facebooklogocolour

Duma PertamaBolshevisme dan Menshevisme

Debat-debat yang lain menggarisbawahi bagaimana kaum Menshevik mulai menyimpang ke kanan. Misalnya, sekarang mereka menentang slogan mempersenjatai massa dan cara pandang mereka ini disetujui oleh Kongres PBSDR. Terlepas dari masalah apakah perjuangan bersenjata adalah strategi yang cocok atau tidak untuk saat itu, posisi Menshevik ini menunjukkan bagaimana mereka mulai mencampakkan perjuangan revolusioner dan sebagai gantinya mulai merangkul parlementerisme reformis dan kolaborasi kelas. Ini juga ditunjukkan oleh posisi mereka mengenai masalah agraria dan sikap mereka terhadap Partai Kadet. Trotsky di kemudian hari menggambarkan perubahan sikap kaum Menshevik ini: “Kaum Menshevik, yang baru beberapa minggu yang lalu mendukung taktik semi-boikot Duma, sekarang memindahkan harapan mereka dari perjuangan revolusioner ke pencapaian konstitusional. Pada saat Kongres Stockholm, mendukung kaum liberal menurut mereka adalah tugas terpenting dari Sosial Demokrasi.”[1]

Dalam laporannya untuk Duma, Axelrod mengakui bahwa kebanyakan aktivis Menshevik di Rusia awalnya mendukung boikot, tetapi mengeluh bahwa ini berarti meninggalkan lapangan yang terbuka ini untuk partai-partai lain. Sekarang adalah waktunya untuk mengubah garis organisasi. Axelrod tidaklah keliru. Akan tetapi di dalam politik kita bisa saja benar tetapi benar untuk alasan yang keliru. Di balik perubahan garis ini adalah hasrat dan harapan kaum Menshevik untuk berkolaborasi dengan Partai Kadet. Sebaliknya, kaum Bolshevik mengajukan untuk mengambil peluang dari konflik antara Duma dan rejim untuk memperdalam krisis revolusioner, sementara pada saat yang sama berusaha mengekspos Partai Kadet dengan mengkritiknya secara tajam dan memenangkan para perwakilan tani (kaum Trudovik) guna “memperkuat mereka” dan memisahkan mereka dari kaum Kadet. Sementara Lenin, di setiap artikel dan pidatonya, meluncurkan pertempuran sengit melawan kretinisme parlementer, kaum Menshevik menggantungkan seluruh harapan mereka pada Duma. Namun, sembari mengolok-olok Axelrod yang memiliki pengharapan yang berlebihan terhadap Duma, Lenin tidak pernah mengutarakan taktik boikot. Ini penting untuk dicatat. Karena ikatan faksional, Lenin tidak bisa mengekspresikan pendapatnya secara terbuka. Ini diserahkan ke Krassin untuk mengajukan taktik boikot ke para delegasi. Tetapi kaum Menshevik menggunakan mayoritas mereka. Akhirnya, Kongres memutuskan bahwa partai diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam pemilihan Duma.

Akan tetapi kaum Bolshevik punya masalah mereka sendiri. Mereka mengambil posisi yang keliru terhadap Duma. Mereka menentang pembentukan fraksi parlementer Sosial Demokratik. Dari detil ini kita sudah bisa melihat kecenderungan ultra-kiri dalam Bolshevisme – kretinisme anti-parlementer – yang sesungguhnya adalah bayangan-cermin dari ilusi parlementer legal kaum Menshevik. Berkebalikan dengan tuduhan “sektarianisme” dan “pemecah belah” yang biasanya dilemparkan ke Lenin, dia dengan konsisten terus berusaha mempertahankan persatuan partai. Saat Kongres ketika Lenin dituduh mengatakan bahwa mustahil bagi Bolshevik dan Menshevik untuk bisa bekerja bersama di dalam satu partai, dia dengan keras membantah tuduhan tersebut: “Tidaklah benar kalau saya ‘mendukung’ pernyataan kamerad Vorobyov bahwa kaum Bolshevik dan Menshevik tidak akan bisa bekerja bersama di dalam satu partai. Saya sama sekali tidak ‘mendukung’ pernyataan tersebut, dan tidak memiliki pendapat itu sama sekali.[2]

Umumnya, kaum Bolshevik bersikap jauh lebih baik sebagai minoritas dibandingkan dengan kaum Martovite (pendukung faksinya Martov) pada Kongres Kedua. Tidak seperti kaum Martovite pada 1903, Lenin menerima dengan loyal posisi minoritas dalam Komite Pusat, yang sepenuhnya didominasi oleh Menshevik. Satu hal yang baru dengan Komite Pusat ini adalah kehadiran perwakilan dari organisasi-organisasi nasional Sosial Demokratik untuk pertama kalinya: Polandia diwakili oleh Warski dan Dzerzhinsky; Latvia diwakili oleh Danishevsky; Bund (Yahudi) diwakili oleh Abramovich dan Kremer. Kaum Menshevik menang di Kongres ini, yang diselenggarakan di bawah kondisi reaksi yang semakin menguat. Ada sejumlah kemenangan kecil untuk kaum Bolshevik. Untuk anggaran dasar Partai, draf paragraf pertama yang diajukan Lenin diterima, dan prinsip-prinsip sentralisme demokrasi secara umum diadopsi. Ini bukan masalah yang kontroversial, dan dianggap sebagai sesuatu yang lazim, tidak hanya oleh kaum Bolshevik tetapi juga kaum Menshevik (yang memiliki mayoritas!). Ada beberapa perbedaan dalam masalah organisasional, tetapi mereka tidak serius. Kaum Bolshevik berpendapat bahwa sistem dua-pusat (keberadaan komite pusat dan organ sentral yang paralel) sudah tidak lagi dibutuhkan. Tetapi kaum Menshevik berhasil mempertahankan sistem ini, dan memastikan mereka memiliki kontrol penuh atas dewan editorial, yang semua anggotanya adalah Menshevik (Dan, Martov, Martynov, Maslov, dan Potresov). Sementara kaum Bolshevik hanya diberikan 3 kursi di Komite Pusat.

Dalam beberapa hal, Kongres Keempat ini merupakan langkah maju, terutama dalam hal memperkuat partai dengan melibatkan organisasi-organisasi buruh dari nasionalitas-nasionalitas lainnya. Dalam laporannya untuk Kongres, Lenin mengatakan: “Dalam merangkum kerja Kongres dan pengaruhnya pada partai kita, kita harus menarik kesimpulan-kesimpulan berikut ini. Satu hasil praktikal yang penting dari Kongres adalah rencana penyatuan partai-partai sosial demokratik nasional (yang sebagian besar sudah tercapai). Penyatuan ini akan memperkuat Partai Buruh Sosial Demokratik Rusia. Ini akan membantunya menghapus sisa-sisa terakhir dari kebiasaan lingkaran lama. Ini akan menyuntik Partai dengan semangat yang baru. Ini akan sangat memperkuat proletariat di antara seluruh rakyat Rusia.” Dan dia tambahkan: “Hasil praktis yang penting adalah persatuan antara kelompok mayoritas dan minoritas. Perpecahan di antara mereka telah dihentikan. Kaum proletariat Sosial Demokratik dan Partainya harus disatukan. Perselisihan-perselisihan mengenai masalah organisasi hampir semuanya telah diluruskan.”[3]

Kaum Sosial Demokrat Polandia dan Lituania bergabung ke PBSDR, dan syarat-syarat persatuan dengan kaum Sosial Demokrat Latvia disetujui. Demikian juga dengan Bund, tetapi Kongres menolak dengan tegas gagasan mengorganisir kelas buruh berdasarkan kebangsaan. Pada Agustus tahun yang sama (1906), Bund juga memutuskan untuk bergabung dengan PBSDR. Lenin mengatakan bahwa “PBSDR akhirnya menjadi Partai seluruh-Rusia dan tersatukan. Jumlah anggota partai kita sekarang lebih dari 100.000. 31.000 diwakili di Kongres Persatuan, dengan 26.000 kaum Sosial Demokrat Polandia, 14.000 dari Latvia dan 33.000 dari Yahudi.” Angka yang disebut Lenin ini dikonfirmasi oleh koran Kadet Kiri, Tovarishch, yang memperkirakan jumlah anggota PBSDR sebesar kira-kira 70.000 pada Oktober 1906. Angka ini termasuk anggota Bolshevik dan Menshevik, dan selain itu harus ditambahkan 33.000 dari Bund, 28.000 dari Polandia, dan 13.000 dari Latvia.[4]

