facebooklogocolour

Gaung Revolusi Oktober 100 tahun kemudian

womenrussianrevolution960x540Satu abad yang lalusatu peristiwa besar mengguncang dunia. “Kaum buruh dan Bolshevik merebut kekuasaan,” begitu kira-kira tajuk yang menghiasi hampir semua koran di seluruh dunia.

Belajar Revolusi Oktober: Perang Sipil dan Tentara Merah

TrostskyInspeksiREZISEMenyambut 100 tahun Revolusi Rusia, Militan akan menerbitkan seri artikel pendek “Belajar Revolusi Oktober”. Seri ini akan mengupas sejumlah pelajaran yang bisa kita petik dari pengalaman kaum Bolshevik dalam mempersiapkan organisasi yang memungkinkan mereka menumbangkan kapitalisme dan memenangkan revolusi.

Nalar yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern. Tentang Penulis

TENTANG PENULIS

Alan Woods

AW ven 1778392cAlan Woods adalah seorang ahli teori politik Marxis dari Inggris dan editor situs In Defence of Marxism (www.marxist.com), yang merupakan situs organisasi Tendensi Marxis Internasional atau International Marxist Tendency (IMT).Dilahirkan di Swansea pada 1944, Alan Woods mulai aktif di dalam gerakan sejak umur 16 tahun. Pada awal 1970an,dia dan keluarganya pindah ke Spanyol dan melakukan kerja bawah tanah melawan kediktatoran Francisco Franco. Alan Woods menulis banyak analisa politik mengenai Revolusi Venezuela, dan adalah pencetus kampanye Hands Off Venezuela, sebuah kampanye internasional untuk membela Revolusi Venezuela dari serangan fitnah media imperialis dan menyebarkan kebenaran Revolusi tersebut. Pengaruh dari kampanye ini dan juga tulisan-tulisannya – terutama buku“Reform or Revolution” yang mengkritik gagasan ‘Sosialisme Abad ke-21’ – membuatnya dikenal oleh Hugo Chavez dan juga musuh-musuhnya. Dia beberapa kali diundang secara pribadi oleh Hugo Chavez untuk bertemu dan berdiskusi, sementara para musuh Chavez juga sering menyerang Alan Woods. Sejumlah buku lain yang ditulisnya olehnya adalah “Lenin and Trotsky: What They Really Stood For”, “Reason in Revolt: Marxist Philosophy and Modern Science”, dan “Bolshevism: The Road to Revolution”.

Ted Grant (1912-2006)

TG speakingTed Grant adalah teoretikus Marxis di Inggris, dan pendiri serta pemimpin organisasi International Marxist Tendency (IMT). Dilahirkan di Afrika Selatan pada 1912, Ted Grant mulai aktif sebagai Marxis semenjak usia 15 tahun. Pada tahun 1934, Ted Grant memutuskan untuk pindah ke Inggris. Dalam perjalanannya ke Inggris, Ted Grant singgah sebentar di Prancis untuk bertemu dan berdiskusi dengan Lev Sedov, anaknya Leon Trotsky, yang berperan sebagai koordinator kerja Liga Komunis Internasional. Sejak itu Ted Grant aktif dalam membangun organisasi Internasional Keempat di Inggris. Setelah kematian Leon Trotsky pada 1940 di tangan agen rahasia Stalin, Internasional Keempat mengalami kemunduran, dan akhirnya pada 1965 Ted Grant dan kelompoknya dikeluarkan dari apa-yang-tersisa dari Internasional Keempat ini. Ted Grant memutuskan untuk memulai sebuah organisasi Marxis yang baru, walaupun mereka hanya sebuah kelompok yang kecil, tanpa uang, tanpa staf penuh, tanpa koran, tanpa kantor. Dengan hanya berbekal gagasan Marxis, Ted Grant dan segelintir kamerad di sekelilingnya meluncurkan koran Militant, dan sejak itu mereka dikenal dengan nama Tendensi Militant. Militant pada 1980an menjadi organisasi Marxis terbesar di Inggris, yang pada puncaknya memiliki 8000 anggota dan puluhan ribu pendukung dan simpatisan. Militant memiliki tiga anggota yang terpilih menjadi anggota parlemen lewat Partai Buruh, menguasai dewan kota Liverpool, dan memimpin gerakan melawan Margaret Thatcher. Ted Grant tidak pernah lupa bahwa gerakan Marxis haruslah merupakan gerakan internasional. Oleh karenanya, pada 1974 Committee for a Workers Internasional (CWI) dibentuk. Dari hanya segelintir kamerad di Inggris, CWI tumbuh menjadi sebuah organisasi internasional yang besar. Pada 1991, CWI mengalami perpecahan. Faksi Ted Grant lalu membentuk IMT, yang sekarang memiliki seksi di lebih dari 20 negeri. Mengalami jatuh bangun berkali-kali Ted Grant tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti menjadi seorang Marxis sampai akhir hayatnya.

Nalar yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern. Bab 19. Alienasi dan Masa Depan Umat Manusia

Bab 19. Alienasi dan Masa Depan Umat Manusia

Kapitalisme Telah Sampai Pada Jalan Buntu

Pada periode 1948 sampai 1973-4, kita menyaksikan ledakan-ledakan inovasi teknologi dan industri yang belum pernah kita saksikan sebelumnya. Namun, kesuksesan sistem kapitalis itu sekarang sedang menjadi kebalikannya. Ketika buku ini sedang ditulis, ada sekitar 22 juta pengangguran di negara-negara kapitalis maju di OECD, dan ratusan juta pengangguran dan setengah-pengangguran di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Lebih jauh lagi, ini bukanlah siklus pengangguran yang sementara seperti di masa lalu. Ia adalah kanker yang menggerogoti masyarakat. Seperti wabah penyakit mematikan, ia memukul bahkan lapisan masyarakat yang sebelumnya percaya bahwa mereka tidak akan terpengaruh.

Sekalipun terjadi kemajuan-kemajuan yang besar dalam ilmu dan teknologi, masyarakat menemui dirinya berada di bawah kekuatan yang tidak dapat dikendalikannya. Menjelang fajar abad ke-21, orang melihat ke masa depan dengan penuh kekhawatiran. Di mana sebelumnya ada perasaan kepastian, sekarang semuanya menjadi tidak pasti. Keresahan ini pertama-tama mempengaruhi kelas penguasa dan para ahli strateginya, yang semakin hari semakin sadar bahwa sistem mereka berada dalam kesulitan-kesulitan yang parah. Krisis dalam sistem ini menemukan cerminannya dalam krisis ideologi, yang terekspresikan dalam partai-partai politik, gereja-gereja resmi, moralitas, sains, dan bahkan apa yang di masa kini disebut filsafat.

Kepemilikan pribadi dan negara-bangsa adalah dua belenggu yang menghalangi perkembangan masyarakat. Dari sudut pandang objektif, kondisi untuk sosialisme dunia telah hadir selama puluhan tahun. Namun, faktor menentukan yang memungkinkan kapitalisme untuk secara parsial mengatasi kontradiksi-kontradiksi internalnya adalah perkembangan pasar dunia. Setelah 1945, dominasi Amerika Serikat atas seluruh dunia,yang didikte oleh kebutuhan untuk meredam revolusi di Eropa dan Jepang dan untuk memagari Blok Soviet, memberi mereka kesempatan, melalui perjanjian Bretton-Woods dan GATT, untuk memaksa negeri-negeri kapitalis lain untuk menurunkan tarif dan menyingkirkan halangan-halangan lainnya untukmelancarkan aliran pasar bebas.

Ini sangat kontras dengan kekacauan perekonomian pada periode antar perang dunia (1918-1939) ketika intensifikasi persaingan antar bangsa mengekspresikan dirinya lewat kebijakan devaluasi kompetitif dan perang-perang dagang yang menghambat perkembangan kekuatan produktif di dalam batas-batas sempit kepemilikan pribadi dan negara-bangsa. Sebagai akibatnya, periode antar perang dunia ini adalah periode krisis, revolusi dan kontra-revolusi, yang berpuncak pada pembantaian imperialis yang baru di tahun 1939-45.

Di periode pasca perang, kapitalisme secara parsial berhasil mengatasi krisis fundamental sistem mereka melalui integrasi pasar dunia, yang menghasilkan sebuah pasar dunia yang terintegrasi. Ini menyediakan premis dasar bagi pasang-naik perekonomian yang dahsyat pada periode 1948-73, yang, pada gilirannya, membawa peningkatan standar hidup, setidaknya untuk selapisan besar rakyat di negeri-negeri kapitalis maju. Demikianlah, orang yang sekarat kadang-kadang bisa mendapatkan energi yang besar tiba-tiba, yang nampaknya merupakan awal pemulihan, tapi pada kenyataannya hanyalah satu prelude untuk kejatuhan baru yang lebih fatal.

Periode seperti ini bukan hanya sesuatu yang mungkin, tapi niscaya, bahkan dalam epos kemunduran kapitalis, jika tatanan sosial yang ada tidak digulingkan. Akan tetapi, ledakan pertumbuhan ekonomi ini, yang menghasilkan puluhan triliun dolar selama empat dekade, sama sekali tidak mengubah sifat dasar kapitalisme atau menghilangkan kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. Periode panjang pasang-naik ekonomi dari 1948 sampai 1973 kini usai sudah. Tingkat pengangguran rendah, meningkatnya standar hidup dan negara kesejahteraan adalah bagian dari masa lalu. Sekarang kita menghadapi stagnasi ekonomi, resesi dan krisis kekuatan produktif.

Para pemilik modal sudah tidak lagi tertarik untuk menanam modalnya dalam aktivitas produksi. Almarhum Akio Morita, kepala Sony Corporation, berulangkali mengingatkan di tahun 1980-an bahwa sistem kapitalis telah terjerumus ke dalam bahaya dengan kecenderungan untuk bergerak dari industri produktif ke jasa. Sejak 1950-an, Amerika Serikat telah kehilangan lebih dari separuh lapangan kerja di bidang industri manufaktur, sementara tiga perempat dari seluruh lapangan kerja berorientasi ke sektor jasa. Kecenderungan yang sama hadir pula di Inggris, yang kini mengalami degradasi ke divisi tiga dalam liga kompetisi kekuatan kapitalis dunia. Dalam sebuah artikel dalam Director (Februari 1988), Morita menyatakan:

“Apa yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kecenderungan ini, yang sama sekali bukan kemajuan dari sebuah perekonomian yang beranjak dewasa dan bukan merupakan sesuatu yang harus didukung, adalah sesuatu yang destruktif. Karena dalam jangka panjang sebuah perekonomian yang telah kehilangan basis manufakturnya berarti telah kehilangan pusat vitalnya. Sebuah perekonomian yang berbasis jasa tidak memiliki mesin untuk menggerakkannya. Maka, pergeseran dari ekonomi manufaktur ke ekonomi jasa berteknologi tinggi, di mana para pekerja duduk di depan komputer dan saling bertukar informasi sepanjang hari, merupakan sebuah kekeliruan.

“Ini karena hanyalah manufaktur yang menghasilkan sesuatu yang baru, yang mengambil bahan mentah dan mengubahnya menjadi produk yang memiliki nilai yang lebih tinggi dari bahan mentah dari mana produk itu berasal. Sangat jelas bahwa unsur-unsur jasa dari sebuah ekonomi merupakan turunan dan bergantung pada sektor manufaktur.”

Bukannya menciptakan pekerjaan dan meningkatkan kekayaan masyarakat, perusahaan-perusahaan monopoli besar mengalihkan sumber dayanya untuk spekulasi di pasar uang, mengorganisir pencaplokan perusahaan-perusahaan, dan segala macam aktivitas parasitik lainnya. Morita menunjukkan bahwa “Para pengusaha telah menjadi sangat takjub dengan permainan pasar valuta. Mereka telah menemukan bahwa mereka dapat menciptakan keuntungan cepat tanpa perlu menanamkan uang itu dalam bisnis yang produktif. Bahkan beberapa industri telah berpaling ke bursa efek. Orang-orang yang menghabiskan hidup mereka membungkuk di depan monitor yang menunjukkan transaksi saham paling mutakhir hidup sendirian saja di dunia mereka ini. Mereka tidak punya kesetiaan. Mereka tidak membuat produk apapun. Mereka tidak menciptakan ide-ide baru. Mereka mendagangkan $200 miliar setiap hari di London, New York dan Tokyo. Ini adalah pertaruhan yang sangat besar, bahkan jauh lebih besar dari nilai barang-barang yang dijualbelikan dalam sehari. “Banyak sekali tersedia air untuk bermain ciprat-cipratan di ruang mesin,” tulis Morita.

Morita membandingkan situasi kapitalisme dunia dengan permainan poker di atas sebuah kapal yang sedang tenggelam, dan menyimpulkan:

“Ini permainan yang memabukkan, penuh dengan kegairahan, tapi kemenangan dan kekalahan di meja poker tidak menutup fakta yang mengerikan bahwa kapal itu sedang tenggelam dan tidak ada seorangpun yang menyadarinya.”

Sejak Morita menulis baris-baris ini, situasinya telah bertambah buruk. Pasar “derivatif”kini telah mencapai total nilai $25 triliun dan sama sekali di luar kendali. Ini sama saja dengan berjudi pada skala kolosal. Ini membuat rumah judi South Sea Bubble menjadi remeh-temeh saja. Ini menunjukkan kerapuhan fundamental dari kapitalisme dunia, yang dapat mengalami depresi baru seperti pada tahun 1929.[1]

Kontradiksi itu Tetap Ada

Di tahun 1848, Marx dan Engels telah meramalkan bahwa kapitalisme akan tumbuh menjadi sebuah sistem yang mendunia. Ini telah terbukti dengan sangat tepat pada abad ke-20. Dominasi besar dari pasar dunia adalah fakta terpenting dari epos ini. Kita mendapati sebuah perekonomian dunia, perpolitikan dunia, diplomasi dunia, kebudayaan dunia, perang dunia -- sudah ada dua perang dunia dalam seratus tahun terakhir, dan yang kedua hampir saja memadamkan cahaya peradaban manusia. Namun, globalisasi ekonomi tidaklah berarti kontradiksi kapitalisme akan berkurang, tapi, sebaliknya, justru kontradiksi-kontradiksi yang ada akan semakin intens.

Pada dasawarsa terakhir di abad ke-20, sekalipun terdapat berbagai keajaiban ilmu pengetahuan modern, dua pertiga umat manusia hidup dalam ambang batas barbarisme. Wabah seperti diare dan cacar membunuh tujuh juta anak dalam setahun. Ini seharusnya dapat dicegah melalui vaksinasi yang sederhana dan murah. Lebih dari 500.000 perempuan meninggal tiap tahun karena komplikasi saat melahirkan, dan mungkin sekitar 200.000 lainnya meninggal ketika aborsi. Negeri-negeri mantan jajahan menghabiskan hanya 4% dari PDB mereka untuk bidang kesehatan -- rata-rata $41 per kepala, dibandingkan $1900 per kepala di negeri-negeri kapitalis maju.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari enam miliar orang akan menghuni bumi pada akhir tahun 2000. Sekitar separuh dari mereka akan berusia kurang dari 20. Kebanyakan dari mereka akan menderita karena ketiadaan lapangan pekerjaan, kekurangan pendidikan dasar dan perawatan kesehatan, hidup di lingkungan yang terlampau padat dan berkondisi hidup sangat buruk. Diperkirakan 100 juta anak, dari 6 sampai 11 tahun tidak akan bersekolah. Dua pertiganya adalah perempuan. Bahkan di Amerika Serikat, UNICEF memperkirakan bahwa 20% anak hidup di bawah garis kemiskinan nasional. Namun situasi di negeri-negeri Dunia Ketiga telah mencapai tingkatan yang mengerikan. Sebanyak 100 juta anak hidup di jalanan. Di Brasil, masalah ini “diselesaikan” dengan kampanye polisi dan pasukan pembunuh, untuk membunuhi anak-anak jalanan karena mereka miskin. Kekejaman serupa juga dilakukan terhadap para gelandangan di Kolombia. Tidak berapa lama lalu telah ditemukan bahwa sejumlah besar laki-laki, perempuan, dan anak-anak gelandangan telah dibunuhi dan jenazah mereka dijual ke Universitas Bogota untuk dijadikan bahan percobaan bagi mahasiswa kedokteran. Kisah-kisah semacam ini mendirikan bulu kuduk mereka yang beradab. Tapi semua itu hanyalah perwujudan paling ekstrem dari moralitas sebuah masyarakat yang memperlakukan manusia sebagai komoditas belaka.

Satu juta anak tewas, empat juta luka berat, dan lima juta telah menjadi pengungsi atau yatim piatu sebagai hasil dari perang-perang di dasawarsa lalu. Di banyak negeri mantan jajahan, kita melihat fenomena perburuhan anak, yang hampir-hampir menyerupai perbudakan. Protes-protes munafik dari media Barat tidaklah mencegah hasil-hasil dari perburuhan anak ini untuk mencapai pasar Barat dan meningkatkan isi pundi-pundi dari perusahaan-perusahaan “terhormat” di Barat. Satu contoh tipikal adalah berita baru-baru ini tentang sebuah pabrik korek api di mana anak kecil, kebanyakan perempuan, bekerja enam hari, 60 jam kerja seminggu, dengan bahan kimia beracun, dengan upah tiga dolar seminggu. Sebuah surat untuk majalah The Economist tertanggal 15 September 1993 menunjukkan bahwa: “Orang tua menyadari pentingnya pendidikan bagi masa depan anak-anak mereka tapi seringkali kemiskinan mereka telah mencapai tingkat sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan dapat bertahan tanpa upah dari anak-anak mereka yang bekerja.”

Alasan utama untuk kemiskinan parah di Dunia Ketiga adalah penghisapan berganda yang dilakukan melalui perjanjian perdagangan, dan hutang puluhan triliun dolar mereka pada bank-bank besar Barat. Bahkan untuk membayar bunga saja, negeri-negeri ini harus mengekspor makanan yang seharusnya mereka gunakan untuk memberi makan rakyatnya sendiri, dan mengorbankan kesehatan dan pendidikan rakyatnya. Menurut UNICEF, pembayaran hutang telah mengurangi pendapatan rakyat di dunia ketiga sebesar 25%, pengeluaran untuk pelayanan kesehatan jatuh 50% dan pengeluaran untuk pendidikan jatuh 25%. Sekalipun ada protes munafik atas dibabatnya hutan Amazon, para ekonom Brasil telah menunjukkan bahwa motivasi utama untuk pembabatan ini adalah kebutuhan untuk meningkatkan ekspor produk pertanian, seperti daging. Pembiayaan untuk proyek ekspor ini datang dari Bank Dunia dan organisasi keuangan dunia lainnya

Dalam makna kata yang paling eksplisit, umat manusia saat ini berdiri di atas persimpangan. Di satu pihak, semua potensi untuk membangun surga di dunia ini telah kita miliki. Di pihak lain, unsur-unsur barbarisme mengancam untuk menelan seluruh planet ini. Ditambah lagi, kita tengah diancam juga oleh kerusakan lingkungan. Dalam pengejaran keuntungan mereka yang tergesa-gesa, perusahaan-perusahaan multinasional tengah menghancurkan planet ini. Hutan hujan tropis kini tengah dibabat dengan kecepatan 29.000 mil persegi per tahun [± 74.250 km persegi]. Ini adalah seluas Skotlandia. Orang boleh berspekulasi tentang apa yang menyebabkan kepunahan dinosaurus 65 juta tahun yang lalu. Tapi tidak akan ada keraguan tentang apa penyebab bencana yang sekarang ada di depan mata kita -- pengejaran keuntungan yang tak terkendali dan anarki dalam produksi kapitalis.

Bahkan para ilmuwan yang tidak menganut sosialisme telah terdorong menuju kesimpulan (sepenuhnya logis, jika seseorang mau berhenti sejenak untuk berpikir) bahwa satu-satunya jalan keluar adalah semacam perekonomian dunia yang terencana. Namun, ini tidaklah dimungkinkan bila terus berdasarkan kapitalisme. Empat puluh satu negara secara resmi mendukung “Strategi Pelestarian Dunia”. Tapi, tanpa sebuah Federasi Sosialis Dunia, ini hanya di atas kertas saja. Kepentingan dari monopoli-monopoli besar adalah yang menentukan.

Namun, tidak ada sesuatupun yang niscaya tentang hal ini. Semua ramalan buruk tentang masa depan umat manusia, yang dimulai oleh Malthus, telah terbukti keliru. Potensi perkembangan umat manusia tidaklah terbatas. Bahkan kini kita telah memiliki kemampuan untuk melenyapkan kelaparan dari muka bumi. Di Eropa Barat dan Amerika Serikat, produktivitas pertanian telah mencapai tingkat yang demikian tinggi sehingga para petani dibayar untuk tidak menghasilkan produk pertanian. Tanah yang subur tidak ditanami. Gandum dibuang ke laut atau dicampuri zat pewarna untuk membuatnya tidak dapat dimakan. Ada segunung daging, mentega dan susu bubuk. Tanaman zaitun di Spanyol dengan sengaja dicabut akarnya. Dan ada 450 juta orang di seluruh dunia yang kekurangan gizi, atau kelaparan.

Pada awal abad mendatang, negeri-negeri Lingkar Pasifik akan menghasilkan separuh dari produksi dunia. Perekonomian dunia akan tumbuh dewasa. Selama berabad-abad, orang-orang Eropa telah menganggap dirinya sebagai poros dari bola dunia. Secara objektif, ini sama konyolnya dengan ide Ptolomeus bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Bahkan sejak tahun 1920-an Trotsky telah meramalkan bahwa pusat gravitasi sejarah dunia akan bergeser dari Atlantik ke Pasifik. Tahapan berikutnya dari sejarah manusia akan menyaksikan bagaimana ratusan juta massa rakyat di Asia menyadari kekuatan mereka yang sesungguhnya, sebagai bagian dari sebuah Federasi Sosialis Dunia.

Azab Pengangguran

Kerja adalah aktivitas hidup kita yang utama. Sejak usia masih sangat muda, kita telah bersiap-siap untuk itu. Seluruh kegiatan bersekolah kita dirancang untuk itu. Kita menghabiskan seluruh kehidupan aktif kita di dalamnya. Kerja adalah basis yang melandasi seluruh masyarakat. Tanpanya, tidak akan ada makanan, pakaian, rumah, sekolah, kebudayaan, seni maupun ilmu pengetahuan. Dalam makna yang paling nyata, kerja adalah hidup itu sendiri. Merampas hak bekerja seseorang tidak hanya berarti merampas haknya untuk mendapat standar hidup minimum. Merampas hak bekerja seseorang sama saja dengan melucuti harga dirinya, memisahkannya dari masyarakat beradab, membuat hidupnya sia-sia dan tak bermakna. Ketiadaan lapangan kerja adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Penciptaan sebuah kelas bawah di kota-kota Amerika Serikat dan negeri-negeri lain adalah bukti bahwa masyarakat modern sudah bangkrut. Kutipan berikut mengungkapkan ketakutan dari seorang ahli strategi kapitalis terbesar tentang kecenderungan Barat menuju disintegrasi sosial:

“Konsentrasi populasi orang-orang yang yang dikecewakan dan termiskinkan di kota-kota, yang jumlahnya semakin bertambah, yang bergantung pada infrastruktur yang rapuh adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Ada kemungkinan besar bahwa solidaritas sosial yang mendasari negara kesejahteraan akan hancur dalam tahun-tahun mendatang. Semakin tingginya biaya untuk menyokong populasi yang bergantung ini akan menguji kesabaran dari mereka yang lebih berhasil dalam pergulatan ekonomi.... Tapi ini masalah yang akan kita hadapi di abad mendatang.

“Negara kesejahteraan telah membuat kesalahan yang akan dibayar dalam termin evolusioner. Perempuan kelas-kelas bawah melahirkan 60% lebih banyak anak daripada perempuan kelas menengah -- kulit hitam atau putih. Tapi bahkan statistik ini masih kurang memperhitungkan dampaknya atas populasi. Perempuan kelas bawah bukan hanya memiliki lebih banyak anak, mereka juga mulai melahirkan pada usia yang lebih muda, yang akan meningkatkan populasi kelas bawah secara geometrik.”

Rees-Mogg, yang menghibur dirinya dengan khayalan bahwa “Marxisme sudah mati”, mendukung politik reaksioner terbuka, yang dengan jelas mengingatkan kita pada kaum Malthusian di jaman Victoria ratusan tahun lalu:

“Mereka (orang-orang miskin) mendapat bantuan untuk menyia-nyiakan hidup mereka lewat insentif negatif dari program-program sosial, yang secara efektif membebani mereka-mereka yang bekerja dengan pajak 100% atau lebih. Dalam banyak kasus, nilai total dari bantuan makanan, subsidi sewa rumah, tunjangan pengangguran, suplemen pendapatan, penyediaan sarana kesehatan gratis dan lain-lain pelayanan melebihi pendapatan setelah pajak yang dapat diraih oleh seorang pekerja tidak terampil. Dan tunjangan kesejahteraan, karena definisinya, dapat diperoleh dengan sedikit atau tanpa usaha sama sekali. Anda tidak perlu bangun pagi-pagi sekali dan berdesak-desakan di angkutan kota untuk menjamin hidup Anda.... Penegakan hukum yang longgar juga membuat kemalasan, ketidakmampuan membaca dan kriminalitas menjadi semakin menarik. Anak-anak yang dapat memperoleh seratus dolar per jam sebagai pencuri atau pengedar narkoba kecil kemungkinannya mau belajar membaca atau mencari kerja dengan upah minimum yang mungkin akan dapat menjamin hidupnya kelak.”[2]

Di sisi lain Atlantik, perasaan gelap yang sama juga telah menyebar di kalangan ahli strategi kapitalis. Penulis dan ekonom terkenal Amerika, John Kenneth Galbraith, yang adalah seorang liberal dalam politiknya, tapi tetap saja sampai pada kesimpulan yang serupa. Dalam buku terakhirnya, The Culture of Contentment, ia mengeluarkan sebuah peringatan keras atas kemungkinan terjadinya konflik sosial yang meledak-ledak yang muncul akibat divisi kelas dalam masyarakat Amerika:

“Namun kemungkinan akan terjadinya pemberontakan kelas bawah, yang sangat terganggu kenyamanannya, ada dan semakin hari semakin besar. Telah terjadi beberapa ledakan di masa lalu, khususnya kerusuhan-kerusuhan di kota-kota besar di akhir 1960-an, dan ada beberapa faktor yang mungkin akan menyebabkan ledakan-ledakan ini lagi.

“Secara khusus, telah dijelaskan, kedamaian sangat tergantung pada perbandingan dengan ketidaknyamanan yang sebelumnya. Dengan berjalannya waktu, perbandingan itu memudar, dan juga dengan berlalunya waktu janji-janji masa lalu untuk bisa keluar dari kemiskinan relatif – atau pergerakan sosial ke atas – pudar pula. Ini khususnya dapat terjadi akibat resesi atau depresi yang berkepanjangan. Gelombang pekerja yang membanjiri pabrik-pabrik mobil di Detroit –para pengungsi dari tanah-tanah pertanian Michigan dan Ontario dan kemudian juga orang-orang kulit putih miskin dari Appalachia – semakin hari semakin banyak jumlahnya. Banyak dari mereka yang datang dari Selatan untuk menggantikan mereka kini terdampar dalam pengangguran yang endemik. Tidak ada yang boleh terkejut jika pada satu hari ini akan melahirkan satu reaksi yang penuh kekerasan. Telah selalu menjadi salah satu kepercayaan mendasar dari mereka yang mendapatkan kenyamanan bahwa mereka yang tidak mendapatkan kenyamanan itu menerima nasibnya dengan pasrah. Kepercayaan semacam itu boleh jadi satu hari akan terbukti keliru secara mendadak.”[3]

Keterasingan

“Dunia ini bukanlah sekumpulan individu yang terisolasi; semuanya terhubung satu sama lain dengan satu atau lain cara.” (Aristoteles)

"No man is an Iland, intire of itselfe; every man is a peece of the Continent, a part of the maine; if a Clod bee washed away by the sea, Europe is the lesse, as well as if a Promontorie were, as well as if a Mannor of thy friends or thine own were; any man’s death diminishes me, because I am involved in Mankind; and therefore never send to know for whom the bell tolls; it tolls for thee." (John Donne, Devotions upon Emergent Occasions, no. xvii.)

“Tiada orang yang sepenuhnya sendirian; tiap orang adalah sekeping tanah dari sebuah Benua, sebagian dari yang keseluruhan. Jika sepotong Semenanjung ditenggelamkan oleh air, Eropa akan menjadi lebih kecil, demikian pula halnya dengan Puncak Gunung, atau Rumah karib Anda atau Anda sendiri; kematian tiap orang mengurangi arti saya sendiri, karena saya terlibat dalam keseluruhan Umat Manusia; dan karenanya tidak akan pernah tahu kapan lonceng maut memanggil; ia berdentang memanggil Anda.” (John Donne, Devotion upon Emergent Occasion, no. xvii.)

Manusia menjadi manusia dengan memisahkan diri dari sifat murni kehewanan, yaitu, ketidaksadaran, naluri alamiah semata. Bahkan hewan yang paling kompleks sekalipun tidak dapat menandingi pencapaian umat manusia, yang memungkinkannya bertahan dan menjadi makmur dalam berbagai kondisi dan iklim, di laut, di udara, dan bahkan di antariksa. Umat manusia telah mengangkat dirinya demikian jauh dari keadaan “alami”-nya, keadaan kehewanannya, mereka telah menguasai lingkungan mereka sampai tingkatan yang tak tertandingi. Namun, paradoksnya, manusia masih terus dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan yang membabi-buta di luar kendali mereka. Apa yang disebut “ekonomi pasar” didasarkan pada premis bahwa manusia tidaklah mengendalikan kehidupan dan nasibnya sendiri, tapi merupakan boneka belaka di tangan kekuatan-kekuatan tak kasat mata, yang, seperti dewa-dewa yang rakus dan tak dapat diterka dari jaman dulu, mengatur segala sesuatu tanpa rima atau keteraturan sama sekali. Dewa-dewa ini memiliki pendeta-pendetanya sendiri, yang menghabiskan hidup mereka mengabdi kepadanya. Para pendeta ini mendiami bank-bank dan bursa saham, dengan upacara-upacara mereka yang rumit, dan membuat profit yang besar. Tapi, ketika dewa-dewa marah, para pendeta itu panik, seperti sekawanan hewan yang berlarian ketakutan, dan dengan insting yang sama.

Orang-orang Romawi kuno menggambarkan budak sebagai “alat yang dapat berbicara” (instrumentum vocale). Kini, banyak buruh akan merasa bahwa penggambaran ini dapat juga diterapkan pada mereka. Kita seharusnya hidup dalam sebuah dunia post-modern, post-industrial, post-Fordist. Tapi, sejauh menyangkut kondisi kehidupan rakyat pekerja, apa yang telah berubah? Di mana-mana, pencapaian-pencapaian yang telah didapat di masa lalu sedang diserang. Di Barat, standar hidup, bagi sebagian terbesar rakyat, kini sedang ditekan. Negara kesejahteraan sedang digerogoti, dan tingkat pengangguran yang rendah tinggal masa lalu.

Di semua negeri, masyarakat sedang dijangkiti oleh perasaan gelap yang dalam. Perasaan ini dimulai dari atas dan menetes ke bawah sampai tingkatan terendah. Perasaan tidak aman yang dilahirkan oleh pengangguran massal permanen telah menyebar ke lapisanpekerja yang di masa lalu beranggapan bahwa diri mereka kebal terhadapnya.Para guru, dokter, perawat, pegawai negeri, manajer pabrik sudah tidak lagi merasa aman. Tabungan dari kelas menengah, nilai rumah mereka, juga terancam oleh pergerakan pasar uang dan bursa saham yang tak terkendali. Kehidupan miliaran umat manusia berada dalam genggaman kekuatan membabi-buta yang begitu tidak rasional, sehingga membuat dewa-dewa masa lalu menjadi sangat rasional bila dibandingkan dengannya.

Beberapa dekade yang lalu, dengan yakin diramalkan bahwa derap maju ilmu pengetahuan dan teknologi akan menyelesaikan semua masalah yang dihadapi umat manusia. Di masa depan manusia tidak akan lagi risau dengan perjuangan kelas, tapi dengan masalah mengisi waktu luang. Ramalan ini sama sekali bukannya tanpa dasar. Dari sudut pandang yang murni ilmiah, tidak ada alasan mengapa hari dan jam kerja tidak dapat dikurangi, sekaligus meningkatkan hasil produksi dan standar hidup, berdasarkan produktivitas tinggi yang didapatkan dari penerapan teknologi baru. Tapi situasi yang sesungguhnya sangatlah berbeda.

Marx telah menjelaskan jauh-jauh hari bahwa di bawah kapitalisme mesin bukannya mengurangi hari kerja malah cenderung memperpanjangnya. Di semua negeri kapitalis utama, kita menyaksikan tekanan besar terhadap kaum buruh untuk bekerja lebih lama dengan upah yang semakin rendah. Dalam edisi 24 Oktober 1994, majalah Time melaporkan peningkatan tajam dari perekonomian Amerika, dengan tingkat keuntungan yang membumbung tinggi:

“Tapi kaum buruh mengeluh bahwa bagi mereka ekspansi ekonomi berarti kelelahan. Di seluruh industri Amerika, perusahaan-perusahaan menggunakan lembur untuk memeras tetes keringat terakhir dari angkatan kerja Amerika Serikat; jam kerja pabrik kini mencapai rekor 42 jam per minggu, termasuk 4,6 jam lembur. 'Orang-orang Amerika,' Audrey Freedman, seorang ekonom buruh dan anggota redaksi Time, mengamati, 'adalah pekerja paling keras di dunia.' Tiga besar produsen mobil telah mendorong kecenderungan ini ke tingkat ekstrem. Para buruh mereka rata-rata lembur 10 jam setiap seminggu dan setiap tahun rata-rata bekerja enam hari Sabtu selama 8 jam.”

Artikel itu juga mengutip sejumlah besar contoh baik dari kalangan buruh kerah biru maupun kerah putih dari berbagai industri, yang mengeluh tentang beban kerja yang kronis:

“‘Saya mengerjakan kerja dari tiga orang,’ ujar Joseph Kelterborn, 44, yang bekerja untuk perusahaan telepon Nynex di New York City. Departemennya, yang memasang dan memelihara jaringan kabel-optik, telah dipangkas dari 27 orang menjadi 20 pada tahun-tahun terakhir, sebagian dengan menggabungkan apa yang tadinya merupakan tiga posisi yang berbeda – operator saklar, operator daya dan operator pengujian – menjadi apa yang kini disebut carrier switchman. Sebagai hasilnya, kata Kelterborn, ia sering bekerja sampai empat jam ekstra seharinya dan satu hari ekstra tiap tiga minggu. ‘Pada saat saya sampai di rumah,’ keluhnya, ‘saya hanya memiliki waktu untuk mandi, makan malam dan tidur sebentar; lalu tiba waktunya bangun dan melakukan semuanya lagi.’”

Seperti yang telah ditunjukkan oleh Marx, peningkatan penggunaan mesin berarti semakin panjang hari kerja bagi mereka yang masih memiliki pekerjaan. Sejak pemulihan dari resesi pada Maret 1991, perekonomian Amerika Serikat telah menciptakan hampir enam juta lapangan kerja baru, tapi masih juga kurang dua juta pekerjaan. Jika perusahaan-perusahaan Amerika Serikat menyewa tenaga kerja dengan tingkat yang sama seperti sebelum resesi, peningkatan itu seharusnya berjumlah delapan juta atau lebih.

Artikel majalah Time itu menambahkan:

“Terdapat banyak bukti, nyatanya, bahwa Amerika Serikat sedang mengembangkan sejenis masyarakat dua tingkat. Sementara keuntungan perusahaan dan gaji para eksekutif meningkat dengan cepat, upah riil (yakni, setelah memperhitungkan inflasi) sama sekali tidak meningkat. Pemerintah telah melaporkan bahwa median penghasilan rumah tangga riil di Amerika Serikat menurun $312, sementara sekitar sejuta orang jatuh ke bawah garis kemiskinan, mereka yang didefinisikan secara resmi sebagai miskin adalah 15,1% dari populasi Amerika Serikat, bandingkan dengan 14,8% di tahun 1992. Semua itu adalah perkembangan yang mengejutkan di tengah empat tahun pemulihan ekonomi yang semakin menguat.”

Dalam Manifesto Komunis, Marx dan Engels menunjukkan:

“Karena penggunaan mesin yang luas dan pembagian kerja, kerja kaum proletariat telah kehilangan seluruh karakter individualitasnya, dan, sebagai akibatnya, kerjanya tidak lagi menarik. Ia menjadi sekedar aksesori mesin, dan hanya melakukan kerja yang paling sederhana, paling monoton, dan paling mudah dipelajari, yang dibutuhkan darinya. Maka itu, biaya untuk menghasilkan seorang pekerja dibatasi, hampir seluruhnya, oleh biaya hidup yang hanya cukup untuk memeliharanya, dan untuk ia berkembang biak. Tapi harga komoditi, dan demikian pula halnya dengan tenaga kerja, adalah sama dengan biaya produksinya. Maka, sebanding dengan semakin menjijikkannya pekerjaan itu, semakin turun pula tingkat upah. Terlebih lagi, sebanding dengan meningkatnya penggunaan mesin dan pembagian kerja, meningkat pula beban kerja, baik melalui perpanjangan jam kerja, melalui peningkatan ragam pekerjaan yang dituntut dikerjakan dalam rentang waktu tertentu atau oleh peningkatan kecepatan kerja mesin, dan lain-lain.”[4]

Dalam salah satu film Charlie Chaplin yang paling terkenal, yakniModern Times, kita dapat menyaksikan kehidupan seorang buruh di sebuah pabrik besar di tahun 1930-an. Pekerjaan monoton yang dilakukan tanpa berpikir, yang diulangi tanpa henti sungguh telah mengubah manusia menjadi aksesori mesin, “alat yang dapat berbicara”. Kendati semua pembicaraan muluk mengenai “partisipasi”, kondisi di kebanyakan pabrik tetap saja sama. Sungguh, tekanan atas buruh telah meningkat beberapa tahun terakhir ini. Hal-hal kecil yang dapat membuat hidup ini lebih tertanggungkan telah dengan perlahan tapi pasti disingkirkan. Di Inggris, di mana kekuatan serikat-serikat buruh telah memenangkan berbagai pencapaian di masa lalu, kini jam makan telah pula disingkirkan. Kanselir Kohl memberi tahu kaum buruh Jerman bahwa mereka harus mulai bekerja pada akhir minggu. Gambaran yang sama dapat kita temui di mana-mana.

Teknologi yang baru bukannya memperbaiki taraf kehidupan kaum buruh, ia malah digunakan untuk memperburuk kondisi para buruh kerah putih. Di kebanyakan bank, rumah sakit dan kantor-kantor besar, posisi para pekerja kini semakin mirip buruh di pabrik-pabrik. Rasa tidak aman yang sama, tekanan yang tanpa henti atas sistem syaraf, stres yang sama, yang membawa masalah-masalah kesehatan, depresi dan perceraian.

Di tahun-tahun terakhir para ilmuwan telah kembali pada ide “manusia-mesin”, dalam hubungannya dengan bidang robotik dan masalah kecerdasan artifisial (AI, Artificial Intelligence). Ide ini bahkan telah merasuki imajinasi populer, seperti yang ditunjukkan oleh kepopuleran film-film sejenis Terminator, di mana manusia dihadapkan melawan robot. Fenomena ini mengungkapkan cukup banyak tentang psikologi yang berkembang saat ini, yang dicirikan dengan dehumanisasi masyarakat, serta perasaan bahwa umat manusia tidaklah memegang kendali atas nasibnya sendiri, dan ketakutan akan satu kekuatan tak terkendali yang mendominasi kehidupan manusia. Padahal, upaya untuk menciptakan kecerdasan artifisial merupakan satu kemajuan dalam ilmu robotik, yang, dalam sebuah masyarakat rasional yang sejati, membuka satu kemungkinan yang gemilang bagi perkembangan umat manusia.

Menggantikan kerja manusia dengan mesin modern adalah kunci bagi revolusi kebudayaan terbesar dalam sejarah, yang berdasarkan pengurangan jam kerja manusia. Walau demikian, mustahil kita bisa mereproduksi pikiran manusia ke dalam mesin, sekalipun pekerjaan-pekerjaan yang spesifik dapat dikerjakan lebih efisien oleh mereka. Ini bukan karena alasan yang mistik, atau karena adanya sebuah “jiwa yang kekal”, yang katanya membuat kita menjadi sebuah Ciptaan yang unik, tapi karena sifat dari pemikiran itu sendiri, yang tidak dapat dipisahkan dari semua aktivitas tubuh manusia, yang dimulai dengan kerja.

Marx dan Keterasingan

Bahkan bagi mereka yang cukup beruntung untuk memiliki pekerjaan, sembilan dari sepuluh kasus, kerja adalah sebuah rutinitas yang tak bermakna. Jam kerja tidaklah dilihat sebagai bagian dari kehidupan seseorang. Kerja tidak memiliki hubungan dengan hakikat kita sebagai manusia. Hasil dari kerja kita dimiliki orang lain, di mana baginya Anda hanyalah sebuah “faktor produksi”. Hidup dimulai saat Anda keluar dari tempat kerja, dan berhenti ketika Anda memasukinya. Gejala ini dijelaskan dengan baik oleh Marx dalam bukunya Economic and Philosophic Manuscript of 1844:

“Dengan demikian, apa itu keterasingan kaum buruh?

“Pertama, fakta bahwa kerja itu adalah di luar diri buruh itu, yaitu, tidak termasuk dalam sifat intrinsiknya; bahwa dalam pekerjaannya, ia tidaklah menegaskan dirinya sendiri melainkan menyangkalnya, tidak merasa puas melainkan merasa tidak bahagia, tidak mengembangkan dengan bebas energi mental dan fisiknya melainkan merusak tubuhnya dan mengganggu otaknya. Si buruh itu, dengan demikian, hanya menjadi dirinya sendiri di luar pekerjaannya, dan di dalam pekerjaannya merasa bahwa ia bukan dirinya sendiri. Ia merasa nyaman ketika tidak bekerja, dan ketika ia bekerja ia tidak merasa nyaman. Kerjanya, dengan demikian, tidaklah dilakukan dengan sukarela, tapi karena dipaksa; kerjanya adalah kerja paksa. Kerjanya hanyalah cara untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang berada di luar kerja itu. Karakternya yang asing itu muncul jelas dalam fakta bahwa segera setelah tidak ada lagi pemaksaan fisik atau lainnya, buruh menghindari kerja seperti halnya dia menghindari wabah penyakit.”

“Kerja eksternal, yakni kerja di mana manusia mengasingkan dirinya sendiri, adalah kerja yang mengorbankan diri, kerja yang menekan hasrat diri. Karakter eksternal dari kerja bagi buruh muncul dalam fakta bahwa kerja itu bukanlah miliknya sendiri, tapi milik orang lain, bahwa kerja itu bukan miliknya, bahwa di dalam kerja dia bukanlah milik dirinya sendiri tetapi menjadi milik orang lain. Sebagaimana agama, di mana aktivitas spontan dari imajinasi manusia, dari otak dan hati manusia, bekerja pada individu yang mandiri darinya– yakni, bekerja sebagai suatu aktivitas yang asing, ilahi atau jahat – begitu juga aktivitas buruh bukanlah aktivitas spontannya. Ia adalah milik orang lain; kerja bermakna kehilangan jati diri buruh itu sendiri.”[5]

Maka, bagi sebagian terbesar orang, hidup hanya dijalani sebagai sebuah aktivitas yang memiliki sedikit saja makna bagi individu. Pada keadaan terbaik, hidup dapat tertanggungkan; pada keadaan terburuk, hidup adalah siksaan. Bahkan bagi mereka-mereka yang mengerjakan pekerjaan seperti mengajar anak-anak atau mengurus orang sakit, telah mulai merasa bahwa kepuasan mereka mulai dirampas, sejalan dengan semakin merasuknya hukum-hukum pasar ke dalam sekolah dan bangsal-bangsal rumah sakit.

Perasaan bahwa masyarakat ini telah mencapai jalan buntu tidaklah terbatas pada “kelas-kelas bawah”. Di tengah kelas penguasa juga terdapat perasaan yang semakin kuat akan kebuntuandan pesimisme tentang masa depan. Tidak dapat lagi ditemui gagasan-gagasan hebat seperti di masa lalu, ataupun rasa percaya diri dan optimisme. Omong kosong besar yang dikumandangkan terus-menerus tentang apa yang disebut keajaiban “perekonomian pasar bebas” semakin hari menjadi semakin kosong maknanya, sejalan dengan orang semakin menyadari situasi sebenarnya -- jutaan pengangguran, serangan terhadap standar hidup, kekayaan luar biasa yang dibuat melalui spekulasi, kerakusan dan korupsi.

Sangatlah ironis bahwa para pembela status quo menuduh Marxisme sebagai “materialistis”, ketika kaum borjuis itu sendiri mempraktekkan jenis materialisme yang paling vulgar dan mengerikan. Pengejaran kekayaan, diangkatnya kerakusan sebagai prinsip yang dominan, itulah pusat dariseluruh kebudayaan mereka sekarang. Inilah agama mereka yang sebenarnya. Di masa lalu, mereka bersusah-payah untuk menutupi ini, bersembunyi di balik segala moral munafik tentang kewajiban, patriotisme, kerja yang jujur, dan segala kepalsuan yang lain. Kini mereka melakukannya secara terbuka. Di setiap negeri kita melihat wabah korupsi yang belum pernah terjadi sebelumnya, penggelapan, kebohongan, penipuan, pencurian - bukan pencurian oleh kriminal kelas teri, tapi penjarahan dalam skala masif, yang dikerjakan oleh para pengusaha, politisi, para kepala polisi dan militer dan para hakim. Dan mengapa tidak? Bukankah sudah kewajiban kita untuk menjadi kaya?

Buaian monetarisme mengangkat egoisme dan kerakusan menjadi sebuah prinsip. Raup sebanyak mungkin dan dengan cara apapun. Inilah hakikat inti dari kapitalisme. Itulah hukum rimba, yang diterjemahkan ke dalam bahasa mantra-mantra ekonomi. Setidaknya prinsip ini sederhana. Ia mengatakan secara terus terang seperti apa sistem ekonomi kapitalis itu sebenarnya.

Tapi, betapa hampanya filsafat ini! Betapa menyedihkannya pandangan tentang kehidupan manusia ini! Sekalipun mereka tidak mengetahuinya, para penguasa planet ini sebenarnya hanya budak juga, budak buta dari kekuatan yang tidak dapat mereka kendalikan. Mereka tidak memiliki kendali sejati atas sistem ini, sebagaimana semut tidak dapat mengendalikan bukit rumah mereka. Namun mereka cukup puas dengan keadaan ini, yang memberi mereka posisi, kekuasaan dan kekayaan. Dan mereka dengan kejam melawan semua usaha untuk melakukan perubahan yang radikal di masyarakat.

Jika ada sebuah benang merah dalam sejarah, benang merah itu adalah upaya manusia, laki-laki dan perempuan, untuk meraih kendali atas hidup mereka, untuk menjadi bebas, dalam makna yang paling sejati dari kata itu. Segala kemajuan ilmu dan teknologi, semua yang telah dipelajari umat manusia tentang alam dan dirinya sendiri, berarti bahwa kini ada potensi untuk mengambil kendali penuh atas kondisi yang kita diami. Namun, dalam dasawarsa terakhir dari abad ke-20, dunia ini kelihatannya malah berada dalam cengkeraman satu kegilaan yang aneh. Manusia semakin merasa kehilangan kendali atas takdirnya bila dibandingkan dengan sebelumnya. Ekonomi, lingkungan hidup, udara yang kita hirup, air yang kita minum, makanan yang kita makan, semua sedang terancam. Hilang sudah perasaan aman dan tenteram. Hilang sudah perasaan bahwa sejarah merupakan satu derap maju tanpa henti menuju sesuatu yang lebih baik dari hari ini.

Di bawah keadaan seperti ini, sejumlah lapisan masyarakat mencari jalan keluar melalui obat-obatan dan alkohol. Ketika masyarakat ini tidak lagi rasional, manusia lari ke hal-hal yang tidak rasional untuk mendapatkan ketenangan. Agama, seperti yang dikatakan Marx, adalah candu, dan dampaknya tidaklah kurang berbahaya daripada obat-obatan lainnya. Kita telah melihat bagaimana ide-ide religius dan mistik telah merasuk bahkan ke dalam dunia ilmiah. Inilah refleksi dari jaman yang kini sedang kita lewati.

