facebooklogocolour

Nalar yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern. Bab 13. Terciptanya Pikiran

Bab 13. Terciptanya Pikiran

Teka-teki Tentang Otak

“Alam organik tumbuh dari alam tak hidup; alam yang hidup menghasilkan sebuah bentuk yang sanggup berpikir. Pertama-tama, kita memiliki materi, yang tidak dapat berpikir; dari mana tumbuh materi yang dapat berpikir, manusia. Jika memang ini yang terjadi – dan kita tahu bahwa demikianlah halnya, dari ilmu alam – jelaslah bahwa materi adalah ibu dari pikiran; bukan pikiran yang menjadi ibu dari materi. Anak-anak tidak pernah lebih tua dari orang tua mereka. 'Pikiran' datang belakangan, dan maka dari itu kita harus menganggapnya sebagai keturunan, dan bukan orang tua ... materi ada sebelum munculnya manusia yang berpikir; bumi ada jauh sebelum munculnya 'pikiran' apapun di permukaannya. Dengan kata lain, materi ada secara objektif, tidak tergantung dari 'pikiran'. Tapi fenomena-fenomena batiniah, yang disebut 'pikiran' itu, tidak pernah dan tidak akan hadir tanpa materi. Pikiran tidak ada tanpa otak; nafsu adalah mustahil tanpa ada organisme yang memiliki nafsu itu .... Dengan kata lain; fenomena batiniah, fenomena kesadaran, adalah sekedar ciri dari materi yang terorganisir dalam cara tertentu, satu 'fungsi' dari materi semacam itu.” (Nikolai Bukharin)[1]

“Interpretasi atas mekanisme otak merupakan salah satu misteri biologis yang terakhir, tempat pengungsian terakhir bagi mistisisme gelap dan filsafat religius yang penuh spekulasi.” (Steven Rose)

Selama berabad-abad, seperti yang telah kita lihat, isu sentral dari filsafat adalah pertanyaan tentang hubungan antara pikiran dan keberadaan. Kini, setelah menunggu begitu lama, langkah-langkah besar yang telah dibuat oleh sains mulai menyingkap sifat sejati dari pikiran dan bagaimana ia bekerja. Kemajuan-kemajuan ini menyediakan konfirmasi yang tegas terhadap cara pandang materialis, terutama berkaitan dengan kontroversimengenai otak dan neurobiologi. Tempat persembunyian terakhir bagi mistisisme kini tengah digempur habis-habisan, yang tidak mencegah para idealis untuk melancarkan serangan balasan dari belakang, seperti yang ditunjukkan kutipan di bawah ini:

“Ketika menjadi mustahil untuk menyelidiki unsur-unsur non-material dari penciptaan ini, banyak orang kemudian mengabaikannya. Mereka berpikir bahwa hanya materilah yang riil. Dan dengan demikian pemikiran kita yang terdalam sekalipun harus direduksi menjadi bukan apa-apa selain hasil dari sel-sel otak yang bekerja menurut hukum-hukum kimia. ... Kita boleh menelaah respons-respons elektrik otak yang mengiringi pikiran, tapi kita tidak dapat mereduksi Plato menjadi sekedar denyutan syaraf, atau Aristoteles menjadi sekedar gelombang alfa. ... Penggambaran tentang pergerakan fisik tidak akan pernah menyingkapkan makna pergerakan itu sendiri. Biologi hanya dapat menyelidiki dunia neuron dan sinapsis yang saling terhubung itu.”[2]

Apa yang kita sebut “pikiran” adalah sekedar cara mengada dari otak. Tentu ini adalah sebuah fenomena yang teramat rumit, hasil dari berjuta tahun evolusi. Kesulitan dalam menganalisa proses-proses kompleks yang terjadi dalam otak dan sistem syaraf, dan kesalingterhubungan yang sama kompleksnya antara proses mental dan lingkungannya, berarti bahwa pemahaman yang tepat atas sifat pikiran telah tertunda selama berabad-abad. Penundaan ini telah memungkinkan para idealis dan teolog untuk berspekulasi tentang sifat mistis dari apa yang mereka sebut “jiwa”, yang dipandang sebagai sebuah zat non-material yang bersemayam sementara di dalam tubuh manusia. Kemajuan neurobiologi modern berarti bahwa kaum idealis akhirnya mulai benar-benar terusir dari tempat pengungsian terakhir mereka. Sejalan dengan semakin terbukanya rahasia-rahasia di balik otak dan sistem syaraf, semakin mudahlah untuk menjelaskan pikiran, tanpa harus menyandarkan diri pada agen-agen supernatural, sebagai jumlah total dari aktivitas otak.

Mengutip ahli neurobiologi Steven Rose, pikiran dan kesadaran adalah:

“... konsekuensi yang niscaya dari evolusi struktur-struktur otak tertentu yang berkembang dalam serangkaian perubahan evolusioner dalam jalan yang ditempuh oleh kemunculan umat manusia ... kesadaran adalah satu konsekuensi dari evolusi dari satu tingkatan kompleksitas dan derajat interaksi tertentu di antara sel-sel syaraf (neuron) di vorteks serebral, sementara bentuk yang diambil tiap-tiap otak dimodifikasi secara mendasar oleh perkembangannya dalam hubungannya dengan lingkungannya.”[3]

Pikiran – Sebuah Mesin?

Konsepsi-konsepsi tentang otak manusia telah berubah pesat selama lebih dari 300 tahun terakhir, sejak kelahiran sains modern dan bangkitnya masyarakat kapitalis. Dalam sejarah, cara memandang otak telah diwarnai oleh prasangka-prasangka religius dan filsafat yang berkembang di masanya. Bagi Gereja, pikiran adalah “rumah Tuhan”. Materialisme mekanistik di abad ke-18 menganggapnya sebagai sebuah mesin mekanik seperti sebuah jam. Baru-baru ini, ia digambarkan sebagai penjumlahan yang mustahil atas kejadian-kejadian probabilistik. Di abad pertengahan, ketika ideologi Katolik mendominasi segala hal, jiwa dikatakan terserap ke dalam segala bagian tubuh; otak, tubuh, pikiran dan materi tidaklah dapat dibedakan. Dengan munculnya Copernicus, Galileo, dan akhirnya Newton dan Descartes, dengan pandangan materialisme mekanik mereka, terjadilah pergeseran sudut pandang.

Bagi Descartes, dunia ini adalah semacam mesin, dan organisme-organisme hidup hanyalah sejenis mesin jam atau mesin hidraulik. Gambaran mesin Cartesian inilah yang telah mendominasi sains dan berfungsi sebagai perumpamaan yang mengabsahkan satu pandangan tertentu atas dunia, yang mengambil mesin sebagai model untuk organisme hidup dan bukan sebaliknya. Tubuh adalah satu keseluruhan yang tak terpisahkan, yang segera kehilangan ciri-ciri hakikinya begitu ia dilepaskan dari keseluruhan itu. Mesin, sebaliknya, dapat dibongkar agar dapat dipahami dan kemudian dipasang kembali. Tiap bagian melakukan fungsi yang dapat dianalisa secara terpisah, dan keseluruhannya bekerja dalam cara yang reguler, yang dapat diuraikan melalui kerja bagian-bagiannya yang saling mempengaruhi.

Pada tiap tahap, penggambaran tentang otak telah dengan setia mencerminkan keterbatasan sains pada masa tersebut. Pandangan dunia yang mekanistik dari abad ke-18 mencerminkan fakta bahwa sains yang paling modern waktu itu adalah mekanika. Bukankah Newton yang agung telah menjelaskan seluruh alam semesta ini melalui hukum-hukum mekanika? Lalu mengapa tubuh dan pikiran manusia harus bekerja dengan cara yang lain? Descartes menerima baik pandangan ini ketika ia menggambarkan tubuh manusia sebagai sejenis mesin. Tapi karena Descartes adalah seorang Katolik yang taat, ia tidak dapat membuat dirinya menerima bahwa jiwa yang kekal itu dapat menjadi bagian dari mesin ini. Ia harus menjadi sesuatu yang sama sekali terpisah, yang terletak pada satu area khusus di dalam otak, apa yang disebutnya sebagai kelenjar pineal. Di dalam bagian otak yang lokasinya tidak jelas ini, Jiwa bersemayam sementara dalam tubuh manusia, dan memberi hidup pada mesin itu. Steven Rose menulis:

“Dengan demikian berkembanglah satu pemisahan yang niscaya, tapi fatal, bagi pemikiran ilmiah Barat, yakni dogma yang dikenal dalam kasus Descartes dan para penerusnya sebagai dogma ‘dualisme’; sebuah dogma yang, seperti yang nanti kita lihat, adalah konsekuensi yang niscaya dari segala macam materialisme reduksionis yang pada akhirnya tidak ingin menerima bahwa manusia 'tidak lain' adalah pergerakan dari molekul-molekulnya. Dualisme adalah sebuah solusi untuk paradoks dari mekanisme, yang memungkinkan agama dan sains reduksionis menunda selama dua abad perperangan besar di antara mereka untuk supremasi ideologis. Dogma ‘dualisme’ ini adalah sebuah solusi yang sesuai dengan tatanan kapitalis, karena pada hari-hari kerja ia memungkinkan seorang untuk memperlakukan orang lain sebagai sekedar mesin fisik, yang terobjektifikasi, dan mengeksploitasi tanpa kontradiksi, sementara di hari Minggu kontrol ideologis dapat diperkuat dengan pernyataan bahwa kekekalan dan kehendak bebas dari jiwa yang bersemayam di dalam tubuh tidak akan terpengaruh oleh trauma-trauma yang dialaminya di dunia pada hari-hari kerja.”[4]

Di abad ke-18 dan 19, pandangan tentang pikiran sebagai “hantu yang menghuni mesin” berubah. Dengan ditemukannya listrik, otak dan sistem syaraf kemudian dilihat sebagai satu jaring-jaring elektrik. Pada peralihan abad ini, analogi rumah telepon muncul pula, di mana otak mengolah pesan-pesan dari berbagai organ yang berbeda. Dengan datangnya era produksi massal, datang pula model organisasi bisnis, seperti yang dinyatakan dalam kutipan berikut yang berasal dari sebuah ensiklopedia anak-anak:

“Bayangkan otakmu sebagai cabang eksekutif dari sebuah perusahaan besar. Ia dibagi-bagi, seperti yang kamu lihat di sini, ke dalam banyak departemen. Yang duduk di meja besar di kantor pusat itu adalah Manajer Umum (GM) – kesadaran dirimu – dengan kabel telepon yang tersambung ke berbagai departemen. Di sekitarmu ada para asisten utamamu –Mandor Pesan Masuk, seperti Penglihatan, Pengecapan, Penciuman, Pendengaran, dan Perasaan (dua yang terakhir terletak di belakang kantor pusat). Di dekatmu terdapat juga Mandor Pesan Keluar yang mengendalikan Bicara dan pergerakan Tangan, Kaki dan lain-lain bagian tubuhmu. Tentu saja, hanya pesan-pesan yang paling penting yang akan sampai ke kantor pusat. Tugas-tugas rutin seperti menjalankan jantung, paru-paru dan perut atau mengawasi detil-detil kecil dari kerja-kerja otot dijalankan oleh Manajer Aksi Otomatis di dalam Medulla Oblongata dan Manajer Aksi Refleks di Cerebellum. Semua departemen lainnya membentuk apa yang disebut para ilmuwan sebagai Cerebrum”

Dengan munculnya komputer yang dapat menjalankan perhitungan dalam jumlah yang luar biasa, niscaya otak disamakan dengan komputer. Cara komputer untuk menyimpan informasi dikenal sebagai memori. Komputer-komputer yang semakin hari semakin kuat terus dibangun. Seberapa dekat sebenarnya komputer dengan otak manusia? Pada akhirnya, fiksi ilmiah telah membawa film Terminator kepada kita, di mana komputer dikatakan telah melampaui kecerdasan manusia dan berniat untuk mengambil alih kendali atas dunia. Namun, seperti yang dijelaskan Steven Rose dalam bukunya yang paling mutakhir:

“Otak tidak bekerja berdasarkan informasi seperti komputer, tapi berdasarkan makna. Dan pemaknaan adalah sebuah proses yang dibentuk secara historis dan melalui perkembangan yang panjang, yang diekspresikan oleh individu dalam interaksinya dengan lingkungan alam dan sosialnya. Sungguh, salah satu masalah dalam menelaah ingatan adalah kenyataan bahwa memori adalah sebuah fenomena yang dialektik. Karena tiap kali kita mengingat, kita melakukan kerja terhadap memori kita dan mengubahnya; ingatan itu tidak sekedar dipanggil dari tempat penyimpanannya, dan setelah digunakan lalu dikembalikan ke tempatnya dalam keadaan utuh. Ingatan kita diciptakan kembali setiap kali kita mengingat.”[5]

Apa itu Otak?

Otak manusia adalah titik tertinggi yang sampai saat ini telah dicapai oleh evolusi materi. Secara fisik, beratnya sekitar 1,5 kilogram, yang lebih berat dari kebanyakan organ manusia yang lain. Permukaannya berkerut seperti kacang walnut dan memiliki warna dan konsistensi seperti bubur dingin. Namun, ia sangat kompleks secara biologis. Ia mengandung sejumlah besar sel (neuron), mungkin berjumlah 100 miliar totalnya. Tapi bahkan ini masih akan terasa sangat kecil ketika kita menemukan bahwa tiap neuron masih tertanam lagi dalam sekumpulan sel yang lebih kecil yang disebut glia, yang berfungsi menyokong neuron.

Otak sebagian besar terdiri dari cerebrum, yang terbagi dalam dua bagian yang sama besar. Permukaannya dikenal sebagai korteks. Ukuran korteks membedakan manusia dari organisme lainnya. Cerebrum dibagi lagi menjadi area-area atau lobe, yang secara kasar berhubungan dengan fungsi-fungsi tubuh tertentu dan dalam pengolahan informasi indrawi. Di belakang cerebrum terletaklah cerebellum, yang mengawasi semua pergerakan otot kecil di seluruh tubuh. Di bawah bagian ini adalah sebuah batang tebal yang disebut batang otak, yang merupakan kelanjutan dari syaraf tulang belakang. Batang otak ini membawa serat syaraf dari otak melalui tulang belakang dan sampai ke sistem syaraf di seluruh tubuh, memungkinkan semua bagian tubuh berkomunikasi dengan otak.

Ukuran otak yang besar, yang menentukan pemisahan manusia dari hewan-hewan lainnya, terutama karena perbesaran dari lapisan sel-sel syaraf luar yang tipis, yang dikenal sebagai neo-korteks. Namun, perluasan bagian ini tidak terjadi secara seragam. Frontal lobe, yang dikaitkan dengan perencanaan dan kemampuan menganalisa ke depan, jauh lebih berkembang daripada bagian yang lain. Hal yang sama terjadi pula pada cerebellum, di bagian belakang tengkorak, yang dihubungkan dengan kemampuan refleks, serangkaian tindakan sehari-hari yang kita lakukan tanpa berpikir, seperti mengendarai sepeda, memindahkan gigi ketika mengemudi atau mengancingkan baju tidur.

Otak itu sendiri mengandung sebuah sistem sirkulasi yang sanggup membagikan zat gizi ke bagian-bagian yang jauh dari pembuluh darah. Ia menerima jatah darah yang besar, yang membawa glukosa dan oksigen yang vital bagi otak. Sekalipun otak manusia dewasa hanya merupakan 2% dari seluruh berat tubuhnya, konsumsi oksigennya adalah 20% dari total – dan pada bayi jumlah ini adalah 50%. Dua puluh persen dari konsumsi glukosa tubuh terjadi di otak. Seperlima bagian penuh dari darah dipompakan oleh jantung ke otak. Syaraf menghantarkan informasi secara elektrik. Sinyal-sinyal mengalir melalui sel syaraf sebagai gelombang-gelombang listrik; sebuah pulsa yang mengalir dari sel tubuh ke ujung urat syaraf. Jadi bahasa otak terdiri dari denyut-denyut listrik, bukan hanya jumlahnya tapi juga frekuensinya. “Informasi yang mendasari prediksi-prediksi,” tulis Rose, “tergantung pada kedatangan data dari permukaan tubuh dalam bentuk cahaya dan bunyi yang terdiri dari berbagai panjang gelombang dan intensitas, fluktuasi dalam suhu, tekanan pada titik tertentu dari kulit, konsentrasi dari berbagai zat kimia yang dideteksi oleh hidung atau lidah. Di dalam tubuh, data ini diubah menjadi serangkaian sinyal listrik yang mengalir melalui syaraf tertentu ke wilayah otak sentral di mana sinyal itu berinteraksi satu sama lain untuk menghasilkan respons-respons tertentu.”

Neuron terdiri dari segala jenis properti (dendrit, sel tubuh, akson, sinapsis), yang menghantarkan pesan berantai ini (pesan sampai pada sinapsis melalui akson). Dengan kata lain, neuron adalah satu unit dari sistem otak. Ribuan neuron motorik terlibat dalam tiap gerak otot yang terkoordinir. Tindakan-tindakan yang lebih kompleks akan melibatkan jutaan – sekalipun satu juta neuron barulah merupakan 0,01% dari jumlah yang tersedia dalam korteks manusia. Tapi otak tidak dapat dipahami sebagai sekedar jumlah total dari berbagai bagian yang terpisah-pisah. Walaupun telaah secara rinci atas bagian-bagian yang menyusun otak harus kita lakukan, kita tidak boleh melangkah lebih jauh dari sana.

“Terdapat banyak tingkatan di mana kita dapat menggambarkan perilaku otak,” tegas Rose. “Kita dapat menggambarkan struktur kuantum dari atom-atomnya, atau ciri-ciri molekular dari zat-zat kimia yang menyusunnya; tampilan mikrografik-elektron dari tiap-tiap sel yang ada di dalamnya; perilaku dari neuron-neuronnya sebagai sebuah sistem yang berinteraksi; sejarah perkembangan atau evolusi dari neuron ini sebagai pola yang berubah dengan waktu; respons perilaku dari tiap-tiap manusia yang otaknya sedang diteliti; lingkungan sosial atau keluarga manusia itu, dan seterusnya.”[6]

Untuk memahami otak, kita harus memahami kesalingterhubungan yang kompleks dan dialektik antara bagian-bagiannya. Kita harus menyatukan semua jenis ilmu pengetahuan: ethologi, psikologi, fisiologi, farmakologi, biokimia, biologi molekuler, bahkan juga sibernetika dan matematika.

Evolusi Otak

Dalam mitologi kuno, dewi Minerva [Athena] diciptakan dalam keadaan berpakaian tempur lengkap langsung dari kepala Yupiter [Zeus]. Otak tidaklah seberuntung itu. Jauh dari penciptaan langsung semacam itu, ia harus berevolusisampai ke keadaannya sekarang sebagai sebuah sistem yang kompleks selama jutaan tahun. Ia muncul pada tahapan evolusi yang sangat primitif. Organisme-organisme bersel tunggal menunjukkan pola-pola perilaku tertentu (misal, pergerakan menuju cahaya atau zat gizi). Dengan munculnya kehidupan multiseluler, sebuah divisi yang tajam terjadi antara hewan dan tumbuhan. Walaupun memiliki alat-alat sinyal internal yang memungkinkan dirinya “berkomunikasi”, evolusi tumbuhan bergerak membelakangi evolusi syaraf dan otak. Pergerakan binatang membutuhkan komunikasi yang cepat antar sel-sel yang ada di berbagai bagian tubuh yang berbeda.

Organisme yang paling sederhana dapat mencukupi kebutuhannya sendiri; ia memiliki segala yang dibutuhkannya dalam satu sel saja. Komunikasi antar bagian dalam sel terjadi dengan sangat bersahaja. Di pihak lain, organisme multiseluler berbeda secara kualitatif dan memungkinkan terjadinya perkembangan spesialisasi antar sel. Sel-sel tertentu dapat mengurusi terutama persoalan pencernaan, yang lain menyediakan lapisan pelindung, dan yang lain menyediakan sirkulasi, dan seterusnya. Sistem sinyal kimiawi (hormon) ditemuidi organisme multiseluler yang paling primitif. Bahkan pada tingkat yang demikian primitif, sel-sel yang telah terspesialisasi telah dapat ditemukan. Itu adalah satu langkah menuju sistem syaraf. Organisme yang lebih kompleks, seperti cacing pita telah mengembangkan sebuah sistem syaraf, di mana neuron telah dikumpulkan menjadi ganglion. Telah ditemukan bahwa ganglion adalah rantai evolusioner antara syaraf dan otak. Kumpulan sel syaraf ini juga ditemui pada serangga, krustasea dan moluska.

Perkembangan kepala dan lokasi mata dan mulut cacing pita memberi sebuah keuntungan dalam menerima informasi tentang arah pergerakan hewan tersebut. Sejalan dengan perkembangan ini, sekelompok ganglia dikumpulkan dalam kepalanya. Ini mencerminkan evolusi dari otak – sekalipun masih dalam bentuk yang sangat primitif. Cacing pita juga menunjukkan kemampuan belajar– satu properti kunci dari otak yang telah berkembang baik. Ini merupakan sebuah lompatan revolusioner.

Lebih dari satu dasawarsa lalu, para ilmuwan syaraf Amerika menemukan bahwa mekanisme seluler dasar untuk pembentukan ingatan pada manusia juga terdapat pada siput. Profesor Eric Kandel dari Columbia University menelaah proses belajar dan mengingat dari siput laut Aplysia californica, dan menemukan bahwa mereka menunjukkan beberapa fitur dasar yang juga ditemui pada manusia. Perbedaannya adalah bahwa, sementara otak manusia memiliki 100 miliar sel syaraf, Aplysia hanya memiliki beberapa ribu saja, dan sel itu besar-besar. Fakta bahwa kita memiliki mekanisme-mekanisme yang sama dengan seekor siput laut adalah jawaban yang cukup bagi upaya-upaya keras kepala dari kaum idealis untuk menggambarkan manusia sebagai sebuahciptaan yang unik, yang berbeda dan terpisah sama sekali dari hewan-hewan lain. Karena hampir setiap fungsi otak tergantung pada ingatan, dengan satu atau lain cara. Tidak ada campur-tangan ilahi yang diperlukan untuk menjelaskan fenomena ini. Proses-proses alam cenderung sangat konservatif. Setelah ia mencapai sebuah adaptasi yang terbukti berguna untuk melakukan fungsi-fungsi tertentu, proses ini akan terus direplikasi sepanjang evolusinya, diperbesar dan diperbaiki sampai tingkatan di mana ia akan memberikan satu keuntungan evolusioner tertentu.

Evolusi telah memasukkan banyak inovasi ke dalam otak hewan-hewan, terutama pada primata tingkat tinggi dan manusia yang memiliki otak berukuran sangat besar. Walaupun Aplysia dapat “mengingat” sesuatu sampai beberapa minggu, ingatannya hanya melibatkan aktivitas mental yang dikenal sebagai kebiasaan pada manusia. Ingatan semacam ini terlibat dalam, katakanlah, ketika kita mengingat bagaimana caranya berenang. Riset terhadap orang-orang yang mengalami kerusakan otak menunjukkan bahwa bagian otak yang digunakan untuk mengingat fakta dan kebiasaan adalah terpisah. Seseorang dapat kehilangan ingatannya akan fakta-fakta, tapi masih tetap bisa mengendarai sepeda. Ingatan yang mengisi pikiran manusia, tentu saja, jauh lebih kompleks daripada proses sistem syaraf seekor siput.

Perbesaran otak yang terus menerus membutuhkan perubahan drastis dalam evolusi hewan tersebut. Sistem syaraf anthropoda atau moluska tidak dapat berkembang lebih jauh karena keterbatasan dari desain dasarnya. Sel-sel syaraf tersusun dalam cincin di sekitar perut, dan jika diperbesar akan dengan cepat menekan isi perut – batasan ini dengan jelas terlihat pada laba-laba, di mana perut demikian tertekannya oleh cincin syaraf sehingga ia hanya dapat mencerna makanan yang berupa cairan. Serangga tidak dapat tumbuh lebih besar dari ukuran tertentu karena struktur tubuh mereka akan remuk oleh berat tubuh mereka sendiri. Ukuran otak mereka telah mencapai batasan fisiknya. Serangga raksasa dalam film tidak akan pernah dapat melompat keluar dari dunia fiksi ilmiah.

