facebooklogocolour

Sejak kita kecil, peran kita di dalam keluarga sepertinya sudah disuratkan oleh takdir. Laki-laki bekerja mencari nafkah. Perempuan di rumah mengurus rumah tangga dan membesarkan anak. Tidak ada yang mempertanyakan mengapa kodrat laki-laki dan perempuan demikian adanya. Kadang-kadang jawaban yang diberikan tampak begitu mudah dan masuk akal: laki-laki fisiknya lebih kuat, oleh karenanya ia lebih cocok bekerja di luar, sedangkan perempuan itu lemah lembut dan lebih cocok bekerja di dalam rumah.

Namun jawaban dangkal ini dapat dengan mudah dipatahkan. Sudah banyak kita temui perempuan pemberani yang kemampuan fisiknya tidak kalah dengan laki-laki. Sebut saja Cut Nyak Dien sebagai satu contoh. Namun tidak perlu jauh-jauh. Di sekitar kita dengan mudah bisa kita temui perempuan-perempuan – dari kelas buruh, tani, dan miskin kota –yang tegar dan kuat, yang harus membanting tulang untuk sesuap nasi seperti laki-laki, dan kekuatan fisik dan semangat mereka tidak kalah. Hanya perempuan borjuis saja, yang sejak lahir bergelimpangan susu dan madu, yang tampil sebagai makhluk yang lemah.

Kapitalisme mengharuskan dilemparkannya jutaan buruh ke dalam pabrik-pabrik, tidak pandang bulu jenis kelamin karena motif kapitalisme hanya satu: memeras keringat untuk laba. Dalam situasi ini, semakin banyak perempuan yang masuk ke dalam pabrik. Selain itu, kemajuan teknologi membuat kerja di pabrik semakin mudah sehingga bisa dilakukan oleh siapapun, baik perempuan maupun laki-laki, bahkan anak kecil sekalipun.

Peran tradisional perempuan tampaknya semakin retak. Namun, ternyata yang terjadi justru kebalikannya. Sekarang kaum perempuan terjebak dalam dua macam penindasan: penindasan di rumah sebagai ”babu” dan penindasan di pabrik sebagai pekerja upahan. Ia sekarang harus menanggung beban penderitaan dua kali lipat: harus bekerja di pabrik dari pagi hingga sore dan tiba di rumah harus melaksanakan ”tugas mulia” mengurus rumahtangga. Kerja perempuan bukan lagi kerja 8 jam sehari, tetapi kerja 24 jam sehari. Tidak ada ruang baginya untuk memperbaiki dirinya, untuk mewujudkan dirinya sebagai manusia yang bebas dan kreatif.

Oleh karenanya, pembebasan perempuan dari penindasan terikat erat dengan program-program yang secara konkrit akan membebaskannya dari kungkungan kerja rumahtangga (domestik). Kapitalisme masih mengurung perempuan dalam kerja rumahtangga karena kerja ini adalah kerja gratis, kerja yang tidak dibayar. Kapitalis membutuhkan buruh yang terawat dan juga bisa berkembang biak. Tugas perawatan dan perkembang-biakan ini jatuh di pundak perempuan. Dia harus merawat suaminya, supaya bisa terus kerja di pabrik. Dia juga harus melahirkan dan lalu membesarkan anaknya sebagai generasi pekerja seterusnya. Dalam kapitalisme, oleh karenanya, tugas perempuan ini sangat krusial untuk keberlangsungan sistem penindasan buruh.

Dalam program-program sosialis, tugas-tugas domestik akan disosialisasikan, dalam arti ini tidak lagi menjadi tanggungjawab perempuan sendiri saja, tetapi menjadi tanggung jawab masyarakat secara keseluruhan. Untuk tugas merawat dan membersihkan rumah, akan dibentuk satu angkatan kerja nasional pembersih rumah. Tidak lagi harus perempuan yang menyapu rumah setiap harinya, tetapi ini dilakukan oleh pekerja trampil, yang berserikat, yang bukan hanya diisi oleh pekerja perempuan, yang gajinya layak, dan profesional. Layanan ini akan menjadi layanan sosial yang gratis dan universal, yang dapat diakses oleh setiap rumah tangga secara sukarela.

