Bab 6. Perpecahan Pertama antara Bolshevisme dan Menshevisme

Kongres Kedua

lenindec1896Musim dingin 1902-03 menyaksikan “perseteruan tajam antar berbagai tendensi”[1], tetapi perlahan-lahan superioritas politik dan organisasional Iskra menang. Satu per satu komite menyatakan diri mereka mendukung digelarnya kongres. Hanya segelintir saja ragu. Yuzhny Rabochii mengkritik Iskra karena sikap kerasnya terhadap kaum liberal. Karena putus asa, para pendukung Rabocheye Dyelo mencoba memecah belah beberapa komite lokal, dengan mengadu domba kaum buruh dengan “kaum intelektual”. Sayangnya, kekeliruan dan kecerobohan para pendukung Iskra dimanfaatkan oleh kaum oposisi di beberapa daerah. Di St. Petersburg, mereka memperbolehkan para pendukung Rabocheye Dyelo untuk membatalkan keputusan mendukung kongres. Akan tetapi ini ternyata hanya sandungan kecil saja. Ketika kongres terselenggarakan, hanya satu komite, Voronezh, yang memutuskan untuk tidak ikut serta.

Kongres ini akhirnya digelar pada 17 Juli 1903 di Brussels, dimana 13 sesi pertamanya diselenggarakan. Pengawasan polisi memaksa Kongres ini untuk pindah ke London dimana kongres dilanjutkan dengan berkedok sebagai klub pemancing ikan. Mereka harus berpindah-pindah tempat untuk menghindari deteksi polisi. Pada Kongres Pertama, gerakan di interior Rusia hanya diwakili oleh lima komite. Kongres kali ini dapat mengklaim mewakili beberapa ribu buruh, dengan pengaruh lebih dari ratusan ribu buruh. Mayoritas delegasi masihlah muda, kebanyakan berumur di bawah 30 tahun. Lenin, yang berumur 33, sudah menjadi seorang veteran. Perkembangan peristiwa-peristiwa revolusioner di Rusia yang begitu cepat memaksa perkembangan kader-kader muda dalam Marxisme. Hanya mantan-mantan anggota Kelompok Emansipasi Buruh Plekhanov yang mewakili generasi kaum revolusioner tua, yang datang dari epos yang berbeda, hampir dari dunia yang berbeda.

Syarat-syarat untuk diterima sebagai seorang delegasi adalah minimum eksistensi selama 12 bulan sebagai sebuah organisasi yang aktif. Beberapa komite lokal (Voronezh, Samara, Poltava, Kishinev) tidak diundang karena mereka tidak memenuhi syarat ini. Ada 43 delegasi dengan 51 suara penuh. Karena di banyak daerah ada lebih dari satu komite lokal, setiap delegasi diberi 2 suara penuh. Komite Pusat Bund diberikan 3 suara (satu untuk organisasi luar negeri Bund), dan dua organisasi Petersburg masing-masing diberi satu suara. Selain itu, ada 14 orang yang punya suara konsultasi, termasuk dua perwakilan dari Sosial Demokrasi Polandia dan Lituania yang tiba saat sesi ke-sepuluh.

Masalah posisi Bund dalam partai menyita waktu diskusi yang besar. Diskusi ini sangatlah penting dalam mengklarifikasi sikap Marxis mengenai masalah kebangsaan. Signifikansi historis dari posisi Marxis ini dapat diukur dari kenyataan bahwa tanpa posisi yang jelas mengenai masalah kebangsaan maka Revolusi Rusia tidak akan pernah berhasil. Di buku “History of the Russian Revolution”, Trotsky memberikan definisi singkat akan posisi Bolshevik mengenai masalah kebangsaan:

“Lenin sejak awal telah menyadari keniscayaan dari perkembangan gerakan-gerakan nasional di Rusia, dan selama bertahun-tahun dengan keras-kepala berjuang – terutama melawan Rosa Luxemburg – untuk paragraf yang terkenal dalam program partai yang lama, yang memformulasikan hak penentuan nasib sendiri – yakni, hak untuk memisahkan diri sepenuhnya sebagai negara. Dalam hal ini, Partai Bolshevik sama sekali tidak mengambil posisi sebagai pendukung perpecahan. Partai Bolshevik hanya mengambil tanggungjawab untuk berjuang melawan berbagai bentuk penindasan nasional, termasuk pemaksaan terhadap sebuah bangsa untuk tinggal dalam batas-batas negara tertentu. Hanya dengan ini kelas proletar Rusia dapat memenangkan kepercayaan dari bangsa-bangsa yang tertindas.”

“Tetapi ini hanya satu sisi saja. Kebijakan Bolshevisme dalam masalah kebangsaan juga punya sisi yang lain, yang tampaknya berkontradiksi dengan kebijakannya yang pertama, tetapi pada kenyataannya melengkapinya. Dalam kerangka partai, dan organisasi buruh secara umum, Bolshevisme menuntut sentralisme yang ketat, dan dengan tegas memerangi semua bentuk nasionalisme yang dapat memecah belah buruh. Sementara dengan tegas menolak hak negara borjuis untuk memaksakan kewarganegaraan, atau bahkan bahasa nasional, terhadap minoritas nasional, Bolshevisme pada saat yang sama membuat tugas mempersatukan, serapat mungkin, dengan cara kedisiplinan kelas secara sukarela, buruh-buruh dari berbagai bangsa sebagai tugas yang sangat suci. Oleh karenanya Bolshevisme menolak prinsip federasi nasional dalam membangun partai. Sebuah organisasi revolusioner bukanlah prototipe negara di masa depan, tetapi adalah sebuah instrumen untuk menciptakan negara baru tersebut. Sebuah instrumen harus dirancang sedemikian rupa agar dapat digunakan untuk membangun produk tertentu; ia tidak dirancang seperti produk tersebut. Oleh karenanya, sebuah organisasi tersentralisir dapat menjamin keberhasilan perjuangan revolusioner, bahkan bila tugasnya adalah untuk menghancurkan penindasan nasional yang tersentralisir.”[2]

Bund telah memainkan peran yang penting selama masa awal gerakan, yang memberinya prestise yang cukup besar dan memungkinkannya untuk mempengaruhi Kongres Pertama, dimana Bund memasuki PBSDR di atas basis otonomi. Kelemahan Sosial Demokrasi Rusia berarti bahwa Bund, secara praktis, eksis secara independen sampai pada Kongres Kedua, dan mengembangkan tendensi-tendensi nasionalis yang kuat. Pada Kongres Kedua, kaum Bund secara praktis berbicara sebagai sebuah partai yang independen, yang hanya siap bergabung dengan PBSDR di atas basis federasi yang lepas, yang akan berarti legalisasi organisasi-organisasi kaum buruhYahudi yang terpisah. Lieber, jurubicara Bund, membenarkan ini dengan mengatakan bahwa buruh Yahudi ada di posisi yang unik, karena menderita tidak hanya penindasan kelas tetapi juga penindasan rasial, yang mana buruh Rusia tidak punya niat yang sama untuk melawan penindasan ini. Menjawab Lieber, Martov mengatakan:

“Di balik draf ini adalah anggapan bahwa kaum proletariat Yahudi membutuhkan sebuah organisasi politik yang mandiri untuk mewakili kepentingan nasionalnya di antara kaum Sosial Demokrat Rusia. Terlepas dari masalah mengorganisir partai dengan prinsip federasi atau otonomi, kita tidak dapat mengizinkan tiap-tiap seksi partai untuk mewakili kelompok, pekerjaan, atau kepentingan nasional dari tiap-tiap seksi proletariat. Kepentingan-kepentingan nasional memainkan peran yang subordinat dari kepentingan-kepentingan kelas. Organisasi macam apa yang akan kita miliki bila, misalnya, di sebuah pabrik yang sama para buruh yang datang dari berbagai bangsa pertama-tama memikirkan kepentingan nasional mereka?”[3]