Perkembangan lebih lanjut dari otak menuntut pemisahan syaraf dari perut. Kemunculan ikan bertulang belakang menyediakan model bagi perkembangan tulang belakang dan otak. Rongga otak dapat menampung otak yang besar dan syaraf dapat menjulur melalui tulang belakang. Dari rongga mata berkembanglah mata yang sanggup membuat citra dari cahaya, yang menyajikan sebuah pola optik bagi sistem syaraf. Dengan kemunculan amfibi dan reptil di darat kita menyaksikan perkembangan pesat dari otak bagian depan, yang terjadi dengan mengorbankan perkembangan optic lobe.

Dua puluh tahun lalu Harry Jerison dari University of California mengembangkan gagasan tentang korelasi antara ukuran otak dengan ukuran tubuh, dan melacak perkembangan evolusionernya. Ia menemukan bahwa reptil berotak kecil 300 juta tahun lalu dan tetap demikian sampai saat ini. Grafik yang dibuatnya untuk menggambarkan perbandingan ukuran otak dengan ukuran tubuh reptil menghasilkan sebuah garis lurus, di dalamnya termasuk dinosaurus. Namun, evolusi dari mamalia pertama 200 juta tahun lalu menandai lompatan dalam ukuran relatif otak. Hewan-hewan malam yang kecil ini memiliki perbandingan ukuran otak yang empat sampai lima kali lebih besar daripada rata-rata reptil. Ini terutama disebabkan oleh perkembangan korteks serebral, yang hanya terjadi pada mamalia. Ukuran korteks serebral relatif tetap untuk sekitar 100 juta tahun. Lalu, sekitar 65 juta tahun lalu, ukuran itu berkembang dengan cepat. Menurut Roger Lewin, selama 30 juta tahun perkembangan otak “telah meningkat empat sampai lima kali, dengan peningkatan terbesar berlangsung bersamaan dengan evolusi ungulata (mamalia berkuku belah), karnivora dan primata.” (New Scientist, 5 Desember 1992).

Sejalan dengan evolusi monyet, kera dan manusia, ukuran otak bertambah semakin besar. Bila memperhitungkan ukuran tubuh, otak monyet adalah dua sampai tiga kali lebih besar dari rata-rata mamalia modern, sementara otak manusia adalah sekitar enam kali dari itu. Perkembangan otak bukanlah sebuah perkembangan yang bertahap dan gradual tapi penuh kejutan dan lompatan. “Sekalipun gambaran garis besar ini tidak dapat memasukkan rincian-rincian kecilnya, pesan yang disampaikan cukup jelas,” kata Roger Lewin, “sejarah otak melibatkan masa-masa stagnasi yang panjang, yang dipatahkan oleh ledakan-ledakan perubahan.”

Dalam waktu kurang dari tiga juta tahun – satu lompatan evolusioner – otak berlipat tiga dalam ukuran relatifnya, menghasilkan sebuah korteks yang sekarang merupakan 70-80% dari seluruh volume otak. Spesies hominid bipedal yang pertama berkembang antara 10 dan 7 juta tahun lalu. Namun, ukuran otak mereka relatif kecil, jika dibandingkan dengan kera. Lalu, sekitar 2,6 juta tahun lalu, sebuah ekspansi yang cepat terjadi dengan kemunculan genus Homo. “Satu lompatan dalam evolusi nenek moyang manusia modern terjadi,” ujar geolog Mark Maslin dari Kiel University. “Bukti-bukti yang ada,” paparnya, “menunjukkan bahwa ekspansi otak dimulai sekitar 2,5 juta tahun lalu, sebuah periode yang bertepatan dengan kemunculan pertama dari perkakas-perkakas batu.” Dengan kerja, seperti yang dijelaskan oleh Engels, datanglah perbesaran otak dan perkembangan kemampuan bicara. Komunikasi hewani yang primitif digantikan dengan bahasa –sebuah kemajuan kualitatif. Ini tentunya tergantung pada perkembangan pita suara. Otak manusia sanggup membuat abstraksi dan generalisasi yang melebihi simpanse, spesies yang berkerabat sangat erat dengan mereka.

Dengan peningkatan ukuran otak datang pula peningkatan kompleksitas dan penataan ulang sirkuit-sirkuit syaraf.Yang terutama berkembang adalah bagian depan korteks, zona prefrontal, yang kira-kira berukuran enam kali lebih besar daripada milik kera. Karena ukuran ini, zona ini dapat menonjolkan banyak urat syaraf ke dalam otak bagian tengah, menggeser koneksi-koneksi yang berasal dari bagian-bagian otak yang lain. “Ini mungkin hal yang penting bagi evolusi bahasa,” ujar Terrence Deacon dari Harvard University, yang mencatat bahwa zona prefrontal adalah rumah bagi pusat-pusat bahasa manusia. Bagi manusia, realitas kesadaran ini diwujudkan dalam kesadaran diri dan pikiran.

“Dengan kemunculan kesadaran,” papar Steven Rose, “sebuah lompatan evolusioner kualitatif telah terjadi, yang membuat perbedaan kritis antara manusia dan spesies lainnya, sehingga manusia telah menjadi sangat bervariasi dan lebih tunduk pada interaksi kompleks daripada yang dimungkinkan pada organisme lainnya. Kemunculan kesadaran telah mengubah secara kualitatif mode eksistensi manusia; bersamanya, muncul pula sebuah tatanan kompleksitas yang baru, sebuahtatanan organisasi hierarkis yang lebih tinggi. Tapi karena kita telah mendefinisikan kesadaran bukan sebagai satu bentuk yang statis tapi sebagai satu proses yang melibatkan interaksi antara individu dan lingkungannya, kita dapat melihat bagaimana, sejalan dengan diubahnya hubungan antara manusia selama evolusi masyarakat, demikian pula kesadaran manusia telah diubah. Kapasitas kranial atau jumlah sel kita mungkin tidak terlalu berbeda dari Homo sapiens awal, tapi lingkungan kita – bentuk masyarakat kita – sangatlah berbeda dan demikian pula kesadaran kita – yang juga berarti demikian pula keadaan otak kita.”[7]

Pentingnya Kemampuan Berbicara

Dampak kemampuan berbicara – khususnya perkembangan “inner speech” (berbicara dalam hati)[8]– pada perkembangan otak kita memiliki makna yang sangat menentukan. Ini bukanlah ide yang baru, tapi telah diketahui oleh orang-orang Yunani kuno dan para filsuf di abad ke-17, khususnya Thomas Hobbes. Dalam The Descent of Man, Charles Darwin menjelaskan: “Satu rangkaian pikiran yang panjang dan kompleks tidak akan dapat dilakukan tanpa bantuan kata-kata, apakah itu diucapkan atau tidak, seperti halnya satu perhitungan yang panjang tidak akan dapat dilakukan tanpa penggunaan angka-angka aljabar.” Di tahun 1930-an psikolog Soviet Lev Vygotsky berupaya menegakkan seluruh ilmu psikologi di atas dasar ini.

Dengan menggunakan contoh-contoh dari perilaku anak-anak, ia menjelaskan mengapa anak-anak menghabiskan banyak waktu berbicara pada diri mereka sendiri. Mereka sebetulnya sedang berlatih kebiasaan membuat rencana, yang kelak akan mereka internalisasi sebagai inner speech. Vygotsky menunjukkan bahwa pembicaraan internal adalah basis dari kemampuan manusia untuk mengumpulkan dan memanggil memori. Pikiran manusia didominasi oleh sebuah dunia pikiran internal, yang dirangsang oleh indera kita, yang sanggup melakukan generalisasi dan menarik perspektif. Hewan juga memiliki memori, tapi kelihatannya mereka terkunci pada saat itu saja, yang mencerminkan lingkungannya yang paling segera. Perkembangan inner speech pada manusia memungkinkannya mengingat dan mengembangkan ide-ide. Dengan kata lain, inner speech memainkan peran kunci dalam evolusi pikiran manusia.

Sekalipun Vigotsky wafat terlalu cepat sehingga karyanya terhenti di tengah jalan, ide-idenya telah diambil dan dikembangkan orang, dengan masukan-masukan penting dari antropologi, sosiologi, linguistik dan psikologi pendidikan. Di masa lalu, memori dipelajari sebagai satu sistem biologis yang unitaris, yang mengandung memori jangka pendek dan panjang. Ia dapat diperiksa secara neuro-fisiologis, biokimia dan anatomi. Tapi kini sebuah pendekatan yang lebih dialektik, yang melibatkan ilmu-ilmu lainnya, telah mulai dilancarkan.

“Dalam pendekatan reduksionis ini,” papar Rose, “tugas ilmu pengetahuan terhadap organisme adalah meruntuhkan perilaku individual menjadi konfigurasi-konfigurasi molekular tertentu; sementara telaah tentang populasi organisme dilakukan dengan mencari rangkaian DNA yang menyimpan kode untuk sifat-sifat altruisme[9] yang timbal-balikatau egois.Paradigma pendekatan semacam ini pada dekade terakhir telah membawa pada upaya-upaya untuk memurnikan RNA, protein, atau molekul peptida yang dihasilkan oleh proses belajar dan mencari 'kode' mana yang digunakan untuk jenis ingatan tertentu; atau penyelidikan dari para ahli biologi molekular untuk mencari organisme dengan sistem syaraf yang 'sederhana' yang dapat dipetakan melalui pembedahan mikroskop elektron berangkai dan di mana diagram-diagram sirkuit yang berbeda, yang berkaitan dengan mutasi perilaku tertentu, dapat diidentifikasi.”[10]

Rose menyimpulkan bahwa “reduksionisme macam ini menjerumuskan orangke dalam paradoks yang jauh lebih kejam daripada paradoks para pemodel sistem. Paradoks-paradoks ini telah jelas terlihat, tentu saja, sejak jaman Descartes, yang reduksinya atas organisme sebagai sekedar hewan mesin bersumber tenaga dari sistem hidraulik harus didamaikan dengan, pada kasus manusia, jiwa yang berkehendak bebas, yang katanya terletak di dalam kelenjar pineal. Sekarang, seperti halnya tempo hari, reduksi mekanistik memaksa dirinya sendiri jatuh ke dalam idealisme murni.”

Dalam evolusi otak, beberapa bagian telah dibuang sama sekali. Sejalan dengan berkembangnya struktur-struktur baru, struktur lama mengecil, dalam ukurannya dan dalam perannya. Dengan perkembangan otak datang pula peningkatan kemampuan belajar. Transformasi dari kera menjadi manusia mulanya dianggap dimulai dengan perkembangan otak. Ukuran dari otak kera (menurut volume) berkisar antara 400-600 cc; otak manusia 1.200 sampai 1.500 cc. Saat itu dipercayai bahwa “rantai perantara yang hilang”akan berupa makhluk yang pada hakikatnya mirip kera, tapi dengan ukuran otak yang lebih besar. Lagi-lagi dianggap bahwa perbesaran otak mendahului postur berjalan tegak.

Teori otak-terlebih-dahulu ini telah ditantang dengan keras oleh Engels sebagai sekedar perpanjangan tangan dari pandangan idealis yang keliru tentang sejarah. Postur berdiri tegak ketika berjalan adalah langkah yang menentukan dalam peralihan dari kera menuju manusia. Sifat bipedal inilah yang membebaskan tangan, yang kemudian membawa pada perbesaran otak. “Yang pertama adalah kerja,” kata Engels, “lalu setelah itu, dan kemudian dengannya, kemampuan berbicara yang fasih – inilah dua dorongan yang paling hakiki yang mempengaruhi otak kera untuk perlahan-lahan berubah menjadi otak manusia.”[11]Penemuan-penemuan fosil telah mengkonfirmasikan pandangan Engels. “Ini telah terkonfirmasi secara penuh, tanpa ada keraguan ilmiah sedikit pun.Makhluk-makhluk Afrika yang kini tengah digali memiliki otak yang tidak lebih besar daripada otak kera. Mereka telah berjalan dan berlari seperti manusia. Kaki mereka berbeda sedikit saja dari kaki manusia modern, dan tangan mereka sudah separuh jalan menuju bentuk tangan manusia modern.”[12]

Sekalipun terdapat semakin banyak bukti yang mendukung pandangan Engels tentang asal-usul manusia, ide“otak yang lebih dulu berkembang” masih terus hidup sampai saat ini. Dalam sebuah buku berjudul The Runaway Brain, The Evolution of Human Uniqueness, sang penulis, Christopher Wills menyatakan: “Kita tahu bahwa pada saat yang bersamaan otak nenek moyang kita bertambah besar, postur mereka juga menjadi semakin tegak, kemampuan motorik halus berkembang, dan suara-suara vokal berubah menjadi kemampuan bicara.”[13]

Manusia semakin lama semakin sadar akan lingkungannya dan akan dirinya sendiri. Tidak seperti hewan lain, manusia dapat menggeneralisasi pengalamannya. Sementara hewan didominasi oleh lingkungannya, manusia mengubah lingkungan itu untuk disesuaikan dengan kebutuhannya. Sains telah mengkonfirmasipernyataan Engels bahwa “Kesadaran dan pemikiran kita, betapapun mereka terasa suprasensual, adalah hasil dari sebuah organ tubuh yang material, yakni otak. Ini, tentu saja, adalah materialisme murni.”[14] Sejalan dengan perkembangan otak, berkembang pula kemampuan untuk menggeneralisir dan belajar. Informasi yang penting disimpan di otak, mungkin dalam berbagai tempat yang berbeda. Informasi ini tidak terhapus ketika molekul-molekul otak diperbaharui. Selama empat belas hari, 90% dari protein otak telah meluruh dan diperbaharui dengan molekul baru yang identik. Dan juga tidak ada satu pun alasan untuk percaya bahwa otak telah berhenti berevolusi. Kapasitasnya masih tidak terbatas. Perkembangan sebuah masyarakat tanpa kelas akan memungkinkan sebuah lompatan ke depan dalam pemahaman manusia atasnya. Misalnya, perkembangan rekayasa genetik saat ini baru berada pada tahap balita saja. Sains membuka kesempatan-kesempatan dan tantangan-tantangan raksasa. Otak dan kecerdasan manusia akan berevolusi untuk mengatasi tantangan-tantangan di masa datang ini. Tapi, untuk setiap masalah yang terpecahkan, akan banyak lagi masalah baru yang timbul, dalam sebuah perkembangan yang berjalan dalam spiral yang tak ada habisnya.

Bahasa dan Pemikiran Anak-anak

Kelihatannya ada satu analogi antara perkembangan pemikiran manusia secara umum dan perkembangan bahasa dan pemikiran dari individu manusia ketika melalui masa kanak-kanak dan remaja ke masa dewasa.

Hal ini telah ditunjukkan oleh Engels dalam The Part Played by Labour in the Transition of Ape to Man:

“Karena, seperti halnya sejarah perkembangan janin manusia di dalam rahim seorang ibu hanyalah satu pengulangan yang dipersingkat atas sejarah, yang telah berlangsung jutaan tahun, dari evolusi tubuh nenek moyang kita, yang dimulai dari cacing, demikian pula perkembangan mental dari anak manusia hanyalah satu pengulangan yang dipersingkat dari perkembangan kecerdasan nenek moyang kita, setidaknya nenek moyang kita yang paling dekat.”[15]

Telaah atas perkembangan janin sampai dewasa dikenal dengan nama ontogeni, sementara telaah atas hubungan evolusioner antar spesies disebut filogeni. Keduanya terhubung dengan cara yang aneh, tapi bukan sebagai citra cermin yang kasar. Misalnya, selama perkembangan di dalam rahim, janin manusia menyerupai seekor ikan, seekor amfibi, seekor mamalia, dan kelihatannya berkembang melewati tahap-tahap evolusi hewan. Semua manusia memiliki kemiripan dalam beberapa aspek, khususnya zat dan struktur di dalam otaknya.Secara kimia, anatomi, dan fisiologis hampir sama sekali tidak ada perbedaan antara satu otak dengan yang lainnya. Pada saat pembuahan, sel telur yang terbuahi berkembang menjadi dua buah bola yang kosong tengahnya. Dalam waktu 18 hari, kita sudah dapat melihat perkembangan embrio yang dapat kita kenali. Bagian yang menebal, yaitu di mana kedua bola itu bersentuhan, berubah menjadi ceruk syaraf.Bagian depan membesar, yang kemudian akan berkembang menjadi otak. Diferensiasi lain terjadi yang kelak akan menjadi mata, hidung dan telinga. Sirkulasi darah dan sistem syaraf adalah fungsi-fungsi hidup pertama yang dimiliki embrio, dengan jantung yang mulai berdetak dalam minggu ketiga kehamilan.

Ceruk syaraf berubah menjadi saluran, dan kemudian tabung. Pada saatnya ia akan berubah menjadi syaraf tulang belakang. Pada bagian kepala, ada pembengkakan di dalam tabung itu untuk membentuk otak bagian depan, otak bagian tengah dan otak bagian belakang. Segalanya disusun untuk menyiapkan perkembangan yang pesat bagi sistem syaraf pusat. Terjadi lompatan kualitatif dalam tingkat kecepatan pembelahan sel semakin ia dekat dengan struktur seluler finalnya. Pada saat janin itu berukuran 13 mm, otak telah berkembang menjadi sistem dengan lima ruang. Batang yang membentuk syaraf optik dan mata mulai muncul. Pada akhir bulan ketiga, korteks serebral dan serebellum dapat dikenali, demikian juga dengan talamus dan hipotalamus. Pada bulan kelima korteks yang keriput itu mulai mendapat bentuknya. Semua bagian otak yang esensial telah terbentuk pada bulan kesembilan, walaupun perkembangan lebih lanjut masih akan terjadi setelah kelahiran. Walau demikian, berat otak masih sekitar 350 gram, bandingkan dengan berat otak dewasa yang 1.300 sampai 1.500 gram. Beratnya akan mencapai 50% berat otak dewasa setelah enam bulan, 60% setelah satu tahun, dan 90% pada tahun keenam. Pada usia 10 tahun, beratnya sudah mencapai 95% dari berat otak dewasa. Perkembangan berat otak ini tercermin dalam perkembangan ukuran kepala. Ukuran kepala seorang bayi termasuk besar dibandingkan badannya, terutama jika dibandingkan dengan orang dewasa. Otak seorang bayi yang baru lahir jauh lebih dekat dengan keadaan dewasanya ketimbang organ-organ lain di tubuhnya. Pada saat kelahiran, berat otak adalah 10% dari berat tubuh, bandingkan dengan orang dewasa yang hanya 2%-nya.

Struktur-struktur fisik otak (biokimia, arsitektur sel dan sirkuit elektriknya) dimodifikasi olehefek respons otak terhadap lingkungannya. Ide-ide dan memori-memori dikodekan ke dalam otak dalam bentuk perubahan kompleks pada sistem syaraf. Maka, semua proses dalam otak saling berinteraksi, untuk melahirkan fenomena yang unik,yakni kesadaran – materi yang sadar akan dirinya sendiri. Bagi ahli fisiologi Kanada, Donald Hebb, kuncinya terletak pada pertemuan sinapsis antara dua sel syaraf, yang masih menjadi ide dasar sampai sekarang. Pola-pola sirkuit tertentu dan pola-pola picu antar sinapsis tertentu mungkin mengkodekan ingatan, tapi tidaklah harus ia terlokalisasi pada satu jaringan saja di otak. Memori boleh jadi dikodekan di kedua belahan otak berulang-ulang kali. Seluruh cakupan dari lingkungan seseorang, khususnya dalam tahun-tahun pertama pertumbuhannya, secara terus-menerus meninggalkan kesan dan citra yang unik pada perilaku dan proses-proses otak. “Perubahan lingkungan yang paling halus, terutama dalam masa kanak-kanak,” ujar Rose, “dapat menghasilkan perubahan yang bertahan lama dalam susunan kimia dan fungsi otak.”

Tanpa interaksi dialektik antara otak dan lingkungan ini, maka perkembangan seorang individu pasti akan ditentukan oleh kode-kode genetik belaka. Perilaku individu pastilah dapat diperkirakan sejak awalnya. Namun, lingkungan memainkan peran yang menentukan dalam perkembangan. Perubahan situasi dapat menyebabkan perubahan yang menakjubkan pada individu tersebut.

Mata, Tangan dan Otak

Perkembangan bahasa dan pemikiran seorang anak pertama kali dianalisa secara serius oleh seorang epistemologis Swiss, Jean Piaget. Beberapa aspek dari teorinya telah dipertanyakan, khususnya kekakuan dalam interpretasinya mengenai bagaimana seorang anak bergerak dalam tahapan-tahapan perkembangannya. Walau demikian, ini adalah karya perintis, dalam sebuah bidang yang telah hampir-hampir diabaikan sama sekali, dan banyak teorinya yang sampai hari ini tetap sahih. Piaget adalah orang pertama yang menggagaskan proses dialektik dari perkembangan dari kelahiran, melalui masa kanak-kanak menuju kedewasaan, sebagaimana Hegel adalah orang pertama yang menyediakan satu penjelasan yang sistematik terhadap pemikiran dialektik secara umum. Kekurangan-kekurangan dari kedua sistem ini tidak boleh mengaburkan konten positif dari karya mereka. Sekalipun tahapan-tahapan yang digariskan Piaget jelas agak terlalu skematik, dan metode risetnya dapat dipertanyakan, teori ini tetaplah memiliki nilai sebagai sebuah ringkasan atas perkembangan awal seorang manusia.

Teori Piaget adalah satu reaksi terhadap pandangan para behaviourist[16], yang salah satu wakilnya yang terkemuka, Skinner, sangat berpengaruh pada tahun 1960-an di Amerika Serikat. Pendekatan kaum behaviourist sepenuhnya mekanistik, didasarkan pada pola linear dari perkembangan kumulatif. Menurut pandangan ini, anak-anak akan belajar dengan paling efektif jika ditempatkan di bawah sebuah program linear yang materinya disusun oleh guru-guru yang ahli dan para perancang kurikulum. Teori pendidikan Skinner sangat cocok dengan mentalitas kapitalistik. Anak-anak hanya akan belajar, menurut teori ini, jika mereka diberi hadiah ketika melakukannya, seperti seorang buruh akan mendapatkan bayaran tambahan jika ia bekerja lembur.

Kaum behaviourist mengambil posisi mekanistik terhadap perkembangan bahasa. Noam Chomsky menunjukkan bahwa Skinner dapat menggambarkan bagaimana seorang bayi mempelajari beberapa kata yang pertama baginya (terutama kata benda), tapi ia tidak dapat menjelaskan bagaimana bayi itu dapat menyatukan penggunaan kata-kata itu. Bahasa bukan hanya serangkaian kata-kata. Persisnya, bahasa adalah kombinasi dari kata-kata dalam satu relasi dinamis tertentu yang membuatnya menjadi alat yang demikian kaya, efektif, fleksibel dan kompleks. Di sini, yang sangat menentukan, keseluruhan akan selalu jauh lebih besar dari jumlah bagian-bagiannya. Kesanggupan seorang anak berumur dua tahun untuk mempelajari tata bahasa adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Seorang dewasa yang mencoba belajar bahasa asing akan menyetujui pernyataan ini.

Dibandingkan dengan dogma yang kasar dan mekanistik ini, teori Piaget merupakan satu langkah besar. Piaget menjelaskan bahwa proses pembelajaran datang secara alami pada anak-anak. Tugas dari seorang guru adalah untuk mengungkap keluar semua kecenderungan yang telah ada dalam diri mereka. Lebih jauh lagi, Piaget dengan tepat menunjukkan bahwa proses pembelajaran bukanlah berlangsung dalam garis lurus, tapi terputus-putus oleh terobosan-terobosan kualitatif. Sekalipun tahapan-tahapan awal Piaget masih terbuka untuk dipertanyakan lebih lanjut, tidak ada keraguan bahwa pendekatannya yang dialektik, secara umum, adalah sahih. Apa yang berharga dalam karya Piaget adalah bahwa perkembangan seorang anak disajikan dalam proses yang penuh kontradiksi di mana tiap tahap didasarkan pada tahap yang sebelumnya, yang sekaligus mengatasi dan memelihara tahapan yang sebelumnya itu. Basis yang dikondisikan secara genetik menyediakan material yang siap pakai, yang sejak awal telah masuk ke dalam interaksi dialektik dengan lingkungannya. Seorang bayi yang baru lahir tidaklah memiliki kesadaran, tapi didorong oleh naluri-naluri biologis yang tertanam dalam-dalam, yang mendesak untuk segera dipenuhi. Naluri hewaniah yang kuat ini tidaklah lenyap tapi tinggal dalam lapisan bawah sadar, yang mendasari seluruh kegiatan sadar kita.

