facebooklogocolour

 

Rezim kontra-revolusi Khomeini telah mendapat basis sosial pada kaum borjuis kecil dan proletar kelas bawah. Lapisan ini memiliki kepentingan material dalam mendukung rezim. Mereka menduduki properti milik mantan kroni Shah yang melarikan diri ke luar negeri, tidak lagi membayar sewa dan bunga gadai ke bank dan lain-lain. Khomeini juga mendapat dukungan berjuta rakyat miskin dari kelas pekerja yang datang dari pelosok desa menuju ke kota demi pekerjaan. Mayoritas mereka bekerja di sektor konstruksi dengan kondisi yang menyedihkan. Melalui Komiteh (komite revolusioner) yang muncul setelah pergolakan, rezim mulai mendis­tribusikan obat-obatan dan sandang terhadap para buruh, dan menyediakan tempat berteduh bagi mereka berupa masjid-masjid.

Polisi, pengadilan dan penjara Shah telah dibuat rata dengan tanah oleh pemberontakan, sedangkan kebanyakan administrasi sipil masih tetap utuh. Inshtusi semacam ini dengan segera menyerang dengan tiba-tiba terhadap kubu mullah. Pada bulan Maret 1979, kaum fundamentalis mendirikan sebuah lembaga resmi rakyat bersenjata, prajurit “pengawal revolusioner” - meski mereka sebenarnya harus disebut sebagai pengawal kontra-revolusioner. Padahal mereka tak lain adalah tentara elit kontra-revolusi Khomeini. Rekruitmen bagi Prajurit Penjaga Pretorian reaksioner diambil dari para pendukung fundamentalis yang paling loyal - lapisan proletar rendahan yang telah eksis di pinggiran ekonomi perkotaan, bersama dengan elemen borjuis kecil ren­dahan yang merupakan aktivis pro-Khomeini paling antusias dalam tubuh Komiteh. Tujuan dan pendirian badan bersenjata adalah untuk mengontrol gerakan pribadi Komiteh dan membatasi ruang lingkup kegiatan mereka, sedang di sisi lain adalah untuk mengendalikan Komite secara nasional. Elemen yang paling sadar-kelas secara politik dalam pemerintahan sementara memahami bahwa sebuah gerakan massa yang serius dalam industri mewujudkan ancaman terbesar bagi rezim baru itu. Jadi Pasdarandipersiapkan dalam pekerjaan melikuidasi shuramilik kaum buruh dan komite karyawan bawahan lainnya. Pasdaranluga dimanfaatkan untuk menyerang gerakan kaum tani dan wanita; mereka juga secara brutal menindas gerakan nasional Suku Kurdi. Maka, pasukan maut kontra - ­revolusioner tersebut menjabat sebagai agen represi Khomeini paling utama, dan dipergunakan bila pemerintahan menemui resistensi. Mereka tanpa betas kasihan menggilas sehap gerakan yang tidak berada dalam kendali para mullah. Tak seorangpun sanggup menghadapi mereka. Nasib gerakan seperti gerakan nasional (Kurdi), gerakan perempuan, gerakan maha­siswa di universitas-universitas, dan seterusnya, tidak dapat dihindarkan terkait dengan gerakan kelas pekerja. Begitu shuratenggelam, maka seksi kelas pekerja yang paling maju itu beserta semua bagian gerakan massa akan menjumpai diri berlutut di bawah kaki rezim.

Kalau sejenak kita tengok ke belakang, keli­hatannya kemunculan Khomeini tidak bisa ditahan dan itu berlebihan. Nyatanya, kejayaannya tidaklah terte­tapkan sebelumnya. Rezim ini tidaklah begitu solid atau perkasa seperti kelihatannya. Terdapat perselisihan sejak awal mula antar kaum mullah mengenai isu penyitaan tanah dan tentang masalah perang dengan Irak, yang memisahkan Rafsanjani, dengan Khomemi. Invasi ke Iran oleh pasukan Irak membuat Khomeini dapat menggunakan perang sebagai alasan untuk melakukan ofensif baru terhadap sisa-sisa pendukung revolusioner dalam tubuh masyarakat.

Revolusi Iran telah menstimulir harapan bagi turunnya satu perubahan di segenap penjuru Timur Tengah. Suku-suku bangsa yang tertindas mendapat inspuasi yang datang dari gerakan revolusioner kelas pekerja Iran melawan Shah. Hal itu memberikan impuls kuat terhadap gerakan nasional Kurdi di Iran Utara, memicu terjadinya pergolakan revolusioner yang menyebar melewah wilayah Suku Kurdi di perbatasan Irak dan Turki. Dampak dan gerakan revolusioner kelas pekerja Iran dalam menjatuhkan Shah mengejutkan rezim reaksioner Arab di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Ku­wait, Bahrain, dan bahkan Mesir. Sebuah gelombang pemberontakan mendera, melalui kelas buruh dan kelas menengah Arab di sepanjang Timur Tengah.

Setelah Perang Dunia II, nilai penting Timur Tengah bagi imperialisme dipertinggi oleh sumber minyak bumi. Tiga perempat cadangan minyak bumi dunia yang diketahui, terkonsentrasi di wilayah ini. Imperialisme Amerika dan para pemerintah Timur Tengah sangat penasaran melihat proses yang tak kunjung terselesaikan dalam revolusi di Iran. Peristiwa­-peristiwa yang terjadi di Iran memercikkan imbas keseluruh belahan Timur Tengah. Perusahaan multinasional seperti Exxon dan Mobil, yang telah meraup milyaran dolar dan ladang minyak Teluk begitu cemas menghadapi situasi tersebut. Mereka gigih melakukan tekanan terhadap pemerintah AS dan mengumpulkan seluruh sheikh, raja, dan emir untuk melenyapkan spektrum revolusioner dan tanah Timur Tengah.

Pecahnya demonstrasf di tambang-tambang minyak bagian timur Arab Saudi menyalakan alarm tanda bahaya bagi Pentagon. Mereka memutuskan untuk memainkan "kartu Irak" dalam sebuah usaha penuh keputusasaan demi membinasakan revolusi Iran, yang, meski dalam bentuk terdistorsi, memiliki sebuah dampak mengkhawatirkan pada sebuah bagian vital dunia yang strategis. Imperialis Amerika memba­yangkan bahwa apabila mereka menyokong dan mendukung Irak melawan Iran dalam perang tersebut, maka elemen-elemen Iran pro-Amerika akan kembali ke dalam naungan kekuasaan, melalui ujung bayonet Irak. Mereka dengan demikian mereka menghasut Saddam Hussein untuk menyerang Iran, dan melengkapi pasukan Irak dengan senjata-senjata mutakhir-mereka bahkan menyuplai senjata-senjata kimia, yang kini sangat nyaring mereka permasalahkan.

Saddam Husein sangat gembira menerima tawaran imperialis Amenka untuk menyerang Iran. Saddam berpikir bahwa setelah kejatuhan Shah, anjing penjaga imperialis Amerika, maka dia akan menggeser perimbangan kekuatan regional sesuai dengan dengan keinginan Irak. Perang tersebut digunakannya untuk melawan perjuangan kemerdekaan Kaum Kurdi dan membalikkan rakyat Irak dan jalan oposisi menjadi mendukung rezimya. Dia Juga menata cara mengisolasi oposisi dalam Partai Baath. Akan tetapi ketika angkatan bersenjata Irak melancarkan sebuah serangan atas daerah Khuzistan Iran pada bulan September 1980,

 

Perspektif Iran

Khomeini bahkan jauh lebih gembira daripada Saddam. Dukungan AS terhadap serangan Irak menghadiahkan dirinya sebuah kesempatan emas untuk lebih mengkonsolidasikan posisinya, dan sekaligus memo­bilisasi rakyat di belakangnya. Perang tersebut pada mulanya membangkitkan antusiasme rakyat. Iran memberlakukan wajib militer bagi rakyat miskin dan membentuk milisi baseej guna membalas serangan Irak. Khomeini memanfaatkan perang sebagai satu alat represi terhadap shura, yang dia gantikan dengan gagasan "Dewan Islam." Pada gelombang pasang rasa patriotisme, kendali pekerja yang terakhir tersisa telah dihapuskan dan digantikan dengan Dewan Islam ini yang dengan penuh kesetiaan melaksanakan perintah dan sang "Pemimpin". Dengan cara ini, Khomeini sukses menyelesaikan proses menyulap revolusi rnenjadi kontra-revolusi, memulihkan kekuasaan negara dan kapitalisme.

Partai Tudeh tidak memainkan peranan inde­penden apapun dalam hubungannya dengan perang tersebut. Memang benar bahwa, pada awal mulanya, situasi kala itu sulit Iran dalam keadaan diserang oleh reaksioner Saddam Hussein, yang, dengan dukungan aktif dan imperialis AS, berniat untuk mengoyak, meme­cah belah Iran dan melumatkan revolusi ini berdarah-­darah. Secara alamiah, rakyat telah bersiap untuk ber­tempur melawan dua musuh kembar, Saddam Hussein dan imperialis AS, "si Setan Besar". Tetapi, pada satu sisi, insting anti-imperialis yang kuat dari para buruh dan petani telah disalahgunakan oleh Khoemeni sebagai sebuah tabir untuk melaksanakan kontra-revolusi. Sedangkan di sisi lain, satu-satunya cara untuk menga­lahkan Saddam Hussein dan imperialis adalah dengan cara kelas pekerja mengambil alih kekuasaan ke tangannya dan ikut serta dalam sebuah perang revolusioner melawan Irak, dengan menyeru kaum buruh Iran untuk bangkit melawan Saddam.