Tentu saja, di atas basis politik murni, kita mungkin dapat memberikan sejumlah otonomi kepada kelompok-kelompok nasional dalam partai. Akan tetapi ini hanya akan bersifat teknis, yang lahir dari kebutuhan, misalnya, untuk menerbitkan materi-materi dalam berbagai bahasa dari kelompok-kelompok nasional tersebut. Tidak akan ada keberatan bila Bund mendapatkan otonomi yang mereka perlukan untuk mencetak literatur Partai dalam bahasa Yiddish dan melakukan agitasi di antara kaum buruh dan artisan Yahudi dengan materi-materi khusus, dsb. Tetapi yang dituntut oleh Bund adalah hak eksklusif untuk berbicara atas nama kaum proletar Yahudi, dan secara efektif diberi monopoli atas masalah-masalah Yahudi dalam Partai. Ketika usulan Bund ditolak, para delegasinya meninggalkan Kongres. Mereka segera diikuti oleh para perwakilan sayap kanan lainnya, kaum Ekonomis Martynov dan Akimov, yang hadir sebagai delegasi kaum eksil Perhimpunan Kaum Sosial Demokrat Luar Negeri, yang meninggalkan Kongres ketika Liga Sosial Demokrat Revolusioner diakui sebagai satu-satunya perwakilan partai di luar negeri. Kedua walk-out ini mengubah perimbangan kekuatan di Kongres.

Selama bertahun-tahun, peristiwa-peristiwa di Kongres ini telah dipenuhi dengan mitos-mitos, dan bahkan kebohongan-kebohongan. Katanya di Kongres inilah Bolshevisme muncul, lengkap dengan baju besi dan senjata, seperti Pallas Athena dari kepala Zeus. Akan tetapi, kalau kita cermati lebih dekat, perpecahan antara “Bolshevik” (mayoritas) dan “Menshevik” (minoritas), atau lebih tepatnya antara “garis keras” dan “moderat” pada 1903 bukanlah sesuatu yang final, tetapi hanyalah antisipasi dari perbedaan politik di kemudian hari.

Kelompok Iskra, dalam teori, mendapatkan mayoritas dengan 33 suara. Lawan Iskra mendapatkan 8 suara – tiga kaum Ekonomis dan tiga dari Bund. Sisanya adalah elemen-elemen yang goyah dan tidak tegas, yang Lenin karakterisasikan sebagai “tengah” atau “rawa”. Awalnya, semuanya tampak mulus bagi pendukung Iskra. Ada kebulatan suara di antara semua pendukung Iskra dalam semua masalah politik. Namun tiba-tiba semuanya mulai berubah. Pada sesi ke-22, ketika Kongres telah berjalan selama 2 minggu, perbedaan antara Lenin dan Martov mulai muncul. Kristalisasi dua tendensi dalam kelompok Iskra adalah sesuatu yang tidak diperkirakan sebelumnya. Tentu saja sebelumnya sudah ada ketegangan, tetapi tidak ada satu halpun yang tampaknya membenarkan sebuah perpecahan. Dalam beberapa isu sekunder (peran Komite Organisasi, kelompok Bor’ba, Yuzhny Rabochii)[4], menjadi jelas bahwa beberapa pendukung Iskra telah berpihak dengan sayap kanan dan “rawa”. Tetapi hal-hal ini tampaknya hanya anekdot. Dalam semua masalah penting, kelompok Iskra tetap bersatu. Tetapi tiba-tiba persatuan ini pecah karena perseteruan terbuka antara Lenin dan Martov mengenai isu organisasional.

Pasal pertama AD/RT partai menyentuh masalah syarat keanggotaan. Draf dari Lenin mengatakan: “Seorang anggota PBSDR adalah seorang yang menerima program dan mendukung Partai secara finansial dan berpartisipasi dalam salah satu organisasi partai.” Martov menentang pasal ini dan mengusulkan bahwa anggota partai adalah seorang yang menerima program partai, dan mendukung Partai secara finansial dan “memberi partai kerjasama pribadinya secara reguler di bawah arahan salah satu organisasi partai.” Di atas permukaan, hanya ada perbedaan tipis di antara dua formula ini. Pada kenyataannya, signifikansi riil dari perbedaan ini hanya menjadi nyata di kemudian hari. “Perbedaan ini masihlah abstrak,” ingat Trotsky, “semua orang masih meraba-raba dan bekerja dengan hal-hal yang tak mereka pahami.”[5] Tetapi di belakang proposal Martov adalah semacam “kelembekan”, sikap tidak tegas yang mengaburkan perbedaan antara anggota dan simpatisan, antara aktivis revolusioner dan kawan petualang. Pada saat ketika semua energi Iskra harusnya dikonsentrasikan memerangi ketiadaan-bentuk anarkistis yang lama dan mentalitas lingkaran kecil, posisi Martov mewakili sebuah langkah mundur yang besar. Tidak heran kalau ini mengakibatkan perseteruan tajam dalam kamp Iskra, di dalam dan di luar aula Kongres. Setelah Kongres, seluruh mitologi dibangun mengenai insiden ini. Katanya Lenin menginginkan sentralisme diktatorial dan sebuah partai kecil yang konspiratorial, sementara Martov menginginkan sebuah partai yang demokratis dan luas, yang memungkinkan buruh untuk berpartisipasi. Tetapi ini semua adalah kebohongan.

Pertama, semua pendukung Iskra setuju akan perlunya sebuah partai yang kuat dan tersentralisir. Ini adalah salah satu argumen utama melawan nasional-federalisme Bund, dimana Martov dan Trotsky memainkan peran utama dalam berargumen melawan Bund. Sebelum diskusi mengenai Pasal Pertama, dalam notulen tercatat kalau Martov mengatakan: “Saya ingin mengingatkan kamerad Lieber bahwa prinsip organisasi kita bukanlah otonomi luas tetapi sentralisasi yang ketat.” Bund sendiri sebenarnya adalah sebuah organisasi yang sangatlah tersentralisir. Oposisinya terhadap sentralisme hanya terbatas pada partai secara keseluruhan, dan hanyalah merefleksikan kepentingan seksinya sendiri. Mengenai argumen demagog bahwa formula Martov adalah untuk “membuka partai kepada para buruh”, ini juga tidak benar. Sejak awal perdebatan, Axelrod telah mengungkapkan apa yang sebenarnya ada di belakang usulan ini:

“Mari kita ambil contoh seorang profesor yang menganggap dirinya sebagai seorang Sosial Demokrat dan menyatakan dirinya demikian. Bila kita mengadopsi formula Lenin, kita akan menyingkirkan mereka-mereka yang, walaupun mereka tidak dapat diterima ke dalam sebuah organisasi, adalah anggota ... Kita harus memastikan agar tidak meninggalkan di luar partai orang-orang yang secara sadar, walaupun mungkin tidak sangat aktif, mengasosiasikan diri mereka dengan Partai.”[6]

