tedgrant militant 1983Gerakan Buruh Indonesia yang pada May Day 2015 mendeklarasikan niat mereka untuk mendirikan Partai Buruh telah mengedepankan pertanyaan yang penting bagi setiap kaum revolusioner: bagaimana sikap kaum revolusioner terhadap organisasi massa reformis? Risalah pendek ini akan mencoba mengupas pertanyaan ini sampai ke akar-akarnya, terlebih karena episode GBI ini bukanlah sesuatu yang terpisah dan berdiri sendiri. Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini terkait erat dengan keseluruhan tugas kaum revolusioner – terutama bagi mereka-mereka yang memiliki organisasi atau partai kader mereka sendiri. Oleh karenanya, risalah ini mungkin akan bersifat polemikal, dan ini tidak bisa tidak. [Foto: Kamerad Ted Grant dari Militant, sebuah organisasi revolusioner di Inggris yang melakukan kerja di dalam Partai Buruh, berpidato di depan Kongres Partai Buruh pada 1983 untuk memprotes pemecatannya.]

Dari Partai Kader menjadi Partai Massa

Kita harus terlebih dahulu mulai dari sebuah hukum yang sudah terbukti di dalam sejarah gerakan buruh: bahwa kemenangan final kaum proletariat dalam merebut kekuasaan dari kapital tidak akan dapat terwujud tanpa sebuah partai. Berbagai organisasi perjuangan massa pekerja (seperti serikat buruh terutama, tetapi tidak terbatas padanya saja) dapat menjadi tuas pengungkit yang kuat di dalam kemenangan revolusi proletariat, tetapi mereka hanya bisa memenuhi peran ini bila dipandu oleh sebuah partai revolusioner, dimana melaluinya pengaruh kaum revolusioner menjadi faktor yang menentukan di dalam organisasi-organisasi perjuangan massa pekerja. Pendeknya, partai revolusioner ini berisikan bunga-bunga terbaik dari gerakan proletariat, yang dalam keseluruhannya – ideologi dan organisasional – telah diseleksi, ditempa, dan dilatih hanya untuk satu tujuan: memenangkan revolusi ketika momen revolusi telah tiba.

Proposisi dasar ini harus menjadi fondasi dari keseluruhan diskusi yang menyusul, yang tanpanya maka akan sia-sia saja semuanya. Untuk yang belum yakin akan proposisi di atas, Anda tidak akan menemukan penjelasan atau argumentasi mengenai ini di dalam risalah ini, dan penulis hanya bisa memberikan referensi berikut: Pengantar Untuk Edisi Pertama Bolshevisme: Jalan Menuju Revolusi (http://www.militanindonesia.org/teori/sejarah/8343-bolshevisme-jalan-menuju-revolusi-pengantar-penulis-untuk-edisi-pertama-1999.html).

Akan tetapi seorang yang hanya bisa mengulang-ulang sebuah proposisi dasar tidaklah terlalu pintar, layaknya orang yang hanya bisa mengutarakan abjad ABC tanpa bisa menuturkan kata-kata dan kalimat-kalimat yang lengkap. Ya, kita butuh partai revolusioner! Tetapi bagaimana kita mencapai ke sana? Tahapan-tahapan apa yang harus kita lalui? Dan di tiap-tiap tahapan pembangunan partai revolusioner ini apa-apa saja yang dibutuhkan? Bagaimana kita bergerak dari segelintir kaum revolusioner yang terhimpun dalam sebuah partai (yakni Partai Kader) menjadi sebuah partai massa revolusioner?  

Dalam situasi politik hari ini, ketika kaum revolusioner dan ideologi mereka begitu lemah dan kecil, ketika Marxisme adalah sebuah tendensi minoritas di antara minoritas di dalam gerakan buruh, Partai Buruh Massa akan terbentuk dengan atau tanpa intervensi kaum revolusioner – dalam kemungkinan yang terbesar bahkan tanpa intervensi signifikan dari kaum revolusioner. Buruh tidak akan menunggu kaum revolusioner untuk menyediakan partai politik bagi mereka, terlebih karena keterisolasian kekuatan Marxis. Kita terlalu kecil untuk bisa mempengaruhi peristiwa. Tetapi kita tidak terlalu kecil untuk bisa mengambil peluang yang terbuka dari Partai Buruh Massa yang ada atau yang akan terbentuk, guna memperbesar dan memperkuat barisan revolusioner kita. Masalah bagaimana kita melakukan intervensi di dalamnya akan tergantung dari situasi konkret yang ada.

Kita bisa mengatakan dengan cukup yakin kalau Partai Buruh Massa yang akan terbentuk akan merangkul semua tendensi pemikiran yang ada di dalam gerakan buruh: dari yang terbaik sampai yang terburuk, bahkan reaksioner sekalipun. Partai Buruh Massa akan lahir dengan segala kekurangan dan segala cacat yang bisa seorang bayangkan.

Sebuah Partai Revolusioner atau Partai Marxis tidak akan bisa menjadi Partai Massa (pada masa-masa normal atau damai) justru karena gagasannya yang terlalu jernih dan lengkap. Ini karena massa yang baru saja memasuki gelanggang politik tidak bisa secara langsung mencapai kesimpulan-kesimpulan revolusioner. Massa akan dipenuhi dengan segala macam kebingungan, dan dengan demikian awalnya akan berhimpun di seputar sebuah organisasi atau individu yang merefleksikan kebingungan dan keambiguan politik mereka.

Akan tetapi keambiguan ini – yang awalnya adalah keunggulan, karena bisa menghimpun massa luas yang cair dan baru bergerak – dengan cepat akan menjadi sebuah kelemahan yang fatal ketika harus diuji secara konkret di dalam pertarungan melawan kelas penguasa. Sejumlah lapisan massa yang lebih maju, lewat pengalaman mereka, akan mulai mencari-cari gagasan yang lebih jernih dan jelas, dan bila mereka tidak menemukannya pada waktu yang tepat maka hanya kekalahan pahit yang akan ditemuinya.

Di sinilah peran Partai Revolusioner (kader) dalam gerak perkembangan kesadaran massa. Ia harus bisa mengintervensinya dengan cerdik dan tangkas, secara fleksibel dan tegas pada saat yang sama, dan bukannya sekedar mencibir kebingungan dan keambiguan ini, bukannya sekedar mengecam segala kekurangan yang ada. Tujuannya adalah untuk tumbuh dari proses intervensi ini, secara kuantitas dan kualitas.

Oleh karenanya harapan kaum revolusioner untuk segera membentuk partai massa dengan menumpulkan program dan gagasan, dengan menyatukan semua Kiri di atas basis program yang serendah-rendahnya yang bisa disetujui oleh semua pihak, walau mungkin awalnya akan memberikan hasil tetapi pada akhirnya akan menemui kegagalan ketika momen penentuan tiba. Kita ambil contoh PRD yang telah mencampakkan konsep partai kader revolusioner dan ingin menjadi partai massa dan bertarung di pemilu 2019. Untuk bisa melakukan ini PRD harus dan telah menumpulkan gagasan-gagasannya agar lebih bisa diterima massa luas. Di tengah absennya sebuah partai massa dan krisis politik yang melanda semua parpol borjuasi, serta keimpotenan para pemimpin buruh di Indonesia dalam membentuk partai buruh, bukan sebuah kemustahilan kalau PRD (atau mungkin formasi Kiri lainnya) bisa mengisi kekosongan ini dan menjadi partai massa di Indonesia, seperti halnya SYRIZA (akibat pengkhianatan partai reformis PASOK serta para pemimpin buruh reformis) dan PODEMOS (akibat pengkhianat partai reformis PSOE). Tetapi dengan gagasan yang dipenuhi kebingungan seperti ini, partai-partai ini akan hancur berkeping-keping ketika dibenturkan dengan kapitalisme.

