Sudah terlalu sering kita temui mereka-mereka yang mencolek Marxisme dan Leninisme untuk menambal pemikiran mereka yang bolong-bolong, dengan harapan kalau kilau Marxisme-Leninisme bisa membuat pemikiran mereka yang dangkal dan membosankan semakin menarik, atau justru menyilaukan mata kita dari buruknya gagasan mereka. Eduard Bernstein, bapak Sosial Demokrasi dan Reformisme, adalah satu figur yang begitu pandainya bermain-main dengan Marxisme untuk membenarkan Reformismenya. Tidak berani secara terus terang mengedepankan gagasan Reformismenya, ia meminjam ujar Marx dan Engels.

Ragil Nugroho dalam “PKS dan Lenin”nya melakukan hal yang serupa, tetapi akan tidak adil bagi Bernstein bila kita menyandingkannya dengan Nugroho. Colekan Nugroho kasar dan vulgar, yang di lain pihak membuat tugas saya menjawabnya begitu mudah. Namun tidak akan saya anggap sepele tulisannya, karena di dalamnya terkandung banyak pelintiran dan jebakan yang bisa memerosokkan banyak orang yang belum pernah membaca – atau hanya membaca setengah-setengah – karya Marx, Engels, dan Lenin.

Apakah masalahnya begitu sepele seperti yang dikemukakan oleh Ragil? Bahwa ini hanya masalah antara mana yang bertahan dan mana yang tersungkur? Bila demikian, Marxisme telah tersungkur berkali-kali, dan bahkan mengalami kekalahan telak yang membuat tidak sedikit para pejuang rakyat menyerah dan menerima keabadian kapitalisme. Kita memegang teguh Marxisme dan perjuangannya bukan karena ia telah bertahan dan menang, tetapi justru karena pemahaman akan gerak sejarah. Ketika Uni Soviet jaya, tidak sedikit orang-orang yang menjunjung tinggi Marxisme setelah fakta kemenangannya, tetapi beramai-ramai meninggalkannya ketika Uni Soviet tersungkur. Mereka-mereka inilah yang menjadi tulang punggung kaum birokrasi Uni Soviet, yang sebelum Revolusi Oktober skeptis terhadap – dan bahkan menentang – revolusi sosialis, dan setelah kemenangan Revolusi Oktober membanjiri Partai Bolsheviknya Lenin dan negara buruh Uni Soviet. Dengan pemahaman dangkal mereka, yang hanya pintar menerima fakta setelah ia terjadi, Marxisme hanya jadi alat pembenaran prasangka-prasangka mereka dan bukan sebagai metode analisa gerak sejarah. Kebijakan kaum Stalinis yang zig-zag, yang banting stir ke kiri dan kanan, adalah hasil dari empirisisme vulgar mereka, yang menerima fakta hanya setelah ia terjadi, tanpa bisa menjelaskan apa-apa.

Jadi tidak, masalahnya tidak sesepele memilih mana yang bertahan dan mana yang tersungkur. Karena bila demikian, maka marilah kita beramai-ramai meninggalkan Marxisme dan Leninisme, karena ia telah tersungkur dan kapitalisme masih terus bertahan. Inilah pembenaran dari banyak para aktivis yang telah pembelot dan menyebrang ke sisi lain, dan yang akan membelot lagi ketika kemenangan sosialisme telah tercapai.

Bila ada rak buku dengan risalah Lenin yang berdebu karena jarang dibuka, ini pastilah rak bukunya kawan Nugroho. What is to be done? digambarkan oleh Nugroho sebagai panduan organisasi yang lahir karena kediktaturan rejim Tsar yang mencekik:

Apa yang Harus Dilakukan? tak rumit. Hanya panduan ringan tentang membangun organisasi politik yang tak amatiran. Karena situasi tak bebas bernapas, maka organisasi harus ketat dengan disiplin yang tinggi. Tujuannya, agar penguasa tak mudah memukul. Ada sel-sel yang saling mengunci.”

