facebooklogocolour

Salah satu hal yang membedakan kita dari banyak organisasi lainnya adalah perspektif kita dalam bekerja di organisasi massa. Secara historis, ini adalah metode yang sudah ada semenjak jamannya Marx dan Engels. Internasional Pertama awalnya dibentuk oleh berbagai aliran dari gerakan buruh, yang mencakup kaum reformis juga. Namun Marx and Engels tidak menolak bekerja di dalam Internasional Pertama ini. Mereka bekerja keras di dalamnya untuk menyebarkan gagasan revolusioner mereka ke buruh-buruh yang tergabung di dalamnya. Jadi ini bukan sesuatu yang unik dan baru. Banyak organisasi lain dan individu-individu yang juga melakukan kerja di dalam organisasi-organisasi massa, tetapi kita sebagai kaum Marxis melakukannya dengan perspektif dialektis materialis, dengan sebuah perspektif historis yang mencakup 150 tahun perjuangan kaum proletar semenjak Marx dan Engels.

Pada jamannya Leon Trotsky, metode ini mendapat nama Entrisme. Entrisme dilakukan oleh Oposisi Kiri Internasional ketika mereka memasuki organisasi-organisasi sosial demokrasi (serikat buruh reformis, kuning, dan partai-partai reformis) guna memenangkan buruh-buruh sosial demokrasi. Ini mereka lakukan ketika kerja mereka di Komintern sudah tidak memungkinkan lagi. Namun Entrisme masihlah berdasarkan prinsip bekerja di dalam organisasi massa, berdasarkan prinsip bahwa kita bekerja dimana buruh berada, yakni sebuah prinsip yang sudah terpahat di Manifesto Partai Komunis: “Bagaimanakah hubungan antara kaum Komunis dengan kaum proletar umumnya? Kaum Komunis tidak membentuk sebuah partai tersendiri yang bertentangan dengan partai-partai kelas buruh lainnya. Mereka tidak mempunyai kepentingan-kepentingan tersendiri dan terpisah dari kepentingan-kepentingan proletariat sebagai keseluruhan. Mereka tidak mengadakan prinsip-prinsip sendiri yang sektarian, yang hendak dijadikan pola bagi gerakan proletar.”

Bahkan sebelum Entrisme, Oposisi Kiri Internasionalnya Trotsky mengorientasikan dirinya ke Komintern dan seksi-seksinya, yang merupakan organisasi massa. Oleh karenanya, ;ebih tepat menyebut metode kerja ini sebagai kerja di organisasi massa.

Sebelum kita mulai, kita harus setuju dan memahami istilah organisasi massa. Di Indonesia, istilah organisasi massa (ormas) sangatlah longgar, yang digunakan untuk menyebut organisasi apapun yang punya massa, dari FPI sampai ke Pemuda Pancasila. Namun, ketika kita di sini berbicara mengenai organisasi massa, kita berbicara mengenai organisasi massa tradisional rakyat pekerja (buruh, tani, kaum miskin kota). Tradisional di sini berarti bahwa organisasi ini adalah sebuah organisasi yang secara historis digunakan oleh rakyat pekerja untuk memperjuangkan kepentingan kelas mereka. Perbedaan ini harus kita cermati. Jadi di sini ketika kita berbicara mengenai organisasi massa, kita tidak berbicara mengenai ormas dalam artian yang lepas, tetapi organisasi massa tradisional rakyat pekerja.

Di negara kapitalis maju, ketika kita berbicara mengenai organisasi massa tradisional, kita biasanya berbicara mengenai organisasi massa kelas buruh (serikat buruh dan partai buruh), sebuah satu-satunya organisasi massa yang dominan. Ini dikarenakan di negara-negara kapitalis maju divisi kelas sangatlah jelas: di satu sisi berdiri kapitalis, di sisi lain berdiri kaum buruh. Tetapi di banyak negeri-negeri terbelakang, seperti di India, Nepal, Indonesia, Thailand, dll., dimana ada kelas dan lapisan-lapisan tertindas lainnya (tani, miskin kota, bahkan di India masih ada sistem kasta), dimana relasi-relasi kelas lebih kompleks, maka organisasi massa mengambil banyak bentuk. Oleh karenanya strategi dan taktik bekerja di organisasi massa di negeri-negeri tersebut lebih kompleks juga.

Prinsip-prinsip dasar

Marilah kita mulai dari prinsip-prinsip dasar mengapa kita berorientasi ke organisasi massa.

Kita sedang membangun sebuah organisasi revolusioner, sebuah partai yang akan dapat memimpin kelas buruh untuk memenuhi tugas historisnya: merebut kekuasaan politik dan ekonomi dari kapitalis dan membangun sosialisme. Tetapi pertanyaan utamanya adalah ini: apakah cukup hanya dengan mendeklarasikan terbentuknya partai revolusioner dan menunggu massa datang ke kita? Kami pikir tidak. Kaum Marxis harus pergi berangkat ke mana buruh berada dan dengan sabar menjelaskan sosialisme kepada mereka.

Kita harus pergi ke massa bahkan bila ini berarti bekerja di organisasi-organisasi massa reformis, atau bahkan reaksioner! Kita mungkin saja melihat organisasi ini dan pemimpin-pemimpinnya sebagai reformis, tetapi tidak demikian dengan buruh. Kita mungkin saja belajar dari buku, tetapi massa buruh belajar dari pengalaman mereka, dan terutama peristiwa-peristiwa besar yang mengubah kesadaran mereka.