Kelas buruh dan organisasi-organisasinya tidaklah eksis dalam vakum, tetapi dikelilingi oleh kelas-kelas dan kelompok-kelompok sosial lainnya. Tekanan kelas-kelas asing, opini publik borjuis, dan terutama tekanan dari lapisan-lapisan menengah, kelas menengah, kaum intelektual yang ada di sekitar organisasi-organisasi buruh, selalu hadir. Tuntutan dari lapisan-lapisan ini agar buruh harus mengadopsi program, metode dan struktur organisasi mereka agar sesuai dengan prasangka-prasangka dan kepentingan-kepentingan kaum borjuasi kecil adalah sebuah tekanan yang terus ada. Periode panjang dimana para anggota Kelompok Emansipasi Buruh yang lebih tua melakukan kolaborasi dekat dengan kelas menengah radikal yang diwakili kaum Marxis Legal telah meninggalkan jejak dalam kesadaran mereka. Mereka bergerak di antara strata sosial yang terpisah dari kelas buruh, membentuk persahabatan pribadi dengan para profesor universitas, pengacara, dan dokter-dokter radikal quasi-Marxis yang membantu mereka dengan donasi-donasi finansial dan dukungan moral, tetapi tidak bersedia mengotori tangan mereka dengan kerja praktis revolusioner. “Saya mendukung tujuan-tujuan kalian, tetapi untuk menyatakan diri saya sosialis secara terbuka akan membawa risiko dan tidak nyaman. Pikirkan pekerjaan saya, posisi saya, dan prospek karier saya,” dan sebagainya. Secara tidak sadar, atau bahkan semi-sadar, Axelrod, Zasulich, dan Martov bertindak sebagai juru bicara strata sosial ini, menjadi sabuk transmisi tekanan kelas-kelas asing terhadap partai buruh.

Plekhanov ditempatkan di posisi yang sulit oleh perpecahan ini, dimana kawan-kawan dan kolega-kolega lamanya duduk berseberangan darinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Vera Zasulich secara terbuka menentang mentornya. Ini pastilah sebuah syok bagi Plekhanov. Tetapi Plekhanov harus dipuji, dia berdiri melawan tekanan ini. Semua insting revolusionernya mengatakan kepadanya bahwa Lenin benar. Dalam perdebatan, tanpa belas kasihan dia menghancurkan argumen Axelrod dan Martov:

“Menurut draf Lenin, hanya seseorang yang bergabung dengan organisasi partai dapat dianggap sebagai anggota Partai. Mereka yang menentang draf ini mengatakan bahwa ini akan menciptakan kesulitan-kesulitan yang tidak diperlukan. Tetapi apa bentuk kesulitan-kesulitan ini? Mereka berbicara mengenai orang-orang yang tidak ingin bergabung, atau tidak dapat bergabung, dengan salah satu organisasi partai kita. Tetapi mengapa mereka tidak dapat bergabung? Sebagai seseorang yang sendirinya telah berpartisipasi dalam organisasi revolusioner Rusia, saya mengatakan bahwa saya tidak menemukan adanya kondisi-kondisi objektif yang sungguh-sungguh menghalangi seseorang untuk bergabung. Untuk para tuan-tuan yang tidak ingin bergabung, kita tidak memerlukan mereka.”

“Katanya ada sejumlah profesor yang bersimpati dengan gagasan kita yang merasa malu untuk bergabung dengan organisasi kita. Dalam hal ini, saya ingat Engels pernah mengatakan bahwa ketika kita harus berhadapan dengan para profesor, kita harus siap untuk yang terburuk (hadirin tertawa).”

“Contoh ini sungguh sangatlah buruk. Bila ada seorang profesor kebudayaan Mesir, yang karena dia hafal semua nama Firaun dan semua doa orang Mesir, bahwa dia merasa malu untuk bergabung dengan organisasi kita, kita tidak membutuhkan profesor macam ini.”

“Untuk berbicara mengenai kendali oleh Partai terhadap orang-orang yang ada di luar organisasi berarti bermain-main dengan kata. Pada kenyataannya kendali seperti ini adalah mustahil.”

Setelah perdebatan panas, usulan Martov disetujui dengan 28 suara lawan 23 suara, tetapi hanya karena elemen-elemen goyah yang ada di Iskra bergabung dengan kaum Ekonomis, Bund, dan kaum “tengah”, yang diwakili oleh tendensi di sekitar jurnal Yuzhny Rabochii. Akan tetapi, perpecahan ini belum mengambil karakter yang definitif. Lenin, dalam perdebatan ini, menunjukkan kalau dia masih ingin mencapai persetujuan: “Pertama, mengenai usulan baik hati Axelrod (saya tidak berbicara secara ironis) untuk ‘mencapai persetujuan’, saya akan merespons usulan ini karena saya tidak merasa bahwa perbedaan kita ini begitu pentingnya sehingga menjadi masalah hidup mati partai. Kita tidak akan hancur hanya karena sebuah poin buruk dalam peraturan!”[7]

Dari sudut pandang Marxis, masalah organisasional tidak pernah menjadi sebuah hal yang menentukan. Tidak ada hukum yang abadi dan kaku, yang mengatur struktur organisasi partai revolusioner. AD/RT dan struktur organisasi harus berubah dengan berubahnya situasi dan sejalan dengan perkembangan partai. Lenin yang sama, yang pada 1903 berargumen untuk mempersempit keanggotaan partai, pada 1912, ketika partai sudah berubah menjadi sebuah kekuatan massa yang mewakili mayoritas kelas buruh yang aktif di Rusia, berargumen bahwa partai ini harus terbuka untuk setiap buruh yang menganggap dirinya seorang Bolshevik – sebuah formula yang serupa dengan frase Martov bahwa “setiap pemogok harus dapat menyatakan dirinya sebagai seorang anggota Partai”. Apakah ini berarti Lenin keliru dan Martov benar pada 1903? Kalau kita tiba pada kesimpulan ini, ini berarti kita sama sekali keliru memahami hubungan dialektis antara cara beroperasi partai revolusioner dan tahapan konkret yang dilalui oleh partai dan kelas buruh. Sebuah rumah harus dibangun di atas fondasi yang kokoh. Pada 1903, Partai ini barulah mengambil langkahnya yang pertama untuk memenangkan pengaruh di antara massa. Pada tahapan ini, kita harus menekankan prinsip politik dan organisasi yang fundamental, terutama perlunya kader-kader kelas buruh yang secara jelas memahami gagasan-gagasan dan metode-metode Marxisme. Ini terutama sangatlah diperlukan mengingat periode sebelumnya yang penuh kekacauan. Untuk membuka lebar-lebar pintu partai pada tahapan ini akan sangatlah berbahaya, walaupun pada momen tertentu kita justru harus melakukan ini.

Arti Sebenarnya dari Perpecahan Tahun 1903

Betapapun pentingnya konsekuensi dari perpecahan tahun 1903 di kemudian hari, perbedaan yang muncul pada Kongres tersebut saat itu masih belum jelas. Pernyataan bahwa pada saat Kongres Kedua, Bolshevisme dan Menshevisme telah eksis sebagai tendensi politik adalah tanpa fondasi. Hampir dalam semua masalah politik ada kebulatan suara dalam kelompok Iskra. Akan tetapi selalu ada kepentingan yang besar untuk memelintir fakta mengenai perpecahan ini. Ini bukanlah sebuah kebetulan. Sejarawan Stalinis dan borjuis punya kepentingan untuk mengidentifikasikan Leninisme dengan Stalinisme, dan kaum Stalinis perlu membuktikan bahwa Trotsky adalah seorang Menshevik sejak 1903.

Tendensi politik yang diwakili Menshevisme baru mengambil bentuk setelah Kongres. Garis pemisah ini masihlah buram pada saat itu. Plekhanov, yang di kemudian hari menjadi seorang sosial-patriot, awalnya berdiri dengan Lenin. Trotsky, pemimpin Revolusi Oktober dan pendiri Tentara Merah, menemukan dirinya untuk sementara dalam kamp minoritas. Berkebalikan dengan fitnah Stalinis kalau Trotsky adalah seorang Menshevik sejak 1903, dia pecah dari kelompoknya Martov pada September 1904 dan sejak itu berada di luar kedua faksi hingga 1917. Secara politik, Trotsky selalu berdiri lebih dekat ke Bolshevisme, tetapi secara organisasional dia punya ilusi bahwa kedua sayap ini dapat disatukan. Sejarah akhirnya menunjukkan bahwa ini mustahil. Tetapi Trotsky tidak sendiri dalam kekeliruannya, yang akan kita lihat nanti.