Partai Kader Revolusioner harus mengintervensi proses ini, mengambil peluang darinya untuk bisa tumbuh, untuk mempersiapkan dirinya agar bisa melompat dari Partai Kader Revolusioner Kader menjadi Partai Massa Revolusioner, dan dalam kesempatan itu menumbangkan kapitalisme.

Kita bisa menarik sebuah hukum umum mengenai proses bagaimana partai kader dapat menjadi partai massa: seperti halnya mayoritas rakyat pekerja hanya akan bergerak ke kesimpulan-kesimpulan revolusioner pada periode revolusioner, maka sebuah partai kader revolusioner hanya akan bisa menjelma menjadi sebuah partai massa revolusioner pada periode revolusioner. Pada periode normal partai revolusioner umumnya hanya akan menjadi partai kader, untuk alasan yang teramat jelas karena pada periode normal hanya akan ada selapisan kecil kaum muda dan buruh yang mampu menyerap keseluruhan gagasan revolusioner. Seluruh seni politik revolusioner adalah bagaimana mempersiapkan dan membangun fondasi partai kader ini agar bisa melompat menjadi partai massa revolusioner pada periode revolusioner yang akan datang dan menggunakan kesempatan yang hanya datang sekali seumur hidup ini untuk menumbangkan kapitalisme.

Sektarianisme

Sebagai kaum revolusioner kita selalu berpropaganda bahwa untuk bisa menumbangkan kapitalisme kelas buruh membutuhkan sebuah partai yang memiliki program Sosialis. Tetapi apa lantas kalau lahir sebuah Partai Buruh Massa yang tidak berideologi Sosialisme (dan demi Tuhan mungkin berideologi NKRI dan Pancasila!) maka kita akan menolaknya? “Partai ini tidak sesuai dengan propaganda kita, tidak sesuai dengan skema pikiran kita, dengan demikian ia bukanlah Partai yang bisa membebaskan buruh! Kita harus menolaknya!” Demikian pikir seorang yang tidak memahami gerak kesadaran buruh yang dialektis. Sungguh ini adalah sektarianisme yang paling buruk.

Mungkin seorang sektarian yang pintar akan berargumen: “Kami tidak mengharapkan sebuah Partai Buruh yang berideologi Sosialisme, tetapi setidaknya partai ini seyogianya berkarakter reformis atau sosial demokratik, dan tidak berisi pemimpin-pemimpin buruh yang ada kaitannya dengan sisa-sisa Orba secara langsung maupun tidak langsung (secara tidak langsung misalnya mendukung Prabowo sebagai calon presiden).” Kaum sektarian kita ini lalu membuat semacam checklist (daftar) syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh track record pemimpin buruh, sebuah daftar yang sesuai dengan skema pikiran mereka. Mereka tidak boleh ini dan tidak boleh itu, harus begini dan begitu. Bila pemimpin serikat buruh ini – dengan massa anggota yang besar – tidak memenuhi syarat-syarat yang diajukan, maka apapun yang mereka serukan harus ditolak dan diboikot, tidak peduli bila seruan mereka adalah hal yang tepat secara objektif untuk pergerakan.

Pada momen May Day kemarin, ketika para pemimpin serikat-serikat buruh massa mengeluarkan seruan pembentukan partai buruh, kawan-kawan sektarian kita, seperti misalnya kawan Danial, Surya Anta, kamerad-kamerad PPR mereka, serta beberapa organisasi Kiri yang berada di sekitar PPRI, justru secara efektif memboikotnya dengan berbagai alasan. Mari kita kutip beberapa pernyataan mereka yang bisa kita temui dari media:

“Dengan alasan, seperti disebutkan Suryanta Ginting dari Pusat Perjuangan Rakyat Indonesia, wacana pembentukan partai buruh kali ini menimbulkan beberapa pertanyaan mendasar [!] ... Ia menyebut, para tokoh di balik gagasan itu justru sangat sibuk dengan berbagai manuver politik saat Pemilu dan Pilpres lalu. Bahkan sejumlah tokoh buruh pendukung Jokowi masih terus kasak-kusuk cari jabatan pasca Pilpres. Suryanta mencium adanya manuver politik kekuasaan, yang bukan didasari pada perjuangan untuk kepentingan buruh.” (BBC Indonesia, 1 Mei 2015, Hari Buruh: Presiden Jokowi di Ngawi, buruh banjiri istana) [Penekanan dari saya]

“Ia dan organisasinya [PPRI] memilih untuk tidak terkait dengan ketiga konfederasi buruh besar yang hendak membentuk partai itu karena ia mencurigai motif para tokohnya, yang dalam pemilu legislatif dan pilpres kemarin bergabung dalam partai-partai lain dan bersaing secara sengit.” (BBC Indonesia, 1 Mei 2015, Hari Buruh 2015: Realistiskah dirikan partai buruh?) [Penekanan dari saya] [Keterangan tambahan: di sini BBC ketika berbicara mengenai "organisasinya" merujuk pada PPRI, tetapi perlu diklarifikasi kalau PPRI adalah sebuah front dimana PPR adalah bagian di dalamnya bersama organisasi-organisasi lainnya.]

Kita bisa sama-sama setuju kalau para pemimpin buruh ini telah melakukan berbagai kesalahan besar – dan bahkan fatal – di dalam strategi dan taktik mereka, kalau mereka mungkin punya “motif” yang mencurigakan, entah untuk mengejar karier mereka sendiri atau sebagai “manuver politik kekuasaan”; tetapi apakah ini adalah sesuatu yang mengejutkan datang dari kaum reformis? Mari kita tekankan di sini: implisit di dalam reformisme (dari reformisme kiri sampai reformisme kanan reaksioner) adalah pengkhianatan. Pemimpin buruh yang tidak punya perspektif sosialisme revolusioner akan selalu mengkhianati perjuangan buruh. Pengkhianatan ini akan dilakukan dengan 1001 cara, secara terbuka dan vulgar, atau secara tertutup dan halus, dan bahkan secara tidak sadar oleh para pemimpin buruh yang jujur dan amanah. Reformisme -- paham dan para pemimpinnya, yang merasuki begitu dalamnya di dalam gerakan buruh di seluruh dunia -- adalah halangan terbesar bagi pembebasan kaum buruh. Kapitalisme hanya bisa bertahan sampai hari ini hanya karena reformisme yang mendominasi di dalam gerakan buruh. Tetapi kita tidak bisa melawan reformisme hanya dengan mengutarakan setiap saat bahwa “reformisme adalah pengkhianatan”. Dibutuhkan pendekatan politik yang serius, terorganisir, dan cerdik di dalam organisasi-organisasi buruh reformis untuk bisa mengekspos reformisme.

Kita mungkin tahu dengan jelas watak sesungguhnya dari reformisme dan para pemimpin ini, tetapi tidak demikian dengan jutaan buruh yang masih berada di bawah pengaruh ini. Pendekatan kita oleh karenanya tidak boleh serampangan dan histeris, mengutuk dan menghujat setiap saat dan dimanapun. Di dalam karya “Bekerja di Organisasi Massa” yang kami tulis seawal 2012, dapat dibaca:

“Kita harus pergi ke massa bahkan bila ini berarti bekerja di organisasi-organisasi massa reformis, atau bahkan reaksioner! Kita mungkin saja melihat organisasi ini dan pemimpin-pemimpinnya sebagai reformis, tetapi tidak demikian dengan buruh. Kita mungkin saja belajar dari buku, tetapi massa buruh belajar dari pengalaman mereka, dan terutama peristiwa-peristiwa besar yang mengubah kesadaran mereka. ...

