facebooklogocolour

Setelah revolusi terjadi, para mullah menjanjikan rakyat sebuah akhir eksploitasi. Mereka menegaskan bahwa keadilan hanya mungkin terwujud apabila Iran kembali ke warisan Islam yang murni, sebagaimana model Ummah di Arab abad ke-7. Partai Islam Republik (PIR) mempoklamirkan tujuannya berupa Islamisasi masyarakat, berupa penelusuran kembali nilai-nilai budaya Islam, menurunkan ketergantungan Iran atas pendapatan minyak bumi, menaikkan standar hidup populasi umum dan mengurangi ketidakadilan yang menjiwai karakteristik pembeda dari rezim pendahulunya. Dalam dua puluh tahun sejak para mullah yang fundamentalis membentuk pmerintahan, Iran sekedar memetik keberhasilan yang terbatas dalam mencapai tujuan ekonominya dan hal ini telah mengobarkan ketidakpuasan di seluruh penjuru Iran.

Pada tahun-tahun setelah pendiri Republik Islam di tahun 1979, ekonomi Iran dilanda penurunan relatif tajam dalam output riil, penurunan dalam GDP penurunan drastis dalam standar hidup rata-rata rakyat Iran; GDP perkapita menurun hingga 47 persen antara tahun 1979 dan 1987 pada tingkat rerata 5,2 persen pertahunnya. (1) Krisis ekonomi pada tahun 1984 disusul dengan penurunan dalam penghasilan minyak bumi dan kapasitas pemanfaatan, intensifikasi perang melawan Irak serta melonjaknya tingkat pengangguran dan inflasi. GDP perkapita juga terus merosot hingga 50 persen dalam statistik 1979. Krisis ekonomi disuburkan oleh korupsi dan ketidakefisienan para mullah yang ditugaskan menangani perusahaan bisnis besar yang baru inasionalisasikan.

Pendeknya, kondisi ekonomi di Iran memburuk dengan cepat setelah revolusi akibat beragam faktor eksternal dan internal. Yang paling menonjol di antara faktor internal adalah kontra-revolusi, represi terhadap kaum buruh terutama mereka yang terampil dan maju, ratusan di antara mereka telah dibunuh oleh Pasdaran (pasukan berani mati Iran) dan yang lainnya melarikan diri ke luar negeri. Savak piaraan Shah dan anggota keluarganya setidaknya tercatat merampas satu milyar dollar kekayaan Negara yang mereka simpan di luar negeri. Pengangguran, inflasi dan pelarian modal meningkat dan sejumlah besar proyek yang dilaksanakan oleh pihak asing ditunda. Faktor-faktor eksternal termasuk perang versus Irak yang berkepanjangan dan menghabiskan banyak uang, kekisruhan dalam pasar minyak dunia, membuat berkurangnya pendapatan dari minyak bumi, pembekuan aset valuta asing Iran (11 milyar dollar AS) disebabkan oleh krisis sandera di Kedubes AS dan embargo yang diberlakukan oleh imperialis Amerika. Dengan mengesampingkan propaganda kaum mullah tentang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan, Iran menjadi semakin terpolarisasi dalam dua kelas masyarakat yang kaya dan yang miskin. Pada tahun 1987 Harian Khyaban melaporkan bahwa kemiskinan absolut telah semakin meningkat di kalangan rakyat Iran dan daya beli riil dari orang-orang berpenghasilan telah turun sebanyak 60 persen sejak revolusi. Orang-orang yang bergaji dan berupah rendah, dipaksa untuk membayar komoditas yang berharga terlalu tinggi dengan menjual rumah, peralatan dan mebel yang mereka punya, mengurangi tingkat konsumsi atau mengubah kebiasaan makan mereka dengan membeli lebih banyak makanan berbungkus yang dijual di pasar-pasar ransom jatah dengan harga resmi; dan jalan terakhirnya dengan meminjam uang atau mengorek-ngorek tabungan mereka.(2)

