Keinginan manusia untuk mengetahui alam sekitarnya, bagaimana bintang-bintang di langit bercahaya, bagaimana terjadinya siang dan malam, telah mewarnai perkembangan manusia semenjak awal. Kehidupan manusia primitif yang setiap harinya bergulat dengan kekejaman alam membuat manusia mustahil untuk mencapai pemahaman yang detil mengenai alam. Mereka mencoba menerangkan dunia di sekitar mereka dengan penjelasan di luar kekuatan dirinya.

Semenjak pembagian anggota masyarakat ke dalam klas-klas, masyarakat mengenal apa yang dinamakan kerja fisik dan kerja mental yang mengharuskan terbebasnya minoritas anggota masyarakat dari bekerja. Sebagian minoritas yang terbebas dari kerja sehari-hari ini kemudian menggunakan waktu luangnya mencoba meraih esensi dari keberadaan manusia. Ini adalah alasan di balik kemajuan besar dalam masyarakat. Dengan demikian sejarah kemajuan peradaban dimulai dari sini.

Ketika manusia telah bangkit dari dunia semi beradab – dengan kata lain, manusia telah mampu bangkit dan mengendalikan kekuatan alam – semenjak itulah manusia mulai membedakan dirinya dari dunia hewan. Berangkat dari kekuatan produksi yang saat itu masih belum sebesar apa yang di capai oleh manusia sekarang, kita bisa pahami apa yang membuat keterbatasan kesimpulan mereka. Kesimpulan-kesimpulan yang mereka raih bercampur dengan segala ketahayulan dan mitologi.

Meskipun dengan keterbatasannya, usaha-usaha manusia untuk mengeneralisasikan alam tetaplah berjalan sampai sekarang. Mereka mencoba meraih dan melihat apa yang ada di luar planet bumi, seperti proyek-proyek penelitian mengenai kehidupan di luar planet bumi yang dilakukan akhir-akhir ini. Proyek-proyek ini adalah penelitian yang jauh melampui apa yang telah di capai oleh peradaban sebelumnya. Jauh melampaui mimpi Imhotep, Gunadarma dan Anaximender.

Di dalam masyarakat kita sekarang, kita telah melihat potensi kekuatan produksi yang begitu besar, jauh melampui peradaban yang telah lalu. Seluruh barang kebutuhan manusia bisa di produksi dalam waktu sekejab; alat pintal sederhana digantikan mesin uap; industri rumahan digantikan industri manufaktur – semakin besar kebutuhan akan pasar di dunia, industri manufaktur pun digantikan dengan industri modern yang jauh lebih kuat dan mampu; pemanfaatan energi batu-bara, minyak dan gas bumi  mulai tergeser dengan adanya pengenalan energi Geothermal dan Nuklir.

Misi Perjalanan ke Angkasa

Sekarang dunia kapitalis mengelu-elukan kembali apa yang dinamakan ekspedisi ke luar angkasa. Setelah beberapa kali telah tersungkur ke dalam jurang krisis, mereka mencoba kembali meyakinkan umat manusia bahwa di bawah kapitalisme mereka mampu melayani kebutuhan ilmu pengetahuan.

Mari kita meninjau kembali Rusia pada tahun 1957. Mereka telah mengirimkan satelit pertama Sputnik I  keluar melintasi orbit bumi. Dunia terhenyak. Seketika itu juga terjadi krisis teknologi mewarnai negeri-negeri kapitalis maju. Tidak ada yang menyangkal seluruh pencapaian ekonomi terencana Rusia kala itu, bahkan mereka mampu mengejar seluruh ketertinggalan dan menyamai Amerika.

Bukanlah sebuah keanehan, di saat perekonomian negara kapitalis maju seperti Amerika, Inggris, dan Perancis mengalami kemunduran akibat Perang Dunia II, Rusia maju ke panggung sejarah dan menyamai Amerika. Ini bukan sebuah kebetulan. Kita berbicara mengenai Rusia yang sebelum 1917 adalah sebuah negara yang sangat terbelakang di bawah kekuasaan Tsar. Hanya dalam tempo 30 tahun mereka mampu mengejar seluruh ketertinggalan baik pemecahan masalah teknis, distribusi dan teknologi dari negeri-negeri maju yang tidak mungkin diraih oleh negeri kapitalis. Ini adalah hasil dari Revolusi Oktober dan ekonomi terencananya.

Pencapaian negara buruh yang pertama ini membuat gusar para penguasa Amerika yang telah mengklaim dirinya sebagai negara termaju dalam hal teknologi. Mengetahui itu, mereka mencoba menutupi segala kelemahan yang ada di sana-sisni dan mencoba mempertahankan superioritas nasional mereka. Jutaan dolar dipompa untuk memusatkan seluruh perhatian mereka pada proyek ke ruang angkasa yang tentu mereka membayarnya dengan inflasi dan meningkatnya pengangguran.