Moralitas

“Kuatkanlah komitmen moral dan kepercayaan agama Anda. Baca kembali Sepuluh Perintah Allah dan Kitab-kitab Kebijaksanaan. Kitab Suci bukanlah guru sejarah yang buruk dan ia adalah satu panduan untuk bertahan dalam keadaan yang sulit.” (Rees-Mogg)

“Siapapun yang tidak ingin berpaling pada Musa, Kristus atau Muhamad, siapa pun yang tidak puas dengan mantra-mantra eklektisharus mengakui bahwa moralitas hanyalah sebuah produk dari perkembangan sosial; bahwa moralitas bukanlah sesuatu yang abadi; bahwa moralitas melayani kepentingan-kepentingan sosial; bahwa kepentingan-kepentingan ini saling berkontradiksi; bahwa moralitas, lebih dari segala bentuk ideologi lainnya, memiliki karakter kelas.” (Trotsky)

“Marxisme menyangkal moralitas!” Betapa sering kita mendengar pernyataan semacam ini, yang sebetulnya hanya mengungkapkan ketidaktahuan seseorang atas ABC Marxisme. Benar, Marxisme menolak keberadaan dari moralitas yang supra-historis. Tapi tidaklah membutuhkan banyak keringat untuk menunjukkan bahwa aturan-aturan moral yang telah mengatur kelakuan manusia telah berubah cukup signifikan dari satu jaman ke jaman yang lain. Pada satu waktu, tidaklah dianggap tidak bermoral jika kita memakan para tawanan perang. Kemudian, kanibalisme dipandang dengan penuh kejijikan, tapi para tawanan perang boleh dijadikan budak. Bahkan Aristoteles yang agung itu siap membela perbudakan, berdasarkan argumen bahwa budak tidaklah memiliki jiwa, dan oleh karenanya bukanlah sepenuhnya manusia (argumen yang sama digunakan juga untuk perempuan). Kemudian, dianggap tidak bermoral jika kita memiliki orang lain sebagai properti, tapi sangat dapat diterima jika para penguasa feodal memiliki para hamba yang terikat pada tanahnya dan sepenuhnya merupakan pelayan bagi tuannya, bahkan sampai memberikan para pengantin wanita untuk diperawani oleh sang tuan.[6]

Kini, semua hal ini dianggap sebagai barbar dan tidak bermoral, tapi institusi-institusi kerja-upahan, di mana seorang manusia menjual dirinya sendiri secara borongan kepada seorang pengusaha, yang menggunakan kemampuan bekerjanya sebagaimana yang diinginkan si pengusaha itu, tidak pernah dipertanyakan. Bagaimanapun, ini katanya adalah kerja bebas. Tidak seperti hamba atau budak, buruh dan pengusaha tiba pada sebuah kesepakatan bersama atas kehendak bebas mereka sendiri. Tidak ada yang mengharuskan seorang buruh untuk bekerja pada satu majikan tertentu. Jika ia tidak menyukainya, ia boleh pergi dan mencari pekerjaan di tempat lain. Lebih jauh lagi, dalam sebuah perekonomian pasar bebas, hukum berlaku sama dan adil bagi semua orang. Penulis Prancis Anatole France menulis tentang “kesetaraan megah dalam hukum, yang melarang semua orang, tidak peduli kaya atau miskin, untuk tidur di bawah jembatan, untuk mengemis di jalanan, dan untuk mencuri roti.”

Dalam masyarakat modern, sebagai ganti bentuk penghisapan terbuka, kita mendapati sebuah penghisapan yang tersembunyi, yang munafik, di mana hubungan riil antar manusia diterjemahkan ke dalam hubungan antar benda – potongan kertas kecil yang memberi pemegangnya kekuatan atas hidup dan matinya seseorang; yang dapat membuat apa yang buruk menjadi indah, yang lemah menjadi kuat, yang bodoh menjadi cerdas; yang tua menjadi muda.

Trotsky menulis bahwa relasi uang telah tertanam dalam-dalam di kepala manusia sehingga kita mengatakan bahwa orang itu berharga sekian juta dolar. Uang adalah alat ukur tingkat keterasingan yang ada di dalam masyarakat masa kini sehingga pernyataan seperti itu biasanya dianggap jamak. Maka juga tidak ada orang yang terkejut ketika, sepanjang krisis moneter, berita-berita televisi berbicara tentang mata uang layaknya seseorang yang sedang pulih dari sakit tertentu (“Poundsterling/dolar/Deutschmark menguat sedikit hari ini....”). Manusia dianggap sebagai benda, sementara benda, khususnya uang, dipandang dengan rasa takjub yang penuh takhayul, yang mengingatkan kita pada sikap religius orang-orang liar jaman dulu terhadap tiang pemujaan dan berhala-berhala mereka. Alasan untuk pemberhalaan komoditi (“fetishism of commodities”) dijelaskan oleh Marx dalam jilid pertama Capital.

Mencari-cari moralitas mutlak telah terbukti menjadi kegiatan yang sia-sia. Di sini lagi, hukum-hukum kekal logika tidak akan membantu kita sama sekali. Logika formal mendasarkan dirinya pada satu antitesis yang kaku antara kebenaran dan kekeliruan. Sebuah ide adalah benar atau keliru. Namun kebenaran, seperti yang diungkapkan penyair Jerman Lessing, bukanlah seperti mata uang yang diedarkan siap cetak dan dapat digunakan untuk setiap keadaan. Apa yang benar untuk satu waktu dan di bawah himpunan keadaan tertentu dapat menjadi keliru di waktu dan keadaan lain. Hal yang sama berlaku juga untuk konsep “baik” dan “buruk”. Apa yang dianggap “baik” dan terpuji di dalam satu masyarakat dapat dianggap menjijikkan di masyarakat lainnya. Lebih jauh lagi, dalam masyarakat tertentu, konsep tentang apa yang baik dan buruk seringkali berubah-ubah menurut keadaannya, dan menurut kepentingan dari satu kelas tertentu.

Jika kita mengecualikan inses atau hubungan badan antara orang tua dan anak, yang kelihatannya ditabukan dalam hampir tiap masyarakat, hanya sedikit saja moralitas yang mutlak dan kekal.“Jangan mencuri” tidak terlalu masuk akal di dalam masyarakat yang tidak berdasarkan kepemilikan pribadi. “Jangan berzina” hanya memiliki makna dalam masyarakat di mana laki-laki mendominasi perempuan, di mana laki-laki ingin menjamin bahwa kepemilikan pribadi akan diwariskan melalui anak lelaki mereka. “Jangan membunuh” selalu disertai dengan berbagai persyaratan sehingga dengan segera berubah menjadi sesuatu yang sangat berbeda, bahkan bertentangan; contohnya, “jangan membunuh” kecuali untuk mempertahankan diri; atau “jangan membunuh” kecuali orang itu berasal dari suku/bangsa/agama yang lain.

Dalam tiap perang, para prajurit selalu diberkati terlebih dahulu oleh para pemuka agama sebelum mereka maju bertempur untuk membantai prajurit dari bangsa lain. Moralitas “jangan membunuh” yang absolut ini tiba-tiba berubah menjadi relatif jika dihubungkan dengan pertimbangan lain, yang pada pemeriksaan yang lebih teliti, ternyata berhubungan dengan kepentingan ekonomi, teritorial, politik atau strategis dari negara-negara yang terlibat dalam pertikaian itu. Kemunafikan dari semua ini ternyatakan dengan baik sekali dalam bait singkat karya penyair agung Skotlandia Robert Burns, On Thanksgiving For a National Victory:

“Ye hipocrites! are these your pranks?

To murder men, and give God thanks?

Desist for shame! Proceed no further:

God won't accept your thanks for Murther.”

[“Hai kamu orang-orang munafik! apakah ini leluconmu?

Kamu membunuh orang, dan berterimakasih pada Tuhan?

Hentikan demi rasa malu! Jangan lebih jauh berjalan:

Tuhan tidak akan menerima ucapan terimakasihmu untuk Pembunuhan.”]

Perang adalah sebuah fakta kehidupan (dan juga kematian). Telah terdapat banyak sekali perang sepanjang sejarah manusia. Fakta ini boleh dikutuk, tapi tidak dapat diabaikan. Lebih jauh lagi, seluruh isu terpenting di antara bangsa-bangsa selalu diselesaikan melalui perang. Pasifisme tidak pernah menjadi doktrin yang disukai oleh pemerintah-pemerintah, kecuali sebagai taktik diplomasi, yang tujuan satu-satunya adalah untuk menipu semua orang akan niat sejati dari pemerintah yang diwakili sang diplomat. Inilah mengapa kita membayar para diplomat itu. “Jangan bersaksi palsu” sama sekali tidak mereka pedulikan. Seorang komandan militer yang tidak menggunakan segala yang ada dalam kemampuannya untuk menipu musuhnya akan dianggap tolol, atau yang lebih buruk daripada tolol. Namun demikian, di sini, kebohongan menjadi sesuatu yang terpuji – sebuah kegemilangan militer. Seorang jenderal yang membuka rahasia rencananya pada musuh akan ditembak selaku seorang pengkhianat. Seorang buruh yang mengungkapkan rencana pemogokan pada pengusaha akan dianggap pengkhianat pula oleh rekan-rekan kerjanya.

Dari beberapa contoh sederhana ini, jelaslah bahwa moralitas bukanlah suatu abstraksi yang supra-historis, melainkan sesuatu yang berevolusi secara historis, dan berubah setiap waktu. Di Abad Pertengahan yang Gelap, Gereja Katolik Roma mengutuk riba (bunga pinjaman) sebagai salah satu dosa maut. Kini Vatikan memiliki banknya sendiri, dan mendapatkan banyak uang melalui bunga pinjaman. Dengan kata lain, moralitas memiliki basis kelas. Ia mencerminkan nilai, kepentingan dan cara pandang dari kelas sosial yang dominan. Tentu saja moralitas tidak akan dapat berhasil memelihara tingkat kohesi sosial tertentu jika ia tidak diterima oleh sebagian terbesar penduduk. Maka, ia harus menampakkan dirinya sebagai sesuatu yang mutlak, sebagai kebenaran yang tak terbantahkan, yang bila dilanggar akan membawa keruntuhan pada seluruh tatanan sosial.

Hanya sedikit saja pemandangan yang lebih menjijikkan dari pada melihat para tuan nyonya kaya yang terhormat memberi khotbah tentang pentingnya moralitas, agama, keluarga berencana dan cara hidup hemat. Orang-orang ini, yang kerakusannya terwujud tiap hari dalam kenaikan upah raksasa bagi para direktur, memberi khotbah kepada kaum buruh tentang pentingnya semangat berkorban. Para spekulator itu, yang tidak pernah ragu untuk menjatuhkan nilai mata uang negeri mereka sendiri ke dalam kekacauan supaya dapat menggembungkan lebih jauh pundi-pundi mereka yang telah bengkak itu, mengkhotbahi kita tentang pentingnya nilai-nilai patriotisme. Bank-bank, pemerintah-pemerintah, dan perusahaan-perusahaan multinasional itu, yang tanpa belas kasihan memeras kering rakyat di Afrika, Asia dan Amerika Latin, melemparkan caci maki ketika mereka melihat kaum buruh dan tani mengangkat senjata untuk mempertahankan hak-hak mereka. Mereka berkhotbah tentang pentingnya perdamaian di dunia. Tapi tumpukan senjata pembunuh di gudang mereka, yang mereka jual untuk mendapatkan keuntungan yang gemuk menunjukkan bahwa pasifisme mereka sangat relatif sifatnya. Kekerasan hanya dianggap kejahatan jika dilakukan oleh mereka yang miskin dan tertindas. Seluruh sejarah menunjukkan bahwa kelas penguasa selalu mempertahankan kekuasaan dan kedudukan istimewa mereka dengan jalan yang paling brutal, jika dianggap perlu.

Keluarga, Ketertiban, Kepemilikan Pribadi dan Agama selalu tertulis pada panji-panji kaum konservatif pembela status quo. Namun, dari seluruh institusi yang kelihatannya kokoh ini, hanya satu, kepemilikan pribadi, yang menjadi kepentingan sejati kelas penguasa. Agama adalah, seperti yang dikatakan Rees-Mogg dengan terus terang, adalah senjata yang diperlukan untuk menertibkan kaum miskin. Sebagian terbesar dari anggota kelas penguasa tidak percaya barang satu patah kata pun tentang agama. Mereka pergi ke Gereja seperti pergi menonton opera, untuk memamerkan pakaian mereka yang terbaru. Pemahaman mereka tentang teologi sama kaburnya dengan apresiasi mereka terhadap komposisi musik karya Richard Wagner, The Ring Cycle. Dalam kehidupan pribadi mereka, kaum borjuasi hanya menunjukkan sedikit kepedulian akan “hukum-hukum kekal moralitas”. Wabah skandal yang telah mengguncang lembaga-lembaga politik di Italia, Prancis, Spanyol, Inggris, Belgia, Jepang, dan Amerika Serikat adalah sekedar puncak gunung es. Namun mereka tetap bersikeras berkhotbah mengenai “kebenaran moral yang kekal” dan terkejut ketika mereka mendapati diri mereka ditertawakan orang.

Apakah ini berarti bahwa moralitas tidak ada? Atau bahwa kaum Marxis tidak memiliki moralitas? Salah besar. Moralitas ada dan memainkan peran dalam masyarakat. Tiap masyarakat memiliki kode etiknya sendiri, yang berfungsi sebagai ikatan yang kuat, selama kode etik inidiakui dan dihormati oleh sebagian terbesar anggota komunitas. Pada akhirnya, moralitas yang berlakudan hukum-hukumyang berusaha untuk mengimplementasikannya mendapatkan sokongan dari kekuatan negara, yang mencerminkan kepentingan dari kelas atau kasta yang berkuasa, sekalipun hal itu dilakukan dengan cara yang terselubung. Selama tatanan sosial ekonomi yang ada membawa masyarakat melangkah ke depan, maka nilai, ide dan cara pandang dari lapisan berkuasa diterima tanpa pertanyaan oleh sebagian terbesar anggota masyarakat. Basis kelas dari moralitas dijelaskan oleh Trotsky:

“Kelas penguasa memaksakan tujuan-tujuannya kepada masyarakat, dan membuat masyarakat itu menerima bahwa segala hal yang melawan tujuan-tujuan itu sebagai sesuatu tidak bermoral. Inilah fungsi utama dari moralitas resmi, yang bertujuan mewujudkan 'kebahagiaan terbesar' bukan bagi mayoritas melainkan bagi minoritas yang kecil dan terus mengecil jumlahnya. Rejim semacam itu tidak akan dapat bertahan barang seminggu sekalipun jika hanya mengandalkan kekuatan kekerasan. Ia memerlukan semen moralitas.”[7]

Segelintir individu yang berani mempertanyakan moralitas dicap sebagai kafir dan dieksekusi. Mereka dianggap sebagai orang-orang yang “tidak bermoral” -- bukan karena mereka tidak memiliki sudut pandang moral tertentu, melainkan karena mereka tidak mau tunduk pada moralitas yang ada. Socrates dinyatakan sebagai orang yang berpengaruh buruk pada kaum muda Athena, sebelum dipaksa meminum racun. Orang-orang Kristen pertama didakwa melakukan segala macam tindak tak bermoral oleh negara perbudakan yang mengeksekusi mereka tanpa ampun sebelum negara itu memutuskan lebih baik mengakui agama baru ini, supaya dapat membujuk para pemimpin Gereja ke dalam korupsi. Luther dinyatakan sebagai titisan setan, ketika ia menyerang korupsi yang dilakukan oleh Gereja di abad pertengahan.

Kejahatan kaum Marxis terletak pada keberanian mereka menunjukkan bahwa masyarakat kapitalis telah memasuki pertentangan dengan kebutuhan-kebutuhan perkembangan sosial; bahwa ia telah menjadi hambatan terhadap perkembangan umat manusia yang tak dapat lagi ditolerir; bahwa ia dipenuhi dengan segala macam kontradiksi; bahwa ia telah bangkrut secara ekonomi, politik, budaya dan moral; dan bahwa semakin lama sistem ini bertahan semakin kita mempertaruhkan keselamatan dari seluruh planet ini. Dari sudut pandang mereka-mereka yang memiliki dan mengendalikan kekayaan masyarakat, ide-ide ini tentulah “buruk”. Dari sudut pandang apa yang dibutuhkan untuk menemukan jalan keluar dari jalan buntu ini, ide-ide ini tepat, perlu dan baik.

Krisis kapitalisme yang berkepanjangan ini telah berakibat paling buruk pada moralitas dan kebudayaan. Di mana-mana, gejala disintegrasi sosial nampak mencolok mata. Keluarga borjuis sedang mengalami keruntuhan, tapi, karena tidak ada yang dapat menggantikannya, hal ini kemudian malah membawa satu mimpi buruk kemiskinan dan degradasi bagi berjuta keluarga miskin. Kota-kota Amerika Serikat dan Eropa yang sedang membusuk, dengan kantung-kantung pengangguran dan kemiskinannya, adalah ladang subur untuk penyalahgunaan narkoba, kejahatan dan segala macam mimpi buruk lainnya.

Dalam masyarakat kapitalis, orang dianggap sebagai komoditi yang dapat dibuang sesudah tidak dibutuhkan lagi. Barang yang tidak dapat dijual dibiarkan di gudang sampai membusuk. Mengapa manusia harus diperlakukan berbeda? Cuma, halnya tidak demikian sederhana dengan manusia. Mereka tidak dapat dibiarkan kelaparan dan meninggal dalam jumlah besar, karena penguasa takut akan konsekuensi sosialnya. Jadi, dalam kontradiksi puncak kapitalisme, kaum borjuis terpaksa memberi makan para pengangguran, bukannya diberi makan oleh mereka. Sebuah keadaan yang benar-benar gila, di mana laki-laki dan perempuan ingin bekerja, untuk menambah kekayaan masyarakat, dan dihalangi bekerja oleh “hukum-hukum pasar”.

Ini adalah masyarakat yang sangat tidak berperikemanusiaan, di mana manusia dianggap lebih rendah daripada benda. Apakah mengherankan bahwa beberapa di antara orang-orang ini berlaku seperti bukan manusia? Tiap hari koran-koran tabloid dipenuhi dengan cerita-cerita horor tentang pelecehan yang mengerikan yang dilakukan terhadap mereka yang paling lemah, lapisan masyarakat yang paling tak berdaya --perempuan, anak-anak, orang-orang tua. Inilah barometer yang paling akurat untuk mengukur keadaan moral masyarakat. Hukum kadangkala menghukum pelanggaran-pelanggaran ini, sekalipun secara umum kejahatan terhadap properti (besar) diselidiki secara lebih bersemangat oleh polisi ketimbang kejahatan terhadap orang. Tapi, dalam semua kasus, akar sosial mendasar dari kejahatan selalu berada di luar jangkauan pengadilan dan kepolisian. Pengangguran merupakan induk dari segala jenis kejahatan. Tapi, masih ada faktor-faktor lain yang lebih halus dan tak kasat mata.

Budaya egoisme, keserakahan dan ketidakpedulian terhadap kesengsaraan sesama telah berkembang biak dengan pesat, khususnya dalam dua dasawarsa terakhir, ketika budaya ini diberi tanda tangan persetujuan oleh Reagan dan Thatcher. Inilah wajah sejati dari kapitalisme, lebih tepatnya, wajah sejati dari kapital monopoli dan finans –yang tanpa belas-kasihan, kasar, rakus, dan kejam. Inilah kapitalisme di masa uzurnya, yang terus berusaha memulihkan kebugaran masa mudanya. Inilah kapitalisme parasit, dengan kecenderungan melakukan spekulasi keuangan dan moneter, bukannya memproduksi kekayaan yang sebenarnya. Ia lebih menyukai “jasa” daripada industri. Ia menutup pabrik-pabrik seperti kotak korek api, dan dengan keji menghancurkan seluruh komunitas dan industri, dan menganjurkan agar para penambang dan pekerja logam untuk mencari kerja di restoran hamburger. Ini adalah ujaran “Biarlah mereka makan kue” pada abad ke-20.[8]

Agak terpisah dari konsekuensi sosial-ekonomi mengerikan dari doktrin ini, ia juga menyebar racun moral yang mematikan ke seluruh bangunan masyarakat. Orang yang menganggur dihadapkan dengan sebuah pertunjukkan “masyarakat konsumerisme”, di mana pencarian dan pembelanjaan uang disajikan sebagai satu-satunya aktivitas yang layak dikerjakan. Orang-orang yang dijadikan teladan dalam masyarakat ini adalah orang-orang yang gemar menyingkirkan sesamanya, orang-orang yang kaya dengan cepat, yang siap menghalalkan segala cara untuk “maju”. Inilah wajah sejati dari “pasar bebas”, seorang avonturis yang tidak punya prinsip, yang licik dan suka menipu, picik dan dungu, preman berjas mahal, yang merupakan personifikasi dari kerakusan dan keegoisan. Inilah orang-orang yang bertepuk tangan melihat penutupan sekolah dan rumah sakit, pemotongan dana pensiun dan pengeluaran-pengeluaran lainnya“yang tidak mendatangkan keuntungan”, sementara mereka menumpuk tinggi laba hanya dengan mengangkat telepon, tanpa pernah menghasilkan sesuatupun untuk kesejahteraan seluruh masyarakat.

Seringkali dinyatakan bahwa orang “secara alamiah” bertindak menurut kepentingannya sendiri. Ini kemudian diartikan dengan cara yang sempit, sebagai egoisme personal. Pengertian semacam itu jelas sesuai dengan para pembela tatanan sosial-ekonomi yang sekarang, di mana kerakusan dan pengejaran kepentingan diri sendiridiangkat tinggi sebagai prinsip moral yang mulia, yang sejajar dengan perwujudan “kebebasan pribadi”. Jika demikian halnya, masyarakat manusia tidak akan pernah berkembang. Kata “kepentingan” [interest] itu sendiri datang dari kata Latin “inter-esse” yang berarti “berpartisipasi”. Seluruh basis dari evolusi moral dan kecerdasan seorang anak adalah pergerakan menjauhi “egoisme” dan menuju rasa yang lebih peka atas kebutuhan dan keperluan orang lain. Masyarakat manusia didasarkan pada keperluan untuk produksi sosial, kerja sama dan komunikasi.

Kebuntuan kapitalisme mengancam mendorong kebudayaan manusia kembali pada tingkat kanak-kanak, dalam maknanya yang terburuk – seperti seorang uzur kembali ke mentalitas anak kecil. Sebuah masyarakat yang teratomisasi, yang mementingkan diri sendiri tanpa visi, tanpa moralitas, tanpa filsafat, tanpa jiwa, sebuah masyarakat yang “sans teeth, sans eyes, sans taste, sans everything”.[9]

Kemungkinan yang Tak Terbatas

Setiap sistem sosial membayangkan bahwa dialah yang merupakan sistem paling pamungkas dalam perkembangan sejarah. Semua sejarah yang sebelumnya dianggap hanya merupakan satu persiapan bagi metode produksi mereka, dan semua bentuk kepemilikan yang legal, sistem moral, agama dan filsafat yang menyertainya. Namun tiap sistem masyarakat hanya ada sampai tingkat di mana ia menunjukkan kemampuannyauntuk memenuhi kebutuhan populasi, dan memberikan harapan bagi masa depan. Ketika ia gagal melakukan itu, ia memasuki sebuah proses yang tak dapat dibalik, proses kemunduran, bukan hanya secara ekonomi, tapi juga moral, kebudayaan dan dalam tiap aspeknya. Masyarakat seperti itu sudah mati, sekalipun para pembelanya menolak mengakui hal itu.

Sejalan dengan semakin mendekatnya akhir abad ke-20, terdapat satu perasaan keletihan dan kehabisan tenaga yang jelas dan merasuk ke mana-mana di dalam masyarakat kapitalis. Seakan-akan cara hidup yang lama telah menjadi tua dan membusuk. Ini bukanlah apa yang oleh para penulis dirujuk sebagai mal du siecle, atau penyakit abad. Ia adalah sebuah kesadaran samar bahwa “ekonomi pasar” telah mencapai batasnya. Namun, sekalipun sebuah bentuk masyarakat tertentu telah hidup lebih lama dari seharusnya, ini tidak berarti bahwa perkembangan umat manusia juga terbatas. Sejarah bukan saja belum berakhir. Sejarah malah belum dimulai. Jika kita melihat sejarah sebagai sebuah kalender di mana 1 Januari merupakan awal terbentuknya bumi dan 31 Desember merupakan hari ini, dengan mengambil pembulatan usia bumi 5 miliar tahun, tiap detik akan merupakan 167 tahun, tiap menit 10.000 tahun. Jaman Kambrium Bawah akan dimulai tanggal 18 November. Manusia muncul sekitar pukul 11.50 malam pada tanggal 31 Desember. Seluruh sejarah manusia yang tercatat akan jatuh pada empatpuluh detik terakhir menjelang tengah malam.

Ilya Prigogine telah dengan bijak berkomentar bahwa “Pemahaman ilmiah tentang dunia di sekeliling kita baru saja dimulai.” Peradaban manusia, yang bagi kita terlihat sangat tua, sesungguhnya masih sangat muda. Pada kenyataannya, peradaban yang sejati, dalam makna sebuah masyarakat di mana manusia dengan sadar mengendalikan hidupnya sendiri, dan sanggup hidup dalam satu keberadaan yang sepenuhnya manusiawi, dan bukannya satu perjuangan saling memangsa yang hewani, belum dimulai sama sekali. Yang kita lihat sekarang adalah sebuah bentuk masyarakat tertentu yang telah menjadi tua dan lelah. Ia bertahan untuk tetap hidup, sekalipun ia tidak memiliki apapun lagi untuk ditawarkan. Pesimisme tentang masa depan, yang tercampur dengan takhayul dan harapan Penyelamatan yang utopis, merupakan ciri khusus bagi periode semacam itu.

Di tahun 1972, Club of Rome menerbitkan sebuah laporan yang suram, yang berjudul The Limits of Growth yang meramalkan bahwa pasokan bahan bakar fosil dunia akan habis dalam beberapa dasawarsa. Laporan inimenyebabkan kepanikan, melambungnya harga minyak dunia, dan pencarian sumber energi alternatif seperti orang gila. Lebih dari duapuluh tahun kemudian, tidak ada kelangkaan minyak atau gas, dan hanya sedikit saja orang yang sekarang mau repot-repot mencari energi alternatif. Rabun jauh macam ini adalah salah satu ciri kapitalisme, yang dimotivasi oleh pencarian keuntungan jangka pendek. Tiap orang tahu bahwa cepat atau lambat pasokan bahan bakar fosil akan habis. Kita membutuhkan sebuah rencana jangka panjang untuk menemukan energi alternatif yang murah dan ramah lingkungan.

Alam menyediakan sumber energi yang tak berbatas -- matahari, angin, laut, dan di atas segalanya, materi itu sendiri, yang mengandung energi raksasa yang belum termanfaatkan. Fusi nuklir (bukan seperti fisi nuklir) menyediakan satu potensi untuk energi yang murah, ramah lingkungan dan tak berbatas. Tapi perkembangan bahan bakar alternatif tidaklah sesuai dengan kepentingan perusahaan monopoli minyak. Di sini lagi, kepemilikan pribadi atas alat produksi bertindak sebagai penghalang raksasa bagi perkembangan umat manusia. Masa depan planet ini hanya nomor sekian dibandingkan kepentingan segelintir orang untuk menjadi kaya.

Solusi untuk masalah-masalah mendesak yang dihadapi dunia ini hanya dapat ditemui di dalam sebuah sistem ekonomi yang berada di bawah kendali rakyat secara sadar. Masalahnya bukanlah bahwa ada satu batas inheren bagi perkembangan. Masalahnya terletak pada sistem produksi yang kuno dan usang, yang menyia-nyiakan hidup manusia dan sumberdaya alam, yang merusak lingkungan dan mencegah potensi ilmu pengetahuan dan teknologi untuk berkembang sepenuhnya. “Tidak ada satu hubungan antara ilmu pengetahuan dan kesempatan bisnis,” seorang komentator menulis baru-baru ini, “teori relativitas umum masih harus diubah menjadi sumber penghasil uang.” (The Economist, 25 Februari 1995.)

Namun, bahkan pada saat ini, kemungkinan-kemungkinan yang terkandung dalam teknologi tetaplah menakjubkan. Inovasi teknologi telah membuka pintu ke revolusi kebudayaan yang sejati. Televisi interaktif kini sudah menjadi sesuatu yang mungkin. Kemungkinan untuk berpartisipasi aktif dalam pengembangan program televisi memiliki potensi yang amat besar, jauh lebih besar dari sekedar menentukan program mana yang ingin kita tonton. Ia membuka pintu ke partisipasi demokratik dalam menjalankan masyarakat dan perekonomian, dengan cara yang sebelumnya tampak hanya seperti mimpi.

Kelahiran kapitalisme dicirikan oleh keruntuhan hubungan-hubungan parokial lama, dan kelahiran negara-bangsa. Kini pertumbuhan kekuatan produktif, ilmu dan teknologi telah membuat negara-bangsa itu sendiri menjadi suatu yang tidak lagi dibutuhkan. Seperti yang telah diramalkan Marx, negara-bangsa yang paling besar sekalipun diwajibkan untuk turut serta dalam pasar dunia. Nasionalisme lama telah menjadi sesuatu yang mustahil.

Back to the Future?

Manusia-manusia awal terikat sangat erat dengan alam. Ikatan ini secara bertahap dipatahkan oleh perkembangan kehidupan perkotaan, dan divisi antara kota dan desa, yang telah mencapai proporsi yang mengerikan di bawah kapitalisme. Perceraian antara manusia dan alam telah menciptakan dunia keterasingan yang tidak alamiah. Sebuah manifestasi lebih jauh dari keterasingan ini adalah perceraian sepenuhnya antara kerja mental dan fisik, apartheid sosial yang tidak sehat yang memisahkan kasta pendeta modern yang menguasai ilmu pengetahuan dari “mereka-mereka yang membelah kayu dan memanggul air.” Itu bukan sekedar pengasingan manusia dari alam. Ini adalah pengasingan umat manusia dari dirinya sendiri. Untuk keluar dari kondisi ketergantungan sepenuhnya atas alam, untuk mengangkat diri keluar dari kubangan keberadaan hewani, untuk meraih kesadaran -- inilah yang membuat kita menjadi manusia. Tapi pencapaian inipun telah hilang dari genggaman kita, dan semakin hilang seiring berjalannya waktu. Proses ini telah berjalan demikian jauh sehingga ia telah berubah menjadi kebalikannya. Sejalan dengan bertambah besarnya kota, semakin padat dan berpolusi, sebuah mimpi buruk sedang diciptakan. Dalam beberapa dasawarsa mendatang, Shanghai sendirian akan memiliki jumlah penduduk melebihi Inggris Raya. Perumahan yang buruk, kejahatan, narkoba dan sebuah proses dehumanisasi dihadapi oleh jutaan orang menjelang abad ke-21.

Karakter“peradaban” yang sepihak dan artifisial ini menjadi semakin menekan, bahkan bagi mereka yang tidak menderita kondisi yang terburuk. Kerinduan akan bentuk-bentuk kehidupan yang lebih bersahaja, di mana manusia dapat hidup dengan lebih alami, bebas dari segala tekanan persaingan dan konflik mewujud dalam kecenderungan di kalangan muda untuk “drop out” (keluar) dari masyarakat, dalam upaya untuk menemukan kembali surga yang hilang itu. Ada satu kesalahpahaman di sini. Pertama-tama, kehidupan orang-orang primitif tidaklah sesantai seperti yang dibayangkan. “Orang barbar yang mulia” selalu menjadi fiksi dari penulis-penulis Romantik, yang sama sekali tidak ada kemiripannya dengan kenyataan. Nenek moyang kita sangat dekat dengan alam, hanya karena mereka adalah budak dari alam.

Namun demikian, ada sisi lain dari sini. Orang-orang “primitif” ini hidup cukup bahagia tanpa harus membayar sewa, bunga dan mencari keuntungan. Perempuan tidaklah dianggap sebagai milik pribadi tapi menempati kedudukan yang terhormat dalam masyarakat. Uang tidak dikenal. Demikian pula dengan negara, dengan birokrasinya yang mengerikan itu, dan badan khusus orang-orang bersenjata, polisi, sipir dan para hakim. Dalam komunisme kesukuan primitif, tidak ada negara dalam makna sebuah alat pemaksa, aparatus penindas. Yang ada adalah para tetua yang dihormati semua orang, dan kata-kata mereka adalah hukum. Kemudian, para kepala suku berkuasa karena ia dihormati secara sukarela oleh seluruh komunitas. Pemaksaan tidaklah diperlukan, karena semua orang memiliki kepentingan yang sama. Inilah basis bagi ikatan sosial untuk kerja sama dan persatuan. Tidak satupun penguasa modern yang akan pernah mencicipi penghormatan yang dinikmati oleh para kepala suku kuno, yang dijamin oleh sebuah perasaan identitas dan kewajiban bersama, yang “dikodifikasi” dalam tradisi oral sebagai legenda kesukuan, yang dikenal oleh semua orang dan diterima secara universal. Rasa hormat ini pastilah hampir mirip dengan perasaan yang dimiliki seorang anak terhadap orang tuanya.

 Dalam jaman yang katanya jaman pencerahan ini, banyak orang, termasuk mereka yang suka berpikir bahwa dirinya terpelajar, berpikir bahwa manusia tidak mungkin bisa bekerja sama tanpa uang, polisi, penjara, tentara, pedagang, pemungut pajak, hakim dan para uskup. Dan kalaupun mereka bisa hidup tanpa semua ini, mereka dicibir sebagai“primitif” karena mereka belum menyadari manfaat-manfaat dari lembaga-lembaga ini bagi umat manusia.

Setiap orang yang pernah melihat film tentang suku-suku yang sampai sekarang masih hidup dalam peradaban jaman batu di hutan Amazon tidak mungkin tidak terkesan oleh kealamiahan dan spontanitas mereka, yang mirip anak-anak, sebelum ini dihancurkan oleh kehidupan kapitalisme yang penuh persaingan dan perlombaan. Dalam Injil Matius, Yesus mengatakan, “Sesungguhnya, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Pasal 18:3). Dalam proses pertumbuhan, sesuatu yang penting hilang, yang tidak akan pernah didapatkan lagi. Inilah runtuhnya keluguan, yang dalam kitab Kejadian digambarkan dengan kisah manusia memperoleh pengetahuan. Masyarakat modern tidak akan pernah dapat kembali ke komunisme kesukuan primitif, seperti seorang dewasa tidak akan menjadi kanak-kanak lagi.

Adalah satu hal yang dianggap tidak alami dan tidak sehat bagi seorang dewasa untuk berkeinginan kembali ke masa kanak-kanaknya. Bagaimanapun juga, ini adalah keinginan yang sia-sia, karena mustahil. Tapi seiring dengan keluguannya, seorang anak kecil juga memiliki kualitas-kualitas lain -- kegembiraan yang spontan dan kealamiahan, yang merupakan sesuatu yang asing bagi orang dewasa. Hal yang sama terjadi juga pada orang-orang “primitif”, sebelum datangnya masyarakat kelas, sebelum pembagian kerja yang sepihak dan mencekik ini memuntir watak manusia. Artis modern mana yang sanggup menghasilkan lukisan yang memiliki keakraban dan keindahan alami demikian mengagumkan seperti yang dibuat oleh para pelukis gua di Lascaux dan Altamira?

Kita tidak ingin mundur ke belakang, tapi maju ke depan. Kita tidak ingin kembali ke komunisme kesukuan yang primitif, tapi maju ke masa depan persemakmuran sosialis dunia. Negasi atas negasi membawa kita kembali ke titik awal perkembangan umat manusia, tapi hanya di kulit luarnya saja. Sosialisme di masa depan akan mendasarkan dirinya pada semua penemuan menakjubkan yang sudah dibuat di masa lalu dan kini, dan menggunakannya untuk kepentingan umat manusia. Seperti kata Hegel, “yang universal, namun dipenuhi dengan kekayaan partikular.”

Marx menulis:

“Seorang manusia dewasa tidak dapat menjadi anak kecil lagi, atau dia akan menjadi kekanak-kanakan. Tapi apakah ia tidak menemukan kegembiraan dalam kenaifan seorang anak, dan apakah ia sendiri tidak harus berusaha menghasilkan kembali kegembiraan itu pada tingkat yang lebih tinggi? Apakah ciri sejati dari tiap epos tidak hidup dalam sifat kanak-kanak yang hidup di jamannya? Mengapa masa kanak-kanak dari sejarah manusia, masa perkembangannya yang paling indah itu, sebagai satu tahap yang tidak mungkin kembali,tidak boleh menimbulkan rasa kagum yang kekal? Ada kanak-kanak yang masih liar dan ada kanak-kanak yang telah berkembang sepenuhnya. Banyak orang yang sudah berusia lanjut termasuk kategori ini. Orang-orang Yunani adalah kanak-kanak yang normal. Pesona seni mereka bagi kita tidaklah berkontradiksi dengan tahapan masyarakat mereka yang belum berkembang itu di mana seni itu tumbuh. Seni itu justru adalah hasil dari tahapan masyarakat tersebut, dan terikat erat dengan fakta bahwa kondisi-kondisi sosial yang belum matang dari mana ia tumbuh besar, dan hanya dapat tumbuh di bawah kondisi-kondisi tersebut, tidak akan pernah kembali lagi.”[10]

Sosialisme dan Estetika

Di masyarakat masa kini, arsitektur berada dalam hubungan yang buruk dengan seni. Orang terbiasa hidup dalam lingkungan yang buruk, perumahan yang buruk, dalam kota yang padat, dikepung oleh kebisingan dan polusi. Di akhir pekan, beberapa dari mereka pergi ke balai seni, di mana, untuk beberapa jam, mereka dapat mengagumi lukisan-lukisan yang tergantung di dinding -- pulau keindahan di tengah lautan kejelekan yang menyesakkan. Dengan demikian, keindahan dipisahkan dari kehidupan, sebuah mimpi yang tak mungkin terwujud, sebuah fiksi, sama jauhnya dari kenyataan dengan galaksi yang terjauh dari bumi. Demikian jauhnya ia telah terpisah dari kehidupan sehingga banyak orang menganggapnya sesuatu yang tidak relevan dan tidak berguna. Rasa benci terhadap seni, yang dilihat sebagai hak istimewa dari kelas menengah, adalah konsekuensi lebih jauh dari pembagian ekstrem antara kerja mental dan kerja fisik. Kondisi yang barbar melahirkan sikap yang barbar.

Keadaannya tidaklah selalu demikian. Dalam masyarakat manusia yang awal, musik, puisi yang epik dan perbincangan yang halus merupakan milik bersama dari semua laki-laki dan perempuan. Monopoli atas kebudayaan oleh minoritas kecil adalah produk dari masyarakat kelas, yang melucuti mayoritas rakyat, tidak hanya dari properti, tetapi juga dari hak untuk mengembangkan pikiran dan kepribadian mereka secara bebas. Namun, jika kita berhenti dan berpikir tentang apa yang ada di balik permukaan ini, kita akan menemukan keinginan yang kuat untuk belajar, untuk mengalami ide-ide baru, untuk mencari cakrawala yang lebih luas. Kehausan massa akan budaya, yang tertindas jauh di bawah kondisi “normal”, muncul ke permukaan dalam tiap revolusi.

Revolusi Rusia 1917, yang katanya merupakan tindakan yang barbar, pada kenyataannya merupakan satu titik awal bagi lompatan besar dalam kebudayaan, puisi, seni dan musik. Hal ini tidak dapat disangkal sekalipun perkembangan budaya ini kemudian diinjak-injak di bawah sepatu lars Stalinisme. Dalam Revolusi Spanyol 1931-37, juga ada pencerahan seni yang serupa -- puisi-puisi Lorca, Machado, Alberti dan di atas semuanya, Miguel Hernandez, diilhami oleh perjuangan itu, dan pada gilirannya didengarkan dengan begitu khidmat oleh jutaan orang yang sebelumnya tidak memiliki akses pada dunia seni dan budaya yang indah gilang-gemilang itu.

Dalam sebuah revolusi, rakyat jelata mulai melihat diri mereka sendiri sebagai manusia, sanggup mengendalikan takdir mereka sendiri, bukan sekedar “alat yang dapat berbicara”. Dengan kemanusiaan yang sejati muncullah harga diri; satu rasa penghormatan terhadap diri sendiri dan rekannya yang setia, penghormatan terhadap orang lain. Para pelayan menempelkan catatan di restoran-restoran Barcelona di tahun 1936, yang menyatakan: “Hanya karena seseorang harus bekerja di sini, itu tidak berarti Anda harus menghinanya dengan menawarkan tips.” Inilah kelahiran kebudayaan -- kebudayaan manusia yang sejati, yang merupakan bagian dari hidup itu sendiri. Fenomena yang sama, dalam bentuk benih, dapat terlihat dalam berbagai pemogokan, di mana para pemogok mengungkapkan kualitas-kualitas yang sebelumnya mereka kira tidak pernah mereka miliki dan tidak akan pernah dapat mereka miliki. Tentu, jika gerakan itu tidak membawa satu perubahan yang menyeluruh dalam masyarakat, beban berat dari kebiasaan dan rutinitas akan sekali lagi mendominasi. Kondisi material menentukan kesadaran. Namun, sebuah masyarakat sosialis yang berdasarkan teknologi dan budaya tinggi akan sepenuhnya mengubah cara pandang orang.

Seringkali dikatakan oleh para ahli logika dan matematika bahwa simetri sempurna yang mereka kagumi mengandung sebuah nilai estetik yang intrinsik. Beberapa orang bahkan melangkah demikian jauh dengan mengklaim bahwa hal yang paling penting dari sebuah persamaan matematika bukanlah apakah mereka menggambarkan realitas, tapi apakah mereka tampak indah. Walaupun tidak akan ada yang menyangkal bahwa simetri adalah indah, tapi ada simetri dan ada“simetri”. Bangunan-bangunan Athena klasik yang harmonis dianggap banyak orang sebagai titik tinggi dalam sejarah arsitektur. Tentu di sini terdapat sebuah simetri yang menyenangkan di sini, dan satu simetri yang mengingatkan kita pada hubungan linear geometri Euclides. Makna penting arsitektur di Athena pada jaman Pericles adalah satu ekspresi grafik dari cara pandang demokrasi Athena yang bersemangat publik (yang didasarkan, tentu saja, pada kerja kaum budak, yang sepenuhnya berada di luar demokrasi itu). Bangunan-bangunan besar di Acropolis dan Athena, tanpa kecuali, adalah bangunan umum, bukan kediaman pribadi. Di jaman kita sekarang, kemegahan semacam itu sangatlah jarang terdapat. Prioritas rendah yang diberikan pada arsitektur dibandingkan dengan seni lain bukanlah satu kebetulan.

Atas nama “nilai guna”, yang merupakan sinonim sopan untuk penghematan uang, manusia dipaksa untuk hidup dalam kotak-kotak beton yang menjulang tinggi, yang tidak memiliki nilai artistik atau kehangatan manusiawi sama sekali. Bangunan-bangunan buruk rupa ini didesain oleh para arsitek, yang diilhami oleh prinsip-prinsip geometris. Namun mereka sendiri lebih suka tinggal di vila mereka di luar kota, yang didesain ala abad ke-15, jauh dari mimpi buruk perkotaan yang mereka ciptakan sendiri. Manusia pada umumnya tidak suka hidup dalam kotak-kotak. Dan alam mengenal simetri yang sama sekali bukan berbentuk garis lurus atau lingkaran-lingkaran sempurna.

Semua itu hanyalah sisi lain darikekosongan mekanik dari jalur produksi di pabrik, di mana, mengutip Marx, manusia diperlakukan sebagai sekedar aksesori mesin. Dari logika yang sama maka manusia dijejal saja untuk hidup bersesakan di dalam kotak-kotak beton yang dibangun dengan prinsip-prinsip “industrial” yang sama, dan mengapa tidak? Reduksionisme yang sama keringnya, formalisme yang sama kosongnya, pendekatan yang sama linearnya telah menjadi watak arsitektur di abad ini. Di sini keterasingan dalam masyarakat kapitalis lanjut mewujudkan dirinya dalam perlakuan yang tidak-peka terhadap kebutuhan manusia yang paling dasar, yakni kebutuhannya untuk hidup di lingkungan yang bersih, indah dan sepenuhnya manusiawi. Ketika hidup ini telah dilucuti dari seluruh kemanusiaannya, ketika ia dibuat tidak alamiah dengan seribu satu macam cara, bagaimana mungkin kita terkejut ketika beberapa produk dari apa-yang-disebut peradaban ini mengadopsi tingkah laku yang tidak alamiah dan tidak manusiawi?

Di sini juga, kita menyaksikan pemberontakan terhadap konformisme dan kekakuan yang tidak berjiwa ini. Gedung-gedung tinggi dan pencakar langit yang menjulang itu, yang dengan tepat digambarkan oleh seorang penulis Inggris sebagai “menara kebodohan yang telanjang”, semakin hari semakin tak disukai. Dan tidak mengherankan. Itu semua adalah monumen atas keterasingan pada skala yang masif, satu kemerosotan progresif ke dalam kondisi hidup yang tidak manusiawi, yang melahirkan segala macam kengerian dari rahimnya.

Fisikawan Jerman Gert Ellenberger bertanya,

“Mengapa siluet dari sebuah pohon yang telah dirontokkan oleh badai, dengan latar belakang langit malam di musim dingin, dianggap sebagai satu keindahan, tapi siluet dari sebuah gedung universitas serba-guna tidak, bagaimanapun kerasnya para arsiteknya berusaha? Jawabannya kelihatannya bagi saya, bahkan jika kedengarannya agak spekulatif, dapat ditemukan pada pemahaman baru kita tentang sistem-sistem dinamis. Cita rasa kita diilhami oleh aransemen keteraturan dan ketidakteraturan yang harmonis seperti yang terdapat dalam objek-objek alamiah -- awan, pepohonan, pegunungan atau kristal salju, dan kombinasi tertentu dari keteraturan dan ketidakteraturan adalah sesuatu yang tipikal bagi mereka.”

Seperti yang diamati dengan tepat oleh James Gleick,

“Bentuk-bentuk yang sederhana tidaklah manusiawi. Mereka tidak akan sesuai dengan cara alam mengorganisir diri mereka, atau dengan cara manusia melihat dunia.”[11]

Jauh-jauh hari Karl Marx telah menunjukkan konsekuensi berbahaya dari pemisahan kerja yang ekstrem antara kota dan desa. Ini bukan masalah “kembali ke alam”, seperti yang dianjurkan oleh beberapa ahli ekologi, yang bermimpi melarikan diri dari keburukrupaan masa kini dengan melarikan diri ke dalam apa yang disebut pesona surga pedesaan dari sebuah masa lalu yang mistik. Kita tidak mungkin kembali ke sana. Ini bukan persoalan menyangkal teknologi, tapi perjuangan melawan penyalahgunaan teknologi demi keuntungan pribadi, yang menghancurkan lingkungan dan menciptakan neraka di dunia, di mana seharusnya sebuah surga ada di sana. Inilah tugas sentral yang dihadapi umat manusia dalam dasawarsa terakhir abad ke-20 ini.

“Pemikir” dan “Pekerja”

“Nec manus, nisi intellectus, sibi permissus, multum valent.” (Baik tangan, maupun nalar, jika dipisahkan satu sama lain, tidak akan bernilai apa-apa.)- Francis Bacon.

Perceraian total antara teori dan praktek di masyarakat hari ini telah menjadi sangat berbahaya. “Teori-teori” yang semakin hari semakin fantastis, yang diedarkan oleh beberapa ahli kosmologi dan fisikawan teoritik tertentu, jelas merupakan konsekuensi dari fakta ini. Setelah dibebaskan dari keharusan untuk melengkapi teori mereka dengan bukti-bukti konkret, dan semakin bersandar pada persamaan-persamaan yang rumit dan interpretasi-interpretasi kaku dari teori relativitas, hasil dari pemikiran yang sepenuhnya spekulatif ini semakin hari semakin aneh.