Akan tetapi jumlah anggota yang besar ini tidak menggambarkan situasi yang sesungguhnya. Pertumbuhan keanggotaan partai hanya memberi kita gambaran mengenai lapisan buruh dan muda yang maju, tetapi tidak demikian dengan massa luas. Kekalahan Desember adalah titik balik bagi kelas buruh. Pada kenyataannya, walaupun PBSDR terus tumbuh, pengaruhnya di antara massa mulai menurun. Perasaan letih adalah lahan subur untuk mood apati dan pesimisme. Walaupun untuk beberapa waktu gerakan terus berlanjut, tetapi ini hanya karena terseret oleh momentum yang sebelumnya. Harapan Lenin kalau gerakan revolusioner akan pulih tidaklah sesuai dengan situasi yang sesungguhnya. Trotsky menjelaskan: “PBSDR terus bertambah anggotanya. Tetapi pengaruhnya di antara massa menurun. Seratus kaum Sosial Demokrat sudah tidak bisa lagi memimpin massa dengan jumlah yang sama seperti sepuluh kaum Sosial Demokrat setahun yang lalu.”[5]

Pemberontakan Tani

Pusat aktivitas revolusioner pindah dari kota ke desa. Pada bulan April, terdaftar 47 kasus pemberontakan tani. Pada Mei, 160. Tetapi pada Juni angka ini meningkat menjadi 739. Angka ini dekat dengan angka tertinggi pada musim gugur 1905. Separuh dari Rusia di bagian Eropa, terutama di daerah Volga, dimana tradisi Stenka Razin dan Pugachov masih kuat di antara kaum tani, daerah Ukraina, Polandia, Tambov dan daerah-daerah lainnya terbakar oleh api pemberontakan. Para tuan tanah kocar-kacir meninggalkan tanah mereka ketika para buruh tani memberontak dan membentuk komite-komite pemogokan di desa-desa. Konsekuensi tak-terelakkan dari revolusi tani adalah meningkatnya aksi-aksi gerilya, yang merupakan metode klasik perjuangan kaum tani. Aksi-aksi gerilya ini terutama lazim ditemui di Latvia (“Forest Brotherhood”) dan Georgia (“Red Hundreds”). Situasi ini sangatlah berbahaya bagi rejim Tsar, yang pilar pendukung utamanya adalah kelas pemilik tanah feodal, yang menjadi target utama dari kemarahan dan kebencian massa. Ada alasan lain untuk takut pada pemberontakan di desa-desa. Pemberontakan kaum tani segera mendapat gaungnya di dalam angkatan bersenjata, dimana keresahan para tentara, yang terdemoralisasi oleh kekalahan dan terinspirasi oleh kaum buruh di kota-kota, mengekspresikan dirinya dalam sebuah gelombang pemberontakan yang baru.

Di bawah kondisi seperti ini, kebijakan militer Partai masih memiliki peran, dan terlebih lagi kebijakan agrarianya, seperti yang dipahami dengan sangat baik oleh Lenin. Sekitar 50 komite PBSDR memiliki organisasi militer. Mengenai organisasi militer di Moskow, Piatnitsky menulis: “Sebuah biro teknik militer dibentuk sebagai bagian dari Komite Moskow; biro ini bertanggung jawab merakit, menguji dan memproduksi dalam jumlah besar, kapan pun diperlukan, senjata-senjata sederhana, termasuk bom; dan biro ini sibuk setiap saat dengan tugas ini. Biro teknik militer sepenuhnya dipisahkan dari organisasi Moskow, dan dihubungkan dengan Komite Moskow hanya lewat sekretaris komite.”[6]

Organisasi militer yang paling kuat ada di Petersburg. Menurut Leonard Schapiro, Partai masih “mempertahankan jaringan organisasi yang luas di antara para tentara, dan menerbitkan sekitar 20 koran dan majalah tentara secara ilegal.”[7] Beberapa agitasi dilakukan di angkatan darat dan angkatan laut dengan penerbitan-penerbitan khusus seperti Kazarma (Barak) dan Soldatskaya Zhizh (Kehidupan Tentara). Partai melakukan kampanye yang energetik di antara para rekrut, meminta mereka untuk tidak menembak saudara-saudari kelas mereka, tetapi menyebrang ke sisi buruh dan membawa senjata mereka bersama mereka. Para Maret 1906 diselenggarakan Konferensi Organisasi Militer dan Tempur. Tetapi pada hari pertama semua delegasi diciduk. Konferensi pertama yang sesungguhnya berlangsung pada 16 November 1906 di tempat yang lebih aman, Tammerfors di Finlandia. Walaupun Lenin tentunya berharap gerakan di pedesaan akan menjadi pemantik yang akan memercikkan kembali api revolusi, dia terus menerus memperingatkan agar gerakan tidak ceroboh, tidak mengambil langkah yang terburu-buru, tidak avonturir, karena ia melihat adanya bahaya dari aksi-aksi yang prematur dan kurang siap. Optimisme revolusioner Lenin selalu ditempa dengan dosis realisme yang sehat, yang berdasarkan pertimbangan situasi yang bijaksana. Tidak pernah terbesit di pikirannya untuk meluncurkan slogan perang gerilya oleh minoritas, yang di kemudian hari menjadi populer dan berakhir ke kekalahan demi kekalahan, terutama di Amerika Latin.

Seperti taktik lainnya, perang gerilya selalu subordinat pada kebutuhan gerakan massa kelas buruh. Ini tidak berarti bahwa kaum Bolshevik mengabaikan kerja di antara lapisan tertindas lainnya, seperti kaum pelajar dan tani. Sebaliknya, PBSDR berusaha melakukan kerja di antara kaum tani. Piatnitsky melaporkan bahwa hanya dalam 8 bulan pada 1906 percetakan ilegal partai di Moskow menerbitkan empat selebaran yang ditujukan ke kaum tani, dengan jumlah cetak 140.000 kopi. Partai juga mencetak 20.000 kopi program agraria partai. Tujuannya masihlah insureksi bersenjata. “Pada 1906 dan pada paruh pertama 1907,” tulis Piatnitsky, “seluruh kerja organisasi Moskow dilakukan dengan gerakan massa proletar dan tani yang akan berujung ke pemberontakan bersenjata melawan Tsarisme.”[8]

Meskipun demikian, pengaruh partai di antara kaum tani tetap lemah. Propaganda Sosial Demokratik hanya menemukan gaung yang sangatlah lemah di antara kaum tani sampai pada 1917. Mayoritas kaum tani, sepanjang mereka memiliki kesetiaan partai, memberikan dukungan mereka pada partai-partai “Narodnik”: partai Sosial Revolusioner (SR) atau Trudovik. Lapisan inilah yang ingin dijerat oleh autokrasi dengan janji-janji reforma agraria. Kongres Pertama Sosial Revolusioner diadakan dari 29 Desember 1905 sampai 4 Januari 1906. Garis politik SR biasanya adalah campuran eklektik sosialisme utopis (idealisasi komune tani, yakni obshchina yang katanya akan memungkinkan Rusia melompati kapitalisme dan menciptakan “sosialisme di satu negeri”, dengan melanggar hukum perkembangan sosial dan ekonomi) dan ultra-kiri-isme. Kaum SR berilusi bahwa komune tani akan menjadi basis sosialisme di Rusia. Mereka tidak menyadari bahwa obshchina (komune tani) adalah basis dari autokrasi Tsar, seperti yang ditunjukkan oleh Kerensky:

“Dengan menuntut ‘nasionalisasi’ atau ‘sosialisasi’ tanah, kaum Narodnik yakin kalau para petani akan dengan mudah bertransisi dari sistem penguasaan tanah (land tenure) komunal ke sistem penguasaan tanah koperasi. Namun pada kenyataannya komune tani pada saat itu hampir-hampir tidak ada kesamaannya sama sekali dengan komune yang diidealkan dan dibayangkan oleh kaum Narodnik dan Slavophile. Dari sudut pandang administratif, komune tani di bawah rejim Tsar adalah sistem yang cocok untuk kontrol polisi – seperti yang dijelaskan oleh Witte, untuk mengawasi kaum tani seperti anak kecil – dan juga untuk memungut pajak, karena yang tidak bisa membayar akan ditanggung oleh seluruh komune. Pemerintah membuat komune menjadi terbelakang secara ekonomi dan mencekiknya perlahan-lahan. Terlebih, keanggotaan di dalam komune adalah wajib dan ini tidak disukai oleh para petani.”[9]

Masalah-masalah taktik yang menyita perhatian Lenin dan para kolaboratornya pada saat itu – boikot pemilu, perang gerilya, dsb. – terikat erat dengan perspektif kebangkitan kembali revolusi, dan kemungkinan meledaknya gerakan tani yang dapat memberikan dorongan baru bagi gerakan buruh di kota. Diskusi teoretis mengenai masalah agraria selama Kongres Keempat adalah refleksi dari realitas yang sedang bergulir. Pemberontakan tani terus menajam. Dari bulan ke bulan ledakan-ledakan kekerasan di desa-desa meningkat dalam jumlah dan intensitas. Oleh karenanya masalah agraria niscaya menjadi sorotan Duma.

