facebooklogocolour

 

revolusi 1905

Bab 9. Tembakan Pertama Revolusi 1905

Revolusi Dimulai

Hanya dua hari sebelum Minggu Berdarah, Struve, seorang liberal mantan-Marxis, menulis di jurnalnya Osvobozhdenie: “Tidak ada yang namanya rakyat revolusioner di Rusia,” yang dibalas dengan tajam oleh Trotsky, “Mereka [kaum liberal] tidak mempercayai peran revolusioner kaum proletariat; sebaliknya, mereka percaya pada kekuatan petisi Zemstvo [merujuk pada kampanye perjamuan-makan-malam dan petisi yang diluncurkan para musim gugur tahun lalu oleh kaum liberal yang ada dalam Zemstvo], pada Witte, pada Svyatopolk Mirsky, pada dinamit. Tidak ada prasangka politik yang tidak mereka percayai. Kepercayaan kami terhadap proletariat adalah satu-satunya hal yang mereka anggap sebagai prasangka.”[1]

Pada 10 Januari, barikade-barikade muncul di St. Petersburg. Pada 17 Januari, 160.000 buruh mogok di 650 pabrik di ibu kota. Gerakan massa spontan yang bersolidaritas dengan buruh-buruh Petersburg menyebar ke seluruh penjuru bangsa. Peristiwa Minggu Berdarah menyebabkan reaksi segera dari kelas buruh. Pada Januari saja lebih dari 400.000 berpartisipasi dalam pemogokan-pemogokan di seluruh Rusia. Dari tanggal 14 sampai 20 Januari, ibukota Polandia ada dalam cengkeraman pemogokan umum revolusioner yang melibatkan pabrik-pabrik, kereta trem, supir kereta kuda dan bahkan dokter. Kota Petersburg, yang diduduki oleh tentara Rusia, terlihat seperti kamp tentara. Pada 16 Januari, kelompok-kelompok sosialis menyerukan sebuah demonstrasi yang dihadiri oleh 100.000 buruh. Tentara yang dikerahkan untuk membubarkan massa demonstran ini menembakkan 6000 peluru. Dalam tiga hari, menurut informasi dari pemerintah, 64 orang meninggal dan 69 terluka, dan dari yang terluka 29 kemudian mati. Keadaan darurat diberlakukan.

Daerah Baltik juga tersapu oleh gelombang revolusi. Riga, Revel, dan kota-kota lainnya juga terlibat dalam gerakan massa revolusioner. Pusatnya di Riga, dimana pada 13 Januari, 60 ribu buruh melakukan mogok umum politik, dan 15 ribu turun demo. Gubernur Jenderal Rusia, A.N. Neller-Zakomelsky, memerintahkan tentara untuk menembaki massa, membunuh 70 orang dan melukai 200. Di tengah penindasan yang kejam ini, gerakan pemogokan terus menyapu daerah-daerah Polandia dan Baltik seperti api liar. Situasi serupa juga terjadi di Caucasus dimana meledak sebuah pemogokan umum politik. Gerakan ini memotong semua garis nasional: buruh Polandia, Armenia, Georgia, Lituania, dan Yahudi mengekspresikan solidaritas mereka dengan saudara-saudari kelas Rusia mereka dengan cara yang paling praktis – dengan melawan autokrasi Rusia yang dibencinya. Yang paling serius dari semuanya, dari sudut pandang pemerintah, pemogokan buruh kereta api mulai terjadi di Saratov, di Rusia Sentral, pada 12 Januari, yang segera menyebar ke stasiun-stasiun kereta api lainnya, dan meluaskan gelombang revolusioner ini ke propinsi-propinsi yang paling terbelakang.

Gerakan buruh ini mengobarkan semua kelas di masyarakat. Langkah mundur yang diambil oleh pemerintah tidak hanya memberikan semangat kepada buruh, tetapi juga kaum kelas menengah, kaum borjuasi liberal, dan para mahasiswa. “Aksi para buruh memperkuat posisi elemen-elemen radikal di antara kaum intelektual seperti halnya konferensi Zemtsy sebelumnya memperkuat elemen-elemen oportunis.”[2] Gerakan ini membuat panik pemerintah. Setelah Minggu Berdarah, klik penguasa ingin bergerak dengan segera ke reaksi, seperti yang diindikasikan oleh pemecatan Svyatopolk Mirsky yang liberal, yang digantikan oleh birokrat konservatif Bulygin, dan pemberian kekuasaan diktatorial yang hampir absolut kepada Jenderal Trepov. Sekarang semua perhitungan mereka hancur berantakan. Di bawah tekanan gerakan pemogokan yang terus tumbuh, pada 18 Februari, Tsar mendeklarasikan Manifesto pertamanya, dimana dia mengisyaratkan pembentukan konstitusi dan perwakilan rakyat. Dengan aksinya yang tersatukan, dalam satu minggu kelas buruh telah mencapai lebih dari yang dicapai oleh bertahun-tahun pidato dan petisi-petisi dan jamuan-jamuan makan malam kaum borjuasi liberal.

Guncangan yang menyusul dari 9 Januari mendorong seluruh gerakan ke kiri. Arus gerakan mulai mengalir ke arah aksi revolusioner dan Sosial Demokrasi revolusioner. Para buruh Bolshevik dan Menshevik, yang kemarin hari dijauhi dan tidak dipercayai oleh kawan-kawan buruh mereka, hari ini terdorong ke depan di setiap pabrik. Sungguh mustahil untuk melebih-lebihkan pentingnya peran para agitator buruh yang sadar-kelas dalam gelombang pemogokan yang sedang bergulir ini, kendati karakternya yang tampak spontan. Aktivitas para revolusioner ini sangat terbantu oleh Jenderal Trepov yang mengasingkan sejumlah besar “pembuat masalah ini” dari kota St. Petersburg ke propinsi-propinsi, dimana mereka lalu berperan sebagai agitator.

Setelah Minggu Berdarah, seluruh situasi berubah dengan drastis. Peluang yang ada di hadapan kaum Marxis Rusia sekarang menjadi luar biasa besar. Tetapi Partai, yang masih terpukul akibat perpecahan, ada dalam kondisi yang sangat lemah untuk bisa mengambil keuntungan dari peluang-peluang yang ada. Kalau kita baca surat-surat Lenin pada saat itu, akan terungkap situasi organisasi yang tidak memadai, terutama dalam hal kontak antara aktivis-aktivis Bolshevik di dalam Rusia dan pusat kepemimpinan di luar negeri:

“Situasi yang baik: kita berbicara mengenai organisasi, mengenai sentralisme, tetapi sesungguhnya ada perpecahan yang besar, ada keamatiran yang begitu besar bahkan di antara kamerad-kamerad di pusat, yang membuat kita ingin tertawa karena muak. Coba lihat kaum Bundist: mereka tidak mengoceh panjang lebar mengenai sentralisme, tetapi setiap anggota mereka menulis ke pusat setiap minggu dan komunikasi oleh karenanya benar-benar terjaga... Sungguh, kadang-kadang saya merasa bahwa sembilan dari sepuluh kaum Bolshevik sesungguhnya adalah formalis. Kita harus menyatukan semua yang ingin berjuang ke dalam sebuah organisasi yang benar-benar kokoh seperti baja, dan dengan partai yang kecil tetapi kuat ini menghancurkan elemen-elemen Iskra baru [Menshevik] yang bermacam-macam itu; atau kita akan membuktikan lewat kelakuan kita bahwa kita patut hancur karena kita adalah kaum formalis yang memuakkan...

“Kaum Menshevik punya lebih banyak uang, lebih banyak literatur, lebih banyak fasilitas transportasi, lebih banyak agen dan lebih banyak ‘nama’, dan lebih banyak kontributor. Sungguh kekanak-kanakan kalau kita tidak menyadari ini.”[3]

Walaupun Lenin mungkin agak berlebihan karena dia merasa frustrasi dan tidak sabar, tuduhan formalisme yang diarahkan ke sejumlah kaum profesional Bolshevik di dalam Rusia bukanlah kebetulan. Dimulai dari posisi superior di antara para aktivis Partai di Rusia, para perangkat partai (committee-men) Bolshevik gagal merespons dengan fleksibilitas yang dibutuhkan ketika secara tak terduga dihadapkan dengan gerakan massa yang meledak-ledak. Oleh karenanya mereka membuat banyak kesalahan dan sering kehilangan inisiatif. Dalam sebuah situasi dimana ratusan ribu buruh dan kaum muda sedang memasuki arena politik, sedang mencari jalan revolusioner, maka kebutuhan yang paling mendesak adalah membuka pintu Partai, dan menerima masuk elemen-elemen terbaik dari massa. Tetapi para birokrat ini, yang terbiasa bekerja di bawah tanah dan dalam lingkaran kecil, ternyata ragu-ragu untuk memberikan ruang bagi lapisan-lapisan yang baru dan segar. Mereka beralasan: bukankah perbedaan utama antara Lenin dan Martov pada Kongres Kedua adalah perlunya menjaga kemurnian revolusioner dari para pelopor revolusioner dengan tidak membanjirinya dengan terlalu banyak elemen-elemen yang mentah dan tidak terdidik? Kita tidak boleh mencairkan keanggotaan kita!

Akan tetapi, Lenin yang pada 1903 berargumen mendukung pengetatan keanggotaan Partai, sekarang berargumen bahkan lebih keras untuk membuka pintu dan jendela Partai dan menerima masuk sebanyak mungkin buruh dan kaum muda. Dia menegaskan, “Kita membutuhkan kekuatan anak-anak muda. Saya akan mengecam siapapun yang berasumsi bahwa tidak ada orang yang bisa direkrut. Rakyat Rusia sangatlah besar. Yang perlu kita lakukan adalah merekrut anak-anak muda dengan lebih luas dan lebih berani, dengan lebih berani dan lebih luas, dan sekali lagi dengan lebih berani tanpa takut terhadap mereka. Ini adalah waktunya perang. Kaum muda – para pelajar dan terutama kaum buruh muda – akan menentukan hasil dari seluruh perjuangan ini. Singkirkan semua kebiasaan pasif yang lama, kebiasaan hormat jabatan dan lain-lain. Bentuk ratusan lingkaran Vperyodist [Bolshevik] di antara kaum muda dan dorong mereka untuk bekerja keras. Perbesar Komite tiga kali lipat dengan menerima kaum muda ke dalamnya, bentuk setengah lusin sub-komite, ‘kooptasi’ setiap orang yang jujur dan energetik. Perbolehkan setiap sub-komite untuk menulis dan menerbitkan selebaran dan tanpa halangan birokratis apapun (tidak apa-apa kalau mereka membuat kesalahan, kita yang di Vperyod dengan ‘sabar’ akan memperbaiki mereka). Kita harus, dengan teramat segera, menyatukan semua orang yang punya inisiatif revolusioner dan segera mengirim mereka untuk bekerja. Jangan takut kalau mereka kurang terlatih, jangan takut kalau mereka tidak berpengalaman danbelum berkembang... [karena] peristiwa-peristiwa yang akan mengajari mereka dalam semangat kita. Peristiwa-peristiwa sudah mengajar semua orang dalam semangat Vperyod.