Telah tiba waktunya untuk memeriksa kembali seluruh sistem pendidikan, dan sistem masyarakat kelas yang menjadi fondasinya. Telah tiba waktunya untuk menimbang kembali kesahihan dari pembagian umat manusia menjadi “pemikir” dan “pekerja”, bukan dari sudut pandang keadilan moral yang abstrak, melainkan karena ia kini telah menjadi penghalang bagi perkembangan kebudayaan dan masyarakat. Perkembangan umat manusia di masa datang tidak dapat didasarkan pada pembagian kaku macam ini. Teknologi baru yang kompleks menuntut satu angkatan kerja yang terdidik, yang mampu melakukan pendekatan yang kreatif. Ini tidak akan pernah tercapai dalam masyarakat yang terpecah di tengah oleh apartheid kelas. Dalam sebuah kutipan yang sangat perseptif, Margaret Donaldson menunjukkan situasi yang tidak memuaskan yang ada di universitas-universitas kita saat ini:

“Lihatlah fakultas teknik di universitas kita. Mereka mengajarkan matematika dan fisika, dan mereka memang harus mengajarkan itu. Tapi mereka tidak mengajarkan orang untuk membuat sesuatu. Anda dapat lulus dari teknik mesin tanpa pernah menggunakan mesin bor. Hal-hal ini hanya dianggap cocok untuk para teknisi. Dan bagi kebanyakan dari mereka, di pihak lain, matematika dan fisika yang lebih tinggi dari level dasar biasanya jauh dari jangkauan.”

Filsuf dan ahli pendidikan Inggris Alfred North Whitehead sangat khawatir dengan situasi macam ini, dan, dalam artikelnya Technical Education and its Relation to Science and Literature, menulis bahwa “dalam mengajar, Anda akan gagal kalau Anda melupakan bahwa murid-murid Anda memiliki tubuh,” dan menambahkan: “Sudah tidak perlu lagi diperdebatkan apakah tangan manusia yang menciptakan otak, atau otak yang menciptakan tangan. Yang jelas hubungannya sangat erat dan dua arah.”

Donaldson dengan tepat menunjukkan bahwa, walaupun pemikiran abstrak (ia menyebutnya “pemikiran tanpa tubuh”) menuntut kemampuan untuk keluar dari kehidupan, ia akan membuahkan hasil terbaik jika dikaitkan dengan pekerjaan. Seluruh sejarah Pencerahan adalah bukti dari pernyataan ini. Benar, bidang-bidang ilmu pengetahuan modern telah berkembang jauh lebih luas daripada apa yang ada masa itu, tapi apakah itu berarti bahwa mustahil bagi para ilmuwan untuk belajar dari disiplin yang lain? Ketimbang disebabkan oleh semakin rumitnya subjek penelitian, situasi apartheid intelektual yang ada sekarang merupakan hasil dari bagaimana masyarakat hari ini disusun, dan sikap, prasangka, dan kepentingan material yang mengalir dari susunan itu, yang berusaha dengan segala cara untuk mempertahankan dirinya.

Kaum reaksioner berusaha membenarkan keadaan hari ini dengan determinisme genetik: jika beberapa dari “kami” pintar, dan memiliki pekerjaan yang baik dan gaji yang tinggi, itu karena kami dilahirkan di bawah bintang keberuntungan (baca: “dengan gen-gen yang tepat”). Fakta bahwa sebagian besar umat manusia tidaklah sedemikian beruntung pastilah karena ada sesuatu yang salah dengan gen-gen mereka. Menjawab sampah ini, Donaldson menulis:

“Apakah hanya beberapa dari kita yang mampu bergerak keluar dari batasan indera manusia dan berfungsi baik? Saya meragukan hal itu. Walaupun mungkin masuk nalar jika kita mempostulatkan bahwa kita masing-masing memiliki sebuah 'potensi intelektual' yang ditentukan secara genetik, di mana satu orang pasti akan berbeda dengan yang lain, tidak ada alasan untuk menganggap bahwa kebanyakan dari kita -- atau kita semua -- dapat mewujudkan apa yang sebenarnya mampu kita lakukan. Dan bahkan tidaklah pasti bahwa akan masuk nalar jika kita berpikir mengenai batasan atas. Karena, seperti yang ditunjukkan Jerome Bruner, terdapatlah alat-alat bagi otak sebagaimana alat-alat bagi tangan – dan dalam kedua kasus ini perkembangan alat-alat baru membawa satu kemungkinan untuk menyingkirkan batas-batas itu. Dengan argumen yang sama, David Olson mengatakan: 'Kecerdasan bukanlah sesuatu yang tidak dapat berubah; kecerdasan adalah sesuatu yang kita olah dengan teknologi, atau sesuatu yang kita ciptakan dengan menemukan teknologi baru.”[12]

Ahli pendidikan besar Soviet, Vygotsky, tidak percaya bahwa para guru harus menerapkan kontrol yang kaku atas apa yang harus dipelajari anak. Seperti Piaget, ia menganggap aktivitas anak sebagai titik pusat pendidikan. Bukannya merantai anak pada meja belajar, di mana mereka secara mekanik mempelajari hal-hal yang tidak memiliki makna bagi mereka, Vygotsky menekankan perkembangan intelektual yang sejati. Namun, ini tidak bisa dipertimbangkan secara terpisah dari konteks sosial yang ada. Dalam sebuah masyarakat sosialis yang sejati, pendidikan akan dihubungkan dengan aktivitas praktis yang kreatif sejak awalnya, dengan demikian meruntuhkan tembok pembodohan yang memisahkan kerja mental dan manual. Vygotsky berada jauh di depan masanya. Metode pendidikannya menunjukkan imajinasi yang luar biasa, contohnya, dalam mengizinkan anak belajar dari satu sama lain:

“Vygotsky menganjurkan menggunakan seorang anak yang lebih maju untuk membantu anak yang kurang maju. Untuk waktu yang lama, metode ini digunakan sebagai basis pendidikan egalitarian Marxis di Uni Soviet. Dasar pemikiran sosialisnya adalah bahwa semua anak bekerja bersama untuk kebaikan bersama, bukan seperti di bawah masyarakat kapitalis di mana tiap anak saling bersaing untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya dari sekolah tanpa memberi apapun kembali padanya. Anak yang lebih cerdas membantu masyarakat dengan membantu anak yang kurang cerdas, karena yang disebut belakangan ini akan (diharapkan demikian) lebih menjadi aset bagi masyarakat jika ia menjadi seorang dewasa yang berpendidikan ketimbang yang tidak berpendidikan. Vygotsky berpendapat bahwa tindakan ini tidak harus berarti pengorbanan diri dari anak yang lebih maju itu. Dengan menjelaskan dan membantu anak lain, ia bisa mendapatkan pemahaman yang lebih eksplisit akan apa yang telah ia pelajari sendiri, sejalan dengan jalur metakognitifnya. Dan, dengan mengajarkan satu topik, ia mengkonsolidasikan hasil pembelajarannya sendiri.”[13]

Sebuah masyarakat yang sosialis dan demokratik akan menghilangkan perbedaan antara kerja mental dan kerja manual melalui peningkatan umum atas tingkat kebudayaan masyarakat. Ini terkait erat dengan pengurangan hari dan jam kerja sebagai konsekuensi dari perencanaan produksi yang rasional. Pendidikan akan diubah dengan mengkombinasikan pembelajaran dengan aktivitas kreatif dan bermain. Perkembangan dari berbagai teknologibaru akan digunakan sepenuhnya. Teknologi Virtual Reality, yang baru saja dikembangkan, memiliki potensi yang amat besar, bukan hanya untuk produksi dan desain, tetapi juga bagi pendidikan. Alat ini akan membuat pelajaran menjadi hidup, merangsang imajinasi dan kreativitas anak, bukan hanya untuk mengalami sendiri sejarah dan geografi, tapi juga untuk mempelajari teknik mesin, atau bagaimana melukis dan memainkan instrumen musik. Kebebasan dari perjuangan yang memalukan untuk memenuhi kebutuhan hidup, akses terhadap kebudayaan dan waktu untuk mengambangkan diri menjadi manusia sepenuhnya, ini adalah dasar di mana umat manusia dan masyarakatnya, pada akhirnya, akan dapat mewujudkan potensinya yang sejati.

Umat Manusia dan Alam Semesta Raya

“Ia mengatakan, 'Apa itu waktu? Biarkan Masa Kini untuk anjing dan kera! Manusia memiliki Keabadian.'“ (Robert Browning, A Grammarian's Funeral.)

Pencapaian-pencapaian dari program antariksa Soviet dan Amerika telah menunjukkan secuil saja dari apa yang mungkin. Tapi program antariksa dari kedua adidaya ini sesungguhnya adalah hasil dari perlombaan senjata sepanjang Perang Dingin. Sejak keruntuhan Uni Soviet, masalah perjalanan antariksa sudah tidak lagi dijadikan perhatian utama, sekalipun tetap ada kemungkinan untuk membangun satu stasiun antariksa yang mengorbit bumi, yang akan membuat perjalanan ke bulan lebih mudah. Di masa datang, di bawah persemakmuran sosialis dunia, perjalanan antariksa akan melompat keluar dari buku-buku fiksi ilmiah ke dunia nyata. Perjalanan antariksa akan menjadi seperti perjalanan udara saat ini. Penjelajahan tata surya, dan kelak mungkin penjelajahan galaksi lain, akan memberikan semacam tantangan dan rangsangan bagi umat manusia seperti yang dulu terjadi di Eropa dengan pencarian benua Amerika.

Kemungkinan perjalanan antariksa jarak jauh di luar batasan tata surya kita sendiri tidak akan selamanya terpenjara di buku-buku fiksi ilmiah. Janganlah kita lupakan bahwa hanya seratus tahun lalu gagasan tentang perjalanan yang lebih cepat daripada suara hanyalah sesuatu yang tidak dapat dipercaya, apalagi terbang ke bulan. Sejarah umat manusia secara umum, dan yang terjadi 40 tahun terakhir khususnya, menunjukkan bahwa tidak ada masalah yang terlalu besar sehingga tidak dapat diselesaikan manusia, cepat atau lambat.

Dalam waktu sekitar empat miliar tahun dari sekarang, matahari kita akan mulai membengkak, sejalan dengan menyusutnya inti helium di dalamnya. Planet-planet di dekatnya akan diterpa oleh panas yang luar biasa. Kehidupan di bumi akan mustahil, karena laut akan mendidih, dan atmosfer dihancurkan. Namun, akhir dari kehidupan di satu sudut alam semesta bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan ketika matahari kita mati, bintang-bintang lain akan dilahirkan. Di antara miliaran galaksi di alam semesta yang teramati, terdapat sejumlah besar matahari dan planet seperti tata surya kita yang memiliki kondisi yang tepat untuk kehidupan. Tidak diragukan lagi, banyak di antaranya yang akan dihuni oleh bentuk-bentuk kehidupan yang maju, termasuk makhluk yang dapat berpikir seperti kita. Hanya sedikit ilmuwan yang meragukan hal ini sekarang, dan lebih sedikit lagi setelah ditemukan bahwa molekul-molekul rumit yang dibutuhkan untuk menciptakan organisme hidup ternyata terdapat pula di antariksa itu sendiri.

Pada bagian akhir buku Dialektika Alam, Engels menyatakan optimisme yang berkobar-kobar mengenai masa depan kehidupan:

“Kehidupan adalah sebuah siklus kekal di mana materi bergerak, sebuah siklus yang menyelesaikan orbitnya dalam rentang waktu di mana tahun kita bukan merupakan alat yang cukup untuk mengukurnya, sebuah siklus di mana waktu untuk perkembangan yang tertinggi, waktu untuk kehidupan organik dan terlebih lagi waktu untuk makhluk hidup yang dapat menyadari alam dan dirinya sendiri, adalah sama terbatasnya dengan ruang di mana kehidupan dan kesadaran-diri muncul; sebuah siklus di mana tiap cara mengada materi yang finit, apakah itu matahari atau awan nebula, seekor hewan atau sebuah genus hewan, kombinasi kimia atau penguraiannya, sama-sama bersifat sementara, dan di mana tidak ada yang kekal kecuali materi yang selamanya berubah dan selamanya bergerak dan hukum-hukum yang mengatur pergerakan dan perubahan itu.

“Namun, tidak peduli berapa kali pun, dan tidak peduli betapa sempurnanya, siklus ini selesai berputar dalam ruang dan waktu; tidak peduli berapa banyak matahari dan bumi yang lahir dan mati, tidak peduli berapa lama mereka ada sebelum kondisi-kondisi yang memungkinkan munculnya kehidupan organik berkembang di dalam sebuah tata surya dan sebuah planet tertentu,; tidak peduli berapa banyak makhluk organik yang lahir dan punah sebelum hewan dengan sebuah otak yang mampu berpikir muncul dari tengah mereka, dan untuk rentang waktu yang pendek menemukan kondisi-kondisi yang cocok untuk kehidupan, sebelum kemudian dimusnahkan tanpa ampun – kita yakin bahwa materi akan tetap kekal dalam semua transformasinya, bahwa tidak ada satu pun ciri-ciri yang dikandungnya yang akan hilang, dan oleh karenanya, juga dengan keniscayaan yang pasti bahwa ia akan menghancurkan ciptaannya yang tertinggi di muka bumi, yakni pikiran yang mampu bernalar, ia juga akan melahirkannya kembali di tempat yang lain dan di waktu yang lain.”[14]

Namun, kini kita diwajibkan untuk melangkah lebih maju daripada ini. Kemajuan ilmu pengetahuan yang menakjubkan seratus tahun setelah wafatnya Engels berarti bahwa kematian matahari tidaklah harus berarti kematian umat manusia. Perkembangan pesawat antariksa, yang mampu melakukan perjalanan dengan kecepatan yang kini masih dianggap mustahil, dapat menyiapkan landasan bagi petualangan terakhir umat manusia, termasuk emigrasi ke bagian tata surya yang lain, dan pada akhirnya, galaksi lain. Bahkan dengan kecepatan satu persen kecepatan cahaya -- satu hal yang sangat mungkin dicapai -- akan dimungkinkan untuk mencapai planet yang dapat dihuni dalam rentang beberapa ratus tahun.

Jika ini sepertinya sangat lama, kita harus ingat bahwa manusia-manusia pertama membutuhkan jutaan tahun untuk mengkolonisasi seluruh dunia, berangkat dari Afrika. Lebih jauh lagi, perjalanan ini mungkin akan berlangsung dalam beberapa tahapan, membangun koloni-koloni dan pos-pos perhentian di sepanjang jalan, seperti para pelayar Polinesia mengkolonisasi Pasifik, pulau demi pulau, selama beberapa abad. Masalah-masalah teknologi yang akan kita hadapi akan sangat besar, tapi kita memiliki setidaknya tiga miliar tahun untuk memecahkannya. Jika kita mengingat bahwa Homo sapiens baru ada sekitar 100.000 tahun, bahwa peradaban baru berumur 5.000 tahun, dan bahwa kecepatan perkembangan teknologi selalu cenderung meningkat semakin lama semakin cepat, tidak ada alasan apapun untuk menarik kesimpulan-kesimpulan pesimis tentang masa depan umat manusia -- dengan satu syarat: bahwa kekuasaan kelas, sisa barbarisme yang menjijikkan itu, digantikan oleh sistem kerja sama dan perencanaan, yang akan menyatukan seluruh sumber daya yang ada bumi untuk satu tujuan bersama.

Engels menggambarkan sosialisme sebagai lompatan umat manusia dari alam keharusan ke dalam alam kebebasan. Untuk pertama kalinya, akan dimungkinkan bagi mayoritas umat manusia untuk membebaskan diri mereka dari perjuangan yang memalukan sekedar untuk bertahan hidup, dan mengangkat pandangan mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Menyembuhkan semua penyakit, menghapus buta huruf dan tunawisma hanyalah akan menjadi titik awal bagi umat manusia. Dengan menggabungkan seluruh sumberdaya di planet ini, yang kini tanpa tahu malu disia-siakan oleh kaum kapitalis, umat manusia sungguh-sungguh bisa menggapai bintang-bintang.

Pada akhirnya, umat manusia akan menjadi tuan atas dirinya sendiri, kehidupannya, nasibnya, bahkan susunan genetiknya. Hubungan antara laki-laki dan perempuan akan menjadi hubungan antar manusia-manusia bebas, bukan budak. Aristoteles menunjukkan bahwa manusia akan mulai berfilsafat ketika kebutuhan hidupnya telah terpenuhi. Pemikir besar itu paham bahwa perkembangan kebudayaan sangat terkait erat dengan kondisi material kehidupan. Dalam sebuah kutipan yang benar-benar luar biasa, ia menunjukkan bagaimana manusia mulai berfilsafat, mengabdikan hidup mereka untuk mengejar pengetahuan demi manfaat mereka sendiri, hanya bila mereka dibebaskan dari kebutuhan untuk berjuang memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka:

“Ini ditunjukkan oleh jalannya peristiwa yang benar terjadi: karena filsafat hanya muncul ketika keperluan dan kenyamanan mental dan fisik dari kehidupan telah terpenuhi. Jelas bahwa dengan demikian Kebijaksanaan dicari bukan untuk keuntungan yang di luar dirinya sendiri; karena sebagaimana kita dapat menyebut seseorang sebagai orang yang bebas jika ia ada untuk dirinya sendiri dan bukan untuk kepentingan orang lain, demikian juga hanya filsafatlah ilmu yang bebas karena hanya ia yang dicari untuk kepentingannya sendiri.”[15]

Selama seluruh sejarah peradaban sampai hari ini, kebudayaan telah menjadi monopoli dari minoritas kecil. Dalam sebuah masyarakat sosialis yang demokratik sepenuhnya, kita dapat mengurangi jam dan hari kerja, dan meningkatkan taraf hidup bagi tiap orang berdasarkan peningkatan produksi secara besar-besaran. Setelah dibebaskan dari tekanan kebutuhan hidup, manusia akan dapat mengabdikan dirinya untuk perkembangan kepribadian mereka secara utuh, intelektual maupun fisik. Seni, sastra, musik, ilmu pengetahuan dan filsafat akan menempati posisi yang sejajar dengan partai politik pada saat ini.

Berdasarkan perekonomian terencana yang dijalankan secara demokratik sepenuhnya, potensi raksasa dari sains dan teknologi dapat digunakan oleh manusia. Pada seratus tahun terakhir, perbaikan gizi dan pelayanan kesehatan telah menggandakan angka harapan hidup di banyak negeri industri maju. Perkembangan lebih lanjut atas cara hidup dapat memperpanjang usia aktif lebih jauh lagi. Menjalani kehidupan aktif lebih dari seratus tahun akan menjadi satu hal yang jamak. Penggunaan rekayasa genetika yang tepat bahkan dapat memungkinkan para ilmuwan untuk melawan proses penuaan itu sendiri dan memperpanjang hidup jauh di luar apa yang dianggap “rentang usia alami manusia”. Kemungkinan yang terbuka bagi masa depan manusia tidaklah terbatas.

Trotsky menulis:

“Elemen-elemenyang membabi-buta telah memancangkan dirinya paling kukuh dalam relasi-relasi ekonomi, tapi kita juga sedang mengusir elemen-elemen itu keluar dari sana, dengan perencanaan kehidupan ekonomi secara sosialis. Ini memungkinkan kita untuk merekonstruksi secara fundamental kehidupan berkeluarga yang tradisional. Pada akhirnya, sifat dasar manusia itu sendiri tersembunyi di sudut yang paling dalam dan gelap dari alam tidak-sadar, di dalam elemen yang terdalam, di bawah tanah. Jelas bahwa upaya-upaya terbesar dari nalar dan inisiatif kreatif manusia akan diarahkan ke sana. Umat manusia tidak berhenti merangkak di hadapan Tuhan, raja-raja atau kapital supaya nantinya dia tunduk pasrah di hadapan hukum-hukum hereditas yang penuh misteri dan seleksi seksual yang membabi-buta! Manusia yang terbebaskan akan menginginkan kesetimbangan yang lebih sempurna dalam fungsi organ-organ tubuhnya dan perkembangan dan keausan yang lebih proporsional dari organ-organ tubuhnya, guna mengubah rasa takut matinya menjadi reaksi rasional dari satu organisme terhadap bahaya. Tidak ada keraguan bahwa ketidakharmonisan fisiologi dan anatomi manusia yang ekstrem, yaitu ketidakseimbangan yang ekstrem antara pertumbuhan dan keausan organ-organ tubuh, membuat insting hidup kita mengambil sebuah bentuk rasa takut mati yang tertekan, gelap dan histeris, yang membutakan nalar dan mengobarkan khayalan-khayalan bodoh dan memalukan mengenai kehidupan setelah kematian.”

“Manusia akan, sebagai tujuan dari hidupnya, menjadi tuan atas perasaan-perasaannya sendiri, mengangkat naluri-nalurinya ke ketinggian kesadaran dan memahami naluri-naluri ini, untuk memperluas jangkauan dari kehendak bebasnya ke dalam celah-celah yang sebelumnya tersembunyi,dan dengan demikian mengangkat dirinya ke ketinggian yang baru, dan menciptakan sebuah makhluk sosial biologis yang baru, atau jika Anda suka, seorang Superman.”

“Sangat sulit untuk meramalkan sampai sejauh mana manusia masa depan bisa mengorganisir dirinya sendiri, atau sampai tingkatan mana dia bisa mengembangkan teknologinya. Konstruksi sosial dan edukasi-diri psiko-fisik akan menjadi dua aspek dari proses yang satu dan sama. Semua seni -- sastra, drama, melukis, musik dan arsitektur akan memberi bentuk yang indah bagi proses ini. Lebih tepatnya, kerangka yang akan membungkus konstruksi sosial dan edukasi-diri dari seorang manusia Komunis, akan mengembangkan semua unsur vital dari seni kontemporer sampai tingkatannya yang tertinggi. Manusia akan menjadi lebih harmonis, pergerakannya lebih berirama, suaranya lebih musikal. Bentuk-bentuk kehidupan akan menjadi dramatik secara dinamis. Manusia yang baru ini rata-rata akan dapat mencapai tingkatan seorang Aristotle, seorang Goethe, atau seorang Marx. Dan di atas batasan yang baru ini, puncak-puncak yang baru juga akan bermunculan.”[16]

* * *

________________

Catatan Kaki

 

[1] Krisis ini akhirnya meledak pada tahun 2008. Pada bulan Juni 2007, pasar derivatif dunia telah mencapai 500 triliun dolar. Di Amerika Serikat sendiri, pasar derivatif ini memiliki nilai 300 triliun dolar, yakni 20 kali lipat daripada ekonomi Amerika Serikat. (Catatan Editor)

[2] W. Rees-Mogg dan J. Davidson, op. cit., hal. 294-5, 183 dan 273.

[3] J. K. Galbraith, The Culture of Contentment, hal. 170-1.

[4] MESW, Vol. 1, hal. 114-5.

[5] MECW, Vol. 4, hal. 274.

[6] Primae noctis - secara harfiah berarti “malam pertama”, adalah satu hak dari para penguasa feodal untuk menjadi orang pertama yang tidur dengan pengantin perempuan dari seorang hambanya yang baru menikah. Apakah pengantin perempuan itu berasal dari luar tanahnya atau bukan, itu bukan masalah, karena toh, setelah ia menikah perempuan itu akan menjadi milik suaminya. Dan suaminya adalah milik sang tuan. Jika ada perempuan hamba dari tanah itu yang menikah dengan hamba dari penguasa feodal lain, hak primae noctis jatuh pada penguasa lain itu. Pemahaman atas hak ini mulai tumbuh subur di Eropa setelah dinasti Karolingia, di awal Abad Pertengahan. Mengenai asal-usul hak ini, bacalah karya Engels, The Origin of Family, Private Property dan State. [Penerjemah.]

[7] Trotsky, Their Morals dan Ours, hal. 13.

[8] Ketika Ratu Marie Antoinette, ratu dari Raja Louis XIV di Prancis, diberitahu bahwa kaum tani Prancis kelaparan dan tidak punya roti untuk dimakan, dia lalu menjawab “Qu'ils mangent de la brioche” atau “Biarlah mereka makan kue.” Anekdot ini mengungkapkan ketidakpedulian kelas penguasa terhadap kemiskinan rakyat. Raja Louis XIV dan ratunya lalu ditumbangkan oleh Revolusi Prancis 1789 dan mereka dihukum pancung. [Editor]

[9] “Sans teeth, sans eyes, sans taste, sans everything” adalah ujaran dari drama Shakespeare, As You Like It, yang merupakan bagian dari sebuah monolog, yang mengandung makna bahwa setelah seorang mati dia akan kehilangan segalanya, giginya, matanya, inderanya, dan semuanya/ [Editor]

[10] Marx, Grundrisse, hal. 111.

[11] Dikutip di Gleick, op. cit., hal. 116-7.

[12] M. Donaldson, Children’s Minds, hal. 83 dan 85.

[13] P. Sutherland, Cognitive Development Today: Piaget dan his Critics, hal. 45.

[14]Engels, Dialectics of Nature, hal. 54.

[15] Aristotle, op. cit., hal. 55.

[16] Trotsky, Literature and Revolution, hal. 255-6.

Nalar yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern. Bab 18. Teori Pengetahuan

Bab 18. Teori Pengetahuan

“Nasib dari kebenaran yang baru biasanya dimulai sebagai ajaran sesat dan berakhir sebagai takhayul.” (T. H. Huxley)

Asumsi dasar yang melatarbelakangi semua ilmu pengetahuan dan pemikiran rasional secara umum adalah bahwa dunia fisik ada, dan bahwa dimungkinkan bagi kita untuk memahami hukum-hukum yang mengatur realitas objektif. Sebagian besar ilmuwan menerima bahwa alam semesta diatur oleh hukum-hukum alam, satu fakta yang diungkapkan oleh Phillip Anderson:

“Sungguh, sulit untuk membayangkan bagaimana ilmu pengetahuan bisa ada jika mereka tidak menerima hal itu. Percaya pada hukum alam berarti percaya bahwaalam semesta ini pada akhirnya akan dapat dipahami -- bahwa kekuatan yang menentukan takdir dari sebuah galaksi akan juga menentukan jatuhnya sebutir apel di bumi sini; bahwa atom yang memantulkan cahaya yang menerobos sebutir intan dapat juga membentuk bahan penyusun sel hidup; bahwa elektron, neutron dan proton yang muncul dari big bang kini dapat melahirkan otak manusia, pemikiran, dan jiwa. Percaya pada hukum alam berarti percaya pada kesatuan alam semesta ini di tingkat terdalam yang paling dimungkinkan.”[1]

Hal yang sama berlaku pula pada umat manusia secara umum. Tiap penemuan sains dan teknik yang baru telah memperluas dan memperdalam pemahaman kita. Namun pada saat yang sama juga menyajikan tantangan-tantangan yang baru. Tiap pertanyaan yang terjawab segera akan melahirkan dua pertanyaan baru. Seperti seorang pengembara yang, dengan kegairahan yang meluap-luap, berjalan menuju cakrawala, hanya untuk menemukan bahwa cakrawala itu akan terus menjauh, memanggilnya dari kejauhan itu, demikian pula proses penemuan berjalan tanpa dapat melihat garis akhirnya. Para ilmuwan menyelam semakin dalam pada misteri dunia sub-atomik, dalam pencarian atas “partikel terakhir”. Tapi tiap kali mereka mencapai cakrawala dengan teriakan kemenangan, cakrawala itu dengan keras kepala mundur kembali ke kejauhan.

Merupakan ilusi dari tiap epos bahwa ia adalah puncak tertinggi dari segala pencapaian dan kebijaksanaan manusia. Orang-orang Yunani kuno mengira bahwa mereka telah memahami segala hukum alam semesta berdasarkan geometri Euclides. Laplace mengira demikian pula dalam hubungannya dengan mekanika Newton. Di tahun 1880, kepala kantor hak paten Prusia menyatakan bahwa segala sesuatu yang dapat ditemukan telah diciptakan orang! Kini, para ilmuwan cenderung lebih memutar dalam pernyataan mereka. Sekalipun demikian sejumlah asumsi dibuat diam-diam bahwa, misalnya, teori relativitas umum Einstein adalah mutlak benar, dan prinsip ketidakpastian memiliki penerapan universal.

Sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bagaimana ekonomisnya pemikiran manusia. Hanya sedikit saja yang terbuang dalam proses pembelajaran kolektif. Bahkan kesalahan sekalipun, ketika ditelaah secara jujur, dapat memainkan peran yang positif. Hanya ketika pemikiran dibekukan ke dalam dogma-dogma resmi, yang menganggap ide-ide baru sebagai aliran sesat yang harus dilarang dan dihukum, baru ketika itulah perkembangan pemikiran dilumpuhkan, bahkan dilemparkan ke belakang. Sejarah yang mengecewakan dari Abad Pertengahan yang Gelap merupakan bukti yang cukup tentang hal ini. Pencarian batu filsuf didasarkan pada hipotesis yang keliru, namun para ahli alkimia tetap membuat penemuan-penemuan yang penting, dan meletakkan fondasi bagi perkembangan ilmu kimia modern. Teori Big Bang, dengan pencariannya atas “awal waktu” yang hanya bayang-bayang itu, hampir-hampir tidak memiliki keabsahan ilmiah yang lebih tinggi daripada alkimia, namun, sekalipun demikian, tidak ada keraguan bahwa kemajuan-kemajuan besar telah, dan sedang, dibuat.

Seperti yang dilihat dengan tepat oleh Eric J. Lerner:

“Data yang baik, yang didapat dan ditelaah secara kompeten, selalu memiliki nilai ilmiah sekalipun teori yang mengilhaminya keliru. Teoretikus lain akan menemukan kegunaan untuk data itu, kegunaan yang sama sekali tidak terpikir ketika mereka pertama kali dikumpulkan. Bahkan dalam karya yang teoritik, upaya-upaya tulus untuk membandingkan satu teori dengan pengamatan hampir selalu terbukti berguna, tidak tergantung dari ketepatan teorinya: seorang teoretikus pastilah akan galau jika idenya keliru, tapi waktu tidak akan terbuang percuma dalam membuktikan keliru sebuah teori yang tidak tepat.”[2]

Perkembangan ilmu pengetahuan melangkah maju melalui serangkaian pendekatan yang berlangsung bersinambungan. Tiap generasi sampai pada serangkaian generalisasi fundamental tentang bekerjanya alam, yang berguna untuk menjelaskan fenomena-fenomena teramati tertentu. Ini biasanya lalu dianggap sebagai kebenaran mutlak, sahih selamanya dalam “semua dunia yang mungkin ada”. Walau demikian, setelah penelitian yang lebih dekat, mereka terbukti tidak mutlak, melainkan relatif. Pengecualian-pengecualian ditemukan, yang bertentangan dengan hukum-hukum yang sudah dibakukan, dan, pada gilirannya, menuntut satu penjelasan, dan demikian seterusnya sampai tak berhingga.

“Penemuan-penemuan pertama adalah kesadaran bahwa tiap perubahan skala membawa fenomena yang baru dan jenis perilaku yang baru pula. Bagi fisikawan partikel modern, proses ini tidak pernah berhenti. Tiap akselerator partikel yang baru, dengan peningkatan energi dan kecepatan, telah memperluas bidang pandang sains pada partikel-partikel yang semakin kecil dan skala waktu yang semakin singkat, dan tiap perluasan kelihatannya selalu membawa informasi-informasi baru.”[3]

Apakah kita dengan demikian harus berputus asa bahwa kita tidak akan pernah mencapai kebenaran mutlak? Penyajian pertanyaan dengan cara ini menunjukkan ketidakpahaman akan hakikat kebenaran dan pengetahuan manusia. Maka Kant berpikir bahwa pikiran manusia hanya dapat memahami apa yang tampak. Di balik apa yang tampak itu, hadirlah Thing-In-Itself, yang tidak akan pernah dapat kita pahami. Terhadap hal ini, Hegel menjawab bahwa pengetahuan terhadap ciri-ciri sebuah hal adalah pengetahuan terhadap hal itu sendiri. Tidak ada tembok yang mutlak antara penampakan dan hakikat. Kita mulai dengan realitas yang menampakkan diri mereka pada kita melalui indera kita, tapi kita tidak berhenti di sini. Menggunakan nalar kita, kita menyelam semakin dalam ke dasar misteri materi, berpindah dari penampakan ke hakikat; dari yang khusus ke yang universal; dari yang sekunder ke yang mendasar; dari fakta ke hukum.

Dengan menggunakan terminologi yang digunakan Hegel untuk menjawab Kant, seluruh sejarah ilmu pengetahuan dan pemikiran manusia secara umum adalah sebuah proses perubahan, dari Thing-In-Itself (Benda dalam Dirinya Sendiri) menjadi Thing-for-Us(Benda Untuk Kita), dari hakikat benda-benda menuju apa yang berguna bagi kita. Dengan kata lain, apa “yang tidak dapat dipahami” pada satu tahap perkembangan ilmu pengetahuan akhirnya akan dapat dijelajahi dan dijelaskan. Tiap rintangan yang ditempatkan di jalur pemikiran akan diruntuhkan. Tapi, dengan memecahkan satu masalah, kita segera akan berhadapan dengan masalah-masalah baru yang harus pula dipecahkan, tantangan-tantangan baru yang harus diatasi. Dan proses ini tidak akan pernah berakhir, karena ciri-ciri dari alam semesta material sungguh adalah tak berhingga.

David Bohm menulis,

“Dengan mengikuti analogi ini lebih jauh, kita dapat mengatakan bahwa dengan memandang totalitas dari hukum alam kita tidak pernah memiliki cukup pandangan dan bidang irisan untuk dapat memberi kita pemahaman utuh atas totalitas ini. Tapi sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, dan pengembangan ilmu-ilmu baru, kita mendapatkan semakin banyak pandangan dari berbagai sisi, pandangan yang lebih menyeluruh, pandangan yang lebih rinci, dsb. Tiap teori atau penjelasan tertentu atas satu himpunan fenomena tertentu oleh karenanya hanya akan memiliki wilayah kesahihan yang terbatas dan hanya cukup untuk konteks tertentu dan di bawah kondisi-kondisi yang terbatas. Hal ini berarti bahwa tiap teori yang diekstrapolasi pada konteks yang acak dan pada kondisi yang acak akan (seperti pandangan parsial kita atas objek) membawa kita pada prediksi-prediksi yang keliru. Penemuan kekeliruan semacam itu adalah salah satu cara terpenting untuk membuat kemajuan dalam ilmu pengetahuan.”

“Sebuah teori baru, yang akhirnya akan dilahirkan dari penemuan kekeliruan semacam itu, tidaklah menihilkan kesahihan teori yang lama. Sebaliknya, dengan memungkinkan satu perlakuan atas wilayah yang lebih luas daripada apa yang dapat ditangani oleh teori lama itu dan, dengan melakukan itu, ia membantu mendefinisikan kondisi-kondisi di mana teori yang lama itu dapat mempertahankan kesahihannya (misalnya, seperti teori relativitas mengoreksi hukum Newton tentang gerak, dan dengan demikian membantu mendefinisikan kondisi-kondisi di mana hukum Newton berlaku, yaitu di mana kecepatan relatif rendah dibandingkan dengan kecepatan cahaya). Maka, kita tidak berharap bahwa tiap hubungan kausal akan mewakili kebenaran mutlak; karena dengan melakukan ini, maka mereka harus dapat diterapkan tanpa pendekatan lagi dan tanpa pembatasan apapun. Sebaliknya, dengan demikian, kita melihat bahwa sains melangkah maju selalu melalui serangkaian pemahaman atas hukum alam yang semakin mendasar, luas dan akurat, setiap pemahaman memberi sumbangan pada penetapan kondisi-kondisi kesahihan dari pemahaman yang lebih dahulu (sebagaimana pandangan yang lebih luas dan rinci atas objek kita membantu memberi batasan atas pandangan atau himpunan pandangan tertentu).”[4]

Dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution, Profesor Thomas Kuhn menggambarkan sejarah sains sebagai revolusi teoritik berkala, yang mematahkan masa-masa panjang yang hanya diisi oleh perubahan kuantitatif, yang diabdikan untuk mengisi rincian-rincian. Dalam masa-masa “normal” semacam itu, sains bekerja di dalam satu himpunan teori tertentu yang disebutnya paradigma, yang merupakan asumsi yang tidak dipertanyakan lagi tentang bagaimana adanya dunia ini. Pada awalnya, paradigma yang ada merangsang perkembangan sains, memberikan kerangka kerja yang koheren untuk penyelidikan. Tanpa kerangka kerja yang disepakati bersama-sama, para ilmuwan akan selamanya berdebat tentang hal-hal yang mendasar. Sains, seperti halnya masyarakat, tidak dapat hidup dalam keadaan gejolak revolusioner yang permanen. Justru untuk alasan ini, revolusi adalah sesuatu yang jarang terjadi, baik dalam masyarakat maupun dalam sains.

Selama beberapa waktu, sains dapat melangkah maju di atas jalur yang telah dikenal ini, sambil menumpuk hasil. Tapi, sementara itu, apa yang semula merupakan hipotesis baru yang berani akhirnya berubah menjadi ortodoksi yang kaku. Jika sebuah percobaan menghasilkan sesuatu yang bertentangan dengan teori yang ada, para ilmuwan mungkin menyembunyikannya, karena hasil-hasil itu dianggap subversif terhadap tatanan yang ada. Hanya ketika anomali itu bertumpuk sampai titik di mana mereka tidak lagi dapat diabaikan, ketika itulah landasan baru disiapkan untuk munculnya satu revolusi ilmiah yang baru, yang menggulingkan teori yang dominan dan membuka satu masa perkembangan sains“normal” yang baru, pada tingkat yang lebih tinggi.

Walaupun tentu sangat terlalu disederhanakan, gambaran tentang perkembangan ilmu pengetahuan ini, sebagai sebuah generalisasi yang luas, dapat dianggap benar. Dalam bukunya Ludwig Feuerbach, Engels menerangkan sifat dialektik dari perkembangan pikiran manusia, seperti yang ditunjukkan baik dalam sejarah ilmu pengetahuan maupun filsafat:

“Kebenaran, yang merupakan tugas filsafat untuk mengenalinya, di tangan Hegel tidak lagi menjadi satu kumpulan pernyataan dogmatik yang sempurna, yang, setelah ditemukan, tinggal dihafalkan saja. Kebenaran kini terletak dalam proses pengenalan kebenaran itu sendiri, dalam perkembangan panjang sejarah ilmu pengetahuan, yang bergerak dari tingkat pengetahuan rendah ke tingkat yang tinggi tanpa pernah mencapai, melalui penemuan dari apa yang disebut kebenaran mutlak, satu titik di mana ia tidak lagi dapat maju lebih jauh, di mana kita tidak lagi memiliki sesuatupun untuk dikerjakan selain berpangku tangan dan menatap dengan kagum pada kebenaran mutlak yang telah tercapai.”

Lagi:

“Bagi [filsafat dialektik], tidak ada sesuatupun yang final, mutlak, dan suci. Ia mengungkap sifat sementara dari segala sesuatu dan di dalam segala sesuatu; tidak ada yang dapat menahannya kecuali proses tanpa henti dari lahir dan mati, peningkatan yang berkesinambungan dari rendah ke tinggi. Dan filsafat dialektik itu sendiri bukanlah apa-apa selain satu cerminan dari proses ini di dalam otak yang berpikir. Ia juga, tentu saja, memiliki sisi konservatif: ia mengakui bahwa berbagai tahap tertentu dari ilmu pengetahuan dan masyarakat dibenarkan bagi masa dan keadaan yang melingkupi mereka; tapi hanya sebegitu saja. Konservatisme dari cara pandang ini adalah relatif; sifat revolusionernya adalah mutlak -- satu-satunya kemutlakan yang diakui oleh filsafat dialektik.”[5]

Apa itu Metode Ilmiah?

Dalam abad ketiga sebelum masehi, seorang terpelajar Yunani, Eratosthenes, melihat bahwa sebuah tongkat yang ditegakkan di tempat yang disebut Syene[6], tidak memiliki bayang-bayang tepat pada siang hari. Dari pengamatan atas gejala fisik riil ini, ia menyimpulkan bahwa bumi bulat. Ia kemudian mengirim seorang budak dari Alexandria ke Syene untuk mengukur jarak antar kedua kota. Lalu, dengan menggunakan geometri yang sederhana, ia menghitung keliling bumi. Beginilah cara bekerja metode ilmiah yang sesungguhnya. Ia menggabungkan pengamatan, hipotesis dan penalaran matematika. Eratosthenes mulai dengan pengamatan (baik dilakukan sendiri maupun oleh orang lain). Lalu, berdasarkan ini, ia menarik satu kesimpulan umum, yakni hipotesis bahwa bumi ini permukaannya melengkung. Ia kemudian menggunakan matematika untuk memberi bentuk utuh dari teorinya.

Pencapaian brilian dari ilmu pengetahuan Alexandria terkubur oleh bangkitnya Kekristenan pada Jaman Kegelapan. Selama berabad-abad, perkembangan ilmu pengetahuan dilumpuhkan oleh kediktatoran spiritual dari Gereja. Hanya dengan membebaskan dirinya dari pengaruh agama, ilmu pengetahuan mampu berkembang. Namun, melalui puntiran sejarah yang aneh, pada akhir abad ke-20 berbagai upaya yang keras kepala telah dibuat untuk menarik mundur ilmu pengetahuan. Segala macam gagasan-gagasan kuasi-religius dan mistis bertebaran di udara. Fenomena aneh ini berkaitan dengan dua hal. Pertama, pembagian kerja telah dilakukan pada tingkat yang demikian ekstrem sehingga ia mulai melahirkan berbagai bahaya. Spesialisasi yang sempit, reduksionisme dan perceraian yang hampir sempurna antara sisi teori dan sisi eksperimen di dalam fisika telah membawa akibat-akibat yang paling negatif.

Kedua, tidak ada filsafat yang memadai untuk membantu menunjukkan jalan yang tepat bagi sains. Filsafat sainsada dalam keadaan yang berantakan. Ini tidak mengherankan karena apa yang kini disebut “filsafat sains” -- atau mungkin lebih tepat disebut sekte filsafat positivisme logis yang menganugerahi dirinya sendiri dengan gelar itu -- justru adalah yang paling tidak sanggup membantu sains untuk keluar dari kesulitan-kesulitan ini. Sebaliknya, ia justru telah membuat segalanya menjadi lebih buruk. Dalam beberapa dasawarsa belakangan ini, kita telah melihat satu kecenderungan yang semakin besar dalam fisika teoritik untuk mendekati fenomena-fenomena alam dari sudut pandang matematika yang keterlaluan abstraknya. Jelas halnya demikian dalam kasus upaya ngawur untuk merekonstruksi apa yang disebut awal alam semesta. Seperti yang ditunjukkan Anderson dalam sebuah artikel yang ditulis di tahun 1972:

“Kemampuan untuk mereduksi segala sesuatu menjadi hukum-hukum dasar yang sederhana tidaklah mengakibatkan kemampuan untuk berangkat dari hukum-hukum itu dan merekonstruksi alam semesta. Nyatanya, semakin banyak yang dikatakan oleh para fisikawan partikel elementer pada kita tentang sifat-sifat hukum dasar, semakin tidak relevan hukum-hukum itu terhadap masalah-masalah yang sangat nyata yang dihadapi bidang-bidang ilmu lainnya, apalagi terhadap masyarakat.”[7]

Dalam beberapa dasawarsa terakhir telah tertanam dalam-dalam sebuah prasangka bahwa ilmu “murni”, khususnya fisika teoritik adalah hasil dari pemikiran abstrak dan deduksi matematika semata. Seperti yang dijelaskan Eric Lerner, Einstein turut pula bertanggung jawab untuk kecenderungan ini. Tidak seperti teori-teori sebelumnya, seperti hukum elektromagnetik Maxwell, atau hukum gravitasi Newton, yang memiliki dasar yang kokoh dalam eksperimen-eksperimen, dan segera dibenarkan oleh ribuan pengamatan terpisah, teori Einstein mulanya hanya dibenarkan berdasarkan dua hal saja – pembelokan cahaya oleh medan gravitasi matahari dan penyimpangan kecil dari orbit Merkurius. Fakta bahwa teori relativitas kemudian dibuktikan tepat telah mendorong orang lain, yang mungkin tidak setingkat dengan kejeniusan Einstein, untuk menganggap bahwa inilah cara untuk melangkah maju. Mengapa perlu repot-repot melakukaneksperimen yang makan waktu? Sungguh, mengapa perlu bergantung pada bukti fisik yang dapat diraba, kalau kita dapat langsung menuju kebenaran melalui metode deduksi murni?

Kita harus mengingatkan diri sendiri bahwa terobosan besar dalam ilmu pengetahuan datang di masa Pencerahan, ketika ia memisahkan diri dari ide-ide mistis-religius, dan mulai mendasarkan dirinya pada pengamatan dan eksperimen, berangkat dari dunia material yang nyata, dan selalu kembali ke sana. Di abad ke-20, telah terjadi satu kemunduran menuju idealisme, baik Platonisme ataupun yang lebih buruk lagi, menuju idealisme subjektif dari Berkeley dan Hume. Walaupun kejeniusannya tak dapat dipertanyakan lagi, Einstein masih tidak sanggup melepaskan diri dari kecenderungan ini, sekalipun ia seringkali terkejut oleh konsekuensi yang mengalir daripadanya. Kita masih harus berterimakasih padanya, misalnya, bahwa ia melakukan perlawanan yang keras kepala terhadap interpretasi idealis subjektif Heisenberg terhadap mekanika kuantum.

Seperti banyak ilmuwan lain, Einstein tidak merasa nyaman dengan filsafat, dan dengan jujur mengakui bahwa ilmuwan-ilmuwan besar cenderung bukanlah filsuf sains yang baik. Walau demikian, ia sendiri membuat sejumlah pernyataan yang bersifat filsafati atau semi-filsafati, yang, karena prestise raksasa yang dimilikinya, pastilah dianggap serius oleh banyak ilmuwan -- dengan beberapa konsekuensi yang patut disayangkan. Di tahun 1934, misalnya, ia menulis:

“Teori relativitas adalah satu contoh yang baik atas karakter dasar perkembangan modern ilmu teoritik. Hipotesis yang dipakainya untuk berangkat semakin hari semakin abstrak dan tercerai dari pengalaman. Seorang ilmuwan teoritik semakin hari semakin diharuskan untuk menuntun dirinya dengan pertimbangan-pertimbangan yang murni matematika dan formal dalam pencariannya atas sebuah teori, karena pengalaman fisik dari pelaku percobaan tidaklah dapat mengangkatnya ke dalam wilayah abstraksi yang tertinggi. Metode induktif yang dominan pada masa muda ilmu pengetahuan kini menyerahkan kedudukannya pada deduksi tentatif.”[8]

Pada kenyataannya, tidaklah benar bahwa Einstein sampai pada teorinya melalui proses argumen dan deduksi murni. Seperti yang dinyatakannya sendiri dalam bukunya Essays in Science, teori relativitas khususnya diturunkan dari karya Maxwell tentang listrik dan magnet, yang, pada gilirannya, didasarkan pada karya Faraday, yang memiliki landasan eksperimen yang kokoh. Baru setelah 1915, ketika ia berpaling pada kosmologi, Einstein berpaling ke metode deduksi abstrak untuk mendapatkan hasil-hasilnya. Di sini ia berpisah dari metode yang dominan, yakni dengan mengambil satu asumsi sebagai hipotesis dasarnya, asumsi yang bertentangan dengan pengamatan: paham bahwa alam semesta secara umum adalah homogen (terdistribusi merata dalam ruang).

Berangkat dari proposisi ini, Einstein menggunakan teori relativitas umumnya untuk membuktikan bahwa ruang adalah berhingga atau finit. Menurut pandangan ini, semakin besar massa dengan densitas tertentu, semakin ia “memuntir ruang”. Massa yang cukup besar akan membawa pada satu situasi di mana ruang terpuntir ke dalam dirinya sendiri sepenuhnya, menghasilkan sebuah “alam semesta yang tertutup”. Ini merupakan, pada hakikatnya, satu kemunduran ke cara pandang abad pertengahan, di manaalam semesta dianggap berhingga atau finit, sebuah pandangan yang sebelumnya ditolak dengan alasan tidak ilmiah. Namun, di tahun 1915 sekalipun, telah terdapat cukup bukti bahwa alam semesta tidaklah homogen. Teori ini berbenturan dengan fakta-faktayang telah didapati dari pengamatan. Bukan satu kebetulan kalau pencarian Einstein terhadap teori gabungan atas gravitasi dan elektromagnetik, yang dilakukannya selama tigapuluh tahun terakhir hidupnya, menemui kegagalan, seperti yang diakuinya sendiri.