Tugas elementer dari Partai Komunis adalah memelihara sikap kelas yang berprinsip. Mereka seharusnya mengatakan pada massa: "Ya, Saddam Hussein adalah musuh kita. Kita harus beftempur untuk mempertahankan revolusi kita. Tetapi kita tidak memiliki kepercayaan terhadap Khomeini untuk mela­kukan hal ini. Mari kita berjuang untuk mengambil alih wilayah ini, pabrik-pabnk dan bank-bank di bawah kendali shura milik kita. Kemudian kita bisa memiliki kepercayaan diri dan kekuatan untuk bertempur melawan penjajah lrak dan ikut serta dalam perang revolusioner melawan imperialis dan para kaki tangan penjilat Arab mereka, dengan mengobarkan revolusi ke seluruh penjuru Timur Tengah." Tetapi, mengakibatkan aib abadi bagi mereka, di sepanjang proses ini, Partai Tudeh Stalinis mendukung Khomeini.

Rakyat Iran masih harus membayar harga yang sangat mahal atas pengkhianatan perang yang berlangsung terus-menerus selama delapan tahun kebrutalan, yang harus ditebus dengan satu juta nyawa warga Iran. Dalam jangka waktu yang pendek, asap chauvinisme telah mereda dan rakyat berpegang teguh pada realitas demagogi fundamentalis, dalam segala ketelanjangannya. Mereka membandingkan pidato­-pidato mullah yang membesarkan hati ibu-ibu Iran untuk merelakan putranya berada di front, dan para buruh dan tani untuk berlapar-lapar, demi kepentingan perang, dengan realitas korupsi, keserakahan yang tidak ada puasnya serta segala kemunafikan yang merajalela, yang dilakukan kasta pemerintah. Khomeini telah menjanjikan sebuah Republik Islami yang "mumi, bebas dari korupsi." Sekarang rakyat telah menyaksikan wajah sebenarnya para mullah dan mengerti esensi dan kesyahadatan mereka.

Dalam sebuah artikel bertanggal 9 Februari 1979, Ted Grant menulis: "Tapi ketika mereka telah meme­gang tampuk kekuasaan, kesia-siaan reaksioner dan gagasan-gagasan abad pertengahan berupa penghapusan kepentingan, dengan tidak merubah ba­sis ekonomi masyarakat, akan terbukti mengakibatkan chaos. Dukungan bagi Khomeini akan melumer setelah dia membentuk sebuah pemerintahan."(1) Dua dekade kemudian, rakyat Iran tidak diragukan lagi telah letih dengan rezim monster mullah. Lord Acton pemah berkata:"Kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan absolut akan korup secara absolut." Kita telah melihat di Iran bahwa kombinasi kekuasaan absolut dengan kekayaan yang berlebihan membawa rezim Shah kepada akhir yang terjal. Sekarang nasib yang sama menunggu rezim para Ayatullah. Setiap birokrasi cenderung korupsi, dan apa yang ada dalam tubuh mullah juga tidak terkecuali. Dulu Frederick Engels menyatakan bahwa, dalam masyarakat apapun dimana seni sains dan pemerintahan hanyalah monopoli dari satu minoritas, maka minoritas itu akan selalu menyalah­gunakan posisinya untuk keuntungan pribadi.

Basis Iran, dalam sistem negara Islam, adalah Velayat-e-Faqili atau Peraturan dari Ahli Hukum Agama. Khomeini sendiri, tentu saja, dalam sepanjang hidupnya memiliki otoritas absolut terhadap badan-badan vital negara. Sebagai Pemimpin Tertinggi, ia merupakan panglima tertinggi angkatan bersenjata, kepala per­tahanan dan keamanan nasional dan lembaga peradilan. Beliau yang memutuskan segala macam masalah dalam negeri dan luar negen. Tidak ada keputusan penting yang diambil tanpa persetujuannya. Dengan demikian, merupakan suatu kewajiban dan hak prerogatif Pemimpin Tertinggi untuk mengawasi segala bentuk aksi politik dan memastikan bahwa mereka tidak bertentangan dengan Islam. Dia memegang kekuatan demikian besar dengan asumsi bahwa dia adalah eksekutor kehendak Tuhan di atas bumi.

Di atas kertas, tentu saja, segala sesuatunya tampak demokratis. Ayatullah Ali Khamenei sekarang adalah Pemimpin Tertinggi Negara Islam dan juga berfungsi sebagai Kepala Negara dan Panglima Ter­tinggi Angkatan Bersenjata. Khatami yang "reformer" adalah presiden (kepala pemerintahan) dan 270 anggota majelis membuat dan mensahkan undang-undang. Akan tetapi segala legislasi yang disahkan oleh majelis ditinjau ulang akan adanya ketaatan terhadap "prinsip-prinsip Islam dan konstitusi" oleh Dewan Penjaga Konstitusi yang terdiri dari enam anggota ulama yang ditunjuk oleh Pemimpin Tertinggi dan enam juri yang ditunjuk oleh kepala Mahkamah Agung dan disetujui oleh Majelis.

Pemilu tanpa partai yang diadakan pada bulan Juni 1988 menghasilkan sebuah pengelompokan kembali faksi-faksi dengan jelas, yang sebenarnya merupakan buah hasil dari tekanan terus-menerus dan rakyat yang menentang perang dan pelambatan ekonomi. Perpecahan di jajaran kaum mullah menjadi semakin jelas dalam pemilu bulan Februari 1997 untuk memilih anggota majehs kelima. Seorang kandidat konservatif kolot diharapkan menang dengan mudah, tetapi rakyat Iran, terutama mereka para pemuda dan frustasi, memutuskan sebaliknya. Sejumlah besar massa buruh, pemuda, wanita dan intelektual memberikan suaranya untuk sang "reformis," Khatami. Kemenangan besar Khatami adalah sebuah indikator jelas bahwa mavoritas populasi telah letih dengan penindasan rezim mullah.

Mereka memilih Khatami dengan harapan bahwa dia akan membangkitkan perubahan politik, sosial dan ekonomi. Akan tetapi, janji-janji Khatami berupa kebebasan politik, kesejahteraan ekonomi dan diberantasnya pengangguran hanyalah tidak jauh dari demagogi. Betapapun juga, sebagai akibat dari demagogi Khatami, rezim mullah terbelah lebih hebat dari yang sudah-sudah. Terdapat perpecahan yang semakin meningkat antara dua sayap; reformis dengan konservatif. Masing-masing sayap bersumpah setia terhadap "prinsip fundamental Islam" dan masing­-masing mengklaim sebagai pewaris sejati Ayatullah Khomeini. Akan tetapi dalam usaha untuk mem­pertahankan kepentingan politik dan ekonomi mereka, masing-masing menawarkan sebuah interpretasi yang kontradiktif terhadap warisan ini, dan bertikai satu sama lain dengan tongkat dan kayu sembari meneriakkan sumpah setia sejati pada prinsip-prinsip yang sama!

Bagaimana seseorang bisa menganggapnya masuk akal terhadap kontradiksi yang begitu menonjol ini? Hanya metode ilmiah berupa matenalisme histories yang bisa memberi jawaban kepada kita. Gagasan­-gagasan agamis, seperti yang sering ditandaskan oleh Marx, tidak jatuh dari langit begitu saja. Mereka tidak memiliki sebuah jiwa yang independen dan masyarakat. Dengan kata lain: kapanpun sebuah gagasan dike­mukakan (sekalipun itu gagasan yang tidak benar ataupun tidak ilmiah) dan memperoleh dukungan rakyat, maka kita bisa memastikan bahwa ide ini merefleksikan kepentingan material dari sebuah kelom­pok atau kelas tertentu dalam masyarakat. Bergelom­bangnya tekanan dan masyarakat-lah yang memecah belah tatanan religius di tingkat atas. Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh De Tocqueville, gerakan yang paling berbahaya bagi sebuah pemerintahan yang buruk sesungguhnya adalah ketika gerakan itu merancang reformasi. Media massa, yang relatif bebas di bawah pemerintahan baru ini, telah menjadi ajang pertempuran utama dalam perang antar dua faksi tersebut. Kebanyak­an suratkabar yang telah lahir di tahun sebelumnya berada di pihak sayap reformis. Perang antara dua sayap ini mencapai klimaks tatkala jurnalis-jurnalis pro-­reformis menghempaskan segala sesuatu dan setiap orang dari dinas intelejen, mantan presiden hingga Imam Ayatullah senior. Mereka memetik kemenangan besar ketika mereka berhasil memaksa kementrian intelejen rahasia untuk mengakui keterlibatannya dengan perin­tah membunuhi para pembangkang politik dan in­telektual. Akan tetapi hal ini merupakan sinyal bagi serangan habis-habisan terhadap pers oleh kaum mullah konservatif.