“Kalian harus mengorganisir, mengorganisir, dan mengorganisir ratusan lingkaran, dan menyingkirkan semua kebodohan komite (hierarki) yang lama. Ini adalah waktunya perang. Kalian harus membentuk organisasi-organisasi perjuangan yang baru, muda, segar, dan energetik dimana-mana untuk kerja Sosial Demokratik revolusioner dalam berbagai bentuk di antara semua strata, atau kalian akan hancur, dengan memakai lingkaran suci birokrat ‘komite’.”[4]

Mengingatkan kamerad-kameradnya bahwa “kekuatan dari sebuah organisasi revolusioner ada dalam berapa banyak kontaknya”, Lenin menulis ke Gusev pada 15 Februari: “Seorang revolusioner yang profesional harus membangun lusinan kontak baru di setiap daerah, dan memberi mereka kerja selama dia ada bersama dengan mereka, mendidik mereka dan meningkatkan level politik mereka bukan dengan menceramahi mereka tetapi lewat kerja. Lalu dia harus pergi ke daerah lain dan setelah satu atau dua bulan kembali untuk memeriksa orang-orang muda yang telah menggantikannya. Saya yakin di antara kita ada semacam ketakutan yang idiotik, filistin, dan seperti-Oblomov[5] terhadap kaum muda. Saya tekankan kepadamu: lawan rasa takut ini dengan segala kekuatanmu.”[6]

Baris-baris surat ini dengan jelas menunjukkan seluruh esensi dari metodenya Lenin, terutama dalam masalah organisasional. Walaupun dia menekankan perlunya sebuah organisasi revolusioner yang kuat dan tersentralisir, sikap Lenin terhadap masalah organisasional sangatlah fleksibel. Setelah Kongres Kedua, kaum Menshevik mencoba membuat karikatur Lenin sebagai seorang birokrat, yang ingin menciptakan sebuah partai yang terdiri dari sekelompok elit revolusioner yang profesional, yang tidak melibatkan kaum buruh yang harus tunduk pada perintah dari “pusat yang berkuasa”. Karikatur ini, yang telah dengan keji diulang-ulang dan dibesar-besarkan oleh sejarawan borjuis, sungguh berkebalikan dengan kebenaran yang ada, seperti yang ditunjukkan oleh surat di atas.

Komisi Shidlovsky

Sadar akan bahaya yang mengancamnya dari semua sisi, rejim Tsar merespons dengan gabungan kekejaman dan penipuan. Sementara berusaha menghancurkan gerakan ini dengan penangkapan, deportasi, hukum darurat dan pogrom, pemerintah Tsar pada saat yang sama juga mencoba menyejukkan hati kaum borjuasi liberal dengan Manifesto 18 Februari dan meluncurkan manuver untuk memecah-belah dan membingungkan kelas buruh. Dengan menggunakan taktik lama kelas penguasa di semua negeri setiap kali mereka merasa tersudut, pemerintahan Tsar membentuk sebuah komisi yang diketuai oleh Senator Shidlovsky “untuk menyelidiki sebab musabab kekecewaan di antara buruh.” Tujuan taktik ini jelas adalah untuk mencoba menenangkan situasi, mengalihkan buruh dari aksi revolusioner dan mencegah mereka bergerak ke arah Marxisme. Dalam langkah yang tidak ada preseden, pemerintah mengumumkan bahwa kaum buruh akan diwakili dalam komisi ini lewat delegasi-delegasi terpilih.

Manuver ini mengedepankan masalah taktikal untuk kaum Marxis. Di satu pihak, tujuan reaksioner dari pemerintah sangatlah jelas. Di pihak lain, menolak untuk berpartisipasi akan berarti menolak peluang besar untuk membawa gagasan sosialisme revolusioner ke massa buruh. Bagi para pemimpin Menshevik, dengan kecenderungan-kecenderungan oportunis mereka, ini bukanlah masalah sama sekali. Mereka dengan segera menganjurkan menggunakan komisi ini sebagai sebuah “tribune” untuk berbicara kepada buruh seluruh Rusia. Akan tetapi di antara kaum Bolshevik di Petersburg mood yang ada awalnya adalah memboikot komisi ini. Mood yang serupa juga ada di antara para buruh Menshevik yang lebih kiri daripada para pemimpin mereka yang di pengasingan. Di Kongres Ketiga, Rumyantsev (“Filipov” dalam notulen) menyatakan bahwa “tidak ada perbedaan mengenai perlunya memboikot komisi [Shidlovsky].” Akan tetapi, mood buruh secara umum adalah mendukung partisipasi, dan kaum Bolshevik segera mengubah posisi mereka untuk berpartisipasi, setidaknya dalam pemilihan delegasi, dan mengambil kesempatan penuh dari peluang legal untuk beragitasi di antara lapisan buruh yang lebih luas daripada yang biasanya memungkinkan.

Gerakan pemogokan terus berlanjut dan menjadi semakin intens. Tuntutan-tuntutan yang dikedepankan oleh buruh bermacam-macam, dari tuntutan air panas untuk teh dan toilet, sampai ke tuntutan delapan-jam kerja dan dewan konstituante. Tuntutan-tuntutan yang belakangan menunjukkan pengaruh dari gagasan-gagasan Sosial Demokratik. Yang lebih signifikan adalah tuntutan untuk hak memilih delegasi-delegasi dan agar para perwakilan ini memiliki imunitas. Ini sudah mengantisipasi pembentukan soviet pada bulan-bulan mendatang. Bila pemerintah berpikir bahwa pembentukan sebuah komisi akan menghentikan gerakan massa, maka mereka akan terbangunkan dari mimpi mereka. Surh menulis, “Dibandingkan dengan para perwakilan mereka, para buruh anggota lebih keras kepala dan tidak ingin menunda pemogokan dan tidak ingin mempercayai komisi ini.”

Melalui perjuangan kolektif kaum buruh mulai menyadari kekuatan mereka sebagai sebuah kelas, dan harga diri mereka sebagai manusia. Satu tuntutan yang umum, yang merefleksikan bangkitnya kesadaran buruh, adalah tuntutan agar para manajer dan mandor memperlakukan buruh dengan lebih sopan. Tuntutan dari Putilov: “Perlakuan yang sopan dari manajemen pabrik terhadap semua buruh tanpa pengecualian, dan tidak lagi memanggil buruh dengan kata panggilan ‘ty’ [Di Rusia, ‘ty’ adalah kata panggilan ‘kamu’ yang digunakan untuk memanggil anak kecil dan orang-orang yang status sosialnya lebih rendah, seperti kaum hamba dan pembantu rumah tangga].” Para buruh di Galangan Kapal Baltik menyatakan bahwa “para mandor, asisten mandor, dan seluruh manajemen secara umum harus memperlakukan buruh seperti manusia dan bukan seperti benda mati... dan bukan dengan kata-kata yang kasar dan berlebihan.”[7]

Buruh menuntut dipecatnya para mandor yang tidak mereka sukai, dan sering kali ini dilakukan secara langsung. Buruh akan memasukkan sang mandor tersebut ke dalam karung dan melemparnya keluar dari pabrik. Pada 18 Maret, Inspektur Pabrik menemukan 20 kasus seperti ini di St. Petersburg. Setelah dua mandor dikarung di Pabrik Putilov, para mandor tampaknya mulai belajar tata krama dan berlaku sangat sopan terhadap buruh. Rasa percaya diri baru dari kelas buruh yang terbangunkan ini adalah lahan subur untuk agitasi revolusioner. Mengambil peluang legal yang terbuka ini, para agitator Bolshevik dan Menshevik membanjiri pabrik-pabrik dengan selebaran mereka, dan memberikan banyak ceramah di banyak rapat akbar. Taktik kedua faksi ini adalah untuk berpartisipasi dalam pemilihan perwakilan komisi Shidlovsky, untuk menggunakan pemilihan-pemilihan ini sebagai platform untuk meraih telinga massa buruh luas, tetapi menolak untuk berpartisipasi dalam komisi tersebut sampai sejumlah tuntutan tertentu terpenuhi.

Peristiwa-peristiwa selanjutnya membuktikan ketepatan dari keputusan untuk berpartisipasi dalam kampanye seputar pemilihan komisi Shidlovsky. Pada 17 Februari, 400 kandidat turut serta dalam pemilihan, 20 persen darinya adalah kaum Sosial Demokrat, 40 persen “buruh-buruh radikal” dan sisanya buruh-buruh “Ekonomis” dan lain-lain. Kendati berada dalam minoritas, para kandidat Bolshevik punya pengaruh yang besar dalampertemuan-pertemuan buruh. Penangkapan sejumlah kandidat membangkitkan kemarahan dan militansi buruh. Kaum Bolshevik menyerukan ultimatum kepada Senator Shidlovsky: menuntut kebebasan berpendapat dan berkumpul, hak bagi para kandidat untuk melakukan aktivitas mereka tanpa gangguan, hak untuk bertemu dan berdiskusi dengan bebas dengan para buruh, dan dibebaskannya kamerad-kamerad mereka yang ditangkap. Tetapi ketika, pada esok harinya, pengambilan suara hendak dilaksanakan, pemerintah memutuskan bahwa situasi sudah terlalu kacau dan menolak memenuhi tuntutan-tuntutan buruh. Ini disusul dengan kampanye boikot. Setelah melalui pengalaman komisi Shidlovsky bersama-sama dengan para buruh, sekarang menjadi relatif lebih mudah untuk mengekspos kepalsuan dari manuver komisi Shidlovsky, sementara pada saat yang sama beragitasi untuk 8-jam-kerja, jamsostek, pemilu demokratis, dan penghentian perang. Tiga hari kemudian pihak otoritas membatalkan komisi Shidlovsky, yang merupakan satu-satunya usaha untuk menyelesaikan masalah buruh lewat cara legal. Sementara para buruh telah mendapatkan pelajaran besar dari pengalaman ini, yang lalu menjadi preseden penting untuk pemilihan perwakilan buruh yang memainkan peran dalam pembentukan Soviet Petersburg di kemudian hari.