Kendati fakta ini, kaum Stalinis selama berpuluh-puluh tahun merujuk pada reaksi panas dari Trotsky yang berumur 23 tahun saat itu di Kongres Kedua sebagai bukti dari Menshevismenya. Maka dari itu kita dapati pernyataan seperti ini: “Pidato-pidato kongres oleh Lenin (!) dan kaum Bolshevik lainnya menunjukkan bahwa dalam masalah fundamental mengenai program partai (!) dan AD/RT, Trotsky ada di kamp Menshevik dan dengan keras berseteru melawan garis revolusioner Bolshevik (!).”[8] Fitnah murahan ini muncul dari kampanye melawan Trotskisme yang diluncurkan pada 1923-24, ketika Lenin sudah tergeletak tak berdaya. Zinoviev, yang diam-diam membentuk blok dengan Kamenev dan Stalin, dengan harapan untuk menjadi pemimpin setelah kematian Lenin, menulis buku “Sejarah Bolshevisme” yang tujuan utamanya adalah mendiskreditkan Trotsky dengan memalsukan sejarah Partai. Mengenai tahun 1903, Zinoviev menulis “Trotsky yang saat itu adalah seorang Menshevik”.[9]

Sementara sejarawan borjuis seperti Leonard Shapiro mencoba membuat karikatur dari argumen Lenin, dimana sentralisme yang diajukan Lenin adalah gambaran seorang diktator yang kejam yang tidak memedulikan demokrasi. Pada kenyataannya, perpecahan pada 1903 memiliki karakter aksidental. Tidak ada yang mengira perpecahan ini akan terjadi. Para partisipan sendiri terkejut oleh kejadian yang tiba-tiba ini. Kenyataan bahwa Lenin tidak melihat ini sebagai perpecahan final diindikasikan oleh usahanya yang tak henti-henti untuk mencapai persatuan dengan minoritas (Menshevik) dalam bulan-bulan setelah Kongres. Krupskaya mengingat satu hari ketika dia berujar mengenai kemungkinan perpecahan permanen, Lenin menjawab: “Ini akan terlalu gila.”[10]

Yang mendasari perpecahan 1903 adalah kesulitan untuk keluar dari fase awal lingkaran kecil. Setiap periode transisi dari satu tahap perkembangan Partai ke tahap yang lain selalu menyebabkan friksi internal. Kita telah mengupas kesulitan-kesulitan di masa awal peralihan dari propaganda ke agitasi. Sekarang masalah-masalah yang sama terulang kembali, tetapi dengan akibat yang jauh lebih serius. Tujuan utama tendensi Marxis yang diwakili oleh Iskra adalah untuk membawa Partai ini keluar dari tahapan embrio lingkaran kecil (kustarnichestvo) dan meletakkan fondasi yang kokoh untuk membangun sebuah partai buruh Marxis yang kuat dan tersatukan di Rusia. Akan tetapi bahkan sebelum Kongres Martov mulai ragu apakah baik menyelenggarakan Kongres Partai. Tidakkah lebih baik kalau menyelenggarakan Kongres tendensi Iskra? Keraguan ini merefleksikan konservatisme, rutinisme, dan rasa takut para veteran untuk membuka jalan ke arah yang baru.

Kebiasaan-kebiasaan kelompok eksil kecil yang sudah membatu secara insting memberontak melawan perubahan yang begitu besar terhadap cara-cara lama. Pemilihan yang formal, minoritas yang harus tunduk pada kehendak mayoritas, kerja yang disiplin, walaupun semua ini dapat diterima dalam teori tetapi dalam praktek susah ditelan. Para anggota kelompok Plekhanov, yang sudah terbiasa dalam kehidupan lingkaran perkawanan yang kecil dan informal, telah lama menikmati otoritas politik yang besar sebagai veteran dan anggota Dewan Editorial Iskra yang ternama, sebuah posisi yang sudah tidak lagi sesuai dengan peran yang mereka sekarang mainkan. Axelrod dan Zasulich secara tidak sadar merasa takut kehilangan otoritas pribadi mereka dan takut kalau individualitas mereka akan tertelan oleh lingkungan yang baru ini, yang didominasi oleh generasi kader muda di dalam Rusia. Notulen-notulen Kongres menunjukkan betapa kecilnya peran yang dimainkan oleh para veteran, dengan pengecualian Plekhanov. Mereka tentu merasa kebingungan.

Elemen prestise pribadi dapat memainkan peran yang sangat merusak dalam organisasi secara umum, dan tidak hanya dalam politik. Perseteruan-perseteruan remeh-temeh untuk posisi, permusuhan dan ambisi pribadi dapat menyebabkan masalah di klub sepakbola, kuil Budha, dan kelompok merajut, dimana tidak ada masalah prinsipil atau ideologi. Di bawah kondisi-kondisi tertentu mereka dapat menyebabkan perpecahan dan perseteruan yang penuh bisa beracun dalam organisasi revolusioner, termasuk organisasi anarkis, yang secara teori tidak menganut sentralisme – walaupun secara praktek kelompok-kelompok semacam ini biasanya didominasi oleh klik dan individu-individu yang diktatorial. Masalahnya terutama menjadi akut dalam organisasi kecil yang terisolasi dari massa, terutama dimana elemen borjuis kecil mendominasi. Para veteran Kelompok Emansipasi Buruh tidak pernah membayangkan kalau keputusan-keputusan Kongres akan mengubah status mereka dalam gerakan. Mereka pikir tidak akan ada yang berubah. Tak terbayang oleh mereka kalau mereka harus menempati posisi yang lebih rendah. Ketika Lenin mengajukan proposal komposisi dewan editornya, ini menyebabkan kegaduhan, yang sungguh membuatnya terhenyak karena proposal ini sudah disetujui oleh para editor sebelum Kongres. Tetapi persetujuan ini hanyalah dangkal. Proposal ini telah sangat mengejutkan dan menyinggung para editor lama yang tidak akan dipilih lagi di Kongres ini. Di koridor-koridor, mereka mengeluh ke semua orang mengenai Lenin yang tidak sopan dan tidak sensitif.

Demi persatuan Partai, organisasi Iskra dan Kelompok Emansipasi Buruh secara formal dibubarkan di Kongres. Tetapi ketika pembubaran Yuzhny Rabochii dibicarakan, para pendukungnya berjuang keras agar koran ini tetap dipertahankan sebagai koran “populer” – sebuah konsep yang secara tegas ditolak oleh mayoritas. Proposal-proposal yang sudah disetujui oleh kepemimpinan Iskra sebelum Kongres adalah sebuah Komite Pusat dengan tiga anggota (dari interior), sebuah Dewan Editor dengan tiga anggota, dan sebuah Dewan Partai yang terdiri dari Komite Pusat dan Dewan Editor, plus satu anggota lagi (Plekhanov). Akan tetapi, perdebatan segera muncul mengenai komposisi KP. Kaum Iskra garis keras menginginkan KP yang sepenuhnya terdiri dari pendukung Iskra. Kaum Iskra moderat, yang dipimpin oleh Martov, ingin memberikan perwakilan kepada kaum tengah (Yuzhny Rabochii), dan membuat daftar anggota KP mereka sendiri. Ini adalah indikasi bahwa tendensi Iskra moderat, yang diwakili oleh Martov, mencoba berkompromi dengan tendensi sentris. Usahanya untuk menunda keputusan mengenai masalah ini menyebabkan kegaduhan di aula kongres. Tetapi masalah mengenai Yuzhny Rabochii ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang akan terjadi pada sesi berikutnya.

