uang yang telah mereka kuras dari negara dan kumpulkan untuk diri mereka sendiri. Faksi ini memiliki pemimpin utama seperti Rafsanjani dan banyak kaum Liberal dari gerakan “Reformis”. Dan secara alamiah mereka juga memiliki hubungan yang dekat dengan Bank Dunia dan IMT, dan oleh karenanya juga dengan AS.

Di pihak lain, ada faksi konservatif yang terdiri dari para Tentara Revolusioner, yang merupakan konglomerasi bisnis terbesar di Iran, dan Pemimpin Agung Ali Khamenei. Tentara Revolusioner pada kenyataannya adalah salah satu badan ekonomi terkuat, bila bukan yang paling kuat, di Timur Tengah dengan mengontrol ratusan milyar dolar aset. Paling jelas adalah kontrol mereka atas Boyad (yayasan-yayasan semi publik yang menikmati semua keuntungan sebagai badan milik negara, tetapi tidak dikontrol oleh institusu negara apapun) yang memiliki hampir semua industri Iran. Faksi ini memiliki basis mereka di dalam rejim dan oleh karenanya mereka menentang beberapa privatisasi, tetapi tetap mengambil bagian dalam kenbanyakan skema privatisasi.

Perseteruan antara faksi-faksi ini hanyalah sebuah perseteruan mengenai siapa yang dapat mendapatkan bagian kue terbesar. Seiring dengan memburuknya situasi ekonomi, pertarungan antara elemen-elemen ini mengambil karakter yang semakin serius, tetapi pada dasarnya mereka tetap mewakili rejim yang sama.

Bersambung ke bagian empat.

Diterjemahkan oleh Ted Sprague dari “The historical origin of the Iranian Revolution and the tasks of the Revolutionary Marxits – Part Three”, Mobareze.org, 8 July 2010.