Lenin sangat memahami bahwa semua manifesto-manifesto, komisi-komisi dan janji-janji reforma hanya selubung asap untuk mengecoh rakyat. Di balik selubung asap tersebut reaksi sedang mengulur waktu dan mempersiapkan serangan balik. Waktu oleh karenanya sangatlah penting. Dalam serangkaian artikel-artikel yang mengalir tanpa henti, dia menyerang kaum liberal dengan ilusi-ilusi mereka terhadap reforma konstitusi yang damai, dan mengecam kaum Menshevik karena memiliki ilusi terhadap kaum liberal. Salah satu kejeniusan politik Lenin adalah kemampuannya untuk memisahkan yang esensial dariyang tidak esensial, dan memahami inti permasalahan yang ada. Dia dengan cepat menyadari bahwa sekarang hanya ada dua jalan. Sudah tidak ada lagi waktu untuk terombang-ambing. Kelas buruh, di bawah kepemimpinan revolusioner yang sadar, harus berhasil menyatukan semua rakyat tertindas di bawah kepemimpinannya, terutama kaum tani miskin dan bangsa-bangsa yang tertindas, dan harus menghancurkan kekuasaan Tsarisme dengan pemberontakan bersenjata. Atau kekuatan reaksi gelap akan menghancurkan revolusi, dan menghantarkan balas dendam yang berdarah-darah terhadap kelas buruh. Tidak ada jalan tengah. Oleh karenanya, semuanya bertumpu pada kemampuan kaum Marxis untuk memenangkan mayoritas kelas buruh dan secepat mungkin melakukan persiapan politik, organisasional, dan material yang dibutuhkan untuk pemberontakan bersenjata secara nasional. Gagasan ini adalah inti dari semua pernyataan Lenin selama tahun 1905 dan menjelaskan urgensi dan ketajaman dari korespondensinya dengan kaum Bolshevik di dalam Rusia. Tidak boleh buang-buang waktu lagi.

Manusia berubah. Dalam revolusi seorang dapat berubah dengan sangat cepat. Pada awal Februari, Gapon sendiri, setelah secara sementara terdorong ke kiri oleh pengalaman-pengalamannya, menerbitkan sebuah “Surat Terbuka Untuk Partai-partai Sosialis Seluruh Rusia”, yang juga menyerukan pemberontakan bersenjata: “Saya menyerukan kepada semua partai-partai sosialis Rusia untuk masuk ke dalam persetujuan bersama dan untuk memulai pemberontakan bersenjata melawan Tsarisme. Semua kekuatan dari setiap partai harus dimobilisasi. Semua partai harus punya satu rencana aksi yang tunggal... Tujuan segeranya adalah menumbangkan autokrasi ini, dan membentuk sebuah pemerintahan revolusioner provisional yang akan dengan segera memberikan amnesti kepada semua pejuang kebebasan politik, religius, dan segera mempersenjatai rakyat, dan segera menyelenggarakan Majelis Konstituante di atas basis pemilu yang universal, adil, dan langsung dengan kertas suara rahasia.”[8]

Seruan Gapon mendapatkan sambutan hangat dari Lenin, yang dalam artikelnya “A Militant Agreement for the Uprising” menekankan perlunya pembentukan front persatuan dari seluruh kekuatan revolusioner untuk mempersiapkan pemberontakan, di atas dasar slogan “berbaris terpisah dan memukul bersama”. Akan tetapi, dalam artikel ini dan dalam artikel-artikel lainnya, Lenin dengan tegas menekankan keharusan yang absolut untuk mempertahankan kemandirian politik penuh dari kelas buruh dan partainya: “Partai proletariat revolusioner yang sepenuhnya Marxis dan mandiri bersumpah hanya untuk kemenangan sosialisme dan dengan langkah tegas menempuh jalan menuju kemenangan tersebut. Oleh karenanya, kita tidak boleh, bahkan pada momen yang paling revolusioner, mencampakkan kemandirian penuh dari Partai Sosial Demokratik atau keteguhan ideologi kita.”

Di bawah tekanan gerakan massa, kaum Menshevik, terutama yang ada di lapangan di Rusia, mulai bergerak ke kiri. Tidak hanya koran Bolshevik Vperyod, tetapi juga koran Menshevik Iskra menerbitkan artikel-artikel dan foto-foto bentrokan di jalan-jalan. Akan tetapi, tendensi oportunis yang sudah tampak jelas sebelum 9 Januari terungkap ketika kaum Menshevik membesar-besarkan peran yang dimainkan oleh kaum liberal, dan ketika Martov bersikeras menekankan persiapan politik dan bukannya persiapan teknikal massa untuk pemberontakan bersenjata. Lenin dengan tajam mengomentari ini: “Pemisahan sisi ‘teknikal’ revolusi dari sisi politik revolusi adalah omong kosong terbesar.”[9]

Masalah mempersenjatai buruh, yang berulang kali ditekankan oleh Lenin, mengalir dari kebutuhan pada saat itu. Sementara mengeluarkan pernyataan-pernyataan konsiliasi, pemerintah dengan sistematis sedang mempersiapkan kekuatan-kekuatan reaksi. Terguncang oleh solidaritas antara buruh dari berbagai bangsa, pemerintah mencoba menghancurkan persatuan ini dengan mengorganisir pogrom. Sejak awal Februari, agen-agen bayaran rejim memprovokasi kaum Tartar di Baku untuk melakukan pembantaian terhadap kaum Armenia di kota tersebut. Sepanjang 1905, di seluruh Rusia, gerombolan-gerombolan orang disuap dengan uang dan minuman keras vodka oleh polisi untuk memukuli dan membunuhi kaum Yahudi, kaum sosialis dan kaum pelajar. Berbagai organisasi partai bekerja sama mengorganisasi pertahanan buruh. Untuk alasan-alasan praktis, persekutuan dicapai yang melibatkan kaum Bolshevik, kaum Menshevik, kaum Bund, kaum sosialis dari berbagai nasionalitas, dan bahkan organisasi-organisasi borjuis kecil seperti Partai Sosialis Polandia yang nasionalis, dan kaum Sosialis-Revolusioner.

Secara teori, tidak ada salahnya, di bawah kondisi seperti ini, untuk mencapai persekutuan yang praktis dan episodik bahkan dengan kaum liberal borjuis, misalnya untuk pertahanan bersama melawan para perusuh pogrom, sementara mempertahankan sepenuhnya kemandirian politik dan organisasi. Tetapi pada kenyataannya, persekutuan dengan kaum liberal ini secara efektif tidak ada. Kaum liberal berusaha keras berkompromi dengan rejim Tsar, dan bukannya mempersiapkan pemberontakan bersenjata. Mereka bersandar pada gerakan massa guna menakut-nakuti rejim agar memberikan konstitusi. Artikel-artikel Lenin pada periode ini penuh dengan kecaman-kecaman tajam terhadap kaum liberal, dan memperingatkan rakyat akan bahaya pengkhianatan mereka dan melawan usaha kaum Menshevik yang ingin mengaburkan garis pemisah antara kelas buruh dan kaum liberal borjuis dan ingin menumbuhkan ilusi terhadap kaum liberal.

Lenin dan “Perangkat Partai” (“Committee-Men”)

Sejumlah orang telah mencoba mencari “dosa awal” Stalinisme dalam metode sentralisme demokratis Lenin. Sebenarnya, metode organisasional Bolshevisme dipenuhi dari atas hingga bawah dengan semangat demokrasi, dan tidak ada kesamaan sama sekali dengan karikatur birokrasi yang mengerikan itu. Sentralisme dibutuhkan dalam setiap organisasi yang serius, entah itu stasiun kereta api atau partai revolusioner. Setiap partai politik, setiap organisasi yang stabil, selalu memiliki sisi konservatif. Kebutuhan untuk menyediakan logistik agar dapat bergerak dari ranah teori ke ranah praktek menuntut dibentuknya sebuah aparatus. Prinsip hidup dari sebuah aparatus adalah rutinitas: seribu satu tugas-tugas organisasional untuk mengumpulkan uang, mengelola distribusi dan penjualan literatur dan sebagainya. Ini semua membutuhkan perhatian yang teramat cermat dan terperinci. Tanpa ini, mustahil membangun sebuah partai. Sejak awal, sejumlah orang harus didedikasikan untuk tugas-tugas ini. Seiring dengan tumbuhnya partai, jumlah mereka meningkat. Bila langkah-langkah khusus tidak diambil untuk terus meningkatkan level teori dan memperluas wawasan kamerad-kamerad ini, tendensi birokratisme yang sempit dapat perlahan-lahan merasuki organisasi, dan ini dapat memainkan peran yang berbahaya di bawah situasi tertentu. Secara tidak sadar atau setengah-sadar, mereka bisa mulai berpikir bahwa hal-hal yang bersifat organisasional adalah yang terpenting, sementara gagasan, prinsip, dan teori dianggap sebagai sesuatu yang sekunder. Pendapat, inisiatif, dan kritik dari buruh dan anggota dianggap sebagai beban yang tak diperlukan, yang tidak sesuai dengan prinsip sentralisme atau kontrol dari atas.

Kita tidak bisa membantah bahwa ada elemen-elemen seperti ini dalam Partai Bolshevik (seperti halnya dalam setiap partai). Tetapi usaha para sejarawan borjuis untuk menghubungkan ini dengan Stalinisme dan menyalahkan “sentralisme kejam” Lenin adalah pemalsuan yang sangat keji. Malangnya, selapisan organisator Bolshevik di Rusia, yang disebut committee-men (perangkat partai), kerap kali bertingkah laku seperti karikatur yang diciptakan oleh kaum Menshevik. Mereka menafsirkan gagasan-gagasan organisasional Lenin seperti formula yang kaku dan abadi, yang diterapkan secara mekanis, tanpa memedulikan situasi yang ada. Bahkan gagasan yang paling tepat sekalipun, bila diterapkan melewati batasan tertentu, akan berubah menjadi kebalikannya. Dengan memuja-muja bentuk organisasi, dan tidak memedulikan metode dialektis dalam menerapkan gagasan-gagasan ini dalam situasi yang berubah-ubah dengan cepat, kendati kapasitas mereka untuk berkorban dan bekerja kerja, para perangkat partai ini sering kali memainkan peran yang negatif dalam perkembangan Partai. Lenin harus mengoreksi ini dengan intervensinya. Melihat kembali ke periode ini pada akhir hidupnya, Trotsky meringkas posisi Lenin seperti berikut:

“Lenin lebih paham daripada siapapun akan pentingnya sebuah organisasi yang tersentralisir. Tetapi di atas segalanya, dia melihat organisasi yang tersentralisir ini sebagai sebuah tuas untuk mengembangkan aktivitas dari para buruh yang maju. Dia membenci pemujaan terhadap mesin politik. ... Kebiasaan-kebiasaan yang biasanya ditemui dalam mesin politik sudah mulai terbentuk di bawah tanah. Para birokrat-birokrat revolusioner muda sudah bermunculan. Kondisi kerja bawah tanah memberikan ruang yang sempit untuk formalitas-formalitas demokrasi seperti pemilihan, akuntabilitas, dan kontrol. Yah, tak disangkal para perangkat partai mempersempit ruang ini lebih dari yang dibutuhkan dan mereka lebih keras dan ketat terhadap buruh-buruh revolusioner ketimbang diri mereka sendiri. Mereka lebih suka mendominasi bahkan pada momen-momen ketika mereka seharusnya mendengar suara massa.”[10]

Kecenderungan rutinisme dan konservatisme ada di setiap aparatus, seperti yang diketahui oleh setiap aktivis serikat buruh dari pengalaman pahit mereka. Elemen-elemen ini, seperti yang kita katakan, juga ada dalam Partai Bolshevik, tetapi mereka lebih lemah dalam Partai Bolshevik dibandingkan dalam partai politik manapun dalam sejarah – dan tentunya lebih lemah dibandingkan dalam partai-partai Sosial Demokrasi dan serikat-serikat buruh reformis yang sepenuhnya didominasi oleh mesin-mesin birokrat dan klik-klik parlementer yang paling buruk, yang sejak awal telah menjual jiwa mereka kepada kelas yang berpunya. Politisi-politisi seperti Tony Blair[11] atau Felipe Gonzalez[12], yang berpura-pura merasa muak pada kengerian teori sentralisme demokratis “Leninis”, menjalankan partai-partai mereka di atas garis yang sepenuhnya birokratis, sentralis, dan diktatorial. Sentralisme ini merefleksikan, di satu pihak, kepentingan, gaji dan privilese aparatus, dan di lain pihak tekanan dari korporasi-korporasi raksasa yang menginginkan gerakan buruh tunduk di bawah disiplin mereka. Sungguh sebuah kemunafikan kalau orang-orang seperti ini menuding Lenin.