Walaupun organisasi yang dimiliki oleh kaum buruh bersifat reformis, tetapi buruh akan menggunakan organisasi yang ada di tangan mereka. Buruh tidak dapat begitu saja memilih alat-alat yang dapat mereka gunakan. Mereka akan gunakan yang ada di depan mereka, mengujinya terlebih dahulu, dan lalu lewat pengalaman konkritnya akan tiba pada kesimpulan bahwa ia mungkin harus mengubah alat tersebut atau membuang dan mencari yang baru. Kaum Marxis tidak bekerja di dalam sebuah gerakan yang imajiner, tetapi di dalam gerakan kelas buruh yang nyata dan berevolusi secara historis. Kita bekerja dengan apa yang ada di hadapan kita, bukan di dalam situasi yang selalu kita inginkan.

Lenin berkata:

“Kita sedang berjuang melawan pemimpin-pemimpin oportunis dan sosial-sovinis guna memenangkan kelas buruh ke sisi kita. Akan sangat menggelikan sekali kalau kita melupakan fakta yang paling dasar dan terbukti-benar-sendiri ini. Namun justru kaum “Komunis Kiri” Jerman melakukan hal yang menggelikan ini ketika, karena karakter reaksioner dan konter-revolusioner dari kepemimpinan atas serikat-serikat buruh, mereka mengambil kesimpulan bahwa -- kita harus keluar dari serikat-serikat buruh tersebut, kita menolak bekerja di dalamnya, dan lantas membentuk organisasi buruh yang baru dan artifisial! Ini adalah sebuah kekeliruan yang tak termaafkan, yang merupakan bantuan terbesar yang dapat diberikan oleh kaum Komunis kepada kaum borjuis.” (Lenin, Komunisme Sayap-Kiri: Suatu Penyakit Kekanak-kanakan, 1920)

Trotsky juga mengatakan:

“Tidaklah cukup bagi seorang revolusioner untuk memiliki ide-ide yang tepat. Ide-ide yang tepat sudah tertulis di Manifesto Partai Komunis dan Kapital, tetapi ini tidak mencegah tersebarnya ide-ide yang keliru. Tugas partai revolusioner adalah menyatukan ide-ide yang tepat ini dengan gerakan massa buruh; hanya dengan cara inilah maka ide akan menjadi kekuatan penggerak.” (Trotsky, The League Faced with a Turn, Juli 1934)

Tugas kita adalah menyatukan ide-ide yang tepat dengan gerakan massa buruh. Ini jelas. Tetapi bagaimana caranya? Apakah kita melakukannya dengan berkhotbah dari luar organisasi-organisasi massa buruh? Tidak! Apakah kita melakukan ini dengan mengutuk segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kerangka berpikir revolusioner kita? Tidak!

Adalah sebuah hukum umum bahwa ketika buruh pertama kali bergerak mereka akan bergerak melalui organisasi massa tradisional mereka. Mereka akan menggunakan hal pertama yang ada di depan mata mereka. Mereka akan menggunakan alat yang saat itu ada di tangan mereka. Mereka akan menguji alat-alat mereka. Melalui pengalaman ini, mereka akan mengubah alat mereka, atau membuangnya dan membuat yang baru bila diperlukan. Tugas kita adalah menemani mereka di dalam perjalanan mereka ini, dan membantu mereka mencapai kesimpulan revolusioner dengan menjelaskan perspektif Marxis secara sabar kepada mereka, memberikan mereka analisa yang detil. Di dalam proses tersebut, kita juga membangun kekuatan Marxis dengan merekrut bunga-bunga terbaik. Kita harus selalu memperhatikan bahwa kita juga sedang membangun kekuatan Marxis melalui kerja kita di dalam organisasi massa, karena kita percaya bahwa tanpa sebuah partai Marxis seperti Partai Bolshevik di Rusia maka kemenangan revolusi proletariat tidak akan tercapai.

Kaum borjuis punya partai mereka sendiri yang sangat terorganisir. Partai mereka adalah sebuah partai yang sangat sadar kelas dengan aparatus yang teramat besar. Inilah yang mereka gunakan untuk mempertahankan kekuasaan politik mereka. Oleh karenanya kita harus punya partai yang seratus kali lebih kuat daripada partai borjuis manapun di muka bumi ini. Seperti yang Trotsky katakan, bahwa krisis umat manusia dapat tereduksi ke krisis kepemimpinan proletar.

Bagaimana melakukan kerja

 

Cara kita melakukan kerja di organisasi massa sangatlah penting. Teori bisa dipelajari lewat membaca buku, tetapi metode kerja adalah sebuah seni yang kompleks, yang membutuhkan banyak latihan dan pengalaman.

Metode kerja di organisasi massa adalah sesuatu yang telah diasah oleh kaum Marxis lebih dari 150 tahun, dari Marx, Engels, Lenin, Trotsky, sampai ke Ted Grant dan IMT hari ini. Organisasi kita adalah memori kolektif gerakan Marxis, dengan segala kemenangan, kekalahan, dan pelajaran-pelajaran berharga darinya.

Ketika bekerja di organisasi massa, kita harus selalu terbuka mengenai siapa kita, dan tidak menutup-nutupi pandangan dan program politik kita (kecuali bila kita bekerja di bawah rejim kediktaturan yang kejam). Sering kali di dalam gerakan ada tekanan untuk menutup-nutupi pandangan politik kita karena takut dianggap terlalu radikal. Ada tekanan untuk beradaptasi secara politik. Terutama ini karena elemen-elemen reformis dan oportunis di dalam gerakan selalu mengatakan: “Jangan terlalu radikal, kita harus bersikap realistis pragmatis”; “Hati-hati terhadap kaum Marxis yang ingin mengambil alih organisasi ini”; “Kaum Marxis dengan pandangan politik revolusionernya akan menggagalkan gerakan ini karena terlalu radikal”; dsbnya. Lantas karena takut dicap berbeda, takut dicemooh, takut dikucilkan, maka banyak sekali kaum revolusioner ketika bekerja di organisasi massa justru mensensor pandangan politik mereka sendiri. Kita harus ingat bahwa sampai saat Revolusi Februari 1917, kaum Bolshevik juga adalah sebuah minoritas, dengan jumlah anggota yang sedikit, dan selalu dicemooh. Tetapi dengan prinsip “menjelaskan dengan sabar” kaum Bolshevik yang minoritas ini akhirnya memenangkan revolusi sosialisme. Tidak ada jalan pintas menuju sosialisme.

