facebooklogocolour

Semenjak lahirnya kelas buruh, mogok telah menjadi salah satu senjata terampuh buruh untuk menuntut perbaikan kondisi kehidupan mereka. Dari mogok satu pabrik sampai mogok nasional, dari mogok 24-jam sampai mogok tak-terbatas, dari pemogokan ekonomis sampai pemogokan politik, kaum buruh serentak menghentikan deru mesin pabrik untuk memperjuangkan kepentingan kelas mereka. Pemogokan tidak hanya menghentikan pabrik dan menciptakan masalah ekonomi bagi para pemilik pabrik, tetapi dalam situasi tertentu bahkan dapat menciptakan krisis politik dan menumbangkan pemerintahan. Dari fakta inilah buruh memahami secara langsung kekuatan yang ada di tangan mereka ketika mereka bersatu sebagai satu kelas.

Akan tetapi, kita bukanlah sekelompok avonturis atau petualang ultra-kiri yang setiap harinya meneriakkan slogan “Mogok!”, seakan-akan pemogokan adalah sesuatu yang sakral dan keramat, yang akan menyelesaikan semua permasalahan buruh. Mogok adalah sebuah senjata, dan kita harus memahami seluk-beluknya dan bagaimana menggunakannya. Seperti halnya seorang prajurit, sebelum pergi perang ia harus terlebih dahulu memahami senjata (pistol, senapan, granat, dll.) yang akan digunakannya: bagaimana merakitnya, bagaimana menggunakannya, apa kelebihannya, apa kekurangannya, apa daya jangkaunya, apa daya ledaknya, dll. Seorang jenderal perang yang baik akan terlebih dahulu melatih para prajuritnya bagaimana menggunakan senjata, dan sama pentingnya, tahu senjata mana yang harus digunakan untuk situasi tertentu. Untuk alasan yang sama kita akan mencoba meneliti apa pemogokan itu.

Sejarah Mogok dalam Masyarakat Kelas

Kita hidup di dalam masyarakat kelas, di mana secara umum masyarakat kita dibagi menjadi dua kelas: 1) kelas yang melakukan kerja dan menghasilkan nilai-lebih (dalam bentuk barang maupun jasa); 2) kelas yang tidak melakukan kerja tetapi merampas nilai-lebih yang dihasilkan oleh kelas yang lainnya. Kelas yang pertama ditindas oleh kelas yang kedua.

Pada awalnya kita melalui masyarakat perbudakan pada tahun 10,000 sebelum masehi, di mana ada kelas budak yang melakukan kerja, dan kelas pemilik budak yang menikmati semua hasil kerja para budak. Kepemilikan atas budak adalah dasar dari kekuasaan para pemilik budak, seperti di Mesir Kuno (3000 SM – 300 SM), Yunani Kuno (800 SM – 600), Kekaisaran Romawi (25 SM – 470), dan berbagai Kerajaan kuno lainnya.

Lalu masyarakat feodal (400 – 1700), di mana ada kelas tani atau hamba yang menggarap tanah, dan kelas tuan tanah bangsawan yang mengambil sebagian besar hasil dari kelas tani. Para tuan tanah berkuasa lewat kepemilikan tanah mereka.

Masyarakat feodal lalu tumbang dan digantikan oleh masyarakat kapitalis sekitar 300 tahun yang lalu. Di dalam kapitalisme, ada dua kelas, yakni kelas buruh yang tidak memiliki apapun selain kemampuan-kerjanya (labour power) dan menjualnya kepada kapitalis untuk upah, dan kelas kapitalis yang memiliki alat-alat produksi. Kelas kapitalis berkuasa lewat kepemilikannya atas alat-alat produksi (pabrik, tambang, perkebunan, komunikasi, transportasi, perbankan, dll.)

Sejak lahirnya masyarakat kelas 12 ribu tahun yang lalu, telah lahir pula pertentangan kelas yang tak-terdamaikan antara yang tertindas dan menindas. Kelas-kelas yang tertindas melakukan berbagai bentuk pembangkangan, termasuk pemogokan. Misalnya tercatat di sejarah pada tahun 1490 sebelum masehi, para pembuat batu bata di Mesir mogok karena mereka diminta membuat batu bata tanpa jerami. Dalam sejarah perjuangan kelas yang panjang ini, menolak bekerja adalah salah satu bentuk pembangkangan yang dilakukan oleh kaum budak dan kaum tani atau hamba. Namun, hanya pada masyarakat kapitalisme pemogokan menjadi alat perjuangan yang luas dan terutama dari kelas yang tertindas.