Selama masa 1990-an, ekonomi Iran masih ditandai dengan pertumbuhan yang lamban dan inflasi yang tinggi, yakni berkisar 31,3 persen antara tahun 1994 hingga 1997 dan mencapai puncaknya hamper 50 persen di tahun 1995.(3) Akhir decade, ketergantungan Iran pada pendapatan minyak masih tetap tidak berkurang, standar hidup populasi menurun baik dalam masa terma absolut (yang diukur dengan GDP perkapita) maupun terma relative. Pemerintah telah menjanjikan bagi rakyat fasilitas gratis berupa perumahan, air, listrik, transportasi umum dan pendidikan, ditambah bagian langsung dari pendapatan minyak bumi. Janji-janji seperti itu terbukti tidak mungkin ditepati. Akan tetapi rezim itu relative menghabiskan sejumlah besar pengeluaran untuk pendidikan, kesehatan, listrik dan air di daerah pedesaan. Selama 16 tahun pertama setelah kontra-revolusi, pertumbuhan hamper menuju nol, dengan GDP turun menjadi 7 persen. Pengangguran diperkirakan sebesar 30 persen pada tahun 1993. Sebagai akibatnya, lebih dari 60 persen orang Iran hidupnya dibawah garis kemiskinan. (4)

Beberapa perkiraan tidak resmi menunjukkan inflasi rata-rata tahunan berkisar antara 30 hingga 60 persen lebih tinggi dari data statistik yang diberikan Bank Sentral Iran. Pers luar negeri telah secara teratur melaporkan rata-rata inflasi tahunan sebesar 60-100 persen diiringi dengan 25-40 persen tingkat pengangguran.(5) Setelah periode kontra-revolusi, inflasi tahunan bergerak pada kisaran 27 persen, namun di tahun 1996 hampir mendekati dua kalinya dari setahun sebelumnya yang hingga tujuh persen dalam sebulan dan terus meningkat. Inflasi ini memaksa para buruh Iran dan pemuda kelas menengah untuk bekerja pada dua atau tiga pekerjaan ekstra ketimbang pekerjaan resmi mereka dan seringkali mereka mendapatkan uang lebih banyak dari kerja ekstra ketimbang pekerjan resmi meeka. Sebagai contoh, seorang guru memperoleh 120.000 real atau sekitar $25 dalam satu bulan, dimana harga apartemen dengan dua tempat tidur setidaknya 200.000 real atau sekitar $44 perbulan. Dalam sebuah Negara yang dijalankan dengan keterbatasan dan kebutuhan yang tinggi terhadap dollar, banyak orang yang terlibat dalam pekerjaan mencari uang secara semi ilegal dan ilegal untuk mencukupi kebutuhan mereka. Banyak tipikal keluarga pekerja yang mengindikasikan bahwa mereka tidak mampu membiayai “nasi untuk beberapa hari” atau “gula atau pemanis untuk teh”.(6)

Di tingkat atas, perpecahan di kalangan para mullah pertama kali muncul dengan jelas ketika Rafsanjani mencoba untuk meliberalisasikan ekonomi, yaitu dengan memulai proses privatisasi dan mengurangi intervensi pemerintah. Hal ini makin mengintensifkan konflik dalam tubuh jajaran ulama, karena pemerintah menguasai industri perminyakan, perbankan, asuransi, pembangkit listrik dan hampir semua industri manufaktur skala besar dan mengontrol akses terhadap valuta asing. Yayasan amal besar bernama Bonyads yang memiliki koleksi kuat dengan pemerintah, mengendalikan properti  dan bisnis yang diambil dari mantan Shah dan keluarganya. Bonyads memberikan pengaruh cukup besar dalam ekonomi, akan tetapi tidak terbuka akuntabilitasnya atas pendapatannya serta tidak membayar pajak. Bahan makanan dan biaya penggunaan energi disubsidi secara besar-besaran oleh pemerintah. Ekspor minyak terhitung lebih dari 80 persen dari pendapata valuta asing. Kinerja ekonomi dipengaruhi, dalam artian negative oleh mismanajemen dan korupsi berat kaum mullah dan diperburuk dengan adanya penurunan harga minyak disepanjang tahun itu.

Segera setelah terpilihnya Khatami, dia mengumumkan sebuah program ekonomi baru yang bertujuan sebuah program ekonomi baru yang bertujuan memprivatisasi badan usaha milik Negara, menungkatkan penerimaan pajak dan pengurangan menyeluruh kinerja pemerintahan yang tidak efisien. Meskipun demikian, Iran masih menghadapi masalah-masalah ekonomi yang parah. Pada tahun 1998 anjloknya harga minyak membawa penurunan pendapatan minyak sebesar $5 milyar. Menurut Bank Sentral Iran ekonomi Iran tumbuh 1,7 – 2 persen di tahun 1998, dibandingkan dengan 2,5 persen di tahun 1987 dan 5,2 persen di tahun 1986. Bagaimanapun juga, menurut majalah The Economist, ekonomi Iran ditandai dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi Iran adalah dua persen tahun lalu (1999).(7)