Ekonomi terencana membuktikan keunggulannya bukan hanya dalam bahasa deru mesin, baja, dan semen, namun juga dalam hal teknologi dan ilmu pengetahuan. Tidak dilebih-lebihkan bahwa hampir seperempat ilmuwan di dunia lahir di sana. Rusia membuat pencapaian yang luar biasa atas peradaban manusia. Dan semua itu mereka capai tanpa ada inflasi dan pengangguran. Seluruh keunggulan ini semakin jelas disadari oleh berbagai perwakilan kaum intelektual borjuis; oleh para ilmuwan terkemuka serta para teknisi yang tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan ini.

Namun, setelah restorasi Rusia ke Kapitalisme seluruh pencapaian besar ini harus ditenggelamkan kembali. Kemiskinan, pengangguran dan seluruh penyakit sosial berjamuran. Problem kebangsaan kembali muncul dan membawa disintegrasi nasional. Kembalinya Rusia ke sistem kapitalisme berarti kemunduran di dalam ilmu pengetahuan. Tulisan ini terlalu singkat untuk membahas mengenai sebab musabab dari degenerasi Uni Soviet dan lalu keruntuhan Uni SOviet, yang sudah diterangkan secara panjang dan lebar di dalam karya Leon Trotsky, Revolusi yang Dikhianati, tokoh besar revolusi Oktober.

Ini adalah babak pertama dari peradaban manusia. Babak dimana manusia mencoba mengambil takdir mereka di tangan mereka sendiri dan mengubah seluruh peradaban. Negara buruh pertama di Rusia mengeluarkan segenap potensi manusia yang hidup dan progresif yang melampaui negara kapitalis. Bahkan kita bisa menyaksikan negara-negara kapitalis maju yang dalam sejarahnya sudah hampir dua abad semenjak revolusi borjuisnya belum mampu menyamai apa yang telah dicapai oleh Revolusi Oktober: Negara Buruh dan Ekonomi Terencana.

Keterbatasan Kapitalisme

Semenjak para ilmuwan menemukan tanda-tanda yang memungkinkan kehidupan manusia di Planet Mars, semua proyek penelitian luar angkasa ditujukan ke sana. Gencar-gencarnya ekspedisi ke luar angkasa pada tahun-tahun 60-an yang dipicu oleh Uni Soviet, menunjukkan sekali lagi kapitalisme memaksakan seluruh sumber daya mereka untuk mengejar misi ke luar angkasa. Meskipun mereka sanggup memenangkan kompetisi ini, namun mereka tidak mampu menyelesaikan problem dasar mereka, yakni kemiskinan dan pengangguran.

Baru-baru ini India telah mengirimkan pesawat tanpa awak menuju ke Planet Mars. Dikatakan perjalanan ini membutuhkan 300 hari untuk sampai menuju orbit planet ke empat dari matahari tersebut. Ini adalah hal baru di negara-negara kapitalis dunia ketiga. Sorak sorai para borjuis India telah mampu mencapai apa yang dicapai oleh Amerika. Namun, di balik sorak sorai tersebut, mereka menyembunyikan kenyataan sebenarnya. Banyak protes dari masyarakat bahwa proyek tersebut tidak lebih dari proyek menghambur-hamburkan uang. Mereka mengatakan bahwa lebih baik uang tersebut digunakan untuk mengatasi kemiskinan yang masih menjadi problem dasar masyarakat India.

Seperti yang telah kita katakan di dalam Perspektif Dunia 2012, “India, seperti Brasil dan India, meraih tingkat pertumbuhan tinggi karena boom perdagangan dunia. Tetapi ini tidak menyelesaikan satupun masalah dalam masyarakat India. Ini telah meningkatkan kesenjangan, dengan elit-elit semakin kaya sementara massa terus berada dalam kemiskinan yang menyedihkan.”

Kita menyambut semua proyek-proyek ilmu pengetahuan termasuk proyek perjalanan ke angkasa, karena ini adalah terobosan terbaru di dalam teknologi dan peradaban manusia. Namun, di sini kita melihat hal-hal yang memungkinkan keberhasilan proyek tersebut. Sebuah syarat yang mendukung tahapan selanjutnya dari perkembangan ilmu pengetahuan, yang untuk mendekati hal tersebut kita dihadapkan pada kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berjalan tidak di dalam ruang-ruang sempit laboratorium-laboratorium yang tertutup serta terpisah dari dunia sekitar, tapi di bawah kondisi sosial yang ada di sekitarnya.