Proposal Lenin untuk membentuk Dewan Editor yang beranggotakan tiga orang bukanlah refleksi dari sentralisme diktatorial, tetapi hanyalah ekspresi kenyataan yang sederhana. Tidak diragukan kalau proposal Lenin masuk akal, seperti yang juga disetujui oleh Plekhanov. Dewan Editor lama yang beranggota 6 orang tidak pernah bisa bertemu bahkan sekalipun. Dalam 45 edisi koran Iskra di bawah 6 editor ini, ada 39 artikel yang ditulis Martov, 32 oleh Lenin, 24 oleh Plekhanov, 8 oleh Potresov, 6 oleh Zasulich, dan hanya 4 oleh Axelrod. Dan ini dalam periode 3 tahun! Semua kerja teknis dilakukan oleh Lenin dan Martov. “Sebenarnya,” tulis Lenin setelah Kongres, “Saya akan menambahkan, trio ini [Lenin, Martov, dan Plekhanov], selama tiga tahun ini dalam 99 kasus dari seratus selalu berperan sebagai badan sentral yang menentukan secara politik.”[11] Gagasan bahwa seorang anggota Dewan Editorial dari jurnal resmi Partai adalah orang yang secara pribadi tidak terlibat dalam kerja dan yang satu-satunya kontribusinya adalah kadang-kadang menulis artikel tidaklah sesuai dengan konsepsi dari sebuah organisasi perjuangan proletar.

Awalnya, anggota dewan editor yang lebih muda, Martov dan Potresov, juga setuju dengan perubahan ini. Tetapi, di bawah tekanan besar dari Zasulich dan Axelrod, mereka berubah pikiran. Trotsky mengusulkan agar semua anggota dewan editor yang lama, yakni enam anggota yang lama, dipilih kembali. Tetapi dengan mundurnya kaum Bund dan pendukung Rabocheye Dyelo, ini berarti kaum Iskra keras adalah mayoritas. Proposal Trotsky kalah dalam pemungutan suara, dan sebuah Dewan Editorial yang baru, yang terdiri dari Lenin, Martov, dan Plekhanov, terpilih, dimana Martov mengumumkan penolakannya untuk berpartisipasi dalamnya. Perpecahan antara mayoritas garis keras (Bol’shinstvo) dan minoritas moderat (Menshinstvo) menjadi sebuah kenyataan. Ketika perpecahan ini akhirnya terkuak sepenuhnya, situasi menjadi sangat panas. Di sesi ketika komposisi Dewan Editorial sedang didiskusikan, atmosfernya sangat panas dan kadang-kadang “histeris”, seperti yang dilaporkan oleh kaum Bolshevik ke Kongres Amsterdam Sosialis Internasional pada 1904.

Kemarahan yang meledak di antara para revolusioner muda yang impresionistis mengenai isu ini digambarkan oleh Trotsky dalam memoarnya:

“Pada 1903, poin utama perdebatan ini tidaklah lebih dari keinginan Lenin untuk mengeluarkan Axelrod dan Zasulich dari dewan editorial. Saya sangatlah menghormati mereka dan ada juga elemen kasih sayang pribadi. Lenin juga sangat menghormati mereka, untuk apa yang telah mereka lakukan di masa lalu. Tetapi dia percaya kalau mereka telah menjadi halangan untuk masa depan. Ini membuatnya menyimpulkan bahwa mereka harus disingkirkan dari posisi kepemimpinan. Saya tidak bisa setuju. Seluruh jiwa raga saya tampaknya menentang penyingkiran kejam terhadap kader-kader yang lebih tua ketika kita sedang dalam ambang pembentukan sebuah partai yang terorganisir. Kegeraman saya terhadap sikapnya yang sesungguhnya membuat saya pecah dengannya pada Kongres Kedua. Sikapnya tampak tak termaafkan bagi saya, begitu buruk dan kasar. Akan tetapi, secara politik sikapnya benar dan diperlukan, dari segi organisasi. Perpecahan dengan elemen-elemen yang lebih tua dari periode persiapan adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Lenin memahami ini sebelum orang lain memahaminya. Dia berusaha mempertahankan Plekhanov dengan memisahkan dia dari Zasulich dan Axelrod. Tetapi ini juga sia-sia, seperti yang terbukti tak lama kemudian.”[12]

Dalam beberapa bulan setelah Kongres, para pendukung minoritas mengeluh dengan berisik mengenai “tendensi-tendensi diktatorial” dan “sentralisme kejam” Lenin. Tuduhan ini, yang tidak ada basis faktanya, sebenarnya hanya untuk menutup-nutupi kelakuan anarkistis kelompok Martov, yang walaupun berjanji pada Kongres, menolak untuk mematuhi keputusan mayoritas dan meluncurkan kampanye yang tidak loyal dalam melawan kepemimpinan yang dipilih secara demokratis di Kongres. Mereka menuntut agar minoritas yang memutuskan, dan mencoba menyabotase kerja Partai, dengan menolak berkolaborasi dengan organ-organ terpilihnya. Sebuah partai revolusioner bukanlah sebuah klub diskusi, tetapi sebuah organisasi perjuangan. Kendati demikian, gambaran bahwa Partai Bolshevik adalah sebuah struktur yang monolitik, dimana para pemimpinnya memberikan perintah dan para anggotanya patuh, adalah sebuah kebohongan yang keji. Sebaliknya, Partai Bolshevik adalah partai yang paling demokratis dalam sejarah. Bahkan dalam periode-periode kerja bawah tanah yang paling sulit, di momen revolusi, dan saat perang sipil, rejim internal, dan terutama ekspresi tertingginya, Kongres, adalah arena diskusi terbuka dan jujur, dimana berbagai macam gagasan berbenturan. Tetapi ada batasan untuk semua hal. Pada akhirnya, sebuah partai yang ingin bertindak, dan tidak hanya berdiskusi, harus mengambil keputusan dan melaksanakannya.

Pada dasarnya, sikap terhadap organisasi partai dan disiplin adalah masalah kelas. Buruh belajar disiplin dari pengalaman sehari-hari di pabrik. Pengalaman mogok memberikan sebuah pelajaran yang keras – yakni diperlukannya aksi disiplin yang tersatukan sebagai syarat untuk keberhasilan. Sebaliknya, kaum intelektual sulit memahami konsep organisasi dan disiplin. Dia cenderung melihat partai sebagai sebuah kelompok diskusi besar, yang mana dia dapat mengemukakan pendapatnya mengenai semua isu. Individualisme anarkistis kaum minoritas merefleksikan, pada dasarnya, sudut pandang borjuis kecil dengan ketidakmampuan organiknya untuk disiplin dan kecenderungannya untuk mencampur aduk masalah-masalah pribadi dengan prinsip politik. Bagaimanapun terpelajarnya mereka, bagaimanapun banyak membacanya mereka, kaum intelektual yang belum meletakkan diri mereka secara pribadi di atas sudut pandang kelas buruh, akan berhenti justru ketika mereka menghadapi tugas riil gerakan, yakni dalam ranah aksi. Marx menjelaskan, “Para filsuf sampai sekarang hanya menafsir dunia dalam berbagai cara; akan tetapi permasalahannya adalah mengubahnya.”

