facebooklogocolour

Setelah serangkaian artikel polemik yang sudah terbit di Militan Indonesia dan Indoprogress, artikel terbaru dan yang menandai babak selanjutnya telah terbit, “Benarkah Polemik Masih Berada di PKS, PRD dan Lenin?” yang ditulis oleh Rolip Saptamaji yang secara spesifik ditujukan untuk menanggapi tulisan kawan Ted Sprague, “PKS Masih Bukan Lenin”. Meskipun artikel tersebut tidak ditujukan kepada saya, namun artikel tersebut menuntut perhatian dan jawaban.

Tentu tujuan dari tulisan ini bukan untuk mencetak skor poin dan debat murahan. Bagi kami, Militan, jauh dari semua itu polemik adalah untuk meningkatkan level politik kita semua: pihak-pihak yang terlibat polemik dan para pembaca. Untuk mendekati permasalahan yang diangkat, kita harus menghindari distorsi dan serangan pribadi dan kembali mendudukkan permasalahan pada politik, politik dan politik. Tanpa sebuah pendekatan politik, polemik hanya akan menjadi sebuah cercaan dan hinaan yang menjauhkan dari permasalahan yang ada.

Artikel yang telah ditulis oleh Rolip sama sekali tidak menyentuh permasalahan politik, tetapi hanya memperkenalkan unsur-unsur baru dari kebingungan. Yah, setidaknya Rolip sudah melaksanakan tugas utamanya sebagai Intelektual Akademik yang selalu mengumpat tanpa memberikan pencerahan dan hanya menebar kebingungan di antara jajaran rakyat pekerja. Dua unsur-unsur baru penuh kebingungan ini adalah: 1) Mengenai “promosi” gagasan dan organisasi; 2) Mengenai Entrisme. Kita akan bahas keduanya di bawah ini.

Organisasi dan Tendensinya

Disematkan di tulisannya adalah sebuah serangan bahwa tulisan Ted ingin membelokkan diskursus politik ini demi kepentingan sempitnya untuk mempromosikan organisasinya. Rolip menulis:

“Tidak perlu heran, tujuan Ted untuk melakukan propaganda sudah selesai. Sekarang ia tinggal bertepuk dada, merasa menang karena keberhasilannya membelokkan isu diskurus politik menjadi promosi organisasinya yang mulai menapaki bumi Indonesia.

Dan lalu:

Polemik yang digiring Ted pada kampanye organisasinya ini menegasikan perdebatan yang ingin dimulai, yaitu permasalahan konteks perkembangan gerakan kiri di Indonesia dan pilihan strategi politiknya.”

Dan tidak kurang:

“Modusnya adalah dengan menampilkan dua opsi buruk, bahwa PRD dan di luar PRD sudah terdemoralisasi sembari menyembunyikan opsi lain yang akan dikeluarkan setelah ada yang bertanya: ‘lantas siapa yang tidak terdemoralisasi?’ Tentu ia akan menunjuk pada dirinya sendiri [baca Militan]”.

Tidak ada organisasi yang tidak terlepas dari tendensi politik, yakni tendensi untuk memperkenalkan atau mempromosikan gagasan, ide dan program ke massa rakyat.  Tanpa memperkenalkannya, rakyat tidak akan tahu apa yang dicita-citakan oleh organisasi tersebut. Apa yang diperjuangkan oleh Marx dan Engels dalam Internasional Pertama adalah untuk mempromosikan ide dan gagasan sosialisme ilmiah di antara kaum buruh karena sosialisme ilmiah adalah gagasan miliknya kaum buruh. Begitu juga apa yang dilakukan Lenin dan Trotsky. Dengan sebuah organisasi yang disiplin, rapat, dan tersentralisir, tidak henti-hentinya melalui koran, pamflet, dan pidato-pidato, kaum revolusioner mempromosikan ide, gagasan dan program sosialisme, yakni perebutan kekuasaan oleh kaum buruh.