Batas-batas Empirisme

Filsafat sejati berakhir dengan Hegel. Sejak itu kita hanya melihat satu kecenderungan untuk mengulang-ulang ide-ide lama, kadangkala mengisi rincian di sana-sini, tapi tidak ada lagi terobosan besar, tidak ada ide-ide gemilang baru. Ini sama sekali tidak mengejutkan. Perkembangan ilmu pengetahuan yang tak tertandingi selama seratus tahun terakhir telah membuat filsafat, dalam makna kunonya, menjadi tak dibutuhkan lagi. Hampir tidak ada gunanya berspekulasi tentang watakalam semesta ketika kita mampu mengungkapkan rahasianya dengan bantuan teleskop yang semakin hari semakin kuat, pesawat penjelajah antariksa, komputer dan akselerator partikel. Sebagaimana perdebatan tentang watak tata surya dihentikan oleh teleskop Galileo, demikian pula kemajuan-kemajuan teknik akan menjawab pertanyaan tentang sejarah alam semesta, sambil menyajikan pertanyaan-pertanyaan baru untuk dipecahkan oleh generasi mendatang.

Engels menulis:

“Segera setelah tiap-tiap ilmu yang terpisah dituntut untuk memperjelas posisinya dalam totalitas yang besar ini, dan akan pengetahuan kita atas segala hal, sebuah ilmu khusus yang berurusan dengan totalitas ini tidak lagi dibutuhkan. Apa yang tersisa dari keadaan independen dari semua filsafat-filsafat terdahulu adalah ilmu berpikir dan hukum-hukumnya – logika formal dan dialektika. Yang lainnya melebur ke dalam ilmu positif tentang alam dan sejarah.”[9]

Namun filsafat tetap memiliki peran, dalam dua wilayah yang tersisa baginya – logika formal dan dialektika. Sains, seperti yang telah kita lihat, bukanlah sekedar berurusan dengan pengumpulan fakta. Ia tetap menuntut campur tangan aktif dari pemikiran, hanya pemikiranlah yang dapat menemukan makna yang terkandung di dalam fakta-fakta itu, hukum-hukum yang ada di dalamnya. Kita masih harus membuat hipotesis, yang dapat menuntun penyelidikan kita pada jalur-jalur yang paling membuahkan hasil, untuk memahami kesalingterhubungan riil antara apa yang nampaknya merupakan fenomena-fenomena yang saling tak berhubungan, untuk melahirkan keteraturan dari kekacauan. Ini membutuhkan latihan dan pengetahuan yang menyeluruh baik atas sejarah ilmu maupun filsafat. Seperti yang dikemukakan filsuf Amerika, George Santayana, “Orang yang tidak belajar dari sejarah ditakdirkan untuk mengulanginya.” Salah satu dari konsekuensi yang paling berbahaya dari pengaruh positivisme logis pada sains abad ke-20 adalah bahwa semua mazhab-mazhab besar di masa lampau telah diperlakukan sebagai bangkai anjing. Kini kita telah melihat ke mana sikap seperti ini membawa kita. Mereka yang dengan sombong meremehkan “metafisika” telah dihukum karena kesombongan mereka. Dalam seluruh sejarah sains, belum pernah terjadi di mana mistisisme demikian berjaya seperti sekarang.

Aliran pemikiran yang murni empirik niscaya akan jatuh ke sini, seperti yang telah ditunjukkan oleh Engels jauh-jauh hari:

“Empirisme semata, yang paling-paling hanya mengizinkan dirinya berpikir dalam bentuk perhitungan matematika, berkhayal bahwa dirinya bekerja hanya dengan fakta-fakta yang tak terbantahkan. Nyatanya, ia bekerja terutama dengan paham-paham tradisional, dengan hasil-hasil pemikiran dari para leluhur mereka yang kebanyakan telah usang, demikianlah halnya dengan kelistrikan positif dan negatif, akan pemisahan kekuatan listrik, teori kontak. Paham-paham ini menjadi landasan dari begitu banyak perhitungan-perhitungan matematika di mana, karena keketatan rumus matematikanya, sifat hipotetis dari premis-premisnya terlupakan begitu saja. Empirisme macam ini bersikap lugu terhadap hasil-hasil pemikiran para pendahulunya sebagaimana ia bersikap skeptis terhadap hasil-hasil pemikiran sezamannya. Baginya, bahkan fakta-fakta yang datang darieksperimen secara bertahap menjadi tidak terpisahkan dari interpretasi tradisionalnya.... Mereka harus bersandar pada segala macam manuver dan metode usang, dan mengabaikan kontradiksi-kontradiksi yang tak terpecahkan, dan akhirnya mendaratkan diri mereka ke dalam serangkaian kontradiksi yang membelenggu mereka tanpa dapat dilepas lagi.”[10]

Mustahil bagi para ilmuwan untuk terus memisahkan diri dari masyarakat, berdasarkan anggapan bahwa mereka murni tidak berpihak. Tidak ada seorangpun dari kita yang hidup di ruang hampa. Seperti yang dikatakan ahli genetika Amerika Theodosius Dobzhansky:

“Para ilmuwan sering memiliki kepercayaan naif bahwa jika saja mereka dapat menemukan cukup banyak fakta mengenai satu masalah, maka fakta-fakta itu akan dengan satu atau lain cara mengatur diri mereka sendiri dalam sebuah penyelesaian yang tepat dan tak terbantahkan. Hubungan antara penemuan ilmiah dan kepercayaan populer, bagaimanapun, bukanlah sebuah jalan satu arah. Kaum Marxis lebih sering benar ketika mereka menyatakan bahwa masalah-masalah yang dipilih para ilmuwan untuk dipecahkan, cara mereka mengupayakan pemecahannya, dan bahkan pemecahan yang cenderung mereka terima, dikondisikan oleh lingkungan intelektual, sosial dan ekonomi di mana mereka hidup dan bekerja.”[11]

Kadang kala orang mengatakan bahwa Marx dan Engels menganggap dialektika sebagai sesuatu yang Mutlak -- otoritas tertinggi dalam pengetahuan manusia. Paham seperti ini jelas berkontradiksi dengan dirinya sendiri. Dialektika Marxis berbeda dari dialektika Hegelian dalam dua cara yang fundamental. Pertama, ia adalah sebuah filsafat yang materialis, dan dengan demikian menurunkan kategori-kategorinya dari dunia realitas fisik. Alam ini tidak berhingga, tidak tertutup. Seperti itu pula kebenaran itu, tidak berhingga dan tidak dapat disimpulkan dalam sebuah sistem tunggal yang mencakup segalanya. Negasi dari negasi, seperti Engels sendiri jelaskan, adalah sejenis perkembangan yang bergerak secara spiral -- sebuah sistem yang ujungnya terbuka, bukan dalam lingkaran yang tertutup. Itulah perbedaan fundamental yang kedua dengan filsafat Hegelian, yang akhirnya berkontradiksi dengan dirinya sendiri karena ia mencoba menyatakan dialektika sebagai sebuah sistem yang tertutup dan mutlak.

Marx dan Engels merumuskan garis besar dari metode dialektik yang baru, yang kegunaannya telah ditunjukkan dengan gemilang dalam ketiga jilid Capital. Tapi, kemajuan sains yang luar biasa di abad ke-20 telah menyediakan cukup banyak material untuk mengisi, mengembangkan dan memperluas cakupan dari dialektika. Perkembangan lebih jauh dari teori chaos dan teori kompleksitas akan menyediakan basis bagi perkembangan itu, yang akan merupakan keuntungan luar biasa baik bagi ilmu-ilmu alam maupun sosial. Dengan demikian kita tidaklah dapat mengatakan bahwa materialisme dialektik tidak akan pernah disalip oleh cara berpikir yang lebih baru dan memuaskan. Tapi dengan pasti kita dapat mengatakan bahwa sampai saat ini, ia adalah metode telaah ilmiah yang paling maju, menyeluruh dan lentur. Mari kita undang Engels bicara mewakili dirinya sendiri tentang hal ini:

“Lebih jauh, jika filsafat tidak lagi diperlukan, maka tidak ada sistem, bahkan sistem filsafat alami, yang tetap akan dibutuhkan. Pengakuan atas fakta bahwa semua proses alam adalah saling terhubung secara sistematis mendorong ilmu pengetahuan untuk membuktikan kesalingterhubungan sistematik ini di segala bidang, baik secara umum maupun rinci. Tapi satu penjelasan ilmiah yang cukup dan komprehensif atas kesalingterhubungan ini, pembentukan citra mental yang akurat atas sistem dunia di mana kita hidup, tetaplah mustahil bagi kita, sebagaimana yang telah terjadi dan akan terjadi. Jika, pada epos perkembangan umat manusia yang manapun, sebuah sistem yang final dan definitif atas kesalingterhubungan di dunia –secara fisik dan juga mental dan historis –telah terbangun, ini artinya dunia pengetahuan manusia telah mencapai batasnya, dan bahwa perkembangan historis lebih jauh akan dihentikan pada saat masyarakat telah dibawa ke dalam kesesuaian dengan sistem tersebut– yang merupakan satu hal yang absurd, murni absurd.”

“Umat manusia, dengan demikian, menemukan dirinya berhadapan dengan sebuah kontradiksi: di satu pihak, ia harus mendapatkan pengetahuan yang lengkap tentang sistem dunia dalam segala kesalingterhubungannya, dan di lain pihak, tugas ini tidak akan pernah bisa terselesaikan dengan sempurna karena sifat dari manusia maupun sistem dunia itu sendiri. Namun kontradiksi ini bukan hanya terletak pada watak dari kedua faktornya -- dunia dan manusia -- ia juga merupakan tuas utama bagi seluruh kemajuan intelektual, dan ia akan terus-menerus menemukan solusinya, hari demi hari, dalam perkembangan umat manusia yang progresif dan tanpa henti, sebagaimana yang dicontohkan oleh problem-problem matematika yang menemukan jawabannya dalam satu deret tak berhingga atau pembagian yang berlangsung tanpa henti. Sebenarnya, tiap citra mental akan sistem dunia ini akan selalu dibatasi secara objektif oleh situasi historis dan secara subjektifoleh keadaan mental dan fisik dari mereka yang mencitrakannya.”[12]

Prasangka Terhadap Dialektika

Ilmu pengetahuan modern menyediakan setumpuk material yang sepenuhnya mengkonfirmasikan pernyataan Engels bahwa “pada analisa terakhir, alam bekerja secara dialektik.” Penemuan-penemuan sains selama seratus tahun setelah wafatnya Engels sepenuhnya membenarkan pandangan ini. Engels menulis:

“Ketika kita merenungkan Alam, atau sejarah umat manusia, atau aktivitas intelektual kita sendiri,gambaran pertama yang tersaji bagi kita adalah satu jaring-jaring hubungan dan interaksi yang tak berujung, di mana tidak satupun tinggal sebagaimana adanya, di tempat yang sama atau seperti semula, tapi segala sesuatu bergerak, berubah, menjadi ada dan hilang dari keberadaan. Pandangan atas dunia yang primitif, naif, namun secara intrinsik tepat ini adalah pandangan filsafat Yunani kuno, dan diformulasikan secara jelas untuk pertama kalinya oleh Heraclitus: segalanya adalah dirinya sendiri dan sekaligus bukan dirinya sendiri, karena segalanya berada dalam sebuah fluks, terus-menerus berubah, terus-menerus lahir dan mati.”[13]

Mari kita bandingkan ini dengan kutipan lain dari Hoffmann:

“Di dalam dunia kuantum, partikel-partikel muncul dan menghilang tanpa henti. Apa yang kita anggap sebagai ruang kosong ternyata merupakan ketiadaan yang mendidih dan berfluktuasi, dengan foton-foton yang muncul seperti dari ketiadaan dan lenyap hampir segera setelah mereka dilahirkan, dengan elektron-elektron yang membuih untuk waktu singkat dari samudra yang mengerikan untuk menghasilkan pasangan elektron-proton yang umurnya hanya seketika dan beberapa macam partikel lain yang menambah kebingungan kita saja.”[14]

Kebangkitan teori chaos dan kompleksitasmerupakan sebuah reaksi terhadap dominasi reduksionisme di masa lalu yang mencekik. Namun hanya sedikit perhatian yang telah diberikan pada karya-karya rintisan Hegel, Marx dan Engels. Fakta yang mengejutkan ini sebagian besar dapat dijelaskan oleh prasangka yang luas terhadap dialektika, sebagian karena reaksi terhadap bagaimana dialektika telah disajikan secara mistis oleh aliran idealis setelah wafatnya Hegel, tapi terutama karena hubungannya dengan Marxisme. Dialektika Hegel telah digambarkan sebagai “aljabar revolusi”. Jika hukum kuantitas dan kualitas diterima sebagai sahih bagi kimia dan fisika, langkah berikutnya haruslah menerapkan hal itu pada masyarakat yang ada, dengan akibat-akibat yang akan sangat disayangkan oleh para pembela status quo.

Tulisan-tulisan ilmiah dari Marx dan Engels tidak dapat dipisahkan dari teori revolusioner mereka tentang sejarah secara umum (materialisme historis), dan telaah mereka tentang kontradiksi di dalam kapitalisme. Semua ini nampaknya tidak terlalu populer dengan mereka yang kini memegang monopoli kekuasaan politik dan ekonomi, dan yang mengendalikan, bukan hanya perusahaan-perusahaan koran dan televisi, tapi yang juga menggenggam di tangan mereka sebuah dompet yang menentukan nasib universitas-universitas, proyek-proyek riset dan karier-karier akademik. Tidakkah mengejutkan bahwa materialisme dialektik adalah sebuah topik yang ditabukan, yang secara sistematis diabaikan, kecuali ketika ia dikutuk sebagai sejenis abrakadabra yang tidak memiliki nilai ilmiah sama sekali, oleh orang-orang yang jelas sama sekali tidak pernah membaca sebarispun tulisan Marx dan Engels? Benar, sejumlah kecil orang-orang yang gagah berani telah angkat bertanya tentang sumbangan Marxisme pada filsafat sains, tapi bahkan ketika itu terjadi, pertanyaan itu akan diambangkan dan dibatasi dengan segala jenis kualifikasi, yang bertujuan untuk membuktikan bahwa dialektika mungkin sahih dalam satu bidang ilmu tertentu tapi tidak dapat diterima sebagai sebuah proposisi umum.

Di masa kini, ide tentang perubahan, tentang evolusi, telah merasuk dalam-dalam ke dalam kesadaran rakyat. Tapi evolusi biasanya dipahami sebagai sebuah perubahan yang perlahan, bertahap dan tidak terputus. Seperti yang dikemukakan Trotsky, “Logika Hegel adalah logika evolusi. Hanya saja kita tidak boleh lupa bahwa konsep 'evolusi' itu sendiri telah dikorupsi sepenuhnya dan dikebiri oleh para profesor di universitas dan para penulis liberal sehingga kini dimaknai sebagai 'kemajuan' yang damai.”

Dalam bidang politik, prasangka umum ini menemukan wujudnya dalam teori gradualisme reformis, di mana hari ini lebih baik dari kemarin dan esok akan lebih baik dari hari ini. Sedihnya, sejarah manusia secara umum, dan sejarah abad ke-20 khususnya, menyediakan secuil saja kenyamanan bagi para pendukung pandangan tentang proses sosial yang penuh kedamaian ini. Sejarah mengenal masa-masa panjang perubahan yang bertahap tapi ini sama sekali bukan berarti sebuah proses yang mulus dan sinambung. Ia selalu disela oleh segala jenis ledakan dan bencana: perang, krisis ekonomi, revolusi dan kontra-revolusi. Penyangkalan terhadap hal ini adalah penyangkalan terhadap apa yang diketahui semua orang sebagai sebuah kebenaran. Jadi bagaimana kita harus memandang fenomena-fenomena ini? Sebagai kegilaan kolektif yang mendadak dan tidak dapat dijelaskan? Sebagai “penyimpangan” aksidental dari “norma” gradual? Atau, sebaliknya, apakah mereka harus dilihat sebagai satu bagian integral dari proses perkembangan sosial -- bukan kebetulan melainkan hasil yang niscaya terjadi sebagai akibat dari ketegangan dan stres yang menumpuk secara bertahap dan tak terlihat di dalam masyarakat dan yang, cepat atau lambat, akan memaksa keluar ke permukaan, seperti tekanan yang terkumpul di dalam kerak bumi menerobos keluar sebagai gempa bumi!

Upaya apapun untuk menyingkirkan kontradiksi dari alam, untuk menghaluskan sudut-sudutnya yang kasar, untuk memaksakan aturan-aturan rapi dari logika formal padanya, seperti para tukang kebun di Versailles yang memaksakan aturan-aturan geometri klasik pada tanaman-tanamannya, niscaya akan gagal. Upaya semacam itu boleh memberikan rasa nyaman pada urat syaraf, tapi niscaya terbukti sepenuhnya mandul ketika digunakan untuk memahami dunia nyata. Dan apa yang benar untuk alam yang hidup maupun yang tak hidup, pastilah benar juga untuk sejarah masyarakat manusia itu sendiri, sekalipun terdapat upaya-upaya keras kepala untuk membuktikan sebaliknya. Sejarah masyarakat telah menunjukkan kecenderungan-kecenderungan yang mengulang dirinya sendiri – kontradiksi-kontradiksi internal yang mendorong perkembangan; kebangkitan dan keruntuhan dari berbagai sistem sosial ekonomi; masa-masa panjang perubahan “evolusioner” yang bertahap, yang disela oleh gejolak-gejolak yang mendadak, perang dan revolusi, yang berdiri di persimpangan jalan dari tiap perkembangan historis yang besar. Apakah fenomena-fenomena yang demikian mencolok itu dapat diabaikan begitu saja sebagai kecelakaan, penyimpangan yang sementara dan patut disayangkan dari apa yang disebut “norma” evolusioner? Ataukah ia merupakan bukti yang tak terbantahkan dari kebodohan dan kebiadaban yang inheren dalam diri manusia?

Jika demikian halnya, maka segala upaya untuk sampai pada pemahaman rasional atas perkembangan manusia haruslah ditinggalkan. Kita terpaksa membuntut pendapat Edward Gibbon, penulis The Decline and Fall of the Roman Empire yang menggambarkan sejarah sebagai “sedikit lebih dari sekedar catatan akan kejahatan-kejahatan, kebodohan-kebodohan, dan bencana-bencana yang menimpa umat manusia.” Tapi, seperti yang kami percayai dengan teguh, sejarah manusia maju menurut hukum-hukum dialektika yang sama dengan yang kita amati di seluruh alam (dan mengapa pula umat manusia dapat mengklaim memiliki “hak istimewa” untuk melepaskan diri seluruhnya dari hukum-hukum perkembangan yang objektif?) maka pola dari sejarah manusia akan mulai memiliki makna. Sejarah dapat diterangkan. Bahkan ia dapat -- dalam batasan tertentu -- diramalkan, sekalipun peramalan atas gejala yang kompleks tidaklah akan selurus peramalan yang hanya melibatkan proses-proses yang linear. Hal ini berlaku pada peramalan akan terjadinya gempa bumi atau perubahan cuaca, sebagaimana pula dalam pergerakan masyarakat. Tidak ada yang dapat mengatakan dengan penuh keyakinan kapan kota Los Angeles akan diguncang gempa bumi, tapi kita dapat meramalkan dengan keyakinan mutlak bahwa gempa bumi itu akan terjadi.

Sekalipun dilakukan upaya yang paling keras untuk menyangkal kesahihan dialektika, ia selalu memberi balasan pada penyangkalnya yang paling keras sekalipun. Komunitas geologi yang paling konservatif telah dipaksa untuk menerima adanya pergeseran benua, kelahiran dan kematian benua-benua, yang semula mereka tertawakan habis-habisan. Para ahli biologi telah dipaksa untuk menerima bahwa ide lama tentang evolusi sebagai proses adaptasi yang bertahap dan tanpa terputus adalah pandangan yang sepihak dan keliru; bahwa evolusi terjadi melalui lompatan-lompatan kualitatif yang penuh gejolak, di mana kematian (kepunahan) menjadi prakondisi bagi kelahiran (spesies baru).

Pada tiap kelokan, kekayaan material yang disediakan oleh ilmu-ilmu alam telah memaksa para ilmuwan untuk menerima kesimpulan-kesimpulan yang dialektik. Namun, mereka segera sadarakan implikasi-implikasi “subversif” dari ide-ide mereka, dan ini membuat mereka tidak nyaman. Pada titik inilah mereka terburu-buru melontarkan segala macam penyangkalan malu-malu dan segala bentuk manuver untuk menutupi jejak mereka. Cara yang biasa ditempuh adalah dengan menyatakan bahwa mereka tidak mengenal bentuk filsafat apapun. Seperti tulis Oscar Wilde, “cinta yang tak punya nyali untuk menyebut namanya sendiri,” para penulis ini yang sangat fasih menerangkan segala sesuatu yang ada di bumi ini, tiba-tiba tergagap-gagap ketika diminta mengucapkan kata materialisme dialektik. Paling-paling, mereka ngotot, bahwa materialisme dialektik memang sahih untuk bidang spesialisasi mereka sendiri tapi tidak memiliki penerapan apapun untuk bidang ilmiah lain yang lebih luas atau (bungkam pikiran ini!) pada masyarakat secara umum.

Sangat mengejutkan bahwa bahkan mereka yang mendukung teori chaos yang sangat dekat dengan posisi dialektik menunjukkan pula ketidaktahuan mereka tentang Marxisme. Maka, Ian Stewart dan Tim Poston dapat menulis dalam Analog (November 1981) baris-baris berikut ini:

“Maka 'hukum-hukum besi fisika' di mana -- misalnya -- Marx mencoba membangun hukum-hukum sejarahnya, sama sekali tidak ada. Jika Newton tidak dapat meramalkan perilaku dari tiga buah bola, dapatkah Marx meramalkan perilaku tiga orang manusia? Tiap keteraturan dalam perilaku kumpulan besar partikel atau orang haruslah bersifat statistik, dan itu memiliki cita rasa filsafat yang sama sekali berbeda.”[15]

Ini sangatlah melenceng dari sasaran. Marx tidaklah mendasarkan model sejarahnya pada hukum-hukum fisika sama sekali. Hukum-hukum perkembangan sosial haruslah diturunkan dari sebuah telaah yang teramat teliti tentang masyarakat itu sendiri. Marx dan Engels mengabdikan seluruh hidup mereka untuk mempelajari hukum-hukum perkembangan sosial, berdasarkan segunung data empirik yang dikumpulkan secara hati-hati. Jika kita membaca ketiga jilid Capital secara sepintas kilaspun, ini akan nampak mencolok mata. Justru baik Marx maupun Engels sangatlah kritis terhadap determinisme mekanik secara umum dan Newton khususnya. Upaya untuk menyamakan model Marx dengan model Newton dan Laplace adalah tanpa fondasi sama sekali.

Semakin dekat teori chaos bergerak ke pemeriksaan terhadap masyarakat hari ini, semakin besar potensialnya untuk sampai pada pemahaman tentang kontradiksi-kontradiksi dari kapitalisme:

“Tapi di Amerika Serikat, yang ideal adalah kebebasan individu sebesar-besarnya -- atau, seperti dikatakan (Brian) Arthur, 'membiarkan setiap orang menjadi John Wayne dan berlarian ke sana ke mari menenteng senjata.' Seberapapun ideal ini telah dibuktikan keliru dalam praktek, ia masih memiliki kekuatan mistis.

“Tapi teori increasing return telah membuyarkan mitos itu. Jika kejadian-kejadian kecil yang kebetulan dapat mengunci Anda ke dalam beberapa hasil yang mungkin, maka hasil yang benar-benar terpilih mungkin bukan yang terbaik. Dan itu berarti bahwa kebebasan individu sebesar-besarnya -- dan pasar bebas -- mungkin tidak menghasilkan dunia yang terbaik. Jadi, dengan menganjurkan teori increasing return, Arthur secara lugu telah melangkah ke dalam ladang ranjau.” (Brian Arthur adalah seorang ekonom dan ahli teori chaos.)[16]

Stephen Jay Gould, yang telah memberi sumbangan penting pada teori evolusi yang kini diterima khalayak, adalah salah satu dari sedikit ilmuwan Barat yang telah dengan terbuka mengakui kesejajaran antara teorinya tentang “kesetimbangan yang terputus” dengan materialisme dialektik. Dalam bukunya The Panda's Thumb, ia menulis:

“Jika gradualisme adalah lebih merupakan hasil dari pemikiran Barat ketimbang satu fakta yang ada di alam, maka kita harus mempertimbangkan filsafat-filsafat perubahan alternatif untuk memperbesar dunia kita dan menyingkirkan prasangka-prasangka yang membatasi kita. Di Uni Soviet, misalnya, para ilmuwan dilatih dengan filsafat perubahan yang sangat berbeda – apa yang disebut dengan hukum-hukum dialektika, yang dirumuskan ulang oleh Engels dari filsafat Hegel. Hukum-hukum dialektik jelas-jelas mengakui keterputusan. Mereka bicara, misalnya, tentang 'perubahan kuantitas ke kualitas'. Ini mungkin kedengaran seperti omong kosong, tapi ia menyatakan bahwa perubahan terjadi dengan lompatan-lompatan besar yang menyusul satu akumulasi perlahan dari ketegangan-ketegangan yang ditahan oleh sistem sampai sistem itu mencapai titik patahnya. Panaskan air dan akhirnya ia akan mendidih. Tindas kaum pekerja semakin kejam dan Anda akan mendapatkan sebuah revolusi. Eldrege dan saya sangat terkejut ketika mengetahui bahwa banyak ahli paleontologi Rusia mendukung sebuah model yang mirip dengan model kesetimbangan terputus kami.”

Paleontologi dan antropologi, pada akhirnya, hanya dipisahkan oleh dinding yang amat tipis dari ilmu-ilmu sejarah dan sosial, yang memiliki implikasi politik yang berbahaya bagi para pendukung status quo. Seperti yang dinyatakan Engels, semakin dekat kita pada ilmu sosial, semakin kurang objektifdan semakin reaksioner mereka jadinya. Oleh karenanya sungguh melegakan bahwa Stephen Gould telah sampai sangat dekat pada sudut pandang dialektik, sekalipun ia menunjukkan kehati-hatian yang nampak jelas:

“Sekalipun demikian, saya akan mengakui satu kepercayaan pribadi bahwa pandangan tentang keterputusan mungkin akan terbukti sanggup memetakan tempo dari perubahan geologis dan biologis dengan lebih akurat dan lebih sering daripada semua teori pesaingnya -- kalaupun hanya karena sistem kompleks dalam kesetimbangan adalah jamak dan sekaligus sangat tahan terhadap perubahan.”[17]

Di abad yang lalu, Marx dengan ironis menunjukkan bahwa sebagian besar ilmuwan alam adalah “kaum materialis malu-malu”. Pada paruh terakhir abad ke-20, kita melihat paradoks yang justru semakin besar. Para ilmuwan yang tidak pernah membaca sepatahpun kata dari Marx atau Hegel telah secara terpisah tiba pada gagasan-gagasan materialisme dialektik. Kami sangat yakin bahwa perkembangan selanjutnya dari ilmu pengetahuan akan mengkonfirmasikan signifikansi dari metode dialektik, dan bahwa mereka yang merintisnya pada akhirnya akan mendapatkan pengakuan yang selama ini telah disembunyikan dari mereka.

Karikatur Stalinis

Satu halangan serius di jalur yang ditempuh banyak orang yang mencoba mendekati ide-ide Marxisme di masa lalu adalah karikatur yang disajikan oleh Stalin. Ini memainkan sebuah peran yang kontradiktif. Di satu pihak, sukses yang luar biasa besar yang dicapai oleh ekonomi nasional terencana di Uni Soviet menarik banyak intelektual di Barat. Para ilmuwan terkemuka seperti J. B. S. Haldane di Inggris tertarik pada Marxisme, dan mulai menerapkannya pada bidang-bidang mereka dengan hasil-hasil yang sangat menjanjikan. Muncullah sejumlah karya yang berusaha menjelaskan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang paling mutakhir dengan bahasa yang mudah dipahami. Hasilnya sangat tidak merata, tapi literatur ini jelas lebih baik daripada segala mistis yang ditulis untuk konsumsi publik jaman sekarang.

Tidak dapat diragukan lagi bahwa kemajuan kebudayaan, pendidikan dan sains yang tak tertandingi di Rusia telah menjadi rujukan bukan hanya bagi gerakan buruh internasional tetapi juga bagi para intelektual dan ilmuwan terbaik di Barat. Pencapaian-pencapaian ini menunjukkan potensi dari perekonomian nasional yang terencana, sekalipun terdapat cacat birokratis yang mengerikan, yang pada akhirnya menggerogoti pencapaian-pencapaian itu. Pencapaian-pencapaian ini sangatlah kontras dengan situasi saat ini. Keruntuhan Uni Soviet, dan upaya untuk bergerak ke arah “ekonomi pasar” telah menghasilkan keambrukan yang mengerikan dalam tingkat kekuatan produktif dan budaya. Dengan segera, mereka meluncurkan sebuah serangan ofensif ideologis yang kolosal dalam skala dunia untuk melawan ide perekonomian terencana, Marxisme dan sosialisme secara umum. Para musuh sosialisme menggunakan kejahatan-kejahatan Stalinisme untuk mencoreng nama Marxisme. Mereka ingin meyakinkan rakyat bahwa revolusi tidaklah akan memberi hasil dan, oleh karenanya, lebih baik bagi rakyat untuk tunduk pada kekuasaan dari bank-bank dan monopoli-monopoli besar, menerima pengangguran massal dan memburuknya standar hidup, karena, mereka bilang “tidak ada pilihan lain.”

Pada kenyataannya, apa yang gagal di Rusia bukanlah sosialisme tapi sebuah karikatur birokratis atas sosialisme. Sebuah sistem yang totaliter dan birokratis tidaklah kompatibel dengan rejim ekonomi nasional terencana yang, seperti telah dijelaskan oleh Leon Trotsky di tahun 1936, membutuhkan demokrasi seperti halnya tubuh manusia memerlukan oksigen. Tanpa peran serta yang aktif dan sadar dari rakyat dalam tiap tingkatannya, tanpa kebebasan penuh untuk melancarkan kritik, diskusi dan perdebatan, niscaya rejim ini akan jatuh pada mimpi buruk birokratisme, korupsi, pita merah, kekacauan dan mismanajemen, yang akan menggerogoti basis dari ekonomi terencana itu pada akhirnya. Inilah yang terjadi di Uni Soviet, seperti yang diramalkan oleh kaum Marxis sendiri jauh-jauh hari.

Rejim totaliter Stalinisme, yang dipenuhi dengan korupsi, konformisme, dan penjilatan, memiliki dampak yang paling negatif di bidang ilmu pengetahuan dan seni. Walaupun Revolusi Oktober dan sistem ekonomi terencana memberikan dorongan besar pada pendidikan dan kebudayaan, perkembangan bebas ilmu pengetahuan dihalangi oleh rejim birokratis yang mencekik itu. Melebihi bidang-bidang lain, sains dan seni harus berkembang di dalam atmosfer kebebasan intelektual, kebebasan berpikir, berbicara dan membuat kesalahan. Tanpa kondisi-kondisi yang bebas semacam ini, pemikiran kreatif akan menjadi layu dan mati. Oleh karenanya, Uni Soviet, yang memiliki lebih banyak ilmuwan ketimbang Amerika Serikat dan Jepang digabungkan (dan mereka adalah ilmuwan-ilmuwan yang baik), tidak sanggup untuk mencapai hasil-hasil yang sama baiknya dengan apa yang dicapai di Barat, dan perlahan-lahan tertinggal di berbagai bidang.

Salah satu hal yang menyebabkan segala macam kesalahpahaman tentang Marxisme adalah bagaimana ia disajikan oleh para Stalinis. Elit penguasa di Rusia tidak dapat menoleransi kebebasan berpikir dan kritik dalam segala bidang. Di tangan birokrasi, filsafat Marxisme (yang mereka sebut “diamat” atau singkatan dari dialektika materialisme) diubah menjadi dogma yang mandul, atau sebuah varian dari sofisme yang digunakan untuk membenarkan segala manuver dari para pemimpinnya. Menurut Lefebvre, pada satu saat semuanya menjadi begitu parah sehingga pimpinan tertinggi angkatan bersenjata Soviet mendesak agar pelajaran-pelajaran tentang logika formal dimasukkan kembali ke dalam kurikulum akademi militer karena kebingungan yang memalukan yang disebabkan oleh para pengajar “diamat”. Setidaknya, pelajaran tentang logika akan mengajari para kadet militer ABC penalaran. Insiden kecil ini cukup untuk menelanjangi sifat karikatur dari “Marxisme” di tangan kaum Stalinis.

Di bawah Stalinisme, para ilmuwan dipaksa untuk menerima tanpa pertanyaan karikatur yang kaku dan tak bernyawa itu, dan juga sejumlah teori palsu yang sama sekali tidak memiliki basis ilmiah namun yang kebetulan sesuai dengan kepentingan birokrasi, seperti “teori” Lysenko tentang genetika. Kejadian-kejadian ini memburukkan nama materialisme dialektik di tengah komunitas ilmiah, dan mencegah penerapan metode dialektik yang kreatif pada berbagai bidang ilmu pengetahuan yang seharusnya dapat memungkinkan kemajuan-kemajuan dalam ilmu pengetahuan itu sendiri dan pengembangan lebih lanjut atas ide-ide filsafat yang telah dijelaskan Marx dan Engels secara garis besar, tapi ditinggalkan untuk diisi oleh generasi selanjutnya.

Selama lebih dari enam dasawarsa, dengan seluruh sumberdaya negara Soviet di tangannya, kaum birokrasi tidak sanggup menelurkan satupun ide yang orisinal ke dalam gudang ide Marxisme. Ini adalah bukti dari kebangkrutan rejim Stalinis. Sekalipun terdapat pencapaian-pencapaian besar yang diraih dari perekonomian nasional terencana, yang menciptakan sebuah industri dan teknologi yang luar biasa dahsyat, mereka terbukti gagal menambahkan sesuatu yang baru pada penemuan-penemuan Karl Marx, yang bekerja sendirian di perpustakaan British Museum.

Walau demikian, keunggulan dari perekonomian terencana memungkinkan kemajuan-kemajuan yang mengagumkan di banyak bidang, satu fakta yang sangat ingin disembunyikan oleh hujan propaganda yang sekarang ini sedang mengucur deras. Lebih jauh lagi, di mana para ilmuwan benar-benar menerapkan metode dialektik pada berbagai bidang, hasil-hasil yang menarik didapatkan. Ini ditunjukkan oleh teori chaos, sebuah bidang di mana para ilmuwan Soviet, yang dipengaruhi oleh materialisme dialektis, berada di depan rekan-rekannya di Barat sejauh setidaknya dua dasawarsa. Pada umumnya orang-orang tidak tahu bahwa riset-riset awal terhadap teori chaos dilakukan di Uni Soviet, dan ini memberi satu dorongan pada para ilmuwan di Barat yang secara terpisah tiba pada kesimpulan yang sama, dan yang ide-idenya kemudian mendorong perkembangan lebih lanjut dari riset-riset chaos di Soviet, seperti yang diakui oleh Gleick:

“Berkembangnya teori chaos di Amerika Serikat dan Eropa telah mengilhami sejumlah besar penelitian yang serupa di Uni Soviet; di satu pihak ia juga menyebabkan kebingungan yang cukup besar, karena banyak hal dari ilmu baru ini bukanlah sesuatu yang baru di Moskow. Para ahli matematika dan fisikawan Soviet memiliki tradisi kuat dalam riset chaos, sejak karya A. N. Kolmogorov di tahun limapuluhan. Lebih jauh lagi, mereka memiliki tradisi bekerja bersama yang telah selamat dari kecenderungan berpisahnya matematika dan fisika di belahan dunia lain.”[18]

 _______________

Catatan Kaki

 

[1] Quoted in M. Waldrop, Complexity, hal. 81.

[2] E. Lerner, The Big Bang Never Happened, hal. 155.

[3] J. Gleick, op. cit., hal. 115.

[4] D. Bohm, op. cit., hal. 32.

[5] MESW, Vol. 3, hal. 339-340.

[6] Syene adalah nama kota pada jaman Yunani Kuno yang sekarang dikenal dengan nama Aswan, di Mesir bagian Selatan.

[7] Quoted in M. Waldrop, op. cit., hal. 81.

[8] Quoted in E. Lerner, op. cit., hal. 128.

[9] Engels, Anti-Dühring, hal. 31.

[10] Engels, The Dialectics of Nature, hal. 185-6.

[11] T. Dobzhansky, Mankind Evolving, hal. 138.

[12] Engels, Anti-Dühring, hal. 45-6.

[13] Engels, Anti-Dühring, hal. 24.

[14] B. Hoffmann, op. cit., hal. 210.

[15] Quoted in I. Stewart, op. cit., hal. 40.

[16] M. Waldrop, op. cit., hal. 48.

[17] S. J. Gould, The Panda’s Thumb, hal. 153 dan 154.

[18] Gleick, op. cit., hal. 76.

Nalar yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern. Bab 17. Teori Chaos

Bab 17. Teori Chaos

Materialisme dialektik, yang dikembangkan oleh Karl Marx dan Frederick Engels, membahas lebih banyak hal daripada sekedar ekonomi-politik; ia adalah sebuah cara pandang atas dunia. Alam, seperti yang ditunjukkan Engels melalui tulisan-tulisannya, adalah bukti dari ketepatan baik materialisme maupun dialektika. “Rekapitulasi saya atas matematika dan ilmu-ilmu alam,” tulisnya, “dilakukan untuk meyakinkan diri sendiri juga secara terinci ... bahwa di alam, di tengah hiruk-pikuk perubahan yang tak berbilang banyaknya, kita melihat hukum-hukum gerak dialektik yang sama seperti halnya di dalam sejarah yang mengatur kejadian-kejadian yang nampaknya kebetulan.”[1]

Sejak jaman mereka, tiap kemajuan sains yang penting telah membenarkan cara pandang Marxis sekalipun para ilmuwan, karena implikasi politik yang dapat ditimbulkan oleh keterlibatan dengan Marxisme, jarang mengakui kebenaran materialisme dialektik. Kini, bangkitnya teori chaos menyediakan satu dukungan segar bagi ide-ide fundamental dari para pendiri sosialisme ilmiah. Sampai sekarang chaos masih banyak diabaikan oleh para ilmuwan, kecuali sebagai gangguan atau sesuatu yang perlu dihindari. Tetes air dari kran yang bocor, kadang reguler, kadang tidak; pergerakan fluida kadang turbulen kadang tidak; jantung berdetak dengan teratur tapi kadang kita berdebar-debar; cuaca bisa panas bisa dingin. Di manapun ada gerak yang tampaknya acak-- dan banyak sekali yang semacam itu di sekeliling kita -- umumnya jarang sekali ada upaya untuk memahaminya dari sudut pandang ilmiah.

Jika demikian, apakah ciri umum yang terkandung dalam sebuah sistem yang chaos? Setelah menyatakan mereka dalam persamaan-persamaan matematika, penerapan apa yang dimiliki matematika semacam itu? Satu dari ciri yang sering diajukan oleh Gleick dan lain-lain adalah apa yang sering dijuluki “efek kupu-kupu”. Lorenz telah menemukan satu perkembangan yang menakjubkan dalam simulasi komputernya. Salah satu dari simulasinya didasarkan pada duabelas variabel, termasuk, seperti yang telah kami katakan, hubungan-hubungan non-linear. Ia menemukan bahwa jika ia memulai simulasinya dengan nilai yang hanya berbeda sedikit dari nilai awalnya -- perbedaannya adalah bahwa himpunan yang pertama terdiri dari nilai-nilai dengan enam desimal, dan himpunan yang kedua dengan tiga desimal -- maka “cuaca” yang dihasilkan oleh komputer segera akan berbeda sangat jauh dari apa yang dihasilkan untuk nilai awalnya. Kita seharusnya mengharapkan adanya perbedaan kecil, namun ternyata kita mendapatkan pola yang sungguh-sungguh berbeda.

Ini berarti dalam satu sistem yang kompleks dan non-linear, perubahan kecil dalam input dapat menghasilkan perubahan yang luar biasa besar dalam hasilnya. Dalam dunia komputer Lorenz, ini sama dengan satu kepak sayap kupu-kupu yang menghasilkan hujan badai di bagian lain dunia; dari situlah muncul istilah “efek kupu-kupu”. Kesimpulan yang dapat ditarik dari sini adalah bahwa, karena kompleksitas dari gaya-gaya dan proses-proses yang menentukan pola cuaca, ia tidak dapat diramalkan selain untuk periode ke depan yang sangat singkat. Nyatanya, komputer cuaca terbesar di dunia, yang dimiliki oleh European Center for Medium Range Weather Forecasting, melakukan sebanyak 400 juta kalkulasi tiap detiknya. Ia mendapat masukan 100 juta pengukuran cuaca yang berbeda dari seluruh dunia tiap hari, dan ia mengolah data dalam tiga jam terus-menerus, untuk dapat menghasilkan ramalan cuaca untuk sepuluh hari. Namun, setelah dua atau tiga hari, ramalan itu akan menjadi terlalu spekulatif, dan setelah enam atau tujuh hari menjadi sama sekali tidak berguna. Teori chaos, dengan demikian, menempatkan batasan tertentu bagi kemampuan kita meramalkan sistem-sistem yang kompleks dan non-linear.

Namun demikian, tetap saja aneh bahwa Gleick dan lain-lain memberikan begitu banyak perhatian pada efek kupu-kupu, seakan-akanefek ini menginjeksi semacam mistik yang aneh ke dalam teori chaos. Sudah diketahui dengan sangat jelas (jika bukannya telah dimodelkan secara matematika dengan akurat) bahwa dalam sistem-sistem lain yang sama kompleksnya satu input yang kecil dapat menghasilkan output yang besar, bahwa akumulasi dari “kuantitas” dapat berubah menjadi “kualitas”. Hanya terdapat dua persen perbedaan, contohnya, antara susunan genetik dasar manusia dan simpanse --sebuah perbedaan yang dapat dikuantifikasi secara kimia molekuler. Namun, dalam proses yang kompleks dan non-linear dalam menerjemahkan “sandi” genetik ini ke dalam makhluk hidup, perbedaan yang kecil ini berarti perbedaan yang besar antara satu spesies dengan spesies lainnya.

Marxisme menerapkan dirinya pada sistem yang mungkin paling kompleks dari semua sistem non-linear -- masyarakat manusia. Dengan interaksi yang jumlahnya demikian besar dari individu yang jumlahnya tak terhitung, politik dan ekonomi membentuk satu sistem yang demikian kompleks, sehingga jika dibandingkan dengannya, sistem cuaca akan nampak seperti mekanik jam belaka. Namun demikian, seperti sistem chaos yang lain, masyarakat dapat diperlakukan secara ilmiah -- sepanjang batas-batasnya, seperti juga pada cuaca, dipahami. Sayangnya, buku Gleick tidak jelas menerangkan tentang penerapan teori chaos pada politik dan ekonomi. Ia mengutip satu percobaan Mandelbrot, yang memasukkan ke dalam komputer IBM-nya data mengenai harga katun dari pasar saham New York dalam jangka seratus tahun. “Tiap perubahan harga tertentu bersifat acak dan tak dapat diramalkan,” demikian tulisnya. “Tapi urutan perubahan tidak tergantung dari skala: kurva perubahan harian dan bulanan cocok satu sama lain ... tingkat keragaman tetap konstan bahkan pada periode gejolak 60 tahun yang dipenuhi dengan dua perang dunia dan sebuah depresi.”[2]

Kutipan ini tentunya tidak boleh dilihat secara eksplisit. Mungkin benar bahwa di dalam batasan tertentu kita mungkin melihat pola matematika yang sama dengan apa yang telah dikenali dalam model atau sistem chaos lainnya. Tapi karena kompleksitas yang hampir-hampir tak berbatas dari masyarakat manusia dan ekonomi, rasanya sangat tidak mungkin bahwa peristiwa besar semacam perang tidak dapat mengganggu pola-pola ini. Kaum Marxis berargumen bahwa masyarakat dapatilah ditelaah secara ilmiah. Berlawanan dengan mereka yang hanya melihat kekacauan di dalamnya, kaum Marxis melihat perkembangan manusia dengan kekuatan material sebagai titik berangkatnya, dan sebuah deskripsi ilmiah atas kategori-kategori sosial seperti kelas, dan seterusnya. Jika perkembangan ilmu chaos dapat membawa kita pada penerimaan bahwa metode ilmiah adalah sahih dalam politik dan ekonomi, maka ia akan memiliki nilai tambah yang amat berharga. Namun, seperti yang selalu dipahami oleh Marx dan Engels, ilmu mereka adalah ilmu yang tidak eksak, dalam makna bahwa kecenderungan dan perkembangan garis besar dapat dijejaki, tapi pengetahuan yang rinci dan sangat dekat atas segala pengaruh dan kondisi tidaklah dimungkinkan.

Kecuali harga katun, buku itu tidak memberi satupun bukti bahwa pandangan Marxis ini keliru. Nyatanya, tidak ada satu penjelasanpun mengapa Mandelbrot hanya melihat pola pada rentang 60 tahun walaupun ia memiliki data 100 tahun yang bisa dia gunakan. Sebagai tambahan, di tempat lain dalam bukunya, Gleick menambahkan bahwa “para ahli ekonomi telah mencari attractor aneh dalam kecenderungan-kecenderungan pasar saham, tapi sejauh ini tidak dapat menemukannya.”Sekalipun kelihatannya ada batasan-batasan dalam bidang ekonomi dan politik, jelaslah bahwa “penjinakan” matematika atas apa yang sebelumnya dianggap sebagai sistem yang kacau atau acak memiliki implikasi yang penting bagi ilmu pengetahuan secara umum. Ia membuka banyak wawasan baru bagi telaah atas proses-proses yang sama sekali tidak terjangkau di masa lalu.

Pembagian Kerja

Salah satu ciri utama dari para ilmuwan besar jaman Pencerahan (Renaissance) adalah bahwa mereka adalah manusia yang seutuhnya. Mereka memiliki perkembangan yang mencakup berbagai bidang, yang memungkinkan, misalnya, Leonardo da Vinci untuk menjadi insinyur besar, sekaligus ahli matematika dan mekanika, sekaligus juga seorang artis yang jenius. Hal yang sama juga berlaku untuk Dührer, Machiavelli, Luther, dan lain-lain, seperti yang ditulis oleh Engels:

“Para pahlawan dari masa itu masih belum diperbudak oleh pembagian kerja, yang efek pembatasnya, dengan kesepihakan yang dihasilkannya, seringkali kita amati pada para penerus mereka.”[3]

Pembagian kerja, tentu saja, memainkan peranan yang perlu bagi perkembangan kekuatan produktif. Namun, di bawah kapitalisme, ini telah dijalankan pada tingkatan yang demikian ekstrem sehingga ia justru berubah menjadi kebalikannya.

Pembagian kerja yang ekstrem ini, di satu pihak, antara kerja mental dan kerja manual, berarti bahwa jutaan orang direduksi kekehidupan yang penuh kerja tanpa-berpikir di lini-lini produksi, tanpa satu peluang pun untuk menunjukkan kreativitas dan kecenderungan untuk mencari dan menemukan hal-hal baru yang laten dalam setiap manusia. Pada titik ekstrem yang satu lagi, kita mendapati perkembangan kesombongan intelektual dari kasta suci yang dengan sombong telah menganugerahi diri mereka dengan gelar “penjaga ilmu pengetahuan dan kebudayaan”. Sampai pada tingkat di mana orang-orang ini terpisah jauh sekali dari kehidupan sehari-hari masyarakat, hal ini memiliki dampak yang negatif terhadap kesadaran mereka. Mereka berkembang dalam cara yang sepenuhnya sempit dan sepihak. Bukan hanya ada satu jurang yang memisahkan para “artis” dari para ilmuwan, tapi komunitas ilmuwan itu sendiri semakin semakin terpecah-pecahke dalam spesialisasi yang semakin lama semakin sempit. Sangatlah ironis bahwa, persis ketika “garis demarkasi” antara fisika, kimia dan biologi sedang mengalami keruntuhan, jurang yang memisahkan berbagai cabang dari, katakanlah, fisika, justru hampir-hampir tidak dapat diseberangi lagi.

James Gleick menggambarkan situasinya sebagai berikut:

“Hanya sedikit orang awam yang menyadari betapa telah terkotak-kotak komunitas ilmiah ini, seperti satu kapal induk yang tiap bagiannya disegel agar kebocoran tidak menjalar. Para ahli biologi memiliki cukup bahan untuk dibaca tanpa perlu dibebani lagi dengan bahan-bahan dari matematika – demikian pula, para ahli biologi molekular memiliki cukup banyak bahan untuk dibaca tanpa perlu ditambah lagi dengan materi dari biologi populasi, para fisikawan memiliki banyak cara yang lebih baik untuk menghabiskan waktu mereka daripada membaca jurnal meteorologi.”

