Sangat tepat sekali membahas Revolusi Oktober di saat sebagian gerakan telah mencampakkan sejarah revolusi. Sudah terlalu banyak orang yang berbicara mengenai revolusi, namun mereka buta akan sejarah revolusi yang sudah terkubur, hilang, mati dan berlalu dengan begitu saja. Meskipun Revolusi Oktober sudah terjadi hampir seabad yang lalu, tetapi semangatnya masih menggelora seperti baru kemarin terjadi. Fakta konkrit dari ini adalah kami sekarang berdiri di sini untuk meneruskan cita-cita Revolusi Oktober dan membangkitkannya di kalangan rakyat pekerja. Untuk itu marilah kita sejenak membahas peristiwa singkat yang telah mengubah jalannya sejarah.

Ada begitu banyak pelajaran yang tidak habis digali dari peristiwa sejarah ini. Lebih dari sembilan puluh tahun sudah peristiwa besar Oktober terjadi, peristiwa yang memimpin derap maju dan semangat kelas buruh di seluruh penjuru dunia, tidak hanya di seluruh negeri kolonial, tapi negara-negara majupun terpengaruhi olehnya. Seluruh dunia bak digoncang sebuah badai topan. Seluruh kaum borjuis menggigil ketakutan sebab apa yang dipertahankannya selama ini terancam runtuh. Bulan Oktober dianggap bulan bencana bagi borjuis. Mereka mencoba menghapusnya dari kalender sejarah tetapi usaha itu sia-sia. Nasi segera menjadi bubur dan revolusi ini segera menyeruak keluar. Terdengar nyaring di telinga kaum buruh sedunia bahwa saudara sekelasnya di Rusia telah merebut kekuasaan. Kaum buruh yang sebelumnya dihinggapi oleh gagasan reformisme dan sovinisme dari Sosial-Demokrat lari dan meninggalkan gagasan-gagasan tersebut. Mereka menjadi yakin bahwa kekuasaan kaum buruh adalah hal yang mungkin.

Reformisme kendati beretorika revolusioner tetapi pada kenyataannya mereka pengecut dalam momen-momen menentukan. Gagasan reformisme berakar pada kepercayaan bahwa masih ada harapan perbaikan kesejahteraan bagi buruh di bawah kapitalisme oleh karena itu mereka sangat menentang penaklukan kekuasaan oleh klas buruh. Gagasan reformisme ini banyak berkembang di negara-negara maju. Ini dikarenakan rejim borjuasi di negara maju mampu memberikan remah-remah roti bagi kaum buruh. Inilah mengapa klas buruhnya terutama para pemimpinnya begitu terikat pada borjuasi dan menelan gagasan reformisme. Berbeda sekali dengan rejim borjuis Rusia. Mereka terlambat datang ke panggung sejarah dan tidak punya waktu untuk memberikan apapun kepada klas buruh. Dengan tanpa penyesalan klas buruh Rusia pecah dengan tuannnya sebelum tuan tersebut berkuasa.

Kelas buruh yang pecah dengan borjuasi tanpa berhenti pada tahapan revolusi borjuis demokratik segera menuju pada tugas-tugas transformasi sosialis, mengusik sendi-sendi hubungan kepemilikan pribadi dan menjalankan roda perekonomian tanpa bos tanpa majikan di bawah ekonomi terencana. Revolusi Oktober sama sekali tidak pernah teramalkan oleh para borjuis. Oktober adalah mimpi buruk bagi mereka.  Mereka tersentak, tergopoh-gopoh, dengan nafas tak teratur seperti habis berlari kencang. Mereka mencoba mencubit tangan dan pipinya berulang kali hanya untuk membuktikan apakah ini hanya sebuah mimpi. Tetapi usaha untuk membuktikan bahwa Oktober hanya sebuah mimpi adalah hal sia-sia dan Oktober telah diterima sebagai sebuah kenyataan bagi borjuasi dan pembelanya.

Namun, bagi Bolshevik proses revolusi ini telah diketahui sejak awal, bahwa revolusi ini akan pecah dan melampaui batasan revolusi demokratik. Tiap detik denyut nadi perkembangan revolusi Rusia dirasakan dengan sangat baik oleh kaum Bolshevik seperti seorang dokter memeriksa kandungan sebuah bayi.

Awalnya revolusi ini mendapat kecaman dari beberapa kaum Marxis di Rusia, sebut saja Menshevik, yang menganggap kelahiran sebuah negara buruh ini belum tiba saatnya karena kekuatan produksi belumlah tumbuh seperti di negara-negara maju, Namun kontraksi dari perjuangan kelas ini menafikkan apa yang dianggap oleh mereka belum tiba saatnya.