Senjata provokasi dengan bebas dipergunakan oleh kaum reaksioner dalam kampanye mereka menentang para reformis. Serangan bom penodik yang jelas -jelas ditujukan kepada kementrian urusan intelejen, digunakan untuk meminjam dukungan terhadap tuduhan kelompok garis keras, bahwa kebijakan Khatami akan membawa negeri ini menuju ke keadaan chaos. Pada tanggal 20 April 2000, Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, memberikan lampu hijau bagi kelompok berhaluan keras. Beberapa suratkabar reformis dia katakan telah menjadi markas musuh. Pada hari benkutnya, para mullah garis keras memerintahkan Pasdaran untuk menyegel rumah-rumah dan kantor-kantor jumalis yang kritis. Mereka ditahan dan disiksa. Pada akhir minggu, enam belas suratkabar dan jumal telah dibredel oleh lembaga yudikatif garis keras. Surat kabar seperti Soh-1 Emrouz, Fath, Khordad, Anja, Neshat, Asri-l-A Zadegan semuanya menjadi korban pembersihan. Beberapa orang wartawan terkemuka seperh Akbar Gangi clan Shamsolvaezin harus men­dekam di penjara. Mereka dituduh merusak nama baik Islam dan elemen-elemen religius dalam revolusi Islam.

Pertarungan antara kaum mullah memanas semakin jauh setelah pemilu 18 Februari, dimana kandidat pro-reformasi mendapatkan mayoritas kursi dalam majelis yang beranggotakan 290 orang. Sementara pertikaian terus berlangsung. Khatami, pemimpin kelompok sayap reformis, masih tetap bersembunyi di belakang layar. Dia menyampaikan sebuah pidato keras, berisi seruannya bahwa reformasi masih akan terus berlanjut. Akan tetapi sebagai akibatnya dia mengun­dang sebuah aksi pembinasaan. Tindakan pengecut dan para pemimpin reformis ini semata hanya akan mendorong kaum reaksioner. Kelemahan selalu mengundang agresi. Kelompok bergaris keras baru-baru ini mengadakan sebuah rapat memetakan sebuah strategi untuk mendepaknya dan kantor.(2)

Enam reformis diajukan ke pengadilan, dituduh melakukan tindakan menentang negara. Dari keenam orang tersebut, empat di antaranya dikenai tuduhan menghadiri sebuah seminar di Berlin. Para mullah berhaluan keras mengklaim bahwa seminar tersebut diorganisir oleh CIA untuk menyerang sistem Islam. Di sisi lain, kelompok garis keras di Universitas Teheran memprotes reformasi yang dijalankan oleh Presiden Khatami, mereka menuntut bahwa: "Para penyokong reformasi gaya Amerika supaya dibawa ke pengadilan." Seorang wakil parlemen yang telah pensiun menuduh Khatami membantu musuh rezim ini dengan "retori­kanya yang samar-samar". Serangan terhadap presiden adalah, dengan sendirinya, sebuah peringatan serius bagi seluruh reformer. Kaum reformis bukanlah sebuah entitas yang koheren. Mereka mengikuti pemilu sebagai bagian dan sebuah koalisi eklektik (atau di sini biasanya diistilahkan dengan koalisi pelangi-penerjemah) dan 18 partai politik dan kelompok dengan strategi dan taktik yang berbeda. Perbedaan antara mereka akan segera mengemuka setelah serangan dari kelompok garis keras terhadap para wartawan pro-reformasi. Mereka mulai saling mengkritik. Gangi dikritik oleh para sekutunya karena "melangkah terlalu jauh", melewati apa yang disebut orang Iran "garis merah," yang bisa dikatakan, batas dari kemerdekaan berekspresi adalah bahwa kedua belah pihak diam-diam memahami tetapi tidak pemah dipetakan.(3)

Dengan demikian, "perang" antara dua faksi pada tingkat alas berkurang menjadi hanya berupa tinju dengan lawan bayangan (shadow-boxing). Akan tetapi di jalanan, hal itu merupakan masalah lain. Perpecahan di tingkat atas telah membuka pagar pelindung dan keti­dakpuasan rakyat yang terkendali. Membuka jalan bagi gerakan arus bawah. Sekali lagi hal itu menarik maha­siswa untuk turun ke jalan. Ribuan mahasiswa berarak di luar Universitas Teheran dan berkumpul di luar kampus, memprotes dan meneriakkan slogan-slogan menentang pemerintah. Para mahasiswa Akademi Teknik Teheran melakukan demonstrasi menentang pembredelan suratkabar, memegangi plakat-plakat, yang bertuliskan kata-kata ancaman: "Membisunya rakyat bukanlah tanda persetujuan mereka."

Setelah itu, ribuan mahasiswa memadati audi­torium di kampus utama Universitas Teheran dalam solidaritasnya terhadap gerakan unjuk rasa. Ribuan mahasiswa di kota-kota lain -Yazd, Arak, Mashad dan liam-memboikot perkuliahan. Ketakutan di masa lalu terhadap rezim itu telah menurun hingga ke titik dimana para mahasiswa merasa mampu untuk menantang kekuatan negara. Ini merupakan titik awal bagi peristiwa-peristlwa besar, seperti demonstrasi anti-pemerintah di musim panas 1999 yang meluber hingga menuju pergolakan revolusioner terbesar semenjak revolusi Februari 1979.

Kedua sayap mullah tersebut hidup dalam kengerian akan revolusi. Perbedaan mereka satu­satunya terletak pada jalan terbaik untuk mencegahnya: dengan represi atau konsesi. Akan tetapi, gerakan rakyat membuat mereka tersatukan, mereka mencoba untuk mengendalikan konflik dengan berkompromi tentang langkah reformasi terbatas. Akan tetapi sekarang jin telah keluar dari botolnya. Massa tidak akan dengan mudah dipuaskan oleh reformasi parsial yang tidak merubah apapun yang bersifat esensial. Kompromi apapun yang tetap membiarkan rezim tersebut tak tersentuh tidak akan berlangsung lama. Mereka melakukan reformasi atau tidak, gerakan revolusioner tetap akan berlangsung. Peristiwa-peristiwa di Iran itu mirip dengan situasi pada tahun 1977. Letupan dan para mahasiswa-barometer paling sensitif dari tekanan yang menggunung dalam masyarakat-adalah sebuah peringatan akan datangnya sebuah letusan hebat. Janji berupa kebebasan pers dan reformasi demokratis lain­nya dikeluarkan untuk membujuk mahasiswa dan rakyat lainnya yang jenuh dengan pemerintahan para mullah supaya mendukung Khatami dan mendu­kungnya agar terpilih menjadi presiden di tahun 1997.

Bagaimanapun juga, tujuan Khatami bukanlah untuk menggulingkan rezim ini, dia hanya ingin melakukan tekanan terhadap garis keras untuk bergeser dan memberikan ruang bagi dirinya beserta faksinya. Khatami sangat cemas dengan meningkatnya kekecewa­an masyarakat terutama para pemuda, dia telah menda­pat pelajaran dari kerusuhan di bulan Juli. Seruannya secara konstan terhadap para mullah haluan keras tentang bahaya dari kerusuhan baru adalah sebuah usaha untuk bersandar pada gerakan rakyat dalam rangka mendapatkan konsesi. Namun sebenarnya, kedua sayap mencoba untuk menggunakan keduduk­annya untuk mencegah kelahiran revolusi.

Gerakan 8 Juli adalah sebuah gejolak heroik yang mengagumkan, yang menunjukkan sekali lagi, betapa besar energi rakyat khususnya para pemuda, serta menunjukkan pembusukan sistem fundamentalis. Proses ini dianalisa pada waktu itu dalam buku The First Shotts of the Iranian Revolution karya Alan Woods, yang secara jelas memaparkan bahwa kolapsnya otoritas kaum mullah dan kebangkitan kembali massa, memberikan persiapan landasan bagi sebuah situasi revolusioner. Pada waktu itu dia menulis:

"Peristiwa yang terjadi di Iran mirip situasi yang terjadi dalam ketsaran Rusia pada Musim Semi 1905. Kerusuhan merebak pada 8 Juli 1999, setelah para maha­siswa berunjuk rasa menentang pengesahan undang­undang pengendalian kebebasan pers dan pembredelan sebuah suratkabar kekiri-kinan yang populer. Pihak keamanan mengejutkan sebuah pondok mahasiswa di Universitas Teheran sore itu, memukuli mahasiswa dan melemparkan mereka keluar jendela. Kelihatannya munglun sekah mtensi dari sayap reaksioner renm, dikepalai oleh Ali Khmenei, ingin memprovokasi maha­siswa untuk bereaksi, dan kemudian mereka bisa menghancurkannya. Dengan cara im mereka berharap bisa mengeliminir pengaruh Presiden Muhammad Khatami yang "moderat".

"Bagaimanapun juga, peristiwa-perishwa tidak berlalan sesuai dengan rencana. Serangan barbar memprovokasi sebuah reaksi masif yang sangat mengejutkan kaum mullah. Puluhan ribu mahasiswa demonstran berhkai dengan polisi anti huru-hara di Teheran selama demonstrasi masa pertama lima hari sejak Revolusi 1979.'Demonstrasi tersebut,' jelas Stratfor, 'dimulai sebagai unjuk rasa kecil, damai yang menye­nukan diberikannya kebebasan pets setelah penutupan beberapa suratkabar liberal tanggal 8 Juli. Mereka kemudian berubah menjadi kerusuhan yang menyebar­luas, setelah polisi anti huru-hara, yang dikirim untuk membubarkan demonstrasi-demonstrasi ini, melukai belasan orang mahasiswa dan menangkap belasan demonstran lainnya. Hingga tengah hari, jumlah demonstran di area ini melampaui 50.000 orang. Para pedagang di sepanjang rute yang dilewati menutup toko mereka dan bergabung dengan para demonstran. Demonstran menyerang mobil patroli dari Korps Keamanan Negara, yang para agennya pertama-tama menembakkan senjatanya ke udara dan kemudian memuntahkan pelurunya ke kerumunan massa. Para biang korupsi dipaksa untuk melarikan diri. Kendaraan-­kendaraan pemerintah yang diparkir di area tersebut clan di sepanjang rute arak-arakan dibakar oleh rakyat. Demonstran yang marah menyerang bank Sepah dan Saderat di perempatan Vali-Asr. Mullah yang lari ke arah demonstrasi melemparkan sorban clan jubah mereka kemudian melankan din. Kerumunan dari berbagai macam orang mencapai jumlah 100 ribu orang di ibuko­ta melakukan demonstrasi dan duduk-duduk.