Untuk meremukkan gerakan revolusioner, rejim Tsar mengkombinasikan represi dengan tipu daya. Rejim ini menjanjikan UU pemilu yang baru, yang sedikit memperluas hak pilih di antara rakyat, tetapi masih membatasi hak pilih lebih dari 50 persen populasi -- perempuan, semua yang berusia di bawah 25 tahun, tentara, buruh di pabrik-pabrik kecil, kaum tani tak bertanah, dsb., mereka semua tidak diperbolehkan memilih. UU pemilu dibuat lebih berpihak pada tuan tanah. Misalnya di dalam dewan lokal, tuan tanah mendapatkan satu suara per 2.000 penduduk, sementara untuk petani hanya satu suara per 7.000 penduduk, dan untuk buruh 1 suara per 90.000 penduduk. Di propinsi Perm misalnya, suara seorang tuan tanah setara dengan 28 petani dan 56 buruh. Sistem pemilihan juga tidak langsung, dengan sistem komisi pemilihan yang rumit, yang dibentuk untuk “mewakili” kelas-kelas sosial yang berbeda – buruh, tani, tuan tanah – yang memilih “delegasi” mereka, yang kemudian akan memilih anggota Duma Negara. Dalam memoarnya, Kerensky menjelaskan undang-undang pemilu yang ada:

“Undang-undang pemilu yang baru ini sangatlah kompleks, dan UU ini melanggar setiap norma prosedur demokratik. Deputi-deputi Duma dipilih oleh dewan-dewan propinsi yang terdiri dari delegasi-delegasi yang dipilih secara terpisah oleh empat kelompok (curia): tuan tanah, populasi urban, petani, dan, di sejumlah distrik, buruh pabrik. Satu deputi Duma wajib dipilih oleh tiap-tiap curia, dan sisanya dipilih oleh dewan propinsi secara keseluruhan.”[10]

Sementara kelas tuan tanah feodal berkuasa, kaum tani diberikan posisi yang relatif lebih besar dalam parlemen dibandingkan dengan kaum buruh. Dengan metode Bonapartis yang tipikal, rejim ini bersandar pada kaum tani (terutama kaum tani “kaya”). Perwakilan tani di Duma relatif lebih besar, sekitar 45 persen. Ini merefleksikan keinsafan kelas penguasa akan keterisolasian sosial mereka, dan usaha mereka untuk meraih basis dukungan massa yang solid dari lapisan populasi pedesaan yang lebih konservatif. Sepanjang yang bisa diingat semua orang, Tsar telah menempatkan dirinya sebagai sang “Bapa Kecil” Rakyat (atau Batyushka), sebuah ilusi yang ada di benak setiap petani Rusia, yang dalam masa-masa sulitnya berkeluh-kesah: “Bog vysoko; tsar’ daleko” (“Tuhan jauh di Surga, dan Tsar jauh sekali”). Buku harian Tsar Nicholas II juga menunjukkan bagaimana dia percaya bahwa “Rakyat” (kaum tani) memujanya, sampai pada saat kaum tani menumbangkan dinastinya. 9 Januari, 1905, menciptakan sungai darah yang memisahkan rejim Tsar dan kelas buruh. Mimpi membangun sebuah benteng kokoh untuk melindungi rejim monarki, yang dibangun dari selapisan kaum tani kecil yang setia pada tsar, membentuk substansi dari periode reaksi Stolypin. Tetapi dengan memberi kaum tani suara di dalam Duma – walaupun dalam bentuk yang cacat – rejim autokrasi secara tidak sadar menggali lubang untuk dirinya sendiri dan memberi kaum sosialis revolusioner sebuah tuas.

Selain UU pemilu yang tidak adil, hak-hak yang dimiliki Duma sangatlah terbatas. Sebagian anggaran negara tidak boleh didiskusikan. Masalah pinjaman dan mata utang adalah sepenuhnya di bawah kendali Menteri Keuangan. Angkatan darat dan laut ada di bawah kendali Tsar. Dewan Kementerian, yang ditunjuk oleh monarki, diperluas dengan mengikutsertakan menteri-menteri terpilih, dan diberi titel Senat dan diubah menjadi kamar atas dengan hak yang sama seperti Duma! Penipuan yang luar biasa ini adalah buah keringat Count Witte, yang menunjukkan kegunaannya pada Tsar dengan menegosiasikan pinjaman yang besar dari Prancis.

Boikot atau Tidak?

Di Konferensi Tammerfors, yang berlangsung ketika pemberontakan Moskow sedang mencapai puncaknya, para pemimpin Bolshevik memperdebatkan masalah sikap yang harus mereka ambil terhadap pemilu Duma yang akan datang. Kebanyakan orang mendukung boikot. Meskipun demikian Lenin mengambil sikap yang hati-hati. Ketika voting dilakukan, dua suara menentang proposal boikot: Lenin dan Gorev. Ini seketika membuat para delegasi lainnya geram, dan Lenin terpaksa mencampakkan oposisinya. Bukan untuk pertama kalinya atau terakhir kalinya Lenin terpaksa mengalah pada mood dari lapisan kepemimpinan partai dan mengambil posisi yang bertentangan dengan pertimbangan sehatnya. Posisinya yang baru disambut dengan riuh tepuk tangan, walaupun dia dengan penuh sesal mengatakan bahwa dia “mundur secara teratur”.[11]  

Para pendukung boikot terutama kuat di antara pengurus partai, termasuk Stalin yang menghadiri pertemuan partainya yang pertama di luar negeri. Para pengurus partai menganggap bahwa pengetahuan praktis mereka mengenai situasi di Rusia cukup untuk membuat mereka lebih superior daripada para teoretikus partai, termasuk Lenin sendiri. Di sesi lainnya, Konferensi Tammerfors memutuskan mendukung re-unifikasi PBSDR. Kongres Partai yang keempat harus diselenggarakan, dan langkah-langkah awal harus segera diambil untuk menyatukan kedua faksi partai. Komite-komite lokal harus menyatukan aktivitas mereka, dan semua komite harus dipilih dari bawah dan harus bertanggung jawab pada eselon yang lebih rendah. Namun sentralisme demokratik harus ditaati dan, setelah dipilih, komite harus diberikan “kekuasaan sepenuhnya dalam hal kepemimpinan ideologi dan praktek.”[12]

Tidak lama kemudian, para perwakilan dari kedua tendensi segera bertemu, yang dihadiri oleh Lenin dan Martov, untuk meluruskan hal-hal yang merintangi persatuan dan menyelenggarakan Kongres Partai Keempat. Mengenai masalah memboikot Duma, kaum Menshevik mengalah pada kaum Bolshevik. Mereka sendiri masih di bawah pengaruh Revolusi 1905 yang masih bergulir, dan mereka juga curiga pada Duma. Akan tetapi, pada saat Kongres, gerakan sudah mulai mendingin. Setelah kekalahan Desember, taktik partai sudah harus diubah karena situasi yang baru. Setelah gagal meraih kemenangan dengan serangan langsung, kaum revolusioner harus mengganti taktik mereka, dengan menggunakan semua peluang legal yang ada untuk menghimpun kaum buruh di seputar program revolusioner. Memboikot parlemen di bawah situasi seperti ini adalah sebuah kesalahan yang serius. Trotsky mengatakan: “Kita diperbolehkan memboikot parlemen hanya kalau gerakan massa cukup kuat untuk menumbangkannya atau mengabaikannya. Tetapi ketika massa ada dalam posisi mundur, taktik boikot kehilangan makna revolusionernya.”[13]

Diskusi-diskusi internal yang sengit mengenai masalah boikot berlangsung. Debat ini memperlebar jurang yang memisahkan Bolshevisme dan Menshevisme. Kaum Menshevik, dengan kecenderungan oportunis mereka, segera menarik kesimpulan bahwa revolusi sudah berakhir dan sudah waktunya kaum revolusioner berpaling ke arena parlementer. Namun mereka menemui kesulitan meyakinkan anggota-anggota bawahan mereka. Mereka juga awalnya menolak berpartisipasi dalam pemilu, tetapi kemudian mengubah posisi mereka menjadi “semi-boikot”, yang terhubungkan dengan slogan “pemerintahan-otonom revolusioner” mereka yang kelimpungan dan pada intinya tidak bermakna. Lenin mengecam kebimbangan kaum Menshevik: “Mereka tidak percaya pada revolusi dan mereka tidak percaya pada Duma.” Plekhanov, yang sekarang ada di sayap kanan Menshevik, sepenuhnya mendukung partisipasi dalam Duma.