Trotsky menjawab serangan-serangan sinis terhadap Lenin dan Bolshevisme ini:

“Dalam kaitannya dengan ini, sangatlah menggoda untuk menarik kesimpulan bahwa Stalinisme yang muncul di masa depan sesungguhnya sudah berakar dalam sentralisme Bolshevisme atau, dengan lebih luas, dalam hierarki bawah tanah dari kaum revolusioner profesional. Tetapi ketika kita menganalisis ini, kesimpulan tersebut hancur menjadi debu, dan terekspos tak memiliki konten sejarah sama sekali. Tentu saja ada bahaya dalam satu bentuk atau lainnya ketika kita dengan ketat memilah-milah orang-orang yang berpikiran lebih maju dan menyatukan mereka ke dalam sebuah organisasi yang sangatlah tersentralisir. Tetapi akar dari bahaya ini tidak akan pernah ditemui dari apa yang disebut ‘prinsip’ sentralisme. Sebaliknya, akar dari bahaya ini ditemui dari tidak homogennya kaum buruh dan keterbelakangan mereka – yakni, dalam kondisi-kondisi sosial secara umum yang meniscayakan kepemimpinan kelas yang terpusat oleh lapisan pelopornya. Kunci dari dinamika kepemimpinan ini sesungguhnya terdapat dalam relasi antara mesin politik dan partainya, antara kaum pelopor dan kelasnya, antara sentralisme dan demokrasi. Relasi-relasi ini, karena watak dasar mereka, tidak dapat ditentukan terlebih dahulu dan akan terus berubah-ubah. Relasi-relasi ini tergantung pada kondisi-kondisi sejarah yang konkret. Keseimbangan yang terus bergerak dari relasi-relasi ini diatur oleh perjuangan antara tendensi-tendensi, yang diwakili oleh sayap-sayap ekstrem mereka, yang berayun-ayun antara despotisme mesin politik dan keimpotenan retorika.”[13]

Seperti penulis-penulis borjuis lainnya, Solomon Schwarz mendistorsi sepenuhnya gagasan-gagasan Lenin mengenai organisasi. Dia mencoba menggambarkan Lenin sebagai seseorang yang berpihak pada kaum intelektual birokratik yang menentang kaum buruh, dengan mengutip notulen-notulen dari Kongres Ketiga. Namun kutipan-kutipan yang dia gunakan justru membuktikan sebaliknya. Solomon terpaksa mengakui bahwa masalah-masalah serupa juga ada dalam organisasi Menshevik. Ini jelas dari diskusi-diskusi mengenai organisasi pada Konferensi Aktivis Partai Seluruh Rusia di Jenewa pada April-Mei 1905, dan dari surat-surat para pemimpin Menshevik yang terkemuka. Dalam pamflet berjudul “Workers and Intelligentsia in our Organizations”, yang ditulis oleh “Seorang Buruh” dan diterbitkan pada 1904 dengan pengantar dari Axelrod, sang penulis mengatakan: “Lebih baik tidak berilusi mengenai para intelektual pengikut Martov juga.”

Pada Maret 1905, Gusev, sekretaris komite Petersburg dan Biro Komite Mayoritas menulis ke pusat di luar negeri: “Kita membutuhkan sebuah pernyataan mengenai masalah organisasi, terutama mengenai masalah menarik buruh ke dalam komite-komite. Kita harus menekankan pentingnya kriteria untuk melibatkan buruh. Kriterianya tidak boleh sebanyak apa sang buruh telah membaca, tetapi sebesar apa semangat revolusioner, komitmen, energi dan pengaruh sang buruh tersebut. Belakangan ini banyak sekali orang-orang seperti ini, dan kebanyakan di antara buruh-buruh yang tidak terorganisir, kebanyakan dari mereka masihlah muda dan tidak punya kualitas pemimpin politik. Walaupun mereka membaca banyak literatur sosial demokratik. Lalu, saya telah menulis kepada Anda mengenai memindahkan markas organisasi kita dan kerja rahasia kita ke rumah-rumah buruh. Secara konkret, ini berarti sebagian dari kekuatan-kekuatan ilegal kita yang terbaik harus diproletarkan.”[14]

Akar dari masalah yang dihadapi oleh Partai adalah: bagaimana membentuk hubungan yang kuat antara kekuatan barisan pelopor revolusioner yang relatif kecil dengan massa buruh dan kaum muda yang sedang bergerak? Revolusi tidaklah bergulir secara teratur seperti orkestra musik di bawah tongkat seorang konduktor. Revolusi adalah sebuah peristiwa yang melibatkan kekuatan-kekuatan yang hidup, sebuah persamaan yang bahkan lebih rumit daripada perang antar bangsa-bangsa. Peristiwa Minggu Berdarah dan peristiwa-peristiwa selanjutnya adalah mobilisasi umum kelas buruh. Tetapi kelas ini, karena baru saja pulih dari ilusi-ilusi mereka yang naif dan baru saja mencoba mencari jalan menuju perubahan masyarakat yang sepenuhnya, terus tersandung oleh ribuan rintangan yang ada di jalannya. Mereka belum memiliki jenderal-jenderal yang siap menunjukkan jalan menuju kemenangan. Bahkan tentara-tentara yang paling beranipun tidak akan pernah bisa memenangkan peperangan tanpa jenderal-jenderal yang ulung. Tetapi jenderal-jenderal yang terbaikpun tidak akan bisa melakukan apa-apa kalau mereka tidak punya tentara.

Pada saat itu, para pemimpin utama Bolshevik maupun Menshevik belumlah kembali ke Rusia. Martov hanya kembali ke Rusia setelah 17 Oktober [1905]. Lenin menyusul tidak lama kemudian, pada 4 November. Satu-satunya yang ada di Rusia lebih awal adalah Trotsky, yang tiba di Kiev pada bulan Februari. Di sana dia membangun hubungan erat dengan pemimpin kunci Bolshevik di Rusia pada saat itu, Leonid Krassin. Krassin bertanggung jawab atas sebuah mesin cetak besar yang disembunyikan di daerah Caucasus. Tetapi perannya lebih dari itu. Dia adalah seorang insinyur muda yang bertalenta, dan adalah prototipe organisator Bolshevik. Dia adalah seorang organisator yang luar biasa.

Trotsky menulis di buku otobiografinya:

“Partai [Buruh Sosial Demokrasi Rusia], seperti revolusi [1905], masihlah muda pada saat itu, dan kita bisa dikejutkan oleh kurangnya pengalaman dari para anggota partai dan tindakan-tindakan mereka. Krassin juga tidak luput dari ini. Tetapi ada sesuatu yang teguh, tegas, dan ‘administratif’ mengenai dia. Dia adalah seorang insinyur dengan sejumlah pengalaman. Dia punya pekerjaan yang bergaji besar. Dia dihargai oleh bosnya, dan punya lingkaran kenalan-kenalan yang lebih besar dan beragam daripada para revolusioner muda lainnya pada saat itu. Di rumah-rumah buruh, di apartemen-apartemen para insinyur, di rumah-rumah besar para industrialis liberal di Moskow, di lingkaran-lingkaran klub studi – dimana-mana, Krassin punya koneksi. Dia mahir menggunakan koneksi-koneksi ini, dan oleh karenanya peluang-peluang yang biasanya tertutup bagi yang lain terbuka untuknya. Pada tahun 1905, selain melakukan kerja-kerja reguler untuk partai, Krassin juga bertanggung jawab atas kerja-kerja yang paling berbahaya, seperti unit-unit bersenjata, pembelian senjata, persiapan bahan-bahan peledak, dan sebagainya. Walau dia berwawasan luas, dia adalah seorang yang mengejar pencapaian segera, dalam politik dan juga dalam kehidupannya. Ini adalah kekuatannya, tetapi juga kelemahan terbesarnya.”[15]

Lenin sangat menghargai orang-orang seperti Krassin yang melakukan kerja partai dengan efisien, tanpa banyak ribut-ribut, dan tanpa banyak cerewet. Krassin bekerja di bawah tanah, dan dia memainkan peran yang tak ternilai dalam membangun partai selama periode yang penuh gejolak ini. Secara politik, Krassin adalah seorang konsiliator. Tetapi mood konsiliasi adalah mood yang biasa ada di antara para aktivis Partai di Rusia, dan terutama juga di antara para buruh, seperti yang terpapar jelas dalam laporan delegasi Petersburg: “Belakangan ini, tuntutan untuk mengakhiri perpecahan [antara Bolshevik dan Menshevik] telah menjadi begitu luas. Buruh-buruh Bolshevik dan Menshevik mengadakan pertemuan-pertemuan bersama, dengan atau tanpa kehadiran kaum intelektual, dan dimana-mana tuntutan untuk unifikasi [antara Bolshevik dan Menshevik] diajukan.”[16] Entah bagaimana, perpecahan dalam partai harus diselesaikan.

Solusi yang jelas adalah menyelenggarakan kongres partai. Selama berbulan-bulan kaum Bolshevik telah beragitasi untuk penyelenggaraan Kongres Partai Ketiga, tetapi kaum Menshevik, karena takut kalau-kalau mereka akan jadi minoritas dalam kongres ini, terus menghalang-halangi kongres ini. Pada awal Februari, polisi menggerebek apartemen penulis Leonid Andreyev di Moskow, dan menciduk semua anggota Komite Pusat (kebanyakan kaum Menshevik dan konsiliator). Mereka-mereka yang masih belum ditangkap menghubungi “Biro Komite Mayoritas” Bolshevik dengan niat untuk mencapai persetujuan dan menyelenggarakan kongres.