Justru kalau kita menyembunyikan gagasan kita, ini akan menimbulkan kecurigaan di antara kaum buruh. Para pemimpin reformis dan oportunis selalu menyebarkan fitnah dan gosip bahwa kita kaum Marxis ingin merebut organisasi mereka untuk kepentingan kita, bahwa kita ingin “menunggangi” organisasi mereka. Ketika buruh melihat kita justru menyembunyikan gagasan kita, justru ini membenarkan fitnah dari pemimpin-pemimpin mereka. Mereka lantas berpikir: “Benar kata pemimpin kita, mereka kaum Marxis kok sembunyi-sembunyi. Pasti ada motif terselebung. Pasti mereka ingin menunggangi kita.” Tetapi kalau kita terbuka mengenai siapa kita, apa organisasi kita, dan apa gagasan kita, dan dengan sabar menjelaskan kepada mereka bahwa Marxisme adalah gagasan miliknya kaum buruh, maka kita akan mendapatkan kepercayaan dari kaum buruh. Kebohongan dan fitnah para pemimpin reformis dan oportunis akan terbongkar dengan sendirinya, bahwa kita kaum Marxis berjuang demi buruh, demi sosialisme.

Kalau kita menyembunyikan gagasan kita, ini berarti kemenangan kaum reformis dan oportunis di dalam gerakan buruh. Karena dengan demikian ide revolusioner kita tidak tersebar, sementara kaum reformis bebas menyebarkan gagasan mereka yang akan mengkhianati gerakan buruh. Kalau kita menutup diri, maka kita menutup jalan kita ke massa, dan ini berarti kemenangan reformisme. Kaum reformis akan senang sekali kalau kita tidak terbuka mengenai gagasan kita. Inilah mengapa mereka menyerang kita dengan fitnah, intrik, dan berbagai manuver remeh temeh, untuk mendorong kita keluar atau membungkam mulut kita.

Seperti kata Lenin, kita mengadakan perjuangan melawan para pemimpin reformis, oportunis, dan sosial-sovinis guna memenangkan buruh ke sisi kita. Perjuangan melawan para pemimpin reformis ini dilakukan lewat polemik politik, lewat pertempuran gagasan. Kita tidak melawan mereka dengan manuver-manuver birokratis remeh temeh, karena kita hanya bisa memenangkan buruh ke sisi kita dengan gagasan kita. Manuver birokratis adalah alatnya kaum reformis, yang tidak punya gagasan kuat sehingga harus menggunakan metode remeh-temeh seperti itu. Kita kaum Marxis hanya punya gagasan, komitmen, dan dedikasi pada perjuangan; dan inilah alat kita.

Metode bagaimana melakukan polemik melawan kaum reformis adalah sangat penting. Kita tidak serta merta mengutuk semua tindakan para pemimpin reformis. Para pemimpin ini masih memiliki hubungan dengan sebagian besar kaum buruh, yang menghormati mereka dan melihat mereka sebagai pimpinan dari organsiasi mereka. Kita sebagai kaum Marxis mengetahui dengan jelas bahwa para pemimpin reformis ini akan menjadi batu halangan menuju sosialisme. Tetapi sebagian besar kaum buruh tidak mengetahui ini, karena seperti yang telah kita katakan di atas bahwa sebagian besar kaum buruh belajar dari pengalaman mereka dan bukan dari buku. Mereka masih mempercayai para pemimpin mereka. Kalau kita memulai dengan mengutuk mereka, maka kaum buruh secara refleks akan menutup telinga mereka dan gagasan kita tidak akan tersampaikan.

Kita harus selalu mulai dengan hal-hal benar yang dikatakan oleh kaum reformis dan lalu mengemukakan posisi kita. Misal, kalau kaum refomis mengatakan bahwa buruh harus melawan, kita katakan: “Benar, kaum buruh harus melawan. Musuh kita adalah kapitalisme, dan metode perlawanan kita adalah aksi massa.” Bila seorang pemimpin reformis mengambil langkah ke kiri – tidak peduli ini adalah langkah yang jujur atau hanya manuver untuk mencari dukungan – kita harus mendukung langkah tersebut dan menjelaskan apa langkah selanjutnya yang perlu diambil untuk memenangkan perjuangan buruh. Tugas kita bukan untuk meyakinkan para pemimpin reformis ini, tetapi menggunakan ini untuk menjelaskan kepada kaum buruh kepemimpinan macam apa yang dibutuhkan oleh gerakan proletar. Jadi kita harus selalu mendorong lebih ke depan apa yang dikatakan oleh kaum reformis. Kita harus mengemukakan tuntutan-tuntutan positif terhadap kaum reformis, terus mendorong mereka untuk melakukan apa yang sewajarnya perlu dilakukan oleh pemimpin buruh yang sejati untuk benar-benar membela kepentingan buruh. Dengan mengemukakan tuntutan positif ini, kaum buruh akan melihat bahwa kita sungguh-sungguh punya gagasan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan mereka, bahwa kita bukan kaum sektarian yang kerjanya hanya mengutuk saja. Kritik kita terhadap kaum reformis harus teguh, tetapi bersahabat. Kritik kita juga harus sesuai dengan perasaan massa buruh, yang akan berdinamika sesuai dengan ritme perjuangan kelas. Berhadapan dengan kaum buruh yang berpandangan reformis, kita harus bersahabat dan menjelaskan dengan sabar.