Mengutip Hegel, apa yang kita lihat di sini adalah transisi dari mengada-dalam-dirinya [being-in-itself] menjadi mengada-untuk-dirinya [being-for-itself] – dari potensial menjadi aktual, dari keberadaan yang terisolasi, tidak berdaya dan tidak memiliki kesadaran, yang dipermainkan oleh kekuatan-kekuatan alam, menuju ke manusia yang memiliki kesadaran. Pergerakan menuju kesadaran diri ini, seperti yang dijelaskan dengan tepat oleh Piaget, adalah sebuah perjuangan, yang berjalan melintasi berbagai tahap. Seorang bayi yang baru lahir tidaklah dapat membedakan dirinya dengan jelas dari lingkungannya. Hanya secara perlahan ia menjadi sadar akan perbedaan antara dirinya dengan dunia di luarnya. “Masa dari kelahiran sampai penguasaan bahasa,” tulis Piaget, “ditandai oleh sebuah perkembangan mental yang luar biasa.” Di bagian lain, ia menggambarkan 18 bulan pertama dari kehidupan seseorang bayi sebagai “sebuah revolusi kecil yang setara dengan revolusi Copernicus.”[17] Kunci bagi proses ini adalah datangnya kesadaran secara perlahan atas hubungan antara subjek (diri) dengan objek (realitas), sebuah hal yang harus dipahami.

Vygotsky dan Piaget

Kritikus yang pertama dan terbaik atas Piaget adalah Vygotsky[18], ahli pendidikan Uni Soviet itu, yang pada periode 1924-34 menggagaskan sebuah alternatif yang konsisten terhadap ide-ide Piaget. Tragisnya, ide-ide Vygotsky baru diterbitkan di Uni Soviet setelah kematian Stalin, dan baru dikenal di Barat di tahun 1950-an dan 60-an, ketika ide-idenya mempengaruhi banyak orang, seperti Jerome Bruner. Sekarang, ide-idenya telah diterima luas di kalangan ahli pendidikan.

Vygotsky melangkah jauh mendahului rekan-rekan sejawatnya ketika ia menerangkan peranan penting dari bahasa tubuh dalam perkembangan bahasa. Ide ini telah dihidupkan kembali baru-baru ini oleh para psikolinguis yang mengungkap asal-usul bahasa. Bruner dan lain-lain telah menunjukkan dampak luar biasa dari bahasa tubuh terhadap perkembangan bahasa seorang anak.Sementara Piaget lebih menekankan pada aspek biologis dari perkembangan seorang anak, Vygotsky lebih berkonsentrasi pada kebudayaan, seperti yang dilakukan pula oleh orang-orang semacam Bruner. Peran penting dalam kebudayaan dimainkan oleh peralatan, apakah dalam bentuk tongkat dan batu pada hominid awal, atau pensil, penghapus dan buku yang dimiliki anak-anak hari ini.

Penelitian mutakhir telah menunjukkan bahwa bayi lebih memiliki banyak kemampuan pada usia-usia awal ketimbang anggapan Piaget. Idenya tentang bayi yang masih sangat muda kelihatannya telah terbantahkan, namun banyak ide-ide lainnya yang tetap sahih. Karena Piaget memiliki latar belakang ilmu biologi tidaklah mengherankan kalau ia lebih menekankan pada aspek biologis dari perkembangan anak. Vygotsky mendekati permasalahan itu dari sudut yang berbeda, tapi tentu saja masih terdapat persamaan-persamaan di antara mereka. Contohnya, dalam telaahnya atas tahun-tahun pertama masa kanak-kanak, ia membahas “pikiran non-linguistik” seperti yang dijelaskan Piaget dalam uraiannya tentang “aktivitas sensomotorik” seperti penggunaan satu alat untuk menjangkau mainan yang ada di seberang. Bersamaan dengan ini, kita mendapati juga ceracau bayi (“omongan bayi”). Ketika dua unsur ini disatukan, terjadilah perkembangan bahasa yang eksplosif. Untuk tiap pengalaman baru, si kecil ingin mengetahui namanya. Walaupun Vygotsky mengambil rute yang berbeda, jalurnya telah dirintis oleh Piaget.

“Proses menjadi dewasa bukanlah sebuah progres yang linear dari ketidakmampuan menuju kemampuan bertahan hidup, seorang bayi yang baru lahir haruslah mampu menjadi bayi yang baru lahir, bukan sekedar menjadi versi mini dari keadaan dewasanya kelak. Perkembangan juga bukan sebuah proses kuantitatif belaka tapi merupakan sebuahproses di mana perubahan dalam kualitas – antara menyusui dan pengunyahan makanan padat, misalnya, atau antara perilaku sensomotorik dan kognitif.”[19]

Hanya secara bertahap, melalui waktu yang panjang dan proses adaptasi dan pembelajaran yang sulit, seorang anak akan berubah dari sekedar sebuntal sensasi dan nafsu makan yang buta, dari sekedar satu objek yang tidak berdaya, menjadi satu agen yang sadar dan bebas dan sanggup mengarahkan hidupnya sendiri. Perjuangan yang berat untuk melepaskan ketidaksadaran menuju kesadaran, dari ketergantungan penuh atas lingkungan menuju dominasi atas lingkungan, inilah yang merupakan satu paralel yang mengagumkan antara perkembangan seorang anak dengan perkembangan spesies manusia secara keseluruhan. Tentu saja, akan sangat keliru kalau kita mengimplikasikan bahwa kesejajaran ini persis sama. Tiap analogi hanya berlaku untuk batasan tertentu. Tapi tetap saja sulit menolak kesimpulan bahwa, setidaknya dalam beberapa aspek, kesejajaran itu memang ada. Dari rendah ke tinggi, dari sederhana ke kompleks, dari ketidaksadaran ke kesadaran –fitur-fitur ini berulang secara terus-menerus dalam evolusi kehidupan.

Hewan lebih bergantung pada inderanya ketimbang manusia, dan memiliki pendengaran, penglihatan dan penciuman yang lebih tajam. Dapat diamati bahwa ketajaman penglihatan mencapai puncaknya menjelang akhir masa kanak-kanak, dan menurun sesudahnya. Di pihak lain, fungsi-fungsi kecerdasan terus berkembang selama hidup, bahkan jauh setelah usia lanjut. Melacak jalan yang ditempuh manusia dari ketidaksadaran ke kesadaran penuh adalah salah satu tugas yang penting dan menarik dari ilmu pengetahuan.

Ketika baru dilahirkan, seorang bayi hanya mengenal gerakan refleks. Tapi ini bukan berarti dia pasif. Sejak kelahirannya, hubungan bayi dengan lingkungannya adalah aktif dan praktis. Ia tidak hanya berpikir dengan kepalanya tapi juga dengan seluruh tubuhnya. Perkembangan otak dan kesadarannya terkait langsung dengan aktivitas-aktivitas praktisnya. Salah satu refleks pertamanya adalah menghisap puting susu ibunya. Bahkan di sini ada sebuah proses belajar dari pengalaman. Piaget menunjukkan bahwa bayi menyusu dengan lebih baik setelah dua minggu. Kemudian datang proses diskriminasi, di mana anak mulai mengenali berbagai hal. Setelah itu ia mulai membuat generalisasinya yang pertama, bukan hanya dalam pikiran tapi juga dalam tindakan. Ia tidak hanya menghisap puting susu, tapi juga udara, lalu jempolnya. Orang-orang Spanyol memiliki ujar-ujar, “Saya tidak lagi menghisap jempol saya,” yang berarti “Saya tidak bodoh.” Sesungguhnya, kemampuan untuk memasukkan jempol ke dalam mulut merupakan hal yang cukup sulit bagi seorang bayi, yang baru muncul setelah dua bulan, dan menandai sebuah lompatan besar, yakni satu tingkatan koordinasi baru antara tangan dan otak.

Pada masa-masa pertama setelah kelahiran, bayi memiliki kesulitan untuk memusatkan perhatiannya pada objek tertentu. Secara perlahan ia mulai dapat memusatkan perhatiannya, dan mengantisipasi di mana objek-objek itu berada sehingga ia dapat menggerakkan kepalanya untuk melihat mereka. Perkembangan ini, yang dianalisa oleh Bruner, terjadi pada dua atau tiga bulan pertama, melibatkan tidak hanya bidang visual saja tetapi juga aktivitas – orientasi mata, kepala dan tubuh ke arah objek yang sedang diperhatikannya. Pada saat bersamaan, mulut menjadi rantai antara pandangan dan gerakan manual. Secara perlahan, ia memulai sebuah proses meraih-menggenggam-mengambil yang dipandu secara visual, yang selalu berakhir dengan memasukkan tangan ke dalam mulut.

Bagi anak yang baru lahir, dunia adalah, pertama dan terutama,sesuatu yang harus dihisap. Kemudian, ia menjadi sesuatu yang harus dilihat dan didengarkan, dan, bila tingkat koordinasi tertentu telah dimilikinya, ia menjadi sesuatu yang harus direkayasa. Ini belumlah mencapai apa yang kita sebut kesadaran, tapi ini adalah titik awal kesadaran. Sebuah proses perkembangan yang sangat panjang diperlukan agar unsur-unsur sederhana ini dapat terintegrasi ke dalam kebiasaan dan persepsi yang terorganisir. Setelah itu, kita mendapati penghisapan jempol yang sistematik, kesanggupan kepala untuk menoleh ke arah sumber suara, mengikuti sebuah objek yang bergerak dengan mata (menandai satu tingkat generalisasi dan antisipasi). Setelah lima minggu atau lebih, bayi mulai tersenyum dan mengenali orang, sekalipun ini belum berarti bahwa bayi itu punya pemahaman tentang orang, atau bahkan tentang objek. Ini adalah tahap persepsi-inderawi yang paling mendasar.

Dalam hubungannya dengan dunia objektif, bayi memiliki dua kemungkinan: ia dapatmelibatkan segala benda (dan juga orang) ke dalam aktivitasnya, dan dengan demikian mengasimilasi dunia material, atau menyesuaikan keinginan-keinginan dan dorongan-dorongan subjektifnya terhadap dunia eksternal, yakni berakomodasi dengan kenyataan. Dari tahap yang paling awal, bayi selalu berusaha untuk “mengasimilasi” dunia ke dalam dirinya, dengan memasukkannya ke dalam mulutnya. Kemudian, ia belajar untuk menyesuaikan diri dengan realitas eksternal, secara bertahap mulai membedakan dan melihat perbedaan dari berbagai objek, dan mengingat mereka. Ia menguasai, melalui pengalaman, kemampuan untuk menjalankan beberapa pekerjaan, seperti menggapai dan menggenggam. Kecerdasan logis pertama-tama lahir dari pekerjaan-pekerjaan konkret, dari praktek, dan hanya jauh hari setelah itu kecerdasan dapat diturunkan dari deduksi.

Piaget mengidentifikasi enam “tahap” yang berbeda dalam perkembangan anak. Tahap pertama adalah tahap refleks, atau fungsi-fungsi hereditas; termasuk tendensi-tendensi naluriah yang primer, seperti naluri untuk makan. Kebutuhan untuk mendapatkan makanan adalah salah satu dorongan naluriah yang sangat kuat, yang mengendalikan refleks dari sang bayi yang baru lahir. Ini adalah fitur yang sama-sama dimiliki baik oleh manusia maupun semua hewan lainnya. Bayi yang baru lahir, walau tidak memiliki kemampuan berpikir yang lebih tinggi, tetap saja seorang materialis alami, yang menyatakan keteguhan kepercayaannya akan keberadaan dunia material di sekitarnya dengan cara yang persis sama dengan semua hewan lainnya – dengan memakannya. Memerlukan penyempurnaan intelektual yang sangat besar sebelum para filsuf yang pandai sanggup meyakinkan orang bahwa kita tidak dapat benar-benar mengetahui apakah dunia material itu ada atau tidak. Persoalan filsafat yang tampaknya rumit dan dalam ini, sesungguhnya, telah dipecahkan oleh seorang bayi dengan satu-satunya cara yang mungkin – melalui praktek.

Sejak usia dua tahun, sang anak memasuki masa pemikiran simbolik dan representasi pra-konseptual. Anak mulai menggunakan citra-citra berbentuk gambar sebagai simbol untuk menggantikan benda-benda nyata. Bersamaan dengan ini adalah perkembangan bahasa. Tahapan berikutnya adalah representasi kondisional, mengenali titik rujukan lain di dalam dunia, dan sekaligus berkembangnya bahasa yang koheren. Tahapan ini disusul dengan pemikiran operasional dari usia tujuh sampai dua belas tahun. Sang anak mulai mengenali hubungan antar objek dan bagaimana menangani konsepsi-konsepsi yang lebih abstrak.

Praktek, dan interaksi antar kecenderungan-kecenderungan naluriah yang terkondisikan secara genetik, inilah yang menyediakan kunci terhadap perkembangan mental dari seorang anak. Tahapan kedua Piaget adalah kebiasaan motorik primer, yang disertai dengan “persepsi terorganisir” (organized perceptions) yang pertama dan “perasaan-perasaan yang terbedakan” (differentiated feelings) yang primer. Tahapan ketiga adalah “kecerdasan sensor-motorik” atau praktek (yang mendahului kemampuan berbicara). Lalu datanglah fase “kecerdasan naluriah” yang melibatkan reaksi-reaksi spontan antar individu, khususnya kepatuhan pada orang tua. Fase kelima,“pekerjaan intelektual yangkonkret” yang termasuk perkembangan logika dan perasaan moral dan sosial (7-12 tahun); dan akhirnya, fase keenam, fase pekerjaan intelektual abstrak – pembentukan kepribadian dan integrasi emosional dan intelektual ke dalam masyarakat dewasa (masa remaja).

Kemajuan manusia terkait erat dengan perkembangan pikiran secara umum, dan ilmu teknologi khususnya. Kapasitas untuk berpikir secara rasional dan abstrak tidaklah datang dengan mudah. Bahkan kini, pikiran kebanyakan orang terus melawan pemikiran-pemikiran yang meninggalkan dunia realitas konkret yang akrab dengan mereka. Kemampuan berpikir rasional dan abstrak baru muncul setelah tahap yang cukup jauh dalam perkembangan mental seorang anak. Kita melihat ini dalam lukisan-lukisan yang dibuat anak kecil, yang menggambarkan apa yang benar-benar dia lihat, bukan apa yang seharusnya dia lihat, menurut hukum-hukum perspektif, dan seterusnya. Logika, etika, moralitas, semua baru muncul sangat belakangan dalam perkembangan kecerdasan anak. Dalam masa-masa awal, tiap aksi, tiap pergerakan, tiap pemikiran, adalah produk dari kebutuhan. Konsepsi tentang “kehendak bebas” sama sekali tidak berguna dalam aktivitas mental seorang anak. Kelaparan dan kelelahan mendorongnya untuk makan atau tidur, bahkan pada bayi yang paling muda sekalipun.

Penguasaan terhadap kemampuan berpikir abstrak, bahkan dalam tingkatannya yang paling primitif, membuat sang subjek menjadi tuan bagi kejadian-kejadian yang paling jauh sekalipun, baik dalam waktu maupun dalam ruang. Ini benarbagi seorang bayi, seperti halnyabagi manusia-manusia purba. Nenek moyang kita yang paling purba tidak dapat secara jelas membedakan diri mereka dari hewan-hewan lain atau benda-benda tak hidup. Bahkan, mereka belumlah keluar sepenuhnya dari kerajaan hewan, dan masih sangat tergantung pada belas kasihan kekuatan-kekuatan alam. Elemen-elemen kesadaran diri kelihatannya telah ada pada simpanse, kerabat kita yang terdekat, sekalipun tidak pada monyet. Tapi hanya pada manusia potensi untuk pemikiran abstrak mencapai perwujudannya yang sepenuhnya. Hal ini jelas terkait erat dengan bahasa, salah satu ciri pembeda yang paling mendasar bagi manusia.

Neokorteks, yang merupakan 80% dari volume otak manusia, adalah bagian yang bertanggung jawab terhadap hubungan antar kelompok, dan terkait dengan proses berpikir secara umum. Terdapat hubungan yang erat antara kehidupan sosial, pemikiran dan bahasa. Sifat berpusat-pada-diri-sendiri dari bayi yang baru saja lahir secara bertahap digantikan oleh kesadaran bahwa di sekitarnya terdapat sebuah dunia eksternal, orang-orang dan masyarakat, dengan hukum-hukum, tuntutan-tuntutan dan batas-batasnya sendiri. Agak lama setelah itu, antara 3-6 bulan menurut Piaget, fase menggenggam dimulai, pertama-tama melibatkan tekanan, kemudian rekayasa. Ini adalah langkah yang menentukan, yang mendorong terjadinya pelipatgandaan kemampuan bayi dan berbagai kebiasaan baru. Setelah ini, proses perkembangan menjadi lebih cepat. Sifat dialektik dari proses ini ditunjukkan oleh Piaget:

“Titik keberangkatannya selalu terletak pada siklus refleks. Tapi ini adalah sebuah siklus aktivitas yang tidak mengulang dirinya sendiri, melainkan memasukkan elemen-elemen baru dan membangun satu totalitas yang semakin lama semakin besar, berkat diferensiasi progresif yang terjadi.”

Dengan demikian perkembangan seorang anak bukanlah terjadi dalam satu garis lurus tapi diputus-putus oleh lompatan-lompatan besar, dan tiap tahap pasti melibatkan satu kemajuan kualitatif.

Tahapan ketiga dari Piaget adalah “kecerdasan praktis” atau “tahapan sensor-motorik”. Ciri-ciri dari “tahapan-tahapan” itu dapat diperdebatkan tapi gagasan umumnya masih tetap sahih. Kecerdasan terkait erat dengan rekayasa terhadap objek. Perkembangan otak terhubung langsung dengan tangan. Seperti yang dikatakan Piaget: “Ini adalah persoalan kecerdasan yang sepenuhnya praktis, yang diterapkan pada rekayasa terhadap objek, dan yang, sebagai ganti kata-kata dan konsep, hanya menggunakan persepsi dan pergerakan yang terorganisir dalam skema-skema aksi.”[20]Dari sini kita lihat bahwa landasan dari seluruh pengetahuan manusia adalah pengalaman, aktivitas, dan praktek. Tangan, khususnya, memainkan peran yang menentukan.

Kemunculan Bahasa

Sebelum kemampuan bicara berkembang, bayi menggunakan segala macam tanda, kontak mata, tangisan dan bahasa-bahasa tubuh lainnya, untuk mengungkapkan keinginannya. Dengan cara yang sama, jelas bahwa sebelum hominid purba dapat berbicara, mereka pasti telah menggunakan cara-cara lain untuk memberi tanda pada satu sama lain. Bentuk-bentuk dasar dari komunikasi macam ini hadir pula di tengah hewan-hewan lain, khususnya primata tingkat tinggi, tapi hanya pada manusia kemampuan berbicara hadir sebagaimana adanya. Perjuangan panjang yang harus dilalui oleh seorang bayi untuk menguasai kemampuan berbicara, dengan pola-pola dan logika dasar yang kompleks, adalah sama dengan proses penguasaan kesadaran. Jalan yang serupa pasti telah ditempuh oleh manusia-manusia pertama.

Kerongkongan bayi manusia, seperti kera dan mamalia lainnya, dikonstruksi sedemikian rupa sehingga saluran vokal terletak jauh ke bawah. Dengan demikian, ia sanggup mengeluarkan lolongan tangis seperti hewan, tapi bukan kemampuan bicara secara fasih. Keuntungan dari ini adalah sang bayi dapat menangis dan menelan makanan pada saat yang bersamaan, tanpa tersedak. Belakangan, saluran vokal berpindah ke atas, mencerminkan sebuah proses yang sesungguhnya terjadi selama evolusi. Tidak dapat dibayangkan bahwa kemampuan bicara manusia muncul begitu saja, tanpa segala bentuk peralihannya. Ini berlangsung selama berjuta tahun, di mana pasti terdapat masa-masa perkembangan yang pesat, seperti yang kita lihat pada perkembangan bayi manusia.

Dapatkah pikiran hadir tanpa bahasa? Itu tergantung apa yang dimaksud dengan “pikiran”. Elemen-elemen pikiran terdapat juga pada hewan, khususnya mamalia tingkat tinggi, yang juga memiliki alat-alat komunikasi tertentu. Di antara simpanse, tingkat komunikasinya cukup canggih. Tapi tidak satu pun dari mereka dapat berbahasa atau berpikir dengan tingkatan yang dicapai manusia. Yang lebih tinggi berkembang dari yang lebih rendah, dan tidak dapat hadir tanpa tingkat yang sebelumnya. Kemampuan berbicara manusia berawal dari bunyi-bunyian yang maknanya tidak karuan, seperti yang dibuat seorang bayi, tapi akan sangat keliru kalau kita menyamakan dua hal itu. Dengan cara yang sama, merupakan satu kekeliruan jika kita hendak menunjukkan bahwa bahasa telah hadir sebelum manusia ada.

Hal yang sama berlaku pula pada pikiran. Penggunaan sebuah tongkat untuk meraih sebuah objek yang di berada luar jangkauan adalah satu tindakan yang berdasarkan kecerdasan. Tapi hal ini baru muncul dalam perkembangan seorang anak ketika ia menginjak umur kira-kira 18 bulan. Ini melibatkan penggunaan sebuah alat (tongkat) dalam gerak yang terkoordinasi, dalam rangka mewujudkan sebuah tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Aktivitas semacam ini juga dapat dilihat di antara kera-kera, bahkan juga monyet. Penggunaan objek yang dapat ditemukan di sekitar – tongkat, batu, dsb. – untuk keperluan pengumpulan makanan telah didokumentasikan dengan baik. Pada usia 12 bulan, seorang anak telah belajar untuk bereksperimen dengan melemparkan sebuah objek ke berbagai jurusan untuk “melihat apa yang terjadi”.

Ini adalah aktivitas yang diulang-ulang untuk tujuan yang jelas, yang dirancang untuk mendapatkan hasil. Ia menunjukkan adanyasatu kesadaran akan sebab dan akibat (jika saya melakukan ini, maka hal itu akan terjadi). Tidak satu pun dari pengetahuan semacam ini dapat diwariskan. Pengetahuan itu didapat melalui pengalaman. Seorang anak akan membutuhkan 12-18 bulan untuk memahami konsepsi sebab-akibat. Sungguh ini adalah pengetahuan yang sangat dahsyat! Manusia-manusia purba tentunya membutuhkan waktu jutaan tahun untuk mempelajari hal yang sama, yang merupakan landasan riil bagi semua pemikiran rasional dan tindakan yang bermakna. Sungguh konyol bahwa pada masa kini ketika pemahaman kita tentang alam sudah mencapai ketinggian yang begitu memukau, ada beberapa ilmuwan dan ahli filsafat yang ingin menyeret pemikiran manusia ke tahapan yang primitif dan kekanak-kanakan, dengan menyangkal adanya hubungan sebab-akibat atau kausalitas.

Dalam dua tahun pertama kehidupan, sebuah revolusi intelektual terjadi, di mana paham tentang ruang, kausalitas dan waktu terbentuk. Bukan, seperti yang dibayangkan Kant, begitu saja jatuh dari langit, tapi sebagai hasil langsung dari praktek dan pengalaman dunia fisik. Seluruh pengetahuan manusia, semua kategori pemikiran, termasuk yang paling abstrak, diturunkan dari sini. Paham materialis jelas terbukti dalam perkembangan seorang anak. Pada awalnya seorang bayi tidaklah membedakan antara realitas dan dirinya sendiri. Tapi pada saat tertentu, menyingsinglah kesadaran bahwa apa yang dilihatnya itu adalah sesuatu yang ada di luar dirinya sendiri, sesuatu yang akan terus ada bahkan ketika ia tidak lagi terlihat. Ini adalah satu terobosan besar, “revolusi Copernicus” yang terjadi pada bidang intelektualitas. Para filsuf yang menyatakan bahwa dunia material tidak ada, atau bahwa hal ini tidak dapat dibuktikan, dalam makna kata yang paling eksplisit, sedang mengekspresikan sebuah ide yang kekanak-kanakan.