Lalu untuk tugas mencuci baju, negara akan mendirikan layanan laundry (cuci-baju) nasional, dimana di tiap-tiap komunitas akan ada layanan laundry yang memperkerjakan pekerja trampil dengan mesin-mesin cuci baju dan pembersih yang paling moderen. Tiap-tiap keluarga dan juga individu bisa menggunakan layanan laundry ini dengan gratis dan universal. Dengan demikian, perempuan akan terbebaskan dari pekerjaan mencuci baju yang begitu menguras tenaga mereka.

Lalu juga akan didirikan tempat-tempat penitipan anak di tiap-tiap komunitas, yang gratis dan berkualitas tinggi. Dengan demikian orang tua – sang ayah dan terutama sang ibu – pada siang harinya ketika harus bekerja dapat menitipkan anaknya. Seperti kita ketahui, biasanya setelah punya anak, sang ibu tidak bisa lagi meningkatkan kualitas hidupnya (dengan bekerja atau sekolah) karena dia harus menjaga anaknya 24 jam.

Juga akan dicanangkan program cuti hamil dan melahirkan yang universal. Sang ibu setelah melahirkan akan ditanggung oleh pemerintah dengan tunjangan sosial yang layak selama 2 sampai 3 tahun, supaya ia bisa mendedikasikan dirinya untuk membesarkan bayinya pada masa pertumbuhan yang paling penting. Sang ibu tak perlu khawatir tidak bisa mencari nafkah. Ia bisa beristirahat dengan lega setelah proses melahirkan yang begitu melelahkan dan membesarkan bayinya. Lalu setelah cuti ini selesai, ia akan dapat melanjutkan pekerjaannya yang ditinggalkannya.

Restoran-restoran besar akan dinasionalisasi dan dijadikan tempat makan publik (dapur komunitas) yang menyajikan makanan sehat, beragam, dan gratis untuk rakyat. Dengan demikian perempuan pun terbebaskan dari tugas memasak di dapur setiap harinya. Alih-alih setiap hari berjam-jam menyiapkan makanan untuk keluarganya, ia bisa beristirahat dan mengembangkan dirinya dengan sekolah, membaca, berseni, berolahraga, beraktivitas, dll.

Secara singkat, inilah sejumlah program yang akan membebaskan perempuan dari tugas-tugas domestik yang mengekang mereka. Program ini tidak jatuh dari langit begitu saja, tetapi merupakan satu kesatuan dari program nasionalisasi perekonomian dan perencanaan ekonomi terpusat, yang merupakan esensi dari sosialisme. Bukankah di dalam kapitalisme sekarang sudah ada perusahaan-perusahaan swasta yang menjual jasa pembersih rumah (dan juga eksploitasi pembantu rumah tangga), perusahaan laundry, rumah-rumah makan dan restoran, tempat penitipan anak, dan lain lain? Tetapi di dalam sistem kapitalisme, perusahaan-perusahaan ini dijalankan oleh pemilik modal untuk meraup laba, sehingga mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat luas. Yang bisa membeli layanan ini adalah perempuan-perempuan dari kelas atas. Di dalam sistem sosialisme, yang kita lakukan adalah menasionalisasi layanan-layanan ini dan meluaskan aksesnya ke seluruh rakyat Indonesia.

Lebih dari itu, kita juga akan mengarahkan teknologi dan ilmu pengetahuan manusia untuk mengembangkan teknologi-teknologi muktahir yang akan meringankan kerja-kerja domestik ini. Kapitalisme bisa menciptakan berbagai teknologi muktahir (telpon genggam, komputer super cepat, roket ke bulan, dsbnya.), tetapi kalau kita lihat teknologi yang bersangkutan dengan kerja rumahtangga tidak ada perubahan banyak dalam seratus tahun terakhir ini. Mengapa demikian? Ini karena di dalam kapitalisme teknologi digunakan untuk laba dan profit, bukan untuk meringankan kerja manusia dan membebaskannya dari penindasan kerja kasar.

Program-program di atas akan menjadi satu bagian dari keseluruhan program pembebasan perempuan, yang meliputi kesetaraan gender dalam kesempatan bekerja dan bersekolah, perlindungan perempuan dari kekerasan rumahtangga, dan lain sebagainya. Ia tidak dapat berdiri sendiri, dan terlebih lagi ia tidak akan dapat terpenuhi dalam kerangka kapitalisme. Sosialisme akan menciptakan satu tatanan masyarakat yang memungkinkan lahirnya satu juta Kartini dan Marsinah, perempuan-perempuan pejuang yang bebas, berani, kreatif, inovatif, dan revolusioner.