“Kita harus selalu mulai dengan hal-hal benar yang dikatakan oleh kaum reformis dan lalu mengemukakan posisi kita. Misal, kalau kaum reformis mengatakan bahwa buruh harus melawan, kita katakan: “Benar, kaum buruh harus melawan. Musuh kita adalah kapitalisme, dan metode perlawanan kita adalah aksi massa.” Bila seorang pemimpin reformis mengambil langkah ke kiri – tidak peduli ini adalah langkah yang jujur atau hanya manuver untuk mencari dukungan – kita harus mendukung langkah tersebut dan menjelaskan apa langkah selanjutnya yang perlu diambil untuk memenangkan perjuangan buruh. Tugas kita bukan untuk meyakinkan para pemimpin reformis ini, tetapi menggunakan ini untuk menjelaskan kepada kaum buruh kepemimpinan macam apa yang dibutuhkan oleh gerakan proletar. Jadi kita harus selalu mendorong lebih ke depan apa yang dikatakan oleh kaum reformis. Kita harus mengemukakan tuntutan-tuntutan positif terhadap kaum reformis, terus mendorong mereka untuk melakukan apa yang sewajarnya perlu dilakukan oleh pemimpin buruh yang sejati untuk benar-benar membela kepentingan buruh. Dengan mengemukakan tuntutan positif ini, kaum buruh akan melihat bahwa kita sungguh-sungguh punya gagasan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan mereka, bahwa kita bukan kaum sektarian yang kerjanya hanya mengutuk saja. Kritik kita terhadap kaum reformis harus teguh, tetapi bersahabat. Kritik kita juga harus sesuai dengan perasaan massa buruh, yang akan berdinamika sesuai dengan ritme perjuangan kelas. Berhadapan dengan kaum buruh yang berpandangan reformis, kita harus bersahabat dan menjelaskan dengan sabar.” (Bekerja di Organisasi Massa, Ted Sprague, 17 Mei 2012)

“Haruskah kaum revolusioner bekerja di dalam serikat-serikat buruh reaksioner?”

Pengkhianatan dari kaum reformis, kaum birokrat, dan kaum reaksioner di dalam gerakan buruh secara wajar menghasilkan reaksi ultra-kiri di antara kaum buruh yang lebih sadar kelas. Ini adalah reaksi yang sehat. Terkandung di dalamnya adalah kebencian dari kaum buruh yang sadar kelas dan kaum muda revolusioner akan segala yang berbau reformis dan kolaborasi kelas. Ini adalah awal yang baik, tetapi kita kaum Marxis harus bisa melampaui perasaan ultrakiri-isme yang mentah ini, dan mengubahnya menjadi kekuatan yang terorganisir untuk bisa membebaskan kaum buruh yang masih terilusi oleh reformisme dan para pemimpin mereka ini. Kita tidak boleh membiarkan diri kita terjangkiti “penyakit kekanak-kanakan” (istilah yang dipopulerkan oleh Lenin dari karyanya Komunisme Sayap Kiri: Penyakit Kekanak-kanakan), atau bahkan menyebarkannya. Di dalam karya ini, Lenin menganjurkan dengan keras kepada kaum komunis untuk melakukan kerja di dalam organisasi-organisasi buruh reformis dan bahkan reaksioner guna “melawan para pemimpin oportunis dan sosial-sovinis guna memenangkan kelas buruh ke sisi kita.”

Mungkin akan ada yang mencoba berkelit: “Tapi para pemimpin buruh reformis jaman Lenin tidak sereaksioner [!] para pemimpin buruh reformis birokratik di Indonesia hari ini, yang menemukan diri mereka mendukung elemen-elemen Orde Baru, elemen-elemen militerisme dan “fasisme”, yang jelas-jelas mengatakan bahwa mereka “anti komunis”, yang menerapkan rejim anti-demokratik di serikat mereka, yang tidak paham Hak Asasi Manusia, dsb.”. Singkatnya: “Bah, jaman Lenin beda dengan sekarang” atau “Indonesia bukan Rusia”, dalih yang terlalu sering kita dengar. Benar, Indonesia bukan Rusia, dan hari ini berbeda dengan hari-hari Lenin. Tetapi mari kita paparkan secara konkret perbedaannya dan kita akan melihat – kalau kita tidak buta atau menolak melihat - kalau apa yang dianjurkan oleh Lenin di dalam karyanya itu justru jauh lebih relevan hari ini.

Perang Dunia I pada 1914 hanya bisa meledak karena pengkhianatan dari para pemimpin sosial demokrasi Eropa, yakni “para pemimpin reformis jaman Lenin” ini. Para pemimpin buruh ini mendukung tiap-tiap pemerintahan mereka untuk meluncurkan perang atas nama “membela tanah air”, dan melempar jutaan buruh ke garis depan untuk menggali parit-parit perang yang pada kenyataannya adalah liang kubur mereka. 10 juta tentara mati, 21 juta terluka, 7,8 juta tidak pernah ditemukan jenazahnya; 7 juta populasi sipil juga kehilangan nyawanya, puluhan juta menjadi pengungsi. Pengkhianatan para pemimpin reformis Eropa ini bahkan menjadi begitu memuakkan karena di rak-rak buku mereka berjejer karya-karya Marx dan Engels, karena 2 tahun sebelumnya pada 1912 mereka menerbitkan sebuah manifesto yang mengatakan bahwa bila perang imperialis berkecamuk mereka akan menentangnya dengan aksi massa buruh dan mengobarkan revolusi. Alih-alih revolusi yang didapati oleh buruh adalah pembantaian massal.

Tetapi pengkhianatan mereka tidak berhenti di sini saja. Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht, yang keduanya adalah pemimpin Marxis tersohor di Jerman dan dikenal di seluruh dunia juga, dibunuh pada 1919 atas perintah para pemimpin reformis dari Partai Sosial Demokrasi Jerman. Para pemimpin reformis birokratik inilah yang lalu mengkhianati revolusi di Jerman pada 1918-1919. Kemenangan revolusi di Jerman seharusnya bisa mengubah keseluruhan situasi, dan bahkan – menurut Lenin – jauh lebih penting dan signifikan daripada Revolusi Rusia. Dengan ini saja, saya pikir kita semua bisa setuju bahwa pengkhianatan “para pemimpin buruh reformis jaman Lenin” jauh lebih besar dalam skala historis dan konsekuensinya dibandingkan dengan pemimpin reformis birokratik Indonesia.   

Bagaimana sikap kaum Bolshevik terhadap serikat-serikat buruh (dan organisasi-organisasi buruh) yang didominasi oleh para pengkhianat reaksioner ini? Lenin menganjurkan agar kaum komunis Jerman dengan cara apapun melakukan kerja di dalam organisasi-organisasi buruh yang dipimpin oleh para pemimpin reaksioner ini, yakni para penjagal buruh yang belum lama mengirim puluhan juta buruh ke liang kubur mereka dan para pembunuh Rosa Luxemburg. Ini Lenin tekankan pada 1920 di dalam karyanya “Komunisme Sayap Kiri: Penyakit Kekanak-kanakan”. Kita lihat apa yang ditulisnya di bab “Haruskah kaum revolusioner bekerja di dalam serikat-serikat buruh reaksioner?” dan kami harus mengutipnya dengan cukup lengkap:

“Kaum “Kiri” Jerman berpendapat bahwa, sepanjang bersangkutan dengan mereka, jawaban atas pertanyaan ini adalah negatif sama sekali. Menurut pendapat mereka, retorika-retorika dan protes-protes keras yang penuh kemarahan (seperti yang diutarakan oleh K. Horner dengan cara yang sangat “serius” dan sangat bodohnya) terhadap serikat-serikat buruh “reaksioner” dan “kontra-revolusioner” adalah cukup untuk “membuktikan” bahwa tidaklah perlu dan bahkan tidak diperbolehkan bagi kaum revolusioner dan kaum Komunis untuk bekerja di dalam serikat-serikat buruh reformis, sosial-sovinis, kontra-revolusioner semacam serikat-serikat buruh Legien. ...