Bahaya

Kaum sektarian ultra-kiri, yakni mereka yang menolak bekerja di organisasi massa karena di sana ada kaum reformis dan birokrat, selalu memperingatkan kita mengenai bahaya terkooptasi. Mereka mengatakan bahwa bila kita bekerja di organisasi yang sama dengan kaum reformis, oportunis, dan birokrat, maka kita akan menjadi salah satu dari mereka. Kaum sektarian takut bersentuhan dan menghadapi kaum reformis dan birokrat. Mereka hanya dapat menghadapi mereka dengan kutukan-kutukan histeris. Ted Grant mengingatkan kita bahwa sebenarnya “seorang ultra-kiri adalah seorang oportunis yang takut terhadap oportunisme mereka sendiri.” Ini karena di balik keultra-kirian mereka adalah oportunisme, yang setiap saat dapat termanifestasikan bila ada di bawah tekanan oportunisme.

Ya, akan selalu ada bahaya bekerja di dalam organisasi massa. Bekerja di dalam organisasi massa membuat kita terekspos pada ide-ide asing. Ketika kita bersentuhan dengan massa, kita selalu terekspos pada kesadaran massa yang terbelakang. Kelas penguasa telah berhasil mencekoki kaum buruh dengan berbagai prasangka-prasangka yang melemahkan mereka. Tugas kita adalah mengangkat tingkat kesadaran mereka dengan sistem program transisional dan menjelaskan dengan sabar. Mereka yang ingin menjaga kesucian mereka, ingin terus bersih, tidak harus berenang di rawa gerakan. Mereka dapat berdiri di luar gerakan dengan jubah putih mereka yang bersih. Kita, kaum Marxis revolusioner, harus mengotorkan tangan kita. Inilah mengapa kader yang kuat sangatlah penting, kalau tidak kita akan menjadi seperti Budiman, Andi Arief, Dita, dll., dan ribuan aktivis Kiri lainnya yang sedang menunggu kesempatan untuk menyebrang. Inilah pentingnya gagasan, pendidikan, dan pertemuan sel yang reguler, supaya setiap aktivitas dapat selalu didiskusikan bersama kamerad-kamerad kita. Berdiri sendiri kita lemah, bersama kita kuat.

Ketika kita bekerja di organisasi massa, selalu ada tekanan untuk beradaptasi, untuk menjadi seorang aktivis serikat buruh yang baik, untuk menjadi aktivis mahasiswa yang baik. Ketika mereka-mereka mengatakan bahwa kita harus menjadi aktivis yang baik, maksud mereka adalah kita harus mengikuti cara mereka, ideologi mereka, yang merupakan campuran oportunisme, reformisme, ultra-kiriisme, dan pragmatisme.

Trotsky mengatakan:

“Serikat buruh selalu menciptakan sebuah medium yang subur untuk penyimpangan oportunis. Secara tak terelakkan kita akan menghadapi masalah ini di hari depan. Lebih dari sekali partai harus mengingatkan aktivis-aktivis serikat buruhnya bahwa adaptasi pedagogical (pendidikan) untuk lapisan proletar yang lebih terbelakang tidak boleh menjadi adaptasi politik untuk birokrasi konservatis serikat buruh. Setiap tahapan perkembangan yang baru, setiap pertumbuhan di barisan partai dan komplikasi dari metode kerjanya, tidak hanya membuka peluang-peluang baru tetapi juga bahaya-bahaya baru. Buruh di serikat-serikat buruh, bahkan mereka yang terlatih di sekolah yang paling revolusioner, sering kali menunjukkan kecenderungan untuk membebaskan dirinya dari kendali partai.” (Leon Trotsky, In Defence of Marxism)

Dia juga berbicara mengenai bahaya bekerja di serikat buruh:

“Adalah sebuah hukum sejarah bahwa fungsionaris serikat buruh selalu membentuk sayap kanan dari sebuah partai. Tidak ada pengecualian. Ini benar di partai Sosial Demokrasi; ini benar juga di Partai Bolshevik. Kau tahu, Tomsky ada di sayap kanan. Ini adalah satu hal yang wajar. Mereka berhadapan dengan elemen kelas buruh yang terbelakang; mereka adalah kaum pelopor partai di dalam kelas buruh. Serikat buruh adalah medan dimana kita harus beradaptasi. Orang-orang yang harus melakukan adaptasi ini adalah mereka yang bekerja di serikat buruh. Inilah mengapa tekanan dari elemen-elemen terbelakang selalu terrefleksikan melalui kamerad-kamerad serikat buruh. Ini adalah tekanan yang sehat; tetapi ini juga dapat memisahkan mereka dari kepentingan kelas historis – yakni mereka dapat menjadi oportunis.” (Leon Trotsky, Discussions with Trotsky, vol. 1939-40, hal. 280-281)

Kamerad-kamerad yang bekerja di serikat buruh (atau organisasi massa secara umum), yang langsung berhadapan dengan massa buruh, adalah pelopor partai di serikat buruh. Peran mereka penting dalam mengikat partai dengan massa buruh. Namun karena posisi mereka yang terus bersentuhan langsung dengan massa buruh, dengan segala ide-ide asing yang ada, dari yang bersifat reformis sampai reaksioner (rasisme, sexisme, fundamentalisme), kamerad-kamerad ini lantas terancam bahaya ter-kooptasi. Mereka kerap harus melakukan adaptasi, yang memang diperlukan untuk meraih telinga massa buruh dan membawa mereka ke kesimpulan revolusioner. Tetapi adaptasi ini dapat menjadi adaptasi politik yang permanen. Inilah mengapa pendidikan politik revolusioner sangat diperlukan untuk semua kader partai yang harus bekerja di organisasi massa, untuk menguatkan mereka secara politik. Tidak hanya satu-dua kali pendidikan, tetapi terus menerus, guna saling mengingatkan apa yang menjadi tugas historis kita dan tidak jatuh pada jurang reformisme dan oportunisme.

