facebooklogocolour

Bolshevisme Sebagai Kunci Revolusi Sosialis: Sekapur Sirih Dari Penerjemah

Ted Sprague[1]

COVER BOLSHPada peringatan 100 tahun Revolusi Oktober, kami persembahkan buku “Bolshevisme, Jalan Menuju Revolusi” kepada kelas proletariat Indonesia, sebuah buku yang seperti tertera pada judulnya kami harap dapat membantu kelas proletariat membuka jalan ke revolusi. Dan memang demikian tujuan dari penulisan buku ini, yang ditulis bukan sebagai pelepas dahaga rasa ingin tahu semata, atau untuk kepentingan akademia, tetapi sebagai panduan bagaimana memenangkan Revolusi Sosialis.

Kapitalisme memasuki krisisnya yang paling dalam sejak 2008 dan sampai hari ini belum ada jalan keluar darinya. Kebuntuan ekonomi kapitalisme sudah diakui bahkan oleh para pakar ekonomi, yang sudah tidak bisa lagi menutup-nutupi kenyataan ini. “Stagnasi sekuler” adalah terma yang digunakan oleh para ekonom ini, yakni kondisi dimana pertumbuhan ekonomi sangat kecil atau hampir nol. Prediksi ekonomi dipenuhi dengan pesimisme. Realitas ini dihadapi langsung oleh kelas buruh dalam kehidupan sehari-hari mereka. Negara kesejahteraan dilucuti dengan keji, dimana satu per satu jaminan sosial diserang. Tidak ada lagi pekerjaan yang stabil bagi buruh. Yang ada untuk generasi muda hari ini adalah precarious job, kerja kontrakan tanpa jaminan sama sekali. Itu pun kalau mereka beruntung bisa mendapatkan kerja. Usia pensiun dinaikkan dan dana pensiun dipangkas. Taraf hidup generasi muda hari ini akan lebih buruk dibandingkan generasi orang tua mereka.

Di tengah kesulitan ekonomi yang dihadapi oleh mayoritas rakyat pekerja, yang kaya menjadi semakin kaya. Pada 2016, Oxfam melaporkan bahwa 62 orang terkaya memiliki kekayaan setara dengan separuh rakyat termiskin dunia, atau 3,6 miliar rakyat pekerja. Pada 2017, jumlah ini menurun drastis: 8 orang terkaya di dunia memiliki kekayaan setara dengan separuh umat manusia. Dimana-mana kita dapati statistik serupa, yakni kesenjangan yang semakin melebar. Seperti yang dikatakan oleh Marx mengenai tendensi inheren kapitalisme: akumulasi kemiskinan dan kemelaratan di satu kutub, bersamaan dengan akumulasi kekayaan di kutub yang lain. Kenyataan pahit ini semakin membuat geram rakyat pekerja, yang merasa bahwa mereka telah bekerja begitu keras tetapi tampak seperti berjalan di tempat, atau bahkan mundur. Tidaklah heran kalau kebuntuan ekonomi ini tercermin dalam krisis politik dan polarisasi tajam dalam masyarakat.

Kelas kapitalis sudah tidak layak mengurusi masyarakat. Kepemilikan pribadi mereka atas kekuatan produksi telah menjadi penghalang bagi kemakmuran rakyat dan kemajuan umat manusia. Seratus tahun yang lalu kelas proletariat Rusia di bawah kepemimpinan Partai Bolshevik menghancurkan kekeramatan kepemilikan pribadi kapitalis ini, dan dengan demikian memulai langkah membangun sebuah masyarakat baru yang tidak lagi berdasarkan motif laba dan pasar, tetapi perencanaan ekonomi secara demokratik oleh rakyat pekerja demi kebutuhan manusia.