Kendati represi yang terus meningkat, Partai masih berfungsi. Pertemuan-pertemuan masih bisa diselenggarakan, dimana masalah-masalah taktik diperdebatkan dengan sengit. Mood umum di antara anggota Partai masihlah menentang partisipasi dalam Duma. Pada 11 Februari di konferensi Partai di Petersburg, yang dihadiri oleh Bolshevik dan Menshevik, Lenin memberikan pidato mengenai masalah sikap partai terhadap Duma. Dan dan Martov, yang mewakili Menshevik, menentang partisipasi. Konferensi kedua mendukung posisi “boikot aktif” yang diajukan Lenin. Di kemudian hari Lenin secara jujur mengakui bahwa posisi ini adalah sebuah kekeliruan, tetapi pada saat itu posisi tersebut merefleksikan mood yang ada di antara para aktivis partai. Watak reaksioner Duma begitu jelas tidak hanya bagi kaum Bolshevik tetapi juga bagi mayoritas kaum Sosial Demokrat. Mood mayoritas kaum Sosial Demokrat di seluruh Rusia cenderung ke memboikot parlemen. Lava revolusi belumlah mendingin. Tidak hanya kaum Bolshevik, tetapi juga kaum Sosial Demokrat Polandia dan Latvia, kaum Sosial Demokrat Lituania, dan bahkan kaum Bund yang biasanya konservatif, mendukung taktik boikot. Bahkan banyak kaum Menshevik yang masih ambivalen. Tetapi mood yang ada di antara para aktivis partai ini tidak sesuai dengan mood massa.

Mengenai masalah partisipasi dalam pemilu Duma pada 1906, Eva Broido, dalam memoarnya, menceritakan bagaimana PBSDR masuk ke Duma tanpa disengaja: “Kaum Bolshevik menentang partisipasi, kaum Menshevik mendukung. Pada akhirnya kedua pihak setuju kalau partai harus berpartisipasi hanya dalam tahapan pertama pemilu – yakni pada tahapan electoral college (tidak ada pemilihan langsung). Dengan begini partai berharap bisa memanfaatkan pemilu untuk tujuan agitasi dan propaganda, terutama di antara buruh. Kenyataannya terjadi hal di luar dugaan. Di daerah dimana kaum Menshevik memiliki mayoritas, seperti di Caucasus, partai langsung berpartisipasi dalam pemilu dan berhasil memasukkan beberapa anggota ke Duma. Selain itu, sejumlah anggota Duma yang terpilih sebagai calon independen lalu bergabung ke Partai. Oleh karenanya sekarang Partai terwakili dalam Duma dan harus menentukan sikapnya. Selain itu – di luar perkiraan kaum Bolshevik – Duma segera menjadi fokus dari perhatian publik, bahkan di antara kelas buruh. Sudah tidak mungkin lagi mengabaikan Duma – dan kami kaum Menshevik menjadi yakin kalau kita harus menggunakan peluang ini sebisa mungkin untuk menyiarkan pesan sosialis kita ke seluruh bangsa.”[14]

Pada musim semi 1906, pemilu Duma yang pertama dilaksanakan. Manifesto Oktober memberikan hak pilih yang relatif luas, dan ini memberikan peluang bagi kaum Sosial Demokrat untuk meluncurkan sebuah kampanye yang sukses. Di bawah sistem ini, kaum buruh memilih secara terpisah melalui sistem komisi elektoral yang dikenal sebagai “curiae”, yang memilih perwakilan dengan cara seperti berikut. Ada tiga tahapan dalam pemilu. Pada tahapan pertama, buruh memilih perwakilan di tingkat pabrik. Pabrik dengan 50 sampai 1000 buruh mendapatkan satu perwakilan. Pabrik yang lebih besar memilih satu perwakilan per 1000 buruh. Pada tahapan kedua, para perwakilan ini kemudian memilih “anggota pemilih”. Pada tahapan ketiga dan terakhir, “anggota pemilih” ini lalu memilih deputi Duma. Kenyataan bahwa pemilihan ini bersifat tidak langsung, dan oleh karenanya tidak demokratik, memberikan keuntungan bagi kaum Sosial Demokrat, karena mereka bisa mengkonsentrasikan energi mereka di daerah-daerah buruh, yang merupakan “wilayah alami” mereka.

Posisi boikot kaum Bolshevik datang dari harapan akan tibanya gelombang revolusi yang baru. Tetapi  kaum Bolshevik salah membaca situasi. Lapisan buruh yang lebih maju merasakan perlunya partai revolusioner dan oleh karenanya bergabung ke Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia. Tetapi massa luas semakin hari menjadi semakin apati dan pasif. Mood lapisan buruh yang paling aktif dan militan kadang-kadang bisa tidak sesuai dengan mood keseluruhan kelas buruh. Lapisan pelopor dapat bergerak terlalu jauh di depan kelas mereka. Ini kekeliruan yang besar di dalam perjuangan kelas seperti halnya di dalam peperangan militer. Bila pasukan depan maju terlalu jauh dan kehilangan kontak dengan pasukan di belakang, pasukan depan  ini dapat menjadi terekspos dan mudah dihancurkan. Ini sama benarnya ketika lapisan buruh yang paling militan, yang karena ketidaksabaran mereka, salah membaca mood buruh, atau mengira bahwa tingkat kesadaran buruh luas sama dengan tingkat kesadarannya. Demikianlah yang terjadi.

Kaum Bolshevik salah membaca situasi dan gagal memahami bahwa revolusi sedang dalam tahapan pasang surut. Seperti halnya dalam peperangan, begitu juga dalam revolusi atau bahkan dalam pemogokan, kita harus bisa mundur secara teratur ketika situasi menuntutnya. Berteriak maju ketika kondisi objektif mengharuskan kita mundur adalah resep untuk bencana. Taktik boikot aktif gagal. Watak reaksioner Duma yang sesungguhnya tidaklah jelas bagi massa. Ilusi konstitusional sangatlah kuat terutama di antara kaum tani yang percaya mereka bisa mendapatkan tanah lewat Duma. Tetapi kemenangan kontra-revolusi dan mundurnya gerakan massa berarti bahwa bagi massa borjuis kecil dan kaum tani, dan bahkan selapisan kelas buruh, Duma adalah satu-satunya harapan, sekecil apapun harapan itu, untuk perbaikan kondisi hidup mereka. Kenyataan bahwa harapan ini sama sekali tidak memiliki dasar yang rasional tidaklah membuatnya lemah sedikit pun.

Selama Lenin masih percaya bahwa gelombang revolusi yang baru akan tiba, dia menempatkan semua penekanannya pada gol insureksi bersenjata. “Sosial Demokrasi revolusioner harus pertama-tama menekankan perjuangan yang paling langsung dan teguh, dan hanya pada pilihan terakhir menggunakan metode perjuangan yang tidak langsung,” tulis Lenin pada Oktober 1906. Dalam kata lain, sikap Lenin mengenai partisipasi di dalam parlemen yang paling reaksioner sekalipun didikte bukan oleh prinsip yang abstrak atau dogmatis tetapi oleh tuntutan revolusi. Untuk seluruh periode dari 1906 sampai pecahnya Perang Dunia Pertama, masalah partisipasi dalam pemilu Duma, dengan UU pemilunya yang paling reaksioner di seluruh Eropa, adalah masalah strategi dan taktik yang paling sengit diperdebatkan dalam Partai. Bertahun-tahun kemudian, dalam karya klasiknya Komunisme Sayap Kiri, Lenin menjelaskan posisinya pada saat itu:

“Ketika, pada Agustus 1905, Tsar mengumumkan pembentukan sebuah ‘parlemen’ konsultatif, kaum Bolshevik menyerukan boikot, bertentangan dengan semua partai oposisi dan kaum Menshevik. Dan ‘parlemen’ tersebut pada kenyataannya tersapu oleh revolusi Oktober 1905. Slogan boikot pada saat itu terbukti tepat, bukan karena ketidakikutsertaan dalam parlemen reaksioner adalah hal yang tepat pada umumnya, tetapi karena kita dengan tepat membaca situasi objektif pada saat itu, yang sedang bergerak dengan cepat dari pemogokan massa menjadi pemogokan politik, kemudian menjadi pemogokan revolusioner, dan akhirnya menjadi pemberontakan. Selain itu, perseteruan pada waktu itu berpusat di sekitar permasalahan apakah penyelenggaraan majelis perwakilan yang pertama baiknya diserahkan kepada tsar, atau kita harus merenggut penyelenggaraannya dari tangan rejim yang lama ini. Bila tidak ada, dan tidak akan ada, kepastian akan adanya situasi objektif yang serupa, dan bila tidak ada kepastian adanya tren yang serupa dan tingkat perkembangan situasi yang sama, maka taktik boikot sudah tidak lagi tepat.”