Di tahun-tahun terakhir, kemajuan teori chaos adalah salah satu indikasi bahwa sesuatu telah mulai berubah dalam komunitas ilmiah. Semakin lama, para ilmuwan dari berbagai bidang merasa bahwa mereka telah masing-masing mencapai titik kebuntuannya. Mereka merasa perlu untuk mencari arah baru. Kelahiran matematika chaos, dengan demikian, adalah satu bukti atas apa yang pasti dikatakan Engels, tentang sifat dialektik dari alam, sebuah pengingat bahwa realitas terdiri dari sistem-sistem yang sepenuhnya dinamis, dan merupakan sistem yang menyeluruh, bukan sekedar model yang diabstraksi (seberapapun bergunanya abstraksi itu) dari realitas itu. Apa ciri-ciri utama dari teori chaos? Gleick menggambarkannya dengan cara ini:

“Bagi beberapa fisikawan, chaos adalah ilmu tentang proses bukan tentang keadaan, tentang menjadi bukan mengada.”

“Mereka merasa bahwa mereka kini sedang membalik kecenderungan dalam ilmu pengetahuan yang selama ini berjalan menuju reduksionisme, yakni analisis tentang sistem melalui bagian-bagian penyusunnya: quark, kromosom, atau neutron. Mereka percaya bahwa kini mereka tengah mencari yang keseluruhan.”

Metode materialisme dialektik adalah persis untuk menganalisa “proses bukannya keadaan, menjadi bukannya mengada.”

“Semakin hari dalam satu dekade terakhir, ia telah mulai merasa bahwa pendekatan reduksionis lama semakin mendekati titik kebuntuannya, dan bahwa bahkan beberapa ilmuwan fisika yang paling keras kepala sekalipun kini semakin muak dengan abstraksi matematika yang mengabaikan kompleksitas riil dari dunia ini. Mereka kelihatannya secara setengah sadar meraba-raba untuk mencari pendekatan baru -- dan dalam prosesnya, pikirnya, mereka sedang melintasi batas-batas tradisional dengan cara yang tidak pernah mereka lakukan selama bertahun-tahun ini. Mungkin berabad-abad ini.”[4]

Karena chaos adalah satu ilmu tentang sistem dinamis yang menyeluruh, bukannya bagian-bagian yang terpisah-pisah, ia merupakan, pada dasarnya, satu pembenaran terhadap pandangan dialektik yang masih belum diakui. Sampai saat ini, penyelidikan ilmiah telah menjadi terlalu terisolasi ke dalam bagian-bagian penyusunnya. Dalam pengejaran terhadap “bagian” para ilmuwan spesialis menjadi terlalu terspesialisasi sehingga tidak jarang mereka tidak melihat yang“keseluruhan”. Eksperimen dan rasionalisasi teoritik pun menjadi semakin terpisah dari realitas. Lebih dari seabad lalu, Engels telah mengkritik sempitnya metode yang disebutnya sebagai metode metafisik, yang menyelidiki sesuatu secara terisolasi, yang tidak melihat keseluruhannya. Titik berangkat dari para pendukung teori chaos adalah sebuah reaksi terhadap metode ini, yang mereka sebut “reduksionisme”. Engels menjelaskan bahwa “reduksi” atas telaah tentang alam menjadi berbagai disiplin yang berbeda-beda sampai tahap tertentu adalah perlu dan niscaya.

“Ketika kita merenungi alam atau sejarah umat manusia atau aktivitas intelektual kita sendiri, awalnya kita melihat satu gambaran jaring-jaring hubungan yang tiada ujung-pangkalnya, di mana tidak sesuatupun yang tinggal tetap, di mana dan sebagaimana adanya, tetapi semuanya bergerak, berubah, lahir dan mati ...

“Tapi pandangan ini, justru karena ia mengekspresikan fitur umum dari gambaransebuah fenomena secara keseluruhan, tidaklah cukup untuk menjelaskan rincian yang menyusun gambaran itu. Untuk memahami rincian-rincian ini, kita harus melepaskan mereka dari hubungan alamiah atau historis mereka dan memeriksa tiap-tiap bagian itu satu persatu menurut sifat, sebab atau akibat khusus yang mereka alami, dsb.”

Tapi Engels memperingatkan, bila kita terlalu jauh berjalan ke dalam “reduksionisme” kita akan memasuki pandangan yang tidak dialektik, kita akan terseret ke arah ide-ide metafisik.

“Telaah tentang alam ke dalam bagian-bagiannya, pembagian berbagai proses-proses dan objek-objek alam ke dalam berbagai kelas, telaah atas anatomi internal dari berbagai benda organik dalam berbagai bentuknya -- ini adalah kondisi mendasar untuk langkah-langkah raksasa dalam pengetahuan kita terhadap alam, langkah-langkah yang telah dibuat selama empat ratus tahun terakhir. Tapi pendekatan ini telah memberi kita kebiasaan untuk mengamati proses dan objek alami secara terpisah-pisah, tercerai dari konteks umumnya; mengamati mereka bukan dalam pergerakannya, tapi dalam keadaan diamnya; bukan sebagai elemen-elemen yang pada hakikatnya terus berubah, tapi sebagai sesuatu yang konstan; bukan dalam kehidupannya, tapi dalam kematiannya.”[5]

Kini bandingkanlah kutipan di atas dengan kutipan dari buku Gleick:

“Para ilmuwan memecah-mecah segala sesuatu dan melihat mereka satu persatu. Jika mereka ingin memeriksa interaksi dari partikel-partikel sub-atomik, mereka menyatukan dua atau tiga di antaranya. Sudah cukup banyak terjadi komplikasi di sini. Kekuatan kemiripan-diri, walau demikian, baru mulai ditunjukkan pada tingkatan kompleksitas yang jauh lebih tinggi. Ini adalah persoalan melihat yang keseluruhan.”

Jika kita mengganti kata “reduksionisme” dengan kata “cara berpikir metafisik”, kita akan melihat bahwa ide sentralnya identik. Kini lihat apa kesimpulan yang ditarik Engels dari kritiknya terhadap reduksionisme (“cara berpikir metafisik”):

“Tapi bagi dialektika, yang melihat segala sesuatu dan citra-citra mereka, ide-ide mereka, pada hakikatnya dalam kesalingterhubungan mereka, dalam kesinambungan mereka, pergerakan mereka, kelahiran dan kematian mereka, proses-proses yang dikemukakan di atas hanyalah merupakan pembenaran atas metode perlakuannya sendiri. Alam adalah ujian bagi dialektika, dan harus dikatakan bahwa ilmu alam modernlah yang telah menyediakan materi-materi yang sangat kaya dan semakin hari semakin banyak untuk pengujian ini, dan dengan demikian telah menemukan bahwa dalam analisa terakhir proses Alam adalah dialektik, dan bukan metafisik.”

“Tapi para ilmuwan yang telah belajar untuk berpikir secara dialektik masih sedikit, dari sanalah konflik antara penemuan-penemuan baru dengan cara berpikir tradisional kuno adalah penjelasan atas terjadinya kebingungan yang begitu besar yang kini meraja dalam ilmu alam teoritik dan mendamparkan baik para guru dan murid, ataupun penulis dan pembaca ke dalam keputusasaan.”[6]

Lebih dari seratus tahun lalu, si tua Engels telah dengan akurat menggambarkan keadaan ilmu pengetahuan saat ini. Ini diakui oleh Ilya Prigogine (pemenang Hadiah Nobel untuk kimia di tahun 1977) dan Isabelle Stengers dalam buku mereka Order Out of Chaos, Man's New Dialogue with Nature, di mana mereka menulis kutipan berikut:

“Sampai tahap tertentu, ada analogi antara konflik ini (antara fisika Newtonian dengan ide-ide ilmiah baru) dan konflik yang melahirkan materialisme dialektik.... Ide tentang sejarah alam sebagai bagian integral dari materialisme telah dinyatakan oleh Marx dan, dengan lebih terperinci, oleh Engels. Perkembangan-perkembangan kontemporer dalam fisika, penemuan akan peran konstruktif yang dimainkan oleh ireversibilitas, telah memunculkan dalam ilmu alam satu pertanyaan yang telah lama dikemukakan oleh para materialis. Bagi mereka, pemahaman akan alam berarti pemahaman bahwa ia mampu menghasilkan manusia dan masyarakatnya.”

“Lebih jauh lagi, pada waktu Engels menulis bukunya Dialectics of Nature, sains kelihatannya telah menolak cara pandang yang mekanistik dan bergerak mendekat pada ide tentang sebuah perkembangan historis dari alam. Engels menyebutkan tiga penemuan fundamental: energi dan hukum-hukum yang mengatur perubahan kualitatifnya, sel sebagai penyusun dasar kehidupan, dan penemuan evolusi spesies Darwin. Diterangi oleh ketiga penemuan penting ini, Engels sampai pada kesimpulan bahwa cara pandang mekanistik telah mati.”[7]

Sekalipun terdapat perkembangan yang menakjubkan dari ilmu dan teknologi, ada satu perasaan depresi yang berkepanjangan. Para ilmuwan, yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya, telah mulai memberontak terhadap ortodoksi yang kini berkuasa dan mencari solusi-solusi baru terhadap masalah-masalah yang mereka hadapi. Cepat atau lambat, ini pasti akan menghasilkan satu revolusi baru dalam sains, mirip dengan apa yang disebabkan oleh Einstein dan Planck hampir seabad lalu. Penting untuk dicatat bahwa Einstein sendiri bukan bagian dari komunitas ilmiah mainstream.

“Arus besar dari sebagian besar abad ke-20,” komentar Gleick, “adalah fisika partikel, yang menjelajahi batu penyusun materi pada tingkat energi yang semakin lama semakin tinggi, dengan skala yang semakin kecil, dan waktu yang semakin pendek. Dari fisika partikel telah muncul teori-teori tentang gaya-gaya fundamental dari alam dan asal-usul alam semesta. Namun, beberapa fisikawan muda telah semakin tidak puas dengan arah dari ilmu yang paling prestise ini. Kemajuan telah mulai terasa lambat, penamaan dari partikel-partikel rasanya tak lagi berguna, seluruh tubuh teori ini kini telah jenuh. Dengan datangnya teori chaos, para ilmuwan yang lebih muda percaya bahwa mereka tengah menyaksikan permulaan dari sebuah perubahan arah bagi fisika secara keseluruhan. Bidang ini telah didominasi cukup lama, mereka rasa, oleh abstraksi yang gilang-gemilang dari partikel-partikel berenergi tinggi dan mekanika kuantum.”

Chaos dan Dialektika

Masih terlalu dini untuk membentuk satu pandangan yang pasti tentang teori chaos. Namun, yang jelas adalah bahwa para ilmuwan ini tengah meraba-raba ke arah pandangan dialektik atas alam. Contohnya, hukum dialektik tentang peralihan kuantitas menuju kualitas (dan sebaliknya) memainkan peran yang utama dalam teori chaos:

“Ia (Von Neumann) mengakui bahwa sebuah sistem yang kompleks dan dinamik dapat memiliki titik-titik instabilitas -- titik-titik kritis di mana dorongan yang kecil saja dapat memiliki konsekuensi yang besar, seperti halnya sebuah bola yang diseimbangkan di puncak sebuah bukit.”

Dan lagi:

“Dalam sains, seperti juga dalam kehidupan, diketahui benar bahwa serangkaian peristiwa dapat memiliki satu titik krisis yang dapat memperbesar efek dari perubahan yang kecil. Tapi chaos berarti bahwa titik-titik semacam itu berada di mana-mana. Mereka merasuk di mana-mana.”[8]

Kutipan di atas dan masih banyak lagi lainnya mengungkapkan kemiripan yang sangat mengejutkan antara berbagai aspek teori chaos dengan dialektika. Namun, yang paling menakjubkan adalah bahwa kebanyakan dari para pelopor “chaos” kelihatannya tidak memiliki pengetahuan sedikitpun bukan hanya mengenai tulisan-tulisan Marx dan Engels, melainkan juga Hegel! Di satu sisi, ini memberikan pembenaran yang paling tegas mengenai ketepatan materialisme dialektik. Tapi, di sisi lain, kita telah dibuat frustrasimelihat bagaimana ketiadaan satu kerangka kerja dan metode berpikir filsafat yang memadai ternyata telah menghambat sains sedemikian lama.

Selama 300 tahun fisika didasarkan pada sistem yang linear. Nama linear datang dari fakta bahwa jika Anda memplotkan satu persamaan pada grafik, ia akan muncul sebagai sebuah garis lurus. Sungguh, banyak dari apa yang ada di alam kelihatannya bekerja secara linear. Inilah mengapa mekanika klasik sanggup menjelaskannya dengan cukup baik. Namun, banyak juga yang tidak bekerja secara linear, dan tidak dapat dipahami melalui sistem yang linear. Otak jelas tidak berfungsi dalam cara yang linear, demikian juga ekonomi, dengan siklus boom dan depresinya yang chaos. Satu persamaan yang tidak linear tidak dinyatakan dalam satu garis lurus, tapi memperhitungkan pula karakter dari realitas yang tidak teratur, kontradiktif dan seringkali penuh kekacauan.

“Semua ini membuat saya sangat tidak senang terhadap para kosmologis yang memberitahu kita bahwa mereka telah menemukan asal-usul Alam Semesta Raya dengan rapi, kecuali untuk beberapa milidetik pertama pasca Big Bang. Dan begitu juga para politisi yang meyakinkan kita bahwa bukan hanya satu dosis solid suntikan moneterisme akan berakibat baik bagi kita, tapi bahwa mereka demikian yakin bahwa beberapa juta pengangguran yang terjadi akibat dosis moneterisme itu hanyalah sedakan kecil saja. Ahli ekologi matematika Robert May menyuarakan sentimen yang mirip dengan ini di tahun 1976. 'Bukan hanya dalam riset, tapi dalam dunia politik dan ekonomi sehari-hari, kita akan menjadi jauh lebih baik jika lebih banyak orang yang menyadari bahwa sistem yang sederhana tidak harus memiliki ciri-ciri dinamik yang juga sederhana.”[9]

Masalah-masalah dalam sains modern dapat diatasi dengan lebih mudah dengan menganut satu metode dialektik yang sadar (bukannya yang tanpa sadar, kadang-kadang dan empirik). Jelas bahwa implikasi filsafati umum dari teori chaos sedang diperdebatkan oleh para ilmuwan. Gleick mengutip Ford, “seseorang yang menunjuk dirinya sendiri sebagai pendakwah teori chaos”, yang mengatakan bahwa chaos berarti, “sistem-sistem yang dibebaskan untuk secara acak menjelajahi setiap kemungkinan dinamikanya sendiri....” Yang lain merujuk pada sistem-sistem yang kelihatannya acak. Mungkin definisi yang terbaik datang dari Jensen, seorang fisikawan teoritik di Yale, yang mendefinisikan “chaos” sebagai “perilaku yang tidak teratur dan tak teramalkan dari sistem dinamik yang deterministik dan non-linear.”

Alih-alihmengangkat keacakan sebagai sebuah prinsip alam, seperti yang kelihatannya dilakukan Ford, ilmu baru ini melakukan hal yang sebaliknya: ia menunjukkan tanpa dapat dibantah lagi bahwa proses-proses yang dianggap acak (dan tetap dapat dianggap demikian, untuk keperluan sehari-hari) tetap saja didorong oleh determinisme yang mendasarinya -- bukan determinisme mekanis yang kasar dari abad ke-18 melainkan determinisme yang dialektik.

Beberapa dari klaim yang kini tengah dibuat bagi ilmu baru ini sangatlah dahsyat, dan dengan penghalusan dan perkembangan teknik dan metode baru, mungkin akan terbukti benar. Beberapa dari para pendukungnya melangkah jauh dengan mengatakan bahwa abad ke-20 akan dikenang melalui tiga hal: relativitas, mekanika kuantum dan teori chaos. Albert Einstein, sekalipun merupakan salah satu pendiri teori kuantum, tidak pernah berdamai dengan gagasanalam semesta yang non-deterministik. Dalam sebuah surat pada fisikawan Niels Bohr, ia bersikeras bahwa “Tuhan tidak bermain dadu”. Teori chaos bukan hanya telah membuktikan bahwa Einstein benar mengenai soal ini. Tapi teori ini, bahkan ketika ia barulah lahir dan masih belum matang, telah merupakan pembenaran yang gemilang atas cara pandang mendasar yang dikemukakan oleh Marx dan Engels lebih dari seabad lalu.

Sangatlah mengejutkan bahwa sedemikian banyak penganjur teori chaos, yang berupaya mendobrak metodologi “linear” yang mencekik dan merumuskan satu matematika baru yang “non-linear”, yang jauh lebih sesuai dengan realitas alam yang turbulen dan terus berubah, nampaknya sama sekali tidak menyadari adanya satu-satunya revolusi sejati dalam logika selama dua milenia terakhir -- logika dialektik yang materialis, yang dikembangkan oleh Hegel, dan kemudian disempurnakan Marx dan Engels. Betapa banyak kesalahan, jalan buntu dan krisis dalam sains yang sebenarnya dapat dihindari jika para ilmuwan memperlengkapi diri mereka dengan satu metode berpikir yang benar-benar mencerminkan realitas alam yang dinamik, bukannya yang berkonflik dengan realitas itu pada tiap kelokannya!

_________________

Catatan Kaki

 

[1] Engels, Anti-Dühring, hal. 16.

[2] Gleick, op. cit., hal. 86.

[3] Engels, The Dialectics of Nature, hal. 31.

[4] Gleick, op. cit., hal. 31, 5, 11 dan 61-2.

[5] Engels, Anti-Dühring, hal. 24-5.

[6] Engels, Anti-Dühring, hal. 29.

[7] I. Prigogine dan I. Stengers, op. cit., hal. 252-3.

[8] J. Gleick, op. cit., hal. 6, 18-9 dan 23.

[9] I. Stewart, Does God Play Dice? hal. 21.

Nalar yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern. Bab 16. Apakah Matematika Mencerminkan Realitas

Bagian Keempat: Keteraturan dari Chaos

 

Bab 16. Apakah Matematika Mencerminkan Realitas

“Kenyataan bahwa pemikiran subjektif kita dan dunia objektif tunduk pada hukum-hukum yang sama, dan dengan demikian, juga, bahwa dalam analisa terakhirnya keduanya tidak dapat saling berkontradiksi dalam hasil-hasil mereka, tapi harus bersesuaian, mengatur seluruh pemikiran teoritik kami.” (Engels)

Isi dari “matematika murni” pada akhirnya diturunkan dari dunia material. Ide bahwa kebenaran dalam matematika adalah sejenis pengetahuan yang khusus, yang inheren dalam dirinya sendiri atau merupakan hasil ilham ilahi, tidak layak mendapatkan perhatian yang serius. Matematika menangani hubungan-hubungan kuantitatif dari dunia nyata. Apa yang disebut “aksioma” hanya nampak terbukti dalam dirinya sendiri setelah melalui masa-masa panjang pengamatan dan pengalaman atas realitas. Sayangnya, fakta ini kelihatannya telah dilupakan oleh banyak ahli matematika teoritik jaman sekarang yang menipu diri mereka dengan pemikiran bahwa subjek“murni” mereka sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan dunia material yang kasar di sekeliling mereka. Ini adalah satu contoh yang jelas dari konsekuensi-konsekuensi negatif dari pembagian kerja yang dijalankan ke tingkat ekstrem.

Sejak jaman Pitagoras, klaim-klaim yang paling megah telah dibuat atas nama matematika, yang telah digambarkan sebagai ratu dari segala ilmu pengetahuan, kunci ajaib yang membuka semua pintu ke jagad raya. Setelah melepaskan diri dari dunia fisik, matematika kelihatannya telah terbang melayang ke surga, di mana ia mendapat anugerah untuk berlaku bak dewa, tidak mematuhi aturan apapun kecuali aturannya sendiri. Maka, ahli matematika terkemuka Henri Poincaré, di tahun-tahun pertama abad ke-20, sanggup membuat klaim bahwa hukum-hukum ilmu pengetahuan tidak berhubungan dengan dunia nyata sama sekali, tapi merupakan satu konvensi acak yang ditakdirkan mendorong satu penggambaran yang lebih mudah dan “berguna” atas fenomena yang sedang dibahas. Beberapa fisikawan teoritik tertentu sekarang telah menyatakan dengan terbuka bahwa kesahihan model matematika mereka tidaklah tergantung pada verifikasi empirik, melainkan semata pada kualitas keindahan dari persamaan-persamaannya.

Teori-teori matematika telah, di satu pihak, merupakan sumber kemajuan yang dahsyat dalam sains, dan, di pihak lain, merupakan sumber dari sejumlah besar kesalahan dan kesalahpahaman yang telah, dan masih terus memiliki konsekuensi-konsekuensi negatif yang mendasar. Kesalahan sentralnya adalah upaya untuk mereduksi proses alam yang kompleks, dinamis dan penuh kontradiksi ini menjadi rumus-rumus yang statis, kuantitatif dan teratur. Alam disajikan dalam cara yang formalistik, seperti satu titik berdimensi tunggal, yang kemudian menjadi garis, kemudian menjadi bidang datar, menjadi kubus, menjadi bola, dan seterusnya. Namun, ide bahwa matematika murni adalah pemikiran yang mutlak, tidak dicemari oleh persinggungan dengan benda-benda material, adalah hal yang jauh sekali dari kebenaran. Kita menggunakan sistem desimal, bukan karena deduksi logis atau “kehendak bebas”, tapi karena kita memiliki 10 jari. Kata “digital” datang dari kata Latin untuk jari. Dan sampai hari ini seorang anak sekolah akan dengan diam-diam menghitung jarinya yang material di bawah mejanya yang material, sebelum sampai pada jawaban-jawaban atas soal-soal matematika yang abstrak. Dengan melakukan hal itu, si anak tanpa sadar telah menapak kembali cara yang ditempuh umat manusia ketika baru mulai mengenal hitungan.

Asal-usul material dari abstraksi matematika bukanlah rahasia bagi Aristoteles: “Para ahli matematika,” tulisnya, “menyelidiki abstraksi. Ia mengabaikan segala kualitas yang dapat diraba seperti berat, densitas, suhu, dan lain-lain, dan hanya meninggalkan hal-hal yang kuantitatif dan kontinu (dalam dimensi tunggal, dua atau tiga) dan ciri-cirinya yang hakiki.” Di tempat lain ia menulis: “Objek-objek matematika tidak dapat hadir terpisah dari benda-benda yang dapat diraba (yaitu, material).” Dan “Kita tidak memiliki pengalaman tentang apapun yang terdiri dari garis atau bidang atau titik, seperti yang seharusnya kita miliki jika hal-hal ini adalah zat yang material. Garis, dll., mungkin lebih dahulu dalam definisi daripada benda, tapi mereka tidaklah lebih dahulu dalam keberadaan.”[1]

Perkembangan dari matematika adalah hasil dari kebutuhan manusia yang sungguh material. Manusia-manusia pertama hanya memiliki sepuluh bilangan, persis karena ia menghitung, seperti seorang anak kecil, dengan jarinya. Pengecualian pada orang-orang Maya di Amerika Tengah yang memiliki sistem bilangan berdasarkan duapuluh, mungkin karena mereka menghitung juga jari kaki mereka. Hidup dalam masyarakat berburu-meramu yang bersahaja, tanpa uang atau kepemilikan pribadi, nenek moyang kita tidak memiliki kebutuhan untuk bilangan-bilangan yang lebih besar. Untuk memikirkan bilangan yang lebih besar dari sepuluh, ia menggabungkan beberapa bilangan sepuluhan yang dihubungkan melalui jarinya. Maka, satu lebihnya dari sepuluh dinyatakan sebagai “sepuluh-satu” (undecim, dalam bahasa Latin, atau ein-lifon-- “satu lebihnya”--dalam bahasa Teutonik purba, yang menjadi eleven dalam bahasa Inggris). Semua bilangan lain hanyalah kombinasi dari bilangan sepuluh yang awal, dengan pengecualian lima tambahan lainnya – seratus, seribu, sejuta, semiliar dan setriliun.

Asal-usul sejati bilangan telah dipahami oleh filsuf materialis besar dari Inggris di abad ke-17 Thomas Hobbes: “Dan kelihatannya, ada saat di mana nama-nama bilangan itu tidak digunakan; dan manusia bersusah-payah menerapkan jari-jari dari satu atau kedua tangan, kepada benda-benda yang ingin mereka hitung; dan dari situ mereka maju, bahwa kini kata-kata kita untuk bilangan bukan apa-apa selain sepuluh, di bangsa manapun, dan di beberapa bangsa lain lima, lalu mulai lagi dari awal.”[2]

Alfred Hooper menjelaskan “Hanya karena manusia-manusia primitif menciptakan bilangan yang sama dengan jumlah jari yang dimilikinya, skala bilangan kita sekarang adalah skala desimal, yaitu skala yang didasarkan pada sepuluh, dan terdiri dari pengulangan tak terhingga dari kata-bilangan sepuluh yang pertama.... Jika manusia diberi duabelas jari bukannya sepuluh, tentu kita akan memiliki skala bilangan duodesimalsaat ini, berdasarkan duabelas, terdiri dari pengulangan tak berhingga dari kata bilangan dua belas yang dasar.”[3] Nyatanya, sistem duodesimal memiliki keuntungan dibanding sistem desimal. Sementara sepuluh hanya dapat dibagi genap oleh dua dan lima, duabelas dapat dibagi genap oleh dua, tiga, empat dan enam.

Angka bilangan Romawi adalah gambar yang mewakili jari. Mungkin simbol untuk lima mewakili jarak yang terjadi antara ibu jari dan jari lainnya. Kata “calculus” (dari mana kita menurunkan kata Inggris “calculate”) berarti “kerikil” dalam bahasa Latin, berhubungan dengan metode penghitungan manik batu pada abakus. Ini semua, dan contoh-contoh lain yang tak berhingga banyaknya dapat menggambarkan bagaimana matematika tidaklah muncul dari operasi berpikir manusia yang bebas, tapi merupakan hasil dari sebuah proses berkepanjangan dari evolusi sosial, percobaan dan kegagalan, pengamatan dan eksperimen, yang perlahan-lahan terpisah menjadi satu tubuh pengetahuan yang kelihatannya memiliki sifat yang abstrak. Begitu juga sistem pengukuran kita atas berat dan panjang telah diturunkan dari objek material pula. Asal-usul dari unit panjang Inggris, foot [kaki], tidak perlu dijelaskan lagi, seperti kata yang digunakan bahasa Spanyol untuk inci, “pulgada” yang berarti ibu jari. Asal-usul dari simbol matematika“+” dan “-” tidak memiliki hubungan apapun dengan matematika. Keduanya adalah tanda yang digunakan di Abad Pertengahan oleh para pedagang untuk menghitung kelebihan atau kekurangan jumlah barang di gudang-gudang.

Kebutuhan untuk membangun tempat tinggal untuk melindungi diri sendiri dari berbagai unsur alam memaksa manusia-manusia pertama untuk menemukan cara yang paling baik dan praktis untuk memotong kayu sehingga ujungnya dapat dilekatkan satu sama lain. Ini berarti penemuan sudut siku dan penyiku tukang kayu. Kebutuhan untuk membangun rumah pada tanah yang datar membawa kita pada penemuan alat pengukur kedataran seperti yang digambarkan pada makam-makam Mesir dan Romawi, yang terdiri dari tiga potong kayu yang digabungkan dalam sebuah segitiga sama sisi, dengan seutas tali diikatkan pada puncaknya. Alat yang sederhana dan praktis itu digunakan untuk membangun piramid. Para pendeta Mesir mengumpulkan sejumlah besar pengetahuan matematika yang diturunkan, pada akhirnya, dari aktivitas praktis semacam itu.

Bahkan kata “geometri” mengungkapkan asal-usulnya yang praktis. Ia berarti “pengukuran bumi”, itu saja. Apa yang dilakukan oleh orang-orang Yunani adalah memberi satu penyataan teoritik yang lengkap terhadap penemuan-penemuan ini. Namun, dengan menyajikan teorema sebagai hasil murni dari deduksi logika, mereka telah membohongi diri sendiri dan generasi-generasi mendatang. Pada akhirnya, matematika diturunkan dari realitas material, dan, sungguh, tidak dapat diterapkan jika bukan demikian halnya. Bahkan teorema Pitagoras yang terkenal itu, yang dikenal oleh semua murid sekolah, bahwa panjang dari sebuah kubus yang digambar pada sisi terpanjang dari sebuah segitiga adalah sama dengan jumlah kubus-kubus yang digambar pada kedua sisi yang lain, telah ditemukan terlebih dahulu lewat praktek oleh orang-orang Mesir.

Kontradiksi dalam Matematika

Engels, dan Hegel sebelum dia, menunjukkan berbagai kontradiksi yang bertumpuk dalam matematika. Kendati klaim dari para ahli matematika tentang kesempurnaan dan kesucian tak bernoda dari “ilmu agung” mereka, matematika selalu penuh dengan kontradiksi. Ini dimulai oleh para pengikut Pitagoras, dengan paham mereka yang mistik tentang Angka, dan keharmonisan jagad raya. Walaupun demikian, mereka dengan cepat menemukan bahwa alam rayamatematika mereka yang harmonis dan teratur dihantui oleh kontradiksi, yang penyelesaian-penyelesaiannya telah membawa mereka ke jurang keputusasaan. Contohnya, mereka menemukan bahwa mustahil bagi kita untuk menyatakan panjang diagonal dari sebuah persegi dalam bentuk bilangan.

Para pengikut Pitagoras yang belakangan menemukan bahwa banyak bilangan, seperti akar kuadrat dari dua, yang tidak dapat dinyatakan dalam bilangan. Ia adalah “bilangan irasional”. Namun, sekalipun akar dua tidak dapat dinyatakan dengan pecahan sekalipun, ia tetap berguna untuk menemukan panjang sisi dari sebuah segitiga. Matematika masa kini mengandung sekawanan besar hewan-hewan aneh itu, yang masih belum terjinakkan, sekalipun selalu diupayakan untuk mendomestifikasi mereka, tapi, jika kita menerima mereka sebagaimana adanya, mereka tetap memberikan kegunaan yang besar bagi kita. Maka kita memiliki bilangan irasional, bilangan transendental[4], bilangan transfinit, yang semuanya menunjukkan fitur-fitur yang aneh dan kontradiktif, dan semuanya tidak dapat diabaikan dalam sains modern.

Pi (p) yang misterius itu telah dikenal baik oleh orang Yunani kuno, dan seluruh generasi anak-anak masa kini yang telah tahu menghubungkan bilangan itu sebagai rasio antara keliling dan diameter dari sebuah lingkaran. Namun, anehnya, nilai tepat dari bilangan ini tidak akan pernah dapat ditemukan. Archimedes menghitung nilai kira-kira dari bilangan ini dengan sebuah metode yang dikenal sebagai “exhaustion”. Nilainya berada antara 3,14085 dan3,14286. Tapi jika kita mencoba menuliskan nilai persisnya, kita akan mendapatkan nilai yang aneh: p = 3,14159265358979323846264338327950... dan seterusnya sampai tak berhingga. Pi, yang dikenal sebagai bilangan transendental, mutlak diperlukan untuk menemukan keliling lingkaran tapi tidak dapat dinyatakan sebagai solusi untuk satu persamaan aljabar. Lalu kita memiliki akar kuadrat dari minus satu, yang bukan merupakan bilangan aritmetika sama sekali. Para ahli matematika merujuknya sebagai “bilangan imajiner”, karena tidak ada bilangan riil yang, jika dikalikan dengan dirinya sendiri, akan menghasilkan minus satu, karena dua bilangan minus akan menghasilkan bilangan plus. Ini adalah satu makhluk yang sangat aneh – tapi sama sekali bukan khayalan belaka, sekalipun ia memanggul nama “imajiner”. Dalam Anti-Dühring, Engels menjelaskan:

“Ada satu kontradiksi bahwa sebuah besaran yang negatif dapat merupakan kuadrat dari bilangan tertentu, karena tiap besaran negatif yang dikalikan dengan dirinya sendiri akan menghasilkan kuadrat yang positif. Akar kuadrat dari minus satu, dengan demikian, bukan hanya sebuah kontradiksi, tapi merupakan kontradiksi yang absurd, absurditas sejati. Namun demikian, akar kuadrat dari -1 dalam banyak kasus merupakan hasil yang niscaya dari sebuah operasi matematika yang tepat. Lebih jauh lagi, bagaimana mungkin matematika – tingkat tinggi atau rendah – bisa ada jika ia tidak diperkenankan bekerja dengan akar minus satu?”[5]

Pernyataan Engels semakin terdengar tepat saat ini. Kombinasi kontradiktif antara plus dan minus memainkan peran yang mutlak krusial dalam mekanika kuantum, di mana ia muncul dalam sejumlah besar persamaan, yang merupakan hal yang fundamental bagi sains modern.

Bahwa matematika melibatkan kontradiksi yang mengejutkan semacam ini bukanlah sesuatu yang dapat diragukan. Inilah yang ditulis Hoffman tentang hal itu:

“Bahwa rumus semacam itu dapat memiliki hubungan dengan dunia eksperimen yang ketat, yakni dunia fisika itu sendiri, adalah hal yang sulit dipercaya. Bahwa ia menjadi landasan yang sangat dalam untuk fisika baru, dan bahwa ia dapat menjelajah jauh lebih mendasar daripada segala sesuatu yang ada sebelumnya menuju inti terdalam dari sains dan metafisika adalah hal yang sama menakjubkannya, seperti pertama kali orang menemukan doktrin bahwa bumi ini bulat.”[6]

Di masa kini, penggunaan bilangan “imajiner” telah dianggap sesuatu yang wajar. Akar kuadrat dari minus satu digunakan untuk serangkaian operasi yang penting, seperti konstruksi sirkuit listrik. Bilangan transfinit, pada gilirannya, digunakan untuk memahami sifat waktu dan ruang. Sains modern, khususnya mekanika kuantum, tidak akan dapat dikerjakan tanpa penggunaan konsep-konsep matematika yang jelas-jelas kontradiktif sifatnya. Paul Dirac, salah satu pendiri mekanika kuantum, menemukan bilangan “Q”, yang melanggar semua aturan matematika normal yang mengatakan bahwa a dikalikan b adalah sama dengan b dikalikan a.

Apakah Infiniti Benar Ada?

Ide tentang ketakberhinggaan atau infiniti sangat sulit dipahami, karena, sekilas hal itu berada di luar pengalaman manusia. Pikiran manusia terbiasa menangani hal-hal yang finit, yang dinyatakan dalam ide-ide yang finit. Segala sesuatu memiliki awal dan akhir. Ini adalah pemikiran yang akrab dengan kita. Tapi apa yang akrab tidak harus selalu benar. Sejarah pemikiran matematika memiliki beberapa pelajaran penting tentang hal ini. Untuk waktu yang lama, para ahli matematika, setidaknya di Eropa, berusaha mengusir konsep infiniti. Alasan mereka untuk melakukan hal ini sangat jelas. Selain adanya kesulitan untuk mengkonsepkan infiniti, dalam makna yang murni matematikainfiniti merupakan satu kontradiksi. Matematika berurusan dengan besaran yang finit. Infiniti, karena sifat dasarnya, tidak akan dapat diukur atau dihitung. Ini berarti bahwa terdapat konflik yang riil di antara keduanya. Untuk alasan ini, para ahli matematika besar dari jaman Yunani kuno menghindariinfiniti seperti sebuah wabah penyakit. Walau demikian, sejak awal filsafat, orang telah berspekulasi tentang infiniti. Anaximander (610-547 SM) mengambil ini sebagai basis dari filsafatnya.

Paradoks Zeno (hidup ± 450 SM) menunjuk adanya kesulitan yang inheren dalam ide kuantitas yang kecil tak berhingga sebagai penyusun besaran kontinu dengan mencoba membuktikan bahwa pergerakan ke arah kecil tak berhingga adalah satu khayalan. Zeno “membuktikan secara terbalik” pergerakan itu dengan cara lain. Ia berargumen bahwa satu benda yang bergerak, sebelum mencapai satu titik tertentu, harus pertama-tama menjalani separuh jarak. Tapi, sebelum ini, ia harus juga telah melampaui setengah dari separuh jarak itu, dan seterusnya sampai tak berhingga. Maka, ketika dua benda bergerak dengan jurusan yang sama, dan yang satu, yang berada pada satu jarak tertentu di belakang yang lain, bergerak lebih cepat dari benda di depannya itu, kita menganggap bahwa ia akan menyalip benda di depannya itu.Tidak demikian, kata Zeno. “Yang lebih lambat tidak akan dapat disalip oleh yang lebih cepat.” Inilah paradoks tentang Achilles si Gesit yang terkenal itu. Bayangkan sebuah lomba lari antara Achilles dengan seekor kura-kura. Jika Achilles dapat berlari sepuluh kali lebih cepat dari kura-kura itu, sedangkan kura-kura itu mendapat keuntungan berada 1000 meter di depan Achilles. Ketika Achilles telah menempuh 1000 meter, kura-kura itu akan berada 100 meter di depannya; ketika Achilles telah menempuh 100 meter itu, kura-kura itu akan berada 1 meter di depannya; ketika Achilles menempuh satu meter itu, kura-kura akan berada sepersepuluh meter di depannya, dan terus demikian sampai tak berhingga.

Paradoks Zeno tidaklah membuktikan bahwa pergerakan adalah sebuah ilusi, atau bahwa Achilles, dalam praktek, tidak akan pernah menyalip seekor kura-kura, tapi paradoks itu mengungkapkan dengan gemilang keterbatasan dari jenis pemikiran yang kini kita kenal sebagai logika formal. Upaya untuk menyingkirkan kontradiksi dari realitas, seperti yang dilakukan Eleatics [mazhab filsafat pra-Socrates, seperti Zeno], niscaya akan membawa kita pada segala macam paradoks yang tak terpecahkan, atau antinomi, seperti yang disebut Kant di kemudian hari. Untuk membuktikan bahwa sebuah garis tidak terdiri dari titik-titik yang jumlahnya infinit, Zeno mengklaim bahwa, jika benar demikian, maka Achilles tidak akan pernah menyalip kura-kura itu. Ada sebuah masalah logika yang nyata di sini. Seperti yang dijelaskan oleh Alfres Hooper:

“Paradoks ini masih membingungkan bahkan bagi mereka yang tahu bahwa kini dimungkinkan untuk menemukan jumlah dari deret bilangan infinit yang membentuk satu progresi geometris dengan rasio umum kurang dari 1, dan yang bergerak secara berurutan semakin lama semakin kecil dan 'berkonvergensi' pada satu nilai batas.”[7]

Nyatanya,Zeno telah mengungkapkan satu kontradiksi dalam pemikiran matematika yang harus menunggu dua ribu tahun untuk diselesaikan. Kontradiksi ini berhubungan dengan penggunaan bilangan infinit. Sejak Pitagoras sampai penemuan kalkulus diferensial dan integral di abad ke-17, para ahli matematika berusaha keras untuk menghindari penggunaan konsep infiniti. Hanya Archimedes, sang jenius besar itu, yang berani mendekati persoalan ini, tapi tetap menghindarinya dengan menggunakan metode memutar. Para penganut teori atom awal, dimulai dari Leukippus, yang mungkin salah satu murid Zeno, menyatakan bahwa atom “tidak dapat dibagi dan tidak berhingga jumlahnya, bergerak tanpa henti dalam ruang hampa, yang luasnya tak berhingga.”

Fisika modern menerima bahwa jumlah saat antara dua detik adalah infinit, seperti jumlah saat dalam satu rentang waktu yang tidak memiliki awal maupun akhir. Jagad ini sendiri terdiri dari rantai sebab-akibat yang tak berhingga, terus-menerus berubah, bergerak dan berkembang. Ini tidak ada kesamaannya dengan paham infiniti yang kasar dan sepihak yang terkandung dalam deret infinit dari aritmetika sederhana, di mana “infinit” selalu “dimulai” dengan bilangan 1! Inilah apa yang oleh Hegel disebut “Bad Infinity” (Infiniti yang buruk).

Ahli matematika Yunani terbesar Archimedes (287-212 SM) menggunakan angka-angka yang tidak bisa dibagi (indivisibles) dalam geometri, tapi ia menganggap ide tentang besar atau kecil tak berhingga sebagai ide yang tidak memiliki landasan logis. Seperti itu pula, Aristoteles berpendapat bahwa, karena satu benda harus memiliki bentuk, ia harus bersifat finit, dan dengan demikian tidak dapat menjadi infinit. Sambil menerima ada dua macam “potensi”infiniti– penambahan berturutan dalam aritmetika (besar tak berhingga), dan pembagian berturutan dalam geometri (kecil tak berhingga) – ia tetap berpolemik melawan para ahli geometri yang berpandangan bahwa satu potong garis terdiri dari titik-titik yang jumlahnya tak berhingga, atau indivisibles.

Penyangkalan terhadap infiniti merupakan halangan bagi perkembangan matematika Yunani klasik. Sebaliknya, para ahli matematika India tidak memiliki kesulitan semacam ini dan menghasilkan perkembangan-perkembangan besar, yang, melalui orang-orang Arab, kemudian memasuki Eropa. Upaya untuk menyingkirkan kontradiksi dari pemikiran, sesuai dengan skema-skema logika formal, menghalangi perkembangan matematika.Tapi jiwa-jiwa petualang dari jaman Renaisans membuka pikiran manusia pada kemungkinan-kemungkinan baru yang, kenyataannya, tak berhingga. Dalam bukunya The New Science (1638), Galileo menunjukkan bahwa tiap integer (bilangan bulat) hanya memiliki satu kuadrat sempurna, dan tiap kuadrat sempurna adalah kuadrat dari hanya satu integer positif. Maka, dalam makna tertentu, terdapatlah sejumlah kuadrat sempurna sebanyak jumlah integer positif. Ini segera membawa kita pada kontradiksi logika. Ia berkontradiksi dengan aksioma bahwa yang keseluruhan selalu lebih besar dari bagian-bagian apa yang menyusunnya, di mana tidak semua integer positif merupakan kuadrat sempurna, dan tidak semua kuadrat sempurna adalah bagian dari integer positif.

Ini hanya salah satu dari sejumlah besar paradoks yang telah menghantui matematika sejak Renaisans ketika orang mulai menempatkan pemikiran-pemikiran dan asumsi-asumsi mereka ke dalam analisis yang kritis. Sebagai hasilnya, perlahan-lahan, dan terus dibayangi oleh perlawanan keras kepala dari kepala-kepala yang konservatif, satu demi satu aksioma-aksioma yang nampaknya tak dapat dipatahkan dan merupakan “kebenaran kekal”matematika mulai tergulingkan. Kita sampai pada titik di mana seluruh bangunan matematikaterbukti tidak kokoh dan membutuhkan rekonstruksi yang menyeluruh di atas landasan yang lebih solid, tapi sekaligus lebih fleksibel, yang sekarang ini sedang diusahakan, yang niscaya akan memiliki karakter yang dialektik.

Kalkulus

Banyak dari apa-yang-disebut aksioma-aksioma dari Yunani klasik kini telah digerogoti oleh penemuan kalkulus diferensial dan integral, terobosan terbesar dalam matematika sejak Abad Pertengahan. Salah satu aksioma dari geometri bahwa garis lurus dan kurva adalah dua hal yang bertentangan mutlak, dan keduanya tidak dapat dibandingkan, yaitu, yang satu tidak dapat dinyatakan dalam bentuk yang lain. Namun, pada analisa terakhir, garis lurus dan kurva dalam kalkulus diferensial dianggap sebagai hal yang sama. Seperti yang ditunjukkan Engels, dasar untuk hal ini telah diletakkan lama sebelum hal itu dikembangkan oleh Leibniz dan Newton: “Titik balik dalam matematika adalah besaran variabel dari Descartes. Bersamanya datanglah gerakdan dengan itu dialektika dalam matematika, dan sekaligus juga, keniscayaan akan munculnya kalkulus integral dan diferensial, yang kemudian dimulai segera, dan yang pada keseluruhannya diselesaikan oleh Newton dan Leibniz, bukannya ditemukan oleh mereka.”[8]

Penemuan kalkulus membuka cakrawala yang sama sekali baru bagi matematika dan sains secara umum. Sekali tabu-tabu dan pantangan-pantangan lama disingkirkan, para ahli matematika dibebaskan untuk menyelidiki wilayah-wilayah yang sama sekali baru. Tapi mereka menggunakan bilangan besar dan kecil tak berhingga secara tidak kritis, tanpa memandang implikasi-implikasi logis dan konseptual mereka. Penggunaan kuantitas yang besar dan kecil tak berhingga dianggap sebagai semacam “fiksi yang berguna”, yang, untuk beberapa alasan yang sama sekali tidak jelas, selalu memberikan hasil yang benar. Dalam bagian Quantity dalam jilid pertama The Science of Logic, Hegel menunjukkan bahwa, walaupun dimasukkannya bilangan infinit dalam matematika membuka cakrawala baru bagi matematika, dan membawa pada hasil-hasil yang penting, bilangan-bilangan itu tetap tidak terjelaskan, karena mereka tetap berbenturan dengan tradisi dan metode yang ada:

“Tapi dalam metode infinit, matematikamenemukan sebuah kontradiksi yang radikal darimetode tersebut yang merupakan cirinya sendiri, dan yang merupakan sandarannya selaku sebuah ilmu. Karena penghitungan bilangan infinit merupakan, dan menuntut, mode-mode prosedur yang harus ditolak sepenuhnya oleh matematika ketika ia bekerja dengan besaran infinit, dan pada saat yang sama ia memperlakukan besaran infinit ini sebagai Quanta yang finit, berusaha menerapkan pada bilangan infinit itu metode-metode yang valid untuk bilangan finit.”[9]

Akibatnya adalah sebuah periode kontroversi yang lama tentang kesahihan kalkulus. George Berkeley mengecam kalkulus sebagai sebuah kontradiksi terbuka terhadap hukum-hukum logika. Newton, yang menggunakan metode baru itu di dalam bukunya Principia, merasa terpaksa menyembunyikan fakta itu dari publik, karena takut akan reaksi buruk terhadap metodenya. Di awal abad ke-18, Bernard Fontenelle akhirnya mendapat keberanian untuk menyatakan secara kategoris bahwa sebagaimana halnya terdapat sejumlah tak berhingga dari bilangan natural, maka satu bilangan infinithadir senyata bilangan finit, dan bahwa kebalikan dari besar tak berhingga adalah kecil tak berhingga (infinitesimal). Namun, ia ditentang oleh Georges de Buffon (1707-1788), yang menolak infinit karena dianggapnya sebagai khayalan belaka. Bahkan kejeniusan D'Alambert (1717-1783) tidak dapat membantunya memahami dan menerima ide ini. Dalam artikel yang termuat dalam bukunya Encyclopaedia tentang Diferensial, ia menyangkal adanya infiniti, kecuali dalam makna negatif sebagai limit dari satu kuantitas finit.

Konsep “limit” pada nyatanya dimasukkan sebagai satu upaya untuk mengatasi kontradiksi yang inheren dalam infiniti. Hal ini khususnya populer di abad ke-19, ketika para ahli matematika tidak lagi mau sekedar menerima kalkulus tanpa berpikir lagi, seperti yang dengan senang hati dilakukan oleh generasi sebelumnya. Kalkulus diferensial mempostulatkan keberadaan besaran yang kecil tak berhingga dengan tingkatan yang bermacam-macam – turunan pertama, turunan kedua dan seterusnya sampai tak berhingga. Dengan memasukkan konsep “limit” mereka setidaknya menciptakan satu tampilan bahwa infiniti yang sesungguhnya tidak terlibat di sini. Tujuannya adalah untuk membuat ide tentang infiniti menjadi subjektif, untuk menyangkal objektivitasnya. Variabel-variabel dikatakan secara potensial kecil tak berhingga, di mana mereka lebih kecil dari bilangan tertentu, dan juga secara potensial besar tak berhingga, di mana mereka lebih besar dari bilangan tertentu. Dengan kata lain, “sebesar atau sekecil yang Anda mau!” Trik ini tidaklah menghilangkan kesulitannya, tapi hanya menyediakan daun pohon ara untuk menutupi kontradiksi logis yang terlibat dalam perhitungan kalkulus.