Benarkah demikian? Membaca pengantar Apa yang Harus Dilakukan? menunjukkan dengan cepat bahwa risalah ini ditulis oleh Lenin sebagai polemik politik melawan tendensi Ekonomisme:

“Mutlak perlu untuk memulai sebuah perjuangan yang gigih melawan aliran ini [Ekonomisme], yang tak jelas dan tak menentu, tetapi justru karenanya aliran ini dapat mengambil banyak bentuk … sebuah usaha harus dilakukan, dengan cara yang paling sederhana, yang diilustrasikan dengan berbagai contoh-contoh konkrit, untuk secara sistematis ‘mengklarifikasi’ semua poin-poin utama perbedaan kita dengan kaum Ekonomis.” (Lenin, Apa Yang Harus Dilakukan?)

Tidak hanya pengantarnya saja, tetapi keseluruhan pamflet ini ditujukan untuk melawan aliran Ekonomisme. Ekonomisme adalah sebuah pemikiran dimana perjuangan ekonomi kaum buruh diletakkan di atas segalanya, yang bermaksud menihilkan perjuangan politik buruh untuk merebut kekuasaan. Berbagai argumen dikemukakan: buruh hanya mengerti perjuangan ekonomi, serikat-buruhisme adalah intisari dari perjuangan buruh, bahwa politik adalah superstruktur dari ekonomi dan oleh karenanya tersubordinasi di bawah ekonomi, dan lain sebagainya. Kaum  Ekonomis dengan serampangan mengutip Marx (atau lebih tepatnya mencolek Marx) bahwa kesadaran kelas akan terbentuk sendiri lewat perkembangan ekonomi dan perjuangan kelas, dan oleh karenanya kesadaran kelas tidak perlu dibangun lewat organisasi politik. Di balik semua argumen ini terkandung penyembahan terhadap spontanitas gerakan buruh, yakni bahwa gerakan buruh tidak memerlukan ideologi sosialisme ”dari luar”. Ideologi sosialisme, ujar kaum Ekonomis ini, akan lahir dengan sendirinya, dengan spontan.

Inilah yang diperangi oleh Lenin. Diawali dari konsepsi keliru dari kaum Ekonomis mengenai bagaimana kesadaran kelas terbentuk secara spontan, ini bermuara pada kesimpulan tidak diperlukannya organisasi politik yang serius. Lenin lantas menelanjangi satu per satu perspektif Ekonomisme yang reaksioner ini. Politik sosialisme harus dibangun dengan sadar, dan untuk ini diperlukan sebuah partai sosialis yang akan mengusung dengan serius tugas-tugas teoritis, politik, dan organisasional. Lenin menulis:

“Dan jadi, kami telah menjadi yakin bahwa kekeliruan fundamental dari ‘aliran baru ini’ [Ekonomisme] di dalam Sosial Demokrasi Rusia adalah penyembahannya terhadap spontanitas dan kegagalannya untuk memahami bahwa spontanitas massa menuntut kesadaran yang tinggi dari kita-kita kaum Sosial Demokrat [Pada saat itu, Sosial Demokrasi adalah nama lain dari Marxisme. Hanya setelah Internasionale Kedua mengkhianati kaum buruh pada tahun 1914, maka Sosial Demokrasi menjadi sinonim dengan Reformisme dan Oportunisme]. Semakin spontan pemberontakan massa dan semakin luas gerakan, semakin pesat tuntutan untuk kesadaran yang lebih tinggi di dalan kerja teori, politik, dan organisasi dari Sosial Demokrasi.”

“... Kita akan menunjukkan bagaimana penyembahan terhadap spontanitas ini menemukan ekspresinya di dalam ranah tugas-tugas politik dan di dalam kerja organisasional Sosial Demokrasi.” (Lenin, Apa Yang Harus Dilakukan?)