Walaupun secara formal ini adalah tanggung jawab Dewan Partai, mayoritas organisasi-organisasi Partai di dalam Rusia jelas-jelas mendukung penyelenggaraan kongres. Bila dua pertiga komite meminta diselenggarakannya kongres, maka berdasarkan konstitusi partai Dewan harus menyelenggarakannya. Pada awal April, kaum Bolshevik mampu menunjukkan bahwa ada 21 organisasi di dalam Rusia, termasuk Komite Pusat, yang mendukung diselenggarakannya kongres.[17] Ini mewakili 52 suara dari total 75 suara yang akan mewakili seluruh partai dalam kongres, jauh lebih banyak daripada yang dibutuhkan menurut aturan. Lenin menulis Sebuah Surat Terbuka untuk Plekhanov, yang saat itu menjabat sebagai ketua Dewan Partai. Surat ini diterbitkan atas nama Komite Pusat pada awal April. Namun Dewan Partai, dengan mengabaikan aturan dan prosedur demokratik, menolak menyelenggarakan kongres. Karena sikap tidak bertanggung jawab dan ilegal yang ditunjukkan oleh Dewan Partai, kaum Bolshevik tidak punya pilihan lain selain menyelenggarakan kongres ini dengan sendirinya, atas nama Komite Pusat dan mayoritas organisasi-organisasi partai di Rusia. Kaum Menshevik, walaupun diundang untuk datang, tidak hadir dan menyelenggarakan konferensi mereka sendiri di Jenewa. Pada 12 April 1905, para delegasi berkumpul di London selama dua minggu dan melakukan diskusi yang intens mengenai masalah-masalah fundamental revolusi.

Kongres Ketiga

Pada 12 April 1905, Kongres Partai Bolshevik pertama yang sejati digelar di London. Tercantum dalam agenda kongres adalah masalah-masalah berikut: 1) pemberontakan bersenjata; 2) sikap terhadap kebijakan pemerintah, termasuk slogan pemerintahan revolusioner provisional; 3) sikap terhadap gerakan tani; 4) hubungan antara kaum buruh dan kaum intelektual dalam partai; 5) aturan-aturan partai; 6) sikap terhadap partai-partai lain (termasuk Menshevik); 7) sikap terhadap organisasi-organisasi Sosial Demokratik non-Rusia; 8) sikap terhadap kaum liberal; 9) persetujuan-persetujuan praktikal dengan kaum Sosial-Revolusioner, dan masalah-masalah organisasional. Hadir di Kongres ini adalah 24 delegasi dengan hak suara penuh yang mewakili 21 komite, dan juga sejumlah kelompok-kelompok partai lainnya, termasuk dewan editorial Vperyod dan Organisasi Luar-Negeri Bolshevik, yang punya hak suara konsultasi. Lenin hadir sebagai delegasi dari Odessa.

Kongres ini berlangsung di tengah panasnya revolusi. Partai dihadapi dengan sejumlah masalah politik dan taktik yang mendesak: sikap terhadap konsesi-konsesi dari pemerintah (Komisi Shidlovsky), slogan parlemen (Zemsky Sobor), majelis konstituante, pemberontakan bersenjata dan pemerintahan revolusioner provisional, kerja legal dan semi-legal, masalah kebangsaan dan agraria, dan sebagainya. Tetapi masalah yang mendominasi adalah masalah pemberontakan bersenjata. Lenin sangatlah menekankan masalah ini. Dia mengatakan, “Seluruh sejarah dari tahun-tahun kemarin telah membuktikan bahwa kita meremehkan signifikansi dan keniscayaan dari pemberontakan. Kita harus memberikan perhatian pada aspek politik dari masalah ini.”[18]

Lunarchasky (Voinov) membuka debat ini. Revolusi di Rusia telah dimulai. Massa telah memasuki arena perjuangan. Dia berargumen, yang dibutuhkan sekarang adalah memberikan bentuk organisasi pada gerakan yang spontan ini. Kalau tidak, semua heroisme dan energi buruh akan hilang menguap dalam sejumlah pemberontakan lokal yang tanpa-tujuan dan tidak terorganisir. Di periode sebelumnya, ketika kondisi-kondisi objektif untuk revolusi tidak ada, kaum Marxis Rusia, Plekhanov terutama, telah memberikan penekanan besar dalam menyerang teori-teori kaum Narodnik. “Kaum revolusioner romantik” Narodnik ini berpikir bahwa yang dibutuhkan adalah dorongan dari kelompok-kelompok teroris kecil untuk memercikkan ledakan massa. Bagi idealisme subjektif ini, masalah pemberontakan bersenjata adalah sesuatu yang independen dari waktu dan tempat. Bagi kaum Marxis, revolusi haruslah datang dari buruh sendiri, dan revolusi niscaya tiba pada titik tertentu dalam perkembangan perjuangan kelas. Ketika kondisi-kondisi objektif yang diperlukan tidaklah ada, terus-menerus mengedepankan gagasan insureksi dan perjuangan bersenjata adalah Blanquisme.

Blanquisme, istilah yang sering digunakan oleh kaum Marxis Rusia untuk avonturisme revolusioner, datang dari nama seorang komunis revolusioner dan utopis dari Prancis yang terkenal, Louis Auguste Blanqui (1805-81). Dia mendasarkan dirinya pada konsepsi revolusi yang bersifat konspiratorial dan ultra-kiri, yang mana revolusi bukanlah kerja dari massa rakyat tetapi coup de main dari minoritas revolusioner yang kecil. Walaupun dia tulus dan berani, Blanqui memainkan peran yang negatif karena dia tidak punya pemahaman teoritis. Engels menulis, “Blanqui pada esensinya adalah seorang revolusioner politik, seorang sosialis hanya dari sentimennya, karena simpatinya terhadap penderitaan rakyat, tetapi dia tidak memiliki teori sosialis atau proposal-proposal praktis yang jelas untuk perubahan sosial. Dalam aktivitas politiknya dia pada dasarnya adalah seorang yang beraksi(a ‘man of action’).”[19] Kaum ultra-kiri hari ini dengan setia telah mempertahankan semua kekurangan-kekurangan Blanqui tanpa memiliki satupun sifat baiknya.

Ketika tidak ada kondisi-kondisi revolusioner, kaum Marxis Rusia berkonsentrasi pada kerja mengembangkan kader-kader Marxis secara perlahan-lahan, dengan menekankan teori dan organisasi, secara cermat membangun sumber daya mereka dan membangun hubungan dengan massa. Tetapi sekarang, seluruh situasi telah berubah, akibat gempa-gempa sosial dari perang dan revolusi. Setelah 9 Januari, argumen Martov bahwa kita tidak dapat “mengorganisir” revolusi dan tuduhan “Blanquisme”nya terhadap Bolshevik terdengar seperti sofisme. Pada kenyataannya, sikap Menshevik mengalir dari konsepsi bahwa revolusi sekarang adalah revolusi borjuis demokratik, dimana kelas buruh harus mengsubordinasikan dirinya pada kaum borjuasi liberal. Masalah pengorganisiran buruh untuk pemberontakan bersenjata sama sekali tidak ada dalam skema mereka, karena mereka melihat peran buruh hanya sebatas mendukung kaum liberal, dan menggunakan pemogokan-pemogokan dan demo-demo untuk memaksa autokrasi mundur guna menempatkan kaum liberal ke tampuk kekuasaan. Posisi kaum Bolshevik sama sekali berbeda.

Setelah guncangan Minggu Berdarah, kesadaran massa berubah. Terjadi gelombang pemogokan dan demo-demo lokal, yang sering kali heboh. Salah seorang delegasi kongres menceritakan ulang situasi bergejolak yang ada di pabrik-pabrik: “Setelah minggu revolusioner pada bulan Januari di Petersburg, begitu banyak pemogokan-pemogokan yang anarkistis di banyak pabrik, sampai-sampai seorang buruh cukup berteriak: ‘Letakkan perkakasmu kawan-kawan!’ dan pemogokan akan terjadi, dan siapapun yang menentang pemogokan ini akan dicap ‘provokator’.” Bahaya yang ada adalah energi buruh dapat menguap tanpa hasil. Yang dibutuhkan adalah menyatukan gerakan agar dapat mengkonsentrasikan “kekuatan sepenuhnya di satu titik serang”. Delegasi yang sama menekankan perlunya memerangi avonturisme ultra-kiri dan terorisme individual: “Di satu pihak, kita temui aksi-aksi terorisme remeh-temeh yang tak diperlukan, di lain pihak aksi-aksi provokasi tanpa tujuan, atau benturan-benturan dengan polisi dan tentara, ketika individu-individu yang bersenjata, dengan menggunakan senjata mereka, memberi musuh alasan dan peluang untuk menembaki dan membantai massa yang tak bersenjata.”[20]

Para delegasi kongres mendiskusikan semua detil-detil teknis: menggambar peta-peta strategis kota, melatih tentara-tentara yang kompeten, mengumpulkan dana, tetapi di atas segalanya ranting harus memiliki pemahaman detil mengenai kondisi-kondisi lokal dan mood para buruh. Bersamaan dengan persiapan teknik dan organisasional, kerja agitasi, propaganda, dan ideologi juga ditingkatkan. Agitasi dilakukan tidak hanya di antara buruh, tetapi juga di antara kaum intelektual, para pelajar, kaum muda, kaum perempuan, di antara bangsa-bangsa non-Rusia, dan sebanyak mungkin di antara kaum tani, dimulai dengan kaum miskin desa. Perhatian khusus diberikan pada kerja di antara prajurit, dengan tujuan memenangkan para prajurit ke sisi buruh. Selebaran disebarkan di antara para prajurit, dan komisi para ahli yang berpengalaman dibentuk, di bawah kontrol Komite Pusat, untuk merumuskan program tuntutan-tuntutan transisional untuk para prajurit.

Bahkan ketika masalah pemberontakan bersenjata sudah terdorong maju ke depan oleh jalannya peristiwa-peristiwa, tugas fundamental Partai masihlah memenangkan massa. Tanpa ini, semua ceramah mengenai penumbangan tsarisme hanya akan menjadi ujar-ujar kosong. Namun, kongres ini mengkonfirmasikan apa yang ditakutkan oleh Lenin, bahwa para aktivis Bolshevik di dalam Rusia terlalu lamban dalam merespons situasi yang telah berubah. Para perangkat partai terlalu terbiasa bekerja dalam lingkaran-lingkaran kecil yang tertutup di bawah tanah. Mereka merasa tidak nyaman bekerja dalam gerakan massa dan menggunakan berbagai alasan untuk menghindari keterlibatan lebih jauh dalam gerakan massa. Konsepsi organisasi, disiplin dan sentralisme yang formalistik, serta kecenderungan ultra-kiri tertentu, menjadi kedok untuk menutup-nutupi tendensi konservatisme dan koncoisme, yang merupakan warisan dari masa lalu. Lenin menggunakan Kongres Ketiga ini sebagai arena untuk meluncurkan perlawanan yang keras terhadap tendensi-tendensi ini.