Ahli matematika besar Jerman, Karl Frederick Gauss (1777-1855), bersedia menerima matematika infinit, namun ia menyatakan kengeriannya pada ide tentang infiniti yang riil. Namun, rekan sezamannya Bernhard Bolzano, berangkat dari paradoks Galileo, telah memulai satu telaah serius tentang paradoks yang implisit dalam ide tentang “infiniti yang terselesaikan”. Karya ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Richard Dedekind (1813-1914) yang mencirikan bilangan infinit sebagai sesuatu yang positif, dan menunjukkan bahwa, pada kenyataannya, himpunan bilangan positif dapat dianggap sebagai negatif (yaitu, sebagai suatu himpunan yang bukan infinit). Akhirnya, George Cantor (1845-1918) berjalan jauh dari definisi himpunan tak berhingga dan mengembangkan satu aritmetika yang sama sekali baru yang disebut “bilangan transfinit”. Karya-karya Cantor, yang dimulai di tahun 1870, adalah sebuah ulasan tentang seluruh sejarah bilangan infinit, dimulai dari Democritus (460 SM - 370 SM). Dari sini, dikembangkanlah satu cabang yang sama sekali baru dalam matematika, yang didasarkan atas teori himpunan.

Cantor menunjukkan bahwa titik-titik dalam satu area, seberapapun besarnya, atau dalam sebuah volume atau sebuah kontinuum yang berdimensi lebih besar lagi, dapat selalu dipadankan dengan titik-titik dalam sepotong garis, tidak peduli berapa kecilnya garis itu. Sebagaimana halnya mustahil ada satu bilangan finit yang terakhir, demikian pula mustahil ada satu bilangan transfinit terakhir. Maka, setelah Cantor, tidak ada lagi argumen mengenai posisi sentral dari bilangan infinit dalam matematika. Lebih jauh lagi, karyanya mengungkapkan serangkaian paradoks yang telah menghantui matematika modern, dan yang masih harus dipecahkan.

Semua analisis ilmiah modern bersandar pada konsep kontinuitas, yakni bahwa di antara dua titik di dalam ruang terdapat titik-titik yang lain yang jumlahnya infinit, dan juga bahwa, antara dua titik dalam waktu terdapat momen-momen lain yang jumlahnya infinit. Tanpa membuat asumsi-asumsi ini, matematika modern tidak dapat berfungsi. Namun konsep yang kontradiktif macam ini pastilah akan ditolak dengan jijik, setidaknya dipandang dengan curiga, oleh generasi terdahulu. Hanya kejeniusan dialektik Hegel (yang juga seorang ahli matematika besar) yang sanggup mengantisipasi semua ini dalam analisisnya tentang yang berhingga dan yang tak berhingga, ruang, waktu dan gerak.

Namun, sekalipun bukti-bukti ini bertumpuk, banyak ahli matematika modern masih bersikeras menyangkal objektivitas ketakberhinggaan, walaupun mereka menerima kesahihannya sebagai sebuah fenomenamatematika“murni”. Pembagian semacam itu sama sekali tidak masuk akal. Karena kalau matematika tidak mencerminkan apa yang ada di dunia objektif, riil, apa lagi gunanya matematika itu? Ada satu kecenderungan tertentu dalam matematika modern (dan, melalui perluasan, menakjubkan, juga dalam fisika teoritik) untuk kembali bersandar pada idealisme dalam bentuknya yang paling mistis, menyatakan bahwa kesahihan satu persamaan adalah murni persoalan nilai estetik, tanpa rujukan apapun pada dunia material.

Fakta bahwa operasi matematika dapat diterapkan pada dunia nyata, dan mendapatkan hasil yang bermakna menunjukkan bahwa terdapat satu afinitas antara keduanya. Kalau tidak demikian, matematika tidak akan memiliki kegunaan praktis, padahal jelas matematika itu berguna. Alasan mengapa infiniti dapat digunakan, dan harus digunakan, dalam matematika modern adalah karena ia berhubungan dengan keberadaan infiniti dalam alam itu sendiri, yang telah menyeruak ke dalam matematika, seperti tamu tak diundang, sekalipun terdapat segala macam upaya untuk memalang pintu agar ia tak dapat masuk.

Alasan mengapa para ahli matematika membutuhkan waktu yang demikian lama untuk menerima ketakberhinggaan dijelaskan dengan sangat baik oleh Engels:

“Jelaslah bahwa sebuah infiniti yang memiliki sebuah akhir tanpa sebuah awal bukanlah infiniti seperti halnya infiniti dengan sebuah awal tapi tanpa akhir. Pemahaman yang sedikit-dikitnya tentang dialektika seharusnya sudah membuat Herr Dühring paham bahwa awal dan akhir adalah dua hal yang sama, seperti Kutub Utara dan Kutub Selatan, dan bahwa jika ujung akhir dihilangkan, yang awal akan menjadi yang akhir – satu-satunya akhir yang dimiliki oleh deret itu; dan sebaliknya. Seluruh penipuan ini akan nampak mustahil kecuali untuk penggunaan matematika ketika bekerja dengan deret angka infinit. Karena dalam matematika sangat perlu untuk mulai dari titik tertentu, yang finit, untuk sampai kepada infiniti, semua deret matematika, positif atau negatif, harus mulai dengan bilangan 1, atau deret itu tidak dapat digunakan untuk perhitungan. Tapi kebutuhan logis dari para ahli matematika ini sama sekali bukan hukum wajib bagi dunia nyata.”[10]

Krisis Matematika

Sejak kita duduk di bangku sekolah kita diajari untuk menghormati matematika, dengan “aksioma-aksioma” yang tidak perlu lagi dibuktikan kebenarannya dan deduksi-deduksi logisnya sebagai kuasa tertinggi dalam keakuratan ilmiah. Di tahun 1900, semua ini dianggap pasti, sekalipun dalam Kongres Internasional para ahli matematika yang diadakan tahun itu, David Hilbert mengajukan satu daftar yang berisi 23 masalah matematika yang paling penting, yang belum terselesaikan. Sejak saat itu, segala sesuatunya telah menjadi semakin rumit, sampai titik di mana dimungkinkan bagi kita untuk berbicara tentang sebuah krisis riil dalam matematika teoritik. Dalam bukunya yang banyak dibaca orang, Mathematics: The Loss of Certainty, yang diterbitkan di tahun 1980, Morris Klein menggambarkan situasinya sebagai berikut:

“Kreasi-kreasi dari awal abad ke-19, geometri-geometri yang aneh dan aljabar-aljabar yang aneh, telah memaksa para ahli matematika, walau mereka ogah-ogahan dan penuh gerutu, untuk menyadari bahwa matematika dan hukum-hukumnya bukanlah kebenaran. Mereka menemukan, contohnya, bahwa beberapa geometri yang berbeda dapat bersesuaian dengan pengalaman spasial dengan sama baiknya. Tidak mungkin semuanya adalah kebenaran. Kelihatannya disain matematika bukanlah sesuatu yang inheren di alam, atau jika memang demikian, matematika yang dibuat manusia tidak harus menjadi penjabaran dari disain itu. Kunci pada realitas telah hilang. Menyadari hal ini adalah bencana pertama yang menimpa matematika.

“Penciptaan geometri-geometri dan aljabar-aljabar baru ini menyebabkan para ahli matematika mengalami kejutan yang berbeda sifatnya. Keyakinan bahwa mereka menggenggam kebenaran telah merasuki diri mereka sedemikian rupa sehingga mereka dengan tergesa-gesa telah mengunci hal-hal yang nampak sebagai kebenaran ini sekalipun tidak memiliki penalaran yang cukup kokoh. Kesadaran bahwa matematika bukanlah wujud dari kebenaran mengguncang keyakinan mereka terhadap apa yang telah mereka hasilkan, dan mereka segera memeriksa kembali ciptaan-ciptaan mereka. Mereka kecewa setelah menemukan bahwa logika matematika ternyata berada dalam keadaan yang menyedihkan.”

Pada awal abad ke-20, mereka berangkat untuk mencoba menyelesaikan masalah-masalah yang belum terselesaikan, menyingkirkan kontradiksi-kontradiksi, dan mengembangkan sistem matematika baru yang tidak akan bisa keliru. Seperti yang dijelaskan Klein:

“Sampai tahun 1900 para ahli matematika percaya bahwa mereka telah mencapai tujuan mereka. Sekalipun mereka harus puas dengan matematika sebagai aproksimasi alam, dan banyak yang bahkan telah menanggalkan kepercayaan pada disain alam yang matematika, mereka masih juga menepuk dada atas rekonstruksi struktur logika matematika mereka. Tapi sebelum mereka selesai saling mengucapkan selamat atas keberhasilan mereka, kontradiksi-kontradiksi ditemukan pada matematika baru hasil rekonstruksi itu. Umumnya kontradiksi ini dinyatakan sebagai paradoks, satu eufemismeuntuk menghindari berhadapan dengan fakta bahwa kontradiksi ini telah mencemari logika matematika.

“Usaha untuk menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi itu dilakukan seketika itu juga oleh para ahli matematikadan para filsuf terkemuka pada masa itu. Empat pendekatan matematika yang berbeda dilahirkan, masing-masing mendapat banyak pengikut. Aliran-aliran mendasar ini semua berupaya tidak hanya untuk menyelesaikan kontradiksi yang dikenal tapi juga memastikan bahwa tidak ada kontradiksi baru yang akan muncul, yaitu, untuk menegakkan konsistensi dari matematika. Isu-isu lain muncul dalam upaya-upaya ini. Mazhab-mazhab ini, yang mengambil posisi yang berbeda-beda, memperdebatkan kesahihan dari beberapa aksioma dan beberapa prinsip logika deduktif.”

Upaya untuk menyingkirkan kontradiksi dari matematika hanya membawa kontradiksi-kontradiksi lain yang baru dan tak terpecahkan. Dunia matematika menerima pukulan terakhirnya di tahun 1930, ketika Kurt Gödel menerbitkan teoremanya yang terkenal, yang memprovokasi sebuah krisis, bahkan mempertanyakan metode dasar dari matematika klasik:

“Bahkan sampai 1930 seorang ahli matematika mungkin puas dengan menerima salah satu dari beberapa fondasi matematika dan menyatakan bahwa bukti-bukti matematikanya setidaknya bersesuaian dengan prinsip-prinsip dari aliran itu. Tapi bencana datang lagi dalam bentuk artikel ternama dari Kurt Gödel di mana ia membuktikan, di antara hasil-hasil lain yang penting dan mengguncangkan, bahwa prinsip logika yang diterima oleh beberapa aliran tidak dapat membuktikan konsistensi matematika. Ini, ditunjukkan oleh Gödel, tidak dapat dilakukan tanpa melibatkan prinsip logika yang demikian meragukan sehingga kita dapat mempertanyakan seluruh hasilnya. Teorema-teorema Gödel menyebabkan sebuah bencana. Perkembangan selanjutnya justru membawa komplikasi lebih jauh. Contohnya, bahkan metode aksiomatik-deduktif yang dihargai sangat tinggi di masa lalu sebagai satu-satunya pendekatan terhadap pengetahuan eksakta kini dilihat sebagai penuh cacat. Dampak dari perkembangan-perkembangan terbaru ini adalah menambah keberagaman pendekatan-pendekatan matematika dan memecah belah para ahli matematika ke dalam jumlah faksi yang lebih besar daripada sebelumnya.”[11]

Kebuntuan dari matematika telah menghasilkan sejumlah faksi dan mazhab yang berbeda, yang satu tidak mau menerima teori yang lain. Ada kaum Platonis (ya, betul, Platonis), yang menganggap matematika sebagai kebenaran mutlak (“Tuhan adalah seorang ahli matematika”). Ada kaum Konseptualis, yang konsepsinya tentang matematika sepenuhnya berbeda dari kaum Platonis, tapi sebenarnya ini hanya perbedaan antara idealisme subjektif dan idealisme objektif. Mereka melihat matematika sebagai serangkaian struktur, pola dan simetri yang telah diciptakan orang untuk kepentingan mereka sendiri – dengan kata lain, matematika tidak memiliki basis objektif, tapi murni hasil dari pikiran manusia! Teori ini nampaknya populer di Inggris.

Lalu kita memiliki aliran Formalis, yang dibentuk di awal abad ke-20, dengan tujuan spesifik untuk menyingkirkan kontradiksi dari matematika. David Hilbert, salah satu pendiri aliran ini, melihat matematika sebagai sekedar sebuah rekayasa simbol menurut aturan-aturan tertentu untuk menghasilkan sebuah sistem pernyataan tautologi, yang memiliki konsistensi internal, tapi tanpa makna sama sekali. Di sini matematika direduksi menjadi sebuah permainan intelektual, seperti catur – lagi-lagi sebuah pendekatan yang sepenuhnya subjektif. Aliran Intuisionisjuga sama gigihnya dalam keinginannya untuk memisahkan matematika dari realitas objektif. Sebuah rumus matematika, menurut orang-orang ini, tidak seharusnya menyatakan apapun yang hadir independen dari tindakan perhitungan itu sendiri. Ini telah dibandingkan dengan upaya Bohr untuk menggunakan penemuan-penemuan mekanika kuantum untuk memasukkan pandangan bahwa kuantitas fisik dan matematika adalah tercerai dari realitas objektifnya.

Semua aliran ini memiliki satu hal yang sama, yakni pendekatan yang sepenuhnya idealis terhadap matematika. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa para neo-Platonis adalah idealis objektif, yang berpikir bahwa matematika berasal dari pikiran Tuhan, dan yang lainnya – intuisionis, formalis dan konseptualis – percaya bahwa matematika adalah ciptaan subjektif dari pikiran manusia, yang sama sekali tidak memiliki signifikansi objektif. Inilah pemandangan menyedihkan yang disajikan oleh aliran-aliran utama matematika pada dasawarsa terakhir dari abad ke-20. Tapi ini bukan akhir dari kisah ini.

Chaos dan Kompleksitas

Di tahun-tahun terakhir, keterbatasan dari model-model matematika untuk mengekspresikan proses-proses alam yang riil telah menjadi subjek diskusi yang intensif. Persamaan diferensial, misalnya, mengekspresikan realitas sebagai sebuah kontinuum, di mana perubahan dalam ruang dan waktu terjadi secara mulus dan tanpa terputus. Tidak ada ruang di sini bagi patahan-patahan mendadak dan perubahan kualitatif. Namun di alam nyata justru ada patahan-patahan mendadak dan perubahan kualitatif. Penemuan kalkulus diferensial dan integral di abad ke-18 merupakan satu kemajuan besar. Tapi model matematika yang paling maju sekalipun hanyalah merupakan sebuah aproksimasi kasar terhadap realitas, yang hanya sahih dalam batas-batas tertentu. Perdebatan baru-baru ini tentang chaos dan anti-chaos telah berpusat pada wilayah-wilayah yang melibatkan patahan-patahan dalam kontinuitas, perubahan-perubahan“chaotic” yang mendadak yang tidak dapat digambarkan oleh rumus-rumus matematika klasik secara memadai.

Perbedaan antara keteraturan dan chaos berkaitan dengan hubungan yang linear dan yang non-linear. Hubungan yang linear adalah hubungan yang mudah digambarkan secara matematika: ia dapat dinyatakan dalam satu atau lain bentuk sebagai garis lurus dalam sebuah grafik. Matematikanya mungkin kompleks, tapi jawabannya dapat dihitung dan dapat diprediksi. Hubungan yang non-linear, adalah hubungan yang tidak dapat dengan mudah diselesaikan secara matematika. Tidak ada garis lurus yang dapat menggambarkannya. Hubungan non-linear dalam sejarahnya memang sulit atau bahkan mustahil diselesaikan dan mereka sering diabaikan begitu saja sebagai kesalahan eksperimental. Merujuk pada eksperimen yang terkenal dengan pendulum, James Gleick menulis bahwa keteraturan yang dilihat oleh Galileo hanyalah satu aproksimasi. Perubahan sudut dari pergerakan benda yang berayun menghasilkan satu non-linearitas kecil dalam persamaannya. Pada amplitudo kecil, kesalahan ini hampir-hampir tidak kelihatan. Tapi ia ada di sana. Untuk mendapatkan hasil yang mulus, Galileo harus mengabaikan non-linearitas yang ia ketahui terdiri dari gesekan dan resistensi udara.

Kebanyakan mekanika klasik dibangun seputar hubungan-hubungan linear yang diabstraksi dari kehidupan riil sebagai hukum-hukum ilmiah. Karena dunia riil diatur oleh hubungan-hubungan yang non-linear, hukum-hukum ini sering kali tidak lebih dari sekedar aproksimasi yang terus dikembangkan melalui penemuan hukum-hukum “baru”. Hukum-hukum ini adalah model-model matematika, konstruksi-konstruksi teoritik, yang satu-satunya pembenarannya terletak pada pemahaman yang mereka berikan dan kegunaan mereka dalam mengendalikan kekuatan-kekuatan alam. Dalam 20 tahun terakhir revolusi dalam teknologi komputer telah mengubah situasi dengan memungkinkan pengerjaan matematika non-linear. Karena alasan inilah kini telah dimungkinkan, di beberapa fakultas dan lembaga riset yang terpisah, bagi para ahli matematika dan ilmuwan lain untuk menghitung sistem “chaotic” yang tidak dapat dihitung di masa lalu.

Buku Gleick, Chaos, Making a New Science, menggambarkan bagaimana sistem yang chaotic dapat diperiksa oleh peneliti yang berbeda dengan menggunakan model matematika yang berbeda-beda, dan meskipun demikian semua telaah menunjuk pada kesimpulan yang sama: bahwa ada “keteraturan” di dalam apa yang semula dianggap sebagai “kekacauan” murni. Kisah ini dimulai dengan telaah atas pola cuaca, dalam sebuah simulasi komputer, oleh seorang ahli meteorologi Amerika, Edward Lorenz. Dengan menggunakan pertama-tama duabelas, selanjutnya hanya tiga variabel dalam hubungan yang non-linear, Lorenz sanggup menghasilkan dalam komputernya satu deret kondisi yang kontinu, yang terus-menerus berubah, tapi secara eksplisit tidak pernah mengulang kondisi yang sama dua kali. Dengan menggunakan matematika yang sederhana, ia telah menciptakan “chaos”.

Dimulai dengan parameter apapun yang dipilih Lorenz sendiri, komputernya akan secara mekanik mengulangi kalkulasi yang sama berulang kali, namun tidak akan pernah menghasilkan hasil yang sama. “Aperiodicity” ini (yaitu, ketiadaan siklus-siklus yang teratur) adalah ciri dari semua sistem chaos. Pada saat bersamaan, Lorenz mencatat bahwa sekalipun hasilnya selalu berbeda, setidaknya di situ ada satu “pola” yang seringkali muncul: kondisi yang mirip dengan apa yang diamati sebelumnya, sekalipun keduanya tidak pernah persis sama. Hal ini bersesuaian, tentu saja, dengan pengalaman setiap orang dengan cuaca yang riil, dan bukannya cuaca dari simulasi komputer: ada “pola”, tapi tidak ada dua hari atau dua minggu yang persis sama satu dengan lainnya.

Ilmuwan-ilmuwan lain juga telah menemukan “pola” dalam sistem-sistem yang nampaknya kacau atau chaos, dari telaah atas orbit galaksi sampai model matematika osilator elektronik. Dalam kasus-kasus ini dan lainnya, catat Gleick, terdapat “petunjuk akan adanya struktur di tengah apa yang kelihatannya merupakan perilaku yang acak.” Semakin jelas bahwa sistem chaos tidak harus merupakan sistem yang tidak stabil, atau dapat bertahan dalam waktu yang tidak berbatas. Apa yang dikenal sebagai “bintik merah” yang terlihat di permukaan Yupiter adalah satu contoh dari sistem yang chaos yang kontinu dan stabil. Lebih jauh lagi, bintik merah itu telah disimulasikan dalam telaah komputer dan model laboratorium. Maka, “sebuah sistem kompleks dapat melahirkan turbulensi dan kohesi pada saat yang bersamaan.” Sementara itu, ilmuwan-ilmuwan lainnya telah menggunakan model matematika yang berbeda untuk menelaah gejala yang sama kacaunya di dalam bidang biologi. Salah satu ilmuwan ini melakukan telaah matematika tentang perubahan populasi di bawah berbagai kondisi yang berbeda. Variabel-variabel standar yang dikenal baik oleh para ahli biologi digunakan dengan beberaparelasi yang dikomputasikan sebagai, seperti halnya di alam, non-linear. Non-linearitas ini dapat bersesuaian, misalnya, dengansebuah karakter unik dari spesies, yang dapat didefinisikan sebagai satu kecenderungan untuk berkembang biak, “kemampuan untuk bertahan hidup”.

Hasil dari penelitian ini dinyatakan dalam sebuah grafik, di mana axis horizontal menyatakan besar populasi dan axis vertikal menyatakan komponen-komponen non-linear. Ditemukan bahwa semakin non-linearitas dipentingkan -- dengan meningkatkan parameter tersebut -- maka nilai populasi akan bergerak melalui beberapa tahap yang berbeda. Di bawah satu tingkatan tertentu, populasi tidak dapat dipertahankan dan, di manapun titik awalnya, kepunahan adalah keniscayaan. Garis pada grafik ini datar saja pada level populasi nol.

Tahap berikutnya adalah tahap steady state (keadaan tetap), digambarkan secara grafis sebagai sebuah garis kurva yang naik. Ini setara dengan populasi yang stabil, pada satu tingkat yang tergantung pada kondisi-kondisi awalnya. Dalam tahap berikutnya terdapat dua populasi yang berbeda tapi tetap, dua keadaan tetap. Hal ini diperlihatkan sebagai percabangan dalam grafik, atau satu “bifurcation”. Ini setara dengan periode osilasi atau naik-turun dalam populasi, dalam siklus dua tahunan. Ketika tingkatan non-linearitas dinaikkan lagi, terdapat peningkatan tajam dalam bifurcation, pertama pada kondisi yang bersesuaian dengan empat keadaan tetap (berarti siklus reguler empat tahunan), dan dengan cepat jumlah cabang bertambah menjadi 8, 16, 32 dan seterusnya.

Maka, di dalam satu rentang nilai-nilai yang pendek dari parameter non-linear, berkembanglah satu situasi yang, untuk keperluan-keperluan praktis, dapat dianggap tidak memiliki keadaan tetap atau memiliki periodisitas yang dapat dikenali -- populasi ini telah menjadi “chaos”. Telah ditemukan juga bahwa jika non-linearitas ditingkatkan lebih jauh sepanjang tahap “chaos”, akan terjadi masa-masa di mana keadaan tetap nampaknya kembali, berdasarkan siklus 3 atau 7 tahun, tapi pada tiap kasus langsung menghilang lagi sejalan dengan peningkatan non-linearitas, menjadi percabangan lebih lanjut mewakili siklus 6, 12 dan 24 tahun pada kasus pertama, atau 14, 28 dan 56 tahun pada kasus kedua. Maka, dengan presisi matematika, dimungkinkan untuk membuat model atas sebuah perubahan dari stabilitas dengan sebuah keadaan tetap yang tunggal atau perilaku periodik yang reguler, ke satu keadaan yang acak atau aperiodik.

Ini mungkin adalah satu jawaban untuk perdebatan di dalam bidang ilmu populasi antara para teoretikus yang percaya bahwa variasi populasi yang acak adalah sebuah penyimpangan dari “norma-norma keadaan tetap” dan para teoretikus lain yang percaya bahwa keadaan tetap adalah penyimpangan dari “keadaan chaos”. Interpretasi yang berbeda ini mungkin lahir karena periset yang berbeda pada dasarnya telah “mengiris” satu bagian vertikal dari grafik itu, yang bersesuaian dengan hanya satu nilai non-linearitas tertentu. Maka, populasi dari sebuah spesies dapat menunjukkan norma keadaan tetap atau norma periodik yang naik turun, sementara spesies yang lain menunjukkan keragaman yang acak. Perkembangan dalam bidang biologi ini adalah indikasi lain, seperti yang dijelaskan oleh Gleick, bahwa “chaos adalah stabil, terstruktur.” Hasil-hasil yang serupa telah pula ditemukan dalam berbagai fenomena yang berbeda. “Chaos yang deterministik ditemukan dalam catatan-catatan tentang epidemi cacar yang terjadi di New York dan dalam fluktuasi yang terjadi selama 200 tahun dalam populasi lynx [kucing gunung] Kanada, seperti yang tercatat oleh para pemburu di Hudson's Bay Company.” Dalam setiap kasus proses chaos ini, telah ditunjukkan adanya satu “penggandaan periode” yang merupakan satu ciri dari model matematika ini.

Fraktal Mandelbrot

Salah satu pelopor lain dari teori chaos, Benoit Mandelbrot (1924-2010), seorang ahli matematika dari IBM, menggunakan teknik matematika yang lain lagi. Dalam kapasitasnya sebagai seorang periset IBM, ia mencari -- dan menemukan --“pola” dalam berbagai proses “acak” alamiah. Ia menemukan, misalnya, bahwa suara gemericik [“noise”] yang selalu terdengar dalam transmisi telepon mengikuti sebuah pola yang sepenuhnya tidak dapat diramalkan, atau chaos, tapi jelas dapat didefinisikan dengan baik secara matematika. Dengan menggunakan komputer di IBM, Mandelbrot sanggup menghasilkan sistem chaos secara grafik, bahkan dengan menggunakan formula-formula matematika yang paling sederhana. Gambar-gambar ini, yang dikenal sebagai “himpunan Mandelbrot”, menunjukkan satu kompleksitas yang tak berhingga, dan ketika gambar komputer ini diperbesar untuk mendapatkan detil yang lebih terperinci, keberagaman yang besar dan nampaknya tak berbatas itu terus ditemui.

Himpunan Mandelbrot telah dipaparkan sebagai objek atau model matematika yang mungkin paling kompleks yang pernah dilihat orang. Namun, di dalam arsitektur ini ada pola. Dengan terus-menerus “memperbesar” skala dan mencari detil yang semakin lama semakin halus (sesuatu yang dapat dilakukan tanpa batas oleh komputer karena seluruh struktur itu didasarkan pada satu himpunan formula matematika tertentu) dapat dilihat bahwa ada pengulangan teratur -- kemiripan-kemiripan -- pada skala yang berbeda-beda. “Tingkat iregularitas atau ketidakberaturan” sama pada skala yang berbeda-beda. Mandelbrot menggunakan istilah “fraktal” untuk menggambarkan pola yang terlihat di dalam ketidakberaturan itu. Ia sanggup membangun berbagai bentuk fraktal, dengan sedikit mengubah aturan matematikanya. Maka ia sanggup menghasilkan satu simulasi komputer garis pantai yang, pada tiap skala (yaitu, pada perbesaran berapapun), selalu menunjukkan tingkatan “ketidakberaturan” yang sama, atau “crinkliness”.

Mandelbrot membandingkan sistem-sistem fraktal yang dihasilkan komputernyadengan berbagai contoh geometri yang juga merupakan bentuk-bentuk fraktal, yang mengulang pola yang sama lagi dan lagi dalam berbagai skala. Misalnya Spons Menger, yang luas permukaan di dalamnya mendekati infinit, sementara volume padatnya mendekati nol. Di sini, kelihatannya tingkat ketakberaturan bersesuaian dengan “efisiensi” spons itu dalam mengisi ruang. Ini mungkin bukan hal yang terlalu aneh seperti kelihatannya karena, seperti yang ditunjukkan Mandelbrot, terdapat banyak contoh geometri fraktal di alam. Pencabangan pipa udara menjadi dua bronchioledan pengulangan percabangan itu sampai tingkat saluran udara yang sangat kecil di dalam paru-paru, mengikuti sebuah pola fraktal. Dengan cara yang sama dapat pula ditunjukkan bahwa pencabangan urat darah adalah fraktal. Dengan kata lain, ada satu “kemiripan-diri”, satu pola pencabangan geometrik berulang, pada skala apapun pengamatan itu dilakukan.

Contoh-contoh geometri fraktal di alam hampir-hampir tidak berbatas dan dalam bukunya, The Fractal Geometry, Mandelbrot berusaha menunjukkan hal itu. Telah ditemukan bahwa spektrum waktu detak jantung normal mengikuti hukum fraktal, mungkin disebabkan oleh pengaturan fraktal dari urat-urat syaraf dalam otot jantung. Hal yang sama terjadi pula pada kedipan mata cepat tanpa sadar yang menjadi salah satu ciri skizofrenia. Maka, matematika fraktal kini digunakan secara rutin dalam berbagai ragam bidang ilmiah, termasuk fisiologi dan berbagai disiplin yang sangat berbeda, seperti telaah tentang gempa bumi atau metalurgi.

Namun, indikasi-indikasi lain tentang basis chaos yang deterministik telah ditunjukkan dalam telaah-telaah tentang peralihan fase dan dengan penggunaan apa yang disebut oleh para pembuat model matematika sebagai “penarik” [“attractor”]. Ada banyak contoh dari peralihan fase ini, seperti perubahan dari aliran mulus “laminar”ke aliran yang turbulen, transisi dari padat ke cair ke gas, atau perubahan dari konduktivitas ke “superkonduktivitas”. Peralihan fase ini mungkin memiliki konsekuensi yang krusial dalam disain dan konstruksi teknologi. Sebuah pesawat, misalnya, akan kehilangan daya angkat jika aliran udara laminar pada sayap menjadi turbulen; sebagaimana pula tekanan yang dibutuhkan untuk memompa air akan tergantung apakah aliran air dalam pipa turbulen atau tidak.

Penggunaan diagram-diagram skala-fase dan attractor merupakan satu lagi instrumen matematika yang telah menemukan berbagai jenis penerapan dalam sistem yang nampaknya acak ini. Seperti dalam kasus telaah chaos yang lain, telah ditemukan pula berbagai bentuk pola umum, dalam hal ini “attractor aneh” dalam beragam program riset, termasuk osilasi listrik, dinamika fluida dan bahkan distribusi bintang-bintang dalam cluster-cluster globular. Semua jenis instrumen matematika ini -- penggandaan periode; geometri fraktal; attractor aneh -- dikembangkan dalam waktu yang berbeda-beda oleh ilmuwan-ilmuwan yang berbeda-beda pula untuk menyelidiki dinamika chaos. Tapi semua hasilnya menunjuk pada arah yang sama: bahwa ada satu keteraturan matematika yang mendasar dalam apa yang sampai saat ini selalu dianggap sebagai acak.

Seorang ahli matematika, Mitchell Feigenbaum, dengan menarik semua benang yang ada, telah mengembangkan apa yang disebutnya “teori universal” chaos. Seperti yang dikatakan Gleick, “ia percaya bahwa teorinya menyatakan sebuah hukum alam yang berlaku pada sistem yang berada persis pada keadaan di antara keteraturan dan turbulensi ... universalitasnya bukan hanya kualitatif, tetapi juga kuantitatif ... ia diperluas bukan hanya pada pola-polatetapi juga pada bilangan-bilangan eksak.”

Kaum Marxis akan melihat di sini satu kemiripan dengan hukum dialektika yang dikenal sebagai peralihan dari kuantitas menjadi kualitas. Ide ini menggambarkan peralihan antara satu periode perkembangan yang kurang lebih bertahap, ketika perubahan dapat diukur atau “dikuantifikasi”, dan periode berikutnya, di mana perubahan telah terjadi dengan begitu“revolusioner”, di mana ada “lompatan”, bahwa seluruh “kualitas” dari sistem yang ada telah diubah. Penggunaan istilah-istilah ini dengan makna yang serupa oleh Gleick adalah satu lagi indikasi bagaimana teori sains modern bergerak menuju dialektika materialis.

Poin sentral tentang sains baru ini adalah bahwa ia melihat dunia seperti bagaimana adanya: sebuah sistem dinamis yang terus-menerus bergerak. Matematika klasik yang linear adalah logika formal yang berurusan dengan kategori-kategori yang tetap dan tak berubah. Ia cukup baik sebagai sebuah pendekatan, tapi ia tidaklah mencerminkan realitas. Dialektika, di lain pihak, adalah logika tentang perubahan, tentang proses dan karenanya ia lebih maju daripada formalisme. Dengan cara yang sama, matematika chaos adalah satu langkah maju dari sains yang terdahulu, yang agak “tidak riil”, yang mengabaikan ketidakberaturan hidup yang tidak nyaman ini.

Kuantitas dan Kualitas

Ide tentang peralihan dari kuantitas ke kualitas dapat ditemui secara implisit di dalam matematika modern pada telaah tentang kontinuitas dan diskontinuitas. Telaah ini telah hadir sebagai cabang baru geometri, yakni topologi, yang diciptakan di tahun-tahun awal abad ke-20 oleh ahli matematika besar Prancis, Jules Henry Poincaré (1854-1912). Topologi adalah sebuah matematika tentang kontinuitas. Seperti yang dijelaskan Ian Stewart:

“Kontinuitas adalah telaah tentang perubahan yang mulus dan gradual, ilmu tentang hal yang tak terputus. Diskontinuitas adalah mendadak, dramatik; tempat-tempat di mana perubahan kecil pada kausal dapat menghasilkan perubahan yang teramat besar pada akibatnya.”[12]

Matematika yang ditemui di banyak buku teks standar memberikan satu kesan yang keliru tentang dunia ini, tentang bagaimana alam sebenarnya bekerja. “Intuisi matematikayang telah berkembang,” tulis Robert May, “tidak cukup kuat untuk membekali para pelajar untuk menghadapi perilaku aneh yang ditunjukkan oleh sistem non-linear yang paling sederhana sekalipun.”[13] Sementara geometri sekolah dasar mengajari kita untuk menganggap segi empat, lingkaran, segitiga dan jajaran genjang sebagai hal-hal yang sepenuhnya berbeda satu sama lain, dalam topologi (“geometri karet”), semua itu dianggap sebagai hal yang sama. Geometri tradisional mengajarkan bahwa lingkaran tidak dapat dibuat menjadi persegi empat, namun dalam topologi tidak demikian halnya. Garis batas yang kaku diruntuhkan: sebuah persegi empat dapat diubah (“dideformasi”) menjadi sebuah lingkaran. Sekalipun terdapat kemajuan-kemajuan spektakuler dalam sains di abad ke-20, sangatlah mengejutkan jika kita melihat bahwa sejumlah besar fenomena-fenomena yang nampaknya sederhana ternyata belumlah dapat dipahami secara tepat dan belum dapat dinyatakan dalam persamaan matematika, misalnya, cuaca, aliran fluida, turbulensi. Bentuk-bentuk geometri klasik tidaklah cukup untuk menyatakan permukaan yang sangat kompleks dan ireguler seperti yang ditemui di alam, seperti yang ditunjukkan oleh Gleick:

“Topologi menelaah properti-properti yang tetap sama ketika berbagai bentuk dideformasi dengan memuntir atau memelarkan atau memerasnya. Apakah bentuk itu bulat atau persegi, besar atau kecil, tidaklah relevan bagi topologi, karena pemelaran dapat mengubah properti-properti tersebut. Para ahli topologi mempermasalahkan apakah bentuk-bentuk itu saling berhubungan, apakah ia memiliki lubang, apakah ia memiliki simpul. Mereka membayangkan permukaan bukan dalam satu, dua, atau tiga dimensi seperti jagad Euclides, tapi dalam ruang banyak dimensi, yang mustahil divisualkan. Topologi adalah geometri di atas lembaran karet. Ia lebih berurusan dengan kualitas daripada kuantitas.”[14]

Persamaan-persamaan diferensial berurusan dengan tingkat perubahan posisi. Ini lebih sulit dan kompleks daripada apa yang nampak sekilas. Banyak persamaan diferensial tidak dapat dipecahkan sama sekali. Persamaan-persamaan ini dapat menggambarkan gerak, tapi hanya sebagai perubahan posisi yang mulus, dari satu titik ke titik yang lain, tanpa interupsi atau lompatan mendadak. Namun, di alam, perubahan tidak hanya terjadi dengan cara ini. Periode-periode perubahan yang lambat, bertahap dan tidak terputus, tiba-tiba disela oleh belokan-belokan yang tajam, patahan-patahan dalam kontinuitas, ledakan, bencana. Fakta ini dapat digambarkan oleh jutaan contoh dari alam organik maupun anorganik, sejarah masyarakat dan sejarah pemikiran manusia. Dalam persamaan diferensial, waktu dianggap terbagi dalam serangkaian “time-step” (langkah-waktu) yang sangat kecil. Ini memberikan sebuah pendekatan atas realitas, tapi pada kenyataannya tidak ada “langkah” semacam itu. Seperti yang dinyatakan Heraclitus, “segala sesuatu mengalir.”

Ketidakmampuan matematika tradisional untuk menangani persoalan kualitatifsebaik kemampuannya menangani yang kuantitatif merupakan keterbatasan yang sangat besar. Di dalam batas tertentu, kita dapat menggunakannya dengan cukup baik. Tapi ketika perubahan kuantitatif yang bertahap tiba-tiba runtuh, dan menjadi “chaos”, persamaan linear dari matematika klasik tidak lagi mencukupi. Inilah titik awal bagi matematika non-linear baru, yang dipelopori oleh Benoit Mandelbrot, Edward Lorenz dan Mitchell Feigenbaum. Tanpa mereka sadari, mereka tengah mengikuti jejak Hegel, yang garis pengukuran nodal-nya menyatakan ide yang sama persis, ide yang merupakan sumbu bagi dialektika.

Sikap baru terhadap matematika ini merupakan reaksi terhadap kebuntuan aliran-aliran matematika yang sekarang ada. Mandelbrot pernah menjadi anggota dari mazhab matematika Formalisme dari Prancis yang dikenal sebagai kelompok Bourbaki, yang menganjurkan pendekatan yang murni abstrak, berangkat dari prinsip-prinsip awal dan mendeduksi segalanya dari situ. Mereka benar-benar bangga akan fakta bahwa karya mereka tidak memiliki hubungan apapun dengan ilmu pengetahuan atau dunia nyata. Tapi jaman komputer memasukkan sebuah elemen yang sama sekali baru pada situasi ini. Ini satu lagi contoh bagaimana perkembangan teknik mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan. Sejumlah besar komputasi yang kini dapat dilakukan dengan hanya menekan sebuah tombol memungkinkan penemuan pola-pola dan keberaturan di tempat-tempat yang semula hanya menunjukkan gejala yang acak dan chaos.

Mandelbrot mulai dengan menyelidiki fenomena-fenomenaalam yang tak terjelaskan, seperti semburan interferensi yang tampaknya acak dalam transmisi gelombang radio, banjir di sungai Nil, dan krisis pasar saham. Ia menyadari bahwa matematika tradisional tidaklah memadai untuk menangani gejala-gejala semacam itu. Dalam penyelidikannya terhadap infiniti atau ketakberhinggaan di abad yang lalu, George Cantor menciptakan satu himpunan yang dinamai Himpunan Cantor. Himpunan ini melibatkan satu garis yang dibagi menjadi titik-titik yang jumlahnya tak berhingga (“debu” Cantor), yang total panjangnya adalah 0. Kontradiksi yang demikian mewujud ini merisaukan banyak ahli matematika abad ke-19, namun ia justru menjadi titik berangkat bagi teori baru Mandelbrot tentang matematika fraktal, yang memainkan peran kunci dalam teori chaos. Demikian papar Gleick:

“Diskontinuitas, semburan noise, debu Cantor –fenomena-fenomena seperti ini tidak mendapat tempat dalam geometri selama 2.000 tahun terakhir. Bentuk-bentuk geometri klasik adalah garis dan bidang, lingkaran dan bola, segitiga dan kerucut. Mereka merupakan abstraksi yang dahsyat atas realitas, dan mereka telah mengilhami filsafat keserasian Plato yang dahsyat itu. Euclid membuat bentuk-bentuk ini sebuah geometri yang bertahan selama dua milenia.Bagi banyak orang itulah satu-satunya geometri yang pernah mereka pelajari. Aristoteles menemukan sebuah keindahan ideal di dalamnya. Tapi untuk memahami kompleksitas, bentuk-bentuk ini ternyata adalah jenis abstraksi yang keliru.”[15]

Semua ilmu pengetahuan melibatkan satu tingkat abstraksi dari dunia realitas. Masalah dengan pengukuran klasik ala Euclid, yang menangani panjang, lebar dan tinggi, adalah bahwa ia gagal menangkap hakikat dari bentuk-bentuk tak beraturan yang ditemukan dalam dunia nyata. Ilmu matematika adalah ilmu tentang besaran. Abstraksi dari geometri Euclides mengabaikan semua hal kecuali sisi kuantitatifnya. Realitas direduksi menjadi bidang, garis dan titik. Namun, abstraksi matematika, sekalipun ada klaim-klaim sombong yang dibuat atas namanya, tetaplah merupakan sebuah pendekatan kasar terhadap dunia nyata, dengan bentuk-bentuknya yang tak beraturan dan perubahan-perubahannya baik yang konstan maupun yang mendadak. Mengutip penyair Romawi, Horace, “Anda boleh mengusir Alam dengan tombak, tapi ia akan berlari kembali menghampiri Anda.” James Gleick menggambarkan perbedaan antara matematika klasik dan teori chaos dengan cara demikian:

“Awan bukanlah berbentuk bola, Mandelbrot gemar sekali mengatakan itu. Gunung bukanlah kerucut. Petir tidak berjalan dalam garis lurus. Geometri baru ini mencerminkan satu jagad yang kasar, yang tidak mulus, yang penuh bercak, dan tidak halus. Ia adalah geometri dari yang berlubang, yang penuh bercak, dan patah-patah, yang terpuntir, yang terbelit, dan yang terjalin. Pemahaman tentang kompleksitas alam melahirkan satu kecurigaan bahwa kompleksitas itu bukan sekedar sesuatu yang acak, atau suatu kebetulan belaka. Ia menuntut satu kepercayaan bahwa ciri yang menarik dari jalur yang ditempuh oleh kilatan petir, misalnya, bukanlah terletak pada arahnya namun pada distribusi zig-zagnya. Karya Mandelbrot membuat sebuah klaim tentang dunia, dan klaim itu adalah bahwa bentuk-bentuk yang aneh itu semuanya memiliki makna. Lubang dan belitan adalah lebih dari sekedar cacat dari bentuk-bentuk klasik geometri Euclides. Seringkali mereka justru menjadi kunci untuk memahami hakikat dari sebuah benda.”[16]

Hal-hal ini dilihat sebagai penyimpangan yang mengerikan oleh para ahli matematika tradisional. Tapi bagi seorang yang berpikir dialektik, mereka justru menunjukkan bahwa kesatuan antara yang finit dan yang infinit, sebagaimana dalam keterbagian tak berhingga dari materi, dapat dinyatakan dalam persamaan matematika. Ketakberhinggaan ada di alam nyata. Jagad raya ini besar tak berhingga. Materi dapat dibagi menjadi partikel-partikel yang semakin lama semakin kecil tak berhingga. Maka, semua ocehan mengenai “awal alam semesta” dan pencarian atas “batu penyusun materi” dan “partikel pamungkas” didasarkan pada asumsi-asumsi yang sama sekali keliru. Keberadaan ketakberhinggaan (infiniti) dalam matematika hanyalah sekedar cerminan dari fakta ini. Pada saat yang bersamaan, adalah sebuah kontradiksi dialektik ketika jagad yang besar tak berhingga ini (infinit) terdiri dari benda-benda yang berhingga (finit). Maka, keberhinggaan dan ketakberhinggaan menyusun satu kesatuan dialektik dari hal-hal yang bertentangan. Yang satu tidak dapat hadir tanpa yang lain. Pertanyaannya kemudian adalah apakah jagad ini berhingga atau tak berhingga. Jagad ini keduanya: berhingga dan sekaligus tak berhingga, seperti yang telah dijelaskan Hegel sejak dahulu.

Kemajuan ilmu pengetahuan modern telah memungkinkan kita untuk menjelajah semakin dalam ke dalam dunia material. Pada tiap tahap, telah dilakukan upaya untuk “meniup peluit untuk berhenti”, untuk mendirikan satu batas, di mana dikatakan mustahil untuk keluar dari batas itu. Tapi, pada tiap tahap pula batasan itu dirubuhkan, terungkaplah fenomena-fenomena baru yang menakjubkan. Tiap mesin akselerator partikel yang lebih baru dan lebih kuat telah mengungkap partikel-partikel yang baru dan semakin kecil, yang hadir dalam waktu yang semakin lama skalanya semakin kecil juga. Tidak ada alasan untuk beranggapan bahwa situasinya akan berbeda dalam hubungannya dengan quark, yang pada saat ini dianggap sebagai partikel yang terakhir yang akan ditemukan manusia.

Begitu juga dengan upaya untuk menetapkan awal jagad raya dan awal “waktu”, yang akan terbukti sebagai memburu bayang-bayang. Tidak ada batasan bagi jagad material, dan semua upaya untuk menetapkan batasan baginya niscaya akan gagal. Hal yang paling menggairahkan tentang teori chaos adalah bahwa ia merupakan satu penolakan atas abstraksi yang mandul dan menara gading reduksionisme, dan merupakan satu upaya untuk kembali kepada alam dan dunia pengalaman sehari-hari. Dan jika matematika ingin mendapati dirinya sebagai cerminan dari alam, ia harus mulai menyingkirkan karakternya yang sepihak dan mengambil satu dimensi yang sama sekali baru, yang mengekspresikan segala yang dinamis dan kontradiktif, dengan kata lain, karakter dialektik dari dunia nyata.

 _______________

Catatan Kaki

[1] Aristotle, Metaphysics, hal. 120, 251 dan 253.

[2] T. Hobbes, Leviathan, hal. 14.

[3] A. Hooper, Makers of Mathematics, hal. 4-5.

[4] Bilangan transendental adalah bilangan yang bukan merupakan akar dari fungsi polynomial berkoefisien bilangan rasional. Contohnya adalahbilangan pi (3,14159 ...) atau bilangan euler atau e (2,71828 ...)

[5] Engels, Anti-Dühring, hal. 154.

[6] B. Hoffman, The Strange Story of the Quantum, hal. 95.

[7] A. Hooper, Makers of Mathematics, hal. 237.

[8] Engels, The Dialectics of Nature, hal. 341-2.

[9] Hegel, The Science of Logic, hal. 257.

[10] Engels, Anti-Dühring, hal. 63.

[11] Quoted in T. Ferris, op. cit., hal. 521-2 dan 522-3.

[12] I. Stewart, op. cit., hal. 63.

[13] Quoted in J. Gleick, op. cit., hal. 80.

[14] J. Gleick, op. cit., hal. 46.

[15] J. Gleick, op. cit., hal. 94.

[16] J. Gleick, op. cit., hal. 94.

Nalar yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern. Bab 15. Gen yang Egois?

Bab 15. Gen yang Egois?

Genetika

Baru pada akhir tahun 1930-an mekanisme evolusi Darwin – yakni seleksi alam –diterima secara luas. Pada masa ini, para ilmuwan terkemuka seperti Fisher, Haldane dan Wright menjadi para pendiri neo-Darwinisme, yang menggabungkan seleksi alam dengan genetika Mendel. Teori hereditas [pewarisan ciri-ciri induk] adalah esensial bagi hubungan antara teori evolusi dan teori sel. Di abad ke-19, ahli biologi Scheilden, Schwann dan Virchow menjelaskan bahwa sel adalah unit dasar dari makhluk hidup. Di tahun 1944, Oswald Avery mengidentifikasi DNA dalam inti sel sebagai bahan yang membangun basis hereditas. Penemuan struktur heliks ganda DNA oleh Crick dan Watson semakin memperjelas proses evolusi. Variasi-variasi Darwinian disebabkan oleh perubahan dalam DNA, yang muncul dari mutasi acak dan pengaturan ulang molekular internal, yang menjadi landasan bekerjanya seleksi alam.

Gregor Johann Mendel, seorang biarawan Austria, dan seorang botanis amatir, di tahun 1860-an membuat satu studi yang cermat tentang ciri-ciri yang diwariskan pada tanaman. Diakemudian menemukan fenomena pewarisan genetik. Mendel, seorang yang pemalu dan rendah hati, mengirimkan penemuannya pada seorang ahli biologi ternama yang, seperti dapat kita harapkan, menganggap penemuannya itu sebagai omong kosong. Karena sangat terpukul, Mendel menyembunyikan idenya dari dunia dan kembali ke tanaman-tanamannya. Karyanya yang revolusioner ini baru ditemukan kembali di tahun 1900-an ketika ilmu genetika dilahirkan. Perkembangan dalam teknik mikroskop memungkinkan untuk melihat ke dalam sel, yang membawa kita pada penemuan gen dan kromosom.