Perbedaan politik berujung pada perbedaan konsepsi organisasi, karena konsepsi dasar organisasi pada analisa terakhir adalah turunan dari konsepsi politik. Konsepsi Lenin mengenai organisasi yang tersentralisir, rapat, profesional, dan disiplin oleh karenanya bukan lahir dari ”situasi tak bebas bernapas”, tetapi lahir dari tugas kaum proletar untuk merebut kekuasaan secara revolusioner dan secara sadar.  Secara revolusioner dalam arti bahwa sosialisme tidak akan tiba di muka bumi secara perlahan-lahan, melalui reforma-reforma, seperti yang dipercayai oleh Bernstein dan kaum reformis lainnya. Secara sadar dalam arti bahwa revolusi sosialis tidak akan terjadi secara spontan. Kendati kontradiksi kapitalisme menyiapkan kondisi objektif untuk revolusi sosialis, namun kemenangannya hanya akan tiba bila elemen-elemen proletar yang termaju dan paling sadar-kelas mempersiapkan diri mereka dengan sadar. Ini yang dikatakan oleh Lenin:

“ ‘Perjuangan ekonomi melawan para majikan dan pemerintah’ [Ekonomisme] sama sekali tidak membutuhkan sebuah organisasi Rusia nasional yang tersentralisir; dan oleh karenanya perjuangan ini tidak akan pernah dapat melahirkan sebuah organisasi yang akan menggabungkan, di dalam satu serangan umum, semua manifestasi oposisi politik, protes, dan kegeraman, sebuah organisasi yang terdiri dari kaum revolusioner profesional dan yang dipimpim oleh pemimpin-pemimpin politik sejati dari seluruh rakyat. Begitulah logikanya. Karakter dari sebuah organisasi secara alami dan tak-terelakkan ditentukan oleh konten aktivitasnya.”

” ... Perjuangan politik dari Sosial Demokrasi jauh lebih luas dan kompleks daripada perjuangan ekonomi kaum buruh melawan para majikan dan pemerintah. Maka dari itu, organisasi Partai Sosial Demokrasi yang revolusioner niscaya akan berbeda dari organisasi buruh yang dibentuk untuk perjuangan ini [perjuangan ekonomi].” (Lenin, Apa Yang Harus Dilakukan?)

Kaum Ekonomis pada hakikatnya membenci teori, karena konsepsi politik mereka bahwa revolusi akan lahir dari massa secara spontan. Yang terutama bagi mereka adalah berada di antara massa dan melakukan kerja-kerja yang konkrit praktis. Pendidikan politik menempati tempat yang sekunder. Sementara Lenin berargumen bahwa teori adalah penting dan partai politik adalah wahana untuk mengedepankan dan memasok teori ini ke dalam gerakan secara sadar. Dia ungkapkan ini dalam satu kalimat yang paling sering dikutip oleh banyak orang:

“Tanpa teori revolusioner tidak akan ada gerakan revolusioner. Gagasan ini harus didorong kuat-kuat ketika oportunisme yang sedang ngetren bersandingan dengan penyembahan terhadap aktivits praktis yang paling sempit.” (Lenin, Apa Yang Harus Dilakukan?)

Kaum ekonomis membenarkan pemikiran mereka lewat argumen pragmatisme, apa yang praktis, apa yang membuahkan hasil konkrit. Begitu juga Ragil dengan kalimat pembukaannya: “Persoalan yang sepele: mana bertahan dan mana tersungkur”. Inilah intisari dari semua celoteh Ragil, pragmatisme yang paling vulgar yang bersembunyi di balik Lenin.

Mungkin akan ada beberapa orang yang mengatakan bahwa tidak penting mengapa dan bagaimana Lenin mencapai kesimpulan pentingnya organisasi politik yang tersentralisir dan profesional. Yang penting kesimpulannya. Apa itu karena rejim yang sesak -- seperti yang dikemukakan oleh Ragil -- atau karena perspektif politik, ini tidak penting. Apel yang manis akan tetap manis tidak peduli dari mana dan bagaimana ia tumbuh.