Setiap kamerad harus bekerja di bawah kepemimpinan kolektif partai. Tidak ada satupun kamerad yang karena posisi penting mereka di sebuah organisasi massa lantas menjadi bebas dari sentralisme demokrasi partai. Trotsky mengatakan:

“Bila kau adalah seorang revolusioner dan seorang Komunis, yang bekerja di bawah kepemimpinan dan kontrol sejati dari sebuah partai proletar yang tersentralisir, maka kau akan dapat berfungsi di serikat buruh, atau di sebuah front, atau di koran, atau di barikade, dan kau akan selalu jujur pada dirimu sendiri, kau akan menjadi apa yang seharuskan kau lakukan – bukan seorang parlementer, juga bukan seorang jurnalis koran, juga bukan seorang aktivis serikat buruh, tetapi seorang Komunis revolusioner yang menggunakan semua jalan, cara, dan metode untuk revolusi sosial.” (Leon Trotsky, On the policy of KAPD, 24 Novermber 1920).

Tentu saja akan selalu ada kesulitan dan perangkap. Lenin di dalam buku Komunisme Sayap-Kiri mengatakan:

“Bila kau ingin membantu ‘massa’ dan memenangkan simpati dan dukungan ‘massa,’ maka kau tidak boleh takut menghadapi kesulitan-kesulitan, kau tidak boleh takut menghadapi … hinaan-hinaan dan penindasan dari “para pemimpin”, tetapi kita harus dengan gigih bekerja dimana massa berada. Kita harus dapat melakukan pengorbanan apapun, harus dapat melewati rintangan terbesar guna melakukan agitasi dan propaganda secara sistematis, gigih, terus-menerus dan sabar, terutama di institusi-institusi, organisasi-organisasi, dan asosiasi-asosiasi – yang bahkan yang paling ultra-reaksioner – dimana massa proletar atau semi-proletar dapat ditemui.” (Lenin, Komunisme Sayap Kiri, Sebuah Penyakit Kekanak-kanakan)

Kaum reformis dan birokrat di organisasi-organisasi massa tahu sekali bagaimana menjerumuskan anggota-anggota kita. Mereka menawarkan gaji tinggi. Mereka menawarkan kehormatan. Mereka menghujani kita dengan puja-puji untuk mengkooptasi kita. Kaum reformis telah mempelajari seni kooptasi ini lebih dari 150 tahun. Namun kita kaum Marxis juga telah memperkuat diri kita dari perangkap-perangkap ini. Sesungguhnya, manuver-manuver remeh-temeh dari kaum reformis dan birokrat hanyalah menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak memiliki basis massa. Inilah mengapa mereka kerap menggunakan intrik dan rumor.

Kita bekerja di organisasi massa untuk memenangkan massa. Kita memperkuat posisi kita lewat dukungan massa yang sejati. Inilah mengapa umumnya kita tidak mengambil posisi-posisi kepemimpinan di organisasi massa kecuali kalau kita benar-benar telah memenangkan posisi tersebut lewat dukungan massa.

Lalu, ada juga bahasa super-aktivisme, terutama di Indonesia. Kerja sehari-hari kita di dalam gerakan dapat menyedot kamerad-kamerad kita, dan mengalihkan mereka dari tugas utama membangun partai. Ini terutama benar ketika tidak ada perspektif membangun partai di dalam gerakan, dimana satu-satunya perspektif adalah bergerak dari satu isu (kampanye) ke isu yang lain. Di bawah tekanan ini, sejumlah kamerad dapat mulai melihat diri mereka pertama-tama bukan sebagai Marxis tetapi sebagai aktivis kiri yang baik. Prioritas mereka perlahan-lahan dapat berubah. Akibat dari cara pandang ini, prioritas mereka sebagai seorang aktivis kiri yang baik adalah “membangun gerakan kiri,” dan mereka lupa bahwa satu-satunya cara membangun gerakan – dan memenangkan revolusi – adalah dengan membangun organisasi.

Cara pandang “membangun gerakan kiri” sebenarnya adalah bagian dari reformisme. Eduard Bernstein, salah seorang Bapak Reformisme, mengatakan: “Gol akhir, apapun itu, tidaklah penting; yang paling penting adalah gerakan.” Rosa Luxemburg menulis buku terkenalnya, “Reformasi atau Revolusi”, untuk menjawab reformismenya Eduard Bernstein. Bagi kaum reformis, mereka hanya tertarik membangun gerakan, bukan memenangkan revolusi. Mereka ingin mempertahankan gerakan guna melindungi sumber pencaharian mereka, sumber privilese mereka, eksistensi mereka. Satu kali dua kali mereka berbicara mengenai sosialisme, tetapi hanya di bibir saja. Sayangnya, perspektif gerakan-adalah-segalanya telah mempengaruhi bahkan aktivis-aktivis jujur yang ingin berjuang demi sosialisme. Ini telah menciptakan kebingungan di antara aktivis-aktivis kiri.

Tiga Faktor Perspektif Bekerja di Organisasi Massa

Perspektif bekerja di organisasi massa kita bukanlah sesuatu yang kaku. Ia didikte oleh tiga faktor yang saling merasuki dan terus berubah: konteks historis organisasi massa, kondisi perjuangan kelas, dan – sama pentingnya – kondisi partai kita.

1. Konteks historis organisasi massa

Salah satu hukum dialektika materialisme adalah hukum perkembangan yang tak-berimbang dan tergabungkan (the law of uneven and combined development). Hukum ini tidak hanya benar di dalam ranah ekonomi, tetapi juga dalam ranah politik. Situasi di dalam negara-negara ketiga (mantan jajahan atau semi-jajahan) sangatlah berbeda dengan negara-negara kapitalis maju. Mereka melewati tahapan-tahapan sejarah yang berbeda. Begitu juga evolusi politik dari organisasi-organisasi massa di negara ketiga dan negara maju akan berbeda.