“Kita sedang melakukan perjuangan melawan “aristokrasi buruh” atas nama massa buruh dan dengan tujuan memenangkan mereka ke sisi kita; kita sedang melakukan perjuangan melawan para pemimpin oportunis dan sosial-sovinis guna memenangkan kelas buruh ke sisi kita. Melupakan kebenaran yang paling dasar dan paling jelas ini adalah absurd. Akan tetapi justru absurditas macam inilah yang sedang diperlihatkan oleh kaum Komunis “Kiri” Jerman ketika mereka, karena karakter reaksioner dan kontra-revolusioner dari kepemimpinan tingkat atas serikat buruh, melompat ke kesimpulan bahwa ... kita harus mundur dari serikat-serikat buruh ini, menolak bekerja di dalamnya, dan menciptakan bentuk-bentuk organisasi buruh yang baru dan artifisial! Ini adalah sebuah blunder atau kesalahan besar yang tidak dapat dimaafkan, yang merupakan bantuan terbesar yang bisa diberikan oleh kaum Komunis kepada borjuasi. Seperti semua pemimpin serikat buruh yang reformis, sosial-sovinis dan Kautskyis, kaum Menshevik kami adalah tidak lain daripada “agen-agen borjuasi di dalam gerakan kelas buruh” (seperti yang selalu kami katakan mengenai kaum Menshevik), atau “mandor buruh dari kelas kapitalis” (labour lieutenants of the capitalist class), sebuah istilah yang bagus sekali dan sepenuhnya benar dari para pengikut Daniel De Leon di Amerika. Menolak bekerja di dalam serikat-serikat buruh yang reaksioner berarti membiarkan massa buruh yang belum cukup maju atau yang masih terbelakang untuk tetap ada di bawah pengaruh para pemimpin reaksioner, agen-agen borjuasi, para aristokrat buruh, atau buruh-buruh yang telah sepenuhnya menjadi borjuis. ...

“‘Teori’ yang konyol ini, dimana kaum Komunis tidak boleh bekerja di dalam serikat-serikat buruh reaksioner, mengungkapkan dengan begitu jelasnya bagaimana sembrononya sikap kaum Komunis “Kiri” ini terhadap soal mempengaruhi “massa”, dan bagaimana mereka menyalahgunakan pekikan-pekikan mereka tentang “massa”. Bila kau ingin menolong “massa” dan memenangkan simpati dan dukungan “massa”, kau tidak boleh takut menghadapi kesulitan-kesulitan, kelicikan-kelicikan, hinaan-hinaan dan persekusi dari para “pemimpin” ini (yang, karena bersifat oportunis dan sosial-sovinis, dalam banyak hal secara langsung atau tidak langsung mempunyai hubungan dengan kelas borjuasi dan polisi), tetapi harus bekerja di manapun massa berada. Kau harus sanggup melakukan pengorbanan apapun, mengatasi rintangan yang sebesar-besarnya untuk melakukan agitasi dan propaganda secara sistematis, terus-menerus, ulet dan sabar di dalam badan-badan, perkumpulan-perkumpulan dan perserikatan-perserikatan – yang paling reaksioner sekalipun – dimana terdapat massa proletar atau semi-proletar. ...

“Tidak dapat diragukan bahwa tuan-tuan Gompers, Henderson, Jonhaux dan Legien [para pemimpin reformis Eropa] sangat berterima kasih pada kaum revolusioner “Kiri” ini yang, seperti kaum oposisi Jerman “yang prinsipil” (semoga Tuhan melindungi kita dari “sikap prinsipil” semacam itu!), atau seperti beberapa kaum revolusioner dari American Industrial Workers of the World, menganjurkan supaya meninggalkan serikat-serikat buruh reaksioner dan menolak bekerja di dalamnya. Para “pemimpin” oportunis ini jelas akan menggunakan segala tipu muslihat diplomasi borjuis, dan menggunakan bantuan dari pemerintahan borjuasi, pendeta, polisi dan pengadilan untuk mencegah masuknya kaum Komunis ke dalam serikat buruh, menyepak mereka keluar dengan cara apapun, membuat kerja mereka di dalam serikat buruh sangat tidak nyaman, dan menghujat, mengumpani dan menindas mereka. Kita harus bisa menahan semua ini, sanggup melakukan segala pengorbanan, dan bahkan – bila perlu – menggunakan berbagai siasat, akal, dan cara-cara ilegal, mengelak dan mengecoh, selama kita bisa masuk ke dalam serikat-serikat buruh ini, tinggal di dalamnya, dan melakukan kerja komunis di dalamnya dengan segala cara.” (Lenin, Komunisme Sayap Kiri: Penyakit Kekanak-kanakan, 1920) [Penekanan dari saya]

Satu catatan tambahan yang mungkin akan semakin menguatkan relevansi anjuran Lenin ini untuk situasi hari ini. Ketika Lenin menuliskan kritiknya terhadap para Komunis sektarian “kekanak-kanakan” yang menolak bekerja di dalam organisasi reformis, gagasan komunisme sedang dalam arus pasang. Jutaan buruh di seluruh dunia terinspirasi oleh Revolusi Oktober dan berbondong-bondong berbaris untuk mendaftar menjadi anggota Partai Komunis. Bahkan dalam situasi seperti ini, dimana komunisme sedang naik daun dan merupakan kekuatan yang signifikan, Lenin masih menganjurkan agar kaum Komunis berorientasi ke organisasi reformis untuk memenangkan lebih banyak massa ke barisan mereka. Hari ini ketika kaum revolusioner adalah minoritas kecil di dalam gerakan buruh, anjuran Lenin bahkan menjadi semakin relevan.

Para pemimpin oportunis akan menciptakan 1001 rintangan untuk mencegah kaum revolusioner memasuki serikat buruh mereka, agar para anggota mereka tidak terkontaminasi oleh gagasan-gagasan revolusioner. Dusta, fitnah keji, umpatan kotor, bahkan sampai serangan fisik akan digunakan oleh para pemimpin ini. Tetapi alangkah bodohnya kita kalau lalu terprovokasi dan membiarkan amarah mengaburi pandangan kita. Kalau kita dikeluarkan dari organisasi buruh reaksioner, dan dihalang-halangi untuk melakukan kerja, kita gunakan “berbagai siasat, akal, dan cara-cara ilegal, mengelak dan mengecoh, selama kita bisa masuk ke dalam serikat-serikat buruh ini, tinggal di dalamnya, dan melakukan kerja”.

Katakanlah kalau kita dikeluarkan secara paksa atau non-demokratik dari organisasi buruh dimana kita melakukan kerja, apakah ini berarti akhir dari kerja kita? Apakah kita tidak bisa melakukan kerja sama sekali untuk mengkontak buruh-buruh serikat tersebut dan memenangkan mereka ke gagasan kita? Dan lalu melalui buruh-buruh ini, yang bekerja secara pintar di dalam serikat mereka, terus meluaskan pengaruh dan gagasan kita di dalam serikat ini? Bahkan bila beberapa buruh yang kita menangkan lalu ketahuan dan dipersulit kerjanya, dan mungkin sampai dikeluarkan (secara halus ataupun kasar), apa ini menjadi halangan untuk mengontak buruh-buruh lain dan memenangkan mereka? Kaum revolusioner harus sanggup menanggulangi berbagai rintangan untuk meraih telinga buruh.

Kita juga akan sangat kesulitan untuk bisa meraih massa buruh yang masih ada di bawah pengaruh para pemimpin reaksioner ini kalau kita terus melemparkan hujatan dan caci maki yang histeris dan emosional – yang oleh sejumlah sektarian disebut sebagai kritik – pada para pemimpin ini. Ini hanya akan memberikan alasan yang lebih mudah bagi para birokrat serikat buruh untuk mempersulit kerja kita. Cara kerja seperti ini jelas serampangan dan sembrono. Kita harus bisa menggunakan “berbagai siasat, akal, dan cara-cara ilegal, mengelak dan mengecoh”.