Tetapi darimana kesimpulan ini dicapai sangat penting. Kalau kesimpulan mengenai pentingnya organisasi politik profesional adalah karena rejim yang sesak, maka ini berarti bahwa di negeri-negeri demokrasi yang maju dimana tidak ada kediktaturan seperti rejim Tsar Rusia maka tidak diperlukan partai politik yang disiplin teori, program, dan organisasi. Ini sungguh sesuai dengan keinginan kaum reformis di negara-negara Barat, yang lebih memilih bentuk organisasi lepas, longgar, dan tidak disiplin karena sesuai dengan paham reformisme mereka yang tidak menginginkan revolusi sosialis yang berhasil. Sejarah telah membuktikan bahwa kegagalan revolusi-revolusi di negara-negara kapitalis maju adalah justru karena tidak ada partai politik yang disiplin teori, program, dan organisasi, yang ketika dihantam gelombang revolusi hancur berkeping-keping. Sekali lagi, bentuk dan karakter dasar sebuah organisasi pada analisa terakhir lahir dari perspektif politik dan tugas politik yang harus diembannya.

Mungkin berharap kalau banyak orang yang memang tidak membaca Lenin, sehingga kawan kita Nugroho ini membuat kesimpulannya sendiri mengenai karya Lenin ini supaya sesuai dengan prasangka-prasangkanya. Setidaknya ada satu hal yang benar yang dikatakan oleh Ragil, bahwa kita “tak perlu trenyuh, risalah itu akan menemukan pembacanya di tempat lain.” Yah, pembaca risalah Lenin akan segera menemukan bahwa Ragil hanyalah pencolek vulgar.

Revolusi 1905 merupakan satu peristiwa besar yang menggoncang Rusia. Buruh dan kaum muda dimana-mana terseret ke dalam pusaran revolusi dan kesadaran mereka mengalami loncatan besar. Melihat ini, Lenin membuka pintu partai untuk merekrut tunas-tunas muda revolusioner ini.

” … yang harus kita lakukan adalah merekrut kaum muda dengan lebih luas dan lebih berani. lebih luas dan lebih berani, dan sekali lagi lebih berani tanpa merasa takut terhadap mereka. Ini adalah waktunya perang. Kaum muda – kaum pelajar dan terutama kaum buruh muda – akan menentukan seluruh perjuangan ini. ... Kita harus, dengan segera, menyatukan semua orang yang memiliki inisiatif revolusioner dan memberi mereka tugas-tugas. Jangan takut bila mereka tidak terlatih, jangan gentar bila mereka tidak berpengalaman dan belum matang ... [karena] peristiwa-peristiwa akan mengajarkan mereka semangat kita.” (Lenin, Surat Kepada A. A. Bogdanov dan S. I. Gusev, 11 Februari, 1905)

Jadi Lenin tidak sembarangan membuat pintu partai kepada siapapun. Pintu partai dibuka terutama unuk kaum muda – pelajar dan buruh – yang terradikalisasi oleh Revolusi 1905. Selain itu pada periode sebelumnya Lenin telah menguatkan kepemimpinan partai dengan kaum revolusioner profesional yang tertempa secara politik dan organisasional, sehingga ketika partai ini membuka diri dan menerima anggota-anggota baru partai ini tidak lantas terkooptasi oleh gagasan-gagasan asing yang masuk bersamanya.

Tidak puas memaksakan prasangka-prasangkanya ke dalam risalah Lenin Apa yang harus dilakukan?, Ragil pun melanjutkan celotehnya ke satu lagi karya Lenin yang paling penting: Komunisme Sayap Kiri: Penyakit Kekanak-kanakan.

”Risah ini ditulis untuk mengatasi jalan buntu ketika situasi tak revolusioner. Saat gelombang revolusi menerjang, dengan mudah orang akan mengangkat tangan kiri. Bila situasi sebaliknya, satu persatu akan meninggalkan perjamuan. Tapi bukan berarti tak terpecahkan. Dalam situasi yang biasa-biasa saja, Lenin menekankan pentingnya partai komunis mengambil strategi bekerjasama dengan kekuatan lain. Dan, bila memungkinkan ikut ambil bagian dalam pemerintahan yang berbasis luas. Artinya, tinggalkan molotov dan batu, untuk kemudian ambil bagian dalam kekuasaan. ... Dengan melibatkan diri dalam kekuasaan, mereka berlatih untuk memerintah dan bertarung secara terbuka dalam arena yang disediakan borjuasi. Sehingga, ketika kelak menjadi partai penguasa, mereka telah terbiasa.”