Polemik dan perpecahan yang berulang kali kita saksikan dalam sejarah adalah pertarungan antara tendensi-tendensi yang berbeda. Perpecahan antara Marx dan Bakunin, pertarungan faksi Menshevik dan Bolshevik di dalam Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia, bahkan juga di dalam Bolshevik sendiri, semua ini mencerminkan pembangunan gagasan. Tanpa sebuah tendensi dan faksi, kita tidak akan memperoleh garis pemisah di antara banyak gagasan yang berseteru.

Bahkan ada sejumlah orang yang mengatakan: “Kalau tujuannya sama yakni sosialisme, kenapa harus ribut-ribut, mendingan menatap masa depan dan mengedepankan persatuan.”

“Persatuan, persatuan, dan persatuan”.

Inilah yang harus kita perjelas dari awal, bahwa pembangunan sosialisme bukanlah hal yang datar. Tugas-tugas politik dari pembangunan sosialisme akan selalu menyebabkan perbedaan pendapat. Kita akan menemui tidak hanya satu dua perbedaaan pendapat, melainkan kita akan menemui ribuan perbedaan pendapat yang akan mengambil bentuk konkritnya di masa depan.

Satu cara untuk menyelesaikan permasalahan ini, bagi partai kita, Militan, adalah klarifikasi permasalahan politik dari semua perbedaan politik. Klarifikasi ini tentunya menuntut pemahaman dan menganalisanya dengan pisau Marxis, karena ini adalah satu-satunya cara yang efektif dalam menyelesaikan pendapat. Bukan, “satire-satire tak berguna” seperti yang dikatakan kawan Ted tapi sebuah penyelesaian perbedaan politik dengan metode Marxis.

Saya menulis artikel ini, berdiri dan tidak malu-malu mengatakan, tidak hanya kepada Rolip, tetapi pada semua gerakan kiri, bahwa kita sedang mempromosikan ide, gagasan, program, dan organisasi kita kepada massa rakyat pekerja. Rakyat pekerja bisa melihat gagasan, ide dan program kami di website maupun koran kita. Rakyat pekerja bisa membaca, menarik kesimpulan dan kalau perlu mengkritik kita.  Kita dengan senang hati menanggapi pertanyaan tersebut. Kita tidak melakukan diskursus semata-mata hanya untuk diskursus, layaknya kaum intelektual yang katanya tidak bertendensius dan tidak berorganisasi. Ketika kami mengatakan bahwa seorang atau sebuah organisasi memiliki perspektif yang tidak tepat, kami lantas tidak duduk-duduk saja puas menepuk dada. Kami tawarkan sebuah perspektif alternatif, lengkap dengan organisasinya dimana orang-orang bisa bergabung kalau mereka setuju.

Sungguh sebuah kekanak-kanakan politik kalau mengharapkan sebuah polemik bebas dari promosi gagasan dan lalu tentunya promosi organisasi sebagai medium konkrit untuk merealisasikan gagasan tersebut. Tetapi memang begitulah kebanyakan kaum intelektual. Mereka tidak butuh organisasi untuk merealisasikan perspektif mereka karena diskursus mereka itu memang sebatas diskursus saja.

Kalau kita mengatakan kepada seorang buruh: “Organisasi A itu keliru perspektifnya.” Sang buruh akan balik bertanya: “Saya setuju dengan kamu kalau Organisasi A keliru, lalu apakah kau ada Partai lain dimana saya bisa bergabung dan menemukan perspektif yang tepat?” Seorang revolusioner yang melakukan politik riil akan mengatakan: “Yah, Organisasi saya, Organisasi B, punya perspektif yang tepat. Bergabunglah dengan kami untuk membangun Organisasi ini dan menumbangkan kapitalisme.” Sementara, kaum intelektual akademis akan menjawab: “Saya hanya ingin mengatakan kalau Organisasi A itu keliru dan bahwa inilah pendapat saya. Saya tidak punya organisasi alternatif untuk Anda.” Sang buruh pun akan geram pada kaum intelektual tersebut. Ini karena buruh itu praktis dalam kesehari-harian mereka dan dalam berpolitik. Kita tidak bisa mengatakan kepada mereka: “Eh, perkakas kamu tidak bagus tuch, jangan dipakai untuk kerja,” tanpa menawarkan perkakas yang lain kepada mereka. Buruh tidak bisa lantas berhenti kerja karena seorang yang pintar mengatakan bahwa perkakas mereka itu tidak sempurna dan tidak memberikan kepada mereka perkakas yang baru dan lebih baik.