Perkembangan sosial, ekonomi, dan politik tiap-tiap negeri yang unik – juga dalam hubungannya dengan kekuatan-kekuatan dari luar – mendikte watak dari organisasi massa di negeri tersebut. Di kebanyakan negeri-negeri kapitalis maju, dimana kapitalisme berkembang kurang lebih secara ortodoks – yakni dimana feodalisme ditumbangkan oleh revolusi borjuis demokratik seperti di Prancis dan Inggris – garis kelas lebih jelas. Di satu sisi adalah kelas kapitalis, di sisi lain adalah kelas proletar. Karena organisasi kelas adalah refleksi dari kelas itu sendiri, maka perkembangan organisasi kelas (baik itu organisasi kelas buruh maupun organisasi kelas kapitalis) juga cukup sederhana. Di satu sisi adalah partai kapitalis, di sisi lain adalah partai buruh (dan serikat-serikat buruh) sebagai organisasi tradisional massa buruh. Di Inggris misalnya, Partai Konservatif dan Liberal adalah partainya kaum kapitalis, dan lalu Partai Buruh (dan serikat-serikat buruh sebagai basisnya) adalah partainya kelas buruh. Relasi kelas – dan lantas organisasi-organisasi kelas – relatif sederhana.

Berbeda dengan negara-negara ketiga, dimana kapitalisme tidak berkembang secara alami karena intervensi kapital asing lewat penjajahan, garis kelas lebih buram dan lebih kompleks. Maka dari itu, karakter dari organisasi-organisasi massanya juga lebih kompleks.

Di Indonesia, organisasi massa yang lahir pertama kali adalah Sarikat Islam, yang awalnya adalah Sarikat Dagang Islam yang dimotori oleh para pedagang Islam Hindia Timur (saat itu belum ada yang namanya Indonesia) karena kepentingan dagang mereka terancam. Lalu karena ledakan sentimen nasionalisme, ia berubah menjadi organisasi massa luas. SI adalah sebuah organisasi massa yang unik, yang variannya tidak akan kita temui di negeri-negeri kapitalism maju. Partai Komunis Indonesia hanya menjadi sebuah organisasi massa tradisional setelah melakukan kerja di SI (dan juga serikat-serikat buruh) dan lalu berhasil meraih mayoritas SI dengan pecahannya SI Merah. Ketika satu organisasi massa tradisional sudah terbentuk, biasanya ikatannya dengan rakyat pekerja tidak akan mudah hilang, kendati represi dari penguasa atau kekeliruan-kekeliruan -- bahkan pengkhianatan -- dari para pemimpinnya. PKI adalah partai pertama di bumi Indonesia yang serius memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia juga adalah partai pertama yang secara sistematis dan ideologis bekerja di serikat-serikat buruh pertama di Indonesia, dan pada banyak kesempatan adalah yang membangun serikat-serikat buruh tersebut.  Fakta-fakta ini terpahat di dalam kesadaran rakyat Indonesia dan membentuk ikatan organik dan historis antara rakyat Indonesia dan Partai Komunis Indonesia.

Inilah alasan terutama mengapa bahkan setelah hilang dari percaturan politik selama 20 tahunan menyusul kegagalan Pemberontakan 1926 ia dapat bangkit kembali dan menjadi kekuatan politik besar pada tahun 1950an. Ikatan organik antara rakyat pekerja Indonesia dan PKI masih utuh walaupun terkubur. Kalau Militan Indonesia ada pada saat itu, tentunya kita akan berorientasi ke PKI sebagai sebuah organisasi massa tradisional rakyat pekerja. Tentunya cara kita berorientasi ke sana akan didikte juga oleh faktor-faktor lain, termasuk faktor kesulitan logistik karena sentimen anti-Trotsky di dalam PKI yang begitu mencekam. Namun ini tidak akan menghentikan kita dari berorientasi ke massa pekerja di bawah PKI dan organisasi-organisasi “underbouw”nya.  Terlepas dari kekeliruan ideologi para pemimpinnya – yang menganut teori Stalinis “dua tahap” dan “sosialisme di satu negeri” – rakyat pekerja ada di sana karena mereka tulus ingin membebaskan diri mereka dari kapitalisme.

PKI adalah anak zaman, begitu ungkapannya. Lahir dari revolusi, dan lantas mati oleh konter-revolusi. Konter-revolusi yang mematikannya – tragedi 1965 – adalah yang boleh dibilang paling berdarah di dalam sejarah manusia. Untuk menghilangkan ikatan historis antara rakyat pekerja Indonesia dengan PKI, jutaan bunga-bunga terbaik rakyat pekerja Indonesia harus dibantai – dan pembantaiannya pun sadis – dan sebuah kampanye teror dan propaganda hitam yang luas harus dilakukan oleh rejim penguasa.

Paska jatuhnya Soeharto, serikat-serikat buruh tumbuh berjamuran. Para buruh harus menemukan tradisi berorganisasi kembali yang telah dikebiri selama 32 tahun, dan mereka menemukannya dengan cepat dan penuh antusiasme. Sektor-sektor tertindas yang lain pun berlomba-lomba membentuk organisasi perjuangan mereka: kaum muda, kaum tani, nelayan, kaum miskin kota, kaum perempuan, dsbnya. Organisasi-organisasi perjuangan rakyat ini terus berdinamika, terus lahir, tumbuh, layu, dan bahkan banyak juga yang mati. Namun tendensinya jelas, organisasi-organisasi massa tradisional Indonesia sedang dipersiapkan. Di bawah benturan panasnya perjuangan kelas ia terus tertempa, layaknya besi panas yang terus ditempa oleh pandai besi sampai ia menjadi pisau

Serikat-serikat buruh Indonesia hari ini jatuh ke dalam dua kategori: serikat buruh merah dan serikat buruh kuning. Serikat-serikat merah lahir dan tumbuh berjamuran paska Reformasi 1998 dan merupakan ekspresi dari luapan keresahan buruh. Dibentuk di luar kerangka Orde Baru, mereka relatif mengambil garis perjuangan yang lebih radikal dan militan. Namun pada saat yang sama mereka juga mencakup semua kebingungan dan ketidakdewasaan gerakan buruh Indonesia yang baru lahir kembali setelah dikebiri oleh Soeharto. Mereka lahir dari berbagai macam cara, dari yang didanai NGO, sampai yang dipelopori oleh mahasiswa atau intelektual, sampai yang murni bentukan buruh sendiri. Berbagai tendensi pemikiran, dari yang ultra-kiri sampai reformis-kiri, ada di sana. Mereka adalah garda depan perjuangan buruh Indonesia, dimana bunga-bunga terbaik proletar ada di dalamnya.