Bayi yang menangis ketika ibunya meninggalkan ruangan menyatakan bahwa ia memahami bahwa ibunya tidak menghilang hanya karena ibunya tidak lagi dapat dilihatnya. Ia menangis karena keyakinan bahwa tindakan menangisnya ini akan membawa ibunya kembali. Sampai akhir tahun pertama, sang bayi percaya bahwa apa yang tidak terlihat pastilah juga tidak memiliki keberadaan. Pada akhir tahun kedua, ia telah memahami sebab dan akibat. Sebagaimana tidak ada Tembok Cina yang memisahkan pemikiran dari tindakan, demikian pula tidak ada garis pemisah yang mutlak antara kehidupan intelektual seorang anak dan perkembangan emosionalnya. Pemikiran dan perasaan, pada kenyataannya, tidak dapat dipisahkan. Mereka merupakan dua aspek komplementer dari perilaku manusia. Setiap orang tahu bahwa tidak ada satu pun usaha besar yang akan tercapai tanpa adanya elemen hasrat. Emosi adalah pengungkit yang paling kuat bagi tindakan dan pemikiran manusia,dan memainkan peran yang fundamental dalam perkembangan manusia. Tapi pada tiap tahap, perkembangan intelektual seorang anak terikat erat dengan aktivitasnya. Sejalan dengan munculnya perilaku cerdas, keadaan emosional pikiran juga diasosiasikan dengan tindakan – kegembiraan dan kesedihan terkait dengan keberhasilan atau kegagalan dari tindakan-tindakan yang dilandasi niat tertentu.

Kemunculan bahasa merepresentasikan modifikasi yang dalam pada perilaku dan pengalaman dari seorang, baik dari sudut pandang intelektual maupun emosional. Ia adalah sebuah lompatan kualitatif. Penguasaan akan bahasa menghasilkan, seperti kata Piaget, “kemampuan untuk merekonstruksi tindakan-tindakannya yang telah silam dalam bentuk narasi dan untuk mengantisipasi tindakannya di masa datang melalui representasi verbal.” Dengan bahasa, masa lalu dan masa datang menjadi riil bagi kita. Kita dapat meninggalkan segala keterbatasan masa kini, merencanakan, meramalkan dan berpartisipasi aktif menurut sebuah rencana yang disusun dengan sadar.

Bahasa adalah produk dari kehidupan sosial. Aktivitas sosial manusia tidak dapat dibayangkan tanpa bahasa. Bahasa pastilah telah ada, dalam satu bentuk atau lainnya, di tengah masyarakat manusia yang paling pertama, bahkan dari masa yang paling awal sekalipun. Pikiran itu sendiri adalah sejenis “bahasa internal”. Dengan bahasa datanglah kemungkinan hubungan sosial manusia yang sesungguhnya, penciptaan kebudayaan dan tradisi yang dapat dipelajari dan diwariskan secara oral, dan kemudian dalam tulisan, bukannya sekedar peniruan. Ia juga memungkinkan hubungan manusia yang sejati, di mana perasaan antipati, simpati, cinta dan penghormatan dapat dinyatakan dalam cara yang lebih koheren dan maju. Dalam bentuk embrio, elemen-elemen ini telah hadir dari enam bulan pertama kehidupan manusia, dalam bentuk peniruan. Kata-kata pertama diucapkan, biasanya kata benda yang terisolasi satu dengan lainnya. Lalu si anak belajar untuk menyatukan dua kata. Kata-kata benda secara bertahap dihubungkan dengan kata kerja dan kata sifat. Akhirnya, penguasaan tata bahasa dan tata kalimat, yang membutuhkan pola pemikiran logis yang kompleks. Ini adalah lompatan kualitatif bagi tiap individu, sebagaimana halnya pula bagi seluruh spesies.

Anak-anak yang berusia sangat muda dapat dikatakan memiliki bahasa “khas” miliknya sendiri, yang bukan bahasa dalam pengertian sebenarnya, tapi hanya suara-suara yang merupakan eksperimen dan upaya untuk meniru pembicaraan orang dewasa. Kemampuan bicara yang fasih muncul dari suara-suara ini, tapi keduanya tidak boleh dicampuradukkan. Bahasa, justru karena sifatnya, bukan sesuatu yang privat, tetapi sosial. Ia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial dan aktivitas kolektif, terutama kerja sama dalam produksi, yang terletak di basis segala kehidupan sosial sejak awal. Bahasa menunjukkan sebuah lompatan besar ke muka. Sekali proses ini dimulai, ia akan mempercepat secara luar biasa perkembangan kesadaran. Ini juga dapat dilihat pada perkembangan seorang anak.

Bahasa adalah permulaan dari sosialisasi aktivitas manusia. Sebelumnya, makhluk-makhluk pra-manusia pastilah telah berkomunikasi melalui cara-cara lain: lolongan, bahasa tubuh atau mimik lainnya. Sungguh, manusia modern terus pula melakukan itu, khususnya pada saat-saat stres dan emosi tinggi. Tapi keterbatasan dari “jenis bahasa” ini sangatlah jelas. Ia tidak akan pernah sanggup menyampaikan lebih dari situasi yang bersifat segera. Tingkat kompleksitas, pemikiran abstrak dan perencanaan yang dibutuhkan oleh masyarakat manusia berdasarkan produksi kooperatif yang paling sederhana sekalipun tidak dapat dinyatakan melalui “bahasa” semacam itu. Hanya melalui bahasa kita dapat meloloskan diri dari masa kini, mengingat masa lalu, dan meramalkan masa depan. Hanya melalui bahasa kita dapat membangun bentuk komunikasi yang benar-benar manusiawi satu dengan lainnya, untuk berbagi “kehidupan internal”. Inilah mengapa kita berbicara mengenai “hewan yang bodoh” sebagai sesuatu yang berbeda dari manusia, satu-satunya hewan yang memiliki kemampuan berbicara.

Sosialisasi Pemikiran

Melalui bahasa, seorang anak dibaptis ke dalam kekayaan kebudayaan manusia. Sementara pada hewan-hewan lain, faktor warisan genetik adalah faktor yang dominan, dalam masyarakat manusia, faktor kebudayaan adalah faktor yang menentukan. Bayi manusia harus melalui sebuah masa “magang” yang sangat panjang di mana ia ditundukkan sepenuhnya pada orang dewasa, khususnya orang tua mereka, yang, terutama melalui bahasa, membaptis mereka ke dalam misteri kehidupan, masyarakat dan dunia. Si anak menemukan bahwa dirinya dihadapkan pada model-model siap pakai yang harus disalin dan ditirunya. Kemudian model-model ini dikembangkan untuk mengikutkan orang dewasa dan anak-anak lainnya, terutama melalui permainan. Proses sosialisasi ini tidaklah mudah atau otomatis, tapi inilah basis bagi seluruh perkembangan budaya dan kecerdasan. Semua orang tua pasti memperhatikan, disertai seulas senyum simpul, bagaimana anak-anak kecil akan menarik dirinya ke dalam dunia ciptaannya sendiri, dan dengan bahagia “bercakap-cakap” dengan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri. Perkembangan anak itu terangkai erat dengan proses untuk keluar dari keadaan egosentrisme yang primitif ini, dan dengan proses membentuk hubungan dengan orang lain, denganrealitas di luar dirinya secara umum.

Dalam skema asli dari Piaget, masa dari dua sampai tujuh tahun menandai satu transisi dari fase kecerdasan praktis (“sensor-motorik”), sampai terbentuknya pemikiran seperti yang kita kenal. Proses ini dicirikan oleh berbagai macam bentuk peralihan antara keduanya. Ia menunjukkan dirinya dalam, contohnya, permainan anak-anak. Dari usia tujuh tahun sampai dua belas tahun, permainan muncul dengan aturan-aturannya, yang berarti ada tujuan bersama. Ini berbeda dengan, katakanlah, permainan boneka yang sangat bersifat individual. Logika dari masa kanak-kanak primer dapat digambarkan sebagai intuisi, yang masih tetap ada di kalangan orang dewasa – apa yang disebut Hegel sebagai pemikiran “segera”. Pada tahap yang lebih lanjut, yang dikenal baik oleh para orang tua, anak-anak mulai bertanya mengapa? Rasa ingin tahu yang naif ini adalah awal dari pemikiran rasional – si anak tidak lagi bersedia menerima segala sesuatu seperti adanya, tapi mencari satu landasan rasional bagi mereka. Ia memahami fakta bahwa segala hal memiliki sebab, dan berusaha memahami apa yang menjadi sebab itu. Ia tidak lagi puas mengetahui fakta bahwa “B terjadi setelah “A”. Ia ingin tahu mengapa hal itu terjadi. Di sini juga anak-anak antara 3 sampai 7 tahun menunjukkan dirinya jauh lebih bijaksana daripada para filsuf modern.

Intuisi, yang biasanya dilekatkan dengan aura yang magis dan puitis, adalah, pada kenyataannya, bentuk pemikiran yang tingkatnya paling rendah, yang merupakan ciri dari anak-anak kecil dan orang-orang yang tingkat budayanya rendah. Intuisi terdiri dari berbagai citra segera yang disediakan oleh indera, yang mendorong kita untuk bereaksi secara“spontan”, yaitu, tanpa dipikirkan terlebih dahulu, terhadap situasi-situasi tertentu. Tidak ada logika maupun pemikiran yang serius dan konsisten. Intuisi semacam ini kadangkala dapat berhasil dengan gemilang. Dalam kasus-kasus semacam itu,“kilatan ilham” yang nampaknya spontan memberi sebuah ilusi bahwa ada ilham yang datang “dari dalam”, yang terinspirasi secara ilahi. Sesungguhnya, intuisi datang, bukan darikedalaman jiwa yang tidak jelas, melainkan dari internalisasi [penyerapan] pengalaman, yang didapatkan, bukan dengan cara yang ilmiah, melainkan dalam bentuk citra dan semacamnya.

Seseorang dengan pengalaman hidup yang cukup banyak sering kali dapat sampai pada satupenilaian yang akurat atas situasi yang kompleks berdasarkan informasi yang sangat sedikit. Begitu juga halnya seorang pemburu dapat menunjukkan semacam “indra keenam” tentang hewan yang sedang dilacaknya. Dalam kasuspemikir-pemikir besar seperti Einstein misalnya, kilatan inspirasi dianggap sebagai tanda-tanda kejeniusan. Dalam semua kasus ini, ide yang nampaknya spontan sebetulnya adalah inti sari dari pengalaman dan perenungan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Akan tetapi, intuisi buta lebih sering membawa kita pada bentuk-bentuk pengetahuan yang tidak memuaskan, dangkal dan cacat. Dalam kasus anak-anak, “intuisi” menandai satu fase pemikiran yang primitif dan belum matang, sebelum mereka sanggup berargumen, menentukan dan menilai. Demikian tidak memadainya cara berpikir itu sehingga orang dewasa sering menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu, karena mereka sendiri telah lama meninggalkan fase ini. Untuk semua kasus ini, tidak perlu dikatakan lagi bahwa tidak ada satu pun kemistisan yang terlibat di dalamnya.

Dalam tahap-tahap pertama kehidupan, seorang anak tidak membedakan antara dirinya dengan lingkungan fisiknya. Hanya secara perlahan, seperti yang telah kita lihat, seorang anak akan mulai membedakan antara subjek (“saya”) dengan objek (dunia fisik). Ia mulai memahami hubungan riil antara lingkungannya dan dirinya sendiri dalam praktek, melalui rekayasa atas berbagai objek dan pekerjaan-pekerjaan fisik lainnya. Kesatuan primitif itu diruntuhkan, dan sebuah keragaman penglihatan, suara dan berbagai objek yang membingungkan mulai muncul. Lama setelah itu barulah si anak mulai menangkap hubungan antar benda-benda. Berbagai eksperimen telah menunjukkan bahwa si anak secara konsisten selalu jauh lebih maju dalam tindakan ketimbang dalam kata-kata.

Tidak ada itu“tindakan yang murni intelektual”. Ini terutama jelas terlihat dalam anakkecil. Sangat jamak bagi kita untuk membandingkan hati dengan kepala. Ini adalah perbandingan yang keliru. Emosi memainkan sebuah peran dalam penyelesaian terhadap masalah-masalah intelektual. Para ilmuwan bergairah dalam menyelesaikan persamaan-persamaan yang sulit. Berbagai aliran pemikiran berbenturan dengan panas seputar masalah-masalah filsafat, seni dan sebagainya. Di pihak lain, tidak ada pula tindakan yang murni afeksi atau kasih sayang. Cinta, contohnya, mensyaratkan satu tingkatan pemahaman yang tinggi di antara dua orang. Baik kecerdasan maupun emosi memainkan satu peran tertentu. Yang satu mensyaratkan yang lain, dan mereka saling merasuk dan saling menentukan satu sama lain, pada tingkatan-tingkatan tertentu.

Sejalan dengan kemajuan dan perkembangan tingkat sosialisasi, si anak menjadi semakin sadar akan kebutuhan yang oleh Piaget disebut sebagai “sentimen inter-personal”–yakni hubungan emosional antar orang. Di sini kita melihat bahwa ikatan sosial itu sendiri melibatkan unsur-unsur ketertarikan dan penolakan yang saling bertentangan. Si anak pertama kali belajar tentang hal ini dalam hubungannya dengan keluarga dan orang tuanya, lalu membentuk ikatan erat dengan kelompok sosial yang lebih besar. Perasaan simpati dan antipati berkembang, yang berhubungan dengan sosialisasi aksi, dan kemunculan sentimen moral – baik dan buruk, benar dan salah, yang jauh lebih bermakna daripada “saya suka” atau “saya tidak suka”. Mereka bukanlah merupakan kriteria yang subjektif, melainkan objektif, yang diturunkan dari masyarakatnya.

Ikatan-ikatan yang kuat ini memainkan sebuah peran yang penting dalam evolusi masyarakat manusia, yang, sejak awalnya didasarkan atas produksi sosial yang kooperatif dan kesalingtergantungan. Tanpa hal ini, kemanusiaan itu sendiri tidak akan pernah muncul dari dunia hewan. Moralitas dan tradisi dipelajari melalui bahasa, dan diteruskan dari generasi ke generasi. Dibandingkan dengan hal ini, faktor keturunan biologis nampaknya hanya memainkan peranan sekunder, sekalipun ia tetap menjadi bahan baku yang menyusun kemanusiaan itu sendiri.

Dengan mulai pergi ke sekolah, dari sekitar usia 7 tahun si anak mulai mengembangkan rasa sosialisasi dan kerja sama yang kuat. Ini ditunjukkan dalam permainan-permainan yang memakai aturan – bahkan permainan kelereng pun membutuhkan sebuah pengetahuan dan penerimaan akan aturan-aturan yang cukup rumit. Seperti aturan-aturan etika dan hukum-hukum dalam masyarakat, aturan-aturan permainan ini harus disepakati oleh semua pihak, supaya dapat diterapkan. Pengetahuan akan aturan dan penerapannya berjalan seiring dengan pemahaman hal-hal lain yang sama rumitnya, seperti tata bahasa dan tata kalimat dalam sebuah bahasa.

Piaget membuat satu pengamatan yang penting bahwa “semua perilaku manusia adalah sosial dan individual sekaligus”. Di sini kita mendapati satu contoh yang paling penting tentang kesatuan hal-hal yang bertentangan. Sangatlah keliru kalau kita mempertentangkan pemikiran dengan keberadaan, atau individu dengan masyarakat. Mereka tidak terpisahkan. Dalam hubungan antara subjek dan objek, antara individu dan lingkungan (masyarakat), faktor perantaranya adalah aktivitas praktis manusia (kerja). Komunikasi pemikiran adalah bahasa (permenungan yang dieksternalkan). Di pihak lain, pemikiran itu sendiri adalah hubungan sosial yang diinternalisasi. Pada usia 7 tahun, si anak mulai memahami logika, yang merupakan sebuah sistem hubungan, yang memungkinkan koordinasi antar berbagai sudut pandang.

Dalam sebuah kutipan yang gemilang, Piaget membandingkan tahapan ini dengan tahapan filsafat Yunani kuno, ketika para materialis Ionian memisahkan diri dari mitologi, dalam upaya untuk sampai pada pemahaman rasional atas dunia:

“Sangat mengejutkan ketika kita mengamati bahwa, di antara salah satu (bentuk penjelasan akan kesatuan) yang pertama kali muncul, terdapat beberapa penjelasan yang menunjukkan kemiripan yang tajam dengan apa yang diungkapkan oleh orang-orang Yunani persis pada epos yang disebut 'kemunduran penjelasan mitologis', satu penamaan yang sangat tepat.”

Di sini kita melihat, secara mencolok, bagaimana bentuk-bentuk pemikiran dari tiap anak dalam perkembangan awalnya, menunjukkan satu kesejajaran dengan perkembangan pemikiran manusia secara umum. Dalam tahap-tahap awal, ada kesejajaran dengan animisme primitif, di mana si anak berpikir bahwa matahari bersinar karena matahari dilahirkan. Kemudian si anak berpikir bahwa awan datang dari asap, atau udara; batu dibuat dari tanah, dsb. Ini mengingatkan kita pada usaha-usaha awal untuk menjelaskan alam dengan representasi air, angin, dan sebagainya. Makna penting dari sini adalah bahwa semua itu adalah upaya naif untuk menjelaskan alam semestadengan cara yang materialistik dan ilmiah, bukan dengan cara yang religius atau magis. Anak usia tujuh tahun mulai menangkap paham waktu, ruang, kecepatan, dan lain-lain. Walau demikian, pemahaman ini butuh waktu. Berlawanan dengan teori Kant bahwa paham akan waktu dan ruang adalah inheren sejak lahir, seorang anak tidak dapat menangkap ide-ide abstrak semacam itu sampai ide-ide didemonstrasikan melalui eksperimen. Maka, idealisme telah terbukti keliru oleh proses perkembangan pemikiran manusia itu sendiri.

_____________

Catatan Kaki

 

[1] Nikolai Bukharin, Historical Materialism, A System of Sociology.

[2] Blackmore & Page, Evolution: the Great Debate, hal. 185-6

[3] Steven Rose, The Conscious Brain, hal. 31.

[4] S. Rose, Molecules dan Minds, hal. 23.

[5] S. Rose, The Making of Memory, hal. 91.

[6] S. Rose, The Conscious Brain, hal. 28.

[7] Rose, The Conscious Brain, hal. 179

[8] Kita selalu berpikir dengan cara membayangkan bahwa kita sedang “bicara pada diri sendiri”. Inilah mengapa orang yang bicara pada diri sendiri disebut “thinking out loud” - berpikir lantang - dalam bahasa Inggris. (Catatan Penerjemah)

[9] Altruisme adalah prinsip atau tindakan yang dilakukan untuk kesejahteraan atau keuntungan pihak lain.

[10] Rose, Molecules dan Mind, hal. 96-7.

[11] Engels, Dialectics of Nature, hal. 284.

[12] Washburn & Moore, Ape to Man: A Study of Human Evolution.

[13] C. Wills, op. cit., hal. 8, our emphasis.

[14] MESW, Vol. 3, hal. 337.

[15] Engels, The Dialectics of Nature, hal. 241.

[16] Behaviourism adalah salah satu mazhab psikologi, yang menyatakan bahwa psikologi hanya dapat dipelajari dengan meneliti perilaku-perilaku manusia yang dapat diamati, dan bukan dengan hal-hal yang tidak dapat diamati di dalam pikiran manusia. Mazhab ini berpendapat bahwa prilaku manusia dapat dipelajari secara ilmiah tanpa perlu mempertimbangkan psikologi internal manusia, seperti kepercayaan dan pikiran mereka.

[17] Piaget, The Mental Development of the Child, hal. 19.

[18] Lev Semyonovich Vygotsky (1896-1934) adalah psikolog terkemuka dari Uni Soviet, yang menelaah masalah perkembangan psikologi manusia. Dia meninggal muda pada umur 37 tahun akibat TBC.

[19] Rose, Kamin dan Lewontin, Not In Our Genes, hal. 96.

[20] Piaget 22

Nalar yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern. Bab 12. Kelahiran Manusia

Bab 12. Kelahiran Manusia

Epos Dinosaurus - Jaman Mesozoic (850-65 juta tahun lalu)

Massa benua Pangaea, yang tercipta melalui tumbukan benua-benua di jaman Palaeozoic, bertahan utuh selama sekitar 100 juta tahun. Ini melahirkan satu himpunan kondisi tektonik, iklim dan biologis yang baru. Lalu, pada jaman Mesozoic proses ini berbalik. Benua-super ini mulai terpecah. Gletser-gletser besar menutupi bagian selatan dari Afrika-Amerika-Australia dan Antartika. Selama jaman Triassic (250-205 juta tahun lalu) dinosaurus berevolusi di daratan dan pleisiosaurus dan ichthyosaurus di lautan, sementara reptil bersayap pterosaurus merajai angkasa. Mamalia berevolusi dari reptil-reptil yang berkaki cepat, tapi perkembangan mereka sangat lambat. Ledakan pertumbuhan yang besar dari dinosaurus, yang mendominasi bentuk-bentuk kehidupan vertebrata di darat, tidak memungkinkan perkembangan yang pesat bagi mamalia. Mereka tetap dalam ukuran dan jumlah yang kecil selama jutaan tahun, di bawah bayang-bayang rekan-rekan mereka yang berukuran raksasa, hanya berani keluar mencari makan di waktu malam.

Jaman Jurassic (205-145 juta tahun lalu) menyaksikan sebuah perubahan iklim yang besar, yang ditandai oleh mundurnya atau melelehnya gletser, yang menyebabkan peningkatan suhu global sampai akhir jaman itu. Tingkat permukaan laut naik setidaknya 270 meter selama jaman Mesozoic, hampir dua kali lipat dari tingkat pemukaan laut sekarang.

Perlu waktu yang sangat lama untuk memecah sebuah benua-super. Pecahnya Pangaea merupakan awal jaman Jurassic (180 juta tahun lalu), dan benua terakhir baru terpisah pada jaman Cenozoic (40 juta tahun lalu). Pemisahan pertama terjadi pada sumbu timur-barat, di mana terciptanya Samudera Thetys memecah Pangaea menjadi Laurasia di utara dan Gondwanaland di selatan. Pada gilirannya Gondwanaland pecah menjadi tiga bagian di timur – India, Australia dan Antartika. Pada akhir jaman Mesozoic terjadilah pembelahan dari utara ke selatan, yang menghasilkan Samudera Atlantik yang memisahkan Amerika Utara dari Laurasia dan Amerika Selatan dari Afrika. India bergerak ke utara dan bertumbukan dengan Asia, sementara Afrika juga bergerak ke utara dan bertumbukan dengan sebagian Eropa setelah kehancuran Samudera Tethys. Dari samudra yang perkasa ini, hanya sebagian kecil saja yang tinggal, yang kita kenal sekarang sebagai Laut Tengah. Di Samudera Pasifik, Atlantik dan Hindia, masa-masa perluasan permukaan dasar laut yang berlangsung cepat membantu pergerakan pecahan-pecahan benua itu.

Selama Mesozoic, dinosaurus adalah kelompok vertebrata yang dominan. Sekalipun benua terpecah-pecah, mereka telah mengukuhkan posisi mereka di seluruh dunia. Tapi, pada akhir masa ini – 65 juta tahun lalu –terjadi sebuah periode kepunahan massal yang baru, di mana dinosaurus lenyap dari muka bumi. Kebanyakan reptil darat, air dan terbang (dinosaurus, ichthyosaurus dan pterosaurus) disapu bersih. Dari seluruh reptil, hanya buaya, ular, kura-kura dan kadal yang selamat. Penyapuan spesies yang spektakuler ini tidak hanya terjadi pada dinosaurus. Kenyataannya, sepertiga dari semua spesies yang hidup masa itu punah, termasuk ammonite, bellemnite, beberapa tumbuhan, bryozoa, moluska berkatup ganda, echinoida dan lain-lain.

Kesuksesan yang luar biasa dari dinosaurus adalah hasil dari adaptasi sempurna mereka terhadap kondisi yang ada. Populasi totalnya diperkirakan tidak kurang dari populasi mamalia saat ini. Pada saat ini, di manapun di dunia, ada mamalia, kecil atau besar, yang menempati tiap ruang ekologis. Kita boleh yakin bahwa 70 juta tahun lalu, ruang itu ditempati oleh beragam jenis dinosaurus. Berlawanan dengan kesan umum tentang dinosaurus yang dibayangkan sebagai makhluk-makhluk raksasa yang lamban, sebetulnya mereka hadir dalam berbagai ukuran. Kebanyakan berukuran kecil saja, banyak yang berjalan tegak dengan kaki belakangnya, dan dapat berlari sangat cepat. Banyak ilmuwan sekarang percaya bahwa setidaknya beberapa dinosaurus hidup dalam kelompok-kelompok, merawat anak-anaknya bahkan, mungkin juga, berburu secara berkelompok. Batasan Mesozoic-Cenozoic (65 juta tahun lalu) merupakan satu lagi titik balik dalam evolusi kehidupan. Sebuah periode kepunahan massal menyiapkan jalan bagi lompatan evolusioner besar, membuka jalan bagi bangkitnya mamalia. Tapi, sebelum kita membahas proses ini, sangat berguna jika kita membahas terlebih dahulu mengapa dinosaurus punah.