Kita harus mengkritik dan berpolemik melawan kebijakan-kebijakan reformis dan birokratik dari para pemimpin ini. Ini adalah kebenaran yang mendasar. Tetapi kebenaran apapun kalau dilakukan berlebihan akan menjadi absurd atau konyol. Kebenaran apapun kalau diaplikasikan melebihi batas-batas yang ada akan menjadi kebalikannya, kekeliruan. Kawan-kawan sektarian kita ingin terus mengkritik sampai mulut mereka berbusa: si A tidak amanah, si B pembohong, si C tidak demokratik, si D tidak paham HAM, si E tidak serius mau membangun partai buruh, Si F punya motif mencurigakan, si G mendukung fundamentalisme, dan seterusnya, dan seterusnya ad infinitum. Kritik ini tampak “rrrrrr-evolusioner” di permukaan, tetapi pada akhirnya hanya menunjukkan ketidakdewasaan dalam berpolitik. Inilah mengapa Lenin mengecamnya sebagai penyakit kekanak-kanakan. Kita harus secara tangkas memilih apa yang ingin kita kritik, kapan, bagaimana, dimana, dan mengapa.

Ada penyakit ultra-kiri yang menjangkiti selapisan Kiri radikal, yang puas dengan serikat-serikat “merah” mereka sendiri dan menolak secara prinsipil kerja atau orientasi ke serikat-serikat kuning. Ketika gerakan buruh mengambil lompatan yang besar melalui serikat-serikat kuning ini, Kiri-kiri radikal kita kebanyakan menemukan diri mereka di pinggiran. Mereka mencoba membenarkan posisi mereka dengan argumen “para pemimpin serikat kuning ini pasti akan berkhianat”. Ketika ada seruan mogok nasional pada 2012, serikat-serikat merah awalnya mendiamkan dan bahkan menolak mendukung dan terlibat dengan alasan kalau para pemimpin serikat kuning ini tidak bisa dipercaya dan akan berkhianat. Mereka melupakan bahwa ada jutaan buruh di bawah serikat-serikat kuning ini yang harus mereka menangkan.

Capaian yang diraih oleh kerja kawan Danial di dalam FSPMI sangatlah besar dan merupakan validasi terhadap gagasan bahwa kaum revolusioner harus melakukan orientasi ke organisasi massa buruh di manapun mereka berada. Akan tetapi, tidaklah mengejutkan kalau elemen-elemen kanan di dalam FSPMI segera mengerem gerakan buruh karena massa buruh bergerak terlalu jauh dan di luar kendali mereka. Ini berarti menggebuk elemen-elemen revolusioner dan memburu mereka keluar. Sayangnya, kawan Danial dan kolega-koleganya justru merespons secara ultra-kiri terhadap persekusi birokratik yang diluncurkan oleh para pemimpin reformis ini.

Pertama, Kawan Danial dan PPR menuntut kebebasan berpropaganda dan demokrasi sebagai syarat untuk melakukan kerja di dalam serikat kuning atau organisasi reformis (di dalamnya sebagai anggota ataupun sebagai bagian dari aliansi). Berikut ujarnya di media sosial:

“Syarat persatuan atau bekerja di dalam (apalagi secara terbuka) adalah kebebasan berpendapat/berpropaganda/mengkritik. Apakah kalian tahu realitanya -- dalam arti bahwa bekerja di dalam GBI/KSPI/FSPMI ada (atau tidak ada) kebebasan berpendapat/berpropaganda/mengkritik? Tidak ada, apalagi pendapat/propaganda/kritiknya secara terbuka. Bila kalian tahu realitanya: berkali-kali mereka mengkhianati kesepakatan persatuan, tidak ada yang mengkritik, dan yang mengkritik disingkirkan.”

Mari kita periksa lebih dalam “syarat” ini. Tentunya kita menginginkan demokrasi di dalam organisasi buruh dan salah satu tugas kita adalah memperjuangkan ruang demokrasi ini. Tetapi kalau kita lantas menjadikan ini sebagai syarat kaku yang harus dipenuhi sebelum seorang diperbolehkan melakukan kerja di dalam serikat buruh yang bersangkutan, ini bukan hanya sebuah sektarianisme yang paling buruk tetapi juga adalah kekanak-kanakan. Pemimpin reformis mana yang akan begitu baik hati memberikan ruang berpropaganda seluas-luasnya bagi kaum Marxis agar kaum Marxis bisa menggerogoti basis massa mereka dan mengekspos mereka sebagai pengkhianat? Mereka tahu apa yang ingin kita lakukan. Mereka bukan seorang demokrat yang naif dan bodoh. Tidak hanya di Indonesia, tetapi bahkan di negeri-negeri paling demokratis sekalipun – kita ingatkan lagi, Rosa Luxemburg dibunuh oleh para pemimpin sosial demokrasi Jerman, yang tentunya jauh lebih terhormat, jauh lebih sopan, jauh lebih berbudaya daripada semua pemimpin buruh reaksioner di Indonesia.

Saya beri contoh saja kerja kaum Marxis Kanada (Fightback, seksi IMT di Kanada) di dalam partai buruh (NDP, New Democratic Party). NDP tidak memperbolehkan tendensi atau faksi di dalamnya, serta anggota NDP tidak boleh memiliki keanggotaan di dalam organisasi politik lainnya. Intinya, tidak boleh ada oposisi revolusioner di dalam NDP. Apa yang kami lakukan untuk bisa bekerja di dalam NDP? Kami mengecoh mereka dengan mengatakan bahwa Fightback hanyalah sebuah majalah, dan anggota-anggota Fightback hanyalah pelanggan dan kontributor pada majalah ini. Tentu saja para birokrat ini tidak bodoh dan tahu bahwa Fightback adalah sebuah partai Bolshevik yang melakukan kerja di dalam NDP untuk mengekspos kebangkrutan dari para birokrat dan reformis di dalam partai buruh Kanada dan memenangkan buruh ke gagasan mereka, tetapi kami tidak memberikan mereka alasan yang mudah untuk menendang kami keluar. Saya bisa menuliskan panjang lebar 1001 cara licik dan picik yang sudah mereka gunakan untuk memprovokasi kami dan menyepak kami keluar. Misalnya, pada Kongres NDP para birokrat biasanya memberikan meja dan stan untuk berbagai LSM, sementara menolak aplikasi kami dan melarang kami untuk menyebarkan/menjual majalah dan literatur kami di dalam kongres. Mereka bahkan pernah mengirim sekuriti untuk mengejar kami keluar dari gedung kongres karena kami menyebarkan literatur kami. Apa yang kami lakukan? Apa kami lantas marah-marah karena “tidak ada demokrasi”? Tidak. Kami menempatkan sejumlah kamerad di luar pintu masuk kongres dan menyebarkan koran dan literatur kami di sana kepada para delegasi kongres, pada para buruh dan kaum muda yang menghadiri kongres partai ini. Kami memprotes tindakan yang non-demokratik ini, tetapi tidak membiarkan protes ini mengalihkan perhatian kami. We choose our battles carefully.

Di kasus lain, beberapa tahun yang lalu ketika para birokrat NDP secara non-demokratik membubarkan organisasi muda NDP di Toronto (Toronto Young New Democrats, TYND) karena organisasi ini telah kami kuasai, kami meluncurkan sebuah perlawanan sengit yang akhirnya berhasil memukul mundur para birokrat ini dan menyelamatkan organisasi muda partai buruh di Toronto ini. Ini bisa kami lakukan karena kami telah membangun basis yang cukup kuat di Toronto di antara para anggota NDP dan terutama di antara kaum mudanya. Selain itu, kami juga mempertimbangkan apakah organisasi kami punya cukup kekuatan dan sumber daya untuk meluncurkan kampanye ini. Setelah kami menang (bahkan kalaupun kami kalah), kami tidak lantas terus menerus mengeluh dan mengecam tindakan non-demokratik mereka, seakan-akan seluruh jagad raya bersumbu pada insiden satu ini.   