Genetika memungkinkan kita memahami perkembangan kehidupan yang berlangsung terus-menerus. Evolusi kehidupan berarti kemunculan molekul-molekul yang sanggup menyalin dirinya sendiri, yang dapat memindahkan ciri-ciri satu bentuk kehidupan ke generasi selanjutnya. Mekanisme ini adalah asam deoksiribonukleat (DNA). Molekul DNA yang sanggup menyalin diri sendiri ini tidaklah terkonsentrasi dalam satu bagian tubuh tertentu, melainkan terkandung dalam tiap sel hewan atau tumbuhan. Spesies yang berevolusi paling tinggi, produk evolusi selama 3 miliar tahun, adalah manusia. Pada saat dewasa, manusia tersusun dari sekitar satu triliun sel, tapi pada saat pembuahan ia hanya terdiri dari satu sel saja. Bagaimana ini dapat terjadi? Rahasianya ada pada DNA. Di dalam sel tunggal ini terdapat molekul DNA yang mengandung kode genetik untuk rekonstruksi seorang manusia. Informasi genetik yang terkandung dalam gen-gen ini disimpan dalam bentuk sandi kimiawi. Gen adalah sebuah bagian dari DNA yang memiliki informasi untuk membuat satu jenis protein tertentu.

Gen-gen yang terkandung dalam tiap sel adalah bagian dari organisme yang mengandung semua informasi yang diperlukan untuk menciptakan hewan atau tumbuhan tertentu. Kebanyakan gen membawa informasi yang mengarahkan sel untuk membuat protein. Beberapa gen memberitahu sel dalam embrio di mana mereka berada dan apakah mereka harus tumbuh menjadi tangan atau kaki. Urutan DNA yang tersimpan dalam gen-gen ini menentukan makhluk hidup macam apa yang akan tercipta. Informasi hereditas tersimpan dalam inti tiap sel dalam bentuk rantai gen-gen yang dinamai kromosom. Seperti sebuah buku teks yang hidup, dua set kromosom memuat semua gen yang dimiliki oleh satu individu, menentukan sifat dari struktur protein-protein yang melakukan sebagian besar kerja di dalam tubuh.

Baru di tahun 1950-an komposisi kimia dari gen ditemukan, yakni DNA. Di tahun 1953 Francis Crick dan James Watson membuat sebuah terobosan revolusioner dalam genetika dengan penemuan model heliks gandadari molekul-molekul asam nukleat. Penemuan ini membawa mereka berbagi Hadiah Nobel di tahun 1962. Ini memperjelas bagaimana kromosom disalin dalam pembelahan sel. DNA hadir dalam bentuk-bentuk kehidupan yang paling sederhana sekalipun: sebuah virus memiliki satu molekul DNA tunggal. Semua bentuk kehidupan yang kita kenal pada akhirnya tergantung pada DNA. Penemuan dan perkembangan genetika semakin mengungkap rahasia evolusi. Hukum-hukum evolusi yang ditemukan oleh Darwin telah diperkaya oleh pemahaman genetika, melalui karya Fisher, Haldane dan Wright, para pendiri neo-Darwinisme.

Gen adalah unit hereditas. Seluruh koleksi gen yang dimiliki oleh satu organisme disebut genom. Pada saat ini pada ilmuwan sedang berusaha mengenali semua gen-genyang dimiliki manusia, yang jumlahnya sekitar 100 ribu. Gen-gen itu sendiri mereproduksi diri dalam tiap generasi sel; protein dalam bentuk enzim-enzim khusus memainkan peran penting dalam proses ini. Melalui reproduksi-diri, gen dibentuk lagi dan lagi dalam tiap sel baru. Dengan demikian, gen-gen secara tidak langsung menghasilkan protein yang membangun dan memelihara semua sel. Dari sel-sel bakteri, sel-sel tumbuhan dan sel-sel hewan; sel-sel yang terspesialisasi untuk membentuk daun dan batang, otot dan tulang, hati dan ginjal, dan banyak lagi, termasuk otak. Tiap sel mengandung gen yang sama dengan yang ada pada sel yang pertama membentuk mereka. Tiap sel manusia mungkin mengandung informasi genetik yang dibutuhkan untuk membuat tiap jenis sel manusia, dan dengan demikian keseluruhan manusia, tapi dalam tiap sel hanya satu potongan informasi yang digunakan. Ini dapat disamakan dengan sebuah buku panduan, di mana hanya beberapa halaman tertentu, dan bahkan hanya beberapa baris atau kata yang dipilih untuk menyandikan protein tertentu yang diperlukan untuk menghasilkan berbagai jenis sel.

Efek dari reproduksi seksual adalah percampuran atau pengocokan gen. Sel-sel seksual (telur atau sperma) hanya mengandung 23 kromosom, tapi ketika bergabung membentuk jumlah normal 46 kromosom. Sel yang baru ini akan, seperti kata Dawkins, menjadi “satu mosaik dari gen-gen ibu dan ayah.” Ketika dua himpunan kromosom bersatu, jika dua gen memberi sinyal yang berbeda, salah satu akan berjaya dari yang lain. Gen untuk mata cokelat, misalnya, bersifat dominan terhadap gen untuk mata biru. Ini adalah apa yang dikenal sebagai gen resesif atau dominan. Kadang kala kompromi hibrida dihasilkan.

Melalui reproduksi kita mendapatkan variasi. Dari sudut pandang evolusi, ini adalah hal yang vital. Reproduksi aseksual dari organisme primitif menghasilkan salinan yang identik dengan sel induknya, di manamutasi sangat jarang terjadi. Di pihak lain, reproduksi seksual, dengan kombinasi-kombinasi gen baru dari dua sumber, meningkatkan kemungkinan variasi genetik dan mempercepat tingkat kecepatan evolusi itu sendiri. Setiap bentuk kehidupan membawa sandi informasi genetiknya di dalam DNA. Bukti-bukti kesamaan moyang kita terletak pada kemiripan struktur sel dari semua makhluk hidup. Mekanisme pewarisannya adalah sama, di mana DNA menentukan kalau tikus akan berbentuk seperti tikus, manusia seperti manusia, dan bakteri seperti bakteri. Beberapa organisme, seperti bakteri, hanya memiliki satu molekul DNA utama, sementara sel-sel kita sendiri, dan sel-sel dari organisme yang lebih tinggi mengandung sejumlah bundel DNA yang terpisah (kromosom).

Gen dan Lingkungan

Selama lebih dari 25 tahun terakhir, ideologi kembar reduksionisme dan determinisme biologis telah mendominasi segala cabang biologi. Metode reduksionisme berusaha menjelaskan properti-properti dari keseluruhan yang kompleks – misalnya, protein – melalui properti-properti atom-atomnya dan bahkan partikel-partikel fundamental yang menyusun atom-atom itu. Semakin dalam kita pergi, semakin baik pula pemahaman kita (klaimnya begitu). Lebih jauh lagi, mereka menyatakan bahwa unit-unit yang menyusun keseluruhan terjadi sebelum keseluruhan itu terjadi, bahwa satu rantai kausalitas yang berjalan dari bagian menuju keseluruhan, bahwa telur selalu datang lebih dahulu dari ayam.

Determinisme biologis berkaitan sangat erat dengan reduksionisme. Ia mengklaim, contohnya, bahwa perilaku manusia ditentukan oleh gen-gen yang dimiliki seseorang. Dan ini membawa mereka pada kesimpulan bahwa seluruh masyarakat manusia ditentukan oleh jumlah perilaku semua individu dalam masyarakat tersebut. Kontrol genetik ini sama dengan ide-ide lama yang dinyatakan dengan istilah “sifat alami manusia”. Lagi-lagi para ilmuwan boleh berpendapat bahwa ini bukanlah apa yang mereka maksud, tapi ide tentang determinisme dan tentang gen sebagai “entitas yang tetap dan tak berubah” bertebaran dalam pernyataan-pernyataan mereka dan digunakan dengan senyum puas oleh para politisi sayap kanan. Bagi mereka, ketidakadilan sosial adalah sesuatu yang patut disayangkan, tapi juga statis dan tak dapat diubah; oleh karenanya mustahil untuk memperbaiki keadaan sosial, karena dengan melakukan inimaka kita akan “melawan kehendak alam”. Ide ini telah dinyatakan oleh Richard Dawkins dalam The Selfish Gene yang digunakan sebagai buku teks di berbagai universitas Amerika.

Mekanisme evolusi dikondisikan oleh kesalingterhubungan dialektik antara gen dan lingkungannya. Sebelum Darwin, Lamarck telah mengajukan sebuah teori evolusi yang berbeda, yang menyatakan bahwa individu beradaptasi langsung terhadap lingkungannya dan meneruskan modifikasi ini pada keturunannya. Interpretasi mekanik ini telah dibuktikan keliru sepenuhnya, sekalipun ide bahwa lingkungan dapat mengubah hereditas secara langsung telah muncul kembali di Rusia, di bawah Stalin, dalam bentuk Lysenkoisme. Evolusi manusia memiliki sifat“alamiah” maupun “sejarah”. Bahan baku genetik memasuki hubungan dinamis dengan lingkungan sosial, ekonomi dan budaya. Mustahil memahami proses evolusi dengan mengambil salah satu saja tanpa menyertakan yang lain karena adanya interaksi terus-menerus antara unsur-unsur biologis dan “budaya”.

Telah dibuktikan secara meyakinkan bahwa kemampuan-kemampuan yang didapat dari proses belajar (yang diturunkan dari lingkungan) tidaklah dapat diteruskan secara biologis. Budaya diteruskan dari satu generasi ke generasi berikut hanya melalui pendidikan dan teladan. Inilah salah satu ciri yang menentukan, yang memisahkan masyarakat manusia dari kerajaan hewan, sekalipun elemen-elemen ini dapat pula diamati di antara kera-kera tingkat tinggi. Sangat mustahil bagi kita untuk menyangkal peran vital dari gen dalam perkembangan manusia, bahkan hal ini tidak bertentangan sedikit pun dengan materialisme. Namun, apakah dengan demikian “semuanya tergantung dari gen”? Mari kita kutip apa yang dikatakan oleh ahli genetika terkemuka Theodore Dobzhansky:

“Kebanyakan evolusionis kontemporer berpendapat bahwa adaptasi spesies pada lingkungan adalah agen utama yang menggerakkan dan mengarahkan evolusi biologis. ... Namun, kebudayaan adalah alat adaptasi yang jauh lebih efisien daripada proses biologis yang membawa pada kelahiran dan perkembangannya sendiri. Ia jauh lebih efisien di antara hal-hal lain karena ia sangat cepat – gen-gen yang berubah diteruskan hanya pada keturunan langsung dari individu di mana mereka pertama muncul; untuk menggantikan gen-gen lama, orang-orang yang membawa gen baru itu harus secara perlahan memiliki keturunan lebih banyak dan menggantikan seluruhnya generasi terdahulu. Kebudayaan yang berubah dapat diteruskan kepada siapa saja tanpa memandang keturunan biologis, atau dapat dipinjam dalam bentuk jadi dari orang lain.”[1]

Para ahli biologi membagi organisme menjadi dua bagian, susunan genetiknya, yang dikenal sebagai genotip, dan kualitas yang nampak di permukaan, fenotip. Adalah satu kesalahan yang umum jika kita menganggap bahwa di antara keduanya terdapat satu hubungan sebab-akibat yang sederhana. Genotip, katanya, datang sebelum fenotip, dan dengan demikian merupakan unsur yang menentukan dalam persamaan itu. Kita dilahirkan dengan satu himpunan gen tertentu, yang tidak dapat diubah, dan ini menentukan nasib kita, sama pastinya seperti posisi planet-planet dalam astrologi.Determinisme mekanis genetik macam ini adalah sama dengan teori-teori palsu Lysenko. Ini adalah Lamarckisme yang diputarbalik. Pada kenyataannya, genotip, atau gen yang ditemukan di dalam inti tiap sel kurang lebih tidak berubah– dengan memperhitungkan terjadinya mutasi sekali-kali. Fenotip, atau ciri-ciri morfologi, fisiologi dan perilaku total dari satu individu, tidaklah statis. Sebaliknya, ia berubah terus sepanjang hidup organisme itu melalui interaksi antara genotip dan lingkungannya, dan antara fenotip dengan lingkungannya. Dengan kata lain, ia adalah hasil interaksi dialektik antara organisme dengan lingkungan. Jika Albert Einstein dilahirkan di sebuah perkampungan kumuh New York, atau sebuah desa di India, tidak akan butuh banyak kepandaian untuk melihat bahwa potensi genetik yang dimilikinya akan tersia-siakan.

Studi genetika menyediakan jawaban yang meyakinkan bagi idealisme. Tidak ada satu organisme pun yang akan dapat mengada tanpa genotip. Dan tidak ada genotip yang dapat mengada tanpa adanya spaciotemporal continuum – atau lingkungan. Gen berinteraksi dengan lingkungan untuk melahirkan proses perkembangan manusia. Sesungguhnya, jika hereditas adalah sempurna, tidak akan pernah ada evolusi, karena hereditas adalah kekuatan yang konservatif. Pada hakikatnya hereditas adalah mekanisme untuk menyalin diri sendiri. Tapi ada sebuah kontradiksi yang inheren di dalam gen, di mana kadang kala dihasilkan sebuah salinan yang tidak sempurna – mutasi. Kecelakaan mutasi ini jumlahnya tak terhingga, kebanyakan bukan hanya tidak berguna, tapi benar-benar merugikan bagi organisme itu.

Satu mutasi tunggal tidak dapat mengubah satu spesies menjadi spesies lainnya. Informasi yang terkandung dalam gen tidaklah tinggal di sana dalam isolasi mutlak. Ia memasuki kontak dengan dunia fisik, di mana ia diuji, diolah, diartikulasi dan dimodifikasi. Jika satu varian tertentu terbukti menyediakan protein yang lebih baik dari varian lain dalam satu lingkungan tertentu, ia akan berkembang biak, sementara yang lain akan tersingkir. Pada titik tertentu, variasi-variasi kecil ini akan mencapai satu tahap kualitatif, dan sebuah spesies baru terbentuk. Inilah makna seleksi alam. Selama sekitar empat miliar tahun, gen-gen dari tiap benda hidup – tumbuhan dan hewan, termasuk manusia – telah terbentuk dengan cara ini. Ini bukanlah sebuah proses yang berjalan searah. Gagasan determinasi genetik, bahwa gen adalah penguasa, telah digambarkan oleh Francis Crick, salah satu penemu kode DNA, sebagai “dogma sentral” dari biologi molekuler. Dogma ini tidak lebih sahih daripada dogma Immaculata Conceptio (Dikandung Tanpa Noda)[2]. Dalam hubungan dialektik antara organisme dengan lingkungannya, informasi tentang fenotip mengalir balik ke dalam genotip. Gen kemudian “diseleksi” oleh lingkungan, yang menentukan mana yang akan bertahan, dan mana yang akan gugur.

Kode genetik memainkan peran vital dalam memberikan“kerangka” bagi manusia, sementara lingkungan bekerja untuk mengisi dan mengembangkan perilaku dan kepribadian. Keduanya bukan faktor yang saling terpisah, tapi bergabung secara dialektik untuk menghasilkan satu individu dan ciri-ciri unik mereka. Tidak ada dua orang yang identik satu sama lain. Namun, sekalipun tidak mungkin mengubah susunan hereditas dari seseorang, sangat mungkin untuk mengubah lingkungannya. Cara untuk memperbaiki potensi seseorang adalah dengan memperbaiki lingkungannya. Gagasan ini telah memprovokasi argumen yang panas selama bertahun-tahun: apakah mungkin mengatasi atau mengubah “kekurangan” genetik melalui perbaikan lingkungan? Salah satu ahli genetika awal yang ternama, Francis Galton, berusaha menunjukkan bahwa kejeniusan adalah faktor keturunan, dan mendukung kebijakan perkawinan selektif untuk memelihara stok orang-orang cerdas. Gagasan bahwa orang kulit putih kelas menengah ke atas memiliki gen yang superior dari kelas-kelas dan ras-ras lain menjangkiti masyarakat Victorian. Pandangan ini telah menjadi ideologi gerakan eugenik yang menganjurkan pemandulan paksa untuk mencegah berkembangbiaknya mereka-mereka yang secara biologis tidak baik. Data yang kurang ilmiah, yang menggunakan tes IQ (intelligence quotient), digunakan untuk mendukung determinisme biologis dan ketidakadilan sosial yang didasarkan pada ras, jenis kelamin atau kelas; ketidakadilan yang katanya tidak dapat diubah karena itu hanya cerminan dari kepemilikan atas gen-gen yang inferior.

“Kecerdasan” dan Gen

Sosiobiologis E. O. Wilson menyatakan pandangan kaum determinisme biologis sebagai berikut:

“Jika sebuah masyarakat terencana – yang penciptaannya niscaya terjadi di abad berikut – dapat dengan sengaja mengendalikan anggota-anggotanya keluar dari stres dan konflik yang memberi keuntungan Darwinian pada fenotip-fenotip yang merusak (agresi dan keegoisan), maka fenotip yang lain (kerja sama dan altruisme) boleh jadi hancur bersama mereka. Dalam hal ini, dalam makna genetik sepenuhnya, kontrol sosial justru akan merampok kemanusiaan dari tangan manusia.”[3]

Dengan kata lain, dengan menyingkirkan aspek-aspek yang buruk dari kemanusiaan, kita akan juga menyingkirkan aspek-aspek baiknya! Lagi-lagi, Wilson mencampuradukkan genotip dan fenotip dengan mengimplikasikan bahwa fenotip (bukannya genotip) adalah tetap dan tidak berubah. Tidak demikian. Genotip tidaklah “menyandikan” ciri-ciri yang ada pada fenotip dan tidak ada gen altruisme. Setiap makhluk hidup adalah hasil dari sebuah interaksi terus-menerus antar gen, lingkungan dan fenotip itu sendiri. Namun, kita harus juga menghindari jebakan lain bahwa organisme adalah makhluk tidak berdaya di “tangan” gen dan lingkungannya. Organisme juga memainkan peran aktif dalam proses itu. Semua makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungannya dengan cara yang dialektik.

“Anggapan bahwa sebuah sel seksual membawa satu partikel yang disebut ‘kecerdasan’ yang akan membuat pembawanya menjadi cerdas dan bijak tidak peduli apa yang terjadi padanya, sungguh, adalah anggapan yang menggelikan,” tegas Dobzhansky. “Tapi jelas bahwa orang-orang yang kita temui tidak sama kecerdasannya, kemampuan dan sikapnya, dan bukannya tidak beralasan untuk menganggap bahwa perbedaan-perbedaan ini sebagian disebabkan oleh sifat-sifat dasar yang dimiliki orang-orang ini dan sebagian lagi karena lingkungan mereka.”

Sekalipun genetika dengan jelas menunjukkan sifat materialis dan dialektik dari proses kehidupan, ia telah melahirkan kontroversi yang panas dan membuka pintu bagi idealisme dan paham-paham reaksioner. Pemahaman akan genetika yang sepihak niscaya akan berujung pada kesalahan dan kebingungan. Demikianlah, beberapa ahli genetika telah terjebak pada determinisme biologis atau determinisme genetik. Ini juga terjadi pada para sosiobiologis seperti E. O. Wilson dan Richard Dawkins. Berkomentar tentang hal ini, Steven Rose bertanya:

“Apakah teori evolusi menunjukkan bahwa beberapa aspek manusia – kapitalisme, nasionalisme, patriarki, xenophobia, agresi dan persaingan –‘tersalin’ di dalam 'gen egois' kita? Beberapa ahli biologi telah mengklaim bahwa mereka memiliki jawaban atas pertanyaan ini secara afirmatif, dan para teoretikus politik dari sayap kanan – dari kaum monetaris libertarian sampai neo-fasis telah menggunakan pernyataan-pernyataan mereka sebagai pembenaran 'ilmiah' atas filsafat politik mereka.”

Satu-satunya kesimpulan dari sini adalah bahwa kapitalisme dan segala keburukannya adalah “alamiah”, karena diturunkan dari fakta-fakta biologis. Teori ketidaksetaraan rasial dan seksual juga telah mencari basis dari interpretasi-interpretasi tertentu dari ilmu pengetahuan.

Perumpamaan-perumpamaanevolusi yang sederhana dan kasar ini, seperti “yang paling kuat yang menang” (survival of the fittest) dan “persaingan untuk hidup” (the struggle for existence),dipungut oleh Herbert Spencer dan dimasukkan ke dalam kosakata Darwinisme Sosial. Di dalam biologi ditemukanlah konfirmasi atas kapitalisme, ketidaksetaraan kelas dan imperialisme. Nampaknya para sosiobiologis semodel E. O. Wilson membuntuti Darwinisme Sosial dalam pandangan mereka tentang sifat manusia dan determinisme biologis. Marx dan Engels menjelaskan bahwa “manusia menentukan dirinya sendiri”. Sifat manusia, seperti kesadaran, adalah produk dari kondisi-kondisi sosial dan ekonomi yang dominan. Itulah mengapa sifat manusia terus berubah sepanjang sejarah, mengikuti perkembangan masyarakat itu sendiri. Bagi para sosiobiologis, ciri-ciri manusia tampaknya ditetapkan secara biologis melalui gen-gen kita, yang menyokong mitos bahwa “kita tidak akan dapat mengubah sifat manusia.”

Sesungguhnya, apa yang disebut “sifat manusia” telah berubah dan diubah lagi berkali-kali sepanjang sejarah manusia, seperti yang ditunjukkan oleh Dobzhansky:

“Darlington (1953) percaya bahwa 'kemampuan adaptasi individu sungguh merupakan ilusi besar dari pengamatan yang berdasarkan akal-sehat. Itu adalah ilusi yang bertanggung jawab atas beberapa kesalahan utama dari administrasi ekonomi dan politik hari ini. Individu dan populasi tidak dapat dipindahkan dari tempat atau pekerjaan yang satu ke yang lain setelah satu masa pelatihan yang cocok dengan kebutuhan segelintir perancang, sebagaimana petani di gunung tidak akan dapat diubah menjadi nelayan atau penjahat kambuhan diubah menjadi warga negara yang baik.'

“Sekalipun terdapat banyak kekurangan dan ketidakpastian dalam pengetahuan kita tentang genetika manusia, terdapat cukup banyak bukti yang berlawanan dengan pandangan Darlington, dan bukti-bukti ini sangat konklusif.

“Sejarah sangat kaya dengan bukti bahwa individu dan populasi dapat dengan berhasil berpindah dari tempat atau pekerjaan yang satu ke yang lain. Revolusi industri di banyak negeri di seluruh dunia telah menunjukkan bukti yang sangat kuat tentang hal ini. Moyang dari jutaan buruh yang sekarang ada tentulah para petani yang 'sejak jaman tak terkira' telah selalu membajak sawah. Pergerakan dari desa ke kota-kota industrial sekarangpun masih terus berlangsung, dan pada skala yang besar pula, di negeri-negeri 'berkembang'.”[4]

Tes IQ

Satu istilah yang sering disalahgunakan oleh para determinis genetik adalah hereditas, khususnya dalam bidang pengujian IQ. Psikolog Hans Eysenck di Inggris, Richard Herrstein dan Arthur Jensen di Amerika Serikat telah mempromosikan ide bahwa kecerdasan sebagian besar merupakan warisan. Mereka juga beranggapan bahwa rata-rata IQ dari kulit hitam secara genetik lebih rendah dari orang kulit putih, dan juga IQ orang -orang Irlandia secara genetik lebih rendah dari orang Inggris. Eysenck percaya bahwa orang kulit hitam dan Irlandia telah dibiakkan secara selektif untuk gen-gen “IQ rendah”. Sesungguhnya, tes IQ telah terbukti mengandung cacat inheren di dalamnya. Sebenarnya tidak ada unit pengukuran untuk “kecerdasan”, sebagaimana halnya untuk tinggi atau berat. IQ adalah sebuah konsep imajiner yang didasarkan pada asumsi-asumsi yang sembarangan.

Tes IQ dimulai pada awal abad ke-20 ketika Alfred Binet menciptakan satu tes sederhana untuk mengenali anak-anak yang memiliki kesulitan belajar. Bagi Binet ini adalah alat untuk mengenali kesulitan-kesulitan yang dapat diperbaiki melalui “ortopedi mental”. Pastinya ia tidak percaya bahwa tes ini dapat mengukur semacam kecerdasan yang “tetap”, dan bagi mereka yang berpikir semacam itu, balasan dari Binet tajam adanya: “Kita harus memprotes dan bereaksi melawan pesimisme brutal macam ini.”

Basis bagi tes Binet cukup sederhana: anak yang lebih tua seharusnya sanggup menjalankan tugas-tugas mental yang tidak dapat dijalankan anak yang lebih muda. Ia kemudian mengumpulkan tes-tes yang cocok untuk tiap kelompok usia; mereka yang dianggap lebih cerdas atau kurang cerdas dinilai berdasarkan hal ini. Di mana anak-anak mengalami kesulitan,makatindakan-tindakan perbaikan harus dilaksanakan. Namun sistem ini, di tangan orang lain, digunakan untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang berbeda. Dengan wafatnya Binet, para penganjur eugenik melihat peluang mereka untuk memperkuat pesan-pesan determinis mereka. Kecerdasan kemudian dilihat sebagai sesuatu yang ditetapkan melalui hereditas dan berhubungan dengan asal kelas sosial dan ras mereka. Ketika Lewis Terman memperkenalkan tes Stanford-Binet ke Amerika Serikat, ia memperjelas bahwa kecerdasan yang rendah“sangat jamak terdapat di tengah orang-orang keturunan Indian-Spanyol dan keluarga-keluarga Meksiko di Barat Daya, dan juga di kalangan orang negro. Kebodohan mereka nampaknya bersifat rasial, atau setidaknya inheren dalam keturunan keluarga mereka.... Anak-anak dari kelompok ini harus dipisahkan dalam kelas-kelas khusus.... Mereka tidak dapat menguasai abstraksi, tapi mereka sering kali dapat dididik menjadi buruh yang efisien.... Tidak ada kemungkinan saat ini untuk meyakinkan masyarakat bahwa mereka seharusnya tidak diperkenankan melakukan reproduksi, sekalipun dari sudut pandang eugenik mereka merupakan problem yang parah karena mereka berkembang biak dengan luar biasa cepat.”

Pandangan ini menjadi sikap sistem pendidikan di Amerika Serikat sehubungan dengan tes ini. Satu puntiran baru dimasukkan untuk memperluas cakupan ilmiahnya: standar baru ditetapkan untuk orang dewasa dan rasio antara usia dan usia-mental –“intelligence quotient” atau IQ.

Di Inggris, psikolog Inggris Sir Cyril Lodowic Burt adalah orang yang menerjemahkan dan membela tes Binet dengan jauh lebih obsesif daripada kawan-kawan Amerikanya. Ia mengklaim bahwa laki-laki lebih cerdas daripada perempuan berdasarkan studi yang katanya telah dilakukannya. Tuan terhormat ini katanya juga memiliki bukti ilmiah yang paling kuat bahwa orang-orang Kristen lebih cerdas daripada orang Yahudi, orang Inggris lebih cerdas daripada orang Irlandia, kelas atas Inggris lebih cerdas daripada kelas bawah Inggris, dan seterusnya. Tidak mengherankan bahwa Burt sendiri kebetulan adalah dari kelas atas, berkebangsaan Inggris, Kristen dan tentunya laki-laki! Dengan cara ini, para penindas membenarkan penindasan, orang-orang yang kaya dan berkuasa membenarkan privilese mereka, berdasarkan anggapan bahwa korban-korban mereka adalah “inferior”. Selama 65 tahun, sampai kematiannya di tahun 1971 Burt terus melanjutkan karyanya tentang eugenik dan tes IQ, setelah diberi gelar kebangsawanan untuk “jasanya” bagi umat manusia. Ia berperan dalam menetapkan sistem pendidikan “eleven plus” yang terkenal “harum” namanya itu, yang memisahkan antara sekolah “secondary modern” dengan grammar school.[5] Burt menjelaskan: “Kapasitas haruslah membatasi isi. Mustahil bagi satu botol berukuran satu pint (568 mL) untuk memuat susu lebih dari satu pint; demikian pula mustahil bagi seorang anak untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi daripada yang diizinkan oleh kapasitas yang dimilikinya.”

Dengan demikian tes Binet telah disimpangkan demikian jauh untuk memperkuat karakter kelas dari masyarakat. Ada orang yang dilahirkan untuk menjadi penggali batubara atau pengangkut air, dan yang lain dilahirkan untuk berkuasa atas masyarakat. Tes itu tidak lagi digunakan untuk memperbaiki, tapi justru untuk memisahkan. Bagaimanapun tes IQ itu dimodifikasi, semuanya memiliki akar yang sama: “kecerdasan” yang ditetapkan di muka sebagai ukuran untuk menilai semua orang. Akan tetapi, tes-tes ini sangatlah dipengaruhi oleh stereotip kebudayaan dan sosial, yang menentukan hasil dari tes tersebut. Pada akhirnya, apa itu kecerdasan? Bagaimana kita bisa menilai kecerdasan secara kuantitatif? Kecerdasan bukanlah seperti berat badan atau tinggi badan. Kecerdasan bukanlah sebuah hal yang tetap, seperti yang diklaim oleh Burt, tetapi elastik. Potensi otak manusia tidak ada batasnya. Tugas masyarakat adalah untuk memungkinkan manusia memenuhi potensi tersebut. Fakta-fakta lingkungan dapat menghambat atau mendorong potensi ini. Asuh seorang anak di kondisi sosial yang buruh, maka sang anak akan dalam posisi yang lebih tidak menguntungkan dibandingkan dengan mereka yang diasuh dengan seluruh kebutuhan mereka tersedia. Latar belakang sosial sangatlah penting. Jika kita mengubah lingkungan di sekitar kita, kita akan mengubah sang anak. Kendati klaim-klaim kaum determinis biologi, kecerdasan bukanlah sesuatu yang statis atau ditentukan secara genetik.

Obsesi untuk secara statistik memplot “kecerdasan” melalui kurva Gauss adalah satu upaya untuk memaksakan ketertundukan sosial. Mereka yang berada di luar norma dikatakan “abnormal” dan harus mendapatkan perlakuan khusus. Klaimnya adalah bahwa ini bersifat genetik dan menentukan kelas, ras dan hidup kita. Tapi, pada kenyataannya, sekalipun genotip kita tetap, fenotip kita terus berubah. Kehilangan satu tangan atau kaki tidak dapat dikembalikan lagi, setidaknya pada saat ini, tapi jelas tidak diwariskan. Penyakit Wilson[6] merupakan penyakit turunan, tapi bukannya tidak dapat diobati. “Bahkan,” kata Rose, Kamin dan Lewontin, “fenotip juga tidak berkembang secara linear dari genotip sejak kelahiran sampai kedewasaan. 'Kecerdasan' dari seorang bayi bukanlah sekedar satu persentase tertentu dari tingkat kecerdasannya pada masa dewasa, bukan seperti sebuah botol susu yang terus-menerus diisi.”

Upaya panik Burt untuk membangun basis genetika dari IQ telah membuatnya terpaksa secara sistematik memalsukan catatan dan datanya sendiri. Studinya yang terkenal tentang IQ dari dua orang kembar yang dipisahkan berujung pada pernyataannya yang luar biasa bahwa tidak ada korelasi sama sekali antara lingkungan dengan kecerdasan kedua kembar itu. Baginya, segala sesuatu ditentukan oleh gen dari kedua anak kembar itu. Ia adalah idola bagi semua kaum determinis genetik, dan karyanya memberi mereka amunisi untuk memajukan tujuan-tujuan mereka. Di tahun 1978, D. D. Dorfman, seorang psikolog Amerika, membuktikan secara meyakinkan bahwa Tuan yang terhormat dari Inggris itu telah memalsukan datanya. Setelah Tuan itu dibuktikan sebagai penipu, para pendukungnya terpaksa mengganti taktik, dengan mencela Burt karena kecerobohan ilmiahnya! Karya Burt tentang IQ adalah sejajar dengan penemuan Piltdown Man[7]. Bahkan pada saat itu – sekalipun setelah lima belas tahun penuh inkonsistensi – penelitian-penelitiannya tetap dipuji oleh para ilmuwan terkemuka sebagai bukti bahwa IQ ditentukan oleh faktor turunan. Sekalipun Burt telah disingkirkan kredibilitasnya, orang-orang konservatif terus memeluk erat filsafat reaksionernya sebagai batu penjuru dari cara pandang kelas mereka.

Studi yang lebih baru, yang melibatkan anak-anak kembar yang terpisah di Inggris, Amerika dan Denmark, tidak membuktikan faktor turunan dari IQ. Studi ini telah dijawab dengan meyakinkan oleh Rose, Kamin dan Lewontin. Kesimpulan mereka?

“Kami tidak tahu apa itu yang dimaksud dengan heritabilitas IQ. Data itu sama sekali tidak memungkinkan kami untuk menghitung sebuah estimasi yang cukup baik tentang variasi genetik untuk IQ dalam populasi apapun. Sejauh yang kami tahu, heritabilitas IQ mungkin nol atau mungkin juga 50%. Kenyataannya, sekalipun banyak sekali penelitian yang dicurahkan untuk menelaahnya, persoalan apakah IQ diwariskan atau tidak sama sekali tidak ada hubungannya dengan persolan yang sedang dibahas. Signifikansi besar yang dilekatkan oleh para determinis pada heritabilitas adalah konsekuensi dari kepercayaan mereka yang keliru bahwa heritabilitas berarti keadaan yang tidak akan pernah dapat diubah.

“Gen tidak menentukan IQ atau sifat-sifat lain dari sebuah organisme. Tidak ada korespondensi satu-satu antara gen yang diwarisi dari induk dengan tinggi, berat, tingkat metabolisme, kerawanan terhadap penyakit, kesehatan atau karakter-karakter organik penting lainnya ... tiap organisme adalah hasil yang unik dari interaksi antara gen dan lingkungan pada tiap tahap kehidupannya.”[8]

Eugenik

Eugenik adalah sebuah kata yang diciptakan di tahun 1883 oleh Francis Galton, yang merupakan sepupu Darwin. Keinginan untuk “memperbaiki” stok gen manusia sering kali terkait dengan teori-teori pseudo-ilmiah yang diajukan oleh mereka yang ingin menunjukkan “keunggulan” dari satu kelompok tertentu – ras, bangsa, kelas sosial, atau jenis kelamin, dalam hal darah atau “keturunan yang baik”. Omong kosong reaksioner semacam itu biasanya dibungkus dengan atmosfer“ilmiah” untuk memberi kesan keilmiahan pada prasangka-prasangka yang paling irasional dan menjijikkan. Di Amerika, “negeri orang-orang bebas” itu, gerakan eugenik mencatat kemenangan dalam pengesahan berbagai undang-undang pemandulan paksa bagi mereka yang “inferior secara biologis”. Negara bagian Indiana meloloskan Undang-undang Pemandulan di tahun 1907. Praktek ini dapat dijalankan atas mereka yang dianggap gila, imbesil atau idiot, sebagaimana saran dari dewan ahli. Tujuh puluh tahun lalu John Scopes[9] mengajar biologi dengan menggunakan sebuah buku berjudul A Civic Biology, karangan G. W. Hunter, yang mengandung satu kasus terkenal tentang keluarga Juke dan Kallikak[10]. Di bawah judul Paratisitism and Its Cost to Society – the Remedy (Parasitisme dan Kerugiannya terhadap Masyarakat – Pengobatannya), buku itu mengatakan:

“Ratusan keluarga seperti yang digambarkan di atas masih ada sampai hari ini, menyebarkan penyakit, imoralitas dan kejahatan ke segala penjuru negeri ini. Kerugian yang disebabkan oleh keluarga macam ini bagi masyarakat sangatlah besar. Sama seperti beberapa hewan atau tumbuhan menjadi parasit atas tumbuhan atau hewan lainnya, keluarga-keluarga semacam ini menjadi parasit atas masyarakat. Mereka bukan hanya berbuat jahat pada orang lain melalui korupsi, pencurian atau penyebaran penyakit, tapi mereka benar-benar dilindungi dan dijaga oleh negara dengan menggunakan dana publik. Panti-panti dan rumah-rumah penampungan orang miskin sebagian besar didirikan untuk mereka. Mereka sungguh parasit sejati.

“Jika orang-orang semacam ini adalah hewan tingkat rendah, kita mungkin akan dapat membunuh mereka untuk mencegah penyebarannya. Kemanusiaan tidak akan memperbolehkan ini, tapi kita sesungguhnya memiliki obat untuk menyembuhkan penyakit ini, dengan memisahkan kedua jenis kelamin di panti-panti atau institusi-institusi serupa lainnya, dan dengan berbagai cara mencegah mereka kawin dengan orang lain dan mencegah mereka menyebarkan ras yang demikian rendah dan bodoh itu.”

Sampai tahun 1930-an, lebih dari 30 negara bagian di Amerika telah mencanangkan Undang-Undang Pemandulan, memperluas cakupannya ke para alkoholik dan pecandu obat, dan bahkan orang buta dan tuli. Kampanye itu mencapai puncaknya di tahun 1927, ketika Mahkamah Agung, dengan suara 8 lawan 1, membenarkan hukum pemandulan di Virginia dalam kasus Buck vs Bell. Kasus ini melibatkan seorang gadis kulit putih berusia 19 tahun bernama Carrie Buck, yang dipaksa masuk ke dalam State Colony for Epileptics and Feeble-Minded (Koloni untuk Pengidap Epilepsi dan Cacat Mental), dan merupakan orang pertama yang dimandulkan di bawah UU tersebut. Dia dipilih, menurut Harry Laughlin, pengawas Kantor Catatan Eugenik (yang ingin menyingkirkan “sepersepuluh bagian yang paling tidak berharga dari populasi kita”) karena dia, anak perempuannya dan ibunya secara genetik adalah di bawah normal. Informasi ini didapatkan dari tes IQ Stanford-Binet – yang kemudian terbukti keliru. Hakim dalam kasus ini, O. W. Holmes menyatakan “Tiga generasi imbesil sudah cukup.” Saudara perempuan Carrie, Doris, juga diam-diam dimandulkan di bawah UU yang sama. Putri Carrie, Vivian, meninggal di tahun 1932 karena sakit. Para gurunya menggambarkannya sebagai “murid yang sangat cerdas.”

Di bulan Januari 1935, sekitar 20.000 pemandulan paksa untuk tujuan eugenik dijalankan di Amerika Serikat. Laughlin ingin agar jaring itu juga menangkap “para gelandangan, pengangguran dan orang miskin” dan gagasan ini diadopsi dengan sangat bersemangat di Jerman, di bawah Nazi, di mana Erbgesundheitsrechts [harfiah: UU tentang kesehatan keturunan, yaitu, eugenik] memandulkan 375.000 orang, termasuk 4.000 karena buta atau tuli. Di Amerika Serikat, pada akhirnya, 30.000 orang dipaksa menjalani pemandulan. Walaupun eugenik klasik telah dibuktikan keliru, versi barunya, seperti pembedahan psikologis, muncul pula. Yang satu ini memproklamirkan ide bahwa pembedahan otak dapat menyingkirkan masalah sosial, terutama kekerasan. Dua ahli bedah psikologis Amerika, Vernon Mark dan Frank Ervin, bahkan berpendapat bahwa kerusuhan di kota-kota Amerika Serikat disebabkan oleh masalah mental (deranged amygdalas) dan dapat disembuhkan dengan pembedahan otak para pemimpin daerah kumuh. Riset untuk area biologi ini dilakukan dan dibiayaibadan-badan penegak hukum Amerika Serikat.

Dalam mencari calon-calon untuk dibedah otaknya, sebuah surat dari tahun 1971 antara Direktur Penjara, Badan Humas di Sacramento, dan Direktur Rumah Sakit dan Klinik, Pusat Medik Universitas California, menunjukkan mentalitas dari sebagian komunitas “ilmiah”. Direktur Penjara itu minta diberikan narapidana yang cocok “yang telah menunjukkan sikap agresif dan destruktif, yang mungkin disebabkan oleh penyakit syaraf yang parah” untuk dikenai “prosedur pembedahan dan diagnostik... untuk menemukan pusat di otak yang mungkin telah rusak dan yang mungkin dapat menjadi fokus bagi berbagai episode perilaku penuh kekerasan,” untuk diangkat melalui pembedahan.

Jawabannya menyarankan seorang kandidat yang “dipindahkan... karena menunjukkan militansi yang semakin tinggi, kemampuan memimpin dan kebencian terhadap orang kulit putih... ia adalah salah satu pemimpin pemogokan di bulan April 1971.... Juga pada waktu yang kira-kira bersamaan, muncul banyak bahan bacaan yang revolusioner.”Ideologi-ideologi reaksioner inilah yang menjadi latar belakang teoritik dari reaksi-reaksi politik. Di tahun 1980, Dr. K. Nelson, yang waktu itu menjabat direktur Rumah Sakit Lynchburg di mana Carrie Buck dimandulkan, menemukan bahwa lebih dari 4.000 operasi telah dilaksanakan, yang terakhir pada tahun 1972. Tes IQ yang digunakan dalam kasus Buck telah lama terbukti keliru. Ide-ide pemandulan paksa yang reaksioner ini tidak hanya terdapat di masa-masa “Abad Pertengahan yang Gelap”, tapi masih terus hidup sampai sekarang, yang terus disokong oleh teori-teori pseudo-ilmiah, khususnya di Amerika. Sampai sekarang UU Pemandulan masih tercantum dalam Kitab UU di 22 negara bagian Amerika Serikat.

Kejahatan dan Genetika

Sejak awal 1970-an, proporsi warga negara Amerika yang menghuni penjara telah meningkat lebih dari tiga kali lipat. Di Inggris, mereka yang tinggal di balik jeruji jumlahnya mencapai rekor tertinggi sepanjang segala abad. Penjara-penjara demikian penuh sesak sehingga banyak narapidana kini ditempatkan di kantor-kantor polisi. “Inggris di tahun 1991 memiliki tingkat proporsi populasi penghuni penjara yang lebih tinggi daripada setiap negara yang tergabung dalam Dewan Eropa, kecuali Hungaria,” lapor Financial Times (10 Maret 1994). Sekalipun demikian, tingkat kekerasan masih tetap tinggi di kedua negeri ini. Krisis ini telah menyebabkan berkembangnya ide-ide reaksioner yang berusaha menghubungkan perilaku kriminal dengan faktor-faktor biologis. “Untuk setiap pengurangan tingkat kejahatan sebesar 1%, kita menghemat anggaran negeri ini sebesar $1,2 miliar,” ujar psikolog Amerika Adrian Raine. Berhubungan dengan ini, US Institute of Health telah meningkatkan anggaran untuk penelitian yang berhubungan dengan kekerasan sebesar $58 juta. Dan di bulan Desember 1994 National Science Foundation memulai promosi proposal untuk pembentukan sebuah konsorsium riset lima tahun berbiaya $12 juta. “Dengan kemajuan yang dapat diharapkan, kita akan sanggup mendiagnosa banyak orang yang otaknya secara biologis terdorong untuk melakukan kekerasan,” demikian klaim Stuart Yudofsky, ketua jurusan psikologi di Baylor College of Medicine dalam majalah Scientific American edisi Maret 1995.

Kini telah menjadi mode di lingkaran-lingkaran tertentu untuk melekatkan segala hal pada kecacatan genetik atau biologis, bukannya mengakui bahwa masalah sosial muncul dari kondisi sosial. Aliran determinisme genetik telah menarik segala jenis kesimpulan yang reaksioner, mereduksi segala masalah sosial ke tingkat genetika. Belum lama lalu, sebuah riset katanya mengungkapkan bahwa banyak penjahat bengisyang memiliki kelebihan kromosom Y. Namunstudi-studi yang lebih baru menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang relevan antara kromosom Y dan kriminalitas. Kini bukti akan adanya kekurangan aktivitas di korteks frontal pada otak para pembunuh tengah menarik perhatian sebagai hubungan antara biologi dan kekerasan. Ada proposal untuk memulai Inisiatif Federal untuk Penanganan Kejahatan agar mengidentifikasi setidaknya 100.000 anak dari daerah pemukiman orang miskin“yang diperkirakan memiliki cacat genetik dan biokimia yang akan membuat mereka cenderung melakukan kekerasan di masa mendatang.”

Bahaya dari riset-riset palsu yang berusaha menghubungkan genetika dengan ras atau perilaku kriminal atau anti-sosial selalu ada. Kesimpulan-kesimpulan yang keliru dapat ditarik dari statistik bahwa di Amerika Serikat, di mana 12,4% populasi adalah kulit hitam, dan mereka mencakup 44,8% dari total penangkapan berkenaan kasus kekerasan. Dalam artikel yang sama di Scientific American, kita dapat membaca: “Ada alasan untuk risau bahwa apa yang nampak sebagai telaah biologis objektif ini, yang mengabaikan faktor perbedaan budaya dan sosial, dapat secara kelirumemperkuat stereotip-stereotip rasial.” Karena adanya ancaman ini, telah terjadi boikot-boikot terhadap pengambilan contoh darah dan urine dari ras-ras minoritas. Jadi, menurut Raine, “semua telaah biologis dan genetik yang dilakukan sampai saat ini hanya dilakukan atas orang kulit putih.”

Raine melanjutkan: “Bayangkan bahwa Anda adalah ayah dari seorang anak berusia delapan tahun. Dilema etiknya adalah seperti ini: saya dapat menyatakan pada Anda, 'Kami telah melakukan berbagai macam pengukuran, dan kami dapat meramalkan dengan keakuratan 80% bahwa anak Anda akan melakukan tindak kekerasan yang parah dalam waktu 20 tahun. Kami dapat menawarkan kepada Anda serangkaian program intervensi biologis, sosial dan kognitif yang akan sangat mengurangi kemungkinan ia menjadi seorang penjahat kejam.'

“Apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan menempatkan putra Anda di dalam program itu dan menjalani risiko memberinya stigma sebagai seorang penjahat kejam sekalipun terdapat kemungkinan riil bahwa ia tidak bersalah? Atau Anda akan mengatakan tidak pada program tersebut dan mengambil risiko kemungkinan 80% bahwa anak Anda akan; tumbuh besar untuk (a) merusak hidupnya, (b) merusak hidup Anda, (c) merusak hidup saudara-saudaranya, dan, yang paling penting (d) merusak hidup orang-orang tidak bersalah yang menjadi korbannya?”

Pertama-tama, sama sekali tidak mungkin meramalkan perilaku kriminal seorang anak di masa depan – apalagi dengan akurasi 80%. Dan kedua, ini menimpakan kesalahan tindakan kriminalitas di pundak individu. Argumen yang reaksioner ini gagal melihat bahwa kejahatan, kekerasan, dan masalah-masalah sosial lainnya adalah produk dari masyarakat yang kita diami. Ini adalah masyarakat yang didasarkan pada penghisapan atas manusia dan maksimalisasi keuntungan yang menghasilkan pengangguran massal, gelandangan, kemiskinan, dan kehidupan yang memalukan. Kondisi sosial ini, pada gilirannya, menghasilkan kejahatan, kekerasan dan brutalitas. Ini tidak ada hubungannya dengan gen atau biologi, dan tetapi ada hubungannya dengan barbarisme dari masyarakat kapitalistik.

Para determinis biologi digunakan untuk menyokong ide-ide sosial kaum reaksioner. Bukannya masyarakat yang harus dipersalahkan untuk adanya kejahatan, kemiskinan, pengangguran, dsb., tapi individu, melalui gen atau kondisi biologis mereka yang cacat. Dengan demikian, jawabannya adalah bedah otak atau genetik. Ilmuwan determinis biologi lainnya berusaha mencari tingkat testosteron yang abnormal, atau detak jantung yang lebih lambat sebagai penjelasan atas kekerasan yang dilakukan manusia. Beberapa ilmuwan telah menunjuk pada rendahnya tingkat serotonin, sebuah zat kimia dalam tubuh yang mempengaruhi, di antaranya, kerja otak. Maka, C. R. Jeffry menulis dalam Journal of Criminal Justice Reeducation: “Dengan meningkatkan tingkat serotonin dalam otak, kita akan dapat menurunkan tingkat kekerasan.” Maka, peningkat serotonin, seperti obat antidepresi Prozac disuntikkan pada pasien untuk mengobati agresi mereka. Kekeliruan dari pandangan ini dijelaskan oleh fakta bahwa zat kimia ini dapat naik atau turun di berbagai tempat yang berbeda di dalam otak dan pada waktu yang berbeda-beda pula, dengan efek yang berbeda-beda. Lingkungan dapat juga mempengaruhi tingkat serotonin ini. Namun, “fakta” ini tidak boleh mengganggu orang-orang ini untuk membuat klaim yang luar biasa konyol dalam upaya menegakkan pandangan mereka yang reaksioner itu.