Apa yang dikatakan Rolip bukan sesuatu yang baru bagi kita. Sesuatu yang sudah dikatakan berulang kali oleh seseorang yang tidak sanggup menyelesaikan permasalahan politik dengan pendekatan politik, yang berakhir dengan distrorsi dan serangan pribadi yang remeh temeh. Apa bedanya kata-kata Rolip di atas (“Ted ingin promosi”) dengan ujaran Ragil kalau “Ted hanya ingin numpang tenar”? Ini adalah cara berpolemik yang keliru. Saya akan senang sekali kalau tradisi polemik yang buruk ini hanya terbatas pada Rolip dan Ragil, sehingga pernyataan Rolip bahwa Kiri di Indonesia sudah punya tradisi polemik yang kuat adalah benar adanya.

Pertanyaan politik seharusnya menuntut kejujuran dari kita untuk mengakui bahwa gerakan Kiri sedang di bawah ofensif ideologis dari kaum borjuis dalam berbagai bentuk. Bukan hanya pemikiran saja, tetapi juga tradisi Marxisme – termasuk tradisi polemik dan teori - masih jauh dari apa yang pernah dicapai di Indonesia pada periode sebelumnya. Pertanyaannya kemudian adalah: apakah cukup membangun sosialisme dengan berdiri di luar, mengumpat, berteriak, dan memberi wejangan-wejangan kepada gerakan kiri sebagai intelektual tak-bertendensius yang gusar ketika orang lain mengedepankan (mempromosikan) gagasan serta organisasi yang bermaksud merealisasikan gagasan tersebut? Sayangnya, tidak ada referensi manapun yang menyebutkan bahwa perebutan kekuasaan akan diperoleh tanpa organisasi atau partai,Tanpa sebuah organisasi yang  rapat, disiplin dan tersentralisir serta mempunyai gagasan, ide dan program, klas pekerja tidak akan meraih kemenangan. Manifestasi kongkret dari organisasi ini adalah Bolshevik, yang berhasil mendirikan negara buruh pertama di Rusia. Inilah yang perlu dibangun hari ini di Indonesia.

Mereka yang bebal akan mengeluh, “Rusia lagi, Rusia lagi, Rusia lagi.”Dan kami balas: “Karena di Rusia lah, klas pekerja mampu merebut kekuasaan dan memulai transformasi sosialis”. Saran kami terhadap mereka adalah “belajarlah”, seperti apa yang dikatakan Marx: “Ketidaktahuan tidak pernah menolong siapapun”.

Sekali lagi mengenai Entrisme

Seorang Marxis revolusioner sejati, bukan mereka yang berteriak paling keras tentang "kediktatoran proletariat", tetapi mereka yang tak henti-hentinya bekerja untuk mencapai massa, untuk menembus bahkan serikat buruh reformis, kuning, ataupun reaksioner, dan untuk membangun basis yang kuat dalam organisasi massa.

Seluruh sejarah gerakan buruh di dunia telah melengkapi kita dengan kekayaan materi untuk menunjukkan cara bagaimana massa bergerak dan berkembang. Satu kesimpulan dasar yang diambil adalah bahwa ketika massa buruh memasuki arena perjuangan untuk mengubah masyarakat, mereka pasti menggunakan organisasi massa tradisional (organisasi yang secara historis digunakan untuk memperjuangkan kepentingan klasnya). Satu hal yang mudah dipahami dan dimengerti adalah bahwa secara umum massa pekerja tidak belajar dari buku, tetapi melalui pengalaman dan terutama pengalaman dari peristiwa besar.