Kebingungan di antara para anggota

Karikatur Lenin sebagai seorang “diktator yang kejam” dan ahli manuver yang sinis, yang dengan bengis menginjak-injak kawan-kawan lamanya untuk mengkonsentrasikan kekuasaan di tangannya, tidaklah sesuai dengan fakta yang ada. Di Memoar Lenin oleh Krupskaya, dia memberikan sebuah gambaran yang jelas mengenai Lenin yang menderita sekali karena pecah dengan Martov:

“Kadang-kadang Lenin melihat dengan jelas bahwa sebuah perpecahan tidaklah dapat dielakkan. Satu ketika, dia memulai sepucuk surat untuk Clair [Krzhizhanovsky], mengatakan bahwa Clair tidak akan dapat membayangkan situasi yang ada sekarang ini, dimana seorang harus menyadari bahwa hubungan yang lama telah berubah secara radikal, bahwa persahabatan lama dengan Martov akan berakhir; persahabatan lama harus dilupakan, dan perseteruan sedang dimulai. Vladimir Ilyich tidak menyelesaikan surat itu ataupun mengirimnya. Sangatlah sulit bagi dia untuk pecah dengan Martov. Kerjasama mereka di St. Petersburg dan di koran Iskra lama telah membuat mereka dekat ... Setelah itu, Vladimir Ilyich harus melawan kaum Menshevik dengan tegas, tetapi setiap saat Martov menunjukkan kecenderungan untuk memperbaiki garisnya, sikap lama Lenin kepadanya akan muncul kembali. Seperti di Paris pada 1910 ketika Vladimir Ilyich dan Martov bekerja sama di dewan editorial Sotsial Demokrat (Sosial Demokrat). Sepulangnya dari kantor, Vladimir Ilyich sering mengatakan kepada saya dengan nada yang puas bahwa Martov mengambil garis yang tepat dan bahkan menentang Dan secara terbuka. Kemudian hari di Rusia, Vladimir Ilyich sangat senang dengan posisi Martov selama Hari-Hari Juli [1917], bukan karena posisinya baik untuk kaum Bolshevik, tetapi karena Martov sendiri bersikap seperti seorang revolusioner. Vladimir Ilyich sudah sangat sakit ketika satu hari dia berujar pada saya dengan sedih: ‘Mereka bilang Martov juga sedang sekarat’.”

Ini adalah karakter Lenin yang sering kali diabaikan. Sama sekali tidak sentimentil, Lenin tidak pernah membiarkan dirinya mencampur aduk masalah pribadi dengan prinsip politik. Tetapi Lenin tahu bagaimana menghargai talenta seseorang dan tidak dengan begitu mudah menyerah. Rasa benci pribadi juga sangat asing bagi Lenin, yang selama hidupnya menunjukkan loyalitas yang tinggi terhadap kamerad-kameradnya. Berbulan-bulan setelah Kongres, Lenin mencoba berulang kali membangun kembali persatuan, dan bahkan menawarkan untuk memberikan serangkaian konsesi yang, secara efektif, mencampakkan posisi-posisi yang dimenangkan oleh mayoritas di Kongres. Krupskaya mengingat:

“Setelah Kongres, Vladimir Ilyich tidak keberatan ketika Glebov menganjurkan mengooptasi dewan editorial yang lama – lebih baik kembali ke komposisi lama daripada pecah. Tetapi kaum Menshevik menolak. Di Jenewa, Vladimir Ilyich mencoba berbaikan dengan Martov, dan menulis ke Potresov, meyakinkan dia bahwa tidak ada yang perlu diributkan di antara mereka. Dia juga menulis ke Kalmykova (Auntie) mengenai perpecahan ini, dan menceritakan kepadanya apa yang terjadi. Dia tidak percaya kalau tidak ada jalan keluar.”[13]

Tidak lama setelah Kongres berakhir, Lenin mendekati Martov untuk mencapai sebuah persetujuan. Martov menulis ke Axelrod di sebuah surat tertanggal 31 Agustus:

“Saya bertemu dengan Lenin satu kali [semenjak Kongres]. Dia meminta pendapat saya mengenai kolaborasi. Saya katakan kepadanya bahwa saya akan memberikan sebuah jawaban formal setelah kita mempertimbangkan usulan formal ini bersama, tetapi untuk sementara waktu, menolaknya. Dia berbicara banyak mengenai kenyataan bahwa dengan menolak kolaborasi, kita sedang ‘menghukum Partai ini’, bahwa tidak ada yang mengira kita akan memboikot koran. Dia bahkan menyatakan di publik bahwa dia siap untuk mengundurkan diri bila ini diputuskan oleh Dewan Editorial lama, dan bahwa dia siap bekerja dua kali lebih keras sebagai seorang kolaborator.”[14]

Bila ini terserah pada Lenin, perpecahan ini dapat dengan cepat diselesaikan. Tetapi reaksi kaum minoritas yang hampir histeris, membuat mustahil tercapainya persetujuan. Kalah di Kongres, mereka meluncurkan serangkaian serangan keji terhadap Lenin dan kaum mayoritas. Martov menerbitkan sebuah pamflet yang menuduh Lenin menyebabkan “Situasi Darurat” dalam partai. Perseteruan ini dipanas-panasi di luar proporsi. Osip Piatnitsky, yang bertanggungjawab atas distribusi Iskra di Berlin, mengingat betapa terkejutnya para anggota ketika mendengar laporan balik dari Kongres:

“Kami menyimak laporan dari kedua belah pihak mengenai Kongres, dan kemudian segera memulai agitasi mendukung satu pihak atau pihak yang lainnya. Saya merasa tercabik di antara dua pihak. Di satu pihak, saya merasa menyesal kalau Zasulich, Potresov, dan Axelrod telah merasa tersinggung ketika disingkirkan dari Dewan Editorial Iskra ... Di pihak lain, saya sepenuhnya setuju dengan struktur organisasi partai yang diusulkan Lenin. Logika saya adalah bersama Mayoritas, tetapi perasaan saya ada bersama minoritas.”[15]

Piatnitsky tidaklah sendirian dalam sikapnya terhadap perpecahan ini: “Berita perpecahan ini memukul kami seperti petir di siang bolong. Kami tahu bahwa Kongres Kedua ini akan mengambil sikap tegas dalam melawan Workers’ Cause [kaum Ekonomis], tetapi perseteruan yang lalu memisahkan Martov dan Lenin ke dua kamp yang bertentangan dan membuat Plekhanov ‘terpecah’ di antara dua kamp ini – ini sama sekali tidak kami perkirakan. Pasal pertama AD/RT Partai .... apakah ini adalah sesuatu yang membenarkan perpecahan? Reshuffle kerja dalam dewan editorial – ada apa dengan orang-orang yang di luar negeri itu, apa mereka sudah kehilangan akal sehat mereka?”[16]

Kutipan di atas adalah dari Lunarcharsky, yang lalu menjadi salah satu letnan Lenin di tahun-tahun ke depan. Kutipan ini merefleksikan reaksi mayoritas anggota Partai terhadap perpecahan pada Kongres Kedua. Mood utama yang ada adalah menentang perpecahan, yang signifikansinya saat itu belumlah jelas bagi para pelakunya.