"Semula, mahasiswa membatasi diri mereka pada batasan tuntutan akan kebebasan pers sejalan dengan tujuan terbatas dari ulama sayap liberal. Tetapi begitu turun di jalanan, gerakan ini dengan cepat mendapat momentum dan jiwanya sendiri. Mahasiswa mulai merasakan kekuatan mereka sendiri dan tuntutan mereka semakin mengeras dan kian meluas Dalam menyerukan demokrasi penuh, mereka menuntut penghapusan radikal terhadap rezim yang ada. Akan tetapi hal ini hanya bisa direngkuh dengan sarana revolusioner. Hal ini sama sekali bukan intensi dan Kha­tami dan yang disebut sebagai reforman, yang dengan cepat mengalami ketakutan dan berbalik menjadi memusuhi para mahasiswa. Hal ini sepenuhnya logis. Perbedaan apapun bisa memisahkan klik rival, yang bertarung memperebutkan kekuasaan pada masyarakat tingkat atas, ketakutan mereka terhadap massa semakin menyatukan mereka.

Gerakan mahasiswa tersebut dengan cepat menggema di kalangan masyarakat umum. Rakyat awam Iran bergabung dengan jajaran mahasiswa, dan protes tersebut telah menyebar ke Tabriz, dimana se­orang mahasiswa dibantai pihak keamanan pada akhir minggu dan menyebar ke Yazd, Khorramabad, Hama­dan dan Sharud. Potensi gerakan revolusi segenap rakyat Iran dengan cepat membayang.

Dalam usaha untuk menghentikan gerakan, Gubernur Teheran telah mengumumkan sebuah larangan resmi atas segala bentuk demonstrasi. Dengan mengabaikan larangan tersebut tanpa rasa takut, para mahasiswa turun ke jalan dan berhadapan dengan beberapa ribu milisi Islam, (diperkirakan oleh beberapa sumber lebih dari 50 ribu orang) yang sebagian besar dari mereka diangkut ke Teheran dari kota-kota lain semalam sebelumnya. Pada hari itu, Teheran lebih menyerupai sebuah kamp tentara dengan sejumlah besar LEF dan korps Intelejensi Kementrian yang menduduki pusat kota, dengan helikopter-helikopter yang mengitari di atasnya, mengeluarkan seruan dari loudspeaker agar 'tetap tenang dan mematuhi hukum,' seruan yang tenggelam dalam suara letusan senjata api yang ditem­bakkan ke udara serta bahan peledak yang digunakan untuk menakut-nakuti serta membubarkan para demonstran.

"Pada tengah hari," tulis Safa Haeri, "Ibukota Iran terlihat seperti kota pendudukan, terkoyak oleh pe­rang, manakala tentara Anshar dan dinas keamanan melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang, mobil pribadi dan taksi-taksi yang lewat. Demonstrasi terpecah dan pertempuran terjadi secara sporadis, tetapi dimana-mana para pengunjuk rasa menyerang bank, membakar dua bis dan beberapa bangunan pemerintah, mencoba untuk untuk menduduki kantor-kantor harian Keyhan clan Jomhouri Eslami yang mereka benci, bekas corong suara Kementrian Intelejensi dan sedangkan yang kedua merupakan penyambung lidah Ayatullah Khamenei, pendiri pertama, pemiLk clan editor kedua harian ter­sebut."

Kalimat berikut sangatlah penting. Penulis me­lanjutkan: "Anehnya, para penjaga toko yang tersebar di sentra bazaar, yang secara tradisional merupakan penganut konservatif, menutup toko mereka dan berga­bung dengan para demonstran muda, yang jumlahnya membengkak hingga ribuan, terima kasih kepada rakyat awam golongan laki-laki maupun perempuan."

"Secara tradisional, para pedagang di bazaar adalah benteng pertahanan kaum mullah. Ketika lapisan masyarakat Iran yang paling konservatif telah berga­bung dalam demonstrasi mahasiswa, maka kesim­pulannya tak terhindarkan: rezim ini tinggal meng­hitung hari." (4)

Revolusi dalam sifat paling pokok bukan hanya peristiwa tunggal. Revolusi akan melebar selama bertahun-tahun, seperti yang terjadi di Spanyol tahun 1930-an, ketika revolusi ini dimulai pada tahun 1931, dengan adanya deklarasi Republik, dan berakhir baru pada tahun 1937 dengan kekalahan gerakan May Day yang dilakukan proletariat Barcelona. Di antara dua waktu ini, terdapat beberapa periode pergolakan hebat dan kemajuan revolusioner, tetapi juga terdapat periode kelelahan, kekalahan dan bahkan reaksi. Akan tetapi tendensi umum ada di dalam arah revolusi. Hal yang serupa akan terjadi di Iran. Disamping segala langkah mundur, garis umum yang terjadi sekarang berada dalam kekuasaan. Setiap pukulan yang dilakukan oleh kontra-revolusi hanya akan berakibat merangsang sebuah gejolak revolusioner baru. Rakyat akan belajar dalam sekolah pengalaman yang berharga.

Mereka juga akan mulai memahami sifat sebenarnya dan kaum "reforman". Peran khianat Khatami dalam pergolakan Juli terlihat ketika dia berbicara di televisi nasional, mengatakan bahwa peme­rintah akan menangani huru-hara dengan tangan besi karena telah mengancam keamanan nasional dan kebijakan reformis.(5) Sehari sesudahnya, Khatami menuduh para pemimpin mahasiswa "menyerang pondasi rezim dan ingin menimbulkan ketegangan, dan kekacauan' dalam sebuah pesan yang dikeluarkan sebelah pertemuannya dengan seorang kepala korps keamanan tingkat atas.(6)

Pemimpin tertinggi Iran pada han Jum'at menya­lahkan "tangan tersembunyi" milik Central Intelligence Agency AS atas terjadinya demonstrasi anti-rezim bulan

Juli, mengatakan bahwa Washington mencoba untuk mengulangi kudeta pada tahun 1953 yang mengem­balikan kekuasaan di tangan monarki pro-barat.(7) Setelah meredam ketakutan terhadap gerakan revolu­sioner massa, "reformis" Khatami bersatu dengan garis keras Khomeinei, dan dengan cepat perbuatannya tersingkap di depan mata lapisan masyarakat yang sadar. Tetap "alam sangat membenci kevakuman." Sekali lagi pada pemilu 18 Februari 1999, massa membe­rikan suaranya kepada kaum reformis. Hal ini dimaksudkan sebagai sebuah pukulan terhadap kaum mullah dan para penguasa totaliter mereka. Kaum reformis, dengan adat demagog mereka, mengedepan­kan tuntutan atas kemerdekaan, kebebasan pers dan reformasi. Rakyat yang tidak terdidik secara politik masih berharap bahwa Khatami akan melakukan sebagairnana yang telah dia janjikan. Akan tetapi harap­an temporer ini akan segera menguap ketika rakyat menemukan kata-katanya berlawanan dengan perbuatan. Pemilihan para reforman adalah sebuah tahapan yang tak terhindarkan dalam proses revolusioner pendewasaan rakyat, yang belajar tidak dari buku tetapi hanya dari pengalaman. Dan peng­alaman tersebut bukanlah yang menyenangkan.

Ruang untuk bermanuver bagi pemerintahan reformis sekarang sangatlah terbatas. Kehancuran pasar sebesar $2,1 triliun baru-baru ini adalah sebuah peringatan akan ketidakstabilan ekstrim dalam ekonomi dunia. Pada tingkat tertentu booming yang sekarang terjadi di AS akan berakhir dengan resesi besar di dunia kapitalisme. Hal ini memiliki arti bahwa akan terjadi sebuah deflasi tajam dalam permintaan serta kolapsnya harga minyak yang mengikutinya dan dalam harga bahan mentah lainnya, hal itu akan makin serius memperburuk krisis yang terjadi dalam ekonomi Iran. Haid Sevati, seorang profesor ilmu politik di Universi­tas Teheran, menggambarkan situasi tersebut sebagai berikut: "Ekonomi dalam keadaan yang cukup buruk sehingga membuat rakyat akan berharap pada parlemen ini untuk mengorganisir diri dan menyelesaikan masalah ekonomi. Sejauh ini semuanya adalah masalah politik. Kaum reformis akan memenangkan suara mayoritas. Rakyat akan mulai meminta mereka untuk melakukan pekerjaan serius. Presiden Khatami akan berada dalam posisi yang sulit, dalam pandangan bahwa dia harus benar-benar melaksanakan janji-janji utama yang telah dikumandangkannya. Periode bulan madu telah mulai terkikis."(8)