“Pemboikotan ‘parlemen’ oleh kaum Bolshevik pada 1905 memperkaya kaum proletariat revolusioner dengan pengalaman politik yang tiada tara dan menunjukkan bahwa, bila bentuk-bentuk perjuangan legal dan ilegal, parlementer dan non-parlementer dipadukan, kadang-kadang berguna dan bahkan wajib untuk menolak bentuk-bentuk parlementer. Akan tetapi akan menjadi hal yang sangatlah keliru kalau kita menerapkan pengalaman ini dengan buta, dengan meniru begitu saja, dan dengan tidak kritis ke situasi yang berbeda. Taktik boikot oleh Bolshevik pada 1906 adalah sebuah kesalahan, tetapi ini adalah sebuah kesalahan yang kecil dan mudah diperbaiki. Taktik boikot pada 1907, 1908, dan tahun-tahun berikutnya adalah kesalahan yang paling serius dan paling sulit diperbaiki, karena, di satu sisi, tidak ada prospek untuk sebuah kebangkitan gelombang revolusi yang cepat dan peralihannya menjadi sebuah pemberontakan, dan di sisi lain, seluruh situasi historis untuk perombakan monarki borjuis menuntut perpaduan antara aktivitas legal dan ilegal.”[15]   

Poin yang sama juga dibuat oleh Trotsky: “Boikot adalah sebuah deklarasi perang terbuka melawan rejim, sebuah serangan langsung terhadapnya. Bila tidak ada kebangkitan revolusioner yang luas ... maka boikot tidak akan berhasil.” Jauh di kemudian hari, pada 1920, dia menulis: “Adalah sebuah kekeliruan ... bagi kaum Bolshevik untuk memboikot Duma pada 1906.” Dan Trotsky menambahkan: “Ini adalah sebuah kekeliruan, karena setelah kekalahan Desember kita tidak bisa lagi mengharapkan sebuah serangan revolusioner dalam waktu yang dekat; oleh karenanya adalah hal yang bodoh untuk menolak menggunakan Duma sebagai mimbar untuk memobilisasi massa revolusioner.”[16]

Menggantung di atas semua diskusi mengenai Duma ini adalah masalah yang jauh lebih fundamental mengenai sikap partai buruh terhadap kaum liberal. Setelah peristiwa Desember, ada indikasi jelas bahwa perimbangan kelas mulai bergeser. Kaum buruh ada dalam posisi bertahan di mana-mana. Peristiwa Desember juga menandai pergeseran menentukan dalam sikap kaum liberal. Partai Kadet sudah memalingkan punggung mereka ke Revolusi Oktober 1905. Pemberontakan Moskow akhirnya menghapus sisa-sisa simpati kaum liberal pada kaum proletariat revolusioner. Sekarang mereka menunjukkan jati diri mereka sesungguhnya. Semua kaum borjuasi bersatu menentang “kegilaan” Desember. Tentu saja bukan pertama kalinya dalam sejarah kita saksikan fenomena seperti ini. Hal yang persis sama terjadi pada revolusi 1848, seperti yang dijelaskan oleh Marx dan Engels.

Metode tipikal dari kaum liberal pada saat periode reaksi adalah menuntut reforma untuk mencegah revolusi, menyerukan kepada negara untuk “menyelamatkan dirinya sendiri”. Nasihat baik hati ini dicemooh oleh kaum Oktobris di Duma. Keluhan munafik dari kaum liberal mengenai “ekses-ekses” kontra-revolusi ditujukan sebagai anjuran bersahabat kepada autokrasi akan cara terbaik untuk mencekik revolusi. Jelas, jauh lebih baik mencekik seseorang dengan cara sedemikian rupa sehingga yang dicekik tidak membuat banyak suara. Tetapi mengenai perlunya mencekik, tidak ada perbedaan pendapat! Inilah pada esensinya perbedaan antara dua sayap borjuis kontra-revolusioner. Partai Kadet menyebut diri mereka “partai pembebasan rakyat”, untuk menipu rakyat dan mengakhiri revolusi yang membuat mereka gemetar ketakutan. Sikap terhadap Partai Kadet adalah garis utama yang memisahkan kaum Bolshevik dan kaum Menshevik: kaum Menshevik mengajukan pembentukan blok dan kerja sama dengan Kadet di Duma, sementara Lenin menyerang dengan tajam kaum liberal kontra-revolusioner ini.

Tabiat kontra-revolusioner kaum Liberal bukanlah sebuah kebetulan. Kaum borjuasi Rusia yang lemah terikat seribu benang pada aristokrasi feodal, lewat pernikahan, lewat asal-usul sosial, atau kepemilikan tanah. Menurut sebuah studi kontemporer oleh N.A. Borodin, The State Duma in Figures, dari 153 anggota Kadet di Duma Pertama, 92 datang dari latar belakang bangsawan. Tiga dari mereka memiliki tanah seluas 5000-10000 hektar; 8 dari mereka memiliki 1000-2000 hektar tanah dan 30 memiliki 500-1000 hektar tanah. Jadi, sekitar sepertiga anggota parlemen Kadet adalah tuan tanah besar.[17] Bagaimana mungkin mereka bisa menyelesaikan problem yang paling mendesak di Rusia, yakni problem agraria? Kendati “protes-protes” mereka yang progresif mengenai banyak isu, kaum liberal di Duma lebih dekat dengan rejim Tsar daripada buruh dan tani.

Kaum liberal borjuis terpecah menjadi dua kamp di Duma, yang diwakili oleh “kaum Oktobris” Kanan dan “kaum Kadet” Kiri. Tetapi walaupun mereka berseteru, perbedaan mereka hanya di permukaan saja. Mengenai kaum buruh dan tani revolusioner, mereka bersatu di dalam sebuah blok kontra-revolusioner untuk mewakili kepentingan Properti. Kaum liberal dengan antusias mendukung dihancurkannya revolusi, tetapi mereka tidak sungkan bersandar pada gerakan massa untuk menekan rejim agar memberikan sejumlah konsesi. Tetapi tidak ketika massa tampaknya berpaling melawan mereka. Kaum liberal borjuis telah menjual jiwa mereka kepada rejim autokrasi (dengan alasan kalau rejim ini telah secara ajaib berubah menjadi pemerintahan “Monarki Konstitusional”) dan mereka segera bergabung ke kamp reaksi, dimana mereka menjadi oposisi loyal Kerajaan, yang merupakan kedok untuk kontra-revolusi. Sejak itu masalah sikap Sosial Demokrasi terhadap partai borjuis menjadi masalah utama bagi kaum revolusioner.