Kebingungan di antara para anggota akar rumput dapatlah dimengerti. Pada tahapan ini belum ada perbedaan politik yang jelas di antara pihak mayoritas dan minoritas. Akan tetapi, bagaimanapun menjijikkannya tingkah laku para pendukung Martov, yang serangan-serangan keji dan pemboikotan terhadap kerja partai mereka merefleksikan tersakitinya harga diri kaum intelektual individualis, yang tidak bersedia menundukkan kepentingan-kepentingan pribadi mereka di bawah kehendak mayoritas, perbedaan sesungguhnya antara Bolshevisme dan Menshevisme masih jauh dari jelas pada saat itu. Benar kalau bibit perbedaan-perbedaan ini sudah ada pada tahun 1903, tetapi pada saat itu mereka belum mendapatkan konten politik yang jelas. Alih-alih, yang tampak adalah perbedaan dalam sikap – seperti yang dikarakterisasikan oleh Lenin sebagai dua tendensi, tendensi “keras” dan tendensi “moderat”. Akan tetapi, perseteruan antara dua tendensi ini adalah pembukaan untuk perpecahan di kemudian hari antara Bolshevisme dan Menshevisme, yang akhirnya terjadi hanya pada 1912, setelah hampir satu dekade Lenin tidak henti-hentinya berusaha menyatukan partai di atas basis yang berprinsip. Lenin sendiri menjelaskan alasan perpecahan ini seperti berikut:

“Mengamati tingkah laku para pendukung Martov semenjak Kongres, penolakan mereka untuk berkolaborasi dalam Organ Sentral (walaupun sudah secara resmi diundang oleh dewan editorial), penolakan mereka untuk bekerja di Komite Pusat, dan propaganda mereka untuk memboikot – yang bisa saya katakan adalah bahwa semua ini adalah tindakan yang tidak bijak, yang tidak layak bagi anggota Partai, untuk merusak Partai – dan apa alasannya? Hanya karena mereka tidak puas dengan komposisi badan-badan sentral; karena secara objektif, hanya karena inilah kami berpisah jalan, sementara tuduhan-tuduhan subjektif mereka (cacian, hinaan, cercaan, pengusiran, pemboikotan, dll.) adalah tidak lain akibat dari harga diri mereka yang tersinggung dan imajinasi mereka yang tak wajar.[17]

Menolak semua usaha Lenin untuk rekonsiliasi, para pendukung Martov meneruskan kampanye agitasi mereka. Mereka terutama kuat di luar negeri. Mereka punya uang dan hubungan dekat dengan para pemimpin Sosial Demokrasi Eropa. Pada September 1903, kelompok Martov mengambil langkah pertama ke arah perpecahan dengan membentuk “Biro Minoritas” dengan tujuan merebut badan-badan kepemimpinan Partai dengan cara apapun. Mereka mulai menerbitkan literatur faksional mereka untuk distribusi di Rusia. Pada 4 Oktober 1903, sebuah pertemuan diadakan antara Lenin, Plekhanov, dan Lengnik (dari kubu mayoritas) dan Martov, Axelrod, Zasulich, dan Potresov (dari kubu minoritas). Kubu mayoritas bersedia memberikan konsesi, tetapi ketika kubu minoritas merespons dengan menuntut dibatalkannya semua keputusan Kongres, menjadi jelas kalau persetujuan adalah sesuatu yang mustahil. Untuk menerima tuntutan ini akan berarti mengembalikan jarum jam ke situasi sebelum Kongres Kedua.

Perjuangan faksional punya logika tersendiri. Dengan menolak Kongres Kedua, dan membela organisasi tanpa-bentuk di bawah kedok apa-yang-disebut “perjuangan melawan sentralisme”, posisi kaum minoritas dalam masalah-masalah organisasi perlahan-lahan menjadi tidak dapat dibedakan lagi dari posisi kaum Ekonomis, yang baru saja kemarin berbenturan dengan mereka. “Blok” aksidental dengan kaum sayap kanan Ekonomis di Kongres, seperti yang dijelaskan oleh Lenin, perlahan-lahan berubah menjadi sebuah fusi. Mengenai kesamaan posisi kaum minoritas dengan posisi oportunis Ekonomisme, Akimov, seorang kaum Ekonomis ekstrem, dengan ironi yang keji, mengatakan ini:

“Semakin mendekatnya para pendukung Iskra ‘moderat’ ke apa-yang-disebut kaum Ekonomis dalam masalah-masalah organisasi dan taktik sudah diakui oleh semua orang kecuali kaum ‘moderat’ sendiri. Namun, bahkan mereka siap mengakui bahwa ‘kita dapat belajar banyak dari kaum Ekonomis’.

“Bahkan pada Kongres [Kedua], para delegasi Perhimpunan [yakni, kaum Ekonomis] mendukung kaum Menshevik dan memberikan suara mereka untuk proposal Martov. Hari ini semua anggota Perhimpunan [Perhimpunan Sosial Demokrat Luar Negeri yang dikendalikan oleh kaum Ekonomis] menganggap taktik ‘kaum moderat’ lebih tepat, dan sebagai konsesi terhadap posisi mereka. Ketika dibubarkan, Organisasi Buruh Petrograd [Ekonomis] menyatakan dirinya setuju dengan kaum Menshevik.”[18]

Perbedaan-perbedaan ini mencuat pada Kongres Kedua Liga Sosial Demokrasi Revolusioner Rusia Luar Negeri yang dilangsungkan di Jenewa pada Oktober 1903. Setelah Kongres PBSDR, kubu minoritas mencoba mencari dukungan untuk posisinya. Liga Sosial Demokrasi Revolusioner Rusia Luar Negeri tidak lebih dari sebuah organisasi di atas kertas – beberapa pamflet telah terbit atas namanya, tetapi aktivitasnya sama sekali tidak ada. Ini karena sekarang pusat gravitasi ada di Rusia. Segera setelah perpecahan, para pendukung Martov memutuskan untuk menyelenggarakan konferensi Liga di Jenewa. Ini dilakukan dengan cara yang faksional. Para pendukung mayoritas tidak diberitahu mengenai pertemuan ini, sementara para pendukung minoritas didatangkan dari tempat sejauh Inggris. Lenin memberikan laporan balik dari Kongres Partai dengan tidak berpihak, tetapi dijawab dengan serangan tajam dari Martov, yang meracuni seluruh atmosfer sejak awal.

Pada Kongres Kedua Partai, telah diputuskan bahwa Liga ini akan menjadi organisasi resmi Partai di luar negeri, dengan status yang sama dengan komite lokal Partai di Rusia. Ini jelas berarti mereka ada di bawah kendali Komite Pusat. Tetapi minoritas, yang mengendalikan Liga ini, tidak ingin menerima ini, dan membuat peraturan baru yang memberi Liga ini kemandirian dari Komite Pusat dengan tujuan untuk mengubahnya menjadi basis kerja faksional melawan mayoritas. Lengnik meminta agar ini dibicarakan di Komite Pusat, dan ketika usulan ini ditolak, para perwakilan mayoritas, geram, keluar meninggalkan konferensi Liga itu.

Piatnitsky, saat itu seorang buruh muda di Iskra, menjelaskan kebingungannya akan atmosfer faksional yang tajam saat konferensi, dimana kekuatan minoritas dan mayoritas seimbang:

“Konferensi dibuka. Kaum Menshevik duduk di satu sisi, kaum Bolshevik di sisi lain. Saya adalah satu-satunya yang belum bergabung dengan pihak manapun. Saya duduk bersama kaum Bolshevik dan memilih bersama dengan mereka. Kaum Bolshevik dipimpin oleh Plekhanov. Pada hari yang sama, ingat saya, kaum Bolshevik, dipimpin oleh Plekhanov, keluar meninggalkan Konferensi. Akan tetapi saya tetap disana. Jelas bagi saya kalau keluarnya Bolshevik dari Organisasi Sentral dan Dewan Partai akan memaksa minoritas untuk tunduk pada keputusan-keputusan Kongres Kedua atau pecah darinya. Tetapi apa yang dapat saya lakukan? Tak ada. Kedua pihak punya pemimpin-pemimpin hebat, anggota-anggota partai yang bertanggungjawab, yang tentunya tahu apa yang mereka lakukan. Sementara menghadiri sesi-sesi Konferensi Liga setelah keluarnya kaum Bolshevik, saya akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan mereka, dan juga meninggalkan Kongres.”[19]