Alan Woods berkomentar: "Setelah 20 tahun rakyat lelah dengan pemerintahan para mullah. Sebenarnya, Ayatullah Khomeini menjanjikan sebuah rezim Islam yang mumi dan tidak bisa korup, bebas dari segala eksploitasi serta pengaruh yang merusak membahayakan dan Barat. Akan tetapi korupsi adalah kawan sehati dan segala macam bentuk rezim birokratik. Birokrasi kaum mullah pun tidak terkecuali. Justru Iran kini merupakan negara paling korup di muka bumi ini. Para mullah, khususnya lapisan menengah, telah dengan sukarela menjatuhkan diri dalam pencurian, penipuan dan penyuapan dalam skala massal. Melim­pahnya kekayaan para pendukung rezim (yang terbukti tidak bisa menanti pahala kehidupan masa depan di surga) berada dalam keadaan kontras sepenuhnya dengan meningkatnya kemiskinan kaum buruh dan petani. Keadaan kontras antara kaya dan miskin semakin menyakitkan hah karena propanda rezim dengan seruan solidaritas tanpa henti. Kontrasnya kata-kata dengan perbuatan, antara teori dan praktek, menjengkelkan dan memuakkan semua orang jujur dan menciptakan suasana hati umum berupa frustasi dan kemarahan yang terpendam.(9)

"Di masa lalu, kekayaan minyak Iran yang besar menjamin sebuah stabilitas tertentu. Rezim ini mem­berikan konsesi terhadap rakyat dalam bentuk layanan kesehatan, pendidikan dan layanan-layanan lainnya. Tingkat kematian bayi turun dari sebesar 104 per seribu pada pertengahan 70-an menjadi 25 per seribu di pertengahan 90-an. Tingkat harapan hidup pada periode yang sama naik dari 55 tahun menjadi 68 tahun. Ada satu juta mahasiswa dengan pendidikan yang lebih tinggi, 40 persen diantaranya adalah wanita. Akan tetapi jumlah yang tidak proporsional dan kesejahteraan negara ini digunakan untuk memperkaya kaum mullah dan para benalu mereka. Majalah The Economist (18 Februari 1997) melukiskan sikap orang Iran yang terpelajar sebagai berikut:

"Semuanya berjalan sangat baik, kata rakyat Iran yang mengalami ketidakpuasan. Jadi kita sekarang mempunyai jalan raya dan telekomunikasi, pertanian dengan mekanisasi dan sekolah menengah, klinik kesehatan dan keluarga berencana, belum lagi para wanita desa yang bisa mencukupi diri sendiri. Tapi bukankah ini tak lebih dari apa yang seharusnya ada sebagai sebuah negara kaya minyak dengan warisan sejarah; peradaban yang menakjubkan serta elit yang terdidik dengan baik, dan secara geografis bertempat di pusat dalam satu wilayah yang paling strategis di dunia. Kami bukanlah sebuah negara ketiga, sampah yang dibuang, untuk dimajikani oleh orang barat pendatang baru. Kami menginginkan lebih dari itu..."

"Baik kata mereka, bahwa rezim ini menyita sebagian besar kekayaan kroni-kroni lama Shah, tetapi sebuah kelas kaya baru sama serakah dan korupnya dengan aristokrat yang lama. Pendapatan yang sebe­namya telah dipangkas dengan biadab, khususnya bagi klas menengah yang menghilang. Dengan gaji seorang guru yang hampir tidak mencukupi untuk menyewa sebuah kamar, hidup dari han ke hari mengandalkan sambilan yang penuh resiko.

"Rata-rata gaji yang dibawa pulang tidak cukup untuk membiaya makan keluarga umumnya, dan sebagian besar orang dipaksa untuk bekerja pada lebih dari satu pekerjaan agar terpenuhi kebutuhannya. Sering seorang lelaki harus mengambil dua atau tiga pekerjaan tambahan untuk bertahan hidup. Seorang dosen uni­versitas mendapatkan 500 ribu real ($110 pada nilai tukar resmi) akan tetapi harus melakukan beberapa kuliah tambahan atau riset. Seorang purnawirawan jendral angkatan bersenjata mengantongi 170 ribu real perbulan. Gaji seorang guru sekolah menengah berkisar dari 120 nbu real (kira-kira $25), itu cukup menyedihkan. Bagaimana seseorang bisa hidup dari gaji-gaji ini? Sedangkan inflasi tahunan mencapai 27 persen.

"Krisis kapitalisme dunia merefleksikan diri dalam keterpurukan harga minyak dan komoditas lain tahun lalu. Meskipun harga minyak sejak saat itu naik hingga 80 persen (untuk berapa lama, itu masalah lain) hat itu menyebabkan masalah yang serius bagi seluruh negara-negara penghasil minyak. Ekonomi Iran seka­rang berada di ujung tanduk, dengan tingkat inflasi dan pengangguran tinggi, serta kepercayaan investor yang rendah. Utang luar negeri yang dibenci ada pada kisaran $25 milyar pada tahun 1997. Delapan puluh enam persen GDP Iran berasal dari sektor negara dan sebagian besar sisanya berada di tangan para mafia. Bau busuk korupsi menggantungi segenap kehidupan ekonomi negara ini. "Sebagai tambahan, ada kenaikan tajam dalam hal kriminal, kehadaan rasa aman pnbadi dan banyak kebe­basan. Sifat rezim yang opresif diwujudkan dalam ribu­an macam cara. Mereka yang ingin menjadi mahasiswa atau guru akan diinterograsi untuk mengetahui apakah mereka berikut sekeluarga menaruh respek terhadap nilai-nilai Islam. Sistem ini sangat memberatkan perempuan. Mahasiswa wanita bisa dikeluarkan jika dia diketahui tertawa-tawa dengan seorang lelaki yang bukan muhrim. Hal ini dianggap menyimbolkan un­dangan sensual untuk melakukan dosa! Rezim mullah yang sesak nafas ini ikut campur dalam segala aspek kehidupan, besar dan kecil, yang akhimya menjadi hal buruk bagi dirinya sendiri. Akan tetapi ketika setiap orang menyadari bahwa ulama-ulama ini korup dan berurat akar hingga ke tulang sumsum, maka hal itu akan menjadi tidak bisa ditolerir sama sekali.

"Ini bukanlah apa yang dijadikan alasan rakyat untuk berperang dan mati di tahun 1979. Kekecewaan para mahasiswa dikomentari pada dua tahun lampau dalam sebuah Iaporan khusus dalam The Economist (18 Februari 1997).

"Pada tahun pertama masuk kuliah, kata seorang dosen, separuh dan mahasiswa siap menyerahkan hidup demi revolusi. Pada tahun kedua, mereka memi­liki keraguan, pada tahun ketiga, mereka kritis dengan halus, pada tahun keempat, mereka sepenuhnya men­dukung oposisi.

"Enam puluh lima persen rakyat Iran berumur di bawah 25 tahun, dan mereka tahu sedikit tentang revolusi dan perang delapan tahun Iran melawan lrak. Dalam kesia-sian, rezim ini berusaha menarik semangat perang dan mati syahid. Waktu untuk pidato-pidato semacam itu telah lama berlalu. Para pemuda Iran tldak lagi mentolerir retorika dan pidato-pidato kosong. Mere­ka mendambakan pekerjaan dan kebebasan. Kemudaan lapisan masyarakat baru ini, datang masih segar ke dalam perjuangan, tidak terbebani dengan harga mati rutinitas dan tradisi, hal inilah yang memberikan gerakan tersebut bentangan dan elan yang luar biasa. Di atas segalanya, mahasiswa-mahasiswa ini merasakan bahwa mereka tidak bersama dengan, tetapi berbicara dengan nama rakyat Juli. Rakyat hidup dalam kepedihan! "Ulama berlagak seperti Tuhan" adalah salah satu slogan yang diteriakkan oleh segenap mahasiswa bersama-sama pada demonstrasi bulan Juni.

Pada revolusi 1979, kelas pekerja adalah tulang pung­gung gerakan revolusioner menentang rezim Shah. Aksi mogok skala nasional yang dilakukan para buruh menghasilkan pukulan paling telak terhadap rezim Shah. Shura kaum buruh membangkitkan gelombang pemogokan berkelanjutan setelah pertengahan 1975. Periode revolusioner 1979 mendatangkan pengalaman paling berharga bagi kaum buruh. Intervensi langsung mereka dalam arena potitik merupakan elemen yang menentukan dalam keseluruhan perimbangan. Warisan revolusi 1979 merupakan sebuah tonggak sejarah bagi kaum buruh di masa kini, sebuah menara mercusuar sejati dan sebuah poin referensi dalam perjuangan menentang kapitalisme dunia.

Perjuangan kaum pekerja bukan hanya menen­tukan dalam melawan rezim fundamentalis yang membusuk di Teheran. Hal itu juga memiliki signifikansi umum bagi gerakan revolusioner di seluruh penjuru Timur Tengah. Pekerja minyak khususnya, dengan kekuatan potensial kolosal mereka, akan menjadi penggali lubang kubur bagi imperialisme dan dominasi perusahaan multinasional semacam Exxon, Mobil dan Conoco. Perusahaan multinasional ini mengeruk keun­tungan bertrilyun-trilyun, disaat masa rakyat Iran dan negara-negara lain di Timur Tengah hidup berkubang dalam kemiskinan. Satu kontradiksi yang mencolok mata cepat atau lambat harus dipecahkan dengan cara-­cara revolusioner. Dan hanya proletariat yang mampu melakukannya.