Entrisme dilakukan oleh Oposisi Kiri Internasional ketika mereka memasuki organisasi-organisasi sosial demokrasi (serikat buruh reformis, kuning, dan partai-partai reformis) guna memenangkan buruh-buruh sosial demokrasi. Saat itu, ini mereka lakukan ketika kerja mereka di Komintern – yang juga organisasi massa – sudah tidak memungkinkan lagi. Namun, gagasan Entrisme sendiri bukan hal yang baru bagi kita, karena pada prinsipnya Entrisme adalah bekerja di organisasi massa dimana massa pekerja itu berada. Gagasan Entrisme sudah jauh dilakukan oleh Marx di Internasional Pertama dan sudah terpahat jelas di dalam Manifesto Komunis:

“Bagaimanakah hubungan antara kaum Komunis dengan kaum proletar umumnya? Kaum Komunis tidak membentuk sebuah partai tersendiri yang bertentangan dengan partai-partai kelas buruh lainnya. Mereka tidak mempunyai kepentingan-kepentingan tersendiri dan terpisah dari kepentingan-kepentingan proletariat sebagai keseluruhan. Mereka tidak mengadakan prinsip-prinsip sendiri yang sektarian, yang hendak dijadikan pola bagi gerakan proletar.”

Ini berbeda sekali dengan generalisasi yang diungkapkan oleh Rolip, generalisasi yang sepenuhnya bukan dari perspektif kita, Ia telah mendistorsi apa yang dimaksud dengan Entrisme. Dia mengatakan bahwa: “Dalam tradisi gerakan Trotskist, entrism dilakukan bukan hanya untuk perluasan namun juga untuk mengarahkan organisasi yang sedang disusupi untuk menjalankan garis Leninis, dengan asumsi bahwa organisasi tersebut tidak Leninis atau belum Leninis. Ingat karena hanya organisasinyalah yang memahami Lenin.”. Kita bisa melihat generalisasi ini sangatlah vulgar, dangkal dan tidak memuat perspektif apapun.  Dia tidak melihat berangkat dari perspektif apa entrisme dilakukan. Kami sarankan kepada Rolip untuk membaca dokumen kami yang sudah tersedia di website kami: “Bekerja di Organisasi Massa”.

Tidak seperti pernyataan kelirunya Rolip, kaum revolusioner bekerja di organisasi massa bukan untuk membuat Leninis organisasi yang belum Leninis, tapi untuk berhubungan dengan massa pekerja. Juga tidak seperti yang dituduhkan oleh Rolip, kaum revolusioner tidak menyusup, yang konotasinya adalah masuk dengan diam-diam dan terselubung. Kami masuk aktif di dalam organisasi massa karena disanalah massa pekerja berada, dan kami menyatakan dengan terbuka siapa kami, apa gagasan kami, dan apa organisasi kami ini. Pilihan kata “disusupi” yang digunakan Rolip menunjukkan kalau dia tidak paham mengenai konsep Entrisme, atau mungkin bahkan lebih parah dia hendak menghitamkan dan memelintir metode ini, yang dikaitkan dengan Militan dan IMT. “Anak-anak Militan dan IMT, para penyusup!” Begitu mungkin pesan yang ingin disampaikan olehnya. Biasanya tuduhan “menyusupi” ini kami dengar dari elemen-elemen birokratis dan reformis di dalam organisasi massa yang sangat khawatir akan kehadiran kaum Marxis di antara anggota buruh mereka. Bagi mereka, organisasi massa adalah mainan pribadi mereka, lahan pribadi untuk kepentingan sempit mereka, sehingga kalau ada anasir-anasir radikal yang masuk ke dalamnya mereka pun terusik. Tuduhan “penyusup” pun dilontarkan untuk memfitnah kaum Marxis agar para anggota buruh menjauhi mereka.