Buruh mampu melakukan pemogokan dengan lebih luas, dalam dan tajam dibandingkan dengan kelas-kelas tertindas yang terdahulu karena kelas buruh memiliki semangat solidaritas (persatuan) dan berorganisasi yang lebih kuat dibandingkan kaum budak dan kaum tani. Di dalam kapitalisme, buruh dilempar masuk ke dalam pabrik-pabrik dalam jumlah ribuan. Mereka hidup di perkotaan di pemukiman yang berdesak-desakan. Situasi ini memupuk sikap solidaritas yang tinggi di antara buruh, dibandingkan dengan kaum tani yang hidup terpisah-pisah dari tetangga-tetangganya.

Setiap buruh yang berpikiran maju tahu betul bahwa pemogokan membutuhkan persatuan. Di satu pabrik, kalau tidak semua buruh bersatu mogok dan masih ada buruh yang mangkir dari mogok dan tetap bekerja, maka pemogokan akan gagal. Inilah mengapa buruh bersatu dalam satu organisasi (serikat buruh) dan secara tegas menerapkan sentralisme demokratis. Kalau mayoritas buruh dalam serikat memutuskan mogok, walaupun hanya 70%, maka seluruh buruh dalam organisasi tersebut, bahkan 30% yang tidak setuju mogok, harus juga ikut mogok. Begitu juga sebaliknya, kalau hanya 30% yang setuju mogok, maka pemogokan tidak akan berlangsung sama sekali. Melakukan mogok hanya dengan minoritas adalah kegilaan ultra-kiri yang justru akan membahayakan kepentingan buruh secara keseluruhan.  Hanya buruh yang memahami pentingnya sentralisme demokrasi seperti ini, karena metode sentralisme demokrasi menentukan kepentingan kelas mereka.

Selain itu, di dalam kapitalisme, ada kebebasan demokrasi dan berorganisasi. Ketika kaum kapitalis menumbangkan feodalisme, mereka memperkenalkan demokrasi. Walaupun demokrasi ini (baca demokrasi borjuasi) dalam kebanyakan kasus sangatlah terbatas, yakni pada akhirnya adalah demokrasi hanya untuk kaum kapitalis atau borjuasi, tetapi ini memberikan ruang bagi kaum buruh untuk berorganisasi. Untuk mengingatkan para pembaca bagaimana terbatasnya demokrasi borjuasi ini, sampai pada awal 1900an, di kebanyakan negara Barat serikat buruh masihlah dilarang. Hanya lewat perjuangan yang sengit dan berdarah-darah buruh akhirnya memenangkan kebebasan berserikat. Tetapi ini pun masih terbatas karena sampai hari ini ada ribuan rintangan (dari yang legal sampai non-legal) yang harus dilalui oleh buruh untuk berserikat. Kendati demikian, kelas buruh punya ruang (walau sempit) untuk berorganisasi. Ini adalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh kelas tani dan budak terdahulu. Tanpa persatuan, tidak akan bisa ada pemogokan. Tanpa persatuan yang terorganisir, tidak akan ada bisa ada pemogokan yang berhasil.

Mengapa Mogok

Di dalam kapitalisme, buruh menjual kemampuan kerjanya kepada kapitalis untuk upah. Inilah relasi dasar antara buruh dan kapitalis, dan dari sinilah kita akan mencoba memahami pemogokan.

Kapitalis memiliki alat-alat produksi yang membutuhkan tenaga kerja untuk menggerakkannya dan memberikannya laba, dan buruh hanya memiliki kemampuan kerja. Di sini buruh lalu menjual “secara bebas” kemampuan kerjanya kepada pihak yang ingin membelinya. Secara teori, ada transaksi jual-beli yang “bebas” antara buruh (sang penjual) dan kapitalis (sang pembeli). Ada permintaan dan penawaran yang “seimbang” dan “adil”. Kalau buruh tidak puas dengan transaksi ini, ia bisa berhenti bekerja dan mencari pembeli lainnya yang dapat memberikan upah lebih baik untuk kemampuan kerjanya.

Akan tetapi dalam prakteknya, transaksi jual-beli ini tidaklah “adil”, tidaklah “seimbang”, dan tidaklah “bebas”. Ada banyak alasan mengapa demikian.