Serikat kuning di Indonesia adalah serikat-serikat yang direstui oleh kelas penguasa untuk menjaga hubungan harmonis antara buruh, pengusaha, dan pemerintah. Kepemimpinan mereka bukan hanya reformis, tetapi bahkan merupakan alat di tangan kelas borjuasi Indonesia untuk meredam perjuangan kelas. Sebagian besar adalah lanjutan – secara institusional atau secara politik – dari SPSI bentukan Orde Baru. Kendati demikian, di belakang mereka adalah massa buruh yang masif, yang kerap menggunakan serikat-serikat ini untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Majelis Pekerja Buruh Indonesia yang baru-baru ini dideklarasikan memiliki kira-kira 9 juta anggota (Dari data per Juni 2007, KSPSI mengklaim 5 juta anggota, KSPI 2 juta, KSBSI 2 juta). Ini jauh lebih besar dibandingkan cakupan anggota dari serikat-serikat buruh merah, yang mungkin maksimum hanya 1 juta saja. Namun jelas, pengalaman perjuangan dari serikat-serikat merah jauh lebih banyak, dan massanya secara umum lebih sadar kelas. Tugas dari buruh-buruh yang lebih maju dan sadar kelas bukanlah memisahkan diri dari serikat kuning, tetapi justru mencoba memenangkan massa buruh serikat kuning ke garis perjuangan sosialis. Menajamnya perjuangan kelas -- terutama hari ini ketika kapitalisme dunia sedang memasuki era krisis penuh gejolak -- akan membawa benturan-benturan di dalam serikat-serikat kuning ini, antara massa yang bertambah radikal dengan kepemimpinan yang konservatif. Lewat peristiwa-peristiwa besar massa serikat kuning akan mulai mengambil kesimpulan revolusioner, dan kaum buruh yang lebih maju dari serikat-serikat merah harus bisa membantu mereka mencapai kesimpulan ini lebih cepat dan lebih baik.

Di luar organisasi massa buruh, banyak organisasi-organisasi massa perjuangan sektoral yang terbentuk selama 10 tahun terakhir. Namun, banyak dari mereka yang bersifat ad-hoc atau sementara, yakni mencuat ketika ada isu ketidakadilan dan pupus ketika perjuangan berakhir -- dengan kemenangan maupun kekalahan. Hanya sedikit yang terus eksis, dan mereka ini biasanya adalah binaan dari sebuah partai, seperti PRD dengan organisasi-organisasi sektoralnya (SRMI, STN, dan LMND). Ketidakmampuan dari mayoritas organisasi massa non-buruh untuk terus eksis secara organisasional dan politik adalah refleksi dari ketidak-konsistenan revolusioner yang inheren dari sektor-sektor tersebut (tani, nelayan, miskin kota, lumpen, mahasiswa, intelektual, pekerja budaya). Ini adalah karena kapitalisme secara umum menciptakan dua kelas besar yang bertentangan: borjuasi dan proletar, sehingga menempatkan kelas proletar sebagai garda depan perjuangan melawan kapitalisme dan membawa sosialisme. Sektor-sektor lain, walaupun tidak jarang telah menunjukkan semangat perlawanan mereka dalam menentang kapitalisme, secara historis, sosial, politik, dan ekonomi bukanlah sektor yang dapat membawa perjuangan sosialis ke garis akhir kemenangan. Memahami bahwa secara umum sektor-sektor non-buruh tidak akan menjadi garda depan perjuangan sosialisme tidak berarti bahwa kaum revolusioner menihilkan mereka. Kebuntuan kapitalisme terus mendorong sektor-sektor ini untuk berjuang dan menciptakan organ-organ perjuangan demi kepentingan mereka. Realitas ini mendikte bahwa kaum revolusioner harus terlibat di dalam perjuangan tani, nelayan, miskin kota, dan mahasiswa, namun tetap dengan perspektif kelas proletar sebagai satu-satunya kelas revolusioner yang akan dapat menumbangkan kapitalisme. Ini berarti mendorong kelas proletar untuk memenuhi tugas historis mereka dalam memimpin perjuangan rakyat luas dalam menuju sosialisme, mengkonkritkan slogan “buruh berkuasa rakyat sejahtera”.

2. Kondisi Perjuangan Kelas

Organisasi massa tidaklah eksis di dalam vakum. Mereka ada di bawah pengaruh perjuangan kelas di sekitar mereka. Di periode kemunduran, ketika buruh tidak lagi berpartisipasi di dalam organisasi mereka, organisasi-organisasi ini kerap kali diambil alih oleh kaum reformis birokrat. Karena tidak ada tekanan dari para anggota bawahan akan perlunya perjuangan yang tegas dan militan, maka elemen-elemen reformis memasuki kepengurusan serikat buruh. Sesudah bercokol disana, mereka menciptakan kondisi yang semakin membuat partisipasi buruh sulit. Ketika serikat buruh dihadapkan dengan situasi revolusioner, para pemimpin reformis yang naik ke tampuk kepengurusan sebagai hasil dari situasi kemunduran sebelumnya akan menjadi penghalang terbesar bagi perjuangan buruh ke depan.