Perspektif kita dalam bekerja di organisasi massa atau yang disebut Entrisme adalah berangkat dari pengalaman lebih dari seabad  perjuangan kaum buruh. Inilah yang membedakan kita dengan organisasi lain. Berangkat dari perspektif materialisme dialektis, apa yang kita lakukan adalah melengkapi gagasan Entrisme yang dimulai dari Marx. Sebuah gagasan yang terbukti relevansinya sampai sekarang. Pengalaman Marx dan Engels yang kemudian diteruskan oleh perjuangan Internasional Ketiga memberi kita sebuah harta karun ide yang luar biasa. Bolshevik telah menyimpulkan seluruh pengalaman memenangkan massa yang sudah termaktub di dalam tesis-tesis dari empat Kongres Pertama Internasional Ketiga mengenai hal ini:

“Kaum komunis tidak memisahkan diri dari massa yang sedang ditipu dan dikhianati oleh kaum reformis dan para patriot, tapi terlibat, yang terakhir dalam sebuah perjuangan tak terdamaikan dalam organisasi massa dan lembaga yang didirikan oleh masyarakat borjuis, untuk menggulingkan mereka lebih pasti dan lebih cepat.” (Tesis, Resolusi dan Manifesto dari Empat Kongres Pertama Internasional Ketiga, hal 168-9.)

Dari sini kita menemukan esensi dari Bolshevisme. Sebuah ide akan kebutuhan mutlak untuk kepeloporan proletariat serta membangun hubungan dekat dengan massa pekerja. Ini menekankan kebutuhan akan memenangkan massa pekerja yang tetap berada di bawah pengaruh para pemimpin serikat buruh reformis, dan untuk melakukan kerja yang sistematis di dalam organisasi massa reformis.

Benar, bahwa di bawah tekanan kapitalisme, organisasi massa ini berisikan sampah-sampah birokrasi. Di lapisan atas, banyak unsur dari elemen aksidental dan asing, yang berusaha untuk mengikat kaki dan tangan mereka ke borjuis dan negara. Tapi, kaum Marxis harus mampu melihat kontradiksi di dalam organisasi-organisasi massa tersebut, harus mampu melihat bagaimana mereka mencerminkan tekanan dari masyarakat dan perjuangan kelas. Sebuah nukleus revolusioner dengan metode yang tepat akan menjadi sebuah tendensi yang berkembang pesat ketika gelombang revolusioner menyapu. Tetapi, untuk mencapai semua itu sebuah tendensi Marxis harus dibangun mulai dari sekarang. Itulah sebabnya sekarang kita bekerja di organisasi massa untuk memenangkan lapisan terbaik dari massa, sementara pada saat yang sama menjaga perspektif untuk perkembangan masa depan dari organisasi massa. Yang terpenting, kita harus mampu untuk membangun hubungan kerja dengan mereka, menembus mereka dan bekerja di dalamnya untuk memenangkan para pekerja.

Seni dalam memenangkan massa telah ditunjukkan dalam sejarah Bolshevisme, dari sebuah partai kecil yang hanya faksi kecil di dalam soviet-soviet dengan sekejap menjadi partai massa revolusioner. Bolshevik menjadi partai massa revolusioner bukan dari hasil kerja kemanusiaan seperti yang dianjurkan oleh Ragil, tetapi dari kerja mendidik kader selama bertahun-tahun  dengan polemik yang sehat dan tajam, Mereka meletakkan batu pondasi yang kuat – yakni kader-kader yang tertempa secara ideologi dan politik. Bolshevik tidak akan begitu saja meraih kekuasaan tanpa orientasi yang tepat terhadap organisasi massa. Dengan kesabaran menjelaskan kepada massa rakyat bahwa problem dari masyarakat tidak bisa selesai tanpa pengambilalihan kekuasaan oleh kaum buruh, mereka meraih telinga massa dan menjadi kekuatan sejarah. Partai kecil dengan orientasi yang benar akan diuntungkan oleh peristiwa, sedangkan partai yang besar dengan aparatus yang kuat tanpa sebuah orientasi yang tepat akan berakhir pada kekalahan dan demoralisasi.

Kapitalisme Hari Ini

Sekarang kapitalisme sedang memasuki periode penuh gejolak. Yang dahulu dimulai di Asia Tenggara, Amerika Latin, lalu Dunia Arab, sekarang sudah merembet ke Eropa. Krisis kapitalisme telah membangkitkan jutaan rakyat pekerja. Rakyat pekerja yang semula apatis terhadap organisasi massa mereka sendiri sekarang sedang mengangkat organisasi massa mereka serta menguji kepemimpinannya.