Perjuangan melawan reformisme dan birokratisme di dalam gerakan buruh tidak bisa dilakukan secara serampangan dan asal geruduk. Terlebih ketika kita masih kecil dan belum punya akar di antara massa organisasi buruh reformis, dan sebagai konsekuensi tidak punya “daya tawar”. Realitasnya demikian: kendati kawan Danial telah melakukan kerja yang luar biasa dan tanpa-preseden di dalam FSPMI -- mendidik banyak buruh dan meradikalisasi mereka -- ia bisa disepak keluar dengan relatif mudah karena “sayap kiri” yang dibentuknya di dalam FSPMI relatif masih kecil, lemah dan tidak cukup terorganisir. Para pemimpin reformis ini bisa melakukan manuver-manuver birokratis terhadap elemen-elemen Kiri karena mereka masih punya dukungan massa buruh – terlepas bagaimana cara mereka mendapatkan dukungan ini. Mereka masih lebih kuat, dan seperti perang gerilya ketika melawan musuh yang kuat kita kadang-kadang harus tiarap, “mengelak dan mengecoh”, dan menggunakan berbagai tipu daya.

Kedua, kesimpulan akhir yang diambil oleh kawan-kawan PPR adalah memboikot secara prinsipil seruan pembentukan Partai Buruh (dan sampai ke Partai Buruh itu sendiri kalau memang pada akhirnya terbentuk) yang dikumandangkan oleh para pemimpin buruh reformis ini. Ini adalah kesalahan fatal. Alasan mereka sudah kami kemukakan di atas: bahwa menurut mereka seruan Partai Buruh ini (dan Partai Buruh yang mungkin lahir dari proses ini) cacat sejak lahir karena tidak ada ruang demokrasi yang sejati, diserukan oleh orang-orang yang tidak amanah, motifnya mencurigakan, ada manuver politik kekuasaan, dsb. Dengan demikian, kawan-kawan kita ini ingin memaksakan “prinsip-prinsip sektarian mereka sendiri, yang hendak dijadikan pola bagi gerakan proletar” – sesuatu yang telah diperingatkan oleh Marx lebih dari 150 tahun yang lalu di karya Manifesto Komunisnya.

Tidak bisa kita pungkiri kalau kerja kawan Danial telah memberinya sejumlah pengaruh di antara selapisan buruh FSPMI yang mampu melihat kekeliruan dari berbagai kebijakan reformis dan kolaborasi-kelas para pemimpin mereka. Anekdot yang diceritakannya mengenai bagaimana seorang buruh FSPMI membelanya ketika ada yang ingin melarangnya membagi-bagikan selebaran pada May Day adalah indikasi jelas. Selain itu kelas-kelas dan acara-acara politik yang diorganisir solidaritas.net juga tentunya dihadiri oleh sejumlah buruh dari serikat-serikat reformis walau para pemimpin mereka mencoba menghalang-halangi. Ada selapisan buruh dari serikat-serikat reformis yang jelas-jelas sedang mencari gagasan revolusioner dan ingin melawan kebijakan-kebijakan keliru dari para pemimpin mereka. Dengan pendekatan yang tidak sektarian, elemen-elemen ini bisa digunakan sebagai tuas yang efektif untuk melakukan pertarungan melawan reformisme dan birokratisme di dalam serikat-serikat kuning.

Deklarasi Partai Buruh pada May Day 2015

Pada momen May Day 2015 kemarin, para pemimpin buruh massa yang bergabung dalam GBI membuat sebuah deklarasi yang menyatakan niat mereka untuk membentuk Partai Buruh. Seberapa serius mereka sungguh-sungguh ingin membentuk sebuah Partai Buruh yang tujuannya adalah membela kepentingan buruh? Seserius keinginan mereka untuk menumbangkan kapitalisme! Dalam kata lain, jangan berharap terlalu banyak. Kita tidak perlu pintar-pintar amat untuk mencapai kesimpulan ini. Namun alasan utama dari deklarasi ini adalah tekanan dari bawah, yakni kekecewaan para buruh terhadap berbagai kebijakan para pemimpin ini selama 2-3 tahun terakhir – dari mengerem laju gerakan buruh sampai ke kebijakan pemilu mereka yang menyedihkan. Para pemimpin reformis ini lantas harus memberikan layanan bibir pada gagasan partai buruh guna menenangkan kekecewaan para anggotanya.

Selain itu, rejim penguasa yang legitimasi politiknya semakin hari semakin terkikis juga menyadari potensi kekuatan buruh. Keberadaan sebuah partai buruh adalah hal terakhir yang diinginkan oleh kelas penguasa ketika rakyat pekerja luas sudah mulai muak dengan partai-partai borjuasi yang ada, yang direfleksikan oleh kemenangan Jokowi pada pilpres tahun lalu sebagai seorang pemimpin yang dilihat oleh rakyat luas datang dari luar partai. Inilah mengapa dengan segera Jokowi mengundang para pemimpin buruh untuk bertemu dengannya. Kelas penguasa sadar akan bahaya partai buruh ini dan berusaha mencegah proses pembentukannya. Sementara, para pemimpin buruh juga menggunakan ancaman pembentukan partai buruh ini sebagai alat tawar. “Pak Presiden, kalau Anda bisa memberikan setidaknya sejumlah konsesi yang bisa kami bawakan ke para anggota kami guna menenangkan keresahan mereka, maka yakinlah partai buruh sama sekali tidak akan menjadi kebutuhan,” demikian kira-kira ujar para pemimpin buruh ini.

Pada akhirnya, kawan Surya Anta benar: ada “manuver politik kekuasaan” antara para pemimpin reformis ini dan kelas borjuasi. Namun ini sudah kita ketahui sejak awal, karena Lenin telah mengajarkan kepada kita bahwa “para ‘pemimpin’ ini yang, karena bersifat oportunis dan sosial-sovinis, dalam banyak hal secara langsung atau tidak langsung mempunyai hubungan dengan kelas borjuasi dan polisi.” Dalam dirinya sendiri pengetahuan mengenai manuver antara pemimpin reformis dan kelas borjuasi tidak menjawab sama sekali pertanyaan bagaimana kita harus mengorientasikan kekuatan kita pada organisasi-organisasi massa reformis.  

Ada dorongan dan kebutuhan akan sebuah Partai Buruh yang jelas datang dari arus bawah, dan kita harus bisa menggunakan peluang ini untuk mengedepankan gagasan kita – mengenai program yang dibutuhkan oleh sebuah Partai Buruh supaya bisa membela kepentingan buruh, tugas-tugasnya, dsb. – bahkan bila pintu peluang ini dibuka oleh tangan-tangan yang bersisik ular. Kawan-kawan PPI Bekasi merilis sebuah pernyataan “Politik Kelas Buruh” yang menurut kami adalah pendekatan yang secara umum tepat, yang tidak sektarian dan pada saat yang sama memberikan kritik (tuntutan positif) yang tegas mengenai langkah-langkah yang harus diambil untuk membangun Partai Buruh ini:

“Maka bagi kaum revolusioner, GBI dengan kemauan dalam pembangunan partainya sendiri (bukan partai elit) mesti dimajukan perspektif dan gagasan-gagasannya serta turut memastikan bahwa partai yang akan dibentuk bebas dari anasir-anasir politik reformis. ... Sekali lagi, kaum revolusioner harus berani bertarung gagasan dengan para “Bangkai berbau busuk” [reformisme dan sosial demokrasi] itu.” (Politik Kelas Buruh, Azmir Zahara, 17 Mei 2015)