Pertama, kaum kapitalis memiliki modal yang besar dan kaum buruh tidak. Dalam negosiasi jual-beli ini, buruh ada dalam posisi yang sangat lemah karena ia tidak bisa serta-merta berhenti bekerja kalau ia tidak puas dengan upah yang diterimanya. Ia tidak bisa menunggu lama sampai ada pembeli (kapitalis) yang mau membeli kemampuan kerjanya sesuai dengan upah yang diinginkannya. Perutnya yang lapar akan memaksanya bekerja. Sementara kapitalis dengan cadangan modal yang besar bisa menghentikan produksi selama seminggu atau sebulan, dan sang kapitalis tidak akan kelaparan. Ia bisa menunggu sampai buruh lapar dan akhirnya terpaksa menerima upah yang rendah. Hanya pada situasi tertentu, yakni ketika ada keterbatasan suplai buruh, atau di industri tertentu di mana masih sedikit buruh yang terampil, maka buruh punya daya tawar yang lebih tinggi. Tetapi situasi ini sangatlah jarang dan sangatlah bersifat sementara. Secara umum, buruh selalu dalam posisi tawar yang lebih rendah.

Kedua, jumlah pengangguran yang besar (secara nasional dan internasional) membuat sangat lemah posisi buruh untuk menuntut upah lebih baik. Setiap hari buruh hidup di bawah ancaman dari majikannya bahwa “Ada 100 orang yang siap menggantikan kamu!” Kenyataan ini menjadi semakin benar dengan globalisasi, di mana kapitalis dapat menutup pabrik di satu negeri dan membangun yang lain di negeri lain di mana upah lebih murah. Ini memberikan tekanan yang besar kepada buruh untuk menerima upah yang rendah.

Ketiga, dengan kekuatan ekonominya, kaum kapitalis menguasai pemerintahan. Dari tingkat lurah sampai presiden, pemerintahan dibentuk untuk melayani kepentingan pemilik modal. Ratusan hingga ribuan undang-undang dirancang untuk memberikan keuntungan bagi pemilik modal dalam transaksi jual-beli tenaga kerja.

Dengan menolak menjual kemampuan-kerjanya, yakni dengan menolak bekerja, buruh dapat menuntut harga jual (upah) yang lebih tinggi dari kapitalis yang membutuhkannya. Namun seperti yang telah dijelaskan di atas, buruh ada dalam posisi tawar yang lemah. Untuk mengatasi ini, buruh lalu bersatu. Alih-alih melakukan proses tawar-menawar ini dengan sendiri-sendiri, semua buruh di satu pabrik (atau tempat kerja) melakukan negosiasi upah bersama-sama. Buruh menyadari kalau mereka bersatu mogok, mereka bisa menyebabkan kerugian besar bagi para kapitalis dan memaksa kapitalis untuk menaikkan upah. Dalam perhitungan untung-rugi, kapitalis terpaksa menaikkan upah daripada menghentikan produksi di pabriknya.

Namun tidak berhenti di sini saja, persatuan buruh pun meluas karena perlawanan balik dari kaum kapitalis. Tidak jarang kaum kapitalis tetap menolak menaikkan upah setelah adanya pemogokan seluruh buruh di satu pabrik. Kaum kapitalis mungkin masih punya pabrik lain yang berjalan, atau punya cadangan modal yang besar, atau mendapatkan bantuan dari kapitalis lain. Untuk mengatasi ini, buruh mulai mengorganisir pemogokan seluruh industri, sampai ke pemogokan satu daerah atau kawasan industri, sampai ke pemogokan nasional. Tujuannya adalah menciptakan tekanan ekonomi dan politik yang lebih besar.

Dalam ranah hukum, buruh juga mulai menyadari bahwa hukum-hukum yang ada tidak berpihak padanya. Oleh karenanya mereka juga melakukan perjuangan politik. Mereka memperjuangkan hak berserikat, hak mogok, pelarangan penggunaan buruh pengkhianat pada saat pemogokan, dll. Semua agar buruh punya posisi tawar yang lebih tinggi. Tetapi kita harus ingat, bahwa di bawah kapitalisme tidak akan pernah bisa ada kesetaraan antara kapitalis dan buruh. Satu-satunya hal yang bisa kita dapat adalah posisi yang lebih baik, dan ini pun hanya bersifat sementara. Kita lihat bagaimana krisis kapitalisme hari ini telah merenggut banyak pencapaian buruh di negeri-negeri maju.

Di dalam perang, kedua belah pihak membutuhkan suplai besar, dari suplai senjata hingga suplai bahan makanan. Begitu juga dengan pemogokan. Buruh tidak bisa begitu saja mogok karena ini berarti tidak ada pemasukan baginya. Ia bisa kelaparan di tengah pemogokan. Untuk alasan ini buruh membentuk serikat buruh yang mengumpulkan dana mogok. Dana mogok dikumpulkan agar buruh bisa melakukan pertempuran mogok yang panjang. Semakin lama buruh mogok, semakin besar juga kerugian yang dialami oleh pemilik modal. Tanpa buruh, mesin dan bahan mentah akan duduk diam saja dan sang pemilik modal akan menderita kerugian besar.