Ilusi Parlementer

Pada 27 April (10 Mei) 1906, pertemuan Duma yang pertama diselenggarakan di istana Tauride, bekas istana pangeran Potemkin, orang kesayangan Ratu Catherine yang Agung. Di aula kebesaran, dikelilingi oleh para bangsawan dan orang-orang istana, para perwakilan Duma yang terpilih menyimak dengan penuh rasa hormat pidato pembukaan Tsar Nicholas. Sebuah tontonan yang penuh warna-warni dan agak tidak pada tempatnya menyambut mata seorang pengamat dari Inggris, yang menggambarkannya seperti berikut: “Para petani dengan mantel hitamnya yang panjang, beberapa dari mereka mengenakan medali perang dan salib; para pendeta, orang Tartar, orang Polandia, beraneka ragam orang dengan beraneka ragam pakaian... Orang-orang tua terhormat dengan jasnya; para intelektual yang terlihat sangat demokratik, dengan rambut gondrong dan kaca mata pince-nez; uskup Polandia dengan jubah ungu, yang mirip Paus; orang-orang tanpa kerah; kaum proletar, dengan kaos Rusia yang longgar dan ikat pinggang; orang-orang dengan pakaian dari desainer ternama Davies atau Poole, dan orang-orang berpakaian kostum dari dua abad yang lalu... Ada seorang Polandia yang mengenakan pakaian ketat berwarna biru muda, jas Eton pendek dan sepatu bot Hessian. Rambutnya keriting, dan dia mirip hero dari opera Cavalleria Rusticana. Ada lagi seorang Polandia yang mengenakan jas flanel putih yang panjang sampai lutut... Ada sejumlah kaum sosialis yang tidak mengenakan kerah dan tentu saja berbagai macam penutup kepala yang dapat Anda bayangkan.”[18]

Kita dapat saksikan komposisi Duma yang teramat heterogen di sini. Dalam Duma ini akhirnya kita temui keanekaragaman masyarakat Rusia berkumpul di bawah atap yang sama, siap untuk menyelesaikan problem-problem masyarakat lewat diskusi yang demokratik dan itikad baik! Tetapi di balik kilau ritual parlementer ini ada satu garis patahan yang tak terlihat. Ibu sang Tsar menderita syok yang begitu dahsyat melihat massa yang kotor ini sehingga untuk beberapa hari dia tidak mampu menenangkan dirinya. “Mereka menatap kita seperti musuh,” akunya pada Menteri Keuangan di kemudian hari, “dan saya tidak bisa berhenti memandang wajah-wajah tertentu, yang tampaknya mencerminkan sebuah kebencian yang mengherankan terhadap kita semua.”[19] Hasil pemilihan Duma untuk partai sayap kanan tidak terlalu baik. Hanya dua belas kaum Oktobris yang terpilih. Sementara Partai Kadet meraup keuntungan dari boikot pemilu yang dilakukan kaum Sosial Demokrat. Berlagak sebagai satu-satunya alternatif kiri, mereka memenangkan 184 kursi. Kebingungan sikap terhadap pemilu Duma sangat merugikan kaum Sosial Demokrat. PBSDR awalnya mencoba memboikot pemilu, tetapi kemudian ketika menjadi jelas bahwa massa rakyat berpartisipasi di dalamnya, PBSDR membanting setir dan mengubah sikap mereka, tetapi ini terlalu terlambat. Sebagai akibatnya, mereka membantu Partai Kadet. Bila saja kaum Sosial Demokrat dan Sosial-Revolusioner mengedepankan kandidat untuk Duma, Partai Kadet tidak akan menang telak seperti ini. Ini terbukti pada pemilu Duma selanjutnya.

Taktik kaum Sosial Demokrat yang keliru memberi Partai Kadet kendali penuh terhadap Duma. Menjadi besar kepala, Partai Kadet segera mengajukan proposal agar sebuah pemerintahan yang baru harus dibentuk dan pemerintahan ini harus bertanggung jawab pada Duma, sementara sistem pemerintahan yang sebelumnya ditunjuk oleh Tsar dan hanya bertanggung jawab pada Tsar. Secara efektif proposal ini menuntut agar kekuasaan diserahkan ke Partai Kadet. Karena ilusi parlementer mereka, kaum Menshevik mendukung tuntutan kaum liberal, sementara kaum Bolshevik menentangnya karena tuntutan ini bermain-main dengan parlemen. Bahkan dari sudut pandang demokrasi saja tuntutan ini bukanlah sebuah tuntutan yang bisa didukung oleh sebuah partai yang layak menyandang nama partai revolusioner. Selama tidak ada hak pilih yang adil, langsung, dan universal, Duma tidaklah mewakili rakyat. Kalau kita mendukung manuver-manuver parlementer Partai Kadet ini akan menciptakan ilusi di antara rakyat bahwa pemerintahan macam ini akan lebih baik daripada pemerintahan Tsar yang tidak demokratik. Tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian. Kaum borjuasi hanya ingin mencapai persetujuan dengan monarki, sementara partai revolusioner kelas buruh ingin menyingkirkan rejim monarki dan menggantikannya dengan pemerintahan yang sungguh demokratik.  Kedua tujuan ini tidak kompatibel dan ini terekspresikan dalam dua taktik yang berseberangan. Konflik mengenai taktik Duma segera memecah PBSDR menjadi dua sayap: “Mendukung atau menentang pemerintahan Kadet?” Ini adalah pertanyaan yang diajukan di dalam referendum partai.

Dalam kampanye seputar referendum ini, Eva Broido, seorang Menshevik, menggambarkan pertemuan yang berlangsung di Galangan Kapal Baltik di Petersburg, yang merupakan basisnya Menshevik: “Setelah membuka pertemuan ini, saya mempersilakan Lenin untuk menyampaikan pidatonya. Dia memberikan pidato yang sangat baik dan penuh gairah. Pidatonya sering terpotong oleh riuh tepuk tangan. Dan yang membuat saya terkejut, dia tidak menyerang Menshevik barang sekalipun.”[20] Dalam pemungutan suara Lenin kalah telak, 13 suara untuknya dan 50 suara untuk Menshevik. Tetapi ini menunjukkan gayanya dalam berpolemik di dalam partai, terutama ketika berurusan dengan buruh. Broido mengakui keterkejutannya. Apakah ini adalah Lenin yang sama yang sebelumnya pecah dengan Martov dan Plekhanov? Tetapi di hadapan buruh yang masih ada di bawah pengaruh Menshevik, “dia tidak menyerang Menshevik barang sekalipun.” Ini berbicara banyak mengenai metode argumen Lenin.

Walaupun teks pidato Lenin di galangan kapal itu sudah hilang, tidaklah terlalu sulit untuk membayangkan apa isi pidatonya. Dia akan menyerang, bukan para pemimpin Menshevik, tetapi musuh utama rakyat – para tuan tanah dan kapitalis dan rejim Tsar. Dia akan menjelaskan bahwa kaum liberal di Duma, yakni Partai Kadet, telah mengkhianati revolusi dan ingin berpolitik dagang sapi dengan Tsar. Dia akan menyerukan kepada buruh untuk bersandar hanya pada kekuatan mereka sendiri, dan tidak terjebak ke dalam aliansi atau transaksi politik dengan kaum liberal pengkhianat. Dan dia akan menuntut agar PBSDR berdiri teguh di atas politik kemandirian kelas. Lenin selalu mengandalkan kekuatan dari argumennya untuk meyakinkan orang. Hanya dengan cara itu dia akhirnya mampu memenangkan mayoritas ke sisinya, pertama-tama lapisan kelas buruh yang paling aktif, dan kemudian kelas buruh secara keseluruhannya. Metode yang sama dia gunakan pada 1917, ketika Lenin memandu Partai Bolshevik untuk memenangkan massa dengan slogannya yang terkenal itu: “Menjelaskan dengan sabar!”

Walaupun Duma didominasi oleh Partai Kadet, mereka bukanlah blok parlementer yang paling besar. Ada blok perwakilan tani yang besar, sekitar 200 deputi. Sejumlah orang berpikir bahwa ini akan menjadi faktor kestabilan. Ilusi  kaum muzhik (tani) terhadap Tsar masihlah kuat di antara lapisan kaum tani kaya. “Puji Tuhan!” seru Count Witte, “Duma ini akan didominasi oleh kaum tani.” Tetapi optimisme ini terlalu prematur. Kaum tani menjadi semakin sadar akan kepentingan mereka sendiri. Selapisan besar perwakilan tani mengorganisir diri mereka sebagai “Kelompok Pekerja” (“Trudovaya Gruppa” atau “Trudoviks”). Lenin segera memahami signifikansi dari peristiwa ini. Kaum tani mengirim perwakilan mereka ke Duma bukan untuk membuat pidato tetapi untuk mendapatkan tanah. Mereka akan dengan cepat menyadari bahwa Duma tidak berdaya untuk menyelesaikan problem-problem mendesak mereka. Sementara, kaum Sosial Demokrat harus mencoba dengan segala cara membangun hubungan yang kokoh dengan para perwakilan tani, yang memiliki psikologi yang kontradiktif seperti yang dijelaskan oleh Lenin seperti berikut: “[Seorang Trudovik yang tipikal adalah seorang tani yang] tidaklah menolak berkompromi dengan monarki, tidaklah menolak hidup damai dan tenteram di tanah miliknya sendiri di bawah sistem borjuis; tetapi pada saat ini usaha utamanya adalah berjuang melawan feodalisme demi demokrasi.”[21]

Kaum Bolshevik berusaha memenangkan kaum Trudovik dari pengaruh Partai Kadet. Tetapi taktik seperti ini mengharuskan kaum Bolshevik menggunakan parlemen secara cerdik. Taktik boikot telah gagal. Mereka harus mengubah taktik Partai agar sesuai dengan kondisi-kondisi yang ada supaya partai tidak menjadi sekte impoten yang terputus dari massa. Dengan secara cerdik memadukan kerja legal dan ilegal, kita bisa meraih yang terbaik dari kedua kerja ini. Kaum revolusioner dapat menggunakan peluang-peluang kerja legal yang masih terbuka bagi mereka, dan memadukan kerja ini dengan aktivitas-aktivitas ilegal. Apa yang tidak bisa dikatakan dalam koran legal dan dari atas podium Duma dapat dicetak di koran-koran bawah tanah. Kerja para perwakilan Sosial Demokrat di Duma dapat dipublikasikan di koran-koran legal seperti Volna, Vperyod, dan Ekho, yang mengekspos kepalsuan dari parlemen gadungan ini dan pengkhianatan kaum liberal.