Pernyataan PPI Bekasi juga secara tepat menekankan bahwa Partai Buruh yang kelak dibangun ini harus memiliki tugas “mengakhiri kediktatoran kelas borjuis”, “merebut kekuasaan”, “memiliki prinsip, kepribadian dan kebudayaan yang berbeda dengan partai-partai borjuis”, “memiliki independensi atau kemandirian kelas”, “mencari sekutu berjuang yaitu dengan kaum tani, nelayan, kaum miskin kota serta pelajar dan mahasiswa progresif”. Ini adalah pendekatan yang tangkas, yang mengkritik reformisme secara tegas dan jelas tanpa terjebak pada serangan remeh-temeh dan teralihkan perhatiannya pada hal-hal yang sekunder. Ada beberapa formulasi di dalam pernyataan kawan-kawan PPI Bekasi yang menurut kami kurang tepat, tetapi mereka adalah sekunder untuk saat ini. Yang pokok adalah pendekatan kawan-kawan PPI Bekasi yang tidak sektarian, yang bergerak ke mana massa buruh berada, yang “berani bertarung gagasan dengan para ‘Bangkai berbau busuk’”, yang mengikuti ajaran dari Lenin bahwa “bila kau ingin menolong “massa” dan memenangkan simpati dan dukungan “massa”, kau tidak boleh takut menghadapi kesulitan-kesulitan, kelicikan-kelicikan, hinaan-hinaan dan persekusi dari para “pemimpin” ini [Bangkai berbau busuk].”

Kami tidak memiliki informasi tambahan lainnya mengenai bagaimana detilnya kawan-kawan PPI Bekasi melakukan intervensi di dalam GBI dan di seputar deklarasi Partai Buruh yang diajukan olehnya, dan hanya bisa membuat penilaian di atas berdasarkan pernyataan tertulis dari mereka. Oleh karenanya lebih dari itu kami tidak bisa membuat komentar. Tentunya diskusi ini ke depannya bisa diperkaya lebih lanjut dari pengalaman kawan-kawan PPI Bekasi dan juga kawan-kawan revolusioner lainnya yang melakukan orientasi ke organisasi massa reformis. Namun sejarah gerakan buruh sesungguhnya sudah kaya dengan pelajaran bagaimana kaum revolusioner melakukan orientasi dan kerja di dalam organisasi massa, dan kita tidak perlu mengulang semua kesalahan yang sama kalau kita sungguh belajar dari sejarah, dari para guru-guru besar Marxisme.

Sense of Proportion dalam Melakukan Kerja

Secara konkret usaha intervensi Militan bisa dilihat dari sejumlah artikel yang telah kami terbitkan dalam menyikapi masalah Partai Buruh. Terakhir adalah “Bangun Partai Buruh! Kaum Buruh, Tegaskan Kemandirian dan Kepemimpinan Kelasmu!” (27/4). Di sini kami harus memberikan kualifikasi yang lebih ketat mengenai perbedaan antara intervensi kami dengan misalnya intervensi kawan-kawan PPI. Militan sama sekali belum memiliki tuas yang signifikan di dalam gerakan buruh. Kalaupun kami memiliki tuas di dalam gerakan buruh, ini adalah sebuah tuas yang kecil di dalam serikat merah yang secara umum masih terjebak dalam kecenderungan ultra kiri. Sementara kawan-kawan PPI tentunya punya tuas yang lebih kuat di dalam gerakan buruh dan memiliki prospek yang riil untuk melakukan intervensi konkret di dalam GBI ataupun formasi-formasi serupa di kemudian hari. Demikian juga dengan kawan-kawan serikat merah lainnya.

Perbedaan ini mendikte bentuk intervensi yang bisa seorang lakukan, dan apa yang bisa dan tidak bisa dicapai darinya. Di sinilah sense of proportion menjadi sangat penting. Kita harus bisa mengukur kekuatan kita sendiri, dan dengan demikian bisa mengukur apa yang bisa dan apa yang tidak bisa kita lakukan dan capai. Ini karena kerja di dalam organisasi reformis bukanlah sesuatu yang mudah. Kalau kader-kader kita tidak tertempa secara ideologis dan memahami dengan baik konsep kerja di dalam organisasi massa, mereka bisa, di satu sisi, terkooptasi oleh birokrasi dan reformisme, atau di sisi lain, terlempar ke ultrakiri-isme sebagai reaksi terhadap birokratisme yang menjijikkan.

Selain itu, kita juga harus mempertimbangkan apa yang ingin kita capai sebagai sebuah partai kader revolusioner. Walaupun orientasi ke organisasi massa adalah krusial, tetapi belum tentu sebuah organisasi revolusioner siap secara ideologis maupun organisasional untuk melakukan intervensi secara sistematis di dalamnya. Akan ada medan-medan lain di luar organisasi massa buruh reformis yang mungkin bisa digarap terlebih dahulu, yang secara logistik lebih mudah untuk diintervensi dan bisa memberikan kita rekrut segera. Tujuannya adalah mempersiapkan organisasi kita untuk kerja yang lebih sulit di dalam organisasi massa reformis ke depannya.

Orientasi ke dalam organisasi massa juga tidak harus berarti langsung masuk ke dalam, terutama ketika memang belum memiliki kekuatan untuk bisa masuk ke dalamnya dan melakukan kerja yang sistematis. Intervensi bisa dilakukan dalam bentuk propaganda, dengan tujuan memenangkan lapisan buruh dan muda yang termaju ke barisan kita (memenangkan satu dua) dan penguatan internal (klarifikasi gagasan dan penempaan kader secara ideologis). Ini adalah persiapan untuk intervensi yang lebih terarah, sistematis, dan terorganisir di kemudian hari. Pada akhirnya, seluruh seni politik revolusioner terletak dalam kerja persiapan.

Babak yang Baru

Segera setelah jatuhnya rejim kediktatoran Orde Baru pada 1998, ada medan yang terbuka sangat luas untuk pengorganisiran. Berbagai organisasi perjuangan (serikat buruh, organisasi mahasiswa, serikat tani, dsb.) tumbuh subur seperti jamur. Tiap-tiap kelompok Kiri dengan cepat mengisi medan-medan yang terbuka ini dan mengklaim “basis massa” mereka. Tampaknya tidak pernah ada kekurangan kasus untuk diadvokasi. Tampaknya begitu banyak massa berserakan yang siap diorganisir. Di tengah atmosfer seperti ini, masalah orientasi dan kerja di dalam organisasi massa buruh reformis tidak pernah terbayangkan, dan bahkan mood ultrakiri dan antipati terhadap organisasi-organisasi reformis tumbuh seiring dengan menguatnya organ-organ “merah”.

Akan tetapi gelombang pemogokan massa dan nasional pada 2012 yang diprakarsai oleh serikat-serikat kuning mengguncang tidak hanya kesadaran kelas jutaan buruh tetapi juga prasangka-prasangka dan kebiasaan-kebiasaan lama dari kaum revolusioner yang telah lama puas bersemayam di serikat-serikat “merah” mereka sendiri. Masalah sikap kaum revolusioner terhadap serikat-serikat kuning sudah tidak bisa lagi diabaikan karena jutaan buruh yang terorganisir di dalamnya mulai bergerak. Sebuah babak yang baru sudah dimulai di dalam perjuangan kelas, dan bagaimana kita meresponsnya akan menentukan masa depan revolusi Indonesia.

Mari kita coba rangkum apa yang sudah kita paparkan di atas mengenai partai kader dan partai massa ke dalam 10 poin utama:

1. Kaum proletariat tidak dapat merebut kekuasaan dengan sebuah pemberontakan yang spontan. Ia membutuhkan kepemimpinan partai revolusioner yang dapat melihat ke depan dan berpendirian tegas, yang memiliki pemahaman akan hukum-hukum dan metode-metode revolusi.