Mengenai masalah partisipasi dalam organisasi-organisasi legal seperti serikat buruh, koperasi, badan-badan asuransi dan tunjangan buruh, kecenderungan utama di antara para perangkat partai adalah memboikotnya. Lenin sementara memberikan peringatan bahwa “kongres tidak boleh menetapkan aturan yang baku dalam hal ini. Semua metode harus digunakan untuk agitasi. Pengalaman Komisi Shidlovsky tidak memberikan alasan sama sekali untuk mengambil sikap yang sepenuhnya negatif,” dan lalu mengejutkan para pendukung boikot bahwa di bawah kondisi-kondisi tertentu adalah tepat untuk berpartisipasi bahkan dalam sebuah parlemen tsaris yang palsu: “Mustahil untuk memberikan jawaban yang kategorikal terhadap pertanyaan apakah bijaksana atau tidak untuk berpartisipasi dalam Zemsky Sobor. Semua akan tergantung pada situasi politik, pada sistem elektoral, dan pada faktor-faktor spesifik yang tidak dapat diperkirakan jauh hari sebelumnya. Beberapa orang mengatakan bahwa Zemsky Sobor adalah sebuah parlemen palsu. Ini benar. Tetapi ada waktunya ketika kita harus berpartisipasi dalam pemilu untuk mengekspos kepalsuan tersebut.”Lenin mengajukan sebuah tambahan untuk resolusi mengenai masalah keterlibatan dalam parlemen ini, yang menyatakan:

“Mengenai konsesi-konsesi aktual dan palsu yang sekarang diberikan oleh rejim autokrasi yang sedang melemah ini kepada kaum demokrat secara umum dan kelas buruh khususnya, Partai Sosial Demokrat harus menggunakan konsesi-konsesi ini untuk, di satu pihak, mengkonsolidasikan setiap perbaikan kondisi-kondisi ekonomi dan setiap perluasan kebebasan dengan tujuan meningkatkan intensitas perjuangan, dan, di lain pihak, secara terus menerus mengekspos di hadapan kaum proletariat maksud-maksud reaksioner dari pemerintah, yang mencoba memecah belah dan merusak kelas buruh dan menarik perhatiannya dari kebutuhan-kebutuhan kelasnya yang mendesak pada momen revolusi.”[21]

Pemahaman Lenin yang fleksibel dan dialektis akan taktik dan strategi revolusioner berbenturan dengan dogmatisme kepala-batu dari para perangkat partai, yang seluruh dunianya berputar di seputar axis lingkaran lokal mereka yang kecil, yang mereka jaga dengan penuh rasa cemburu dari kepemimpinan yang ada dalam pengasingan dan dari dorongan para buruh yang menginginkan kendali lebih besar dalammenjalankan fungsi-fungsi internal Partai. Komposisi kelas dari kongres ini sendiri sangat buruk, seperti yang ditunjukkan oleh komentar dari salah seorang delegasi kongres, Leshchinsky (Zharkov): “Melihat di sekeliling saya, komposisi kongres hari ini, saya terkejut bahwa dalam kongres ini sedikit sekali perwakilan dari buruh. Sementara buruh yang bisa dikirim ke kongres jelas bisa ditemukan.”[22] Ini juga tersirat dalam memoar Krupskaya: “Tidak ada buruh yang hadir dalam Kongres Ketiga – setidaknya tidak ada buruh yang mencolok... Namun kita tidak kekurangan para perangkat partai. Kalau komposisi kongres ini tidak dipertimbangkan, maka notulen kongres ini akan sulit dipahami dengan baik.”

Pada kenyataannya, suasana Kongres sering kali menjadi panas. Lenin secara terbuka menyerang prasangka-prasangka dari para perangkat partai ini, sementara yang belakangan ini tidak menyembunyikan ketidaksukaan mereka terhadap “campur tangan” dari para eksil. Krupskaya menulis, “Para perangkat partai ini biasanya adalah orang yang cukup percaya diri. Dia melihat bahwa kerja komite partai memiliki pengaruh yang besar terhadap massa, dan oleh karenanya biasanya dia tidak mengakui demokrasi internal Partai. ‘Demokrasi internal Partai hanya akan membawa masalah dengan polisi. Kita sudah terhubungkan dengan gerakan,’ begitu pikir para perangkat partai. Dalam hati, mereka membenci para pekerja Partai di luar negeri yang, menurut pendapat mereka, hanya sibuk bertengkar satu sama lain – ‘mereka harusnya dibuat bekerja di bawah kondisi Rusia.’ Para perangkat partai merasa keberatan dengan pengaruh dari Pusat di luar negeri. Pada saat yang sama mereka tidak menginginkan inovasi. Mereka tidak ingin dan tidak mampu beradaptasi pada situasi yang cepat berubah.”[23]

Bogdanov mengajukan sebuah resolusi, yang dirancang oleh Lenin, “On the Relations Between Workers and Intellectuals Within the Social Democratic Organisation”, yang, walaupun mengakui kesulitan-kesulitan bekerja secara ilegal, mendukung implementasi prinsip pemilu secara lebih luas, membuka pintu Partai untuk kaum buruh, dan membuka ruang untuk lapisan-lapisan yang baru dan segar dalam komite-komite kepemimpinan Partai.

Resolusi ini menuai badai protes dari para perangkat partai. Kamenev (Gradov) adalah yang pertama menyuarakan ketidaksetujuannya: “Saya harus dengan tegas menentang resolusi ini. Tidak ada masalah dengan relasi antara kaum intelektual dan kaum buruh di organisasi-organisasi Partai. (Lenin: Masalah ini eksis!) Tidak, ia tidak eksis: ia eksis sebagai sebuah isu untuk demagogi – dan itu saja.” Yang lain berargumen bahwa tidak ada waktu atau sumber daya untuk melatih kaum buruh. Mereka mendasarkan diri mereka pada sebuah kutipan terkenal dari “Apa Yang Harus Dikerjakan?” yang secara keliru menyatakan bahwa kesadaran sosialis harus dibawa ke kaum buruh dari luar. Romanov (Leskov) mengeluh: “Menurut pendapat saya, tampaknya kita melebih-lebihkan psikologi kaum buruh (sic!), seakan-akan kaum buruh dengan sendirinya dapat menjadi kaum Sosial Demokrat yang sadar.”[24] Namun sekarang justru penulis “Apa Yang Harus Dikerjakan?” menjawab para kritikusnya dengan merujuk pada insting kelas kaum buruh, dan dengan sengaja mengejutkan para pendengarnya dengan mendukung partisipasi buruh dalam organisasi Partai selama periode “Ekonomisme”. Di Kumpulan Karya Lenin edisi Bahasa Inggris, pidato Lenin ini, untuk alasan yang diketahui dengan sangat baik oleh para editor Stalinis, telah dihapus. Saya mengutip dari notulen Kongres yang ada dalam bahasa Rusia:

“Di Kongres ini ada yang mengatakan bahwa pengusung gagasan-gagasan Sosial Demokratik adalah terutama kaum intelektual. Ini tidaklah benar. Selama epos Ekonomisme, pengusung gagasan-gagasan revolusioner adalah buruh, dan bukan kaum intelektual... Lebih jauh lagi telah dikatakan bahwa yang memimpin para pemecah belah biasanya adalah kaum intelektual yang mapan. Pengamatan ini sangatlah penting tetapi tidak menyelesaikan masalah. Dalam karya-karya saya, saya sejak lama telah menganjurkan agar kaum buruh dibawa masuk ke dalam komite-komite dalam jumlah yang sebanyak mungkin. Setelah Kongres Kedua, anjuran ini kurang diimplementasikan – ini kesan yang saya peroleh dari percakapan-percakapan saya dengan ‘buruh-buruh yang praktis’... Kita harus mengatasi inersia dari perangkat partai kita (tepuk tangan dan olokan)... kaum buruh memiliki insting kelas, dan dengan sedikit saja pengalaman politik mereka dengan sangat cepat menjadi kaum sosial demokrat yang teguh. Saya akan merasa sangat puas bila, dalam komposisi komite-komite kita, dari setiap dua orang intelektual ada delapan buruh.”[25]

Inilah jawaban final bagi mereka-mereka yang masih bersikeras ingin mengulang kesalahan Lenin dalam“Apa Yang Harus Dikerjakan?”, dimana dia secara keliru menyatakan bahwa kaum proletariat, bila dibiarkan sendiri saja, hanya dapat mengembangkan “kesadaran serikat buruh”. Lenin tidak pernah lagi mengulang pernyataan tersebut, dan sesungguhnya lebih dari sekali mengecam pernyataan tersebut. Bukan Lenin, tetapi justru para perangkat partai dengan karikatur Bolshevisme mereka yang formalis, yang memegang pandangan ini, dan mengolok-olok Lenin ketika dia mencoba membenarkan mereka. Begitu geramnya Lenin terhadap sikap arogan yang ditunjukkan oleh para intelektual ini terhadap kaum buruh sehingga dia dengan sengaja memprovokasi mereka dengan merujuk secara positif pada kaum buruh Ekonomis. Sesungguhnya, banyak kaum buruh Ekonomis dari Rabochaya Dyelo yang kemudian bergabung ke Bolshevik, sementara kaum intelektual Ekonomis, seperti Martynov dan Akimov, hampir semuanya bergabung ke Menshevik. Ini adalah satu poin menarik yang tidak pernah diungkit. Terbakar oleh emosi, Lenin mengintervensi lagi:

“Saya hampir tidak bisa duduk diam ketika saya mendengar orang mengatakan bahwa tidak ada buruh yang pantas untuk masuk ke dalam komite-komite. Masalah ini terus diulur-ulur: jelas ada masalah dengan Partai. Buruh harus diberikan tempat dalam komite. Herannya, hanya ada tiga penerbit dalam Kongres, sisanya adalah para perangkat partai: tampaknya para penerbit setuju dengan usulan memasukkan buruh, sementara para perangkat partai untuk alasan tertentu menentangnya.”[26]

Semua argumen yang dikedepankan oleh Lenin dan para pendukungnya tidak digubris. Mayoritas dengan keras kepala menolak resolusi Lenin, dengan dalih bahwa “tidak diperlukan” sebuah resolusi khusus untuk masalah ini. Peristiwa-peristiwa selanjutnya akan membuktikan bahwa Lenin sungguh benar. Walaupun resolusi ini ditolak, Kongres Ketiga menandai sebuah pencapaian historis. Gagasan-gagasan Lenin mengenai peran kepemimpinan proletariat dalam revolusi, perlunya kemandirian kelas yang absolut, dan ketidakpercayaan terhadap kaum liberal diadopsi tanpa pertentangan. Kebijakan Partai mengenai masalah agraria (Lenin memimpin diskusi ini) diubah secara radikal untuk mengikutsertakan tuntutan penyitaan tanah para tuan tanah besar dan pembentukan komite-komite tani. Semenjak itu, solusi revolusioner terhadap masalah agraria menjadi sentral dalam strategi revolusioner Bolshevik. Anggaran Dasar Partai yang disetujui pada Kongres Kedua ditegaskan kembali, walaupun Lenin mengatakan dengan sangat jelas bahwa Anggaran Dasar ini tidak boleh diinterpretasikan secara sempit, tetapi organisasi partai harus dibuka pintunya dengan cepat untuk melibatkan lapisan buruh dan muda yang terbaik. Dengan pengalaman pahit perpecahan yang masih segar dalam ingatan semua orang, Lenin juga menuntut jaminan yang jelas dan spesifik dalam Anggaran Dasar untuk hak-hak kelompok minoritas dalam Partai. Kelompok minoritas punya hak untuk menyuarakan gagasan mereka secara bebas di setiap tingkatan Partai, hanya dengan kondisi penyuaraan perbedaan pendapat ini tidak boleh dilakukan dengan cara yang mengganggu dan melemahkan intervensi praktis Partai dalam perjuangan melawan tsarisme dan kapitalisme.