Pada sisi tertentu, pemerintah umumnya telah meningkatkan  standar hidup di daerah pedesaan dalam bidang pendidikan, kelistrikan, kesehatan, air dan telepon antara tahun 1988 dan 1992. Akan tetapi ketidakadilan dan korupsi besar-besaran belum terbasmi. Pada tahun 1987, sepuluh persen terbawah dari populasi menerima tidak lebih dari 1,3 persen pendapatan nasional. Dimana sepuluh persen teratas menikmati 33 persen dari pendapatan nasional. (8) Menurut Harian Kahyan, di tahun 1986 kira-kira 5.000 Bazaaris menghasilkan keuntungan 50 milyar real setelah kena pajak. Mereka adalah para pedagang dan saudagar pemegang kendali jalur distribusi Negara dan kontraktor konstriksi yang punya kontak dengan rezim tersebut. (9)

Dalam jumlah yang signifikan industri-industri besar dan semua bank, perusahaan asuransi, Yayasan Jahad-e-Sazandegi (Perintis Konstruksi) yang sudah dinasionalisasi, serta Yayasan Bonyads – yang didirikan bagi kaum tertindas -  membantu memperluas laynan kesejahteraan di daerah pedesaan dan di antara kaum miskin kota. Subsidi disediakan untuk komoditas dasar dan pajak bagi yang berpunya ditingkatkan, undang-undang perburuhan diberlakukan dan juga undang-undang yang disediakan untuk kepentingan para pengangguran, jaminan sosial serta aturan upah minimum diberlakukan. Jaminan sosial dan kesejahteraan sebagai persentase dari anggaran belanja Negara total meningkat dari 6,1 persen tahun 1972 menjadi 18,4 pada tahun 1990.(10) Rezim ini pun telah berusaha untuk mengendalikan inflasi, tetapi dikarenakan adanya inflasi tinggi membuat kebanyakan subsidi dihapuskan. Dalam rangka mencari jalan keluar dari kekacauan, Iran mengembangkan sebuah Rencana Pembangunan Lima Tahun (1989-94yang berkonsentrasi pada perbaikan infrastruktur, peningkatan sumber daya komunikasi serta pendidikan. Dari tahun 1989 hingga 1993, hutang luar negeri mencapai nilai $30 milyar, dimana yang masih berupa tunggakan sebesar $8 milyar. Pada akhir 1992, Iran menjadi tidak mampu untuk membayar utang dan para kreditor harus menjadwal ulang total $7 milyar dari utang Iran. Hal ini memberikan keleluasaan untuk bernafas bagi Iran mlalui tahun1995.

Rencana pembangunan lima tahun tahap kedua melanjutkan tugas repelita pertama, bertujuan untuk meningkatkan produksi non-migas dan ekspor, akan tetapi masih tetap dikendalikan oleh minyak Iran. Sejak awal 1990-an atas nasihat dari IMF, prioritas ditempatkan pada privatisasi, deregulasi, “pasar bebas”, pemotongan subsidi serta pengencangan ikat pingang. Tahun kemarin pemerintah menghadapi penurunan pendapatan sebesar $6 milyar atau sepertiga dari anggaran Negara dan dipaksa untuk menunda kebanyakan proyek pembangunan yang ada. Kekeringan yang terburuk dalam kurun waktu 30 tahun di Iran juga telah menimbulkan korban, meskipun diselingi hujan yang turun. Kerusakan yang menimpa pertanian, yang mempekerjakan sekitar seperempat dari total tenaga kerja, diperkirakan menimbulkan kerugian sebesar 1 milyar.(11) Menurut survey terakhir, area perkbunan kapas turun hingga 26.705 hektar atau 10 persen di tahun 1997 dari sebelumnya sebesar 233.014 hektar. (12)

Teheran dihadang krisis air serius ketika cadangan air di bendungan-bendungan Negara tersebut sebesar 5,3 juta kubik meter menunjukkan penurunan sebesar 15 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sepuluh juta kubik meter air dikonsumsi pertahunnya di Iran yang umumnya dari mata air dan sumur. Krisis kelangkaan air di Teheran bahkan jauh lebih besar. Dam yang menyediakan air ledeng bagi Teheran mencapai titik terendahnya dalam kurun 33 tahun. Teheran, yang memiliki kapasitas untuk mengakomoasi dua atau tiga juta orang, sekarang memiliki lebih dari tujuh juta penghuni tetap dan ditambah tiga juta pekerja komuter harian (pulang-pergi).(13)

