facebooklogocolour

Situs Militan Indonesia akan ditutup pada akhir Oktober. Kunjungi situs Perhimpunan Sosialis Revolusioner (revolusioner.org)!

Pengantar Program Transisional Edisi Bahasa Indonesia (Internasional Keempat dan Program Transisional)

Program Transisional Untuk Revolusi Sosialis adalah sebuah dokumen perspektif politik yang ditulis oleh Leon Trotsky untuk Kongres Pembentukan Internasionale Keempat pada tahun 1938. Depresi Hebat 1929, kebangkitan Hitler tahun 1933, cekaman Perang Dunia baru yang kemudian pecah tahun 1939, Perang Sipil Spanyol, inilah periode yang dimasuki oleh masyarakat kita ketika Leon Trotsky menggagaskan dan mempersiapkan sebuah Internasionale yang baru dengan tugas sejarah “menumbangkan kapitalisme, bukan mengubahnya ... dan penaklukkan kekuasaan oleh kelas proletariat guna menyita hak kepemilikan kelas borjuis.”

Koran Revolusioner – Lembaran Kertas untuk Revolusi

koran revolusionerKeberadaan koran sangatlah penting bagi kaum revolusioner yang ingin mewujudkan revolusi Sosialis. Dan, tentu, koran milik kaum revolusioner bukanlah lembaran-lembaran kertas yang bertuliskan bualan-bulan; bukan pula lembaran-lembaran yang dihiasi gambar-gambar produk untuk dipasarkan; bukan lembaran-lembaran yang sesak dengan berita para selebriti – yang sedang bermasalah, sedang jalan-jalan, sedang memburu makanan, sedang menikah; cerai, jatuh cinta, beli mobil mewah, dll. Koran revolusioner adalah lembaran-lembaran kertas yang bertuliskan panduan bagaimana mewujudkan revolusi.

Pemberontakan Komunis 1926

Lebih dari dua puluh tahun -- bahkan sampai sekarang --  setelah pemberontakan PKI terhadap penjajah Belanda pada tahun 1926 yang menemui kegagalan besar dan menyebabkan dibantainya dan dipenjaranya ribuan kader-kader PKI, nama Tan Malaka kerap dihubungkan dengan insiden ini secara negatif. Dari yang menuduhnya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan pemberontakan ini sampai yang mencibirnya sebagai pemimpin yang pesimis dan tidak mendukung pemberontakan rakyat. Berikut ini adalah tesis pembelaan dan pandangan Tan Malaka mengenai Pemberontakan PKI 1926, yang disadur dari "Thesis" karyanya pada tahun 1948. Pendeknya, Tan Malaka tidak setuju dengan pemberontakan tersebut karena ini bersifat avonturis dan pada akhirnya justru menyebabkan hancurnya satu generasi kader PKI, dimana semenjak kegagalan pemberontakan tersebut PKI de fakto hancur dan menghilang dari panggung politik selama lebih dari dua dekade. Menurut Tan Malaka, PKI saat itu harusnya tidak terprovokasi dan mundur untuk membangun kekuatannya supaya bisa menyerang pada saat yang tepat di hari depan. Kemampuan untuk bisa mundur secara teratur adalah sama pentingnya dengan kemampuan untuk bisa maju menyerang.

Apa itu Stalinisme?

Berikut ini adalah saduran dari bab V dari buku “Revolusi yang Dikhianati” karangan Leon Trotsky tahun 1936. Kebangkitan Stalinisme dari Revolusi Oktober terus menjadi momok bagi sosialisme. Di satu pihak, kelas borjuasi terus menggunakan hantu Stalinisme untuk mendiskreditkan Marxisme. Di lain pihak, kaum revolusioner terus kebingungan dalam menjelaskan bagaimana Stalinisme bisa muncul. Karya Leon Trotsky yang bersejarah ini tetap merupakan satu-satunya analisa revolusioner mengenai sebab-musabab degenerasi Revolusi Oktober. Ditulis oleh pemimpin dan pembela Revolusi Oktober, karyanya ini memberikan senjata bagi kaum revolusioner untuk menghancurkan fitnah kaum borjuasi dan bagaimana  melawan kekuatan kontra-revolusioner yang kerap menghantui setiap revolusi buruh.