Bagaimana Partai Membiayai Dirinya

Tuntutan Lenin untuk membuka pintu partai bagi kaum buruh luas sepenuhnya sesuai dengan situasi riil di Rusia. Peristiwa-peristiwa besar telah mengguncang dan mengubah kesadaran massa buruh. Puluhan tahun kerja yang lambat dan penuh kesulitan kini telah diberkati dengan meledaknya ketertarikan buruh pada gagasan-gagasan sosialisme revolusioner. Kongres meluncurkan sebuah koran mingguan yang baru, Proletary, untuk menggantikan Vperyod, dan memilih sebuah komite pusat yang baru untuk menggantikan komite pusat lama yang konsiliasionis. Dengan demikian Kongres ini menyelesaikan perpecahan lama yang tidak memuaskan antara organ sentral Partai, Komite Pusat dan Dewan Partai, dan mereduksi semua ini menjadi satu badan kepemimpinan yang tunggal, Komite Pusat, yang lalu dibagi menjadi dua, eksterior dan interior. Lenin, untuk sementara waktu, tetap tinggal di luar Rusia, sementara KP Biro Rusia, yang bermarkas di St. Petersburg, beranggotakan Bogdanov, Krassin dan Postolovsky, dengan Rumyantsev dikooptasi di kemudian hari. Lenin de facto memimpin KP Biro Luar Negeri yang menjaga komunikasi dekat dengan Biro Rusia, tetapi juga berkomunikasi langsung dengan komite-komite lokal Partai dan berkorespondensi dengan mereka secara reguler.

Kerja dalam Rusia sekarang telah menjadi jauh lebih mudah. Walaupun masih ada penangkapan, hukuman yang dijatuhkan cenderung lebih ringan. Kadang-kadang gubernur propinsi yang liberal mengintervensi kerja kepolisian. Para polisi sendiri sangat geram. Di bawah situasi ini, komite-komite lokal dapat bertemu hampir setiap hari. Sebuah komite lokal biasanya memiliki tidak lebih dari selusin anggota. Setiap anggota komite memiliki tanggung jawab langsung untuk aspek kerja tertentu: pers, finans atau agitasi; atau tanggung jawab untuk kerja di distrik atau pabrik tertentu. Mereka terhubungkan dengan para buruh lewat lingkaran-lingkaran partai. Ada juga organisasi-organisasi mahasiswa Sosial Demokratik, dan lingkaran simpatisan yang lebih luas. Segera setelah seorang buruh bergabung ke sebuah pabrik, dia diharapkan untuk mulai bekerja di bawah arahan komite lokal.

Kita telah saksikan beberapa sisi negatif dari para perangkat partai. Tetapi kita akan keliru kalau mengabaikan sisi positif mereka. Mereka adalah kaum revolusioner profesional, yang setia pada partai, tekun dan penuh pengorbanan. Bekerja di bawah kondisi-kondisi yang sulit, mereka selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Mereka hidup melarat, dengan gaji yang sangat rendah, sekitar 25-35 rubel per bulan, bila dananya ada, dan tidak selalu begitu! Beberapa punya pendapatan pribadi. Yang lain kadang-kadang terpaksa melakukan kerja paruh-waktu. Beberapa, seperti Krassin, memiliki pekerjaan sebagai “kedok”, yang kadang-kadang menghasilkan cerita yang lucu: “Di St. Petersburg ada sebuah perusahaan asuransi, yang diberi nama Nadezhda (Harapan), yang para direkturnya membuat kebijakan untuk mempekerjakan orang-orang yang dikenal sebagai kaum revolusioner aktif. Para direktur ini menemukan bahwa walau mereka jarang tinggal lama di perusahaan karena sering ditangkap,mereka sangatlah jujur.”[27]

Setelah tanggal 9 Januari [1905], Buzinov menceritakan bagaimana kawan-kawan buruhnya mengalami perubahan yang dramatis. Kerja menjadi hal yang sekunder. Mereka lebih bersemangat berkumpul di pabrik untuk membaca koran atau selebaran politik terbaru.[28] Penerbitan Partai, dengan oplah yang terbatas dan penerbitan yang tidak reguler, sekarang sudah tidak lagi mencukupi permintaan. Koran Iskra yang lama memiliki oplah sekitar 10 sampai 15 ribu (terbit dua minggu sekali, walaupun untuk periode yang singkat koran ini pernah terbit setiap minggu). Sekarang pembaca koran sosialis revolusioner telah meningkat setidaknya 10 atau 20 kali lipat. Tempat-tempat percetakan bawah tanah tidak dapat memenuhi kebutuhan cetak yang ada sekarang. Tetapi kemungkinan untuk meluncurkan sebuah koran yang legal baru muncul ketika Trotsky dan Parvus mengambil alih koran liberal lama Ruskaya Gazeta dan mengubahnya menjadi sebuah koran legal Marxis. Dengan harganya yang murah, satu kopek [1/100 rubel], dan stylenya yang populer, sirkulasi koran ini melejit dari 30 ribu sampai 100 ribu, dan mencapai 500 ribu pada bulan Desember. Sementara koran legal Bolshevik, Novaya Zhizn (Kehidupan Baru), memiliki sirkulasi 50 ribu – lima kali lipat dari koran Iskra lama. Tetapi jumlah ini baru tercapai pada musim gugur. Untuk sementara waktu, kelompok-kelompok lokal Partai harus menggunakan selebaran dan materi-materi apapun yang bisa mereka duplikasi dengan mesin mimeograf mereka yang sederhana.

Kongres Ketiga ini memberikan dorongan moral yang sangatlah diperlukan kepada kaum Bolshevik, yang mulai tumbuh dengan cepat. Ranting-ranting dan komite-komite distrik baru dibentuk. Sel-sel pabrik dibentuk, dan begitu juga faksi-faksi serikat buruh Bolshevik. Mereka dibentuk untuk mengambil keuntungan dari peluang-peluang baru dari kerja serikat buruh legal, yang mana kaum Menshevik sudah terlebih dahulu bekerja dalamnya. Agitasi dan propaganda Bolshevik dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 10 sampai 12 orang. Setiap organisator bertanggung jawab atas satu distrik. Peluang untuk memasok gagasan-gagasan sosialis ke kaum buruh sekarang sangatlah besar. Jutaan selebaran diterbitkan oleh kaum Bolshevik dan Menshevik pada tahun itu saja. “Bentuk propaganda yang lama,” ungkap Krupskaya, “telah mati dan propaganda telah berubah menjadi agitasi. Dengan pertumbuhan gerakan kelas buruh yang begitu luar biasa, propaganda lisan dan bahkan agitasi secara keseluruhan tidak dapat memenuhi permintaan gerakan. Yang dibutuhkan adalah literatur populer, sebuah koran populer, literatur untuk kaum tani dan untuk nasionalitas-nasionalitas non-Rusia.”[29]

Ini, dan kebutuhan-kebutuhan mendesak lainnya, segera mengedepankan masalah finans. Masalah senjata juga membutuhkan dana yang besar. Pendapatan kaum Bolshevik dan Menshevik memang meningkat. Martov mengatakan: “Anggaran untuk organisasi-organisasi revolusioner pada periode 1901-02 adalah sebesar beberapa ratus rubel, dan pada pertengahan 1905 telah tumbuh menjadi puluhan ribu rubel per tahun.”[30] Tetapi kebutuhan gerakan terus melampaui sumber daya organisasi. David Lane, berdasarkan studi dari pers Bolshevik dan Menshevik, menyimpulkan bahwa pada Februari Komite Bolshevik St. Petersburg mengumpulkan dana sebesar 2.400 rubel, dan 265 rubel dihabiskan untuk pers dan 375 rubel untuk organisasi. Ada dana senjata yang terpisah, sebesar 1.295 rubel, dan 850 rubel sudah digunakan. Bila kita ikut sertakan 981 rubel yang dikumpulkan untuk dana mogok, ini berarti pendapatan total kaum Bolshevik St. Petersburg pada Februari 1905 adalah sekitar 4.680 rubel. Akan tetapi dalam dua minggu pertama bulan Juli, pengeluaran Bolshevik telah meningkat: 800 rubel untuk senjata, 540 rubel untuk organisasi dan 156 rubel untuk literatur. “Pendapatan kaum Menshevik dari 15 Februari sampai 15 Maret,” menurut Lane, “lebih besar daripada pendapatan kaum Bolshevik, sebesar 4,039 rubel (2000 rubel datang dari seorang kontributor): dari jumlah ini, 1.250 rubel digunakan untuk senjata, 1.126 rubel untuk organisasi di berbagai daerah dan 630 rubel untuk mesin cetak.”[31]

Dalam buku sejarah Sosial Demokrasi karyanya, Martov memaparkan situasi keuangan kelompok-kelompok Menshevik dan Bolshevik pada 1905, yang menunjukkan bagaimana kebutuhan gerakan jauh melebihi pemasukan yang didapati dari iuran anggota. Komite Baku, pada Februari, mengumpulkan dana 1.382 rubel, dan hanya 38 rubel (3 persen) datang dari buruh. Hanya 14 persen dari pendapatan komite Sevastopol datang dari iuran. Situasi di Riga lebih baik, tetapi hanya 22 persen. Akan tetapi di basis utama Bolshevik, Ivanovo-Voznesensk, 53 persen pendapatan datang dari buruh.[32] Kedua faksi ini menerima donasi-donasi besar dari simpatisan-simpatisan yang kaya. Tetapi Menshevik, dengan organisasi mereka yang lebih longgar, selalu lebih bergantung pada simpatisan-simpatisan kaya, sementara Bolshevik selalu berusaha – dan akhirnya berhasil – untuk membentuk sebuah organisasi yang dibangun dari kopek (uang) kaum buruh, sebagai satu-satunya fondasi partai buruh. Kita telah melihat bagaimana pada awal 1905 hampir setengah pendapatan kelompok Menshevik datang dari satu kontributor tunggal. Pada 15 Februari, menurut sumber yang sama, pendapatan kaum Menshevik St. Petersburg adalah sebesar 247 rubel, dan 200 rubel darinya datang dari seorang simpatisan.[33]