Sejarah telah menunjukkan bahwa kapitalisme akan selalu bangkit bahkan dari liang kuburnya yang paling dalam. Tanpa aksi sadar dari kelas proletariat secara Internasional dan pembangunan kepemimpinan proletariat, niscaya kapitalisme akan terus pulih. Krisis di Indonesia tahun 1998 telah menunjukkan ini dengan sangat baik. Absennya kepemimpinan proletariat membawa masyarakat masuk lebih dalam ke dalam kehidupan barbarisme. Siapapun bisa melihat kenyataan ini. Keruntuhan masyarakat kapitalisme tidak akan datang secara otomatis.

Kondisi yang terjadi saat ini membuktikan pernyataan Trotsky:

“Situasi politik dunia dalam keseluruhannya digambarkan oleh sebuah krisis kepemimpinan proletariat di dalam sejarah.” (Program Transisional Untuk Revolusi Sosialis).

Pernyataan ini lebih relevan hari ini daripada sebelumnya, bahwa kehadiran sebuah kepemimpinan proletariat – yakni partai revolusioner – tidak kalah menentukan bagi hasil perjuangan kelas. Dalam situasi revolusioner, massa belajar dengan cepat. Tapi, situasi revolusioner ini tidak dapat bertahan lama. Massa tidak dapat menyimpan tenaga revolusionernya secara permanen. Mereka dapat keluar dari situasi ini dengan dua pilihan, kalah dengan berjalannya waktu atau merebut kekuasaan. Tidak cukup bagi  massa untuk bereksperimen, menguji semua strategi dan taktik. Dalam keadaan hidup dan mati, kesalahan akan dibayar dengan mahal. Oleh karena itu, perlu untuk menggabungkan gerakan massa dengan sebuah organisasi yang memiliki ide, gagasan, program, strategi taktik, serta perspektif – singkat kata, dengan sebuah partai revolusioner yang dipimpin oleh kader-kader berpengalaman.

Berangkat dari gagasan tersebut, kita tidak serta-merta sedang membangun sebuah gerakan kiri, tidak pula sedang membangun sebuah gerakan anti-kapitalis. Tetapi, kita sedang membangun sebuah partai revolusioner untuk penaklukan kekuasaan oleh kaum buruh. Kami memiliki konsepsi yang sama sekali berbeda dengan kebanyakan organisasi lainnya tentang bagaimana pembangunan sebuah partai dan Internasional. Kami berdiri untuk membela prinsip-prinsip dasar Marxisme revolusioner dan penciptaan organisasi kader. Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky adalah rujukan dasar dan utama teori kami, bukan para Marxis kontemporer dan intelektual-intelektual Marxis lainnya. Secara konsisten kita membela ide-ide revolusioner Marxisme, setiap saat dan secara utuh. Kami tidak ragu dan siap berpolemik untuk menjaga dan mempertahankan Marxisme dari ide-ide asing yang mencoba mendistorsinya, dari kaum intelektual akademik, para “Marxian”, para pencolek Marxis, reformis Kiri dan Kanan, kaum Stalinis. Ini karena kami berdiri untuk tugas-tugas revolusi Indonesia dan dunia. Kami berdiri untuk revolusi sosialis dan kekuasaan kaum buruh.

Oleh karena itu, kami menyerukan kepada segenap rakyat pekerja untuk melihat dengan seksama ide, gagasan dan program kami, dan untuk melihat sendiri kebenaran pernyataan ini. Jangan mendengarkan para pemfitnah. Temukanlah kebenaran bagi Anda sendiri. Semua ide, gagasan dan program sudah tersedia di halaman-halaman website kami militanindonesia.org. Dan juga karena banyak sekali sentimen anti-Trotsky, kami mengundang semua yang tertarik dengan sejarah Trotskyisme untuk mempelajarinya secara seksama. Seperti apa yang dikatakan Marx: “Ketidaktahuan tidak pernah menolong siapapun”.