Mengapa Dinosaurus Punah?

Pertanyaan ini telah diperdebatkan dengan hangat di tahun-tahun belakangan ini, dan, sekalipun terdapat klaim-klaim yang meyakinkan, khususnya dari teori bencana-meteorit, persoalan ini masih belum tuntas sepenuhnya. Sesungguhnya terdapat banyak teori yang telah mencoba menjelaskan sebuah fenomena yang, baik karena tampilannya yang spektakuler maupun karena implikasinya terhadap kemunculan spesies kita sendiri, telah menarik perhatian umum dengan cara yang unik. Walau demikian, kita harus mengingatkan diri kita sendiri bahwa ini bukanlah sebuah peristiwa yang unik dalam rantai evolusi. Ia bukanlah satu-satunya kepunahan massal, juga bukan yang terbesar, atau yang memiliki konsekuensi-konsekuensi evolusioner yang paling luas.

Teori yang kini mendapat dukungan paling luas dan yang pastinya telah mendapat publisitas yang paling sensasional adalah teori bencana-meteorit, yang menyatakan bahwa dampak dari meteorit raksasa yang jatuh di satu tempat di permukaan bumi telah mengakibatkan sebuah efek yang mirip dengan “musim dingin nuklir” yang akan menyusul perang nuklir. Jika benturan itu terjadi cukup besar, ia akan melemparkan sejumlah besar debu dan pecahan batuan ke atmosfer. Awan padat yang kemudian terbentuk akan menghalangi sinar matahari sehingga tidak dapat mencapai permukaan bumi, yang mengakibatkan masa kegelapan dan dingin yang berkepanjangan.

Ada bukti-bukti empirik yang menunjukkan bahwa sejenis ledakan telah terjadi, yang mungkin saja disebabkan oleh sebuah meteorit. Teori ini telah mengukuhkan diri belakangan ini dengan penemuan sebuah lapisan tipis tanah liat di antara fosil, yang konsisten dengan efek debu yang dihasilkan oleh benturan yang demikian besar. Ide itu, misalnya, telah pula diterima oleh Stephen J. Gould. Namun, ada beberapa pertanyaan yang masih harus tetap dijawab. Yang pertama, dinosaurus tidaklah menghilang begitu saja dalam semalam, atau bahkan dalam beberapa tahun. Kenyataannya, kepunahan itu berlangsung dalam tempo beberapa juta tahun –waktu yang sangat singkat bila dilihat dari skala geologis, tapi cukup lama untuk membuat kita bertanya-tanya dan meragukan ide tentang bencana meteorit.

Walaupun kita tidak dapat menyangkal begitu saja hipotesis meteorit, ia memiliki satu kelemahan utama. Seperti yang telah kami tunjukkan, terdapat banyak kepunahan massa lain sepanjang jalan evolusi. Bagaimana menjelaskan ini? Apakah kita benar-benar harus menyandarkan diri pada gejala-gejala eksternal seperti jatuhnya meteor? Atau apakah kebangkitan dan kejatuhan spesies berhubungan dengan kecenderungan yang inheren dalam proses evolusi itu sendiri? Bahkan hari ini kita dapat mengamati fenomena naik-turunnya populasi hewan. Hanya baru-baru ini saja kita mulai mendekati pemahaman akan hukum-hukum yang mengatur proses yang kompleks ini. Kalau kita mencari penjelasan dari luar fenomena itu sendiri, ada risiko kalau kita justru akan semakin jauh dari pemahaman yang sebenarnya. Lebih jauh lagi, solusi yang tampaknya menarik karena ia membuang segala kesulitan dengan sekali libat, dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan yang lebih besar daripada kesulitan yang dia klaim akan selesaikan.

Beberapa usulan lain telah diajukan pula. Periode kepunahan massa ini dicirikan oleh aktivitas vulkanik yang luas. Ini, dan bukan benturan meteorit, yang dapat menyebabkan perubahan iklim yang tidak dapat diatasi oleh dinosaurus. Telah juga diajukan bahwa menghilangnya dinosaurus dapat dihubungkan dengan kompetisi yang terjadi antara mereka dengan mamalia. Ada paralel di sini dengan menghilangnya kebanyakan populasi marsupial yang tadinya menghuni Amerika Selatan karena tekanan dari mamalia yang datang dari utara. Sungguh, sangat mungkin bahwa kepunahan makhluk-makhluk raksasa ini sebenarnya merupakan hasil dari kombinasidari situasi-situasi di atas – aktivitas vulkanik, penghancuran lingkungan yang ada waktu itu, spesialisasi yang berlebihan, dan kompetisi untuk memperebutkan sumber makanan yang makin berkurang dengan spesies lain yang lebih teradaptasi untuk menangani lingkungan yang berubah. Kelihatannya mustahil kontroversi ini akan terpecahkan dalam waktu dekat. Apa yang tidak dapat diperdebatkan sebenarnya adalah bahwa, pada akhir jaman Mesozoic beberapa perubahan fundamental telah mengakhiri dominasi dinosaurus. Kita tidak perlu mencari faktor-faktor eksternal untuk menjelaskan fenomena ini:

“'Anda tidak perlu mencari bintik-matahari, gejolak iklim atau penjelasan-penjelasan aneh lainnya untuk menjelaskan lenyapnya dinosaurus,” ujar Lovejoy. “Mereka baik-baik saja selama mereka masih menguasai dunia ini, selama tidak ada strategi reproduktif yang lebih baik di sekitar mereka. Mereka telah bertahan selama lebih dari seratus juta tahun; begitu juga seharusnya umat manusia. Tapi sekali satu terobosan dalam strategi adaptasi diciptakan, sekali dinosaurus ditantang oleh hewan yang dapat bereproduksi tiga atau empat kali lebih cepat daripada yang dapat mereka lakukan, nasib mereka telah berakhir.'“[1]

Teroris Kosmik

Masalahnya menjadi jelas ketika kita mengajukan pertanyaan dengan cara ini: baik, mari kita terima bahwa kepunahan dinosaurus disebabkan oleh sebuah kecelakaan dalam bentuk benturan meteorit yang mendadak. Bagaimana kita menjelaskan kepunahan-kepunahan massal yang lain? Apakah semua disebabkan oleh meteorit? Pertanyaan ini tidaklah sembarangan seperti kelihatannya. Telah dilakukan upaya-upaya untuk menunjukkan bahwa semua kepunahan skala besar adalah hasil dari badai meteorit periodik dari sabuk asteroid. Inilah inti dari apa yang disebut “teori Nemesis” yang diajukan oleh Richard Muller dari University of California.

Beberapa paleontologis tertentu (Raup dan Sepkoski) telah mengklaim bahwa kepunahan massal terjadi pada jarak waktu yang teratur, sekitar kira-kira 26 juta tahun. Namun, orang-orang lain yang mendasarkan dirinya pada bukti-bukti yang sama tidaklah menemukan keteraturan semacam itu. Ada ketidaksepakatan yang sama di kalangan para ahli geologi, beberapa di antara mereka mengklaim adanya satu jarak waktu yang teratur dalam pembentukan kawah-kawah besar, sementara yang lainnya tidak setuju. Pendeknya, tidak ada bukti yang meyakinkan baik untuk keteraturan jarak waktu antar kepunahan massal, maupun jatuhnya komet atau meteorit yang teratur ke bumi.

Bidang-bidang semacam itu mudah sekali menjebak orang ke dalam spekulasi yang ngawur dan tidak masuk nalar. Terlebih lagi, “teori-teori” sensasional macam itulah yang cenderung mendapatkan publisitas terbesar, tidak peduli kesahihannya secara ilmiah. Teori “Nemesis” adalah kasus semacam itu. Jika kita menerima, seperti yang dilakukan Muller, bahwa kepunahan massal terjadi secara teratur tiap 26 juta tahun, dan jika kita lebih jauh lagi menerima, seperti yang diterimanya, bahwa kepunahan massal disebabkan oleh badai meteorit, maka bumi seharusnya dikunjungi secara teratur oleh para meteorit setiap 26 juta tahun, teratur seperti jadwal jam.

Kesulitan dalam pandangan ini sangat jelas – bahkan bagi Muller, yang menulis:

“Sangat luar biasa bahwa sebuah asteroid dapat menubruk bumi persis tiap 26 juta tahun sekali. Di dalam keluasan angkasa, bahkan bumi adalah satu target yang sangat kecil. Satu asteroid yang lewat dekat dengan matahari memiliki peluang yang sedikit lebih baik dari satu per semiliar untuk menghantam planet kita. Benturan yang benar terjadi seharusnya memiliki jarak waktu yang acak, bukan teratur rapi. Apa yang dapat membuat mereka menubruk bumi dengan jadwal yang demikian teratur? Mungkin sejenis teroris kosmik dengan sengaja telah mengarahkan mereka dengan semacam meriam asteroid. Hasil yang menggelikan membutuhkan teori yang menggelikan.”

Dan Muller melanjutkan dengan membuat teori yang menggelikan itu, untuk membenarkan gagasan apriori semua kepunahan massal sesungguhnya disebabkan oleh benturan meteorit, dan bahwa ini terjadi secara teratur setiap 26 juta tahun. Ia menceritakan sebuah argumen panas dengan Luis Alvarez, pencipta pertama teori bencana-meteorit, yang skeptis terhadap ide-ide Muller. Kutipan berikut dari dialog ini memberikan pada kita satu gambaran yang menarik tentang metodologi yang dipakai untuk melahirkan hipotesis itu:

“'Bayangkan satu hari kita menemukan cara untuk membuat sebuah asteroid menghantam bumi tiap 26 juta tahun sekali. Maka bukankah Anda harus mengakui bahwa Anda keliru dan bahwa semua data seharusnya digunakan?'

“'Apa model yang Anda gunakan?' tuntutnya [Alvarez]. Saya pikir ia sedang menghindari pertanyaan saya.

“'Itu tidak penting! Kemungkinan dari model seperti itulah yang membuat logika Anda keliru, bukan keberadaan dari model tertentu.'

“Ada sedikit getaran dalam suara Alvarez. Ia juga kelihatannya sudah mulai marah. 'Lihat, Rich,' desisnya, 'saya juga telah lama berada dalam bisnis pengolahan data ini dan kebanyakan orang menganggap saya seorang ahli. Anda tidak bisa begitu saja mengambil pendekatan tanpa berpikir semacam ini dan mengabaikan apa yang Anda ketahui.'

“Ia menganggap dirinya ahli! Para ilmuwan tidak boleh menganggap dirinya demikian. Jaga emosimu, Rich, kata saya pada diri sendiri. Jangan perlihatkan padanya bahwa kamu juga sudah mulai terganggu.

“'Beban pembuktian itu ada pada Anda,' lanjut saya dengan suara yang ditenang-tenangkan. 'Saya tidak harus mengajukan satu model. Kecuali kalau Anda dapat menunjukkan bahwa tidak ada model semacam itu yang mungkin, maka logika Andalah yang keliru.'

“'Bagaimana mungkin asteroid menghantam bumi secara periodik? Apa model yang Anda gunakan?' ia menuntut lagi. Frustrasi saya hampir sampai pada titik puncaknya. Bagaimana mungkin Alvarez gagal memahami apa yang saya katakan? Ia adalah pahlawan saya. Bagaimana mungkin dia begitu bodoh?

“Persetan! Saya pikir. Jika saya harus, saya akan memenangkan argumen ini memakai caranya. Saya akan menciptakan satu model. Saat itu adrenalin saya mengalir deras. Setelah berpikir sesaat, saya mengatakan: 'Andaikan ada satu bintang kembaran matahari yang mengorbit kepadanya. Setiap 26 juta tahun ia mengorbit dekat ke bumi dan melakukan sesuatu. Saya tidak yakin apa, tapi hal itu membuat asteroid menghantam bumi. Mungkin ia membawa asteroid bersamanya.'“

Jelas sekali metode yang digunakannya untuk mencapai sebuah hipotesa, yang sepenuhnya sembarangan tanpa basis fakta secuilpun. Dengan pendekatan semacam itu, kita benar-benar telah meninggalkan dunia ilmiah dan masuk ke dalam dunia fiksi ilmiah, di mana “apapun bolehlah.” Sesungguhnya, Muller sendiri cukup jujur untuk mengakui bahwa “Saya tidak bermaksud untuk membuat model saya dianggap serius, sekalipun saya pikir bahwa argumen saya akan sudah cukup kuat jika model itu dapat bertahan dari serangan selama lebih dari beberapa menit.”[2] Tapi kini kita hidup di jaman penuh keluguan. Teori “Nemesis”, yang jelas-jelas bukan sebuah model ilmiah, melainkan sebuah terkaan yang dibuat sembarangan, kini telah dianggap serius oleh banyak astronom yang menyapu angkasa, sibuk mencari tanda-tanda adanya “bintang-maut” yang tak kasat mata ini, teroris kosmik ini, yang setelah menyapu bersih dinosaurus, satu hari akan kembali lagi ke tempat kejadian perkara untuk menghabisi kita semua.

Masalahnya di sini adalah masalah metode. Ketika Napoleon bertanya pada Laplace di mana tempat Tuhan dalam skema alam semesta mekanik Newton, ia memberi jawaban yang terkenal ini: “Sire je n'ai pas besoin de cette hypothèse.” (“Tuan, saya tidak memerlukan hipotesis semacam itu.”) Materialisme dialektik berangkat untuk menemukan hukum-hukum inheren dari pergerakan alam. Walaupun kecelakaan/kebetulan memainkan peran dalam semua proses alam, dan secara prinsip tidaklah dapat diabaikan kalau, contohnya, kepunahan dinosaurus salah satunya disebabkan oleh sebuah asteroid yang menyasar, merupakan satu hal yang sangat menyesatkan dan kontraproduktif kalau kita mencoba mencari penyebab kepunahan massal secara umum dari gejala-gejala eksternal, yang sama sekali tidak berhubungan dengan proses yang sedang kita teliti. Hukum-hukum yang mengatur evolusi spesies haruslah dicari dan ditemukan dalam proses evolusi itu sendiri, yang mencakup baik masa-masa perubahan gradual yang panjang dan lambat, maupun masa-masa lainnya di mana perubahan dipercepat dengan luar biasa, yang melahirkan baik kepunahan massal dari beberapa spesies maupun kemunculan dan penguatan dari spesies-spesies baru.

Kekurangmampuan untuk menangkap proses evolusi secara keseluruhan, untuk memahami karakter-karakternya yang kontradiktif, kompleks, dan non-linear – yaitu, kekurangmampuan untuk melakukan pendekatan dialektik – inilah yang membuat orang mengadakan upaya-upaya sembarangan untuk memecahkan persoalan, dengan bersandarkan pada faktor-faktor eksternal, seperti deus ex machina[3], atau kelinci yang ditarik dari topi tukang sulap. Sepanjang jalan ini hanya terdapat jalan buntu yang paling buntu. Lebih jauh lagi, kecenderungan yang teramat menakjubkan untuk menerima skenario yang paling liar – hampir semuanya melibatkan kemungkinan datangnya bencana dari langit, yang menandakan, setidaknya, akhir jaman – adalah suatu hal yang mengungkapkan kepada kita kondisi psikologis umum dari masyarakat di dasawarsa terakhir abad ke-20 ini.

Kelahiran Manusia yang Revolusioner

Jaman yang dikenal sebagai Cenozoic ini dimulai dengan kepunahan massal 65 juta tahun lalu dan telah berlangsung terus sampai sekarang. Selama jaman ini, benua-benua terus bergeser, berpisah dan bertumbukan. Ini menciptakan kondisi-kondisi lingkungan yang baru. Dalam 20 juta tahun pertama suhu naik terus, dan sebuah zona tropispun muncul, di mana kondisi-kondisi di Inggris, misalnya, menyerupai kondisi hutan di Malaya. Perkembangan yang paling penting dalam evolusi dalam jaman ini adalah kebangkitan yang luar biasa cepat dari mamalia, yang mengambil alih lingkungan yang ditinggalkan oleh para reptil. 40 juta tahun lalu, primata, gajah, babi, hewan pengerat, kuda, duyung, penyu, ikan paus dan kelelawar, beserta kebanyakan ordo burung modern dan berbagai familia tumbuhan, telah muncul.

Kebangkitan mamalia dapat dilihat seperti arak-arakan kemenangan, di mana evolusi berjalan semakin jauh ke atas, dalam garis yang tak terputus, yang berpuncak pada kelahiran umat manusia, yakni mahkota evolusi. Tapi sebenarnya bukan seperti ini. Evolusi tidak pernah berjalan dalam garis yang lurus, seperti yang telah kita lihat. Masa-masa pertumbuhan yang intensif, juga dalam masa ini, diikuti oleh pembalikan yang dramatik, kematian dan kepunahan. Ada dua periode kepunahan akibat perubahan lingkungan yang tajam. Sampai 40-30 juta tahun lalu, dimulai proses pendinginan. Suhu terus jatuh sampai 25 juta tahun berikutnya, baru stabil pada tingkatannya yang sekarang sekitar 5 juta tahun lalu. Periode ini menyaksikan periode kepunahan terkini yang melanda mamalia.

Primata, nenek moyang kera dan manusia, tersebar di seluruh dunia. Masa-masa kepunahan dinosaurus memiliki dampak pada banyak familia dari jenis ini. Kondisi lingkungan menyebabkan perkembangan spesies baru yang lebih baik tingkat adaptasinya terhadap kondisi yang telah berubah. Kondisi lingkungan yang baru itu terutama mempengaruhi Afrika dan Eurasia, bukan Amerika. Pada waktu ini, Antartika mencapai Kutub Selatan dan mulai ditutupi dengan es. Selama 10-20 juta tahun berikutnya, terjadi lagi periode pertumbuhan mamalia yang eksplosif –yang terbesar yang pernah ada– di mana banyak spesies kera mulai bermunculan. Namun, desain dasar kera tidak berubah selama masa ini, sampai satu pergeseran iklim baru yang tajam membawa transformasi yang tajam pula. Ada ketidaksepakatan yang cukup tajam antar para paleontologis tentang masalah kapan dan bagaimana hominid berpisah dari kera. Ada indikasi-indikasi dari tulang-tulang bahwa sejak 14 juta tahun lalu telah terdapat sebuah spesies yang menyerupai kera modern. Para ilmuwan percaya bahwa tulang-tulang ini berasal dari sebuah spesies yang hidup di Afrika dan Eurasia sejak 14 sampai 7 juta tahun lalu. Kelihatannya ia adalah sebuah spesies yang sangat sukses dalam evolusinya, dan merupakan nenek moyang bersama dari manusia, kera dan gorila. Lalu, 10-7 juta tahun lalu, terjadi lagi sebuah perubahan lingkungan yang dramatik.

Antartika telah tertutupi oleh gletser. Lalu lapisan es itu menyebar, bukan hanya ke selatan, tapi juga ke utara, sampai ia menutupi Alaska, Amerika Utara, dan Eropa Utara. Karena semakin banyak air yang terjebak ke dalam es, tingkat permukaan air laut semakin turun. Telah diperkirakan bahwa kejatuhan tingkat permukaan air laut lebih dari 150 meter pada saat itu. Sebagai hasilnya, muncul banyak massa-daratan yang baru; jembatan darat terbentuk antara Eropa dan Afrika, Asia dan Amerika, Inggris dan Eropa daratan, yang memungkinkan migrasi lebih jauh dari berbagai spesies. Laut Tengah menguap sepenuhnya. Iklim di sekitar katulistiwa menjadi amat kering, menghasilkan padang pasir yang amat luas, beriringan dengan semakin mengecilnya hutan-hutan, dan kemunculan padang-padang rumput yang maha luas. Pada waktu ini, Asia dipisahkan dari Afrika oleh gurun-gurun, mengisolasi kera-kera Afrika dari kerabat mereka di Asia. Tidak terhindarkan lagi, ini adalah periode kepunahan massal yang baru. Tapi ia juga merupakan masa kelahiran bagi spesies-spesies baru. Pada titik tertentu, mungkin 7 juta tahun lalu, perkembangan mamalia menghasilkan spesies hominid (primata yang mirip manusia) yang pertama.

Kini telah diterima luas bahwa umat manusia datang dari Afrika. Pada 5,3 juta tahun lalu, Laut Tengah mendapatkan kembali bentuknya, dan sebuah spesies kera baru berkembang di Afrika, yang, dalam masa sejuta tahun berkembang ke tiga jurusan berbeda, yang akhirnya melahirkan simpanse, hominid dan gorila. Pemisahan tiga cabang ini terjadi kira-kira 4-5 juta tahun yang lalu akibat tekanan lingkungan di Afrika Timur. Penyebaran gletser di Afrika Selatan menghasilkan perubahan dramatik di Afrika Timur – penggundulan hutan yang dahsyat, karena curah hujan yang menipis dan iklim yang secara umum menjadi semakin kering. Ini mungkin adalah tenaga penggerak yang membawa pada pemisahan ketiga spesies proto-kera itu. Sampai saat itu, mereka masih tinggal di atas pepohonan. Kini mereka memiliki tiga pilihan:

1) Sebagian dari mereka tetap tinggal di hutan. Mereka ini pastilah yang paling bertalenta, paling kuat, dan paling berhasil dalam mengumpulkan makanan dari sumber-sumber yang sangat terbatas. Namun, menyempitnya luas habitat mereka pastilah telah membuat jumlah mereka menurun dengan cepat.

2) Kelompok lain, yang terpaksa pindah ke pinggiran hutan, dengan pepohonan yang lebih jarang dan sumber makanan yang lebih sedikit, akhirnya terpaksa meningkatkan cakupan pengumpulan makanan mereka dengan bergerak di atas tanah, sambil tetap tinggal di dekat pepohonan untuk mendapatkan perlindungan. Kelompok ini diwakili oleh simpanse modern.

3) Kelompok ketiga, yang mungkin terdiri dari kelompok spesies yang paling lemah dan kurang terampil, karena kompetisi intens untuk makanan yang langka dipaksa pindah keluar sepenuhnya dari hutan. Mereka kemudian dipaksa tidak hanya untuk pindah bergerak di atas tanah tapi juga untuk pergi ke tempat-tempat yang jauh untuk mendapatkan makanan yang mereka perlukan untuk kelangsungan hidup mereka. Mereka terpaksa mengembangkan cara hidup yang sama sekali baru, yang berbeda secara radikal dari primata-primata lainnya.

Tekanan-tekanan lingkungan di Asia yang disebabkan oleh perubahan iklim ini juga mendorong beberapa kelompok kera untuk berpindah ke pinggir hutan. Merekakemudian berkembang menjadi babon modern, yang bergerak di tanah untuk mencari makanan, tapi kembali ke pohon untuk mendapatkan perlindungan. Primata menunjukkan berbagai jenis cara bergerak. Kera tarsier (atau kera hantu) melompat dan memeluk pepohonan; kera gibon berayun dari dahan ke dahan; orangutan bergerak dengan “keempat tangannya”; gorila berjalan dengan bantuan tangannya; monyet adalah quadruped sejati [bergerak dengan empat kaki]; hanya hominid yang menjadi bipedal murni [bergerak dengan dua kaki].