Harapan bahwa Khatami telah melaksanakan tugas prioritas reformasi ekonomi akan segera menguap, karena ekonomi sektor non-migas berada di ambang kehancuran. Satu-satunya cara untuk membalikkan keadaan ini adalah investasi kembali secara besar-besaran. Iran membutuhkan uang dan terdapat dua sumber mata uang yang besar. Yang pertama adalah ekonomi pasar elap yang dikendalikan dan dijalankan oleh kaum konservatif dan mullah garis keras, yang mati-matian menentang investasi ekonomi yang diluar kontrol Negara. Sumber keuangan kedua adalah migas, dimana lebih dari 80 persen ekonomi Iran bergantung kepadanya. Ekspor memberikan 80 persen cadangan luar negeri. Maka, berguncangnya harga minyak niscaya akan memberikan vonis mati terhadap harapan kaum reformis. Kapanpun harga minyak jatuh, ekonomi Iran siap tergusur kepada titik kolaps. Iran adalah produsen minyak terbesar kedua dalam kartel OPEC. Dan sangat mungkin bahwa dalam jangka waktu yang smgkat OPEC akan memutuskan untuk menaikkan produksi minyak,sebuah tindakan yang akan menyebabkan keterpurukan harga perbarel minyak mentah yang hebat. Hal ini akan mengakibatkan dampak yang buruk bagi ekonomi Iran. Terdapat perpecahan dalam tubuh OPEC tentang isu ini Iran mencoba untuk meyakinkan anggota OPEC lainnya agar tetap menjaga peningkatan produksi tetap dalam jumlah minimum, berargumen bahwa peningkatan produksi pada musim semi tidak bisa dibenarkan, karena permintaan dari negara konsu­men cenderung menurun.

Apa yang membuat hidup lebih sulit bagi Iran adalah tipisnya jarak pagu produksi dengan kapasitas produksi minyak. Menurut data statistik International Energy Agency Januari 2000, Iran menghasilkan 3,4 luta barel minyak mentah perhari, atau tidak jauh dari itu, sedangkan kapasitas maksimal adalah 3,7 juta.(14) Jadi tidak mungkin bisa mengambil keuntungan dan peningkatan produksi minyak jika hal ini diputuskan oleh OPEC, clan akan mendenta dari kejatuhan harga nunyak yang terjadi. Iran baru saja mentas clan defisit anggaran yang disebabkan oleh penurunan harga minyak yang merugikan negara sekitar 5 milyar dolar setahun. Rencana pembangunan lima tahun yang baru saja dimulai mengasumsikan pendapatan sebesar $112 milyar, dimana yang $58 milyar dimaksudkan berasal dari pendapatan ekspor minyak bumi.

Sumber keuangan ketiga adalah IMF, yang akan membebani dengan persyaratan seperti privatisasi, memotong subsidi lebih banyak, devaluasi dan peng­hematan. Jika Khatami memulai reformasi ekonomi dan garis ini, hal itu bisa berarti kemungkinan terjadinya perang saudara. Proses ini telah diperlihatkan secara garis besarnya, ketika terjadi percobaan pembunuhan terhadap seorang reformis terkemuka, tidak lama setelah pemilu. Hal itu tidak akan mudah bagi Khatami dan parlemen reformis untuk memberlakukan reformasi ekonomi. Jadi presiden dan parlemen reformis baru menghadapi, bukan hanya resistensi dan kaum mullah berhaluan keras, tetapi juga perbedaan yang menge­muka di antara para pendukung. Bahkan Khatami harus sangat berhati-hati dalam isu ini. Majalah The Economist menulis bahwasanya para reformis hanya melakukan lip service dalam liberalisasi ekonomi, tetapi tidak memiliki keberanian maupun otoritas untuk mem­bebaskan diri mereka sendiri dari komitmen untuk membayar jutaan dolar dalam subsidi langsung maupun subsidi tidak langsung. Konyolnya, harga bahan pokok seperti bahan bakar, roti dan obat-obatan sangat rendah dan sudut pandang kaum borjuis. The Economist lebih lanjut menulis: "Ada percakapan tanpa jeda tentang peningkatan ekspor non-migas. Banyak pabrik yang beroperasi pada sebagian kecil kapasitas mereka karena mereka tidak sanggup mengimpor suku cadang maupun bahan mentah."(15)