Perlunya dana mogok yang besar juga mendorong buruh untuk membentuk persatuan serikat buruh yang lebih luas. Serikat-serikat buruh bersatu ke dalam federasi atau konfederasi, di mana dana mogok yang mereka kumpulkan secara kolektif dapat digunakan oleh serikat buruh anggota ketika mereka melakukan pemogokan.

Sampai sini kita telah melihat bahwa buruh melakukan persatuan yang semakin luas dan dalam karena kepentingan kelas mereka yang riil, dan bukan karena alasan moral belaka. Ada sejumlah orang-orang, terutama aktivis borjuis kecil dan aktivis mahasiswa, yang mengeluh bahwa buruh hanya bersatu kalau kepentingan materialnya terancam. Orang-orang seperti ini mengharapkan bahwa semua buruh bersatu demi persatuan belaka, bahwa persatuan adalah semacam moralitas tertinggi yang harus timbul dengan sendirinya dari hati nurani seseorang tanpa adanya kepentingan material yang terlibat. Orang-orang seperti ini begitu jauh di awang-awang sehingga tidak memahami realitas buruh sama sekali.

Secara umum buruh tidak suka melakukan pemogokan. Semua buruh ingin ketenteraman di dalam kehidupan mereka dan pemogokan adalah satu peristiwa yang merusak ketenteraman kehidupan mereka. Kalau bisa mereka ingin terus bekerja dan mendapatkan gaji, akan tetapi realitas kapitalisme yang terus menekan upah mereka memaksa buruh untuk melawan. Buruh melakukan pemogokan demi kepentingan material mereka (upah, keselamatan kerja, jamsostek, dll.), agar keluarga mereka dapat hidup lebih baik. Mereka tidak melakukan pemogokan karena romantisme belaka. Buruh juga bersatu dan membentuk serikat buruh karena kondisi objektif yang ada, yakni kondisi pertentangan kelas yang dihadapinya.

Kontradiksi dan keterbatasan dalam pemogokan

Pemogokan adalah sebuah proses yang penuh kontradiksi, karena lewat pemogokan berbagai strata dan lapisan kelas buruh mengekspresikan dirinya. Setiap lapisan saling bersentuhan dan menguji kekuatan mereka, sambil menguji kekuatan musuh. Setiap lapisan membawa semua prasangka, kenaifan, dan kebingungan mereka dan membenturkannya dengan kenyataan. Semakin luas pemogokan, maka semakin penuh kontradiksi proses yang berlangsung, karena semakin luas lapisan kelas buruh yang terlibat. Akan ada ekses-ekses dan kesalahan-kesalahan. Tidak pernah ada pemogokan massa yang berlangsung seperti konser musik di bawah tongkat konduktor.  Sesiap apapun sebuah organisasi dalam menyiapkan logistik sebuah pemogokan, ia adalah sebuah proses politik massa yang penuh kontradiksi, yang tidak berlangsung dalam garis lurus.

Namun yang terpenting adalah lewat pemogokan buruh menyadari kekuatan yang ada di tangannya, bahwa merekalah yang menggerakkan roda-roda ekonomi. Tanpa buruh, tidak ada kekayaan yang akan tercipta. Inilah salah satu pencapaian terpenting dari pemogokan. Ia mengajarkan kepada buruh secara langsung, tegas, dan tajam posisi kelasnya di dalam masyarakat kapitalis. Pemogokan mengajarkan kepada buruh bahwa dia tidaklah sendirian dalam penindasan yang mereka rasakan dan dalam perlawanan yang mereka kobarkan. Ia memperkuat kepercayaan diri buruh dan memberikannya pemahaman akan karakter sesungguhnya dari kapitalisme. Tugas seorang revolusioner adalah menegaskan pelajaran-pelajaran ini, dan bukan hanya sibuk mencoba mengorganisir hal-hal administratif dan logistik dari pemogokan, karena pelajaran-pelajaran ini adalah modal di hari depan untuk perjuangan menuju sosialisme yang merupakan jalan keluar bagi buruh dari penindasan kapitalisme.