“Spesialisasi-spesialisasiyang lain juga muncul bersamaan dengan penggunaan tangan. Jika kita ingin melompat dan meraih sesuatu, kita harus memiliki kemampuan untuk menaksir jarak secara akurat. Jika tidak kita bisa-bisa tidak mendapatkan apa-apa; atau malah gagal meraih dahan pohon sama sekali dan jatuh. Cara untuk menaksir jarak secara akurat adalah melalui penglihatan binokular; memfokuskan kedua mata pada satu objek untuk menghasilkan persepsi kedalaman. Ini menuntut agar kedua mata terletak di bagian depan tengkorak dan menghadap ke depan, bukan di sisi kepala, seperti mata seekor tupai. Nenek moyang primata mengembangkan daya penglihatan semacam itu. Tengkorak mereka menjadi bundar untuk mengakomodasi posisi mata yang baru, dan bersamaan dengan perubahan bentuk itu datanglah pembesaran dalam kapasitas tengkorak dan kemungkinan untuk mengembangkan otak yang lebih besar. Pada saat yang sama, rahang mengecil. Dengan tangan, seekor hewan tidak perlu melakukan seluruh pengumpulan makanan dan perburuannya dengan giginya. Ia boleh punya rahang yang lebih kecil dan jumlah gigi yang lebih sedikit. Kera dan monyet modern – dan juga manusia – memiliki enam belas gigi pada tiap rahang. Nenek moyang mereka memiliki sebanyak dua puluh dua pada masing-masing rahang.”[4]

Psikolog Jerome Bruner dalam tulisan-tulisannya mengenai perkembangan mental anak-anak, telah menekankan bahwa keterampilan memiliki banyak persamaan dengan penciptaan bahasa di satu pihak dan kemampuan memecahkan masalah di pihak lain. Keterampilan yang paling sederhana melibatkan penggunaan satu atau kedua tangan dan panduan visual. Tentang perkembangan tangan manusia, Bruner menulis demikian:

“Tangan manusia adalah sebuah sistem yang tumbuh dengan lambat, dan butuh bertahun-tahun sebelum manusia dapat menunjukkan kecerdasan manual yang telah membedakan spesies kita dari yang lain – penggunaan dan penciptaan perkakas. Sesungguhnya, secara historis, tangan dianggap bahkan oleh mereka yang mempelajari evolusi primata sebagai hal yang tidak terlalu menarik perhatian. Wood Jones ingin agar kita percaya bahwa hanya ada perbedaan morfologi yang kecil saja antara tangan monyet dan tangan manusia, tapi perbedaan itu adalah pada fungsinya, yang dikendalikan oleh sistem syaraf pusat. Namun, seperti yang telah ditunjukkan oleh Clark dan Napier, arah evolusioner dari perubahan morfologis pada tangan, dari spesies treeshrew (sejenis tupai)[5]ke kera Dunia Baru ke kera Dunia Lama ke Manusia, inilah yang seharusnya mengungkapkan bagaimana fungsi tangan berubah dan, bersamanya, berubah pula sifat implementasi dari kecerdasan manusia.

“Perubahan itu telah berlangsung dengan stabil ke arah de-spesialisasi yang bentuknya sangat khusus. Tangan dibebaskan dari fungsinya sebagai alat pergerakan, dari fungsi pengayun, dan dari berbagai fungsi-fungsi spesial semacam yang membutuhkan cakar dan berbagai bentuk buku jari yang eksotik. Dengan menjadi lebih terdespesialisasi dalam fungsi, tangan menjadi memiliki lebih banyak variasi fungsi. Tanpa kehilangan kapasitasnya sebagai penyeimbang berat tubuh, sebagai konvergensi dalam mengambil makanan, sebagai alat memegang dan memanjat, atau ibu jari yang berlawanan posisinya dengan jari-jari lainnya (opposable thumb) –yang semuanya adalah warisan nenek moyang keranya – tangan dalam evolusi primata yang selanjutnya mencapai beberapa kemampuan fungsional baru sambil mengalami beberapa perubahan morfologi yang diperlukan. Kapasitas gabungan dari kekuatan dan kemampuan menggenggam secara presisi ditambahkan kepadanya.

“Fleksibilitas dari telapak dan ibu jari meningkat melalui perubahan tulang-tulang hamate dan trapezium dalam artikulasinya. Ibu jari memanjang dan sudut diamnya terhadap tangan meningkat. Buku-buku terminal melebar dan menguat, terutama ibu jari. Napier mungkin melebih-lebihkan ketika ia mengatakan, 'Bukti-bukti yang ada sekarang menunjukkan bahwa kualitas (baik atau buruk) perkakas batu dari manusia-manusia purba sebanding dengan tangan yang membuat perkakas tersebut.' Pastinya, tangan yang tadinya dungu itu menjadi semakin pandai ketika dipekerjakan dalam program-program cerdas yang disusun oleh kebudayaan kita.”[6]

Fosil-fosil hominid pertama ditemukan di Afrika Timur, dan termasuk dalam spesies yang dikenal sebagai Australopithecus Afarensis, yang hidup sekitar 3,5-3,3 juta tahun lalu. Makhluk-makhluk mirip kera ini mampu berjalan tegak, memiliki tangan dengan ibu jari yang berlawanan posisinya dengan jari-jari lainnya, dan dengan demikian mampu memanipulasi perkakas-perkakas. Kapasitas rongga otaknya lebih besar dari kera lainnya (450 cc). Namun, belum ditemukan perkakas-perkakas yang dapat dihubungkan dengan hominid-hominid awal ini.Tapi perkakas-perkakas itu terbukti ada ketika kita menjumpai spesies pertamayang serupa manusia, yang diberi nama dengan tepat sekali sebagai Homo habilis (“manusia pembuat perkakas”), yang berjalan tegak, memiliki tinggi 1,20 meter dan memiliki kapasitas otak sebesar 800 cc.

Pada titik mana terjadi perpecahan sejati antara manusia dan kera hominid? Paleontologis telah berdebat lama tentang hal ini. Jawaban ini telah dikemukakan oleh Engels dalam esai adikaryanya The Part Played by Labour in the Transition of Ape to Man. Tapi sesungguhnya hal ini telah diantisipasi oleh Marx dan Engels jauh sebelumnya dalam karya perdana mereka, The German Ideology, yang ditulis di tahun 1845:

“Manusia dapat dibedakan dari hewan melalui kesadarannya, melalui agama atau apapun yang Anda sukai. Mereka sendiri mulai membedakan diri mereka dari hewan segera setelah mereka mulai menghasilkan perkakas-perkakas pemenuhan kebutuhan hidup mereka, satu langkah yang dikondisikan oleh organisasi fisik mereka. Dengan menghasilkan perkakas-perkakas pemenuhan kebutuhan hidupnya, manusia secara tidak langsung menghasilkan kehidupan material mereka.”[7]

Peran dari Pembuatan Perkakas

Dalam sebuah upaya yang sangatlah dangkal untuk membantah pandangan materialis tentang asal-usul spesies manusia, sering kali dikemukakan bahwa manusia bukanlah satu-satunya hewan yang dapat “menggunakan perkakas”. Argumen ini sepenuhnya kosong. Walaupun banyak hewan (bukan hanya monyet dan simpanse, tapi juga beberapa jenis burung dan serangga) dapat disebut menggunakan “perkakas” untuk beberapa aktivitas tertentu, semua ini terbatas pada material-material alam yang dapat mereka temukan – tongkat, batu, dsb. Lebih jauh lagi, penggunaan semacam itu hanya merupakan aktivitas yang kebetulan saja, seperti ketika seekor monyet melemparkan sebatang tongkat untuk merontokkan buah dari tangkainya, atau tindakan-tindakan terbatas yang sekalipun boleh jadi kompleks tapi sepenuhnya merupakan hasil dari naluri dan pengkondisian genetik. Tindakan-tindakannya selalu sama. Sama sekali tidak terdapat perencanaan yang cerdas, pemahaman akan apa yang akan terjadi atau kreativitas, kecuali pada tingkatan yang sangat terbatas pada beberapa spesies mamalia yang paling maju, tapi bahkan kera-kera yang paling maju sama sekali tidak memiliki aktivitas yang mirip dengan aktivitas produktif dari manusia yang paling primitif sekalipun.

Poin terutama di sini bukanlah bahwa manusia “menggunakan perkakas”. Yang terutama adalah bahwa manusia adalah satu-satunya hewan yang membuat perkakas, dan bukan sebagai aktivitas yang terisolasi atau kebetulan, melainkan sebagai kondisi esensial bagi keberadaan mereka, yang merupakan dasar bagi segala sesuatu yang lainnya. Maka, sekalipun secara genetik manusia dan simpanse hampir-hampir identik, dan perilaku dari hewan-hewan ini dalam beberapa hal mirip sekali dengan manusia, simpanse yang paling cerdaspun tidak sanggup membuat perkakas batu yang paling kasar seperti yang dihasilkan oleh Homo erectus[8],satu makhluk yang berada di ambang evolusioner menuju umat manusia.

Dalam bukunya yang paling mutakhir, The Origin of Humankind, Richard Leakey menyatakan hal ini:

“Simpanse adalah makhluk yang terampil dalam menggunakan perkakas, dan menggunakan tongkat untuk memanen rayap, dedaunan sebagai sepon, dan batu untuk memecahkan biji-bijian. Tapi – sejauh ini, setidaknya – tidak ada simpanse di alam liar yang terlihat memproduksi perkakas-perkakas batu. Manusia mulai memproduksi perkakas-perkakas tajam 2,5 juta tahun lalu dengan mengadu dua buah batu, dan dengan demikian memulai serangkaian aktivitas teknologis yang telah mewarnai prasejarah manusia.”[9]

Bandingkan itu dengan apa yang ditulis Engels di tahun 1876:

“Banyak monyet menggunakan tangan mereka untuk membangun sarang mereka di pepohonan atau bahkan, seperti simpanse, untuk membangun atap di antara cabang-cabang pohon untuk perlindungan terhadap cuaca. Dengan tangan mereka dapat menggenggam tongkat pemukul untuk mempertahankan diri dari musuh, atau membombardir lawannya dengan buah atau batu-batuan. Di dalam penangkaran, mereka mengerjakan dengan tangan mereka sejumlah pekerjaan sederhana yang ditiru dari manusia. Tapi justru di sinilah kita melihat betapa besarnya jurang antara tangan yang belum berkembang dari kera yang paling maju sekalipun, dan tangan manusia yang telah disempurnakan oleh kerja selama ratusan ribu tahun. Jumlah dan pengaturan umum dari tulang-tulang dan otot-otot di antara keduanya sama; tapi tangan dari orang yang paling barbar sekalipun dapat melakukan ratusan pekerjaan yang tidak akan pernah dapat ditiru oleh tangan monyet. Tidak ada tangan makhluk kera yang pernah membuat pisau batu yang paling kasar sekalipun.”[10]

Nicholas Toth telah menghabiskan banyak tahun dalam usahanya untuk merekonstruksi metode-metode yang digunakan oleh manusia-manusia purba untuk menghasilkan perkakas, dan telah sampai pada kesimpulan bahwa proses pembuatan perkakas batu yang paling dasar pun membutuhkan bukan saja ketelitian dan keterampilan tangan, tapi juga kemampuan merencanakan dan melihat apa yang akan terjadi ke depan.

“Untuk dapat bekerja secara efisien, para pembuat perkakas batu harus memilih batu dengan bentuk yang sesuai, menentukan sudut yang tepat untuk menghantam; dan gerakan menghantam itu sendiri membutuhkan latihan yang banyak untuk dapat menyalurkan jumlah tenaga yang tepat di tempat yang tepat. 'Kelihatannya jelas bahwa proto-manusia pembuat-perkakas awal memiliki naluri yang baik akan dasar-dasar pengerjaan batu,' Toth menulis dalam sebuah artikel di tahun 1985. 'Tidak ada keraguan bahwa para pembuat perkakas yang pertama memiliki kapasitas mental jauh di atas kera-kera,' ia memberi tahu saya baru-baru ini. 'Pembuatan perkakas membutuhkan sebuah koordinasi kemampuan motorik dan kognitif yang cukup tinggi.'“[11]

Ada sebuah korelasi yang erat antara tangan, otak, dan organ-organ tubuh lainnya. Bagian dari otak yang berhubungan dengan tangan jauh lebih besar dari yang berhubungan dengan bagian tubuh lainnya. Darwin telah memahami fakta bahwa perkembangan berbagai bagian dari organisme terhubung dengan perkembangan dari bagian lain yang kelihatannya tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Ia menyebut fenomena ini hukum korelasi pertumbuhan. Perkembangan keterampilan menggunakan tangan melalui kerja menyediakan rangsangan untuk perkembangan otak yang cepat.

Perkembangan umat manusia bukanlah sebuah kebetulan, tapi merupakan hasil dari keniscayaan. Posisi berdiri tegak dari hominid-hominid pertama diperlukan untuk memungkinkan mereka bergerak bebas di padang rumput dalam rangka mencari makanan. Kepala harus didudukkan di puncak tubuh untuk dapat mendeteksi keberadaan hewan pemangsa, seperti yang kita lihat pada satwa penghuni padang rumput lainnya, seperti binatang meerkat. Sumber makanan yang terbatas menghasilkan satu keharusan untuk mengumpulkan dan memindahkannya, dan ini mendorong perkembangan tangan.

Kera tidaklah memiliki tubuh yang sesuai untuk berjalan dengan dua kaki dan hanya dapat melakukan hal itu dengan kikuk. Anatomi dari hominid awal menunjukkan struktur tulang yang jelas teradaptasi untuk berjalan tegak. Postur tegak ini memiliki kelemahan-kelemahan yang besar. Mustahil bagi makhluk bipedal untuk dapat berlari secepat mereka yang berjalan dengan empat kaki. Bipedalisme adalah satu postur yang tidak alamiah, yang menjelaskan keberadaan penyakit punggung yang telah menghantui manusia sejak masih tinggal di gua-gua sampai sekarang. Keuntungan besar dari bipedalisme adalah bahwa posisi itu membebaskan tangan untuk dapat bekerja. Inilah lompatan besar umat manusia. Kerja, bersama dengan alam, adalah sumber segala kekayaan. Tapi, seperti yang ditunjukkan oleh Engels, tentu tidaklah terbatas pada ini saja:

“Kerja adalah kondisi dasar bagi seluruh keberadaan manusia, dan cakupannya adalah sedemikian rupa sehingga, dalam makna tertentu, kita harus mengatakan: kerja menciptakan manusia itu sendiri.”

Perkembangan tangan melalui kerja terkait erat dengan perkembangan tubuh secara keseluruhan.

“Maka tangan bukan saja organ untuk bekerja, ia juga merupakan hasil dari kerja itu sendiri. Hanya melalui kerja, melalui adaptasi untuk pekerjaan-pekerjaan yang semakin baru, melalui pewarisan perkembangan otot, ligamen dan, selama rentang waktu yang panjang, juga tulang, dan melalui penggunaan perkembangan-perkembangan baru ini untuk melakukan kerja-kerja baru yang semakin rumit, hanya melalui semua inilah tangan manusia mencapai tingkat kesempurnaan yang tinggi, yang telah memungkinkannya menghasilkan lukisan-lukisan seperti karya Raphael, patung-patung seperti karya Thorwaldsen, dan musik seperti karya Paganini.

“Tapi tangan tidaklah hadir sendirian. Ia hanyalah salah satu anggota dari keseluruhan organisme yang kompleks itu. Dan apa yang menguntungkan bagi tangan, menguntungkan pula bagi seluruh tubuh yang ia layani.”[12]

Hal yang sama berlaku pula untuk bahasa. Sekalipun kera sanggup menghasilkan serangkaian bunyi-bunyian dan gerak tubuh yang boleh dilihat sebagai sejenis “bahasa” embrionik, segala upaya yang pernah dicoba untuk mengajari mereka berbicara telah menemui kegagalan. Bahasa, seperti dijelaskan Engels, adalah hasil dari proses produksi kolektif, dan hanya dapat lahir dalam sebuah spesies yang aktivitas hidupnya bergantung secara eksklusif pada kerja sama dalam rangka membuat perkakas, satu proses yang kompleks yang harus dipelajari secara sadar dan diteruskan dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Tentang hal ini, Noam Chomsky menulis:

“Setiap orang yang ingin mempelajari sifat manusia dan kapasitasnya haruslah dengan satu atau lain cara memahami fakta bahwa semua manusia normal mendapatkan kemampuan berbahasa, sementara kemampuan untuk memahami dasar-dasar bahasa yang paling kasarpun berada jauh di luar kemampuan dari kera yang paling cerdas sekalipun.”

Belakangan ini, telah menjadi jamak untuk mencoba menunjukkan bahwa bahasa bukanlah sesuatu yang khas manusia. Walaupun tidak ada keraguan sedikit pun bahwa sistem komunikasi juga ada di antara hewan-hewan, sangatlah tidak tepat jika kita menggambarkan hal itu sebagai bahasa. Bahasa manusia muncul dari masyarakat manusia dan aktivitas produksi manusia yang kooperatif, dan berbeda secara kualitatif dengan sistem-sistem komunikasi lain di kalangan hewan, bahkan sistem yang paling kompleks sekalipun.

“Bahasa manusia kelihatannya adalah suatu fenomena yang unik, tanpa analogi yang signifikan dalam dunia hewan. Jika benar demikian, merupakan hal yang tidak masuk nalar untuk mengangkat persoalan bagaimana menjelaskan evolusi bahasa manusia dari sistem-sistem yang lebih primitif yang muncul di antara spesies-spesised dengan kapasitas kecerdasan yang lebih rendah tingkatannya.”

Dan lagi:

“Sejauh kami ketahui, kemampuan bahasa manusia berhubungan dengan sejenis organisasi mental yang spesifik, bukan sekedar tingkat kecerdasan yang lebih tinggi. Kelihatannya tidak ada alasan sama sekali untuk memandang bahasa manusia sebagai sekedar satu peristiwa yang lebih kompleks di dunia hewan. Hal ini merupakan sebuah masalah bagi para ahli biologi, karena, jika hal ini benar, ini adalah satu contoh dari 'kemunculan' (emergence) sejati – munculnya satu fenomena yang berbeda secara kualitatif pada tahap tertentu dari kompleksitas organisasi.”[13]

Perkembangan ukuran otak yang cepat merupakan satu masalah tambahan, khususnya dalam hubungannya dengan proses melahirkan bayi. Sementara seekor bayi kera memiliki ukuran otak sebesar 200 cc – sekitar setengah dari ukuran otak dewasanya – bayi manusia (385 cc) hanya memiliki seperempat dari ukuran otak manusia dewasa (sekitar 1350 cc). Bentuk tulang pinggul manusia, yang teradaptasi untuk berjalan tegak membatasi ukuran bukaan pinggul. Maka, semua bayi manusia dilahirkan “secara prematur”, karena otak manusia yang berukuran besar dan restriksi darianatomi bipedalisme.

Ketidakberdayaan seorang bayi manusia nampak jelas jika dibandingkan dengan spesies mamalia yang lain. Telah diajukan oleh Barry Bogin, seorang ahli biologi di University of Michigan, bahwa tingkat pertumbuhan tubuh bayi manusia yang lambat, jika dibandingkan dengan kera, berhubungan dengan waktu panjang yang dibutuhkan untuk menyerap aturan-aturan dan teknik-teknik yang kompleks dari masyarakat manusia. Bahkan perbedaan antara ukuran tubuh anak dan dewasa membantu menegakkan satu hubungan guru-murid, di mana yang muda belajar dari yang tua, sementara di kalangan kera pertumbuhan yang cepat segera menumbuhkan rivalitas fisik. Ketika proses pembelajaran yang panjang ini selesai, tubuh sang anak dengan cepat mengejar dengan satu lompatan mendadak dalam pertumbuhannya ketika masa remaja.

“Manusia menjadi manusia melalui pembelajaran yang intensif, bukan hanya pembelajaran kemampuan bertahan hidup tapi juga adat dan moral sosial, kekerabatan dan hukum-hukum sosial – yakni, kebudayaan. Lingkungan sosial di mana bayi yang tak berdaya dipelihara dan anak-anak yang lebih tua diberi pendidikan adalah sebuah ciri yang lebih menjadi milik manusia ketimbang kera.”[14]

Organisasi Sosial

Kehidupan di padang rumput terbuka dengan berbagai jenis hewan pemangsa adalah kehidupan yang berbahaya. Manusia bukanlah hewan yang perkasa; dan hominid-hominid awal jauh lebih kecil daripada manusia modern. Mereka tidak memiliki cakar yang kuat atau gigi yang tajam, mereka juga tidak dapat berlari lebih cepat dari singa maupun pemangsa berkaki empat lainnya. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan mengembangkan sebuah komunitas yang sangat terorganisir dan kooperatif, yang dapat memproduksi secara kolektif sumber makanan yang langka itu. Tapi langkah yang menentukan tidak diragukan lagi adalah pembuatan perkakas, dimulai dengan kapak-kapak batu, yang digunakan untuk berbagai macam keperluan. Sekalipun penampilan mereka amat sederhana, perkakas-perkakas ini sebetulnya sudah mencapai tingkat yang sangat canggih dan serba-guna, yang pembuatannya menunjukkan tingginya tingkatan organisasi, perencanaan, dan setidaknya elemen-elemen pembagian kerja. Di sinilah kita mendapati permulaan sejati dari masyarakat manusia. Mengutip Engels:

“Seperti yang telah dikatakan, nenek moyang kera kita adalah makhluk sosial; tentunya mustahil mencari garis keturunan manusia, hewan yang paling bersifat sosial, dari nenek moyang yang tidak sosial. Penguasaan atas alam, yang dimulai dengan perkembangan tangan, melalui kerja, meluaskan cakrawala manusia pada tiap langkah maju yang diambilnya. Ia terus-menerus menemukan sifat-sifat baru dari benda-benda alam, yang tadinya tidak dipahaminya. Di pihak lain, perkembangan kerja pastilah membantu membawa anggota-anggota masyarakat semakin dekat satu sama lain melalui semakin banyaknya kasus yang membutuhkan dukungan bersama, aktivitas gabungan, dan keuntungan aktivitas gabungan ini bagi tiap individu. Pendeknya, makhluk-makhluk yang sedang bergerak untuk menjadi manusia ini sampai pada titik di mana mereka perlu saling bercakap-cakap. Kebutuhan ini membawa pada penciptaan organ untuk bercakap-cakap; melalui modulasi, kerongkongan kera yang agak terbelakang itu berubah perlahan-lahan untuk dapat membuat modulasi yang semakin hari semakin maju, dan organ-organ mulut secara perlahan belajar untuk mengucapkan huruf-huruf satu demi satu.”[15]

Pembuatan perkakas, yang merupakan awal pembagian kerja, yang awalnya dibagi antara laki-laki dan perempuan, perkembangan bahasa, dan sebuah masyarakat yang berdasarkan kerja sama – inilah elemen-elemen yang menandai kemunculan umat manusia. Ini bukanlah proses yang lambat dan gradual, melainkan lompatan yangrevolusioner, salah satu titik balik yang paling menentukan dalam evolusi. Mengutip kata-kata paleontologis Lewin Binford, “Spesies kita telah tiba– bukan sebagai hasil dari proses progresif yang bertahap tapi secara eksplosif dalam jangka waktu yang relatif singkat.”[16]

Hubungan antara kerja dan faktor-faktor lain dijelaskan oleh Engels:

“Yang pertama adalah kerja, lalu setelah itu, dan kemudian dengannya,kemampuan berbicara yang fasih – inilah dua dorongan yang paling hakiki yang mempengaruhi otak kera untuk perlahan-lahan berubah menjadi otak manusia. Sekalipun keduanya banyak persamaan tetap saja otak manusia lebih besar dan lebih sempurna. Bersamaan dengan perkembangan otak berjalan juga perkembangan dari instrumen-instrumennya yang paling langsung –yakni organ-organ pengindera. Seperti halnya perkembangan kemampuan berbicara pasti disertai dengan perkembangan organ-organ pendengaran, demikian juga perkembangan otak secara keseluruhan disertai pula dengan pengasahan semua indera. Seekor elang dapat melihat dalam jarak yang lebih jauh daripada manusia, tapi mata manusia melihat lebih banyak benda daripada mata elang. Anjing memiliki penciuman yang lebih tajam daripada manusia, tapi ia tidak dapat membedakan seperseratus bagian dari satu bau tertentu yang dapat dibedakan oleh manusia. Dan indera perasa, yang dimiliki oleh kera hanya dalam bentuk awalnya yang paling kasar, telah dikembangkan bersamaan dengan perkembangan tangan manusia itu sendiri, melalui kerja.”