Buku ini akan mengupas sejarah Partai Bolshevik, berbagai fase yang harus dilaluinya, dari lingkaran kecil sampai menjadi partai massa yang berhasil untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia menumbangkan kapitalisme. Kita akan lihat bagaimana partai ini lahir, melalui pasang naik dan surut, kemajuan dan kemunduran, krisis internal dan polemik tajam, sampai ke pencapaian agungnya, yakni memenangkan revolusi. Partai Bolshevik berhasil menyatukan kehendak rakyat tertindas dan memimpin mereka untuk memenuhi tugas historis menumbangkan kapitalisme dan memulai langkah membangun masyarakat sosialis.

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman Partai Bolshevik. Sering kali kita dibutakan oleh kilau kemenangan megah partai ini dalam memenangkan Revolusi Oktober, dan lupa kalau kemenangan ini hanya mungkin diraih karena kerja persiapan selama lebih dari 30 tahun. Dari lahirnya Kelompok Emansipasi Buruh pada 1883, yang menjadi cikal bakal ideologi untuk pembentukan Partai Buruh Sosial Demokrasi Rusia, sampai pada Revolusi Oktober pada 1917, terbentang tiga puluh empat tahun. Selama inilah kekuatan Marxis Rusia dibangun.

Selama periode ini, kaum Marxis Rusia menempa diri mereka dengan mengatasi semua permasalahan praktek dan teoritis yang ada. Bahkan bisa dikatakan, dalam 34 tahun ini, hampir semua permasalahan praktek dan teoritis gerakan yang bisa dibayangkan sudah terjawab oleh kaum Bolshevik. Mereka-mereka yang mengumbar telah menemukan gagasan baru, dalam bentuk neo-ini atau neo-itu, kalau diteliti lebih seksama ternyata hanya pengulangan gagasan-gagasan tua  yang sudah terjawab oleh kaum Bolshevik, yang mendasarkan diri mereka pada gagasan fundamental Marx dan Engels.

Kita akan saksikan dalam buku ini bagaimana kaum Bolshevik mengatasi masalah reforma agraria dan kaum tani, masalah kerja bawah tanah, kombinasi kerja parlementer dan ekstra-parlementer, mematahkan gagasan Anarkisme, Ekonomisme, Reformisme, dan juga Marxisme Legal (Marxisme akademis seperti yang sering kita jumpai dari universitas dan kampus), masalah perang, masalah imperialisme dan kolonialisme, masalah kebangsaan dan penindasan kaum minoritas, masalah pembebasan kaum perempuan, dan sampai pada akhirnya masalah perebutan kekuasaan. Pengalaman kaum Bolshevik dalam mengatasi permasalahan-permasalahan ini adalah harta karun bagi gerakan proletariat hari ini.

Memenangkan Revolusi Sosialis – sebuah tugas historis maha besar – bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi seperti yang telah ditunjukkan oleh proletariat Rusia seratus tahun yang lalu bukanlah sesuatu yang mustahil selama kita memiliki perspektif yang tepat dan belajar dari sejarah. Buku ini ditulis menyusul runtuhnya Uni Soviet pada 1991, yang disertain dengan ofensif ideologis yang diluncurkan oleh kaum borjuasi. Tujuan buku ini jelas, untuk meluruskan kembali sejarah Bolshevisme yang telah dipelintir tidak hanya oleh kelas kapitalis dengan Tuan Nyonya profesor bayaran mereka. Kelas penguasa takut kalau kaum tertindas akan menemui sejarah Bolshevisme dan mengulang Revolusi Oktober, sehingga mereka gunakan segala cara untuk menjauhkan rakyat pekerja dari Bolshevisme. 

Namun tidak hanya kelas kapitalis yang bertanggung jawab atas pencorengan sejarah Bolshevisme. Kaum Stalinis memainkan peran yang sama kejinya dalam memelintir sejarah Partai Bolshevik yang sesungguhnya. Stalin dan kaum birokrasi harus menghancurkan seluruh tradisi Bolshevisme sebelum bisa berkuasa. Partai Bolshevik dihancurkan secara fisik, dimana bunga-bunga terbaik proletariat Rusia ditumpas untuk membuka jalan bagi degenerasi birokratik Soviet.