Kelas buruh tidaklah pemah sekuat ini. Menurut statistika resmi Iran, pada tahun 1989, junilah total buruh dalam industri mencapai 2,5 juta, 65 persen dari kaum pekerja ini berada di industri skala besar: kurang lebih 70 ribu di sektor minyak dan gas, 45 ribu dalam perusahaan kelistrikan,155 ribu di sektor industri metal, 133 ribu di sektor pertekstilan, 82 ribu dalam bidang konstruksi, 70 ribu dalam industri makanan, hampir 40 ribu dalam industri otomotif, 40 ribu di perusahaan kimia dan 25 ribu dalam industri kertas. Kira-kira 35 ribu hingga 40 ribu orang bekerja di industri militer.(10) Sekitar satu juta perempuan juga dipekerjakan dalam industri. Di bawah pemerintahan kaum fundamentalis, wanitalah yang paling menderita di antara pihak lain dalam masyarakat, khususnya wanita kelas buruh. Mereka tidak memiliki hak maternitas dan diwajibkan untuk bekerja hingga hari terakhir kehamilan. Buruh wanita memainkan peranan penting dalam perjuangan untuk menggulingkan rezim Shah.

Selama masa kontra-revolusi, gerombolan teroris proletar tak terpelajar, Pasdaran bentukan Khomeini, menghancurkan shura di pabrik-pabrik. Setelah sebuah kekalahan habis-habisan seperti itu, kelas buruh secara natural tergoncang dan mengalami demoralisasi selama beberapa saat. Akan tetapi, dalam waktu dua tahun kelas ini bangkit sekali lagi, menuntut hak-hak serikat, kenaikan upah, pemendekan jam kerja serta menentang undang-undang perburuhan baru. Di tahun 1983 sudah terjadi delapan pemboikotan besar yang terjadi di bulan­-bulan yang berbeda, dengan partisipasi dari lebih 15.000 pekerja. Dan tahun 1984 hingga Januari 1990, 62 pemogokan raya dilakukan oleh lebih dari 142.800 buruh yang berpartisipasi. Pada bulan Mei 1990, buruh pengilangan minyak Isfahan menuntut upah dobel untuk kerja lembur. Meskipun 30 orang ditangkapi dan tekanan hebat dilancarkan, para pekerja meneruskan pemogokan selama dua nunggu dan bersikukuh meminta pelepasan para pemboikot yang ditahan serta janji dari pemerintah bahwa mereka akan menaikkan upah. Seorang delegasi dari pemerintah mengunjungi tambang itu untuk menjernihkan situasi. Para buruh menjelaskan kepada delegasi tersebut bahwa: "Tidak ada gunanya untuk mengatakan tuntutan kami kepada anda, sedangkan kami tidak memiliki hak untuk berorganisasi di lantai toko."

Pada tanggal 27 Januari 1991, para pekerja minyak melakukan boikot persis seperti yang telah mereka lakukan setahun sebelumnya, untuk kenaikan gaji dan sejumlah tuntutan kesejahteraan lainnya. Pemogokan dimulai di kilang minyak Isfahan Abadan dengan aksi mogok makan dan dalam beberapa hari hal itu menjalar ke pengilangan Teheran dan Shiraz. Tuntutan mereka terdin dari:

1. Kenaikan gaji sesuai dengan tingkat inflasi.

2. Klarifikasi dan penjernihan posisi ribuan pegawai yang tak terlindungi oleh undang-­undang perburuhan.

3. Implementasi skema klasifikasi pekerjaan.

4. Penyediaan sarana perumahan dan peningkatan subsidi/tunjangan perumahan.

Dalam minggu kedua pemogokan, 8 Februari 1991, seorang perwakilan Kementrian Tenaga Kerja mengunjungi pabrik kilang minyak Teheran dan meminta para pemogok untuk mengakhiri aksi boikot mereka dan memilih delegasi, untuk memungkinkan pemerintah dan penguasa merundingkan tuntutan mereka. Para buruh menolak dan meminta bertemu dengan Menteri Perminyakan. Dua hari kemudian per­wakilan dan Kementrian Informasi (Keamanan) di Te­heran, memandang berlangsungnya krisis di wilayah Teluk, mengancam para pemboikot dengan mengatakan jika mereka tidak mau mengakhiri pemogokan mereka, maka pihak keamanan akan bertindak. Sekali lagi para buruh masih, berjuang untuk kepentingan mereka, dokonfrontasi oleh negara. Meskipun demikian, para pemogok memenangkan sebagian besar tuntutannya. Pemogokan ini-pemogokan besar-besaran pertama kali dalam industri migas sejak pemogokan raya 1978 hingga 1979-melibatkan puluhan ribu pekerja minyak.

Pemerintah berhati-hati agar tidak membesarkan hati buruh lainnya untuk mengikuti langkah para buruh minyak. Tetapi mereka tidak mampu mengesampingkan masalah upah yang merupakan tuntutan yang paling hebat dari segenap kelas pekerja di Iran. Pemogokan me­maksa pemerintahan Iran (secara tidak langsung melalui Dewan Buruh Tertinggi) untuk memberikan kenaikan upah setinggi 36 persen melalui persetujuan dewan. Dampak dari aksi boikot dan pentingnya para buruh minyak adalah sesuatu yang membuat Kementrian Perminyakan bahkan tidak akan mengijinkan Masya­rakat Islam-yang dirancang oleh pemerintah di beberapa tempat kerja-untuk didirikan dalam industri minyak: "Presiden pribadi menyadari fakta ini dan memberikan nasihat, dan sudut pandang sensivitas keberadaan organisasi politik dalam tubuh industri minyak, masalah ini akan dipertimbangkan pada waktunya dan langkah-langkah yang tepat akan diambil, dengan memandang kepentingan sistem."

Pada tangga119 dan 20 Agustus 1996, 600 pekerja kilang minyak Teheran, terutama dari unit penyimpanan minyak dan depo gas pusat, menghentikan kerja mereka dan tanpa pemberitahuan sebelumnya, berarak menuju Dewan Perburuhan (lembaga utama Dewan dan Masya­rakat Islam) dimana mereka berunjuk rasa tentang tidak diimplementasikannya persetujuan bersama dan pemberlakuan undang-undang perburuhan. Para buruh penyulingan minyak di Teheran, Tabriz, Shiraz, dan Isfahan menggelar sebuah aksi boikot dua hari pada tanggal 18 dan 19 Desember 1996, menuntut pengakuan pemerintah terhadap perundingan kolektif dan perse­tujuan bersama. Pemogokan dua hari ini diadakan seba­gai akibat dan penolakan pemerintah untuk mengambil tindakan atas sebuah ultimatum sebelumnya yang dikeluarkan pada bulan Agustus oleh para buruh minyak. Buruh pemogok menyatakan bahwa kegagalan Menteri bersangkutan dalam bertindak dan menyetujui tuntutan mereka akan mengakibatkan sebuah pemogokan habis-habisan tanpa batas waktu. Di kilang mi­nyak Tabriz, pemogokan dua hari diikuti dengan penu­runan tekanan selama tiga minggu. Hal ini adalah catat­an perjuangan yang paling impresif, terutama jika kita pikir dengan terbuka bahwa hak untuk melakukan mogok dan berserikat tidak diakui di Iran. Para buruh yang melakukan mogok menghadapi penculikan, penangkapan sewenang-wenang, eksekusi serta pendudukan militer di tempat kerja. Ini menunjukkan bahwa kaum buruh, seperti para mahasiswa, kehilangan ketakutan mereka dan bersiap untuk bertarung melawan semua penentangnya. Fakta ini membangun motor penggerak utama dalam revolusi di Iran.(11) Tanggal 28 Februari tahun yang sama ratusan pekerja berarakan di depan gedung majelis memprotes undang-undang baru yang disahkan oleh pemerintahan Khatami, yang memungkinkan para pengusaha yang memiliki lebih dari lima staff untuk melepaskan jaminan sosial mereka selama periode enam tahun hingga akhir repelita ketiga.(12) Sekali lagi, pada tanggal 8 Maret para buruh memadati halaman depan gedung majelis dalam jumlah nbuan untuk melakukan unjuk rasa menentang undang­undang perburuhan.

Demonstrasi terbesar terjadi pada tanggal l Mei. Inilah indikasi paling jelas bahwa kelas buruh mulai mengadakan mobilisasi. Sejak 1997 mood para buruh telah berubah. Mereka telah melihat batasan janji-janji para reformis dan mengkampanyekan untuk kebebasan polihk dan kultural, kebebasan berbicara dan keadilan sosial. Kaum reformis hanya ingin menggunakan reformasi demokratis sebagai satu jalan untuk memecah­kan cengkeraman kaum garis keras pada negara dan ekonomi. Bagaimanapun juga, peristiwa-peristiwa tidak bekerja sesuai dengan rencana. Trotsky berpendapat bahwa revolusi demokratis harus dilaksanakan dengan segera melalui jalan revolusi Sosialis, atau berakhir dengan kekalahan dan kebinasaan. Rangkaian peristiwa di Iran menunjukkan koreksi besar-besaran terhadap pandangan ini. Satu-satunya jalan untuk mengamankan sebuah rezim demokratis mumi di Iran adalah menyapu bersih segala elemen-elemen keragu-raguan, kepenge­cutan dan setengah hati dan bagi kelas buruh adalah mengambil-alih kekuasaan ke dalam genggamannya. Hanya kaum proletariatlah yang memiliki kehendak dan kekuatan untuk membuat pembersihan tuntas terhadap kekuatan reaksioner. Akan tetapi begitu proletariat memiliki kekuasaan, tidak hanya akan berhenti pada tugas-tugas demokratis, betapi akan meneruskan pada pelenyapan kapitalis dan tuan tanah serta merubahnya ke arah sosialisme.