Hominid-hominid awal memiliki diet yang dominan vegetarian, sekalipun penggunaan perkakas yang paling primitif seperti tongkat penggali memberi mereka akses ke sumber makanan yang tidak tersedia untuk kera-kera lain. Diet ini disuplemen oleh sejumlah kecil daging, yang didapat terutama dari memungut bangkai. Terobosan sesungguhnya datang ketika pembuatan perkakas dan senjata memungkinkan manusia untuk beralih ke perburuan sebagai sumber makanan utama. Konsumsi daging tak diragukan lagi membawa manusia pada perkembangan otak yang semakin cepat. Engels menulis:

“Diet daging mengandung zat-zat utama – dalam bentuk yang hampir jadi – yang dibutuhkan organisme untuk metabolismenya. Ini memperpendek waktu yang dibutuhkan, bukan hanya untuk pencernaan, tapi juga untuk proses-proses tubuh vegetatif yang serupa dengan tumbuhan.Dengan demikian ini memberi waktu, material, dan keinginan yang lebih besaruntuk manifestasi aktif kehidupan hewani dalam makna yang setepat-tepatnya. Dan semakin jauh makhlukitu terpisah dari dunia tumbuhan, semakin tinggi pula ia bangkit melebihi hewan-hewan. Seperti halnya menjadi terbiasa dengan diet tumbuhan yang disertai daging mengubah kucing dan anjing liar menjadi pembantu manusia, begitu juga adaptasi pada diet daging yang disertaidiet tumbuhan memberikan kekuatan tubuh dan kemandirian kepada makhluk yang kelak menjadi manusia itu. Namun, efek yang paling esensial dari diet daging adalah pada otak, yang kini menerima pasokan material yang jauh lebih kaya yang diperlukan untuk pasokan gizi dan perkembangannya, sehingga ia dapat berkembang lebih cepat dan sempurna dari generasi ke generasi.”[17]

Poin yang persis sama diajukan oleh Richard Leakey, yang menghubungkan hal itu dengan perubahan fundamental dalam organisasi sosial. Di kebanyakan primata lain, terdapat kompetisi yang buas antar para jantan untuk dapat mengawini betinanya. Hal ini tercermin dalam perbedaan yang nampak nyata dalam ukuran tubuh antara, katakanlah, jantan dan betina dari babon padang rumput. Perbedaan semacam itu terlihat pula pada hominid-hominid awal, seperti Australopithecus afarensis. Ini menunjukkan sebuah struktur sosial yang lebih mirip kera ketimbang manusia. Dengan kata lain, adaptasi fisik seperti bipedalisme, sekalipun sangat vital sebagai prakondisi untuk evolusi manusia, tidak berarti bahwa hominid-hominid awal ini adalah manusia.

Di antara babon padang rumput, para jantan (yang ukuran tubuhnya dua kali ukuran tubuh betinanya) meninggalkan kelompok segera setelah mereka mencapai kedewasaan, dan bergabung dengan kelompok lain, di mana mereka segera memasuki persaingan dengan pejantan yang berkuasa untuk mendapatkan akses ke para betina. Maka, dalam istilah Darwin, para jantan ini tidak memiliki alasan (genetik) untuk bekerja sama satu dengan lainnya. Di antara simpanse, di pihak lain, untuk alasan-alasan yang sampai saat ini belum dipahami, para jantan tetap tinggal dalam kelompok di mana mereka dilahirkan, dan para betina yang bermigrasi. Simpanse jantan, yang secara genetik berkerabat, memiliki alasan Darwinian untuk bekerja sama, yang mereka lakukan, baik untuk mempertahankan kelompok itu dari serangan luar, maupun untuk kadang kala berburu monyet untuk menambah pasokan gizi mereka. Perbedaan dalam ukuran tubuh antara simpanse jantan dan betina hanyalah 15-20%, yang mencerminkan dominasi sifat kerja sama dari masyarakat ini.

Walaupun perbedaan ukuran antara anggota-anggota jantan dan betina dari Austalopithecus afarensis demikian besarnya sehingga pada awalnya fosil-fosil mereka dikira berasal dari dua spesies yang berbeda, situasinya amat berbeda dengan anggota-anggota spesies manusia yang paling awal, di mana jantan hanya berbeda tidak lebih dari 20% dari betinanya, seperti pada simpanse, kerabat genetik kita yang terdekat. Tentang hal ini, Leakey berkomentar:

“Seperti yang telah diajukan oleh antropolog Cambridge Robert Foley dan Phyllis Lee, perubahan dalam perbedaan ukuran tubuh pada saat awal terbentuknya genus Homo ini jelas mencerminkan satu perubahan dalam organisasi sosialnya. Sangat mungkin, para jantan Homo yang pertama tetap tinggal dengan kelompok mereka, bersama saudara-saudara kandung dan saudara-saudara angkat mereka. Sementara para betina berpindah ke kelompok lain. Kekerabatan, seperti yang telah saya tunjukkan, meningkatkan kerja sama antar para jantan.”

“Kita tidak tahu dengan pasti apa yang memicu pergeseran dalam organisasi sosial ini: kerja sama yang semakin baik di antara para jantan haruslah sangat menguntungkan karena satu atau lain alasan. Beberapa antropolog telah berargumen bahwa pertahanan terhadap kelompok Homo lain menjadi demikian pentingnya. Alasan lain yang sama atau bahkan lebih mungkin, adalah perubahan yang berpusat pada kepentingan-kepentingan ekonomis. Beberapa bukti menunjukkan pada pergeseran diet bagi Homo – di mana daging menjadi sumber energi dan protein yang penting. Perubahan dalam struktur gigi pada Homo awal menunjukkan bahwa mereka memakan daging, seperti juga penyempurnaan teknologi perkakas batu. Lebih jauh lagi, peningkatan dalam ukuran otak yang merupakan bagian dari perkembangan spesies Homo mungkin bahkan menuntut agar spesies itu menambah dietnya dengan sumber yang kaya energi.”[18]

Kita sudah lama mengetahui bahwa otak adalah organ yang metabolismenya sangat mahal, yang di kalangan manusia modern menyerap 20% dari energi yang dikonsumsi, sekalipun otak hanya merupakan 2% dari berat tubuh secara keseluruhan. Antropolog Australia Robert Martin telah menjelaskan bahwa peningkatan ukuran otak pada Homo awal hanya dapat terjadi di atas basis peningkatan pasokan energi, yang hanya dapat datang dari daging, dengan konsentrasi kalori, protein dan lemaknya. Awalnya, inidatang dari memakan bangkai, dan beberapa aktivitas berburu (yang, seperti kita ketahui, juga dilakukan bahkan di kalangan simpanse). Tapi kemudian, tidak diragukan lagi bahwa perburuan memainkan peran yang semakin penting dalam penyediaan diet yang semakin beragam dan kaya gizi, dengan konsekuensi-konsekuensi evolusioner yang jauh jangkauannya.

Hipotesis tentang Perkembangan Manusia

Di tahun-tahun terakhir, telah terdapat kontroversi tajam tentang peran aktivitasberburu dalam masyarakat manusia purba. Ada satu kecenderungan untuk meremehkan peran perburuan dan lebih menekankan pada peran pengumpulan makanan (meramu) dan pencarian bangkai. Walaupun persoalan ini belumlah diselesaikan secara pasti, sulitlah untuk tidak menyepakati pandangan Leakey bahwa argumen yang menentang model berburu-meramu telah dibawa terlalu jauh. Juga sangat menarik untuk mencatat bagaimana kontroversi-kontroversi ini mencerminkan prasangka-prasangka atau tekanan-tekanan sosial tertentu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan isu yang sedang dibahas.

Di tahun-tahun awal abad ke-20, sudut pandang idealis mendominasi. Umat manusia menjadi manusia karena otaknya, dengan tingkat pemikirannya yang tinggi, yang mendorong semua perkembangan yang lain. Belakangan, pandangan tentang “Manusia sang Pembuat Perkakas” muncul kembali, sekalipun dalam bentuk yang agak idealis, di mana perkakas-perkakas, tapi tidak termasuk senjata, dikatakan sebagai daya-penggerak evolusi. Kejadian-kejadian yang mengerikan sepanjang Perang Dunia II menghasilkan reaksi terhadapnya, dalam bentuk teori “Manusia sang Kera Pembunuh”, yang diajukan “mungkin karena teori itu terlihat dapat menjelaskan (atau bahkan membenarkan) kejadian-kejadian mengerikan pada saat perang,” Leakey berkomentar dengan cerdas.

Di tahun 1960-an, ada minat besar pada suku!Kung San–yang disebut juga“Bushmen” atau orang-orang semak (penamaan yang keliru) dari gurun Kalahari. Mereka adalah sekelompok orang yang tinggal dalam keserasian dengan lingkungan alaminya, dan mengeksploitasi lingkungan itu dengan cara yang amat kompleks. Ini sangat cocok dengan minat atas isu-isu lingkungan yang sedang berkembang saat itu di masyarakat Barat. Di tahun 1966, ide tentang “Manusia sang Pemburu” muncul kembali dengan kuat di sebuah konferensi antropologi besar di Chicago. Namun, gagasan ini berbenturan dengan para pendukunggerakan “Pembebasan Perempuan” di tahun 1970-an. Karena perburuan biasanya dilihat sebagai aktivitasnya laki-laki, diasumsikan – tanpa alasan yang jelas – bahwa penerimaan akan hal ini berarti merendahkan martabat perempuan dalam masyarakat-masyarakat awal. Lobi kaum feminis yang kuat mengajukan hipotesis “Perempuan sang Peramu”, di mana diajukan bahwa peramuan makanan, terutama tumbuh-tumbuhan, yang dapat dikerjakan bersama-sama, adalah basis evolusi masyarakat manusia yang kompleks ini.

Peran sentral perempuan dalam masyarakat awal tidak dapat dibantah lagi, dan dengan jelas telah dijelaskan oleh Engels dalam karya klasiknya The Origins of the Family, Private Property and State. Namun, merupakan satu kesalahan serius jika kita memaksakan pembacaan – atau lebih buruk lagi, prasangka – yang diambil dari masyarakat masa kini ke dalam catatan-catatan historis. Perjuangan untuk emansipasi perempuan tidak akan memperoleh manfaat sedikit pun dengan cara memanipulasi realitas historis agar cocok dengan selera masa kini, tapi dengan melucutinya dari hakikat sejatinya. Kita tidak dapat membuat masa depan umat manusia lebih baik dengan melukis masa lalu dengan warna-warna yang cerah. Kita juga tidak akan menganjurkan orang untuk menjadi vegetarian dengan menyangkal peran fundamental yang dimainkan oleh konsumsi daging, perburuan, dan, ya, bahkan kanibalisme, dalam proses perkembangan otak manusia. Engels menulis:

“Dengan segala penghormatan terhadap para vegetarian, haruslah kita akui bahwa manusia tidaklah menjadi seperti sekarang tanpa adanya diet daging, atau jika diet daging ini, di antara beberapa suku yang kita kenal, telah membawa kepada kanibalisme di satu atau saat yang lain (nenek moyang orang-orang Berlin, bangsa Weletabian atau Wilzian, masih memakan orang tua mereka sampai sekitar abad ke-10 Masehi), hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita saat ini.”[19]

Dengan cara yang sama, pembagian kerja pasti telah ada di antara laki-laki dan perempuan pada masyarakat manusia yang paling awal. Kesalahannya adalah dengan mencampuradukkan pembagian kerja dalam masyarakat terdahulu, di mana tidak ada kepemilikan pribadi atau keluarga seperti yang kita kenal saat ini, dengan ketidaksetaraan dan penindasan terhadap perempuan dalam masyarakat kelas modern. Dalam mayoritas masyarakat berburu-meramu yang masih ada, yang diketahui oleh para antropolog, terdapat pula unsur-unsur pembagian kerja di mana para laki-laki berburu dan para perempuan mengumpulkan tumbuhan untuk makanan.

“Kemah adalah sebuah tempat interaksi sosial yang intensif, dan sebuah tempat di mana makanan dibagi rata di antara mereka”; komentar Leakey, “ketika daging tersedia, pembagian ini sering kali melibatkan upacara yang rumit, yang diatur oleh aturan-aturan sosial yang ketat.”

Ada alasan yang baik untuk menganggap bahwa situasi yang serupa hadir juga pada masyarakat manusia awal. Karikatur Darwinisme Sosialberusaha mengekstrapolasi hukum-hukum rimba kapitalisme untuk berlaku bagi seluruh sejarah dan prasejarah manusia. Namun semua bukti yang tersedia justru menunjukkan bahwa seluruh dasar masyarakat awal manusia adalah kerja sama, aktivitas kolektif dan saling berbagi. Glynn Isaac dari Harvard University membuat satu kemajuan yang penting dalam pemikiran antropologis lewat artikel yang dia terbitkan di majalahScientific American pada 1978. Hipotesis berbagi makanan dari Isaac menekankan dampak sosial dari pengumpulan dan pembagian makanan secara kolektif. Dalam pidato di tahun 1982 untuk memperingati seabad wafatnya Darwin, ia menyatakan: “Adopsi pembagian-makanan akan mendorong perkembangan bahasa, resiprositas (timbal-balik) sosial dan kecerdasan.” Dalam buku terakhirnya, The Making of Mankind, Richard Leaky menulis bahwa “hipotesis tentang pembagian makanan adalah kandidat terkuat untuk menjelaskan apa yang membuat manusia-manusia pertama mulai melangkah di jalan yang kemudian mengantarkan mereka menjadi manusia modern.”

Dua juta tahun terakhir telah dicirikan oleh siklus iklim yang unik. Masa-masa panjang pendinginan yang intensif dan pergerakan gletser telah disela oleh masa-masa pendek naiknya suhu dan mundurnya batas gletser. Jaman-jaman es memiliki rata-rata durasi sekitar 100.000 tahun, di mana masa-masa interglasial [di antara dua jaman es] berlangsung rata-rata 10.000 tahun. Di bawah kondisi yang ekstrem ini, mamalia dipaksa untuk mengembangkan bentuk-bentuk yang semakin maju, atau punah. Dari total 119 spesies mamalia yang hidup di Eropa dan Asia 2 juta tahun lalu, hanya sembilan yang masih terus hidup. Mayoritas besar sisanya telah berkembang menjadi spesies yang lebih maju, atau punah. Sekali lagi, kelahiran dan kematian tidak terpisahkan dalam proses evolusi yang dialektik, kontradiktif, dan penuh manis-getir.

Jaman es terakhir disusul oleh masa interglasial yang baru, yang telah berlangsung sampai saat ini, tapi masa inipun pada akhirnya akan berakhir. Homo erectus akhirnya menyerahkan tahtanya pada hominid yang lebih maju – Homo sapiens – sekitar 500.000 tahun lalu. Ras manusia (Homo sapiens sapiens) merepresentasikan satu cabang evolusi dari spesies Homo sapiens, yang bercabang sekitar seratus ribu tahun lalu. Cabang lainnya – Homo sapiens neanderthalensis – punah atau terserap ke dalam spesies kita sekitar 40.000 tahun lalu.[20] Maka, umat manusiapun berkembang melalui periode pendinginan yang intensif. Kondisi-kondisi ini mencerminkan perjuangan yang keras untuk bertahan hidup. Walau demikian, terdapat masa-masa lain di mana kondisi-kondisinya membaik, yang merangsang pertumbuhan yang cepat dan gelombang-gelombang migrasi manusia. Fajar bagi umat manusia telah menyingsing.

Engels dan Asal-usul Manusia

Bagaimana ide-ide Engels, The Part Played by Labour in the Transition of Ape to Man, bila dibandingkan dengan teori-teori evolusi yang paling mutakhir?

Salah seorang paleontologis modern yang paling terkemuka adalah Stephen J. Gould. Dalam bukunya Ever Since Darwin, ia memberikan pujian ini pada esai karya Engels itu:

“Sungguh, abad ke-19 menghasilkan sebuah ekspose yang gemilang dari sumber yang pastilah mengejutkan kebanyakan pembaca – Friedrich Engels. (Sedikit perenungan seharusnya mengurangi keterkejutan itu. Engels memiliki minat besar akan ilmu-ilmu alam dan berusaha mendasarkan filsafat umumnya tentang materialisme dialektik di atas satu landasan yang 'positif'. Ia tidak sempat menyelesaikan 'Dialectics of Nature' tapi ia telah berhasil memasukkan komentar-komentar panjang tentang sains dalam esai-esai semacam Anti-Dühring.) Di tahun 1876 Engels menulis sebuah esai berjudul The Part Played by Labour in the Transition of Ape to Man. Esai itu diterbitkan setelah ia meninggal di tahun 1896 dan, sayangnya, tidak memiliki dampak yang nyata pada ilmu pengetahuan Barat.

“Engels membahas tiga ciri hakiki dari evolusi manusia: kemampuan berbicara, ukuran otak yang besar, dan posisi berdiri tegak. Ia berpendapat bahwa langkah pertama haruslah berupa turunnya nenek moyang kita dari pepohonan, dan evolusi yang menyusul berupa berdiri tegak. 'Kera-kera ini ketika bergerak di daratan mulai meninggalkan kebiasaan menggunakan tangan mereka dan mengadopsi postur tubuh yang semakin lama semakin tegak. Inilah langkah yang menentukan dalam peralihan dari kera menuju manusia.' Posisi berdiri tegak membebaskan tangan untuk menggunakan perkakas (kerja, dalam istilah Engels); meningkatkan kecerdasan dan baru kemudian datang kemampuan berbicara.”[21]

Sekalipun bukti-bukti sudah bertumpuk, teori-teori idealis tentang evolusi manusia tetap melancarkan perlawanan yang keras kepala terhadap materialisme, seperti yang kita lihat dari kutipan berikut, yang diambil dari sebuah buku yang diterbitkan baru-baru ini di tahun 1995:

“Kekuatan yang paling mungkin telah mendorong evolusi kita adalah ... proses evolusi kebudayaan. Sejalan dengan semakin kompleksnya evolusi kebudayaan kita, demikian pula otak kita, yang kemudian mendorong tubuh kita ke arah kemampuan respons yang lebih besar dan kebudayaan kita ke arah kompleksitas yang lebih tinggi dalam sebuah lingkaran umpan-balik. Otak yang besar dan cerdas membawa kita pada kebudayaan yang semakin lama semakin kompleks dan tubuh kita menyesuaikan diri untuk mengambil keuntungan daripadanya, yang pada gilirannya mendorong perkembangan otak yang semakin lama semakin besar dan cerdas pula.”[22]

Para idealis telah berulang kali mencoba menyatakan bahwa manusia dibedakan dari hewan-hewan “yang lebih rendah” oleh kecerdasannya yang superior. Bagi mereka, manusia pertama, karena satu alasan yang tidak terjelaskan, “menjadi cerdas” terlebih dahulu, baru mulai bicara, menggunakan perkakas, melukis dan seterusnya. Jika hal ini memang benar, kita seharusnya mengharapkan hal itu tercermin dalam peningkatan besar atas ukuran otak pada tahap yang sangat awal dalam evolusi kita. Namun, catatan fosil menunjukkan bahwa bukan demikian halnya.

Dalam tiga dekade terakhir, telah terdapat serangkaian kemajuan besar dalam ilmu paleontologi, penemuan-penemuan fosil baru yang mencengangkan, dan cara-cara baru untuk mengartikan penemuan-penemuan itu. Menurut sebuah teori yang paling baru, kera-kera bipedal pertama ber-evolusi sekitar 7 juta tahun lalu. Berikutnya, dalam sebuah proses yang dikenal oleh para ahli biologi sebagai “radiasi adaptif”, spesies-spesies bipedal berkembang biak (yakni, spesies yang berjalan dengan dua kaki). Setiap spesies bipedal masing-masing berevolusi dan beradaptasi pada kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Sekitar 2-3 juta tahun lalu, salah satu spesies bipedal ini mengembangkan otak yang jauh lebih besar daripada spesies lainnya – Homo erectus. Inilah hominid pertama yang menggunakan api; yang berburu sebagai sumber pasokan makanannya yang utama; yang berlari dengan cara yang sama seperti manusia modern dan yang membuat perkakas secara terencana. Maka, peningkatan ukuran otak terjadi berbarengan dengan kemunculan pertama dari aktivitas pembuatan perkakas, sekitar 2,5 juta tahun lalu. Dengan demikian, selama 5 juta tahun, tidak ada peningkatan yang tajam dari ukuran otak, dan kemudian terjadi satu lompatan besar yang jelas berkaitan dengan pembuatan perkakas.

Biologi molekuler menunjukkan bahwa spesies hominid yang paling awal muncul sekitar 5 juta tahun lalu, dalam bentuk kera bipedal dengan lengan yang panjang dan jari yang melengkung. Proto-manusia ini, Australopithecus, memiliki otak yang kecil – hanya 400 cc. Lompatan kualitatif terjadi pada Homo habilis, yang memiliki ukuran otak lebih dari 600 cc –yakni satu peningkatan yang drastis, 50%. Kemajuan besar berikutnya adalah Homo erectus, dengan ukuran otak antara 850 dan 1100 cc.

Sampai kemunculan Homo sapiens sekitar 250.000 tahun lalu, ukuran otak belum mencapai tingkat seperti yang sekarang – 1350 cc. Maka, hominid-hominid paling awal tidaklah memiliki ukuran otak yang besar. Evolusi manusia tidaklah didorong oleh otak. Sebaliknya, ukuran otak yang membesar adalah hasil dari evolusi manusia, khususnya pembuatan perkakas. Lompatan kualitatif dalam ukuran otak terjadi pada Homo habilis (“si tukang”) dan jelas-jelas terkait dengan pembuatan perkakas batu. Sesungguhnya sebuah lompatan kualitatif baru terjadi pada transisi dari Homo erectus menuju Homo sapiens. John McCrone menulis:

“Pikiran manusia muncul di bumi ini dengan kemendadakan yang mengejutkan. Hanya dalam waktu 70.000 tahun – tidak sampai sekejap mata dalam skala geologis – nenek moyang kita bergerak dari kera cerdas menjadi Homo sapiens yang memiliki kesadaran diri.

“Di sisi sebelah sana dari perbatasan evolusioner ini berdirilah Homo erectus, sebuahmakhluk cerdas dengan otak hampir sebesar otak manusia modern, yang memiliki kebudayaan perkakas sederhana dan penguasaan atas api – namun secara mental masih sangat lemah. Di sisi yang sebelah sini berdirilah Homo sapiens dengan ritual-ritual dan kesenian simboliknya – lukisan gua, manik-manik dan gelang-gelang, lampu-lampu hias dan kuburan – yang menandai kedatangan sebuah pikiran yang sadar-diri. Sesuatu yang mendadak dan dramatik pasti telah terjadi, dan kejadian inilah yang pasti telah menjadi titik awal bagi kesadaran manusia.”[23]

Dapatkah Kera Membuat Perkakas?

Belakangan ini telah menjadi mode untuk mengaburkan perbedaan antara manusia dengan anggota-anggota kerajaan hewan yang lain sampai pada titik di mana perbedaan itu hampir-hampir lenyap sama sekali. Dalam makna tertentu, cara ini lebih disukai daripada segala hal tidak masuk nalar yang dikemukakan para idealis di masa lalu. Manusia adalah hewan, dan berbagi sejumlah ciri dengan hewan lain, khususnya dengan kerabat terdekat kita, kera. Perbedaan genetik antara manusia dan simpanse hanyalah sekitar dua persen. Namun, di sini juga, kuantitas berubah menjadi kualitas. Dua persen inilah yang merupakan lompatan kualitatif yang telah secara menentukan memisahkan umat manusia dari segala macam spesies yang lain.

Ditemukannya satu spesies simpanse yang langka, bonobo, yang bahkan lebih dekat lagi pada manusia daripada jenis simpanse yang lain, telah membangkitkan banyak perhatian. Dalam buku mereka Kanzi, The Ape at the Brink of the Human Mind, Sue Savage-Rumbaugh dan Roger Lewin menyajikan telaah terperinci mereka atas kapasitas mental dari bonobo yang ditangkarkan, yang diberi nama Kanzi. Tidak ada keraguan lagi bahwa tingkat kecerdasan yang ditunjukkan oleh Kanzi jauh lebih tinggi dari apa yang sejauh ini terlihat dalam makhluk-makhluk non-manusia lain, dan dalam beberapa aspek sangat mirip dengan kecerdasan anak manusia. Terutama, ia menunjukkan satu potensi untuk, katakanlah, pembuatan perkakas. Ini adalah satu argumen yang sangat kuat memihak pada teori evolusi.