Jika Khatami memperkenalkan reformasi eko­nomi dan serangan pertamanya akan dilancarkan terhadap para buruh, sudah terdapat tanda-tanda dari apa yang bisa diharapkannya. Ketidakpuasan kaum buruh ditumpahkan dalam demonstrasi di bulan Februari menentang sebuah undang-undang baru yang mengecualikan perusahaan kecil dari undang-undang perburuhan, sehingga membekali para majikan dengan wewenang lebih untuk memecat para pekerja dan memotong gaji. Dan salah satu demonstrasi terbesar pada tanggal satu Mei memperlihatkan perubahan kon­disi kejiwaan di kelas pekerja Iran. Di sisi lain, jika Khatami gagal dalam memperkenalkan reformasi ekonomi, analis kapitalis memperingatkan bahwa dia tidak akan bisa menciptakan pemulihan ekonomi. Sebagian besar rakyat akan menjadi pengangguran dan kecewa dengan kebijakan represif dan rezim ulama. Tuntutan akan pekerjaan, reformasi dan westernisasi akan berkembang hingga menjadi kekritisan dan pemberontakan terhadap pemerintah. Hal ini akan menjadi versi "perang budaya" yang jauh lebih intens ketika elit berupaya keras mempertahankan kekuasaan dan sekaligus membenarkan rezim sebagai intensitas potensial bagi terjadinya kontlik, entah itu berupa unjuk rasa di jalanan dan represi hingga seperti yang hampir berupa perang saudara.(16)

Ekonomi Iran sekarang dalam suatu keadaan knsis. Sumbangan ekonomi pasar gelap dari total kinerja ekonomi meningkat dengan mantap sesudah terjadinya kontra-revolusi. Mayoritas Mafia menyokong kaum ga­ris keras. Beberapa kubunya mendukung bekas walikota Ghulam Hussain Krbasni, salah satu kolega dekat Khatami. Mata uang yang berlaku, yaitu real, hampir mengalami kolaps. Nilai tukar resminya dengan dolar adalah masih 3.000, tapi dalam nilai tukar pasar gelap­ - yang lebih umum digunakan - telah turun pada minggu setbelumnya hingga 6.000 sampai 8.600. Tingkat inflasi mencapai 30 - 40 persen, tingkat pengangguran lebih dari 30 persen. Ketika ekonomi terjerumus lebih dalam ke dalam resesi, maka tidak akan ada lagi harapan yang tersisa bagi rakyat. Kaum reformis akan segera kehi­langan dukungan mereka. Janji-janji mereka akan segera terbukti mustahil dipenuhi, khususnya di tengah-tengah kemerosostan ekonomi yang sedang meruyak.

 

Catatan:

1. HooshangAmirahmed, Revolution and Economic Transition, the Iranian Experience, State University of New York Press, 1990, hal.194

2.    The Kayhan Daily, 27 Oktober 1987.

3.    Hassan Hakimian, Institutional Change and Macro Economic Performance in Iran, Two Decades After the Revolution (1979 – 1999), The Economic Research Forum Working Paper Series, University of London (1999).

4. Hoosang Amirahmad, Revolution and Economic Transition, the Iranian Experience, State University of New York Press, 1990, hal.198.

5.    Wall Street Jounal, 30 April 1987 and 12 Mei Mei 1990.

6.    The Economic Bulletin 6. No. 41 (27 Oktober 1987), hal.5. Economic Bulletin 6. No. 39 (Oktober 1987), hal. 5.

7.    The Irani Time, 28 Juni 1994, hal. 4.

8.    The Ettalaat-e-Siasi-eqteesadi. No. 8 (29 April 1988), hal. 3.

9.    The Kayhan Daily, 13 Agustus 1988.

10.  The World Bank, World Development Report 1992 Oxford University.

11.  The Economist, 14 Agustus 1999, hal. 37.

12.  The Kayhan Daily, 17 Januari 2000.

13.  The Kayhan Daily, 6 Januari 2000.

14.  The Kayhan Daily, 15 Februari 2000.

15.  The Economist, 14 Agustus 1999.

16.  Stratfor’s Iran’s Strategic focus, 7 Maret 2000.