Kita tengok saja nasib para pemimpin Partai Bolshevik pada Revolusi Oktober. Ada 31 anggota Komite Pusat Bolshevik pada tahun 1917 ketika Bolshevik merebut kekuasaan: 21 anggota penuh, 8 anggota kandidat, dan 2 anggota prospek. Dari 7 anggota Politbiro, 5 dieksekusi dan dibunuh oleh rejim Stalin (Leon Trotsky, Zinoviev, Kamenev, Sokolnikov, dan Bubnov). Hanya 2 yang mati secara wajar: Stalin dan Lenin. Dari total 31 anggota Komite Pusat, 19 mati dieksekusi oleh Stalin: Zinoviev, Kamenev, Sokolnikov, Bubnov, Bukharin, Rykov, Milyutin, Smilga, Berzin, Krestinsky, Oppokov, Kiselyov, Preobrazhensky, Skyrpnyk, Yakovlevka, Osinsky, Teodorovich, Joffe – ia mati bunuh diri karena ditekan sampai putus asa sedemikian rupa oleh Stalin dan klik birokrasinya, dan Trotsky yang dibunuh oleh agen rahasia Stalin. Delapan anggota “beruntung” mati secara wajar sebelum Stalin naik ke tampuk kekuasaan pada 1927 (Lenin, Sverdlov, Nogin, Sergeyev, Dzerzhinsky, Shahumyan, Uritsky, Dzhaparidze). Kalau mereka masih hidup, sangatlah mungkin kebanyakan dari mereka akan dibunuh oleh Stalin. Hanya tiga yang selamat (Kollontai, Muranov, dan Stasova). Nasib yang sama menimpa hampir semua kaum Bolshevik pada masanya Lenin. Ada jurang darah yang memisahkan Stalinisme dari Bolshevisme (Marxisme), dan hanya orang buta – atau pembohong – yang bisa mengatakan bahwa Bolshevisme dan Stalinisme adalah sama dan identik.

Selain pemusnahan secara fisik, kasta birokrasi Stalinis juga harus menghancurkan memori Bolshevisme. Sejarah Bolshevisme dan Revolusi Oktober ditulis ulang, tidak hanya sekali tetapi berulang kali. Sejarah Partai Bolshevik digambarkan dengan vulgar, bukan untuk mendidik kaum proletariat mengenai bagaimana membangun sebuah partai yang bisa memenangkan revolusi, sehingga tidak ada yang bisa dipelajari sama sekali darinya. Jutaan buruh dan tani mengikuti para pemimpin “partai komunis Stalinis” ini, dan mengikuti mereka ke jurang kekalahan. Kita hanya perlu melihat nasib massa buruh dan tani yang dipimpin oleh para pemimpin Stalinis Partai Komunis Indonesia, dan rentetan kekalahan di bawah kepemimpinan kaum Stalinis dan gagasan-gagasannya yang keblinger.

Inilah mengapa menjadi hal yang krusial untuk mempelajari kembali sejarah Bolshevisme. Pintu menuju Revolusi Sosialis di Indonesia hanya bisa dilalui dengan kunci sejarah Bolshevisme. Kaum proletariat di bumi Indonesia harus berjuang keras untuk menemukan kembali tradisi Bolshevisme, tetapi tidak ada yang pantas diraih kecuali lewat kerja keras. Kita harus kembali ke gagasan Marxisme dasar, membuka lembar-lembar tulisan Marx, Engels, Lenin dan Trotsky. Buku ini kami harap dapat memberi kaum revolusioner panduan awal – yang cukup detil dan komprehensif – untuk menapak kembali sejarah Bolshevisme.