2. Partai revolusioner ini berisikan bunga-bunga terbaik dari kelas proletariat, yang telah dipersiapkan, secara organisasional dan ideologis, jauh hari sebelum momen revolusi meledak.

3. Karena gagasannya yang jernih dan lengkap, secara umum sebuah partai revolusioner pada masa-masa damai tidak akan bisa beranjak dari segelintir kader (partai kader) menjadi partai massa. Massa rakyat pekerja secara keseluruhan pada masa-masa damai tidak akan merangkul gagasan revolusioner, dan bahkan ketika mereka mulai bergerak tidak serta-merta akan langsung mencapai kesimpulan-kesimpulan revolusioner.

4. Pada masa-masa revolusioner, yakni ketika massa luas mulai bergerak dan memasuki – secara berbondong-bondong dan secara paksa pula – ke arena politik, di momen inilah partai kader memiliki peluang untuk melompat menjadi partai massa, dan dalam kesempatan itu dapat menumbangkan kapitalisme.

5. Keterisolasian gagasan revolusioner di dalam gerakan secara keseluruhan berarti bahwa secara umum organisasi-organisasi perjuangan massa (serikat buruh, partai buruh, dsb.) akan lahir dan berkembang dengan atau tanpa intervensi signifikan dari kaum revolusioner. Rakyat pekerja tidak akan menunggu kaum revolusioner siap untuk memberikan mereka sebuah organisasi. Mereka akan menggunakan apapun yang ada di tangan mereka sekarang, secacat apapun itu.

6. Seluruh seni politik revolusioner terletak dalam kerja persiapan: pada masa-masa damai membangun inti dari partai revolusioner ini (yakni partai kader), yang mampu mengintervensi setiap momen-momen gerakan yang ada untuk memperkuat dirinya. Kembali ke poin nomor satu mengenai peran yang tak tergantikan dari partai revolusioner bagi kemenangan revolusi proletariat, maka semua intervensi kaum revolusioner di dalam gerakan – dan setiap kerja yang dilakukannya – harus diarahkan untuk satu, dan hanya satu, tujuan: membangun dan memperkuat partai revolusioner.

7. Implisit di dalam reformisme – dari yang kiri sampai kanan reaksioner – adalah pengkhianatan. Tetapi cengkeraman dan dominasi reformisme di dalam gerakan buruh dan di dalam benak tiap-tiap buruh tidak akan dapat diselesaikan dengan menyatakan secara serampangan dan selantang-lantangnya “reformisme adalah pengkhianatan”. Dibutuhkan pendekatan dan kerja politik yang pintar, tangkas, sabar, tak kenal lelah, dan bahkan bila perlu menggunakan tipu daya (“mengelak dan mengecoh”), terhadap organisasi-organisasi massa reformis.

8. Pemimpin-pemimpin reformis akan mendirikan 1001 rintangan untuk memisahkan para buruh anggota mereka dari kaum revolusioner. Kalau kaum revolusioner ingin membantu massa, ingin memenangkan mereka ke barisannya, ingin melawan pengaruh para pemimpin reformis di dalam gerakan buruh, maka kita “tidak boleh takut menghadapi kesulitan-kesulitan, kelicikan-kelicikan, hinaan-hinaan dan persekusi dari para “pemimpin” ini (yang, karena bersifat oportunis dan sosial-sovinis, dalam banyak hal secara langsung atau tidak langsung mempunyai hubungan dengan kelas borjuasi dan polisi), tetapi harus bekerja di manapun massa berada. Kau harus sanggup melakukan pengorbanan apapun, mengatasi rintangan yang sebesar-besarnya untuk melakukan agitasi dan propaganda secara sistematis, terus-menerus, ulet dan sabar di dalam badan-badan, perkumpulan-perkumpulan dan perserikatan-perserikatan – yang paling reaksioner sekalipun – dimana terdapat massa proletar atau semi-proletar.” (Lenin)

9. Menolak secara prinsipil kerja dan orientasi ke organisasi buruh reformis reaksioner dengan alasan-alasan sektarian berarti memberikan pelayanan yang terbesar kepada kelas borjuasi, karena dengan demikian kita mencampakkan jutaan buruh ke dalam pengaruh reformisme.

10. Bentuk konkret dari kerja dan orientasi yang bisa dilakukan oleh sebuah partai kader revolusioner ke dalam organisasi massa buruh akan tergantung pada kesiapan dan kebutuhan partai itu sendiri. Kaum revolusioner dan partainya harus tahu apa yang bisa dan apa yang tidak bisa dicapainya sesuai dengan kekuatan yang dimilikinya sekarang, dan apa yang dibutuhkan oleh partainya pada tahapan perkembangan yang sedang dilaluinya.

Krisis kemanusiaan pada akhirnya bisa direduksi menjadi krisis kepemimpinan proletariat. Di satu sisi, reformisme dan oportunisme yang mendominasi gerakan buruh lewat para pemimpin mereka, yang tidak bisa diabaikan dan diatasi hanya dengan kecaman-kecaman dari luar; di sisi lain, sektarianisme dan ultrakiri-isme yang secara umum menjangkiti secara kronik kaum revolusioner. Keduanya harus diperangi secara sistematis lewat perjuangan ideologi yang tangkas, teguh, dan konsisten. Gerakan proletariat telah dibekali dengan pengalaman lebih dari 150 tahun dalam memerangi kedua tendensi ini, yang telah disarikan oleh pemimpin-pemimpin mereka seperti Marx, Engels, Lenin, Trotsky, dan Rosa Luxemburg. Kita hanya perlu membuka kembali lembar-lembar karya mereka yang telah lama terkubur.  

Akhir kata, hanya karena masalah partai di dalam gerakan buruh telah terkedepankan tidak berarti bahwa kaum revolusioner lalu melupakan  atau abai membangun partai revolusioner mereka sendiri. Di atas segalanya dibutuhkan partai revolusioner, seperti yang telah kami paparkan di atas sebagai proposisi dasar dari semua diskusi ini. Kalau partai buruh massa terbentuk dan kaum revolusioner menemukan diri mereka dan partai revolusioner mereka tidak siap untuk melakukan intervensi di dalam partai buruh massa, maka semua pembicaraan mengenai partai buruh ini akan menjadi sia-sia. Partai buruh massa ini akan didominasi oleh reformisme dan akhirnya akan menemui kegagalan.

Hari ini perbedaan-perbedaan gagasan mengenai masalah orientasi ke organisasi reformis telah terkedepankan, tetapi pada akhirnya keseluruhan tugas kaum revolusioner hari ini masihlah berpusar pada masalah pembangunan partai kader. Ini adalah masalah yang masih belum terselesaikan sampai hari ini di antara kaum revolusioner, bahkan secara ideologis. Adalah sungguh menarik dan baik sekali untuk berdiskusi dan berdebat mengenai prospek kerja dan orientasi ke GBI, FSPMI, Partai Buruh Massa kalau kelak terbentuk, dan berbagai organisasi buruh reformis lainnya, tetapi kalau kaum revolusioner tidak membangun partai revolusioner mereka, tidak mempersiapkan fondasi politik dan organisasional dari partai mereka sendiri secara serius dan konsisten, maka semua ini akan menjadi usaha yang sia-sia. Sudah terlalu lama kaum revolusioner mengabaikan pembangunan partai, karena disibukkan dengan kerja-kerja lokal, kerja-kerja “advokasi”, kerja-kerja aktivisme, melompat dari satu kampanye ke kampanye lain, dari satu isu ke isu lain. Hari ini kaum revolusioner boleh saja tidak setuju mengenai masalah bagaimana melakukan kerja dan orientasi ke organisasi reformis. Tetapi masalah pembangunan partai kader revolusioner adalah satu hal yang sama sekali tidak bisa ditawar-tawar atau bahkan dipertanyakan.