Bagi kaum Menshevik Duma menjadi pusat dari semua perhatian mereka. Penyimpangan reformis ini kelihatan dengan segera lewat deklarasi Fraksi Duma Sosial Demokrat pada 16 Juli yang menyatakan bahwa Duma “dapat menjadi pusat gerakan dari seluruh rakyat untuk melawan negara autokratik”.[22] Dari sana dimulailah serangkaian benturan antara Bolshevik dan Menshevik mengenai masalah sikap terhadap Duma. Komite Pusat yang didominasi oleh Menshevik mengirim sebuah surat edaran ke semua ranting PBSDR yang meminta mereka untuk mendukung semua langkah yang diambil oleh Duma (atau, Partai Kadet) untuk mengganti Goremykin, ketua Dewan Menteri, dengan seorang dari Kadet. Bolshevik segera memprotes langkah ini, yang dilihatnya sebagai mengekor kaum liberal. Menshevik berargumen bahwa kita harus mendukung kaum borjuasi progresif (yakni Partai Kadet) dalam melawan rejim Tsar. Lenin membalas bahwa perwakilan parlementer partai harus menjaga kemandirian penuh dari partai-partai yang lain, terutama kaum liberal borjuis. “Bersandar pada kekuatanmu sendiri,” katanya kepada mereka. “Hanya dengan demikian kita bisa memenangkan lapisan bawah kaum borjuis kecil revolusioner (Trudovik), dan memisahkan mereka dari kaum liberal (Kadet).”

Ambisi Partai Kadet untuk menguasai Kementerian dan gairah menggebu-gebu mereka untuk menyelamatkan autokrasi dari dirinya sendiri segera membuat mereka berbenturan dengan Kementerian yang berkuasa. Pada kenyataannya, mereka sedang mengatakan ini kepada Tsar: “Lihat, para menteri Anda tidak bisa diandalkan untuk mempertahankan tatanan yang ada. Anda membutuhkan orang-orang baru, yang dipercayai oleh massa. Hanya kami yang bisa mengendalikan massa. Tetapi Anda harus meminggir sedikit dan berbagi kekuasaan dengan kami.” Akan tetapi rejim sudah mulai pulih dari kekacauan yang sebelumnya menghantamnya. Dengan peluru dan tiang gantung mereka mulai meraih kendali situasi. Mereka sudah tidak lagi membutuhkan bantuan kaum liberal. Bersikeras untuk menghapus semua pencapaian Revolusi 1905, rejim mulai melakukan ofensif. Bahkan resistensi setengah-hati dari kaum Liberal di Duma tidak bisa ditolerir oleh Tsar Nicholas.

Pada 13 Mei, 1906, pemerintah menolak tuntutan kaum Kadet di Duma. Duma membalas dengan mosi tidak percaya terhadap pemerintah dan menuntut agar Kementerian dibubarkan. Komite Pusat Menshevik di PBSDR mengedarkan ke organisasi-organisasi partai sebuah resolusi mendukung tuntutan Partai Kadet untuk membentuk sebuah Kementerian Duma (yang akan secara efektif dikendalikan oleh Partai Kadet). Oportunisme kaum Menshevik di Duma begitu keterlaluan dan tidak bisa diterima oleh anggota-anggota Partai. Kaum Bolshevik berhasil meyakinkan mayoritas Partai untuk mengecam taktik Duma Partai Kadet. Di Petersburg, organisasi-organisasi Partai memberikan 1760 suara untuk Bolshevik, dan 952 untuk Menshevik, sehubungan dengan isu ini. Di Konferensi Juli, organisasi-organisasi Partai mengkonfirmasikan posisi ini. Setelah sebuah debat dimana Lenin berbicara mewakili Bolshevik dan Dan mewakili Menshevik, kaum Sosial Demokrat Petersburg memutuskan menolak tuntutan Kementerian Duma. Kendati demikian, fraksi parlemen Sosial Demokratik meneruskan posisi konsiliasinya dengan mendukung resolusi Kadet mengenai masalah agraria.

Lenin mengutuk keras manuver-manuver kaum liberal di Duma: “Duma tak berdaya. Ia tak berdaya karena ia tidak memiliki bayonet dan senapan mesin yang dimiliki oleh pemerintah, dan juga karena, secara keseluruhan, ia tidak revolusioner dan tidak mampu mengobarkan perjuangan yang teguh.”[23] Lenin terbukti benar tidak lama kemudian. Duma menyerah persis mengenai masalah tanah. Jauh dari menjadi basis reaksi, kaum Trudovik menggunakan posisi mereka untuk beragitasi demi hak-hak kaum tani. Masalah penyitaan tanah milik tuan tanah besar diajukan di Duma, yang membuat geram Tsar. “Apa yang menjadi milik tuan tanah adalah milik mereka,” balasnya dengan murka. Ini menandai akhir dari Duma pertama. Dibuat kesal oleh pidato-pidato radikal yang menggema dari aula istana Tauride, Tsar memutuskan untuk mengakhiri sirkus ini.

Duma Dibubarkan

Ke dalam skenario yang bergejolak ini masuk Pyotr Arkadevich Stolypin yang flamboyan, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, dan mulai dari sekarang menjadi salah satu aktor kunci di dalam periode ini. Seorang tuan tanah kaya dengan ambisi politik yang besar, Stolypin memiliki dua properti, di propinsi Penza seluas 1150 hektar, dan di Kovno seluas 1000 hektar. Selain itu, istrinya, anak perempuan dari seorang pejabat tinggi, memiliki tanah seluas 5600 hektar di Kazan. Oleh karenanya dia punya banyak alasan untuk tertarik pada masalah agraria. Walaupun dia umumnya digambarkan sebagai seorang reformis progresif, Stolypin meraih kepercayaan penuh dari Tsar karena dialah yang bertanggung jawab menumpas gerakan secara brutal dan kejam menyusul Revolusi 1905. “Langkah-langkah kejamnya dalam menumpas gerakan di propinsi-propinsi Volga pada 1905-06 membuatnya terkenal,” tulis Lionel Kochan. “Kata-katanya sendiri menunjukkan ini: mengenai tindakan yang diambilnya untuk menumpas kaum tani dia melapor ke Kementerian Dalam Negeri, ‘hampir semua orang di desa dikirim ke penjara sesuai instruksi saya... Saya mengirim pasukan Cossack ke rumah para pembangkang yang paling buruk, menempatkan di sana satu skuadron Cossack dari Orenburg dan menerapkan darurat militer di desa tersebut.”[24] Reputasi Stolypin di mata rakyat ditunjukkan oleh fakta bahwa simpul gantung dinamai “dasi Stolypin”, dan sampai pada akhir 1930an gerbong kereta yang digunakan oleh rejim Stalin untuk mengirim para tapol masih disebut “gerbong Stolypin”. Dia adalah satu dari sedikit orang-orang berbakat di antara penasihat Tsar selama periode sebelum 1914, tahun dimana dia jadi korban peluru seorang pembunuh. Kerensky menggambarkan reaksioner yang cerdik dan berbakat ini seperti berikut:

“Sebelum Duma Pertama dibuka, seorang Menteri Dalam Negeri yang baru ditunjuk di St. Petersburg. Ia adalah gubernur kota Saratov, Peter A. Stolypin, yang ketika diangkat jadi menteri tidaklah terlalu dikenal oleh banyak orang. Dalam waktu tiga bulan, setelah dibubarkannya Duma pada 8 Juli, 1906, dia diangkat sebagai ketua Dewan Kementerian... Datang dari kelas atas di sebuah propinsi kecil, dia bukanlah anggota lingkaran istana di St. Petersburg dan tidak pernah menjabat posisi penting di ibukota. Seluruh kariernya dihabiskan di propinsi-propinsi kecil, dimana dia tidak kekurangan koneksi dengan tokoh-tokoh Zemstvo yang terkemuka...”