Massa rakyat tidak hanya mengaspirasikan hak-­hak demokratis tetapi juga standar hidup yang lebih baik. Bagi para pengacara "demokratis" dan politisi pro­fesional, demokrasi adalah sebuah frase yang indah dan sebuah konstitusi kertas. Bagi para buruh dan kaum tani, bagaimanapun juga, demokrasi formal hanya memiliki makna yang tidak seberapa jika hal tidak memiliki arti sebuah perbaikan radikal dalam kondisi material kehidupan kalangan mayoritas. Hal ini tidak hanya membutuhkan penguasaan demokrasi politik tetapi juga penguasaan demokrasi ekonomi-sebuah rezim demokrasi buruh. Demokrasi borjuis di Iran di bawah kondisi modern, dengan krisis kapitalisme dalam skala dunia, tidak akan bisa menyangga dirinya sendiri dalam jangka waktu selama apapun. Hal itu akan berupa sebuah rezim krists yang pasti berakhir dalam sebuah kediktatoran monster baru dan pembudakan rakyat pekerja, bahkan lebih.

Para buruh telah belajar banyak, dan akan lebih banyak lagi belajar dalam perjalanan perjuangan yang semakin maju. Semua elemen bagi revolusi sosialis sudah cukup matang di Iran. Kaum reformis tidak akan pernah bisa memuaskan aspirasi dan kebutuhan kelas pekerja serta para petani. Dalam analisis terakhir, me­reka merupakan perwujudan dari kelas kapitalis dan modal finansial-dan juga imperialisme, yang sedang mencan sekutu di Iran bagi yang bisa mencegah revolusi dan mengembalikan kekuatan dan pengaruh mereka. Reforman kapitalis akan membawa Iran ke dalam cengkeraman imperialis asing. Tetapi, pada kondisi sekarang hanya kehancuranlah yang dihasilkan.

Di Iran jelas kita berada di penghujung sebuah era baru, dan kita lihat kemunculan gerakan sosial menentang sistem kapitalis. Atmosfir di Teheran dalam keadaan panas. Kaum reaksionaris telah melancarkan satu serangan balik yang kejam terhadap para reformis, menuduh mereka memanipulasi pemilihan umum. Bisa saja terjadi para penganut haluan keras membubarkan majelis. Ini serupa dengan situasi pada tahun 1977, ketika protes hak-hak sipil yang dilakukan oleh para penulis, pengacara dan para pembela kebebasan bicara dan kebebasan pers lainnya dilancarkan terhadap Shah. Dalam jangka dua tahun gerakan itu akan bertransformasi menjadi sebuah revolusi. Business Week, dalam komentamya terhadap Iran, menyatakan bahwa kemenangan periode kedua membangkitkan banyak harapan, akan tetapi tidak memberikan apapun dalam hal spesifik.

Tetapi kaum muda telah merasa frustasi. Di Khalkhal, sebuah kota bagian barat daya, demonstran yang marah menyerang kantor-kantor pemerintahan, sebuah sekolah teologi dan rumah-rumah ulama konservatif, setelah pemilu dimana seorang kandidat Parlemen yang reformis ditolak. Di Rasht, sebuah kota utara tengah, para pengunjuk rasa bertikai dengan para polisi, yang menyerang sepasang kekasih yang belum menikah: "Kami mengatakan kepada mereka bahwa hari-hari tirani telah berakhir."(13)

Khatami mewakili sebuah sayap dalam rezim ini yang menengok ke Barat dan kapitalisme untuk mencari solusi. Hal itu cukup didukung oleh Barat yang akan lebih memilih untuk meng-install sebuah rezim demokratis yang lemah dan mudah diperbudak (borjuis) di Teheran, yang lebih mudah terpengaruh daripada rezim yang lama. Gangguan akhir-akhir ini mengejutkan mereka. Orang Amerika ngeri dengan prospek perkem­bangan revolusioner di Iran, yang bisa memililki gema yang kuat di sepanjang penjuru Tlmur Tengah, di Rusia dan bahkan lebih jauh lagi. Iran menduduki sebuah posisi yang strategis di dunia, bukan hanya dari sudut pandang imperialis AS, tetapi juga dari sudut pandang revolusi dunia.

Negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Perancis, ltalia, Swedia, Jerman dan negara barat lainnya dengan tergesa-gesa menyuarakan dukungan mereka dan "simpati" bagi Khatami yang "reformis," dan mengakuinya sebagai taruhan yang terbaik dalam mengupayakan sebuah rezim yang lebih ramah di Te­heran. Akan tetapi gerakan mahasiswa telah meng­gagalkan segala rencana dan perhitungan mereka. Mengerti akan potensi revolusioner gerakan,-yang menghadirkan sebuah bahaya maut terhadap mereka di salah satu daerah terpenting di dunia-mereka buru­-buru menyerukan kepadanya supaya memberikan konsesi dan ”memuaskan” keinginan mahasiswa. Akan tetapi upaya menjungkalkan imperialisme di Teheran sangatlah terbatas sehingga seruan mereka tiada terdengar. Mengerikan, ketika kaum imperialis harus menyaksikan situasi semakin bergejolak di luar kendali. Mereka tidak diragukan lagi menghela nafas lega ketika reaksioner mendapatkan kendali kembali. Akan tetapi mereka sama sekali tidak berkhayal bahwa situasi ini tidak akan berlangsung lama.

Revolusi 1979 yang menakjubkan, memperlihat­kan pada dunia heroisme kelas pekerja Iran. Rezim Shah diperlengkapi dengan sarana represi yang paling mengagumkan. Disokong sepasukan tentara raksasa dan polisi rahasia yang kejam dan efektif, Savak. Beberapa orang mengambil kesimpulan bahwa negara ini terlalu kuat untuk digulingkan dengan aksi revolusioner langsung oleh kaum proletar. Mereka malah memain­kannya dengan mendiskreditkan taktik Maoisme dan gerilya. Hidup itu sendiri-lah yang telah menunjukkan kekeliruan argumen ini. Mesin pemerintahan Shah yang dianggap tak terkalahkan diluluhlantakkan menjadi kepingan begitu kelas buruh mulai bergerak. Revolusi Iran merupakan sebuah revolusi proletarian klasik yang diaborsi oleh kekosongan kepemimpinan dan pembajakan yang dilakukan oleh satu-satunya kelompok yang diorganisir, dideterminir dan tahu apa yang diinginkan-kaum mullah. Dengan demikian, revolusi terbesar pada pertengahan abad ke-20 berakhir dengan sebuah negara teokratis reaksioner. Hal ini adalah aborsi terbesar dalam sejarah revolusi. Dan hal itu sepenuhnya tidak perlu terjadi.

Kaum proletar Iran di tahun 1979 jauh lebih kuat daripada kelas pekerja Rusia di tahun 1917. Mereka dapat dengan mudah mengambil alih kekuasaan ke tangan mereka. Tapi mereka tidak memiliki perangkat yang dibutuhkan dalam bentuk partai dan pemimpin revolusioner yang murni, sebagaimana partai Bolshe­vik di bawah kepemimpinan Lenin dan Trotsky. Para buruh Iran mendirikan shura-shura, yang sebangun dengan soviet-soviet di Rusia tahun 1917-komite yang secara demokratis dipilih, terdiri dari para pekerja, mahasiswa, penjaga toko, petani dan tentara. Yang dibutuhkan adalah menjadikan komite ini berjaringan dalam skala lokal, regional dan nasional, serta memperluasnya dengan mengikutkan perwakilan dari kaum miskin tani, serdadu, wanita, pemuda dan bangsa­bangsa yang tertindas, dan masalah ini akan bisa dipecahkan dengan cepat. Penggulingan Shah bisa mengarah secara langsung pada pendirian kekuasaan pekerja. Akan tetapi apa yang disebut sebagai Partai Komunis, Tudeh, hdak memiliki perspektif untuk mengambilalih kekuasaan. Birokrat Moskow sangat takut dengan prospek revolusi buruh di Iran. Para pemimpin Iran Stalinis dengan buta menjadikan diri mereka sendiri tersubordinir di bawah, yang pertama kaum Liberal dan mereka yang disebut sebagai kaum progresif, dan terutama Khomeini. Maka dalam kenya­taannya, kelas pekerja Iran mendapati dirinya lumpuh dan tidak mampu memainkan sebuah peranan inde­penden. Revolusi tersebut digagalkan dan rakyat Iran memberikannya ke tangan ulama reaksioner.

Akan tetapi sekarang roda telah berputar penuh. Rezim Ayatullah telah habis tenaga dengan sendirinya dan sekarang menghadapi revolusi, sebagaimana yang pernah dialami oleh Shah. Gagasan ini sudah hadir dalam pikiran para mahasiswa yang pada saat ini berada di front terdepan. Signifikansi revolusioner sejati dari gerakan mahasiswa belum hilang di mata para peng­amat yang paling serius di Barat. Gerakan ini telah melampaui batas yang ditentukan oleh para pemimpin "moderat." The Boston Globe Online (7 Desember 1999) berkomentar:

"Telah menjadi suatu bukti bahwa mahasiswa tidak akan mengambil resiko dipukuli dan melayang jiwanya, semata-mata hanya untuk memperlihatkan dukungan bagi reformasi marjinal yang dilakukan oleh presiden terpilih Iran, Muhammad Khatami. Dia telah mengeluarkan sebuah pernyataan, mengatakan bahwa para pengunjuk rasa telah berhasil menyampaikan aspirasi mereka dan "sekarang para mahasiswa harus bekerjasama dengan pemerintah serta membiarkan hukum dan peraturan ditegakkan dalam masyarakat'."