Sebaliknya, di periode perjuangan kelas yang intens, organisasi-organisasi ini teruji. Buruh akan mulai berpartisipasi dan menguji para pemimpin mereka. Akan ada gejolak di tubuh serikat buruh, dan ini dapat membawa hidup baru ke dalam organisasi yang sebelumnya tampak seperti mayat hidup. Bahkan bisa terjadi perpecahan antara sayap yang revolusioner dan sayap yang konservatif reformis, yang dapat melahirkan sebuah organisasi massa yang baru.

Hari ini di Indonesia perjuangan kelas sedang mengalami kenaikan. Gerakan buruh sudah mulai keluar dari batasan gerbang pabrik mereka dan memperjuangkan tuntutan yang menyangkut kesejahteraan masyarakat luas. Keterlibatan aktif serikat buruh dalam aksi menolak kenaikan BBM kemarin memberikan aksi penolakan tersebut konten kelas yang jelas dan tegas, dan berhasil memukul mundur pemerintah. Tidak diragukan tanpa keterlibatan aktif buruh sebagai kelas aksi menolak kenaikan BBM ini pasti menemui kegagalan. Ini dilanjuti dengan mobilisasi masif pada May Day kemarin, terutama dari serikat-serikat kuning. Terlepas dari motif para pemimpin serikat-serikat kuning, eforia besar dari massa buruh adalah bentuk luapan keresahan mereka sebagai kelas tertindas. Media massa pun tidak bisa menutup mata dan harus melaporkan mobilisasi May Day tahun ini, yang terbesar di Indonesia semenjak 1965. Ini semakin memperkokoh posisi buruh sebagai pemimpin gerakan rakyat luas. Ini menunjukkan kepada semua lapisan masyarakat bahwa hanya buruh yang bisa memobilisasi massa dengan begitu besarnya, tidak hanya di Jakarta tetapi di seluruh Indonesia. Para komentator borjuis pun harus mengakui bahwa pada May Day ini kaum buruh telah menunjukkan taringnya. Masalahnya sekarang adalah apa yang akan dilakukan dengan taring ini?

Yang pasti hari ini sudah bukan lagi waktunya kita segan dalam mendorong buruh untuk mulai melompati batas-batas tuntutan normatif. Kondisi sudah matang bagi kaum revolusioner untuk mendorong tuntutan politik dan ide sosialisme ke dalam serikat-serikat buruh, bahkan serikat kuning. Gejolak yang dialami kapitalisme hari ini telah membuat semakin banyak buruh mempertanyakan kapitalisme, dan mereka dengan aktif sedang mencari jawaban. Bila kita segan-segan, maka kaum reformis, kaum nasionalis (seperti Gerindra), dan bahkan kaum fundamentalis yang akan meraih telinga mereka dan memberikan jawaban kepada mereka.

3. Kondisi Organisasi Kita

Bagaimana kita berorientasi ke organisasi massa juga didikte oleh kondisi organisasi kita secara kuantitas dan kualitas. Ted Grant sering mengatakan: “Mencoba berteriak melebihi kemampuan suara kita hanya akan membuat kita menjadi serak dan akhirnya kehilangan suara.” Kita harus bisa mengukur kekuatan kita sendiri dan tahu apa gol-gol jangka pendek dan panjang yang bisa dicapai berdasarkan kekuatan kita. Ini akan menentukan taktik organisasi kita dalam bekerja di organisasi massa.

Membangun partai

Namun, pada akhirnya kita harus kembali lagi ke tugas utama kita sebagai kaum Marxis, yakni membangun partai. Semua pertimbangan kerja bermula dari tugas utama ini, karena gol akhir kita adalah sosialisme yang hanya akan bisa diraih buruh bila mereka memiliki partai revolusioner yang dapat merebut kekuasaan. Lenin sepanjang hidupnya hanya mengkhawatirkan dirinya dengan satu hal: membangun partai Bolshevik. Hampir semua polemik Lenin di awal 1900an adalah mengenai membangun partai yang bisa memimpin kelas proletar untuk memenuhi tugas sejarahnya. Trotsky pun dalam 10 tahun terakhir di dalam hidupnya hanya mengkhawatirkan satu hal: membangun partai Bolshevik-Leninis yang bisa memimpin kelas proletar dalam menumbangkan kapitalisme dan Stalinisme. Terutama ketika kita masih merangkak, maka tugas ini bahkan 100 kali lipat lebih penting.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa perspektif membangun-gerakan atau gerakan-adalah-segalanya adalah perspektif yang tidak tepat. Kapitalisme tidak akan tumbang hanya dengan gerakan saja, hanya dengan serikat buruh saja, hanya dengan demo-demo besar saja. Kita sudah saksikan berulang kali di seluruh dunia bahwa tanpa partai yang siap maka kapitalisme tetap akan langgeng. Tengok saja Venezuela, yang mobilisasi massanya sudah paling radikal di dunia hari ini dan pemimpinnya Hugo Chavez begitu popular dan juga radikal, sosialisme belum dimenangkan di sana. Ini karena tidak ada partai Bolshevik disana, seperti partainya Lenin yang terdiri dari bunga-bunga terbaik proletar yang siap memenangkan sosialisme ketika momen revolusi tiba. Jadi pada akhirnya kerja kita di organisasi massa adalah untuk membangun partai Marxis. Kesadaran membangun partai harus kita tanamkan kepada buruh luas. Buruh luas sudah paham akan pentingnya berorganisasi, pentingnya berserikat. Loncatan selanjutnya adalah kesadaran berpartai. Kita tidak boleh segan dan sungkan dalam hal ini. Ketika kita bekerja di organisasi massa, kita harus terbuka mengenai siapa kita, apa pandangan dan program politik kita, dan apa tujuan kita: membangun Partai Revolusioner di Indonesia.