Tidak mengesampingkan kemenangan Komune Paris yang bertahan 2 bulan, untuk pertama kalinya perjuangan klas buruh mengalami kemenangan, dengan berhasil mengusir kapitalis, tuan tanah feodal dan mendirikan negara buruh yang megah. Kemenangan revolusi ini sungguh tidak pernah diharapkan oleh kaum borjuis. Dengan segala daya upaya mereka mencoba menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Setiap hari di surat kabar kita akan mendapati fitnah baru terhadap Revolusi Oktober. Kaum borjuis pun tidak tanggung-tanggung dalam menyerang Revolusi ini. Dengan biaya yang sangat besar mereka mengorganisir Perang Sipil dengan bantuan 21 negara Imperialis. Tetapi sekali lagi ekonomi terencana dan ternasionalisasi  telah membuktikan keunggulannya. Klas pekerja menang dan akhirnya memulai tugas-tugas transformasi sosialis.

Lenin dan Trotsky, pemimpin terkemuka dari Bolshevik, segera memanggil kaum buruh sedunia untuk menggabungkan dirinya dalam lingkaran Internasional Ketiga dan menegakkan panji “Kaum Buruh Sedunia Bersatulah”. Panji yang selama ini terkubur oleh berbagai pengkhianatan-pengkhianatan oleh kaum Sosial-Demokrat telah menemukan kembali gemanya di jajaran kaum buruh, dan Internasional Ketiga menjadi corong untuk menyerukan revolusi sosialis dunia.

Tak berselang lama setelah Revolusi Oktober dan dideklarasikannya Internasional Ketiga,  seluruh dunia diguncang krisis. Kaum borjuis dari berbagai negara sedang menghadapi badai revolusi. Mereka kuatir kalau revolusi-revolusi ini berakhir seperti Revolusi Oktober. Kekuatiran ini sangat nyata karena gerakan buruh sedunia telah menempatkan Revolusi Oktober di dalam agenda mereka.

Menjamurnya partai-partai komunis di belahan dunia menunjukkan antusiasme rakyat pekerja untuk mengikuti contoh Rusia.  Revolusi Hungaria, Jerman, Tiongkok bersusulan kemudian setelah revolusi Oktober. Mereka mengambil karakter Revolusi Rusia sebagai pedoman revolusi mereka. Bagaimana tidak, di Rusia untuk pertama kalinya manusia benar-benar dapat mengalami sukacita kehidupan. Semua penyakit sosial yang semula dipelihara di bawah kapitalisme mulai dihancurkan di bawah sosialisme. Alat-alat produksi dibangun dengan kesetaraan tertinggi antara pria dan wanita. Revolusi Oktober telah memperkenalkan Rusia kepada upah yang sama, hak suara yang sama, pengenalan dapur komunal dan untuk pertama kalinya perempuan dibebaskan dari belenggu rumah tangga mereka.

Kita bisa membayangkan kehidupan tanpa opresi, dimana kita hidup aman, sederajat, yang di bawah kapitalisme rakyat pekerja tidak akan memperolehnya. Sederhana sekali, peristiwa yang telah terjadi lebih dari sembilan puluh tahun yang lalu mewakili sebuah langkah menuju kehidupan yang layak bagi seluruh umat manusia di planet ini.

Sosialisme adalah pilihan satu-satunya bagi umat manusia. Kita tidak bisa menggantungkan hidup kita pada proyek pasar bebas. Kekuatan produksi yang besar membutuhkan sebuah perencaan yang ketat, bukan menunggu pada keseimbangan pasar. Di bawah sosialisme seluruh capaian masyarakat digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan manusia bukan pada pemenuhan segelintir orang. Kita membutuhkan masa depan yang layak, pekerjaan yang layak, pendidikan yang layak sepanjang garis yang dicapai oleh Revolusi Oktober. Semangat Revolusi Oktober tidak pernah mati. Dia hidup berderap di dalam relung kehidupan kaum buruh. Revolusi Oktober menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi rakyat pekerja dunia. Dia adalah kenangan sekaligus pelajaran bahwa perebutan kekuasaan oleh klas pekerja adalah hal yang mungkin. Seluruh peristiwa belakangan ini – pecahnya revolusi Arab, Krisis Eropa – telah membawa kita lebih dekat pada kesimpulan bahwa tanpa transformasi sosialis, rakyat pekerja tidak akan mencapai kesejahteraan.

11 Oktober 2012