Jeffrey menganjurkan bahwa “Ilmu pengetahuan harus memberitahu kita individu yang mana yang akan menjadi kriminal dan mana yang tidak, individu mana yang akan menjadi korban dan mana yang tidak, dan strategi penegakan hukum macam apa yang akan atau tidak akan berhasil.” Yudofsky memperkuat antusiasme Jeffry dengan pernyataannya: “Kita kini berada di ambang revolusi pengobatan genetik. Masa depan kita adalah untuk memahami genetika yang mengatur penyakit agresif dan mengenali mereka yang memiliki kecenderungan lebih besar untuk melakukan kekerasan.” Ia percaya bahwa anak yang hiperaktif harus diperiksa dan, jika perlu, diberi obat beta-blocker, anti-epileptik atau lithium. Yudofsky mengatakan bahwa obat-obatan ini “murah” dan merupakan “kesempatan luar biasa untuk industri farmasi.” Tidak sulit untuk mengetahui siapa yang dia layani.

“Ada wilayah di mana kita dapat mulai menggunakan pendekatan biologis,” ujar Fishbein. “Kaum remaja nakal harus dinilai secara individual.” Ia melanjutkannya dengan menganjurkan pengobatan paksa bagi kriminal, tapi bila ini juga belum berhasil, “mereka harus dipenjara selamanya.” Masters percaya bahwa “kita kini tahu cukup banyak tentang sistem serotonergik sehingga jika kita melihat seorang anak tidak terlalu berhasil di sekolah, kita harus meneliti tingkat serotonin di otaknya.”

Rasisme dan Genetika

Pada tahun 1900, Albert Beveridge, seorang anggotaSenat Amerika Serikat dari Indiana, mengatakan pada salah satu sesi parlemen bahwa“Tuhan tidak menyiapkan orang-orang berbahasa Inggris dan orang-orang Teutonic[11] selama seribu tahun hanya supaya kita dapat mengagumi diri kita sendiri.... Ia telah membuat kita sanggup membentuk pemerintahan supaya kita boleh mendirikan pemerintahan itu di kalangan orang-orang barbar dan terkebelakang.”[12]

  1. Shockley, salah satu penemu transistor, berpendapat bahwa karena orang kulit hitam secara praktis kurang cerdas daripada kulit putih, mereka tidak seharusnya diberi kesempatan yang setara, sebuah pandangan yang juga dimiliki oleh psikolog terkenal Hans J. Eysenck. Sifat alami manusia dilihat sebagai sumber dan penjelasan dari segala penyakit sosial, dengan caramenarik paralel-paralel yang cacat antara kehidupan manusia dan kehidupan hewan-hewan lain. Klaim yang lebih luas dari sosiobiologi adalah bahwa rasisme dan nasionalisme adalah kepanjangan alamiah dari tribalisme [paham kesukuan] yang, pada gilirannya, adalah produk dari “seleksi kekerabatan”. “Nasionalisme dan rasisme,” papar E. O. Wilson, “datang dari tribalisme sederhana yang dipupuk secara budaya.” Ide ini telah pula diajukan oleh Richard Dawkins: “Dengan demikian, prasangka rasis dapat diterjemahkan sebagai generalisasi irasional dari kecenderungan seleksi-kekerabatan untuk merasa dekat dengan individu-individu yang secara fisik mirip dengan kita sendiri dan bersikap tidak-baik pada individu yang berbeda tampilannya.”[13]

Menurut bapak sosiobiologi, E. O. Wilson, “dalam masyarakat berburu-meramu, laki-laki berburu dan perempuan tinggal di rumah. Bias yang kuat ini terus hidup dalam sebagian besar masyarakat pertanian dan industri, dan dengan alasan ini saja kelihatannya bias itu memiliki asal-usul genetik.” Ia mengatakan bahwa laki-laki “secara alamiah” bersifat poligami, sementara perempuan “secara alamiah” monogami. Salah satu fitur dari sosiobiologi adalah perbandingan antara hubungan sosial manusia dengan dunia hewan, sebagai pembenaran untuk dominasi laki-laki dan struktur kelas. “Bias genetik,” kata Wilson, “cukup intensif untuk menyebabkan pembagian kerja yang substansial bahkan dalam masyarakat yang paling bebas dan egalitarian di masa mendatang.” Inilah tema, yang berdasarkan dunia hewan, yang berusaha dipopulerkan oleh ahli ilmu hewan Desmond Morris.

Upaya-upaya baru-baru ini untuk membuktikan bahwa kecerdasan adalah sesuatu yang diwariskan telah berpusat di sekitar tes IQ. The Bell Curve karangan Charles Murraymengulang paham lama bahwa genetika dapat menjelaskan jurang antara rata-rata IQ antara kulit hitam dan kulit putih di Amerika. Argumen-argumen dasar dalam buku ini telah berulang kali dipatahkan. Menurut psikiater Peter Breggin, buku itu adalah sebuah upaya untuk “menghidupkan kembali citra kaum Afro-Amerika sebagai King Kong yang penuh kekerasan dan bodoh.” (The Guardian, 13 Maret 1995) Tapi bukti terkuat yang menunjukkan kekeliruan determinisme genetik datang dari sebuah buku baru berjudul The History and Geography of Human Genes yang ditulis oleh ahli-ahli genetika populasi Luca Cavalli-Sforza, Paolo Menozzi dan Alberto Piazza. Buku ini adalah satu sintesis yang mengagumkan dari lebih dari 50 tahun riset dalam bidang genetika populasi. Buku tersebut adalah uraian terbaik sampai hari ini tentang bagaimana manusia bervariasi pada tingkat kromosom mereka. Kesimpulan kuat dari buku ini adalah bahwa kalau gen-gen untuk tampilan luar manusia seperti warna kulit atau tinggi badan diabaikan, maka apa yang ada di bawah kulit sama persis bagi semua “ras” manusia.Bahwa variasi antara individu jauh lebih besar daripada variasi antar kelompok. Menurut majalah Time, “Kenyataannya, keragaman antar individu demikian besarnya sehingga seluruh konsep tentang ras menjadi tak bermakna pada tingkat genetik. Para penulis menyatakan bahwa 'tidak ada basis ilmiah' untuk teori-teori yang mengajukan keunggulan genetik dari satu populasi atas populasi lain.” (16 Januari 1995)

Dalam ulasannya atas buku ini, Time menyatakan: “Sekalipun terdapat berbagai kesulitan, para ilmuwan ini membuat penemuan-penemuan yang mematahkan semua mitos. Salah satunya bahkan dimuat dalam sampul buku itu: sebuah peta berwarna tentang variasi genetik dunia menggambarkan Afrika di satu ujung spektrum dan Australia di ujung yang lain. Karena suku Aborigin Australia dan orang-orang sub-Sahara di Afrika memiliki berbagai ciri-ciri tampilan yang serupa seperti warna kulit dan bentuk tubuh, mereka dianggap berkerabat dekat. Tapi gen mereka mengungkapkan kisah yang berbeda. Dari semua manusia, orang-orang Australia adalah yang paling jauh kekerabatannya dari orang-orang Afrika, dan paling mirip dengan tetangga mereka, orang-orang Asia Tenggara.” Ulasan itu menyimpulkan, “Apa yang dilihat mata sebagai perbedaan rasial – antara orang Eropa dan Afrika, misalnya – hanyalah adaptasi terhadap iklim sejalan dengan pergerakan manusia dari satu benua ke benua lain.” Buku ini juga membenarkan bahwa tempat kelahiran umat manusia, dan juga titik awal migrasi manusia adalah Afrika, dengan demikian menunjukkan bahwa pencabangan dari Afrika adalah yang tertua dari pohon kekerabatan manusia.

Penggunaan teori biologi dan genetika untuk membenarkan politik reaksioner bukanlah sebuah hal yang baru, sekalipun pada dasawarsa lalu ia telah diberi suntikan tenaga baru oleh kecenderungan pemerintah Barat untuk melancarkan ofensif terhadap negara kesejahteraan dan segala kemenangan yang pernah dicapai oleh kelas buruh. Hukum-hukum pasar – yaitu hukum rimba – kembali menjadi mode. Ini termasuk, tentu saja, universitas, di mana selalu saja ada orang yang siap berenang mengikuti arus yang sedang dominan, yang memberi keuntungan paling besar bagi peningkatan karier mereka.

Ada banyak akademisi yang jujur, yang mendekati subjek mereka dengan cara yang tidak emosional. Tapi tentu akan menjadi naif jika kita percaya bahwa serangkaian huruf di belakang nama seseorang akan membuat orang itu kebal dari tekanan masyarakat di mana mereka hidup, tidak peduli apakah mereka sadar akan tekanan itu atau tidak. Di tahun 1949, N. Pastore melakukan satu telaah atas pendapat dari 24 psikolog, ahli biologi dan sosiolog berkenaan dengan masalah nature-nurture (alam-lingkungan) [masalah apakah yang lebih dominan faktor alami atau lingkungan]. Dari 12 orang yang mengaku “liberal atau radikal”, 11 mengatakan bahwa lingkungan lebih penting dari hereditas, dan 1 menyatakan sebaliknya. Di kubu konservatif, hasilnya persis kebalikan –11 menyatakan hereditas lebih penting dan hanya 1 yang menyatakan lingkungan lebih penting! Dobzhansky menganggap hasil ini “menggundahkan”. Bagi kami, ini tidak mengherankan.

Roger Scruton, seorang profesor filsafat dari Inggris, menarik pelajaran sosial dari pengamatan ini: “Para ahli bioekonomi mengatakan bahwa program pemerintah yang memaksa individu untuk menjadi kurang kompetitif dan egois daripada apa yang telah diprogramkan alam pada mereka secara genetik pastilah ditakdirkan gagal.” Ini cocok benar dengan kemunculan kembali determinisme genetik di Amerika, dan bukti-bukti yang mereka ajukan bahwa orang kulit hitam lebih inferior daripada kulit putih, dan bahwa kelas buruh lebih inferior daripada kelas menengah dan kelas atas. Dukungan ilmiah untuk kepalsuan-kepalsuan macam ini digunakan untuk menciptakan aura “objektivitas”.

The Selfish Gene

Richard Dawkins, yang menjadi terkenal dengan bukunya yang diberi judul kontroversial The Selfish Gene (Gen yang Egois), telah menjadi pusat dari polemik yang panas tentang genetika. Para ahli biologi molekuler telah mengidentifikasi pentingnya gen dalam mereplikasi salinan molekul DNA. Gen mengandung perintah-perintah sandi yang menghasilkan batu-batu penyusun kehidupan, asam amino. Zat-zat ini menyusun protein yang membentuk sel dan organ. Karena ini, beberapa ahli biologi molekuler dan juga sosiobiologi telah menyatakan bahwa seluruh seleksi alam, pada akhirnya, berlaku pada tingkat DNA. Ini telah menyebabkan sejumlah ilmuwan untuk menjadi terobsesi dengan sifat menakjubkan dari gen, sehingga tidak sedikit yang gagal membedakan kayu dari pohon. Beberapa orang telah melekatkan sifat-sifat mistik pada gen, yang lalu melahirkan kesimpulan-kesimpulan reaksioner. Ide bahwa ciri-ciri fisik, mental dan moral merupakan warisan dari gen yang tak berubah dan tak dapat diubah jelas tidak didukung oleh fakta-fakta ilmu genetika. Namun ide ini terus muncul lagi dan lagi dalam literatur dan telah menimbulkan dampak yang serius pada kebijakan sosial sepanjang abad ke-20.

Gen meneruskan pengaruh dari induk pada turunannya. Ia hanya dapat didefinisikan sebagai perbedaan antara sejumlah gen yang saling berbeda (disebut alel) yang mempengaruhi satu hal tertentu (misal, warna mata dipengaruhi oleh alel untuk warna biru ataucokelat). Perbedaan ini ditemukan melalui pengujian/pengamatan biokimia, fisiologis, struktural atau prilaku (setelah sumber variasi lainnya, seperti lingkungan, diabaikan).

Sayangnya, banyak ilmuwan dan orang-orang lain yang menggunakan penyederhanaan yang menyesatkan dari definisi di atas. Khususnya, bahwa sebuah gen yang berkontribusi pada sifat hewan yang berbeda dari yang lainnya kemudian dianggap sebagai gen yang menentukan perilaku khasnya tersebut. Dawkins bukan satu-satunya ilmuwan yang jatuh ke dalam jebakan ini. Di tahun 1970-an banyak orang yang berbicara tentang kode genetik untuk ciri-ciri fisik dan perilaku. Juga bahwa sebuah gen harus diperbandingkan dengan gen lain untuk ciri-ciri yang sama. Gen bukanlah satu entitas yang dapat berdiri sendiri. Seperti yang ditunjukkan dengan tepat oleh J. B. S Haldane, genetika adalah ilmu tentang perbedaan bukan kesamaan. Sederhananya, Anda dan saya boleh jadi sama-sama egois – tetapi perbedaan antara kita berdua tidak.Kita tidak boleh menerapkan ciri personal dalam perbandingan. Dalam bukunya The Selfish Gene, Dawkins melompat-lompat dari satu definisi [berkontribusi] ke definisi yang lain [menentukan], sambil mengklaim bahwa keduanya dapat dipertukarkan – padahal tidak. Hasilnya adalah dukungan terhadap determinisme biologis. Satu generasi penuh orang Amerika dan para ilmuwannya tumbuh besar dengan kebingungan semacam ini.

Riset ilmiah ke dalam genetika menunjukkan kemungkinan untuk ilmu kedokteran, di mana penyakit-penyakit genetik seperti Huntington's chorea, Duchene muscular dystrophy, dan lain-lain telah dikenali. Namun, ada pernyataan yang menyebar luas bahwa dengan cara tertentu gen juga bertanggung jawab atas segala hal lainnya, seperti homoseksualitas dan kriminalitas. Determinisme genetik mereduksi segala masalah sosial ke tingkat genetika. Di bulan Februari 1995, satu konferensi tentang Genetika Perilaku Kriminal dan Anti-Sosial diadakan di London. Sepuluh dari tigabelas pembicara adalah dari Amerika Serikat di mana seminar serupa diadakan di tahun 1992, di mana tekanan publik berhasil menyingkirkan nada rasis dari pertemuan itu. Sekalipun ketua konferensi, Sir Michael Rutter dari London Institute of Psychiatry menyatakan “tidak ada itu yang namanya gen untuk kriminalitas,” peserta lain seperti Dr. Gregory Carey dari Institute of Behavioural Genetics, University of Colorado, bertahan bahwa faktor genetik secara keseluruhan bertanggung jawab untuk 40-50% tindak kejahatan dengan kekerasan. Sekalipun ia mengatakan bahwa akan menjadi tidak praktis untuk “mengobati”kriminalitas dengan rekayasa genetik, yang lain mengatakan bahwa ada prospek yang baik untuk mengembangkan obat-obatan untuk mengendalikan agresi yang berlebihan kalau kita bisa menemukan gen yang bertanggung jawab untuk perilaku itu. Walau demikian, ia menyarankan bahwa aborsi harus dipertimbangkan ketika pemeriksaan pra-kelahiran menunjukkan bahwa seorang anak memiliki kemungkinan dilahirkan dengan gen yang akan mendorong perilaku agresif atau antisosial. Pandangan ini didukung oleh Dr. David Goldman dari Laboratory of Neurogenetics di US National Institute of Health. “Keluarga-keluarga harus diberi informasi dan harus diberi keleluasaan untuk menentukan secara pribadi bagaimana menggunakan informasi itu.” (The Independent, 14 Februari 1995)

Menurut Profesor Hans Bruner dari Nijmegen University Hospital di Belanda, para lelaki dari keluarga yang mewarisi abnormalitas genetik tertentu dari kromosom X yang menyebabkan defisiensi enzim yang berhubungan dengan pesan-pesan di otak, telah menunjukkan “agresi impulsif” termasuk arson (pembakaran rumah) dan percobaan perkosaan. Dr. David Goldman dari NIH Laboratory of Neurogenetic di Maryland, dan Profesor Matti Virkkunen dari University of Helsinky mengatakan mereka telah menemukan variasi genetik dalam proses kimia otak yang mengarah pada agresi. “Perusahaan-perusahaan farmasi telah menyatakan minat mereka dalam penemuan kami,” kata Virkkunen. (The Financial Times, 14 Februari 1995)

Steven Rose menggambarkan konferensi itu sebagai “bermasalah,merisaukandan tidak seimbang.” Konferensi itu dikecamdi dalamsebuah surat oleh 15 orang ilmuwan. Dr. Zakari Erzinclioglu, direktur dari Centre for Forensic Science pada Durham University, menyebutnya sebagai “sangat merisaukan, terbelakang dan berniat jahat.” Ashley Montague menunjuk bahwa “bukan 'gen kriminal' yang membuat orang menjadi kriminal, tapi dalam sebagian besar kasus adalah 'kondisi sosial yang kriminal'.”

Buku Richard Dawkins The Selfish Gene yang edisi pertamanya muncul di tahun 1976 membuat beberapa pernyataan yang mengejutkan. “Kita dilahirkan egois,” kata Dawkins. Sekalipun ia mengatakan bahwa “gen tidak memiliki kemampuan meramal” dan “tidak merencanakan sejak awal”Dawkinsmemberikan gen sebuah kesadaran dan identitas “egois”. Gen berusaha mereplikasi dirinya sendiri, seakan-akan mereka dengan sadar merencanakan bagaimana hal ini dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya:

“Tentunya secara prinsip, dan juga dalam fakta, gen mengulurkan tangannya melalui dinding tubuh individu dan merekayasa objek-objek di dunia luar, beberapa tidak hidup, beberapa adalah makhluk hidup lain, beberapa terletak jauh sekali dari mereka. Dengan sedikit imajinasi kita dapat melihat gen duduk di pusat sebuah jaring-jaring kekuatan fenotip yang jauh jangkauannya. Dan sebuah objek di dunia adalah pusat dari bersatunya segala jaring-jaring pengaruh dari banyak gen yang duduk di dalam banyak organisme. Jangkauan jauh dari gen tidak mengenal batas.”[14] Karena bagi Dawkins organisme individual tidak bertahan dari satu generasi ke generasi yang lain, tapi gen bertahan, maka pastilah seleksi alam bekerja pada apa yang bertahan, yaitu, gen. Maka, segala seleksi pastilah pada akhirnya bekerja di tingkat DNA. Pada saat bersamaan, tiap gen berkompetisi satu dengan lainnya untuk mereproduksi dirinya dalam generasi berikutnya. “Apa yang sebenarnya demikian unik tentang gen? Jawabannya adalah bahwa mereka semua adalah replikator.”

Dalam pandangan ini, replikator kehidupan adalah gen; maka organisme adalah sekedar kendaraan bagi gen (“mesin untuk bertahan hidup – kendaraan robot yang diprogram secara buta untuk memelihara molekul-molekul egois yang dikenal sebagai gen” ... “mereka berkerumun dalam koloni-koloni raksasa, aman di dalam robot raksasa yang canggung itu”). Ini adalah pengulangan pepatah Butler yang terkenal bahwa ayam hanyalah sekedar cara bagi sebutir telur untuk menghasilkan butir telur yang lain. Seekor hewan, bagi Dawkins, hanyalah cara dari DNA untuk membuat lebih banyak DNA. Ia memberikan gen semacam kualitas mistik tertentu, yang pada hakikatnya bersifat teleologis.

“Saya curiga,” kata Dawkins dalam pembelaannya, “bahwa Rose dan Gould adalah determinis karena mereka percaya bahwa setiap tindakan kita punya basis fisik dan materialistik. Begitu juga saya... pandangan apapun yang kita ambil tentang persoalan determinisme, dimasukkannya kata 'genetik' tidak akan mengubah sesuatu pun.” Ia kemudian menambahkan, “jika Anda memiliki darah determinis Anda akan percaya bahwa segala tindakan Anda ditentukan oleh sebab-sebab fisik di masa lalu... Apa bedanya kalau salah satu sebab fisik itu adalah genetik? Mengapa determinisme genetik dianggap lebih niscaya, atau lebih merupakan satu pembenaran, daripada 'determinisme lingkungan'?”[15]

Segala hal di alam ini memiliki sebab dan akibat, di mana sebuah akibat pada gilirannya menjadi sebab. Dawkins mencampuradukkan determinisme dan fatalisme: “Satu organisme adalah alat bagi DNA.” Determinisme genetik memiliki definisi yang jelas, di mana gen dikatakan sebagai “menentukan” sifat fenotip. Tidak ada keraguan bahwa gen memiliki dampak yang kuat terhadap bentuk organisme, tapi entitasnya akan secara menentukan dipengaruhi oleh lingkungannya. Contohnya, jika dua kembar identik ditempatkan pada dua lingkungan yang sama sekali berbeda, akan ada dua karakter yang berbeda. Seperti yang dijelaskan Rose, “Pada kenyataannya, seleksi harus bekerja pada berbagai tingkat. Serangkaian DNA boleh atau boleh tidak diseleksi, tapi DNA itu terekspresikan dengan latar belakang seluruh genotip; serangkaian gen-gen tertentu atau seluruh genotip pastilah mewakili satu tingkatan seleksi yang berbeda. Lebih jauh lagi, genotip eksis dalam fenotip, dan apakah fenotip ini dapat bertahan atau tidak bergantung pada interaksinya dengan fenotip-fenotip lain. Maka ia hanya akan diseleksi dengan latar belakang populasi di mana ia muncul.”[16]

Dawkins dipaksa untuk menarik mundur sejumlah pernyataannya, di mana dia memperbaiki argumen-argumennya pada edisi-edisi berikut The Selfish Gene (1989) dan dalam The Extended Phenotype (1982). Ia mengatakan bahwa bahasanya yang flamboyan telah membuat dirinya mudah disalahartikan dan disalahpahami: “Terlalu mudah untuk terhanyut, dan mengizinkan gen memiliki kebijaksanaan kognitif dan kemampuan merencanakan 'strategi' mereka.” Namun ia tetap mempertahankan argumen dasarnya dan memandang kehidupan “dalam makna replikator genetik yang memelihara dirinya melalui fenotip-fenotip mereka.” Dan bahwa “seleksi alam adalah kemampuan bertahan diferensial dari gen-gen.”Dawkins kini mengatakan “gen dapat memodifikasi dampak dari gen lain, dan dapat memodifikasi dampak dari lingkungannya. Peristiwa-peristiwa lingkungan, baik internal maupun eksternal, dapat memodifikasi dampak dari gen, dan dapat memodifikasi dampak dari peristiwa-peristiwa lingkungan lainnya.” Tapi, di luar konsesi ini, tesis utama Dawkins tidak berubah.

Misalnya, ia mengatakan:

“Kontrasepsi adalah sesuatu yang diserang sebagai 'tidak alamiah'. Demikianlah ia adanya, sangat tidak alamiah. Masalahnya, begitu juga negara kesejahteraan. Saya pikir kebanyakan dari kita percaya bahwa negara kesejahteraan adalah hal yang sangat baik. Tapi Anda tidak dapat memiliki negara kesejahteraan yang tidak alami, kecuali jika Anda juga memiliki sistem keluarga berencana yang tidak alamiah, jika tidak demikian maka hasil akhirnya pastilah kesengsaraan yang jauh lebih besar daripada apa yang dapat kita temui di alam.”

Ia melanjutkan:

“Negara kesejahteraan mungkin adalah sistem altruistik yang paling besar yang pernah dikenal oleh dunia hewan. Tapi tiap sistem altruistik memiliki ketidakstabilan internal, karena ia terbuka untuk disalahgunakan oleh individu yang egois, yang siap mengeksploitasinya. Seorang yang memiliki lebih banyak anak daripada yang dapat diberinya makan mungkin terlalu bodoh, dalam sebagian besar kasus, untuk dituduh sengaja melakukan eksploitasi yang jahat.”

Menurut Dawkins pengadopsian anak berlawanan dengan naluri dan kepentingan “gen yang egois”.

“Dalam kebanyakan kasus kita harus menganggap pengadopsian anak, bagaimanapun menyentuhnya hal itu, sebagai sebuah kegagalan dalam aturan yang inheren dalam diri kita. Ini karena perempuan yang baik itu tidak melakukan hal yang terbaik bagi gennya sendiri dengan memelihara anak yatim piatu. Ia membuang waktu dan energi yang seharusnya ditanamkannya pada kehidupan kerabatnya sendiri, khususnya anak-anaknya di masa depan. Mungkin ini adalah sesuatu yang terjadi terlalu jarang, sehingga seleksi alam 'tidak mau repot-repot' mengubah aturan dengan membuat naluri keibuan dapat menjadi lebih selektif.”

Ia menyatakan bahwa “jika seorang perempuan diberi bukti-bukti yang kuat bahwa akan terjadi kelaparan, dia punya kepentingan diri sendiri yang egois untuk mengurangi tingkat kelahirannya sendiri.” Dawkins juga percaya bahwa seleksi alam akan memilih anak yang menipu, berbohong, licik dan mengeksploitasi dan bahwa “ketika kita melihat populasi hewan liar kita boleh berharap untuk melihat penipuan dan keegoisan di dalam keluarga. Frase 'anak harus menipu' berarti bahwa gen yang cenderung membuat anak menipu memiliki keuntungan dalam populasi gen.”[17] Ia menyimpulkan bahwa organisme adalah alat dari DNA, bukannya sebaliknya.

Komentar-komentar ini menarik bukan karena apa yang mereka katakan pada kita tentang gen, tapi karena apa yang mereka ungkap tentang keadaan masyarakat dalam dekade terakhir abad ke-20 ini. Dalam masyarakat tertentu, otot yang kuat atau kemampuan untuk berlari cepat dapat membawa keuntungan genetik. Jika keuntungan serupa dilekatkan pada kecenderungan untuk berbohong, menipu dan mengeksploitasi, artinya ciri-ciri semacam itu adalah kualitas yang paling penting dalam masyarakat modern, dan hal ini tentu saja sepenuhnya benar dari sudut pandang “nilai-nilai pasar”. Walaupun sangatlah dapat dipertanyakan apakah kualitas semacam itu dapat, pada kenyataannya, diteruskan melalui mekanisme genetik, jelas bahwa mereka adalah ciri-ciri paling hakiki dari egoisme borjuasi. “Perang semua melawan semua”, seperti yang diungkapkan si tua Hobbes, adalah sudut pandang dasar dari masyarakat borjuis.

Benarkah bahwa mentalitas semacam itu adalah bagian yang terkondisi secara genetik dari “sifat alami manusia”? Mari kita ingatkan lagi diri kita bahwa kapitalisme dan nilai-nilainya baru ada selama 200 tahun terakhir dari sekitar 5.000 tahun sejak kita mengenal tulisan, dan 100.000 tahun yang telah berlalu sejak nenek moyang kita mulai menjadi manusia. Masyarakat manusia, pada sebagian besar waktu keberadaannya, telah didasarkan pada prinsip kerja sama. Sungguh, manusia tidak akan pernah mengangkat dirinya di atas tingkatan hewani tanpa hal ini. Kompetisi sama sekali bukan sebuah komponen esensial dari cara berpikir manusia. Kompetisi adalah fenomena yang baru saja muncul, satu cerminan dari sebuah masyarakat yang didasarkan pada produksi komoditi, yang memuntir dan merusak sifat manusia ke dalam pola perilaku yang pasti akan dianggap menjijikkan dan tidak alami di masa lalu.

Terlalu mudah untuk menyalahkan fenomena yang misterius seperti “gen kita” untuk memahami moralitas egoisme dari perekonomian pasar. Lebih jauh lagi, ini bukan masalah kehewanan, tapi masalah kelas sosial. Individu kapitalis bersaing satu dengan lainnya dan tidak ragu untuk menggunakan segala macam cara untuk menggulingkan pesaingnya – berbohong, menipu, spionase industri, insider dealing, pencaplokan predatoris–semua ini dianggap praktek dagang yang normal. Dari sudut pandang kelas buruh, segalanya sangat berbeda. Ini bukan persoalan moralitas individu, tapi masalahbagaimana kelas sosial dapat bertahan (persoalan sosial yang sejajar dengan “survival of the fittest”). Satu-satunya kekuatan yang dimiliki kelas buruh untuk melawan para majikan adalah kekuatan persatuan, yakni kerja sama.

Tanpa organisasi, yang dimulai dari tingkat serikat buruh, kelas buruh hanyalah bahan mentah untuk dieksploitasi. Kebutuhan kaum buruh untuk bersatuguna mempertahankan kepentingan-kepentingannya adalah sebuah pelajaran yang harus dipelajari lagi dan lagi. Egoisme dan “individualisme” (dalam pemaknaan borjuasi) berarti kekalahan bagi kelas buruh. Tiap orang yang menyabot pemogokan selalu dipuja-puji sebagai pembela agung dari “kebebasan individu” oleh pers milik para milyuner karena merupakan kepentingan para majikan untuk memecah-mecah kelas buruh, untuk mereduksinya menjadi komponen-komponen yang terpisah-pisah, yang masing-masing berada dalam cengkeraman Modal. Di sini juga, hukum dialektika berlaku bahwa keseluruhan pastilah lebih besar dari jumlah bagian-bagiannya. Sadar atau tidak, mereka yang mengajukan keegoisan sebagai hal yang ideal, atau setidaknya sebagai “sifat alami manusia” telah mengambil posisi yang jelas dalam hubungannya dengan perjuangan antara kelas pekerja upahan dan Modal, dan tidak boleh mengeluh ketika mereka dikritik telah menyediakan pelumas bagi gerinda yang dijalankan tanpa ampun oleh Nyonya Thatcher.

Dawkins melihat evolusi bukan sebagai hasil dari perjuangan organisme tapi sebagai sebuah perjuangan antar gen untuk rebutan menyalin dirinya sendiri. Tubuh yang mereka diami adalah sekunder. Ia membuang prinsip Darwin bahwa individu adalah unit seleksi. Ini adalah ide yang keliru secara fundamental. Seleksi alam bekerja atas organisme, atas tubuh. Ia memilih bentuk tubuh tertentu karena mereka lebih cocok dengan lingkungan tertentu. Gen adalah sepotong DNA yang terkandung di dalam inti sel, sejumlah besar dari mereka berperan dalam perkembangan sebagian besar bagian tubuh. Ini pada gilirannya dipengaruhi oleh serangkaian faktor lingkungan, internal maupun eksternal. Seleksi tidaklah terjadi langsung atas bagian per bagian. Seleksi alam terjadi atas tubuh karena mereka dengan cara tertentu “lebih cocok”, yaitu, lebih kuat, lebih ganas, lebih hangat, dan sebagainya. Jika memang ada gen khusus untuk kekuatan atau ciri-ciri lainnya, maka Dawkins mungkin benar. Tapi tidak demikian halnya. Misalnya, perintah untuk pembentukan telinga dikandung dalam beberapa gen yang terpisah, separuh datang dari ayah, separuh dari ibu.

Seperti yang dijelaskan oleh Stephen Jay Gould:

“Seleksi alam menerima atau menolak seluruh organisme karena sekumpulan bagian tubuh, yang berinteraksi dengan cara yang kompleks, membawa keuntungan tertentu.... Organisme jauh lebih berharga daripada sekedar amalgamasi gen. Mereka punya sejarah yang bermakna; bagian-bagian mereka berinteraksi dalam cara yang kompleks. Organisme dibangun dari gen-gen yang bertindak dalam sebuah konserto, dipengaruhi oleh lingkungan, diterjemahkan menjadi bagian-bagian yang dilihat maupun yang tak terlihat oleh seleksi. Molekul-molekul yang menentukan sifat-sifat air adalah analogi yang buruk bagi gen dan tubuh.”[18]

Analisa ini telah didukung oleh Steven Rose dalam kritiknya atas Dawkins:

Pada kenyataannya, seleksi harus bekerja pada berbagai tingkat. Serangkaian DNA boleh atau boleh tidak diseleksi, tapi DNA itu terekspresikan dengan latar belakang seluruh genotip; serangkaian gen-gen tertentu atau seluruh genotip pastilah mewakili satu tingkatan seleksi yang berbeda. Lebih jauh lagi, genotip eksis dalam fenotip, dan apakah fenotip ini dapat bertahan atau tidak bergantung pada interaksinya dengan fenotip-fenotip lain. Maka ia hanya akan diseleksi dengan latar belakang populasi di mana ia muncul.”[19]

Metode Dawkins membawanya tercebur ke dalam lumpur idealisme, ketika ia mencoba berpendapat bahwa kebudayaan manusia dapat direduksi menjadi unit yang disebutnya memes, yang kelihatannya, seperti gen, bersifat mereplikasi diri sendiri dan berkompetisi untuk bertahan hidup. Ini jelas keliru. Kebudayaan manusia diteruskan dari generasi ke generasi, bukan melalui memes, tapi melalui pendidikan, dalam maknanya yang terluas. Keragaman budaya tidak terkait dengan gen tapi dengan sejarah sosial. Pendekatan Dawkins pada hakikatnya adalah reduksionis.

Masyarakat dipecah menjadi organisme, organisme menjadi sel, sel menjadi molekul, dan molekul menjadi atom. Bagi Dawkins, sifat dan motivasi manusia haruslah dipahami dengan menganalisa DNA-nya. Sama persis dengan James Watson (yang bersama Crick dan Franklin menemukan double helix) yang menyatakan “Apa lagi selain atom?” Mereka tidak pernah menganggap penting berbagai tingkat analisis, atau cara determinasi yang kompleks dan bertingkat-tingkat. Mereka mengabaikan hubungan hakiki antara sel dan organisme sebagai sebuah keseluruhan. Metode empirik ini, yang muncul bersama dengan revolusi ilmiah di tengah kelahiran kapitalisme, bersifat progresif pada masanya, tapi kini telah menjadi belenggu atas perkembangan ilmu pengetahuan dan pemahaman atas alam.

Masa Depan Genetika

“Sampai baru-baru ini, satu-satunya akses pada gen yang membentuk dunia natural ini adalah melalui perubahan atas lingkungan. Kini gen-gen itu dapat direkayasa secara langsung. Ini membuat perubahan menjadi mudah, segera dan dapat dipahami; teknologi yang memungkinkan rekayasa genetika langsung juga membuka pintu untuk memeriksa aktivitas gen. Tapi pada saat bersamaan ia membuat perubahan menjadi sesuatu yang acak, karena gen yang tidak akan dikembangkan secara spontan oleh hewan apapun kini menjadi mungkin. Teknik-teknik baru ini akan memberi umat manusia satu kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya untuk mengubah dunia – dan untuk mengubah dirinya sendiri.” (The Economist, 25 Februari 1995.)

Selama tiga dasawarsa terakhir, kemajuan-kemajuan raksasa telah dibuat dalam bidang genetika molekuler. Di tahun 1972, gen pertama telah diisolasi dan direproduksi (“kloning”) di laboratorium. Konsekuensi dari hal ini sangatlah mengkhawatirkan sehingga para ilmuwan bersepakat untuk secara sukarela menghentikan upaya rekombinasi gen-gen hasil klon ke dalam DNA organisme lain. Tapi kini dimasukkannya gen hasil klon ke dalam DNA manusia sudah hampir menjadi hal yang rutin. Pada dasawarsa pertama dari abad ke-21, para ilmuwan akan mengetahui semua protein dalam tubuh manusia. Pengetahuan semacam ini memiliki implikasi yang luar biasa bagi masa datang – baik maupun buruk.

Sampai baru-baru ini, gen masih dilingkupi misteri, seperti Benda-dalam-dirinya-sendiri-nya Kant. Gen dianggap sebagai tuan yang kejam dari nasib manusia, yang keras kepala, tidak dapat diubah, dan tidak dapat diraba dalamnya. Berbicara tentang gen bukan hanya bicara tentang pewarisan. Ini satu pembicaraan tentang nasib kita. Dan nasib adalah sebuah mahkamah pengadilan yang tidak memiliki banding. Tapi kini, untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupan di planet ini, hadir satu kemungkinan bagi umat manusia untuk mengendalikan nasibnya sendiri, pada tingkatan yang terdalam. Bertentangan dengan segala omong kosong dari para reaksioner genetik, tidak pernah benar bahwa gen menentukan sepenuhnya evolusi manusia. Sekalipun mereka memainkan peran yang besar pada kehidupan manusia, gen tidak mengendalikannya. Paling-paling, mereka menetapkan parameter tertentu untuk membatasi atau mengizinkan. Tapi kini genotip itu sendiri, untuk pertama kalinya, ditempatkan di bawah kendali. Ini adalah perkembangan yang revolusioner, yang penuh berisi berbagai konsekuensi yang besar bagi masa depan umat manusia.

Kemunculan kehidupan dari materi anorganik adalah lompatan evolusioner raksasa. Setelah serangkaian transformasi, perkembangan dari otak yang dapat berpikir sebagai hasil dari kehidupan sosial dan kerja kolektif adalah langkah raksasa berikutnya. Kini, untuk pertama kalinya selama empat miliar tahun, umat manusia sedang berada dalam proses untuk menguasai rahasia evolusinya sendiri. Seleksi alam tidak lagi menjadi kekuatan misterius yang buta. Genotip yang maha kuasa itu dapat ditundukkan ke bawah kendali fenotip. Umat manusia memiliki potensi untuk menentukan nasibnya sendiri, dan memodifikasi seleksi alam yang tanpa ampun itu.

“Seperti juga organisme adalah interpretasi dari informasi genetik di dalam lingkungan tertentu,” tulis Oliver Morton, “demikian pula penggunaan pengetahuan genetik ini akan tergantung pada lingkungannya – ekonomi dan etik, personal dan politik – di mana penggunaan itu dilakukan. Penggunaan itu, baik atau jahat, pasti akan terjadi. Gen yang tadinya dengan ketat membatasi dan mengatur kini ditundukkan ke bawah kehendak manusia; batasan-batasan akan digeser dan dilonggarkan. Gen tidak pernah menjadi tuan seutuhnya atas nasib manusia, tapi juga mereka tidak pernah menjadi pembantu bagi umat manusia. Sampai saat ini.” (The Economist, 25 Februari 1995)

Percuma kita meratapi penemuan ini, seperti halnya percuma saja sekelompok buruh yang putus asa menghancurkan mesin-mesin pada pada awal Revolusi Industri. Penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bagian yang vital bagi perkembangan masyarakat, yang memungkinkan umat manusia untuk mendapatkan kendali yang lebih besar atas batasan-batasan yang dipaksakan oleh alam. Hanya dengan cara inilah umat manusia akan benar-benar bebas. Masalahnya bukan terletak pada apa yang ditemukan oleh pemikiran manusia. Masalahnya adalah bagaimana penemuan itu digunakan. Perkembangan ilmu pengetahuan membuka satu cakrawala baru yang menggemparkan dari perkembangan umat manusia yang tak terbatas itu sendiri. Tapi ada satu sisi yang lebih gelap dari semua ini. Abad ke-20 membawa pesan yang buruk tentang kengerian macam apa yang dapat datang dari kapitalisme yang berada dalam epos kemunduran historisnya. Teknik rekayasa genetik di tangan perusahaan-perusahaan monopoli yang tidak terkontrol, yang hanya berminat pada keuntungan besar, merupakan sebuah ancaman yang mendirikan bulu roma.

Seluruh perkembangan teknologi, yang terus-menerus meruntuhkan segala rintangan yang menghadangnya, dan menyatukan dunia dengan cara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, adalah sebuah argumen yang berpihak pada perekonomian dunia yang terencana. Bukan seperti karikatur mengerikan yang digambar oleh Stalinisme, tapi sebuah masyarakat yang dijalankan secara demokratis, di mana manusia akan meraih kendali sadar atas kehidupan dan takdir mereka. Berdasarkan perekonomian yang ditata secara harmonis, yang menyatukan sumberdaya dari seluruh planet, sebuah cakrawala perkembangan yang tak terbatas terbuka lebar. Di satu pihak kita memiliki tugas menjagabumi kita, membuatnya cocok bagi umat manusia, memperbaiki kerusakan-kerusakan yang telah disebabkan oleh kerakusan perusahaan-perusahaan multinasional. Di pihak lain, kita melihat di hadapan kita satu tantangan terbesar yang pernah dihadapi oleh spesies kita – penjelajahan antariksa, yang terkait dengan masalah kemampuan umat manusia untuk bertahan hidup di masa datang. Ilmu rekayasa genetik, yang kini masih pada tahap janin, mungkin kelak akan terkait dengan tuntutan perjalanan panjang menjelajah antariksa. Pada saat ini, semua ini masih berada di alam spekulasi. Namun sejarah seratus tahun terakhir telah memperlihatkan betapa cepatnya ide yang kelihatannya demikian fantastik sekalipun untuk segera menjadi kenyataan.

Apa yang kita lihat pada saat ini adalah sebuah potensi raksasa. Dalam konteks perekonomian yang demokratik dan direncanakan secara harmonis, di mana manusiasecara bebas dan dengan sadar menentukan takdirnya sendiri, ilmu sains genetika akan berhenti menjadi penghambat kemajuan manusia dan akan menempati kedudukannya yang sebenarnya, di dalam telaah dan transformasi atas kehidupan itu sendiri. Ini bukanlah satu khayalan. Mengutip Oliver Morton:

“Kemungkinan dari biologi ini hampir-hampir tak berbatas. Dunia alam, termasuk tubuh dan pikiran manusia, akan menjadi dapat dibentuk. Organ-organ yang dicangkok mungkin akan membentuk kembali otak manusia, virus yang dirancang khusus akan membangun kembali jaringan tubuh yang telah mengalami penuaan. Organ manusia yang ditumbuhkan pada hewan untuk cangkok kini telah mulai dikerjakan. Berbagai jenis makhluk baru mungkin akan muncul, makhluk-makhluk yang boleh menjadi pusat kekaguman kita. Jika umat manusia tidak dapat menemukan kawan di antara bintang-bintang, ia dapat menciptakan makhluk cerdas baru di bumi. Perbedaan genetik antara manusia dan simpanse sangatlah kecil; spesies cerdas yang baru bukanlah satu kemustahilan.

“Semua ini akan dimungkinkan oleh genetika. Tapi, pada saat bersamaan, kejayaan gen akan pudar. Gen telah kehilangan posisi istimewanya sebagai pembawa informasi. Informasi biologis akan disimpan dalam pikiran dan komputer, selain dalam gen, dan gen hanya akan menjadi salah satu cara untuk merekayasa dunia ini, cocok untuk satu hal dan tidak cocok untuk hal lainnya, seperti protein terapeutik....

“Apa yang semula unik pada gen kini berada dalam genggaman umat manusia. Genggaman itu kelak akan segera memiliki semua kuasa yang pada satu waktu pernah dilekatkan pada gen dan lain-lain. Kecerdasan yang sama akan dapat membentuk gen dan lingkungan, yang selama ini bekerja sama untuk membuat semua organisme seperti adanya. Kendali atas informasi biologis pada skala ini – atas data mentah dan cara pengolahannya – berarti kendali atas biologi, kendali atas kehidupan itu sendiri.” (The Economist, 25 Februari 1995.)

 ________________

Catatan Kaki

[1] Dobzhansky 21.

[2] Dogma Immaculata Conceptio atau Dikandung Tanpa Noda adalah dogma sentral gereja Katolik Roma bahwa Maria, ibu Yesus Kristus, dikandung tanpa noda.Dogma ini menyatakan bahwa sejak lahir, Maria telah bebas dari segala macam dosa. Dogma ini sering disalah artikan dengan kelahiran Yesus dari Maria yang masih perawan (Catatan Editor).

[3] E. O. Wilson, Sociobiology—The New Synthesis, hal. 575.

[4] Dobzhansky 264.

[5] Dari tahun 1944 hinggal awal 1970an, anak-anak Inggris yang tidak lolos tes ujian “Eleven Plus” dimasukkan ke dalam sekolah “Secondary Modern”. Mereka yang tidak lolos ujian dianggap tidak cocok untuk pendidikan akademis dan teknik, dan dimasukkan ke sekolah “Secondary Modern” untuk diajarkan hal-hal praktis (kerja kayu, kerja domestik, dsb). Yang lolos ujian dimasukkan ke dalam “Grammar School”.Anak-anak sekolah “Secondary Modern” biasanya datang dari kelas pekerja, sementara “Grammar School” dari kelas atas. Sekolah “Secondary Modern” juga menerima anggaran pendidikan yang lebih kecil.

[6]Penyakit Wilson adalah penyakit turunan dimana metal tembaga terakumulasi di organ-organ tubuh, terutama di hati dan otak, dan bila tidak diobati akan menyebabkan gagal hati atau penyakit syaraf. Gejala-gejala penyakit ini dapat diobati dengan diet makanan yang rendah kadar tembaganya, atau dengan obat-obatan yang membantu menurunkan kadar tembaga dari tubuh pasien. (Catatan Penerjemah)

[7] Penemuan Piltdown Man adalah salah satu skandal terbesar dalam sejarah ilmu pengetahuan, di mana beberapa orang ilmuwan, untuk keperluan membuktikan teori penciptaan, merekayasa fosil palsu di Piltdown. Setelah ditemukannya teknik penentuan usia geologis melalui pengukuran isotop radioaktif, terbukti bahwa fosil itu adalah palsu. Namun fosil-fosil palsu itu telah terlanjur melahirkan berbagai buku setelah selama puluhan tahun dianggap sebagai pembenaran yang paling meyakinkan atas teori Penciptaan. (Catatan Penerjemah)

[8] See S. Rose, L. Kamin dan R. Lewontin, Not in our Genes, hal. 84, 86, 87, 96, 116 dan 95.

[9] John Scopes (1900-1970) adalah seorang guru di Tennessee, Amerika. Pada 1925, dia diadili oleh pengadilan negara bagian Tennessee karena mengajarkan teori evolusi di kelasnya. Pada saat itu di Tennessee ada hukum yang melarang pengajaran teori evolusi di sekolah. Kasus ini dikenal luas sebagai Pengadilan Scopes.

[10] Pada tahun 1912, seorang psikolog dan eugenis terkenal dari Amerika, Henry G. Goddard menerbitkan buku berjudul “The Kallikak Family: A Study in the Heredity of Feeble-Mindedness”. Buku ini mengandung studinya mengenai heritabilitas dari catat mental (sakit jiwa, kedunguan, kesulitan belajar, dll). Nama Kallikak adalah nama keluarga palsu yang digunakan di buku ini, yang berasal dari bahasa Yunani: kallos yang berarti cantik, dan kakos yang berarti buruk.

Buku ini mengikuti seorang pasien dari institusi anak-anak cacat mentalnya, yang bernama Deborah Kallikak. Silsilah Deborah dipelajari, dan ditemukan bahwa kakek buyutnya, Martin Kallikak, pernah bersenggama dengan seorang perempuan cacat mental. Kakek buyutnya lalu menikah dengan perempuan lain yang normal, sehingga ia punya dua garis keturunan. Garis keturunan dari perempuan yang cacat mental, menurut klaim Goddard, semuanya lahir dengan berbagai cacat mental (miskin, gila, kriminal, bodoh, dll.) Sementara garis keturunan dengan perempuan yang normal semuanya adalah orang-orang yang baik, terhormat, dan makmur.

Dengan pengamatan ini, Goddard mengklaim bahwa ia telah menemukan bahwa kecerdasan, moralitas, dan kriminalitas adalah sesuatu yang diwariskan lewat keturunan. Sebagai kesimpulannya, dia menganjurkan kebijakan memisahkan orang-orang yang dianggapnya cacat mental dari yang normal,mencegah perkawinan antar mereka dan juga pemandulan.

Studi yang serupa di New York dengan keluarga Juke. Sejak itu, istilah Kallikak dan Juke adalah representasi dari kepercayaan bahwa ada gen-gen moralitas dan kriminalitas yang diturunkan, yang digabungkan dengan kepercayaan reliji mengenai dosa ayah dan gagasan eugenik yang pseudo-ilmiah.

[11] Ras Teutonic adalah ras Germanic, yang pada masa modern ini meliputi orang-orang Inggris, Norwegia, Denmark, Swedia, Jerman, Austria, Belanda, Flemish.

[12] America’s Destiny, 1900. Albert Beveridge.

[13] Dawkins, The Selfish Gene, hal. 108.

[14] Dawkins, The Selfish Gene, hal. 3 dan 265-6.

[15] Dawkins, The Extended Phenotype, hal. 10-11.

[16] S. Rose, Molecules dan Minds, hal. 64-5.

[17] Dawkins, The Selfish Gene, hal. 126, 109, 129 dan 150.

[18] Gould, The Panda’s Thumb, hal. 77-8.

[19] Rose, Molecules dan Mind, hal. 64-5.