Selama tahun 1905, kaum Bolshevik dan Menshevik tidak bisa memenuhi permintaan untuk literatur sosialis. Di mana-mana ada kehausan untuk literatur revolusioner. Kaum buruh ingin belajar. Kaum buruh yang sebelumnya menolak atau tidak acuh, atau terlalu takut untuk menerima selebaran sosialis, sekarang dengan menggebu-gebu mencari kamerad-kamerad mereka yang mereka ketahui terlibat dalam politik revolusioner. “Bila sebelumnya tidak ada seorang pun yang mencari mereka,” ingat Alexei Buzinov, yang bekerja di Pabrik Mesin dan Perkapalan Nevsky, “atau mungkin tidak ingin mengenal mereka karena enggan terlibat dalam masalah, sekarang tiba-tiba semua orang tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang pintar dan berpengetahuan. Banyak dari para buruh ini yang menggali-gali masa lalu mereka, dan ingatan mereka mulai menjadi jelas, dan ternyata seseorang disini dan disana, entah bagaimana, pernah berhubungan dengan kaum sosialis... Dari sisi kaum sosialis, saya tidak melihat satu pun dari mereka yang menggerutu mengenai ancaman-ancaman atau hinaan-hinaan yang sebelumnya mereka terima dari para buruh. Sementara, sikap kaum buruh terhadap mereka mulai berubah, dan kaum sosialis mulai diakui sebagai pemimpin gerakan buruh. Mereka diakui, didengarkan, dan diperlakukan dengan spesial, dengan kebaikan hati yang walaupun kasar tetapi menyentuh.”[34]

Seperti kaum Menshevik, kaum Bolshevik juga memiliki beberapa simpatisan kaya yang memberikan donasi. Pegawai negeri yang baik hati, kaum liberal Zemstvo, para dokter dan profesional lainnya memberikan uang lewat donasi, memberikan tempat persinggahan kepada para full-timer dan bahkan menyembunyikan para pelarian. Radikalisasi di antara lapisan pekerja profesional ini ditunjukkan oleh sejumlah resolusi simpatik dan solidaritas dengan gerakan buruh yang diberikan oleh serikat-serikat pekerja profesional. Serikat insinyur memilih Krzhizhanovsky, seorang Bolshevik, untuk duduk di Komite Eksekutifnya. Banyak serikat kaum intelektual yang mengumpulkan uang dan memberikan bantuan kepada gerakan buruh. Para insinyur memutuskan pada kongres mereka untuk tidak terlibat dalam pengumpulan nama untuk daftar hitam aktivis buruh.Di Odessa, direktur sebuah perusahaan percetakan selalu membantu kaum Bolshevik yang mengalami kesulitan finans. Seorang industrialis Saava Morozov memberikan donasi 2.000 rubel per bulan kepada Krassin sejak akhir 1903. Biografi Krassin menyatakan bahwa dia mengumpulkan dana untuk Novaya Zhizn “terutama lewat kebaikan hati dari bosnya, pemilik pabrik Saava Morozov.”[35]

Maxim Gorky, yang kemasyhurannya sebagai seorang penulis telah dikenal, memainkan peran besar dalam mengumpulkan uang untuk kaum revolusioner, lewat dukungan dari banyak penulis lainnya dan para intelektual terkemuka, yang antusiasmenya telah dikobarkan oleh revolusi. Mahasiswa dan orang-orang kelas menengah lain juga didekati untuk donasi. Bahkan tuan tanah seperti A. Tsurupa memberikan kontribusi reguler. Kolaborasi dari sejumlah simpatisan kaya ini melampaui peran pasif menyediakan uang, dan beberapa dari mereka menunjukkan komitmen riil dan bahkan mengambil risiko besar demi perjuangan buruh. Misalnya keponakan Morozov, Nikolai Schmidt. Dia sendiri adalah seorang pemilik pabrik mebel di distrik Prenaya di kota Moskow. Walaupun hanya berumur 23 tahun, Nikolai menyebrang ke sisi buruh pada tahun 1905. Dia menyediakan uang tidak hanya untuk koran Bolshevik Novaya Zhizn, tetapi juga membeli senjata untuk mereka. Pabriknya, yang memainkan peran penting dalam pemberontakan Moskow, dikenal oleh polisi sebagai “sarang setan”. Schmidt harus membayar mahal untuk pengabdiannya pada perjuangan buruh.

Donasi-donasi ini menjadi sangat penting karena jumlah uang yang dikumpulkan dari iuran, penjualan koran dan literatur sama sekali tidak mencukupi kebutuhan yang datang dari situasi yang baru. Segera setelah Kongres Ketiga, Krassin ditugasi untuk memimpin kerja militer rahasia. Dia mengorganisir pabrik-pabrik bom bawah tanah dan penyimpanan senjata. Senjata diseludupkan dari luar negeri. Komite-komite lokal Partai mulai membentuk kelompok-kelompok militer (boyeviye komitety). Komite-komite militer ditugasi untuk memperoleh senjata dan membentuk unit-unit milisi. Kerja ini ditingkatkan pada musim gugur 1905 ketika menjadi jelas bahwa pertempuran yang menentukan adalah sesuatu yang sudah tak terelakkan. Sejumlah uang ini diperoleh dari simpatisan kaya. Tetapi sumber finans lainnya adalah ‘ekspropriasi’: perampokan bank-bank yang dilakukan oleh unit-unit bersenjata Bolshevik. Lenin banyak menulis mengenai masalah ini pada 1905, mengenai tentara dan milisi revolusioner. Dalam tulisan-tulisannya ini Lenin menekankan bahwa kerja unit-unit bersenjata harus terikat pada gerakan revolusioner massa dan hanya diperbolehkan dalam situasi seperti ini. Ini bukanlah sebuah konspirasi teroris tetapi bagian dari sebuah gerakan yang luas, dan sebuah front persatuan yang terdiri dari semua kekuatan yang siap berjuang melawan rejim diktatorial.Aktivitas-aktivitas ini, dan ini harus ditekankan, sama sekali tidak ada kesamaan dengan terorisme dan gerilya-isme yang sayangnya telah muncul kembali pada periode modern ini. Ketika kepemimpinan Marxis tidak ada, maka semua bentuk metode-metode perjuangan yang primitif muncul kembali dari tong sampah sejarah.

 __________________

Catatan Kaki

 

[1] Trotsky, 1905, hal. 95.

[2] Ibid., hal. 96.

[3] LCW, A Letter to A. A. Bogdanov and S. I. Gusev, February 11, 1905, vol. 8, hal. 143-5.

[4] Ibid., hal. 146.

[5] Oblomov adalah karakter utama dari novel terkenal di Rusia yang berjudul “Oblomov”, yang dikarang oleh Ivan Goncharov pada 1859. Oblomov adalah seorang pemuda bangsawan yang tidak mampu mengambil keputusan dan tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas yang penting. Dalam novel ini, Oblomov jarang meninggalkan kamarnya. Novel ini adalah satire yang mengkritik kaum bangsawan Rusia yang peran sosial dan politiknya mulai dipertanyakan.

[6] LCW, To S.I. Gusev, February 15, 1905, vol. 34, hal. 296-7.

[7] G.D. Surh, 1905 in St Petersburg, hal. 209 dan 181.

[8] Dikutip di F. Dan, The Origins of Bolshevism, hal. 305.

[9] LCW, A Militant Agreement for the Uprising, vol. 8, hal. 159 dan 163.

[10] Trotsky, Stalin, hal. 62 dan 61.

[11] Tony Blair (1953 - ) adalah politisi Partai Buruh Inggris, yang menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris dari 1997 hingga 2007. Ia adalah pemimpin sayap kanan Partai Buruh Inggris, yang berusaha keras menghancurkan tradisi-tradisi militan Partai Buruh. Di bawah kepemimpinannya, Pasal Ke-4 dari konstitusi Partai Buruh, yang menyatakan komitmen Partai Buruh untuk memperjuangkan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi dan pertukaran, dihapus. Gagasannya dikenal sebagai “jalan ketiga”, yang mengklaim ada jalan tengah antara kapitalisme dan sosialisme. Pada kenyataannya “jalan ketiga” ini tidak lain adalah gagasan reformisme yang menjadi kedok bagi kebijakan-kebijakan pro-kapital.

[12] Felipe Gonzalez (1942 - ) adalah politisi sosial demokrat Spanyol. Dia adalah Sekjen Partai Buruh Sosialis Spanyol (PSOE) dari 1974-1997, dan menjabat sebagai Perdana Menteri Spanyol dari 1982-1996.

[13] Ibid., hal. 61-2.

[14] Dikutip di Schwarz, op. cit., hal. 214 dan 216 (penekanan dari saya).

[15] Trotsky, My Life, hal. 169-70.

[16] Tretiy s’yezd RSDRP (Protokoly), hal. 549.

[17] Martov dan yang lainnya mengakui kebenaran dari angka ini. Baca Martov and others, Obshchestvennoe Dvizhenie v Rossii v Nachale 20 Veka, vol. 3, hal. 557.

[18] LCW, The Third Congress of the RSDLP, April 12 (25)-April 27 (May 10), vol. 8, hal. 370.

[19] Marx and Engels, Selected Works, vol. 2, hal. 381.

[20] Tretiy s’yezd RSDRP (Protokoly), hal. 10

[21] LCW, The Third Congress of the RSDLP, April 12 (25) - April 27 (May 10), 1905, vol. 8, hal. 375 dan 376.

[22] Tretiy s’yezd RSDRP (Protokoly), hal. 124.

[23] Krupskaya, Reminiscences of Lenin, hal. 125 dan hal. 124-5.

[24] Quoted in Tretiy s’yezd RSDRP (Protokoly), hal. 255 dan 265.

[25] Ibid., hal. 262 (penekanan dari saya).

[26] LCW, The Third Congress of the RSDLP, vol. 8, hal. 411.

[27] J.L.H. Keep, The Rise of the Social Democracy in Russia, hal. 181.

[28] See Surh, op. cit., hal. 239.

[29] Krupskaya, Reminiscences of Lenin, hal. 127.

[30] Martov and others, Obshchestvennoe Dvizhenie v Rossii v Nachale 20 Veka, vol. 2, hal. 63.

[31] Lane, op. cit., hal. 78.

[32] Martov and others, Obshchestvennoe Dvizhenie v Rossii v Nachale 20 Veka, vol. 3, hal. 569.

[33] Lane, op. cit., hal. 78.

[34] Surh, op. cit., hal. 238.

[35] Lubov Krassin, Leonid Krassin his Life and Work, 1929, hal. 36.