Di sebuah pertemuan yang dengan cepat-cepat diorganisir di sebuah kafe yang dekat, Plekhanov dengan geram mengutuk kelakuan kubu minoritas dan mengusulkan rencana untuk melawan mereka. Akan tetapi, di belakang, Plekhanov dipenuhi dengan keraguan. Awalnya dia sangat tegas membela posisi Lenin, yang dia tahu adalah benar. Tetapi kemudian Plekhanov mulai menjadi ragu karena jurang yang besar mulai terbuka antara kubu mayoritas dan kawan-kawan lamanya. Apakah dia telah melakukan hal yang benar berpihak dengan Lenin? Apakah dibenarkan mencabik-cabik partai ini demi beberapa peraturan saja? Lenin dan dia telah membuat semua konsesi yang memungkinkan untuk kubu minoritas, tetapi yang belakangan ini menuntut agar mayoritas menyerah total. Bagaimana ini? Apa yang begitu buruk bila kita mengooptasi para editor lama demi perdamaian? Bukankah sistem yang lama, kendati semua kelemahannya, lebih baik daripada ini?

Lenin, juga, mendukung konsesi, dan bahkan mempertimbangkan mengooptasi para editor lama. Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa setiap tawaran konsesi hanya membuat kubu minoritas semakin keras kepala. Dengan enggan hati, Lenin mengambil sikap tegas, karena kalau dia terus mundur ini akan mencederai partai. Perpecahan dengan Martov sangatlah menyakitkan bagi Lenin, yang mengaku kepada Krupskaya bahwa ini adalah keputusan tersulit dalam hidupnya. Tetapi bagi Lenin, kepentingan Partai, kelas buruh dan sosialisme adalah jauh lebih penting daripada pertimbangan-pertimbangan pribadi.

Plekhanov adalah tipe yang jauh berbeda. Korban dari “laut mati kehidupan eksil yang menyeret seorang ke dasar”[20], Plekhanov terbukti tidak mampu bertransisi ke periode sejarah yang baru, sebuah periode revolusi yang mendorong tuntutan-tuntutan baru kepada partai dan kepemimpinannya. Yang sungguh luar biasa adalah bukan karena dia menyerah, tetapi karena dia awalnya mendukung Lenin. Sungguh patut dihargai bahwa dia setidaknya berusaha membuat transisi, dan bukan hanya kali ini saja. Di kemudian hari, pada 1909, dia sekali lagi berbelok ke kiri dan memasuki blok dengan Bolshevik. Tetapi ini adalah usaha terakhirnya sebelum dia akhirnya bergerak ke kanan, dan secara tragis berakhir di kamp patriotik reaksioner di tahun-tahun terakhir hidupnya. Trotsky pernah berkata, bahwa untuk menjadi seorang revolusioner tidaklah cukup hanya punya pemahaman teori saja. Kekuatan batin juga diperlukan. Tanpa ini, seorang revolusioner adalah seperti “jam tangan dengan per yang rusak”. Ini secara tepat menggambarkan sisi lemah Plekhanov, yang walaupun kontribusinya yang luar biasa besar, akhirnya melemahkan dan menghancurkannya.

Pada malam 18 Oktober, kita saksikan perpecahan dengan Plekhanov. Pada sebuah pertemuan kubu mayoritas, hanya beberapa hari setelah dia mengusulkan perjuangan terbuka mati-matian untuk melawan para pendukung Martov, Plekhanov berbalik 180 derajat dan mengusulkan perdamaian dengan harga apapun. “Saya tidak dapat menembak kawan-kawan saya sendiri. Lebih baik peluru di kepala saya daripada pecah,” tegasnya. “Ada waktunya ketika autokrasi harus menyerah.”[21] Dia memaparkan tuntutannya dalam bentuk ultimatum: mereka harus menerima, atau dia akan mengundurkan diri dari Dewan Editorial. Pembelotan Plekhanov adalah pukulan besar terhadap kubu mayoritas. Masih berharap dapat memfasilitasi persatuan, Lenin mundur dari Dewan Editorial. Akan tetapi, jauh dari menyatukan partai, tindakan Plekhanov justru membawa efek yang berkebalikan. Para pendukung Martov menggunakan kemenangan mereka ini untuk menyampaikan tuntutan-tuntutan baru: kooptasi pendukung minoritas ke Komite Pusat dan Dewan Partai, dan pengakuan diskusi yang berlangsung di Konferensi Kedua Liga Sosial Demokrat Luar Negeri. Setelah menyerah sekali, Plekhanov sekarang menyerah pada semua tuntutan ini, yang secara efektif membatalkan semua keputusan kongres Partai.

Posisi mayoritas tampak sangat suram. Minoritas sekarang mengontrol organ sentral, Iskra, Liga Luar Negeri, dan Dewan Partai. Hanya Komite Pusat yang, secara teori, masih ada di tangan mayoritas. Tetapi mayoritas tidak punya suara. Perlahan-lahan, Iskra berhenti menerbitkan artikel-artikel dan surat-surat dari pendukung mayoritas. Sementara, kaum Menshevik menggunakan hubungan dan persahabatan pribadi mereka dengan para pemimpin Internasional Sosialis. Kaum Bolshevik mendapatkan pers yang buruk dari koran-koran sosialis internasional.

Di memoarnya, Lyadov mengingat sebuah percakapan dengan Kautsky, dimana Kautsky mengatakan: “Apa yang kamu mau? Kami tidak mengenal Leninmu, Dia adalah orang baru bagi kita. Plekhanov dan Axelrod kami kenal baik. Kami bisa mendapatkan informasi mengenai Rusia hanya dari mereka. Jadi jelas kami tidak dapat percaya perkataan kalian kalau tiba-tiba Plekhanov dan Axelord telah menjadi oportunis. Ini absurd!”

 __________________
Catatan Kaki

[1] Krupskaya, O Vladimirye Ilyiche, 1924 edition, vol. 1, hal. 81.

[2] Trotsky, The History of the Russian Revolution, hal. 890-1.

[3] 1903, Minutes of the Second Congress of the RSDLP, hal. 81.

[4] Untuk penjelasan yang lebih detil, baca One Step Forward, Two Steps Back, LCW, vol. 7, hal. 203-425.

[5] Trotsky, My Life, hal. 160.

[6] 1903, Minutes of the Second Congress of the RSDLP, hal. 308 dan 311 (penekanan saya).

[7] 1903, Minutes of the Second Congress of the RSDLP, hal. 321 dan 326 (penekanan saya).

[8] V. Grigenko and others, The Bolshevik Party’s Struggle against Trotskyism (1903-February 1917), hal. 30.

[9] Zinoviev, History of the Bolshevik Party, hal. 85.

[10] Istoriya KPSS, vol. 1, hal. 486.

[11] LCW, To Alexandra Kalmykova, September 7, 1903, vol. 34, hal. 162.

[12] Trotsky, My Life, hal. 162.

[13] Krupskaya, Reminiscences of Lenin, hal. 98-9 dan hal. 98.

[14] Pis’ma PB Aksel’roda i YO Martova, hal. 87.

[15] Piatnitsky, op. cit., hal. 54.

[16] Lunacharsky, op. cit., hal. 36.

[17] LCW, Account of the Second Congress of the RSDLP, September 1903, vol. 7, hal. 34.

[18] Akimov, A Short History of the RSDLP, hal. 332.

[19] Piatnitsky, op. cit., hal. 63.

[20] Krupskaya, O Vladimirye Ilyiche, vol. 1, hal. 54.

[21] Quoted in Baron, Plekhanov, hal. 327.