“Dia tidak setuju dengan pendahulunya, Goremykin, bahwa Duma hanyalah ‘tempat debat kusir’ yang tidak berguna. Sebaliknya, tidak seperti Goremykin, seorang birokrat yang picik dan kejam, dia sangatlah tertarik pada peran menteri konstitusional. Berpidato di depan parlemen, berdebat secara terbuka dengan kubu oposisi mengenai isu-isu penting, dan memerintah bangsa dengan pemerintahan mayoritas adalah hal-hal yang memiliki daya tarik yang sangat kuat baginya.”

“Stolypin memiliki gairah tempur yang sangatlah besar, yang tidak dimiliki oleh para pejabat di St. Petersburg. Tsar menyukai Stolypin karena semangat mudanya, kepercayaan dirinya, kesetiaannya pada kerajaan, dan kesiapannya untuk melaksanakan rencana Tsar untuk mengubah UU pemilu secara ilegal. Para pemimpin Dewan Bangsawan melihat dia sebagai salah satu dari mereka yang akan menyelamatkan sistem kepemilikan tanah kelas-atas dari kehancuran. Kaum Oktobris dan kaum konstitusionalis moderat lainnya, yang takut akan ekses-ekses revolusi, menggenggamnya erat-erat seperti seorang yang sedang tenggelam menggenggam seutas jerami. Mereka menyambut programnya, yang bertujuan menyatukan pemerintah dengan kaum liberal moderat dan publik konservatif, dan dengan demikian memperkuat monarki konstitusional dan menghancurkan gerakan revolusioner. Mereka melihat Stolypin sebagai Thiers-nya Rusia (Adolphe Thiers adalah politisi Prancis yang mengkonsolidasikan Republik Ketiga borjuis di Prancis setelah memimpin penumpasan Komune Paris pada 1871).”[25]

Sebelum dibubarkannya Duma, Nicholas mengangkat “sang tangan besi” ini sebagai ketua Dewan Kementerian, menggantikan Goremykin yang “picik dan kejam”. Awalnya Stolypin berpura-pura rendah hati dengan menolak jabatan ini. Tsar menyuruhnya berlutut di hadapan patung salib favoritnya. “Mari kita membuat tanda salib dan meminta Yang Maha Kuasa untuk membantu kita dalam masa sulit dan historis ini.” Setelah konsultasi singkat dengan Yang Maha Kuasa, Nicholas kemudian langsung ke bisnis: “Pada hari apa baiknya kita membubarkan Duma dan instruksi-instruksi apa yang kau anjurkan untuk menjaga ketertiban, terutama di St. Petersburg dan Moskow?” Dengan bantuan Yang Maha Kuasa, tanggal kudeta ditetapkan pada hari Minggu, 9 (21) Juli.

Tsar tidak perlu khawatir. Duma yang pertama menghilang dari sejarah tanpa perlawanan. Kaum liberal tidak punya niat sedikit pun untuk memobilisasi massa. Berhadapan dengan fait accompli, sekitar 200 deputi berangkat ke Vyborg, yang karena ada di bawah kendali Finlandia relatif aman. Di sana mereka menerbitkan Manifesto Vyborg, yang menyerukan kepada rakyat untuk melakukan tindakan pembangkangan sipil seperti tidak membayar pajak dan menolak wajib militer, sebagai bentuk protes terhadap pembubaran Duma. Dokumen ini dirancang oleh sebuah komisi parlementer gabungan yang terutama terdiri dari kaum Kadet dan Trudovik. Seperti yang diharapkan, kaum Kadet tidak terlalu antusias dengan tuntutan ini dan lalu mengundurkan diri dari komisi tersebut. Pengalaman ini mengekspos karakter kontra-revolusioner dari Partai Kadet dan kesia-siaan metode seperti ini. Komite Pusat Menshevik terkejut oleh pembubaran Duma ini dan menyerukan kepada buruh untuk mogok dan berdemonstrasi untuk mendukung Duma. Tetapi seruan ini tidak digubris.

Lenin menentang seruan demonstrasi untuk mendukung Duma. Lenin tidak pernah takut untuk mengatakan apa yang benar kepada buruh. Posisinya selalu didikte oleh insting revolusioner dan realisme. Apa yang harus diperjuangkan oleh kelas buruh? Bukan mendukung parlementerisme borjuis, tetapi melawan musuh utama: reaksi Tsaris. Kelas buruh tidak boleh menanggung tanggung jawab apa pun untuk demokrasi palsu borjuis atau menyebar ilusi terhadap kaum liberal kontra-revolusioner, tetapi secara terbuka berjuang untuk pemberontakan bersenjata melawan autokrasi, bukan untuk mempertahankan Duma Kadet, tetapi untuk Majelis Konstituante, yang akan memberikan tanah kepada kaum tani, delapan-jam kerja kepada buruh, dan hak-hak demokratik penuh kepada semuanya. Secara singkat inilah perbedaan antara Marxisme revolusioner dan reformisme.

Sementara kaum Menshevik berkolaborasi lagi dengan Partai Kadet, Lenin menekankan kembali seruannya untuk membentuk front persatuan dengan kaum Trudovik. Di bawah tekanan mood kelas buruh dan tani, kaum Trudovik akhirnya setuju untuk menerbitkan sebuah pernyataan sikap bersama dengan kaum Sosial Demokrat dalam menyerukan pemberontakan bersenjata. Di sini ada kemungkinan pembentukan sebuah “blok kiri” dengan kaum Trudovik, sebuah front persatuan antara organisasi kelas buruh dan organisasi massa tani demi perjuangan melawan autokrasi dan kaum liberal. Sementara Lenin menolak segala bentuk kerja sama dengan kaum liberal borjuis, dia menerima kemungkinan membentuk persekutuan sementara dengan kaum Trudovik sebagai perwakilan parlementer kaum tani, dan bahkan kadang-kadang voting bersama kaum Trudovik dalam melawan kaum Kadet, guna memenangkan kepercayaan kaum Trudovik. Persekutuan parsial dan temporer semacam ini dengan perwakilan dari kaum borjuis kecil revolusioner – tanpa sekalipun menyangkal hak untuk mengkritik kaum Trudovik atas kebimbangan dan ketidakkonsekuenan mereka – tidak ada kesamaannya sama sekali dengan blok politik dengan kaum liberal yang diajukan oleh Menshevik. Posisi kaum Bolshevik adalah menggunakan Duma sebagai sebuah platform untuk mengekspos rejim tsar dan kaum liberal, dan pada saat yang sama mengorganisir di luar parlemen untuk mempersiapkan revolusi.

___________________

[1] Trotsky, Stalin, hal. 72.

[2] LCW, Unity Congress of RSDLP, Written Statement at the Twenty-sixth Session of the Congress, vol. 10, p. 309.

[3] LCW, Report on the Unity Congress of the RSDLP, vol. 10, hal. 376.

[4] See L. Schapiro, History of the CPSU, hal. 72, footnote.

[5] Trotsky, Stalin, hal. 88.

[6] O. Piatnitsky, op. cit., hal. 104.

[7] Schapiro, op. cit., hal. 99.

[8] O. Piatnitsky, op. cit., hal. 106.

[9] Kerensky, op. cit., p. 96.

[10] Ibid., hal. 84.

[11] Quoted in Robert Service, Lenin, a Political Life, hal. 149.

[12] KPSS v rezoluitsiakh, vol. 1, hal. 136.

[13] Trotsky, Stalin, hal. 98.

[14] E. Broido, op. cit., pp. 130-1.

[15] LCW, ‘Left-wing’ Communism—An Infantile Disorder, vol. 31, hal. 35-6.

[16] Trotsky, Stalin, hal. 93.

[17] See LCW, vol. 12, p. 532, note.

[18] M. Baring, A Year in Russia, London, pp. 191-2, 202. Quoted by L. Kochan, Russia in Revolution, hal. 121.

[19] Quoted in Figes, op. cit., hal. 214.

[20] Eva Broido, op. cit., hal. 132.

[21] LCW, An Attempt at a Classification of the Political Parties of Russia, vol. 11, hal. 229.

[22] Quoted in the Istoria KPSS, vol. 2, hal. 202.

[23] LCW, Resolution (II) of the St Petersburg Committee of the RSDLP on the Attitude Towards the State Duma, vol. 10, hal. 481.

[24] L. Kochan, Russia in Revolution, hal. 123.

[25] Kerensky, Memoirs, hal. 94-5.