Setiap perjuangan yang dilakukan oleh kelas buruh harus dipandang sebagai batu pijakan untuk tujuan yang lebih besar, yakni sosialisme. Pemogokan bukanlah akhir dari segalanya. Kita harus berkata jujur kepada kelas buruh bahwa pemogokan (ataupun aksi-aksi lain), bahkan bila berhasil, tidak akan menghentikan penindasan yang mereka alami. Aksi-aksi perlawanan dapat memberikan buruh ruang yang lebih besar (secara ekonomis maupun politik), tetapi hanya terbatas dalam kerangka kapitalisme. Semua pencapaian yang diperoleh lewat pemogokan-pemogokan dan berbagai aksi lainnya tidak akan pernah bisa melebihi batasan profit atau laba kapitalis. Melihat seluruh sejarah perjuangan kelas, kita dapat mengatakan bahwa satu-satunya pencapaian yang didapat dari perjuangan serikat buruh adalah mencegah kelas buruh dari jatuh ke kehancuran fisik dan moral akibat dari penindasan kapitalisme. Serikat buruh tidak ada dalam posisi untuk memberikan perbaikan yang memadai dan bertahan-lama yang dapat memberikan buruh kehidupan yang baik dan beradab untuk periode yang panjang.

Selama kapitalisme masih bercokol, bahkan pencapaian yang telah dimenangkan akan dapat direbut kembali. Buruh hanya bisa sepenuhnya bebas dari penindasan kalau mereka merebut sumber kekuasaan kapitalis, yakni kepemilikan mereka atas alat-alat produksi. Untuk mencapai tingkat perjuangan ini, kelas buruh harus melewati berbagai pengalaman dan pertempuran. Kelas buruh harus dilatih, terutama bunga-bunga terbaik dari kelas buruh harus dikumpulkan dan disatukan ke dalam sebuah partai revolusioner dan dilatih agar siap menghadapi dan memenangkan revolusi yang akan datang.

Ke tingkat selanjutnya

Di masa-masa normal, ketika kapitalisme tidak dalam krisis dan sedang mengalami boom, pemilik modal biasanya dapat memberikan remah-remah kepada buruh. Pemogokan biasanya berakhir dengan kemenangan penuh atau parsial. Buruh mendapatkan sejumlah remah dan produksi berjalan kembali. Namun di masa krisis kapitalisme seperti sekarang ini, metode-metode perjuangan lama tidak bisa lagi digunakan. Kapitalisme tidak bisa lagi memberikan apapun kepada buruh. Di Yunani misalnya, dalam 2 tahun terakhir telah terjadi lebih dari 20 pemogokan nasional dan ratusan pemogokan kecil lainnya, dan tidak satu pun pemogokan tersebut berakhir dengan dipenuhinya tuntutan-tuntutan buruh.  Bahkan  di Yunani hari ini pemogokan sudah menjadi aksi yang reaksioner dan tidak lagi progresif. Ia menjadi alat bagi birokrasi buruh untuk meluapkan keresahan buruh tanpa memberikan jalan keluar sama sekali.

Ketika buruh melakukan pemogokan, dan lalu kapitalis menjawab: “Mogoklah selama mungkin, saya tidak bisa lagi memberikan apapun,” dan bahkan melakukan PHK terhadap para pemogok, perjuangan buruh dihadapkan pada 2 pilihan: menghentikan pemogokan atau melanjutkan pemogokan ke tingkat selanjutnya. Pemogokan selalu mengedepankan sebuah pertanyaan: siapa sesungguhnya yang berkuasa? Kapitalis atau buruh? Buruhlah yang sesungguhnya punya kuasa lewat kerja mereka. Merekalah yang sesungguhnya bekerja dan  menciptakan kekayaan. Tingkat selanjutnya dari pemogokan adalah menjawab pertanyaan tersebut dan mengambil aksi konkret dalam menjawabnya, yakni perebutan kekuasaan oleh buruh. Untuk ini, serikat buruh saja tidak cukup. Dibutuhkan sebuah partai yang siap merebut kekuasaan politik dan ekonomi. Seorang revolusioner harus memahami keterbatasan aksi pemogokan dan serikat buruh itu sendiri dalam perjuangan menuju sosialisme.

Kendati keterbatasan dari aksi mogok dan serikat buruh, kaum revolusioner terlibat di dalamnya secara aktif dan dengan sabar menjelaskan kepada buruh tugas-tugas historis mereka. Seorang revolusioner tidak menyembunyikan gagasannya, tetapi dengan lantang dan sabar menjelaskannya. Dengan terlibat di dalamnya dan menjelaskan gagasan-gagasannya, dan terutama menyatukan elemen-elemen terbaik dan mengorganisirnya ke dalam sebuah partai, kaum revolusioner sedang melakukan kerja persiapan untuk kemenangan sosialisme di hari depan. [ ]