facebooklogocolour

 

ISIS-kaummudaBeberapa bulan terakhir dunia digemparkan dengan kemunculan gerakan islam radikal yang menamakan dirinya sebagai ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) atau sekarang telah berganti nama menjadi IS (Islamic State). Dunia seolah menempatkan ISIS sebagai musuh seluruh umat manusia. Berbagai siasat dilancarkan untuk menanamkan doktrin kepada masyarakat bahwa ISIS merupakan aliran sesat, yang tidak saja tega memangsa lawannya tetapi juga sadis dalam memangsa kawannya sendiri.

Imperialisme dunia mencoba  menutupi sebab musabab dari munculnya ISIS. Seharusnya yang menjadi pertanyaan adalah mengapa ISIS muncul? Mengapa dalam menjalankan misinya ISIS menjadikan Amerika Serikat dan sekutunya sebagai sasaran teror? Lalu apa yang menjadi dasar alasan ISIS sehingga ia sangat memusuhi AS dan sekutunya?

Beberapa waktu lalu, ketika AS membuat kebijakan untuk mengirimkan armada perangnya dalam peperangan di Irak, ISIS langsung merespons dengan mengunggah sebuah video pemenggalan sadis seorang wartawan asal AS yang dilakukan oleh algojo ISIS. Mayoritas masyarakat dunia mengecam aksi ISIS tersebut. Namun ternyata, di antara mayoritas masyarakat yang mengecam gerakan radikal ISIS masih terdapat beberapa golongan yang malah menjadi simpatisan ISIS.

Fakta yang mengejutkan terungkap. Tidak disangka sebelumnya bahwa banyak simpatisan ISIS adalah kaum muda dari negeri-negeri kapitalis seperti AS, Kanada, Inggris, dsb. Mereka tidak gentar untuk bergabung dengan ISIS, meninggalkan semua kenyamanan mereka untuk ikut berperang di pihak ISIS dalam melawan negaranya sendiri.

Pertanyaan kemudian muncul. Apa yang mendorong kaum muda tersebut untuk bergabung dengan ISIS? Media dunia dengan gencar ingin menggambarkan para anggota ISIS sebagai orang-orang tidak berpendidikan yang berwatak kriminal, yang karena kebodohannya maka rentan menjadi teroris. Tetapi kenyataan berkata lain, bahwa justru tidak sedikit kaum muda yang pintar dan berpendidikan bergabung atau bersimpati pada ISIS. Kaum muda ini, walau hidup dalam kenyamanan relatif di negeri-negeri kapitalis, merasa sangat resah. Mengapa tidak? Ada keresahan umum yang menjangkiti kaum muda di seluruh dunia. Mereka melihat masa depan mereka yang gelap. Mereka menyaksikan kegilaan dan kebusukan masyarakat kapitalis hari ini. Mereka merasa hidup itu hampa dan tanpa tujuan, karena di bawah kapitalisme mereka hanya akan menjadi roda-roda gir kecil yang bekerja untuk profit sang majikan. Mereka merasa terasingkan. Di dalam situasi seperti ini, ISIS menempatkan diri mereka sebagai lawan masyarakat kapitalis dan menyerukan dengan luas bahwa mereka ingin membangun sebuah dunia yang lain, dan dengan radikal melakukannya. Inilah yang lalu menarik selapisan kaum muda ini ke ISIS. 

ISIS sangat membenci negara AS dan sekutunya, mengapa? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah negara-negara tersebut merupakan kekuatan kapitalis besar dunia. AS yang menempatkan dirinya sebagai kekuatan kapitalis besar dunia yang  dengan congkaknya mendengungkan kepada dunia  untuk memerangi negara yang berseberangan dengannya. Inilah alasan ISIS memerangi AS, karena di pandangan ISIS, AS lah yang memiliki peran besar dalam melakukan propaganda perang di Irak hingga muncul perang berkepanjangan di Irak. 

AS sebagai pusat kapitalisme dunia sudah pasti memiliki kekuatan untuk memangsa negara-negara yang berseberangan dengan mereka. Inilah watak kapital sesungguhnya. Dalam hal ini maka ISIS adalah reaksi terhadap kebusukan kapitalisme. Karena ketidakhadiran kepemimpinan revolusioner proletariat maka kebusukan tersebut dimanfaatkan oleh elemen barbarisme seperti ISIS. Kaum muda yang mencari-cari solusi revolusioner tidak menemukan apapun kecuali kekuatan gelap seperti ISIS.

Penting bagi rakyat pekerja untuk tidak memandang ini hanya sebagai perjuangan ISIS dalam mendirikan negara Islam. Lebih dari itu, rakyat pekerja harus mulai sadar bahwa kapitalisme sedang membusuk dan dalam kebusukannya berbagai elemen barbar mencuat. Kapitalisme sudah tidak mampu membawa maju masyarakat, dan justru menariknya mundur. Ada urgensi untuk menumbangkan kapitalisme, dan ISIS adalah ekspresi reaksioner dari urgensi tersebut. Ada urgensi untuk mengobarkan perjuangan kelas: perjuangan antara borjuasi dan proletariat, sebagai satu-satunya jalan untuk menumbangkan sistem penindasan ini dan membangun masa depan sosialis. Ada urgensi untuk membangun kekuatan Marxis yang dapat memberikan solusi revolusioner kepada kaum muda yang resah dan sedang mencari jalan keluar.

Selama kapitalisme berjaya, maka selama itu pula lah akan terus terjadi penindasan. Sepertinya tidak berlebihan jika Karl Marx menggambarkan mengenai kapitalisme, bahwa kapitalisme akan membawa pada kehancuran bersama; yang akan menghasilkan kemiskinan, kelaparan, kerusakan lingkungan dan perang yang akan terus terjadi selama kapitalisme hidup. Namun, situasi seperti inilah yang menciptakan keharusan akan Sosialisme. Disinilah, kemudian, tesis Marxis yang meramalkan bahwa kapitalisme akan menggali kuburnya sendiri mendapat afirmasi ilmiahnya. Marxisme bukanlah ungkapan-ungkapan omong kosong. Marxisme mampu menjelaskan sebab-sebab krisis yang disebabkan oleh kapitalisme dan bagaimana kelas buruh harus merebut kekuasaan politik dari tangan kapitalis. Mengapa harus kelas buruh yang melakukan perlawanan terhadap kapitalis? Hal ini dikarenakan posisi ekonomi dan sosial kelas proletariat: merekalah yang sesungguhnya menciptakan kekayaan dunia lewat kerjanya, dan mereka adalah kelas yang terorganisir.

Dengan berdirinya era kekuasaan di tangan proletariat, maka akan terjadi penghapusan kelas-kelas sosial di masyarakat. Jika masyarakat tidak lagi terbagi-bagi dalam kelas, maka segala bentuk penindasan juga akan turut binasa bersama kapitalisme. Munculnya ISIS – dan berbagai elemen barbar lainnya yang kerap akan terus muncul selama kapitalisme bercokol – adalah seruan kepada kelas proletariat untuk segera tersadar dan mengambil jalan perjuangan kelas untuk segera membebaskan masyarakat dari cengkeraman kapitalisme. Ini bukan hanya tentang ISIS, tapi ini adalah ekspresi kebutuhan akan Revolusi. Ya, Revolusi sosialis yang selama ini keras disuarakan oleh Marx.