facebooklogocolour

Pancasila, Bung Karno-isme, dan Sosialisme

Sampai mana kita kaum revolusioner bisa menggunakan Pancasila dan Bung Karno-isme untuk mencapai sosialisme? Apa memang kita bisa menggunakan Pancasila sebagai jembatan untuk mencapai sosialisme?

Sebuah Kritik atas Feminisme Liberal

"To alter the position of woman at the root is possible only if all the conditions of social, family, and domestic existence are altered." (Trotsky)

Diskursus pembebasan perempuan yang lahir dari feminisme liberal, yang hari ini sebagai diskursus mainstream, telah membawa angin segar bagi perubahan nasib perempuan di Indonesia. Paradigma berpikir feminisme liberal telah menginspirasi banyak gerakan perempuan di Indonesia untuk mencapai kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Tetapi ternyata, pola pikir dari arus feminisme yang lahir di Barat tersebut, ditinjau dari perspektif kelas, setidaknya, akan memunculkan dua cacat politik.

Apa arti ‘perjuangan kelas’ bagi saya sebagai seorang perempuan muslimah?

“Saya seorang muslimah dan seorang Marxis”

Apa arti ‘perjuangan kelas’ bagi saya sebagai seorang muslimah?  Inilah pertanyaan penting yang telah mengubah cara berpikir saya. Dengan mendasarkan diri atas Marxisme, perjuangan saya untuk membebaskan perempuan dari seluruh macam penindasan tidak lagi berperspektif picik dan setengah-setengah.

Pembebasan Perempuan dan Sosialisme

Sejak Marx dan Engels, Sosialisme selalu berkomitmen terhadap pembebasan perempuan. Dalam hal ini, Sosialisme sejalan dengan gerakan-gerakan perempuan yang lazim dinamakan Feminisme. Tapi Sosialisme dan Feminisme memiliki pendekatan dan visi yang sangat berbeda.

Lenin, Parlemen dan Realitas Obyektif: Kritik atas Ragil Nugroho dan Martin Suryajaya

Menarik, tulisan Ragil Nugroho, PKS dan Lenin, yang memberi kesimpulan kasar atas pola pengorganisiran revolusioner yang dilakukan oleh Lenin di Rusia, dan menyejajarkannya dengan pola pengorganisiran suatu partai Islam borjuistik (baca: PKS), diapresiasi oleh Martin Suryajaya dengan penalaran filosofis yang berbelit-belit. Dalam tulisannya, Lenin, PKS dan Realisme,Martin terlihat sedang mencari pembenaran dari buku Lenin – Materialism and Empirio-Criticism – untuk memberi sentuhan filsafat pada tulisan Ragil yang kasar; untuk membangun opini pembaca bahwa kritik Ted Sprague atas Ragil adalah keliru; dan juga untuk mencari pengakuan bahwa Ragil adalah seorang realis, atau – meskipun bukan orang yang betul-betul memahami ide-ide Lenin – setidaknya, orang yang mampu mempraktekkan realisme Lenin di lereng Merapi.

Kerja Rumah Tangga, Belenggu Perempuan

Sejak kita kecil, peran kita di dalam keluarga sepertinya sudah disuratkan oleh takdir. Laki-laki bekerja mencari nafkah. Perempuan di rumah mengurus rumah tangga dan membesarkan anak. Tidak ada yang mempertanyakan mengapa kodrat laki-laki dan perempuan demikian adanya. Kadang-kadang jawaban yang diberikan tampak begitu mudah dan masuk akal: laki-laki fisiknya lebih kuat, oleh karenanya ia lebih cocok bekerja di luar, sedangkan wanita itu lemah lembut dan lebih cocok bekerja di dalam rumah.

PKS Bukan Lenin

Jawaban terhadap "PKS dan Lenin"nya Ragil Nugroho. Sudah terlalu sering kita temui mereka-mereka yang mencolek Marxisme dan Leninisme untuk menambal pemikiran mereka yang bolong-bolong, dengan harapan kalau kilau Marxisme-Leninisme bisa membuat pemikiran mereka yang dangkal dan membosankan semakin menarik, atau justru menyilaukan mata kita dari buruknya gagasan mereka.

Bekerja di Organisasi Massa

Adalah sebuah hukum umum bahwa ketika buruh pertama kali bergerak mereka akan bergerak melalui organisasi massa tradisional mereka. Mereka akan menggunakan hal pertama yang ada di depan mata mereka. Mereka akan menggunakan alat yang saat itu ada di tangan mereka. Mereka akan menguji alat-alat mereka. Melalui pengalaman ini, mereka akan mengubah alat mereka, atau membuangnya dan membuat yang baru bila diperlukan. Tugas kita adalah menemani mereka di dalam perjalanan mereka ini, dan membantu mereka mencapai kesimpulan revolusioner dengan menjelaskan perspektif Marxis secara sabar kepada mereka, memberikan mereka analisa yang detil.

Sampai Mana Kesadaran Kelas Kita?

Dalam ranah kesadaran kelas kaum buruh, aksi buruh menolak kenaikan harga BBM pada bulan Maret kemarin merupakan satu peristiwa kenaikan revolusioner. Dalam filsafat Marxis, kenaikan revolusioner ini bisa disebut fase perubahan dari kuantitas menjadi kualitas: yaitu titik kritis di mana perubahan-perubahan kecil menghantar pada perubahan kualitas yang bersifat fundamental. Tentu, hal ini terjadi bukan tanpa penyebab. Di situ terdapat peristiwa-peristiwa politik yang mampu mengakselerasi loncatan kesadaran tersebut.