Walau demikian, hal yang penting dari eksperimen yang berupaya membuat bonobo itu membuat perkakas batu, adalah bahwa ia tidak pernah berhasil melakukannya. Di alam liar, simpanse menggunakan “perkakas-perkakas” seperti “tongkat pemancing” untuk membuat rayap keluar dari sarangnya, dan bahkan menggunakan batu sebagai “landasan” untuk memecahkan biji-bijian yang keras. Pekerjaan-pekerjaan itu menunjukkan satu tingkat kecerdasan yang tinggi, dan tak diragukan lagi membuktikan bahwa kerabat manusia yang terdekat itu memiliki beberapa prasyarat mental yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang lebih maju. Tapi seperti yang pernah dikomentari oleh Hegel, ketika kita ingin melihat pohon ek, kita tentu tidak puas jika hanya diperlihatkan bijinya saja. Potensi untuk membuat perkakas tidaklah sama dengan benar-benar membuat perkakas itu, sama seperti kemungkinan memenangkanundian £10 juta sama sekali berbeda dengan benar-benar memenangkannya. Lebih jauh lagi, potensi ini, bila diteliti lebih dekat, ternyata sangatlah relatif sifatnya.

Simpanse modern kadang kala berburu monyet-monyet kecil. Tapi mereka tidak menggunakan senjata atau perkakas untuk keperluan ini; mereka menggunakan gigi mereka. Manusia-manusia pertama sanggup memotong potongan daging yang besar, untuk keperluan itu mereka menggunakan perkakas batu yang tajam. Tidak diragukan lagi bahwa hominid-hominid yang paling awal hanya menggunakan perkakas-perkakas yang sudah tersedia di alam seperti tongkat untuk menggali akar di tanah. Inilah apa yang kita lihat di kalangan simpanse modern. Jika manusia terus bersandar pada diet tumbuhan, tidak akan pernah ada kebutuhan untuk membuat perkakas batu. Tapi kemampuan untuk membuat perkakas batu memberi mereka akses ke pasokan makanan yang sama sekali baru. Ini tetap benar jikalaupun kita menerima bahwa manusia-manusia pertama bukanlah pemburu melainkan pemakan bangkai. Mereka tetap membutuhkan perkakas batu untuk memotong kulit hewan besar yang tebal-tebal itu.

Proto-manusia dari kebudayaan Oldowan di Afrika Timur telah memiliki teknik-teknik yang cukup maju untuk membuat perkakas-perkakas batu melalui proses yang dikenal sebagai flaking [manusia purba membuat perkakas batu dengan menghantamkan sebuah batu kepada batu lainnya sehingga batu yang dihantam itu pecah pinggirannya. Proses ini dilakukan berulang-ulang sampai batu yang dihantam itu memiliki sisi yang tajam.] Mereka memilih jenis batu yang tepat, dan membuang yang lain; mereka menggunakan sudut yang tepat untuk memukul, dan seterusnya. Semua ini menunjukkan tingkat kecanggihan dan keterampilan yang tinggi, yang tidak pernah terlihat dalam “karya” Kanzi, sekalipun ada campur-tangan aktif dari manusia yang ditujukan untuk mendorong bonobo itu agar menghasilkan perkakas. Setelah upaya berulang-ulang, para peneliti itu dipaksa untuk mengakui bahwa:

“Sejauh ini Kanzi telah memperlihatkan tingkatan yang relatif rendah dalam keterampilan teknik pada setiap [dari empat] kriteria dibandingkan dengan apa yang terlihat bahkan di Jaman Batu Awal.”

Dan mereka menyimpulkan:

“Maka, ada satu perbedaan yang jelas dalam keterampilan Kanzi dalam memecah batu dengan yang ditunjukkan oleh para pembuat perkakas batu di Oldowan, yang kelihatannya mengimplikasikan bahwa manusia-manusia pertama ini telah berhenti menjadi kera.”[24]

Salah satu perbedaan yang memisahkan bahkan hominid yang paling primitif sekalipun dari kera yang paling majuadalah perubahan dalam struktur tubuh yang terkait dengan posisi berjalan tegak. Struktur lengan dan pergelangan tangan bonobo, misalnya, berbeda dari manusia. Jari yang panjang dan melengkung dan ibu jari yang pendek membuatnya sulit menggenggam batu secara cukup efektif agar bisa memukul dengan kuat memakai gerakan menyamping. Fakta ini telah ditunjukkan oleh ilmuwan lain:

Tangan simpanse memiliki ibu jari yang telah berkembang baik, yang posisinya berlawanan dengan posisi jari-jari lainnya, “tapi jari itu sangat gemuk dan berhimpitan dengan telunjuk, dan tidak dapat kita mempertemukan ujung ibu jarinya dengan ujung telunjuknya. Pada tangan hominid, ibu jari jauh lebih besar dan terputar sehingga ia berhadapan dengan telunjuk. Ini adalah hal yang menyertai bipedalisme dan menghasilkan peningkatan besar dalam keterampilan menggunakan tangan. Semua hominid menunjukkan bahwa mereka memiliki jenis tangan semacam ini – bahkan afarensis, hominid tertua yang kini dikenal. Tangan mereka hampir tak dapat dibedakan dari tangan manusia modern.”[25]

Kendati banyak upaya untuk mengaburkan garis batas ini, perbedaan antara kera yang paling maju sekalipun dengan hominid yang paling primitif telah ditetapkan tanpa keraguan lagi. Ironisnya, eksperimen-eksperimen ini, yang ditujukan untuk membuktikan bahwa gagasan tentang manusia sebagai makhluk pembuat perkakas adalah keliru, justru telah membuktikan hal yang justru kebalikannya.

Manusia dan Bahasa

Seperti upaya yang telah dilakukan orang-orang untuk membuktikan bahwa pembuatan perkakas bukanlah fitur fundamental dari manusia, demikian pula beberapa orang telah melancarkan upaya seperti itu dalam hal bahasa. Bagian dari otak yang dikenal sebagai area Broca dikaitkan dengan bahasa, dan awalnya dikira hanya terdapat pada manusia. Kini telah diketahui bahwa area ini juga ada pada hewan-hewan lain. Fakta ini telah digunakan untuk membuktikan bahwa penguasaan bahasa bukanlah unik milik manusia. Tapi argumen ini sangat rapuh. Faktanya tetap bahwa tidak ada spesies selain manusia yang tergantung pada bahasa untuk keberlangsungannya sebagai sebuah spesies. Bahasa adalah sesuatu yang esensial bagi mode produksi sosial, yang merupakan basis dari masyarakat manusia.

Untuk membuktikan bahwa hewan lain juga dapat berkomunikasi sampai tahap tertentu, tidak perlu kita menelaah perilaku bonobo. Banyak spesies yang tingkatnya lebih rendah memiliki sistem komunikasi yang cukup canggih – bukan hanya mamalia, tapi juga burung dan serangga. Semut dan lebah adalah hewan sosial dan memiliki bentuk komunikasi yang berkembang dengan maju. Walau demikian, ini tidak dapat dianggap mencerminkan kemampuan berpikir secara intelektual, atau bahkan untuk berpikir sama sekali. Kemampuan ini diwariskan dan merupakan naluri. Kemampuan ini juga sangat terbatas dalam cakupannya. Tindakan-tindakan yang itu-itu lagi diulangi berkali-kali dan secara mekanik, dan sama sekali tidak mengurangi efektivitasnya. Tapi ada beberapa orang yang menganggap hal ini sebagai bahasa, seperti yang kita kenal sehari-hari.

Seekor beo dapat diajari mengulangi satu kalimat penuh. Apakah ini berarti bahwa ia dapat berbicara? Cukup jelas bahwa, walaupun ia dapat meniru berbagai bunyi-bunyian dengan cukup baik, ia tidak memiliki pemahaman akan makna dari tiap bunyi tersebut. Justru pemahaman akan makna itulah hakikat dari sebuah bahasa. Halnya agak berbeda dengan mamalia yang tingkatannya lebih tinggi. Engels, yang juga merupakan seorang pemburu yang baik, tidaklah terlalu yakin sampai mana anjing dan kuda memahami bahasa manusia dan seberapa frustrasinya mereka karena tidak dapat berbicara dalam bahasa manusia itu. Tentu, tingkat pemahaman yang ditunjukkan oleh Kanzi, si bonobo dalam tangkaran itu, cukup tinggi. Sekalipun demikian, ada satu alasan mengapa tidak ada hewan selain manusia yang memiliki bahasa. Hanya manusia yang memiliki pita suara yang memungkinkan dikeluarkannya bunyi konsonan. Tidak ada hewan lain yang dapat menghasilkan bunyi konsonan. Beberapa dapat membuat bunyi klik dan desis. Sesungguhnya, konsonan hanya dapat dibunyikan bersamaan dengan bunyi vokal, atau mereka akan tereduksi menjadi sekedar bunyi klik dan desis. Kemampuan untuk membunyikan konsonan adalah hasil dari postur berjalan dengan dua kaki, seperti yang ditunjukkan oleh studi terhadap Kanzi:

“Hanya manusia yang memiliki pita suara yang memungkinkannya untuk menghasilkan bunyi konsonan. Perbedaan antara pita suara kita dengan pita suara kera, walaupun relatif kecil, cukup signifikan dan dapat dikaitkan dengan penyempurnaan postur bipedal dan kebutuhan yang menyusulnya, yaitu untuk membawa kepala dalam posisi berdiri yang seimbang di atas pusat tulang belakang. Sebuah kepala yang besar dengan rahang yang berat akan menyebabkan pembawanya bungkuk ke depan dan akan menyulitkannya untuk berlari cepat. Untuk mendapatkan postur tegak yang seimbang, sangat penting untuk menyusutkan struktur rahang dan dengan demikian saluran vokal kera yang agak landai itu dibengkokkan menyiku. Bersamaan dengan penyusutan ukuran rahang dan muka yang semakin datar, lidah, bukannya terletak sepenuhnya di dalam mulut malah turun sedikit ke dalam kerongkongan untuk membentuk bagian belakang oropharynx. Keleluasaan gerak lidah memungkinkan modulasi rongga oropharynx dalam cara yang tidak dimungkinkan pada kera, yang lidahnya terletak sepenuhnya di dalam mulut. Mirip dengan itu, pembengkokan tajam pada jalur udara supralaryngeal berarti bahwa jarak antara bagian lidah yang lembut dengan bagian belakang kerongkongan menjadi sangat pendek. Dengan mengangkat bagian lembut lidah, kita dapat memblokir jalur udara ke hidung, memungkinkan kita membentuk turbulensi yang diperlukan untuk menghasilkan konsonan.”

Tanpa konsonan, kita tidak dapat dengan mudah membedakan antara satu kata dengan kata yang lain. Kita hanya akan dapat melolong dan mengeram. Keduanya dapat mengusung sejumlah informasi, tapi tentunya sangat terbatas:

“Bahasa memiliki variasi yang tak terhingga dan sampai saat ini hanya telinga manusia yang dapat dengan cepat menemukan unit-unit yang bermakna dalam pola yang variasinya tak terhingga ini. Konsonan memungkinkan kita mencapai tahapan yang semacam ini.”

Bayi manusia sanggup membedakan konsonan dengan cara yang mirip dengan orang dewasa sejak umur yang sangat muda, seperti yang diketahui oleh tiap orang yang pernah mendengar “omongan bayi”. Omongan bayi ini adalah percobaan-percobaan terus-menerus untuk mengkombinasikan konsonan dan vokal - “ba-ba, pa-pa, ta-ta, ma-ma,”dan seterusnya. Bahkan pada tahap yang sangat awal ini, seorang bayi manusia sanggup melakukan pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh hewan dewasa yang manapun.

Apakah kemudian kita harus menyimpulkan bahwa satu-satunya alasan mengapa hewan lain tidak memiliki bahasa adalah sepenuhnya karena faktor fisiologis? Kesimpulan semacam itu adalah kesalahan yang serius. Bentuk pita suara, dan kemampuan fisik untuk mengkombinasikan vokal dan konsonan adalah prakondisi fisik untuk berkembangnya bahasa manusia, tapi tidak lebih daripada itu. Hanya perkembangan tangan, yang tidak terpisahkan dari kerja dan kebutuhan untuk mengembangkan sebuah masyarakat yang tinggi tingkat kerja samanya, yang memungkinkan diperbesarnya ukuran otak dan penciptaan bahasa. Kelihatannya area di dalam otak yang berkaitan dengan penggunaan perkakas dan bahasa memiliki asal-muasal yang sama pada taraf perkembangan awal sistem syaraf seorang anak kecil, dan baru terpisah pada usia dua tahun, ketika area Broca membangun sirkuit yang berbeda darianterior prefrontal cortex.Ini sendiri merupakan bukti jelas akan adanya hubungan dekat antara pembuatan perkakas dan bahasa. Bahasa dan kemampuan rekayasa berkembang secara bersamaan, dan proses evolusi ini terulang oleh perkembangan bayi manusia pada saat ini.

Bahkan hominid-hominid paling awal dari kebudayaan Oldowan memiliki kemampuan rekayasa yang jauh lebih maju daripada kera. Mereka bukan sekedar “kera yang berjalan tegak”. Pembuatan perkakas yang paling sederhana sekalipun jauh lebih kompleks daripada yang dibayangkan. Ia membutuhkan perencanaan dan kemampuan memahami apa yang akan datang. Homo habilis harus merencanakan beberapa langkah ke depan. Ia harus tahu bahwa di masa datang ia akan membutuhkan sebuah perkakas, sekalipun ia tidak membutuhkan perkakas tersebut ketika ia menemukan material-material yang sesuai. Pemilihan yang teliti atas jenis batu, dan penolakan terhadap jenis lainnya; pencarian sudut pukulan yang tepat; ini semua menunjukkan tingkat kemampuan berpikir yang berbeda secara kualitatif dari kera. Kemungkinan bahasa dalam bentuk awalnya yang kasar telah hadir pada tahap ini. Tapi ada bukti lebih jauh yang menunjuk ke arah ini. Manusia sungguh unik, di mana 90% manusia lebih mampu menggunakan tangan kanan. Initidak terlihat pada primata lain. Seekor kera boleh jadi lebih dapat menggunakan tangan kanan atau kiri, tapi untuk keseluruhan populasi kemungkinannya kira-kira adalah 50-50. Fenomena penggunaan-tangan (handedness) ini terkait erat dengan kemampuan rekayasa dan bahasa:

“Penggunaan-tangan terkait dengan lokalisasi fungsi belahan otak kiri dan kanan. Lokasi kemampuan rekayasa di belahan otak kiri dari (kebanyakan) para pengguna tangan kanandiiringi oleh lokasi kemampuan bahasa di tempat itu pula. Belahan otak kanan menjadi terspesialisasi untuk kemampuan-kemampuan spasial.”

Fenomena ini tidak terdapat pada Australophitecus, tapi telah ditemukan pada tengkorak Homo habilis yang paling tua, pembuat perkakas yang pertama. Sangatlah tidak mungkin bahwa hal ini adalah satu kebetulan. Pada saat kita sampai pada Homo erectus, bukti-buktinya segunung:

“Tiga bukti anatomis ini – otak, alat-alat vokal, dan kemampuan menggunakan perkakas– menyediakan dukungan utama untuk perubahan-perubahan yang bertahap dan lama ke terciptanya bahasa. Seiring dengan perubahan-perubahan dalam otak dan alat-alat vokal ini, terjadi juga perubahan bertahap pada tangan, perubahan yang membuatnya menjadi alat yang sangat cocok untuk penciptaan dan penggunaan perkakas.”[26]

Kemunculan umat manusia merupakan sebuah lompatan kualitatif dalam evolusi. Di sini, untuk pertama kalinya, materi menjadi sadar akan dirinya sendiri. Proses berjalannya sejarah kini menggantikan evolusi yang berjalan tanpa disadari. Mengutip Frederick Engels:

“Dengan manusia, kita memasuki sejarah. Hewan juga memiliki sejarah, yaitu sejarah garis keturunannya dan evolusi bertahap sampai tahapan mereka sekarang. Namun sejarah ini dituliskan bagi mereka, dan sejauh menyangkut apakah mereka sendiri mengambil bagian di dalamnya, sejarah terjadi tanpa sepengetahuan dan keinginan mereka. Di pihak lain, semakin umat manusia memisahkan diri dari hewan, semakin mereka menulis sejarahnya sendiri, secara sadar, semakin sedikit pengaruh efek-efek tak terlihat dan kekuatan-kekuatan tak terkontrol atas sejarah ini, dan semakin sesuai hasil historis dengan tujuan yang telah ditetapkan di muka.

“Namun, jika kita menerapkan ukuran ini atas sejarah manusia, bahkan pada bangsa-bangsa yang paling maju sekalipun pada saat ini, kita menemukan bahwa masih terus ada sebuah ketidaksesuaian yang kolosal antara tujuan-tujuan yang diajukan dan hasil-hasil yang dicapai, bahwa efek-efek yang tak terlihat masih dominan, dan bahwa kekuatan-kekuatan yang tak terkontrol masih jauh lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan yang digerakkan sesuai dengan rencana. Dan ini tidak bisa tidak selama aktivitas historis manusia yang paling hakiki, aktivitas yang telah mengangkat mereka dari kerajaan hewan menuju kemanusiaan dan yang membentuk landasan material bagi semua aktivitas mereka yang lain, yaitu proses produksi kebutuhan hidup mereka – yakni yang pada masa sekarang ini adalah produksi sosial – terutama masih tunduk pada pengaruh efek-efek yang tidak diinginkan dari kekuatan-kekuatan yang tak terkontrol, dan yang mencapai tujuannya hanya lewat pengecualian, tetapi jauh lebih sering mencapai tujuan yang sebaliknya ...

“Hanya pengorganisiran proses produksi sosial secara sadar, di mana produksi dan distribusi dijalankan secara terencana, yang dapat mengangkat umat manusia di atas dunia hewan dalam kaitannya dengan aspek sosialnya, dengan cara yang sama seperti yang telah dilakukan oleh proses produksi secara umum terhadap umat manusia dalam aspek biologis. Evolusi historis membuat pengorganisiran semacam itu semakin hari makin tidak dapat diabaikan, tapi juga semakin hari semakin dimungkinkan. Bila saat itu dicapai, akan dimulai sebuah epos sejarah yang baru, di mana umat manusia itu sendiri, dan bersamanya seluruh cabang aktivitasnya, dan khususnya ilmu-ilmu alam, akan mengalami satu kemajuan yang akan menempatkan segala sesuatu yang mendahuluinya ke dalam bayang-bayang yang paling gelap.”[27]

_______________

Catatan Kaki

 

[1] Dikutip di D. C. Johanson dan M. A. Edey, Lucy, The Beginning of Humankind, hal. 327.

[2] Dikutip di T. Ferris 262-3, 265 dan 266.

[3] Mukjizat atau campur tangan ilahi untuk menyelesaikan problem yang tampaknya tak terselesaikan.

[4] D. C. Johanson & M. A. Edey, op. cit., hal. 320.

[5] Treeshrew adalahmamalia sejenis tupai yang merupakan kerabat terdekat primata.

[6] J. S. Bruner, Beyond the information Given, hal. 246-7.

[7] MECW, Vol. 5, hal. 31.

[8] Homo erectus, yang berarti “manusia yang berdiri tegak”, adalah salah satu kerabat Homo sapiens (manusia). Catatan fosil tertua dari Homo erectus adalah 1,8 juta tahun yang lalu, dan mereka dipercaya hidup sampai 143 ribu tahun yang lalu.

[9] Richard Leakey, The Origin of Humankind, hal. 36.

[10] Engels, The Dialectics of Nature, hal. 229-30.

[11] Leakey 38.

[12] Engels, The Dialectics of Nature, hal. 228 dan 230-1.

[13] N. Chomsky, Language dan Mind, hal. 66-7 dan 70.

[14] Leakey 45.

[15] Engels, The Dialectics of Nature, hal. 231-2.

[16]Dikutip di Leakey, op. cit., hal. 67.

[17] Engels, The Dialectics of Nature, hal. 233-4 dan 237.

[18] Leakey 54.

[19] Engels, The Dialectics of Nature, hal. 237.

[20] Dalam ilmu evolusi manusia, spesies Homo sapiens dibagi lagi ke dalam beberapa subspecies, yakni Homo sapiens idaltu, Homo sapiens neanderthalensis, dan Homo sapiens sapiens (manusia moderen).

[21] S. J. Gould, Ever Since Darwin, hal. 210-1.

[22] Christopher Wills, The Runaway Brain, The Evolution of Human Uniqueness, hal. xxii.

[23] New Scientist, 29th January 1994, hal. 28.

[24] S. Savage-Rumbaugh dan R. Lewin, Kanzi, The Ape at the Brink of the Human Mind, hal. 218.

[25] D. C. Johanson dan M. A. Edey, Lucy, The Beginnings of Humankind, hal. 325.

[26] S. Savage-Rumbaugh dan R. Lewin, op. cit., hal. 226-7, 228 dan 237-8.

[27] Engels, Dialectics of Nature, hal. 48-9.

Nalar yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern. Bab 11. Bagaimana Kehidupan Muncul

origin of lifeMateri tidak pernah berada dalam keadaan diam, selalu bergerak dan berkembang dan dalam perkembangan ini ia berubah dari bentuk gerak yang satu ke bentuk yang lain dan yang lain lagi, setiap kali selalu bertambah rumit dan harmonis daripada yang terdahulu. Maka kehidupan muncul sebagai bentuk gerak materi yang sangat kompleks dan unik, yang muncul sebagai sebuah properti baru pada tahapan tertentu dalam perkembangan umum materi

Nalar yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern. Bab 10. Dialektika Geologi

vulcanoTidak seperti ilmu alam lainnya seperti fisika dan kimia, geologi mendasarkan dirinya, bukan pada eksperimen melainkan pada pengamatan. Sebagai akibatnya, perkembangannya ditentukan sekali oleh bagaimana hasil-hasil pengamatan tersebut dianalisa. Ini, pada gilirannya, ditentukan oleh kecenderungan filsafat dan agama pada jamannya

Nalar yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern. Bab 8. Panah Waktu

kapal uapIlmu termodinamika adalah hasil dari revolusi industri. Pada awal abad ke-19, ditemukan bahwa energi dapat diubah-ubah menjadi berbagai bentuk, tapi tidak dapat diciptakan atau dihancurkan. Inilah hukum pertama termodinamika – salah satu hukum dasar fisika. Lalu, di tahun 1850, Robert Clausius menemukan hukum kedua termodinamika. Hukum ini menyatakan bahwa “entropi” (yaitu, perbandingan antara energi yang dikandung sebuah benda dengan suhunya) selalu bertambah dalam tiap perubahan bentuk energi, contohnya, dalam sebuah mesin uap.

Nalar yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern. Bab 7. Teori Relativitas

time lapse and videoDengan penelitian yang lebih dekat, ruang dan waktu bukanlah hal yang mudah dipahami. Di abad ke-5, Santo Agustinus mengatakan: “Lalu, apa itu waktu ? Jika tidak ada yang bertanya, saya tahu apa waktu itu. Jika saya ingin menjelaskannya pada seseorang yang bertanya kepada saya, saya tidak tahu.” Kamus juga tidak banyak bermanfaat. Waktu didefinisikan sebagai “satu periode”, dan satu periode didefinisikan sebagai “waktu”. Kita tidak tambah pintar sama sekali! Pada kenyataannya, hakikat dari waktu dan ruang adalah sebuah masalah filsafat yang cukup kompleks.

Nalar yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern. Bab 6. Ketidakpastian dan Idealisme

Particle Collision Simulations Possible on Quantum Computer 2Pukulan maut yang menjatuhkan mekanika Newtonian dari tahtanya sebagai sebuah teori universal dilancarkan oleh Einstein, Schrödinger, Heisenberg dan ilmuwan-ilmuwan lainnya yang membidani kelahiran mekanika kuantum di awal abad ke-20. Perilaku “partikel-partikel elementer” tidaklah dapat dijelaskan oleh mekanika klasik. Matematika jenis baru harus dikembangkan.

Nalar yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern. Bab 5. Revolusi dalam Fisika

particle tracks cernDi sini kita melihat bekerjanya negasi dari negasi. Pada pandangan pertama, kita kelihatannya telah menempuh satu lingkaran penuh. Teori partikel cahaya dari Newton telah dinegasi oleh teori gelombang Maxwell. Teori ini, pada gilirannya, dinegasi pula oleh teori partikel yang baru, yang dikemukakan oleh Planck dan Einstein. Tapi hal ini tidaklah berarti kembali pada teori Newtonian lama, tapi menempuh lompatan kualitatif ke depan, dengan melibatkan satu revolusi sejati dalam ilmu pengetahuan. Semua ilmu pengetahuan harus dirombak total, termasuk hukum gravitasi Newton itu sendiri