Buku “Bolshevisme, Jalan Menuju Revolusi” akan diterbitkan dalam 3 jilid selama tahun 2017. Jilid Pertama akan mencakup periode 1883-1905, yakni dari lahirnya organisasi Marxis pertama yang dibentuk oleh Plekhanov, sang Bapa Marxis Rusia, sampai ke Revolusi 1905. Bab 1 akan mengupas latar belakang masyarakat Tsar Rusia dan gerakan tani Narodnik. Bab 2 bercerita mengenai kelahiran organisasi Marxis pertama pada 1883 dan pertarungan ideologis yang diluncurkan oleh Plekhanov melawan Narodnisme dan Anarkisme untuk membersihkan jalan bagi kekuatan Marxis di Rusia. Bab 3 akan mengupas periode industrialisasi di Rusia pada akhir abad ke-19 yang mendorong terbentuknya kelas buruh Rusia, dan awal dari gerakan buruh Rusia. Di Bab 4, kita akan melihat perjuangan kaum Marxis melawan anasir Reformis dan Ekonomis. Pada Bab 5, kelahiran Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia dan polemik Lenin dalam melawan Ekonomisme, dalam karyanya yang tersohor, “Apa yang Harus Dikerjakan?” Di Bab 6, perpecahan pertama antara Bolshevisme dan Menshevisme akan diulas. Bab 7 akan mengupas Perang Rusia-Jepang yang menjadi pemicu Revolusi 1905. Bab 8-11 akan mencakup periode Revolusi 1905 yang penuh dengan tikungan-tikungan tajam, yang dikenal sebagai geladi resik untuk Revolusi 1917. Bab 12 menutup Jilid Pertama dengan menganalisa kekalahan Revolusi 1905, dan bagaimana kekalahan ini menjadi pelajaran penting bagi proletariat Rusia.

Sementara jilid Kedua akan mencakup periode 1906-1913, yakni dari periode kekalahan Revolusi 1905 sampai ke kebangkitan gerakan buruh Rusia kembali pada 1912. Jilid Ketiga akan mencakup periode 1914-1917, yakni dari pecahnya Perang Dunia Pertama sampai ke Revolusi Oktober 1917.

Revolusi akan terjadi karena kapitalisme niscaya menciptakan kondisi untuknya. Revolusi tidak terjadi karena kehendak kaum revolusioner. Dengan atau tanpa kaum revolusioner, rakyat yang tertekan akhirnya akan bergerak untuk membebaskan dirinya dari cekikan kesengsaraan. Masalahnya bukan apakah revolusi akan meledak atau kapan, tetapi apa yang akan kita lakukan sekarang untuk memastikan agar revolusi tersebut berhasil dan membawa kita keluar dari kapitalisme ke gerbang Sosialisme. Peran organisasi di sini menjadi tak tergantikan dalam menempa kaum revolusioner – yakni bunga terbaik proletariat – agar siap untuk mengemban tugas ini. Seperti yang dikatakan oleh Leon Trotsky, “Bolshevisme bukanlah sebuah doktrin (yakni, tidak sekedar sebuah doktrin) tetapi adalah sebuah sistem pelatihan revolusioner untuk pemberontakan proletariat. Apa artinya memBolshevikkan partai-partai Komunis? Ini berarti melatih mereka dan menyeleksi jajaran kepemimpinannya supaya partai-partai ini tidak menyimpang ketika momen Revolusi Oktober mereka tiba.” (Leon Trotsky, Pelajaran-pelajaran Revolusi Oktober)

Ted Sprague,

Edmonton, 2 Juli 2017

 _____________________

[1] Ted Sprague adalah editor Militan Indonesia (www.militanindonesia.org), sebuah situs organisasi Kiri revolusioner di Indonesia dengan nama yang sama. Dia juga adalah penerjemah dan penyunting dari banyak karya Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky. Sejumlah terjemahan utamanya adalah “Revolusi Permanen”, “Program Transisional”, dan “Revolusi yang Dikhianati” oleh Trotsky, yang semuanya sudah diterbitkan dalam 5 tahun terakhir di Indonesia.