Penuntun Kaum Buruh

Awal abad ke-20, Indonesia (Hindia Belanda saat itu) menyaksikan lahirnya kelas proletar: pekerja rel kereta api, pegawai kantor pegadaian, buruh perkebunan dan pabrik gula, dan banyak lagi. Semua ini diciptakan oleh kapitalisme Belanda yang membutuhkan tenaga kerja lokal yang trampil untuk bisa lebih menjarah bumi Indonesia. Namun dengan ini, Belanda menciptakan penggali liang kuburnya sendiri. Serikat-serikat buruhpun tumbuh seperti jamur. Buruh mulai berorganisasi. Semaoen lalu menulis apa yang menjadi buku panduan serikat buruh pertama di Indonesia, yang isinya sampai sekarang masihlah relevan. Rejim Soeharto telah menghancurkan tradisi Serikat Buruh di negeri kita, dan LSM-LSM perburuhan pun telah menelikung tradisi ini. Kita harus mengembalikan semangat dan tradisi serikat buruh yang sejati. Kami harap buku ini dapat menjadi titik tolak dalam usaha ini.

Mengenal Dasar-dasar Filsafat Marxisme: Bagian I. Materialisme Dialektis

Secara historis, filsafat marxisme adalah filsafat perjuangan kelas buruh untuk menumbangkan kapitalisme dan membawa sosialisme. Sejak filsafat ini dirumuskan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels semenjak tahun 1840an dan terus berkembang, filsafat ini telah mendominasi perjuangan buruh secara langsung maupun tidak langsung. Kendati usaha-usaha para akademisi borjuis untuk menghapus ataupun menelikung Marxisme, filsafat ini terus hadir di dalam sendi-sendi perjuangan kelas buruh.

Prospek Revolusi Sosialis di Negeri Terbelakang

Artikel ini disadur dari bab IV buku “Hasil dan Prospek” (Prospek Kediktaturan Buruh) yang ditulis oleh Leon Trotsky pada tahun 1906.  Dalam artikel ini, Trotsky memprediksi bahwa kaum buruh Rusia, sebuah negara terbelakang, akan merebut kekuasaan dan melaksanakan revolusi sosialis. Sebelas tahun kemudian, prognosisnya terbukti di dalam Revolusi Oktober 1917 dimana kaum buruh Rusia memimpin revolusi sosialis  yang mengubah tatanan politik dunia pada abad ke-20. Kaum buruh Indonesia kini dihadapkan pada tugas yang sama, dan perdebatan yang serupa juga terjadi di dalam gerakan Indonesia: apa prospek revolusi sosialis di Indonesia? Rusia bukan Indonesia, dan Indonesia bukan Rusia, tetapi kami berharap bahwa prognosis Trotsky ini dapat membantu kaum revolusioner Indonesia menemukan jawaban dari pertanyaan di atas.

Imperialisme sebagai sebuah tahapan khusus dari kapitalisme

Bila kita harus memberikan imperialisme sebuah definisi yang paling singkat, kita dapat mengatakan bahwa imperialisme adalah tahapan monopoli dari kapitalisme. Definisi semacam ini akan mengikutsertakan hal-hal yang paling penting; di satu pihak, kapital finansial adalah kapital dari beberapa bank monopoli yang sangat besar, yang merger dengan kapital dari asosiasi-asosiasi monopoli industrialis; dan di pihak yang lain, pembagian dunia adalah transisi dari sebuah kebijakan kolonial yang telah meluas tanpa halangan ke daerah-daerah yang belum direbut oleh kekuatan kapitalis, ke sebuah kebijakan kolonial kepemilikan monopoli atas daerah-daerah dunia, yang telah dibagi-bagi sepenuhnya.

Birokratisme dan Kelompok Faksi

Tidak diragukan kalau kita akan terus memiliki bukan satu tetapi lusinan perbedaan pendapat di masa depan, karena jalan kita adalah jalan yang penuh kesulitan, dan tugas-tugas politik serta masalah-masalah ekonomi dari pembangunan sosialisme akan selalu menyebabkan perbedaan-perbedaan pandangan dan pengelompokan-pengelompokan opini yang sementara. Bagi partai kita, verifikasi politik dari semua perbedaan politik dengan analisa Marxis akan selalu menjadi salah satu cara yang paling efektif. Verifikasi Marxis inilah yang harus diterapkan, dan bukan frase-frase stereotipikal yang merupakan mekanisme pertahanan birokratisme. Bila “jalan baru” dijalani dengan lebih serius, akan mungkin untuk mengendalikan semua ideologi-ideologi politik yang heterogen yang sekarang sedang bangkit melawan birokratisme dan untuk membersihkan mereka dari elemen-elemen asing dan berbahaya. Tetapi ini akan mustahil bila tidak ada perubahan radikal di dalam mentalitas dan maksud dari aparatus partai.

Tugas-Tugas Pendidikan Komunis

Di artikel yang ditulisnya untuk majalah Pravda pada tahun 1922 mengenal masalah sehari-hari masyarakat Soviet setelah revolusi, Trotsky berbicara mengenai apa arti pendidikan komunis itu sesungguhnya: yakni untuk mendidik kaum revolusioner yang akan menyelesaikan tugas-tugas historis kelas buruh yang belum selesai.