Apa benar demikian? Di dalam risalah ini Lenin tidak mengajarkan agar Partai Komunis bekerjasama dengan kekuatan lain. Lenin mengatakan bahwa kaum Komunis harus bisa bekerja di mana saja untuk bisa meraih telinga massa, ini berarti bekerja di dalam serikat buruh reformis – atau bahkan reaksioner – dan menggunakan parlemen borjuis untuk tujuan revolusioner. Ada perbedaan yang besar dan prinsipil antara prasangka Ragil dan ajaran Lenin. Bagi Ragil, bekerja sama dengan kekuatan lain dan ambil bagian dalam kekuasaan adalah untuk berlatih memerintah supaya kelak nanti terbiasa. Bagi Lenin dan kaum Bolshevik, mereka menggunakan parlemen borjuis bukan untuk berlatih memerintah tetapi untuk meraih telinga massa, menggunakan platform yang disediakan oleh parlemen borjuis untuk beragitasi dan berpropaganda, untuk mengekspos kebangkrutan parlemen borjuis kepada massa yang masih berilusi padanya. Kaum proletar dan pelopornya tidak perlu berlatih memerintah lewat negara borjuis karena tugas historis kelas proletar adalah membubarkan negara borjuis dan membentuk sebuah pemerintahan buruh yang baru dan sungguh berbeda. Kaum proletar tidak perlu terbiasa memerintah lewat parlemen borjuis, karena ia akan memerintah sebuah negara buruh yang akan melayu, sebuah negara yang tugas utamanya adalah justru menghancurkan dirinya sendiri.

Konsepsi Ragil mengenai bekerja dengan kekuatan lain adalah konsepsi oportunis untuk hasil-hasil konkrit pragmatis, sementara konsepsi Lenin dalam bekerja di dalam organisasi-organisasi reformis adalah untuk mengekspos kebangkrutan reformisme (dan para pemimpin reformis) kepada kaum buruh yang masih punya ilusi reformisme. Kepada kaum Komunis Jerman, Lenin menulis ini:

“Kita sedang berjuang melawan pemimpin-pemimpin oportunis dan sosial-sovinis guna memenangkan kelas buruh ke sisi kita. Akan sangat menggelikan sekali kalau kita melupakan fakta yang paling dasar dan terbukti-benar-sendiri ini. Namun justru kaum “Komunis Kiri” Jerman melakukan hal yang menggelikan ini ketika, karena karakter reaksioner dan konter-revolusioner dari kepemimpinan atas serikat-serikat buruh, mereka mengambil kesimpulan bahwa -- kita harus keluar dari serikat-serikat buruh tersebut, kita menolak bekerja di dalamnya, dan lantas membentuk organisasi buruh yang baru dan artifisial! Ini adalah sebuah kekeliruan yang tak termaafkan, yang merupakan bantuan terbesar yang dapat diberikan oleh kaum Komunis kepada kaum borjuis.” (Lenin, Komunisme Sayap-Kiri: Suatu Penyakit Kekanak-kanakan, 1920)

Perjuangan ideologi gerakan kita masih harus dikobarkan dengan gigih. Di satu pihak ini karena tradisi super-aktivisme yang kental di dalam gerakan kita, yang mengesampingkan teori demi aktivitas praktis yang sempit. Di lain pihak di sekeliling kita ada banyak pencolek Marxisme yang sekali dua-kali turung gunung untuk memberikan petuah-petuah dangkal dan setengah matang mereka. Yang belakangan ini justru lebih berbahaya karena mereka menebarkan kebingungan di antara massa pekerja.

Hanya ada satu jalan bagi gerakan Kiri, kembali ke Lenin. Dan jalan ini tidak akan melalui PKS ataupun jalan manapun yang ditunjukkan oleh Ragil.