Sekarang kondisi sosial yang mendasari masyarakat kita adalah sistem kapitalisme, yang tujuan dan motif sosialnya berjalan atas dasar keuntungan dan laba. Pada masa awal perkembangan kapitalisme mereka mengembangkan mesin-mesin, teknologi, dengan itu pula produksi dalam skala besar diperkenalkan. Pengenalan teknologi terbaru berjalan ketika teknologi terbaru tersebut mampu mengamankan keuntungan rata-rata yang lebih tinggi dan suksesnya persaingan di pasaran. Sebut saja pengenalan energi sinar surya yang sampai hari ini masih tertunda. Ini disebabkan karena ketika teknologi ini berjalan akan menggeser para kapitalis minyak dunia. Secara umum pengenalan teknologi ini hanya bertujuan memurahkan harga komoditas sehingga mesin dan teknologi disini adalah cara untuk meningkatkan keuntungan. Disini kita mendapati bahwa di bawah kondisi kapitalisme ilmu pengetahuan dan teknologi seluruhnya melayani kebutuhan laba kapitalis.

Sekarang saat kapitalisme sedang mengalami krisis, seluruh mitos kemajuan yang didengung-dengungkan oleh para kapitalis adalah kenyataan yang menyedihkan. Seluruh limbah kolosal dari kekuatan produksi terkuak, yakni semakin meningkatnya angka pengangguran. Di tahun 2013, 7,7 juta orang penganggur di Indonesia, 5,04%-nya adalah lulusan universitas dan angka tersebut berarti 360 ribu sarjana yang harus menganggur. Di Eropa angka pengangguran ini mencapai 26,34 juta. Menurut data Eurostat, selama Februari 2013 ada penambahan pengangguran sebanyak 22 ribu orang di eurozone dan 76 ribu orang di Uni Eropa selama sebulan. 55,7% di Spanyol, 38,2% di Portugal, 37,8% di Italia, adalah angka pengangguran kaum muda di negara-negara tersebut. Krisis ini juga membawa pada penghematan anggaran pendidikan yang artinya biaya pendidikan semakin mahal. Mereka yang ingin mengenyam pendidikan tinggi terpaksa harus menanggalkan cita-citanya; membengkakkan kaki dan tangan di pasar kerja. Ilmu-ilmu pengetahuan yang selama ini yang dipelajari di universitas terpaksa harus ditinggalkan oleh para sarjana kita karena ilmu pengetahuan tersebut tidak menemukan aplikasinya di dalam dunia kerja. Fakta-fakta ini menunjukkan bagaimana kapitalisme secara anarki menghancurkan kekuatan material dari produksi pada periode krisis; menghambat pertumbuhan kekuatan-kekuatan produksi; memotong sisi kreatifitas ilmiah; dan tidak hanya melemparkan jutaan pekerja dari proses produksi, tetapi juga memotong akar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknis di masa depan.

Masa Depan Umat Manusia

Kapitalisme adalah sistem yang paling boros di dalam peradaban manusia. Membiarkan jutaan orang mati kelaparan, gizi buruk, dan pengangguran. Perkembangan terakhir dari teknologi yang seharusnya melayani kebutuhan masyarakat justru menghantam peradaban umat manusia.

Pengembangan Energi Nuklir, Geothermal, teknologi sinar surya, eksplorasi planet Mars adalah salah satu bagian dari ribuan masalah teknis yang masih mengalami penundaan. Masalah-masalah ini menuntut pengerahan seluruh potensi kekuatan produksi umat manusia.

Kapitalisme telah terbukti tidak mampu menggunakan semua kemungkinan tersebut. Ini dikarenakan kapitalisme berjalan bukan untuk peradaban manusia, namun berjalan atas kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi yang justru menjadi belenggu atas potensi kekuatan produksi.

Untuk mencapai pengembangan teknologi yang maha besar, tugas pertama kita adalah menghancurkan penghalang bagi kemajuan potensi kekuatan produksi, merebut semua kapital yang selama ini dinikmati oleh borjuasi ke tangan segenap rakyat pekerja. Kapital yang sudah direbut akan digunakan sepenuhnya melayani kebutuhan manusia. Masalah pengangguran hanya bisa diselesaikan dengan menyerap semua rakyat ke dalam industri, dengan begitu jam kerja akan berkurang. Waktu luang yang merupakan harta kekayaan yang paling berharga akan digunakan sepenuhnya untuk mempelajari sains, teknologi, serta proyek-proyek terbesar di dalam sejarah manusia. Dengan begitu pemisahan antara kerja otak dan kerja badan melenyap. Setiap cabang-cabang industri akan mempunyai ilmuwan, bahkan setiap pekerja itu sendiri adalah ilmuwan.  Kita akan menyaksikan sebuah peradaban yang paling megah sepanjang sejarah umat manusia. Bepergian ke luar angkasa bukan lagi sebuah mimpi para pencinta fiksi-ilmiah. Dan ini bisa dicapai di bawah Sosialisme.