Ini merupakan kegamangan pertama yang mengguncang kesadaran revolusioner. Aksi mahasiswa jauh lebih berkembang daripada pemahaman politik mereka. Akan tetapi di bawah kondisi seperti ini, orang akan belajar dengan cepat. Jenjang kesadaran tertinggal di belakang, tetapi merupakan suatu esensi dari revolusi bahwa kesadaran menyusul realitas dengan cepat. Seluruh generasi pemuda telah memiliki sedikit, atau malah tidak sama sekali, pengetahuan tentang Marx­isme. Titik referensi dasar mereka adalah apa yang disebut sebagai revolusi Islam 1979. Merupakan suatu hal yang natural bahwa beberapa mahasiswa mengambil acuan Islam. Akan tetapi para pengamat serius bisa melihat perbedaan antara bentuk dan isi. Referensi terhadap agama hanyalah "kerangka luar sebuah Bolshevisme yang belum matang." Mahasiswa memban­dingkan teori tentang sebuah republik yang murni dan tidak bisa terkorupsi dengan realitas dari sebuah kediktatoran korup para mullah, yang telah merampok, menipu dan membohongi rakyat Iran selama dua dekade. The Boston Globe meneruskan:

"Slogan-slogan dari para pengunjuk rasa menunjukkan bahwa mereka melewati garis batas seruan reformasi. Ketika para pejabat mencoba untuk membaca sebuah statemen dan pemimpin utama Republik Islam, Ayatullah Ali Khamenei, maka para mahasiswa menenggelamkan pesan-pesan Khamenei, dengan meneriakkkan: "Turunkan diktator itu!" dan "tegakkan Islam dan hukum-hukumnya atau revolusi lagi".

Gerakan para pemuda ini adalah sebuah inspira­si sejati. Akan tetapi, para mahasiswa sendiri tidak akan pemah meraih kejayaan terhadap negara monster kaum mullah. Merupakan suatu hal yang sangat mendesak bahwa mereka harus mengaitkan diri dengan rakyat tertindas-para buruh, kaum tani dan kaum miskin kota-yang semakin tidak berdaya di bawah tangan besi ulama reaksioner. Juga merupakan suatu hal yang penting untuk memperjuangkan emansipasi sosial dan legal yang utuh bagi wanita-bagian masvarakat yang harus menanggung beban paling berat dibawah tirani kaum mullah. Perempuan di Iran ditakdirkan untuk memainkan sebuah peran penting dalam revolusi mendatang. Perkembangan yang sangat penting sudah ada berupa partisipasi yang mengagumkan dari para wanita yang memainkan peranan dalam sidang yang merapatkan perubahan undang-undang, dsb. Akan tetapi hal ini tidak cukup. Penting untuk mengede­pankan sebuah program tuntutan sosial dan ekonomi yang merefleksikan kebutuhan para pekerja dan buruh tani. Pekerjaan untuk semua! Upah yang cukup dan pensiun yang memuaskan! Jam kerja tujuh jam perhari! Sekolah dan rumah sakit yang bagus untuk semua! Pro­gram pembangunan rumah besar-besaran! Rancang produksi sosialis, di bawah kendali demokratis rakyat pekerja!

Agar program ini bisa terlaksana dalam praktek, perlu dirancang komite pekerja yang dipilih secara demokratis. Komite aksi harus dibentuk untuk meng­organisir perjuangan menentang rezim clan meleng­kapinya dengan sebuah ekspresi kesadaran. Mahasiswa dapat memainkan sebuah peran vital dalam hal ini jika mereka mengorganisir pijakan program Marxisme revolusioner dan mengaitkan perjuangan mereka dengan kelas pekerja. Mereka harus menghindari goda­an untuk menggunakan taktik gegabah berupa terorisme individu dan apa yang disebut gerilyaisme, yang telah membuat kebinasaan di masa lalu. Bukan terorisme, melainkan revolusioner terorganisir-lah yang bekerja di pabrik-pabrik, sekolah, di distrik pekerja-hanya itulah satu-satunya jalan untuk bersiap menyambut pertem­puran yang tak terelakkan yang berada di ambang pintu.

Di atas itu semua, penting untuk membentuk organisasi para kader, dididik dalam ide-ide Marxisme-­Leninisme. Dan penting untuk melihat bahwa revolusi Iran hanya bisa berhasil apabila hal itu digoreskan diatas selempang perspektif internasional. Itulah sikap yang selalu diambil oleh Lenin dan partai Bolshevik. Iran menguasai sebuah posisi kunci. Sebuah revolusi di Iran akan mengirimkan gelombang kejutan di segenap penjuru dunia. Kita telah menyaksikan bahwa dalam sebuah cara yang terdistorsi setelah tahun 1979, ketika revolusi Iran-yang sayangnva dibajak dan dikaburkan para ulama reaksioner-memberikan sebuah impuls yang kuat terhadap apa yang disebut sebagai funda­mentalisme Islam dimana-mana. Hal ini menggiring ke jalan buntu, sebagaimana telah kita lihat dengan jelas, bukan hanya di Iran, tetapi juga di Afghanistan, Aljazair dan wilayah-wilayah lain.

Alternatif terhadap imperialisme dan kapitalisme bukanlah fundamentalisme, tetapi revolusi sosial dan internasionalisme proletarian. Revolusi Iran yang kedua akan memiliki sebuah isi dan karakter yang berbeda dari yang pertama. Kaum imperialis boleh melihat hal ini dan berasa gentar terhadapnya. Mereka mengerti bahwa segenap belahan Timur Tengah berada dalam bahaya. Tidak ada satupun rezim borjuis yang stabil di belahan dunia itu. Sebuah revolusi di Iran akan mengakibatkan rezim-rezim yang lemah dan korup ini jatuh seperti pin­-pin terkena pukulan strike bola boling. Satu revolusi sosialis yang berhasil di Iran akan menimbulkan gelombang kejut di segenap penjuru Timur Tengah, di Rusia, di Subkontinen India. Mengoyak rezim reaksioner Taliban ditetangganya Afghanistan. Gaungnya akan menggema hingga terasa di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Dan tidak hanya disana. Contoh sebuah rezim demokrasi pekerja yang sehat di Iran akan memiliki dampak yang bahkan jauh lebih besar terhadap kaum buruh di Eropa, Jepang dan Amerika Serikat daripada yang dimiliki revolusi Rusia tahun 1917. Hal itu dapat merubah arah sejarah dunia. Semuanya tergantung pada kemampuan para pemuka buruh dan mahasiswa Iran untuk menciptakan piranti yang dibutuhkan dalam melaksanakan revolusi hingga tercapai tujuannya.(14)

Hasil dan perjuangan politik di Iran sekarang ini, tidak bisa tidak, terkait dengan aksi kelas buruh yang akan mendeterminir keyakinan masyarakat. Fase disorientasi dan kekecewaan temporer yang merupakan akibat dari pengkhianatan Stalin di tahun 1979-1980, sekarang sudah sampai pada tihk akhir. Sebaliknya, pijar kebahagiaan kaum fundamentalis telah benar-benar menguap. Sekarang kita menjadi saksi dan awal berakhirnya rezim monster yang didirikan oleh sang kontra-revolusioner Khomeini. Kepatuhan, dan penerimaan, terhadap fundamentalisme telah berakhir. Rakyat sekarang memikirkan nasib mereka, berdiskusi dan mencoba untuk menemukan jalan alternatif. Baik fundamentalisme ataupun demokrasi borjuis tidak bisa menawarkan jalan keluar. Satu-satunya jalan yang hanya tersedia bagi rakyat adalah jalan perjuangan bagt emansipasi rakyat pekerja. Ini adalah satu-satunya semboyan yang bisa membakar dan membangkitkan semangat generasi baru, terutama kaum muda, bangsa-­bangsa yang tertindas dan para perempuan, untuk berjuang dan menaklukkan. Masa depan terletak pada kemenangan kaum buruh, revolusi Sosialis yang tidak akan berhenti pada batas wilayah Iran, tetapi akan menyalakan api pembawa kebakaran hebat di seluruh penjuru Timur Tengah dan witayah yang lebih luas. Inilah tugas yang menduduki puncak agenda di fajar abad ke-27.

Catatan

1.    Ted Grant, On the Iranian Revolution, Februari 1979, London.

2.    The Economist, 29 April 2000.

3.    Ibid.

4.    Alan Woods, The First Shots of Iranian Revolution, 17 Juli 1999, London.

5.   The Daily Dawn, 13 Juli 1999.

6. The Gulf News, 14 Juli 1999.

7.    International Herald Tribune, 1 Agustus 1999.

8.    Socialist Appeal, April 2008 isu 78, London.

9.    Alan Woods, The First Shots of the Iranian Revolution.

10.  Iran Radio, November 1989.

11.  Alan Woods, The First Shots of the Iranian Revolution­

12   Kayhan Daily, 28 Februari 2000.

13.  Business Week, 8 Mei 2000.

14.  Alan Woods, The First Shots of the Iranian Revolution.